Tanggal Posting : 2/18/2005
September 2002/INTISARISuatu sore awal Agustus di Kelurahan Pondok Petir, Sawangan, Depok, tak sampai 50 km dari pusat kota Jakarta. Sekelompok remaja laki-laki bermain sepakbola dilapangan depan kantor kelurahan. Cuaca agak gelap karena mendung. Maklum. Sekalipun wilayah lain kekeringan, di desa itu – dan wilayah lain di Depok – masih sering turun hujan. Haji Ahmad, seorang tokoh desa yang bertahun-tahun menjabat Ketua RT sampai dijuluki “RT Ahmad”, yang rumahnya juga menghadap lapangan itu, berteriak menyuruh anak-anak berhenti. Mereka pun menurut. Seperti biasanya, ketika hujan, petir pasti menyambar-nyambar.
Begitulah kebiasaan masyarakat. Sekalipun nama desanya Pondok Petir, mereka punya kearifan tradisional untuk segera mengamankan diri ketika ada ancaman petir.
“Seingat saya di desa ini belum pernah ada orang yang mati kesamber petir”, kata H. Ahmad (57), warga asli Pondok Petir. “Memang ada, orang lagi di sawah terus di sebelahnya ada ledakan karena sambaran petir, dia jatuh, terus lari, kesamber lagi, jatuh lagi. Tapi enggak sampai mati tuh. Orangnya masih hidup sampai sekarang”.
Ayah tiga anak, kakek tujuh cucu, yang sehari-hari mengelola warung kebutuhan rumah tanggal itu tak tahu pasti asl-muasal desanya disebut Pondok Petir. Ia menduga, itu karena sejak masa lampau petir sering menyambar desanya. “Sebab kata tetua dulu, dan pengalaman saya juga, di sini petirnya banyak dan galak-galak”.
Menurut Ahmad, petir di desanya selama in hanya menyambar bangunan, lingkungan, dan harta benda. Telepon dan pesawat televisinya beberapa kali rusak. Pohon tumbang, juga sawah yang sampai terbelah. “Kalau bangunan, yang paling besar ya bangunan sekolah yang hancur separoh. Kayunya berantakan kagak berbentuk. Kalau enggak salah itu kejadian tahun 1957”, sambung Pak Haji yang menjabat Ketua RT dari tahun 1973 sampai 1997. Kelurahan Pondok Petir terdiri atas dua dusun, empat RW dan 13 RT.
Nasihat orang tua yang masih diingatnya, ketika hujan cepat-cepat masuk rumah. Kalaupun berteduh di bawah pohon, misalnya, tidak boleh memegang pohon. Di rumah pun harus naik ke atas kursi atau balai-balai, tidak membiarkan kaki terjuntai ke bawah. Apakah karena nasihat selalu dituruti, dan apakah karena itu di desa yang kekuatan petirnya terbilang terbesar di dunia, petir tidak pernah memakan korban manusia ? Barangkali di dalam kearifan tradisional yang diikuti warga Pondok Petir terkandung juga cara menyamakan perbedaan potensial, terutama ketika aliran listrik yang terbawa petir melompat buat mencari persamaan potensial.
Tulisan : Mayong S. Laksono







2 comments ↓
[…] Datangnya hari itu juga, dengan wajah mendung di langit Pondok Petir yang bersiap-siap menerima kedatangan sang “Putra Gundala”, akhirnya selesai juga settingan Speedy plus LTSPnya, yang saya lihat cukup rumit banget. Thank’s buat Pak Toosa dan Toto. […]
[…] mereka gardu listriknya diatas alias model lama. Kalau mendung aja, listrik dijamin dimatikan, takut kesamber petir Siang bolong aja bisa tiba-tiba ada geledek kenceng banget … . Kalau bagian saya, geledeknya […]