Tanggal Posting :
1/20/2005
Datang seorang laki-laki berpakaian putih-putih, mengajakku bangun dari meja operasi, aku ragu tapi dia terus mengajak dengan tangannya, akhirnya aku mengiyakan. Aku terbang, ku menoleh ke belakang, para dokter sibuk membedah perutku.
Cepat juga sampainya. Ku lihat banyak pintu.
“Apa dibalik pintu-pintu itu?” tanya saya.
“Kiri adalah pintu neraka dan di kanan pintu surga” katanya.
“Saya lihat surga dulu, boleh ?” kata saya.
“Nanti, ada yang kita kunjungi terlebih dahulu”.
Dia mengajakku bertemu beberapa sinar, diperkenalkan dan disuruh memberi salam. Sampailah di sinar yang paling besar, paling terang … silau sekali. Disuruhnya saya untuk mengucapkan salam dan hormat dengan takzim. Aku malu, grogi, rupanya yang terang sekali sinarnya Sang Pencipta. Tak lama saya disana. Saya diajak ke suatu pintu yang letaknya paling ujung tidak jauh dari sinar yang paling terang.
“Kau ingin lihat surga, inilah salah satunya …” dibukanya pintu dan terlihat pemandangan yang sangat luar biasa indah. Air yang mengalir biru jernih, hijau, banyak pohon beserta buahnya … pokoknya subur banget. Orang-orang berpakaian putih, gembira, ceria sudah tidak ada beban hidup, ada hewan, anak kecil. Mereka sangat gembira. Pokoknya tidak terlukiskan dengan kata-kata dan jauh lebih indah dari pada angan saya selama ini.
“Boleh saya masuk …?” kata saya
“Boleh … ”
Aku cuma berani maju beberapa langkah, ada yang mengajakku lebih jauh melangkah dan bermain dengan mereka. Tapi saya menggelengkan kepala dan memberi senyum.
“Bagaimana ? Kamu mau tinggal disini …?” tanyanya.
Aku diam dan menatapnya senang.
Kami keluar dari situ.
“Pintu itu isinya apa ?” sambil menunjuk ke sisi kanan
“Neraka” katanya. “Mau lihat ?”
Aku bergidik, ingat gambaran neraka. Dengan berat, aku menggangguk. Dibukanya pintu. Oiii …. Api … lidah api, saya langsung mundur. Saya maju perlahan. Menyeramkan sekali, merah, panas, saya lihat orang disiksa. Aduh menyeramkan sekali. Aku mundur tak sanggup untuk melihatnya. Aku menatapnya ngeri. Dia menutup pintu kembali seiring saya mundur menjauh dari pintu itu.
Kami berjalan sebentar. Saya sudah bisa melihat para dokter menjalankan tugasnya
“Auliah, kamu ingin disini atau disana ?”
Aku bingung dengan pertanyaan itu.
“Kalau kamu memilih ikut dengan saya, kamu tidak pernah bertemu dengan mereka lagi” katanya kembali. “Kamu tidak pernah punya beban lagi, selalu gembira”
Aku bingung, menatapnya bingung.
“Waktumu cuma sebentar … pilih Auliah!”
Aku ingat Ande (ibu), bagaimana beliau yach ?
“Auliah pilih ke sana!” sambil menunjuk ke arah dokter-dokter tersebut.
“Baik. Berbuatlah baik didunia, tambahlah pahala sebanyak mungkin. Saya antar …” katanya. Saya akhirnya tiba diruang operasi. Kami berdiri tidak jauh dari kesibukan dokter-dokter.
“Ingat … tambahlah pahala sebanyak mungkin bila engkau ingin ke surga. Pergilah auliah …”
Saya pergi.
“Dokter …. Dokter saya sadar … saya sadar”
Saya berhasil memegang suatu anggota tubuh manusia, entah siapa. Tapi yang punya badan memberi perintah “Pegang dia, kasih bius kembali … Anatesi !”
Tangan saya sakit … saya kembali tidak sadarkan diri.
Setelah terbangun dan kesadaran saya pulih, bapakpun bertanya, “Tadi suster panik waktu operasi, kenapa ?”
“Saya tidak tahu”
Saya pun tersenyum kecil.







1 comment so far ↓
[…] kejadian ini, saya menyukai warna biru tapi yang muda kalau perlu sama seperti kejadian tersebut tapi belum […]
Leave a Comment