Saya hanya bisa mengernyitkan dahi bila teman-teman berkata seperti. Sebesar apa mereka tahu kehidupan saya dimasa lampau dan pada saat itu ? Memang saya tidak pernah membohongi mereka selama 3 tahun berteman. Dan saya bukan kristal yang selalu dijaga jangan sampai jatuh dan terluka.
Akhirnya ada kesempatan untuk membuktikan bahwa saya bisa berbohong dan nakal. Ada PR Geografi, membuat gambar berwarna lapisan bumi dikertas karton. Pada saat itu saya baru saja dari ruang guru untuk suatu keperluan dan tidak melihat Pak Endang, guru Geografi kami karena pelajaran selanjutnya adalah beliau. Setelah selesai dengan urusan saya, keluar dari ruang guru, saya berpikir tentang suatu rencana mengerjain teman-teman sekelas. Sesampainya didalam kelas – deg-degan, harap-harap cemas –, keluarlah kalimat, “Teman-teman, PR Geografinya dikumpulkan. Kata Pak Endang terlambat masuk”. Dan hebohlah isi kelas, langsung sebagian besar teman-teman buru-buru membereskan PR yang belum selesai. Ada yang minta tolong ini dan itu dengan yang lain, pinjam ini dan itu… Ada yang tanya ulang ke saya, apakah benar dikumpulkan dan Pak Endang udah ada di ruang guru. Saya bilang aja “Telat, sebentar lagi datang, PRnya dikumpulkan”. Pokoknya ribut sekali …. Didepan kelas, saya menahan ketawa – ketahuan ga ya senyumnya – melihat kelakuan sebagian besar teman. Untung saya sudah mengerjakan PR.
Ada 1 teman -laki-laki, mantan ketua kelas, anak paling pintar- yang tahu saya berbohong. Dipanggil saya keluar kelas.
Ex Ketua Kelas : “Auliah, kesini sebentar …”
Auliah : “Ada apa?”
Ex Ketua Kelas :”Mau tanya, sebenarnya Pak Endang itu tidak menyuruh mengumpulkan PR, iya kan?”
Auliah : “Benar, memang dikumpulkan…”
Ex Ketua Kelas : “Saya tahu kamu, kamu tidak pernah bohong dan tidak bisa bohong. Tatap mata saya, auliah. Benar dikumpulkan PRnya ?!!”
Saya tatap matanya. Aduh, ketahuan nih. Dan akhirnya saya tersenyum.
Auliah : “Memang tidak benar dikumpulkan dan Pak Endang tidak menyuruh. Tapi walaupun tidak disuruh, kan kalau beliau datang tetap dikumpulkan, bukan?. Dari pada kelabakan nanti lebih baik kelabakan sekarang. Benar kan?”
Sambil menerangkan, saya sambil tertawa.
Ex Ketua Kelas : “Ga lucu aul …. Tapi tidak boleh aul … doang … aza …!!” -Gemes-
Auliah : “Tapi kamu sudah selesai tidak PRnya?”
Ex Ketua Kelas : “Sudah..”
Auliah : “Ya, udah. Tapi jangan bilang-bilang ke teman-teman. Biarkan saja. OK. Kamu baik deh..
”
Ex Ketua Kelas : “Tapi jangan diulangin lagi”
Sambil tersenyum, saya mengangguk kepala.
Setelah selesai semua. Mereka mengumpulkan PR ke Ketua Kelas dan saya bantuin membawa karton ke ruang guru. Melewati ruang perpustakaan, saya ga tahan untuk ngomong terus terang sama Ketua Kelas.
Auliah : “Sebenarnya, PRnya ga disuruh dikumpulkan dan Pak Endang ga ada”
Ketua Kelas berhenti berjalan dan melihat saya. Dan tiba-tiba dia membuang semua karton ditangannya. Saya kaget.
Auliah : “Kok dibuang, sih …, ambil … ambil …”.
Ketua Kelas : “Kamu ini gimana sih .. ngerjain ya … booong …. Ga mau … Auliah ambil sendiri”
Auliah : “Ambil donk, ga benar disuruh dikumpulkan sama Pak Endang”
Ketua Kelas : “Benar nih … dikumpulin?”
Auliah : “Suer!!”
Saya bantuin ambil karton yang terbuang dan kami berjalan ke arah ruang guru dan Pak Endang sudah ada disitu. Dengan wajah kaget, beliau menatap kami.
Auliah : “Pak, ini PRnya, ditaruh dimana?”
Masih menunjukkan muka kaget, beliau berkata “Dimeja Bapak”.
Ketua Kelas : “Pak, memang PRnya dikumpulkan?”
Auliah : “Iya, kan Pak dikumpulin?”
Pak Endang : “Eh, iya .. iya …, tapi nanti aja, Bapak juga mau ke kelas”
Ooo, kata Ketua kelas. Buru-buru kami keluar dari ruang guru menuju kelas setelah memohon izin pamit. Selama dalam perjalanan, saya bilang ke Ketua Kelas, Pak Endang memang tidak menyuruh dikumpulin PRnya. Ketua Kelas berhenti lagi “Ahhhh, Auliah .. gimana sih … Awas nih kita bilangin ke teman-teman”. Kata saya, “Bilangin aja .. ga takut”. Langsung Ketua Kelas mempercepat jalannya ke kelas yang jaraknya sudah dekat, begitu pun saya. Dan keluarlah suara ‘huuuu’ dari mulut mereka dan saya cuma cengar-cengir. Puas saya dan PUAS. Akhirnya kristalpun cacat.
Beberapa waktu kemudian, ada PR lagi dan saya disuruh Bu guru memberitahukan teman-teman agar pekerjaannya dikumpulkan tapi teman-teman ga percaya lagi sama saya walaupun saya udah pake SUERRRR, AULIAH GA BOOONG , BENARAN nih. Tidak lama kemudian Bu Guru datang dan menanyakan PR apakah sudah dikumpulkan. Dan melihat hanya beberapa buku di mejanya, marahlah beliau dan menanyakan ke saya, apakah sudah dikasih tahu. Saya mengangguk, “Sudah Bu, tapi ga ada percaya”. Dengan nada marah “KUMPULKAN PRNYA !!!!”.
Dan saya tersenyum ke ex ketua kelas dengan penuh arti.
Nah, bisakan diambil hikmahnya …







0 comments ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.
Leave a Comment