Teman-teman,
Berikut ini cerita seorang relawan, dr. Tari, yang telah kembali ke kota Calang, ibukota Kab. Aceh Jaya setelah 2 hari menengok ibunya yang sakit di Jakarta :
Gadis kelas III SMP berusia 14 tahun ini bernama Cut Meutia, panggilannya Tia, anak sulung seorang pedagang Bapak & Ibu H. Karim. Aku temui Tia ketika ia sedang merawat seorang tua, pak Ibrahim, yang terluka parah kakinya ditempat pengungsi tak jauh dari kota Calang. Aku tertarik padanya karena Tia sangat sigap membantu. Itulah awal persahabatan kami selama seminggu. Ketika kutanya apakah pak Ibrahim adalah ayahnya ? Tia menjawab: ”Bukan, beliau adalah guru Bahasa Inggris. Sepertinya beliau adalah satu-satunya guru Tia yang ditemukan. Keluarganya juga hilang seperti keluarga Tia”. Siang itu dan hari-hari selanjutnya Tia membantuku sebagai perawat. Sungguh hari-hari yang menguras tenaga kami berdua. Pada malam harinya, aku meminta Tia menemaniku tidur ditendaku. Upahnya, dia minta diceritakan dongeng apa saja. Aku mencoba mengarang dongeng untuk membuatnya tidur dan melepaskannya dari rasa trauma. Hingga hari ketiga, barulah Tia bercerita tentang dirinya: ”Malam Minggu itu Tia sakit dan tidur jam 20.00 setelah diberi obat oleh Umi (Ibu). Abi (panggilan Ayah) dan adikku Hasan nonton TV. Setelah itu Tia tidak tahu apa yang terjadi ketika terbangun dan berada diatas dahan pohon. Semua berubah, kak Tari. Rumah dan bangunan telah rata tanah. Tia menangis dan coba cari Abi, Umi, dan Hasan, tapi tidak ketemu. Sampai hari tanggal 28 Tia coba kembali kerumah, tetapi dilarang orang karena susah jalan kesana. Beruntung Tia bertemu pak Ibrahim, walau Tia benci karena galak. Tapi beliau terbaring lemah dan kami menangis bersama”. Tia punya segalanya. Pintar, selalu juara sejak SD, ketua regu Pramuka, aktif di OSIS, periang dan cantik. Tetap cantik walau memakai baju longgar dari dos yang dijatuhkan dari helikopter. Tia bercita-cita menjadi dokter. Aku membayangkan seharusnya bila menjadi dokter, Tia akan lebih cantik dari dr Lula Kamal ! Tak heran bila ayahnya sangat sayang padanya dan beberapa kali mengajaknya bersama ke Medan, bahkan Singapore. Tia sekeluarga baru saja asyik menikmati mobil kijang barunya untuk pergi ke Banda Aceh. Tsunami merenggut semuanya ! Ia merasa kehilangan Aziz, teman sekelas yang sebulan sebelumnya mengajaknya ”jadian’. Bahkan Tia juga merindukan teman-teman yang nakal dan tidak disukainya: Andi, Ridwan, dll ! ”Kak Tari, bila Tuhan membolehkan biarlah mereka hidup menggangguku sepuasnya setiap hari asalkan mereka jangan seperti ini..” katanya terbata sambil menunjukkan bekas ruang kelasnya yang telah hancur ketika kami berhasil mencapai sekolahnya. Aku mengingatkannya komitmen kami untuk tidak menangis sebagai calon dokter dan sedang bertugas menolong orang. Tia cepat belajar sebagai asisten dan penterjemahku dalam merawat penderita. Banyak kejadian menegangkan dan lucu yang kami alami bersama. Kami berdua menjadi team yang kompak sampai pada hari ketujuh ketika aku harus ke Banda Aceh mengambil persediaan obat. Persediaan makanan juga semakin sulit. Terjadi perebutan bahan bantuan. ”Kak Tari pasti kembali lagi, khan. Tia akan menunggu”, katanya dengan matanya yang bundar ketika aku naik keatas truk TNI. Tetapi Tuhan berencana lain! Dua hari kemudian, aku tidak menemukannya ketika kembali ketempat semula. Mereka pengungsi baru dari desa-desa sekitar tidak tahu kemana rombongan pengungsi yang lama. Aku terus mencarinya sekitar kota Calang. Ah, Tia dimana kamu … ? Aku ingin mengajakmu ke Jakarta untuk sekolah. Aku yakin kamu akan menjadi dokter. Tsunami boleh mengambil semuanya darimu kecuali semangatmu ! Ya Tuhan, temukan Tia untukku …
Teman-teman, kami membiarkan dr. Tari mengingkari janjinya sendiri : menangis. Yah, dr. Tari juga manusia biasa.









0 comments ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.
Leave a Comment