Jangan Beritahu Aku

Tanggal Posting :

1/19/2005

Aku mohon jangan beritahu aku …
Aku mohon …

Ibu itu bercerita tentang anaknya yang terbaring koma. Anaknya ditabrak oleh mobil pada pagi hari. Saat itu hari minggu, anaknya dan teman-temannya pulang dari olah raga di Senayan. Mereka menyeberang jalan ke arah TVRI, saat itu jalanan sepi, tiba-tiba ada mobil melaju sangat kencang menabrak anaknya, mobil itu kabur.

Anaknya mengalami komplikasi. Kandung kemih & ginjal rusak, gegar otak parah, koma. Mengingat lukanya cukup parah seharusnya ditempatkan di ICU tapi karena tidak ada biaya, anaknya ditempatkan dikelas III. Dokter sudah menyarankan, apa daya tak sanggup.

Sambil beliau bercerita, dalam hati saya berkata “Anak ibu tidak bisa bertahan lama, besok dia mati”. Berulang kali ucapan itu terus didalam hati saya … aduh … mengingat luka yang sangat parah dan hampir seminggu anaknya di rumah sakit tidak sadarkan diri. Saya berdoa semoga anak itu cepat “diambil”.

“Doain anak ibu yach, nak …, semoga cepat sembuh, cepat sadar”. Mulut saya berkata “Ibu sabar yach, mudah-mudahan cepat sadar …”

Kata hati saya, “Tidak mungkin … dia akan meninggal, sebentar lagi dia meninggal, ibu tidak boleh berharap banyak …”. Aduh …kalimat itu mengganggu saya … Waktu saya menghampiri tempat tidur anak itu kemarin, hati saya berkata “Kamu tidak bertahan lama, sudah lama kamu menderita”.

Besok harinya anak itu meninggalkan dunia, setelah kurang lebih seminggu terbaring di rumah sakit dan hatiku tenang.

***
Seminggu sebelum kematian suami dari kakak ibu saya, Pak Onga. Saya bermimpi pulang kampung, Onga (istri Pak Onga) memberitahukan letak kuburan Pak Onga yang berada disamping makam Ongku (kakek dari pihak ibu).

***
Eksa, meninggal dalam usia muda, kelas V SD. Saya baru tahu sekitar umur 25 tahun. Selama 1 tahun dalam pertanyaan, hati saya berkata dia sudah tidak ada tapi saya tidak percaya. Sekeras apapun saya menyakinkan bahwa ia masih hidup bersama itu pula hati saya berkata keras “dia sudah tidak ada”

***
Jakarta saat itu membara, merah, kalut, marah, takut, mencekam. Saya pulang dengan mobil warna merah penuh ketakutan. Berkali-kali mimpi itu datang. Peristiwa ini akhirnya terjadi : kerusuhan Mei.

***
Yang belum terjadi dan mudah-mudah tidak terjadi
Tol Cikampek, retak, terbelah, saya berjalan kaki, menginap di sisi jalan tol dengan beberapa orang. Baru beberapa hari saya sampai di rumah.

Rumah saya (Bekasi) porak poranda, seperti kena bom. Saya cari kemana anggota keluargaku yang lain. Akhirnya ketemu, dibalik puing suatu rumah, mereka selamat. Tapi siapa laki-laki itu (akhirnya ketahuan suami Ruri, Mas Yanto). Jakarta, Bekasi saat itu kacau balau. Kami mengungsi, saya tidak tahu nama tempatnya.

Aku mohon … aku sangat memohon …
Jangan beritahu aku …
Aku capek …
Aku ga bisa tidur …

0 comments ↓

There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Leave a Comment