Ya Tuhan, Temukan Tia Untukku

Sumber : “Heru Absoro”

Teman-teman,

Berikut ini cerita seorang relawan, dr. Tari, yang telah kembali ke kota Calang, ibukota Kab. Aceh Jaya setelah 2 hari menengok ibunya yang sakit di Jakarta :

Gadis kelas III SMP berusia 14 tahun ini bernama Cut Meutia, panggilannya Tia, anak sulung seorang pedagang Bapak & Ibu H. Karim. Aku temui Tia ketika ia sedang merawat seorang tua, pak Ibrahim, yang terluka parah kakinya ditempat pengungsi tak jauh dari kota Calang. Aku tertarik padanya karena Tia sangat sigap membantu. Itulah awal persahabatan kami selama seminggu. Ketika kutanya apakah pak Ibrahim adalah ayahnya ? Tia menjawab: ”Bukan, beliau adalah guru Bahasa Inggris. Sepertinya beliau adalah satu-satunya guru Tia yang ditemukan. Keluarganya juga hilang seperti keluarga Tia”. Siang itu dan hari-hari selanjutnya Tia membantuku sebagai perawat. Sungguh hari-hari yang menguras tenaga kami berdua. Pada malam harinya, aku meminta Tia menemaniku tidur ditendaku. Upahnya, dia minta diceritakan dongeng apa saja. Aku mencoba mengarang dongeng untuk membuatnya tidur dan melepaskannya dari rasa trauma. Hingga hari ketiga, barulah Tia bercerita tentang dirinya: ”Malam Minggu itu Tia sakit dan tidur jam 20.00 setelah diberi obat oleh Umi (Ibu). Abi (panggilan Ayah) dan adikku Hasan nonton TV. Setelah itu Tia tidak tahu apa yang terjadi ketika terbangun dan berada diatas dahan pohon. Semua berubah, kak Tari. Rumah dan bangunan telah rata tanah. Tia menangis dan coba cari Abi, Umi, dan Hasan, tapi tidak ketemu. Sampai hari tanggal 28 Tia coba kembali kerumah, tetapi dilarang orang karena susah jalan kesana. Beruntung Tia bertemu pak Ibrahim, walau Tia benci karena galak. Tapi beliau terbaring lemah dan kami menangis bersama”. Tia punya segalanya. Pintar, selalu juara sejak SD, ketua regu Pramuka, aktif di OSIS, periang dan cantik. Tetap cantik walau memakai baju longgar dari dos yang dijatuhkan dari helikopter. Tia bercita-cita menjadi dokter. Aku membayangkan seharusnya bila menjadi dokter, Tia akan lebih cantik dari dr Lula Kamal ! Tak heran bila ayahnya sangat sayang padanya dan beberapa kali mengajaknya bersama ke Medan, bahkan Singapore. Tia sekeluarga baru saja asyik menikmati mobil kijang barunya untuk pergi ke Banda Aceh. Tsunami merenggut semuanya ! Ia merasa kehilangan Aziz, teman sekelas yang sebulan sebelumnya mengajaknya ”jadian’. Bahkan Tia juga merindukan teman-teman yang nakal dan tidak disukainya: Andi, Ridwan, dll ! ”Kak Tari, bila Tuhan membolehkan biarlah mereka hidup menggangguku sepuasnya setiap hari asalkan mereka jangan seperti ini..” katanya terbata sambil menunjukkan bekas ruang kelasnya yang telah hancur ketika kami berhasil mencapai sekolahnya. Aku mengingatkannya komitmen kami untuk tidak menangis sebagai calon dokter dan sedang bertugas menolong orang. Tia cepat belajar sebagai asisten dan penterjemahku dalam merawat penderita. Banyak kejadian menegangkan dan lucu yang kami alami bersama. Kami berdua menjadi team yang kompak sampai pada hari ketujuh ketika aku harus ke Banda Aceh mengambil persediaan obat. Persediaan makanan juga semakin sulit. Terjadi perebutan bahan bantuan. ”Kak Tari pasti kembali lagi, khan. Tia akan menunggu”, katanya dengan matanya yang bundar ketika aku naik keatas truk TNI. Tetapi Tuhan berencana lain! Dua hari kemudian, aku tidak menemukannya ketika kembali ketempat semula. Mereka pengungsi baru dari desa-desa sekitar tidak tahu kemana rombongan pengungsi yang lama. Aku terus mencarinya sekitar kota Calang. Ah, Tia dimana kamu … ? Aku ingin mengajakmu ke Jakarta untuk sekolah. Aku yakin kamu akan menjadi dokter. Tsunami boleh mengambil semuanya darimu kecuali semangatmu ! Ya Tuhan, temukan Tia untukku …

Teman-teman, kami membiarkan dr. Tari mengingkari janjinya sendiri : menangis. Yah, dr. Tari juga manusia biasa.

Beda Cinta & Suka

Dihadapan orang yang kau cintai, musim dingin berubah menjadi musim semi yang indah.
Dihadapan orang yang kau sukai, musim dingin tetap saja musim dingin hanya saja suasananya lebih indah sedikit.

Dihadapan orang yang kau cintai, jantungmu tiba-tiba berdebar lebih cepat. Dihadapan orang yang kau sukai, kau hanya merasa senang dan gembira saja.

Apabila engkau melihat kepada mata orang yang kau cintai, matamu berkaca-kaca.
Apabila engkau melihat kepada mata orang yang kau sukai, engkau hanya tersenyum saja.

Dihadapan orang yang kau cintai, kata-kata yang keluar berasal dari perasaan yang terdalam. Dihadapan orang yang kau sukai, kata-kata hanya keluar dari pikiran saja.

Jika orang yang kau cintai menangis, engkaupun akan ikut menangis disisinya. Jika orang yang kau sukai menangis, engkau hanya menghibur saja.

Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan rasa suka dimulai dari telinga. Jadi jika kau mau berhenti menyukai seseorang, cukup dengan menutup telinga.

Tapi apabila kau mencoba menutup matamu dari orang yang kau cintai, cinta itu berubah menjadi tetesan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam jarak waktu yang cukup lama.

“Tetapi selain rasa suka dan rasa cinta … ada perasaan yang lebih mendalam. Yaitu rasa sayang … rasa yang tidak hilang secepat rasa cinta. Rasa yang tidak mudah berubah. Perasaan yang dapat membuatmu berkorban untuk orang yang kamu sayangi. Mau menderita demi kebahagiaan orang yang kamu sayangi. Apabila Cinta ingin memiliki. Namun Sayang, hanya ingin melihat orang yang disayanginya bahagia, walaupun harus kehilangan”.

joan janet

Realisasi Bantuan Pecahkan Rekor

* TI : Pantau Ketat Penyaluran Bantuan
Geneva, Rabu - Realisasi bantuan untuk kategori darurat para korban tsunami mencatatkan rekor baru. Rekor itu jauh melampaui realisasi bantuan global selama ini. Bencana tsunami begitu “memukau” sehingga muncul kekhawatiran bahwa dunia melupakan bantuan pada bencana-bencana lain.

Baca lebih lanjut …

Pasca-Amuk Samudra

SAMUDRA Hindia mengamuk. Bukan lantaran samudra itu balas dendam karena bosnya semua samudra, Imam Samudra, sedang dipenjara di Bali, tetapi karena gempa tektonik yang sudah barang tentu disebabkan oleh kehendak Imamnya segala imam, Tuhan Yang Maha Esa.

Baca lebih lanjut …

Kisah Nyata Korban Tsunami

Pada musim haji dua tahun lalu aku pernah ditugasi untuk membantu menangani proses pemberangkatan jemaah haji Indonesia di embarkasi Aceh. Waktu itu kondisi politik dan keamanan cukup menghangat, tetapi tugas itu dapat aku laksanakan dengan baik dan aku kembali ke Jakarta dengan selamat. Desember 2004 ini aku kembali ditugasi oleh Bos ku untuk ikut kembali ke Aceh membantu pemberangkatan jemaah Haji dari embarksi Aceh. Rasanya gembira juga bisa ikut berpatisipasi dalam tugas mulia ini. Singkat cerita di Aceh aku diinapkan di Hotel Kuala Tripa di lantai 2, hari itu adalah hari terakhir aku bertugas di Aceh dan aku melapor ke Manager Aceh bahwa besok pagi aku akan kembali ke Jakarta. “Pak Kamdo hari ini aku balik ke Jakarta, Surat Perjalanan Dinas ku sudah selesai …” lapor ku ke Pak Sukamdo Manajer Garuda di Aceh. “Wah Pak Sanwani, jangan gitu dong … kamu sangat dibutuhkan di operasional haji disini …” keluh Pak Kamdo, “kamu di extend, spj kamu diperpanjang ya sampai dua hari … sebulan juga boleh… oke ya ??!” pinta Pak Kamdo setengah memaksa. “Enggak bisa Pak, pokoknya saya harus pulang ke Jakarta besok pagi” aku memberanikan diri membantah Pak Kamdo. Akhirnya Pak Kamdo menyerah “Ya sudahlah … tapi semua kerjaan beres khan ??” “Beres semua Bos ! …temen-teman nanti yang gantin saya juga sebentar lagi datang dari Jakarta” jawabku, Pak Kamdo orangnya baik, semua fasilitas untuk pekerjaanku dilengkapinya, apa yang aku minta untuk menunjang operasional pekerjaan langsung disediakannya, sehingga aku bekerja bisa lancar tanpa hambatan berarti.

Malam itu aku berbenah di kamar, koper yang sudah aku pack, aku buka lagi kayanya ada yang lupa apa yaa … seolah koper ini enggan ditutup. Ku buka lagi ku tutup lagi … apa-apaan nih…pikir ku. Oleh-olehyang aku siapkan dikulkas kamar hotel aku keluarkan, tapi tak lama aku masukan lagi ke kulkas … kenapa nih pikiranku koq gak konsen gini ??? Sepertinya ada yang mencegah oleh-oleh itu untuk aku bungkus biar kubawa ke Jakarta.

Aah …lupakan saja , tidur aja dulu …Hari Minggu pagi jam setengah tujuh tanggal 26 Desember 2004 aku sudah rapih berpakaian dan langsung menuju restoran dilantai bawah hotel tempat ku menginap untuk breakfast, rekan2 lain juga sudah mulai berkumpul, agak-agaknya makan pagi ini akan terasa makan yang paling nikmat karena tugas-tugasku sudah selesai, tinggal pulang ke Jakarta ketemu anak isteri begitu angan-anganku. Belum lagi kami mengambil makanan … masih dalam keadaan berdiri … sejenak terasa kakiku berguncang -guncang, tidak hanya itu, kuperhatikan sekeliling ruangan restoran dindingnya bergerak-gerak, makin lama guncangan itu makin kuat….

“Gempa..gempaaaa …ada gempa !!!!” teriak orang-orang yang ada diruangan itu, aku masih belum tersadar, aku masih melihat sekeliling ruangan … mulai satu-satu tiang diruangan itu seperti amblas perlahan-lahan … seperti mau runtuh perlahan-lahan … aku tidak dapat menggambarkannya dengan kata-kata …

“Gempaaaa …!!!!” baru pada teriakan yang kedua aku tersadar, ini benar-benar ada gempa !!. Semua tamu berlarian keluar ruangan, sambil berlarian sempat aku lihat tiang-tiang bangunan itu mulai runtuh, sampai diluar hotel kembali kami harus berlari menjauh dari bangunan hotel karena kaca-kaca hotel pada pecah, seperti meledak … menghamburkan potongan-potongan kaca ke segala arah. Sambil merunduk kami terus berlari tambah kencang. Pada saat itu teringat dalam pikiranku didepan hotel ada taman agak luas, rupanya semua rekan-rekan bepikiran sama, kesana kami semua berlarian berhamburan dengan penuh kepanikan. Sampai ditaman kami berhenti berlari, sambil berdiri terasa gempa masih mengguncang-guncang tubuh kami. Didekat taman ternyata ada tiang antene besar terbuat dari besi, berpikiran tiang antene akan ambruk kami berlari lagi menjauh … gempa itu masih terus mengguncang tubuh kami, sampai didekat taman ada pohon asem besar seolah ada yang membisikan kepadaku “Pegangan pohon itu …” tanpa pikir panjang aku peluk pohon asem besar itu, pohon itu lebih besar dari pelukkan tanganku sehingga tanganku tidak dapat bertemu dengan tangan yang satunya. Melihat aku memeluk pohan asem itu teman-teman yang lain berlari ke pohon asem itu dan ikut-ikutan berpegangan dan berpelukan seperti ku.

Sehingga kami saling berpegangan erat melingkari pohon dan yang mendapat lingkaran diluar saling melapisi dengan badannnya sehingga pelukan itu makin kuat. Hal ini kami lakukan karena gempa itu demikian kuatnya dan masih terus mengguncang-guncang kami. Kurang lebih sepuluh menit guncangan hebat itu mereda … kami mulai meregangkan pelukan … dan mulai memandang ke sekeliling … ternyata hotel tempat ku menginap sudah runtuh dua lantai kebawah. Tak terbayang olehku apa jadi kalau kami masih ada diruangan restoran tadi. Belum lagi rasa ketakutan ku hilang, terdengar suara teriakan

“Air..Aiiir !!!” aku pikir ada korban gempa yang sangat membutuhkan air minum ternyata

…”Ada aiir !..Air datang, air datang !!!” Ooh, ternyata ini air banjir yang datang ! kulihat orang berlari-larian kesana kemari menyelamatkan diri dari kejaran air. Tanpa pikir panjang akupun ikut berlari, tapi ke mana aku harus berlari, sambil berlari sekuat-kuatnya tanpa sadar aku berucap berulang-ulang “Allohu Akbar…Allohu Akbar..Allohu Akbar” terus tak berhenti berlari entah harus kemana dengan rasa takut yang tak terkirakan, pikiran kalut, kacau, yang ada hanya menyelamatkan diri. Sambil berlari dan mengucap takbir seolah ada yang memberiku ilham, tiba-tiba terlintas dipikiran “Air itu mencari tanah yang lebih rendah …” ku arahkan lariku ke tanah daerah yang lebih tinggi, “ya tapi harus lari kemana ???” buntu pikiranku… sambil terus bertakbir, kembali seolah ada yang membisiki ku “lari ke arah kanan” aku ikuti bisikan itu aku lari berbelok ke kanan, ternyata yang kutemui adalah tanggul yang tingginya satu setengah meter, akupun mencoba untuk menaikinya tapi tak berhasil karena begitu lelah setelah terus berlari, kulihat dibelakangku … rupanya teman-temanku berlari mengikuti arah ku berlari sehingga kami berkumpul dibawah tanggul. Sambil bahu membahu, berpegangan tangan, yang berhasil naik keatas tanggul membantu mengangkat yang laiinya sampai semua berhasil naik tidak ada yang tertinggal. Aku melihat kearah belakang lagi, ternyata sudah mulai ada korban-korban yang tersapu oleh air yang mengerikan itu, tetapi air masih mengejar kami, “lari … lari … airnya mulai naik !!!” teriak ku.

Tanpa sengaja aku berlari paling depan dan semua teman-teman mengikuti di belakang. Ooh … harus kemana aku ber lari, napasku tersengal-sengal “Allohu Akbar…Allohu Akbar..Allohu Akbar” hanya dalam hati karena tak sanggup lagi aku mengucapkannya. Kepalaku mulai pening kehabisan napas, mungkin sebentar lagi aku akan pingsan dan akan tersapu oleh air bah, pikirku. “Allohu Akbar…Allohu Akbar..Allohu Akbar” (hanya dalam hati karena tak sanggup lagi aku mengucapkannya) … seolah ada bisikan lembut tapi tegas “lari ke arah trotoar jalan besar” kuikuti bisikan itu … tetapi air sudah mulai menerpa kaki-kaki kami. Tubuh kami mulai basah oleh cipratan air sampai akhirnya basah kuyup, setengah putus asa aku berlari karena akhirnya air bah itu akan menelan kami juga, ooh inilah ajal mungkin sudah tiba, pikirku, “Allohu Akbar…Allohu Akbar..Allohu Akbar” (hanya dalam hati karena tak sanggup lagi aku mengucapkannya).

“Lari terus kearah trotoar jalan besar” aah bisikan itu datang lagi, kuikuti lagi, sambil menoleh kebelakang, ternyata teman-teman masih mengikuti dibelakang mengikuti arah lariku, kulihat dibelakangku saluran-saluran air sudah meluap airnya, airnya mengalir deras membawa sampah, potongan-potongan kayu, mengerikan ! Dikejauhan semakin banyak orang yang mulai terjatuh tertelan air bah, arah lari mereka memang berlawanan dengan arah ku. Aku tidak berani menoleh lagi, sungguh pemandangan yang menakutkan, mengerikan. Dalam keadaan berlari, bingung arah mana yang harus kutempuh, sejenak kemudian terdengar lagi bisikan “lihat gorong-gorong, lari ke trotoar”
“ya aku lari ke arah trotoar itu … tapi apa maksudnya disuruh melihat gorong-gorong ??” pikirku sambil terus berlari.

Berlari …terus sambil berlari kulihat gorong-gorong yang ada sisi-sisi jalan dimana kuberlari, ya betul ! digorong-gorong itu tidak ada air yang menggenang … tidak ada air yang mengalir kearah gorong-gorong itu … ooh ini rupanya jawabannya, air bah itu pasti mencari saluran air dan yang ada hanya gorong-gorong itu, air tidak sampai mengalir kearah gorong-gorong itu berarti, arah lariku adalah benar mencapai daerah yang lebih tinggi ! Oooh Yaa Alloooh …Engkau Yang Maha Ghaib … Engkau Bisikan Suara GhaibMu untuk membimbingku berlari … tanpa terasa air mataku berlinang, doa kupanjatkan dalam hati “Yaaa Alloooh tuntunlah kami, lindungilah kami…” semangatku terpompa kembali untuk terus berlari … sampai kupastikan daerah itu tidak ada air yang menjangkaunya, perlahan-lahan aku berhenti berlari dan habis sudah napas ini, akhirnya aku berhenti dan duduk tersungkur dipinggir trotoar.

Dengan napas yang tinggal satu-satu dan kepalaku mulai pening, berat sekali rasanya kepalaku ini. Sementara aku duduk ditrotoar ternyata rekan-rekanku masih mengikuti arah lari dan ikut berhenti dan ikut duduk dan tersungkur ditrotoar tetapi rekan-rekan yang wanita tidak dapat duduk lagi langsung lunglai pingsan, kami biarkan saja karena kami sendiri juga dalam keadaan kepayahan, ketakutan , belum dapat bernapas dan berpikir dengan baik, setengah hilang kesadaran. Hampir setengah jam kami terduduk, ada yang mulai siuman dari pingsannya, ada yang mulai menagis tersedu-sedu, ada yang menyeringai menahan kakinya yang sakit, ada yang terdiam membisu, masih terbayang-bayang kejaran air bah itu, masih teringat orang-orang yang berjatuhan ditelan bah, runtuhnya hotel, Oooh Tuhan apa yang sedang terjadi ??

Perlahan-lahan kesadaran kami mulai timbul, “Pak kemana lagi kita akan berlari ???” tanya seorang rekan kepadaku, rupanya arah lariku dijadikannya tumpuan bagi rekan-rekanku. “Tidak tahu lagi saya harus kemana, kita berhenti dulu disini … “Jawabku sekenanya, sambil mengenang dan mengingat-ingat akan Bisikan Ghaib itu, hatiku menangis… bagaimana jadinya bila tidak ada yang menuntunku berlari, mungkin aku juga sudah tersapu oleh air bah itu… terasa betapa aku sangat membutuhkan dan berharap-harap Bisikan itu datang lagi. Setelah hening tidak terdengar lagi bisikan itu, tapi aku yakin sudah bahwa Bisikan Itu adalah petunjuk bagi keselamatan diriku dan rekan-rekanku. Aku bersyukur dalam hati masih dilindungi oleh Yang Maha Ghaib.

Kehingan kami tidak berlangsung lama, kurang lebih satu jam kami hanya berdiam diri, setelah tenaga terkuras habis, perasaan lapar mulai menyergap, karena kami memang belum sempat menyantap sarapan kami sewaktu terjadi gempa tadi. Rekan wanita mulai ada yang mengeluh “Perutku mulai terasa lapar …” aku dan rekan-rekan yang lain berdiam diri saja, tidak ada yang menanggapi walaupun kami tahu bahwa semua pasti belum sarapan tapi kemana harus mencari makan dalam keadaan kacau balau seperti ini. Masih untung kami bisa hidup, apa jadinya kalau tadi kami salah arah dalam berlari, bisa jadi terjebak dipusaran air bah yang masuk sampai ketengah kota.

Tetapi Alloh Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, kuedarkan pandangan ku kesekeliling, jalan itu sepi, lenggang, ada beberapa bangunan ruko masih tutup, tapi mataku terpaku disalah satu ruko tulis dipapannya “Rumah Makan Padang”, lho koq sudah ada rumah makan padang yang buka??? Rasa gembiraku bukan kepalang, kami bergegas ke rumah makan itu, setelah selidik punya selidik ternyata rumah makan itu sudah kosong ditinggalkan pemiliknya, tetapi makanannya lengkap dan kayaknya baru dimasak, masih hangat !!! Waduh gimana ini, mau makan bayarnya ke siapa ?? Makan tanpa bayar juga bisa, tapi itu mencuri namanya ! “Bagaimana kalau kita makan saja dulu” kemudian kita tinggalkan saja uang kita dilacinya ??” aku mengusulkan karena aku merasa dikantongku masih ada uang sisa perjalanan dinasku. Tanpa menunggu lama lagi rekan-rekanku langsung setuju. Kami makan dengan lahapnya, Yaa Alloh Yaa Rahman Yaa Rahim … ampuni kami…walaupun didalam bencana besar ini Kasih Sayang Mu masih memayungi jiwa-jiwa kami, masih juga kami diberi Nya makan.

Tak lama setelah selesai makan muncul serombongan ibu-ibu ada anak-anak juga melintas didepan rumah makan itu, mereka melongokkan kepala kepada kami “Pak kami mau beli makanan, tapi kami tidak punya uang, rumah kami hancur, kami lapar Pak ??” Tersentak kami semua mendengar nya, spontan rekan-rekan menjawab “Kami bukan pemilik rumah makan ini, tapi kalau mau makan silahkan ambil saja, makan saja, kami yang bayar” jawab kami seketika. Tanpa dikomando mereka menyendok makan itu dan memakannya dengan lahap, sebentar saja seluruh makanan sudah ludes, selesailah makan mereka. Dengan rasa gembira ibu-ibu dan anak-anak itu mengucapkan terima kasih berkali-kali, “Terus ibu-ibu ini mau kemana ?” tanya salah seorang rekanku, seketika kegembiraan ibu-ibu itu lansung sirna, “Kami akan mencari keluarga kami yang hilang tersapu air bah, entah mencarinya kemana …” mendung menggayut dimata ibu itu. Mereka pun berpamitan dan berjalan pelan-pelan menyusuri trotoar, entah hendak kemana.

Aku dan rekan-rekan menghela napas, sambil berdoa semoga keluarga mereka dalam keadaan selamat semua. Kami termenung kembali, sejenak kemudian mulai saling berbicara apa yang akan kami lakukan selanjutnya. Akhirnya diputuskan kami kembali ke arah hotel tempat menginap. Serasa sudah aman kami berjalan kembali kearah hotel, sepanjang jalan terlihat betapa ganasnya air bah itu menyapu kota Aceh ! tidak hanya bangunan-bangunan yang hancur, terlihat juga tumpukan tubuh manusia saling bertumpuk di gorong-gorong air, menyumbat saluran air, mengerikan sekali …

Sesampainya dilokasi hotel, terlihat bangunannya sudah runtuh, sangat >berbahaya bila didekati. Kami putuskan untuk berjalan kearah Airport, semoga disana masih ada rekan-rekan yang sudah selamat terlebih dahulu. Letak Airport ada didataran yang agak tinggi, sesampainya di Airport kami baru bisa bertemu dengan rekan-rekan lainnya yang ikut selamat dari hantaman air bah. Setelah itu kami sepakat menjadikan Airport sebagai Posko sementara dan selanjutnya harus bagaimana … aaah entahlah … aku badanku tidak kuat lagi, hatiku menangis bila mengingat mayat-mayat yang bergelimpangan, aku tertidur diluar gedung airport karena kemungkinan masih ada gempa susulan, aku pejamkan mataku … aku tidak dapat berfikir lagi… Yaa Alloh bukakan mata hati kami untuk dapat mendapat hikmah dari semua ini .

Seperti yang dituturkan oleh Pak Sanwani kepada Penulis.

Faisal, Faryanti” Faryanti.Faisal@AIG.com

Photo Highlight

Klik disini untuk melihat foto yang diambil oleh photographer profesional

Tsunami Dalam Sejarah

Selama bertahun-tahun ribuan orang tewas akibat tsunami …

Baca berita lebih lanjut, klik disini

Meletusnya Krakatau pernah menimbulkan tsunami yang sangat tinggi …

Baca berita lebih lanjut, klik disini …

Foto Tsunami Aceh

Tanggal 26 Desember 2004, Aceh (Naggroe Aceh Darussalam) dan sebagian Sumatera Utara telah terjadi gempa dengan 8,9 skala ritcher, jam 8 pagi, sekitar 30 - 60 menit kemudian terjadi tsunami dengan tinggi 3-5 meter. Pusat gempa disebelah barat pantai Sumatera. Gempa tertinggi dalam sejarah abad 20. Mengenai negara Thailand, Pantai barat Malaysia, Srilangka, Pesisir pantai India, Myamar, pesisir pantai Afrika. Memakan korban jiwa, harta benda yang cukup banyak. Korban paling terbanyak adalah Indonesia. Dan inilah foto-fotonya.

Banda Aceh, before and after

before and after tsunami aceh
Catatan :
Karena telah terjadi sesuatu dengan blog saya, tidak bisa menampilkan foto dari sumber AFP dan Reuters.

Tak Ada Alat, Gajah pun Jadi

Kreativitas kadang tercipta dari kondisi serba terbatas. Dari tumpukan puing dan jenazah yang mengepung Banda Aceh pasca bencana gempa bumi dan tsunami yang menghantam Ahad pekan lalu (26 Desember 2004) - sementara tenaga dan peralatan begitu minim - lahirlah sebuah jalan alternatif.

Baca lebih lanjut klik disini

Lihat foto, klik disini

Two elephants, Medang and Ida, clear the debris of houses damaged by the tsunami disaster to make a path for vehicles in Indonesia’s tsunami-hit city of Banda Aceh January 3, 2005. Eight days on, hungry and sick survivors of the Indian Ocean tsunami are waiting for food and medicine in growing desperation as a multinational aid operation tries to reach remote towns ravaged by the waves. REUTERS/Beawiharta

Lihat foto, klik disini