Mempertahankan Rasa

Sekitar tahun 1985-1986, ada penjual mie ayam gerobak dorong dengan tulisan Pak Kumis di dekat pasar Tebet Barat, tepatnya disamping Jl. Tebet Barat Dalam VIII (hurufnya lupa). Kalau saya pulang dari pasar, pasti saya melewati penjual tersebut. Waktu itu rumah saya di Jl. Tebet Barat Dalam VIII F dan masih kelas 5 SD. Penjualnya sepasang suami istri dari Jawa. Rasa mie ayamnya sangat enak … bahkan terlalu enak. Seperti mie ayam lainnya, diberi tambahan daging ayam, sawi, pangsit goreng, dan bakso yang juga enak. Dalam 1 - 2 kali dalam seminggu kami sekeluarga membeli mie ayamnya. Harga pada saat itu sekitar Rp. 500,-. Setelah sekian lama mereka berjualan harganya naik bertahap sampai harga menjadi Rp. 1.000,-. Karena sering membeli mie mereka, Ibu dan Pak Kumis sampai hafal dengan saya dan 2 adik yang sering dibawa untuk membeli mie ayam mereka. Kadang-kadang pangsit goreng dan baksonya suka mereka tambahin.

Setelah ramai, mereka pindah ke tempat yang lebih permanen tidak jauh dari lokasi yang lama. Rasanya masih tetap enak. Dan kami tetap dengan pola yang sama, 1 – 2 kali dalam seminggu membeli mie mereka dan kadang-kadang pangsit goreng dan baksonya suka ditambahin oleh mereka.

Tahun 1988, saya pindah rumah ke Bekasi Timur tapi sekolah masih di SMPN 73 Tebet Timur. Saya sudah jarang makan mie ayam Pak Kumis walaupun saya sering lewat didepan kios beliau. Jualannya tambah ramai dan sudah punya motor sendiri. Pernah papasan dengan ibunya atau Pak Kumis dan mengajak saya mampir … hmmm … saya pikir … bolehlah, mengobati kangen … Dan biasanya sambil beliau mengolah mie ayam, saya perhatikan caranya. Beliaupun bertanya “Kenapa jarang makan disini lagi ?”, Kata saya, “Sudah pindah ke Bekasi, tapi sekolah saya masih di sini dan bolak-balik Tebet Bekasi”.

Setelah pindah SMA ke Bekasi. Pada suatu hari, saya main ke Pasar Tebet Barat, menyempatkan mampir ke Mie Ayam Pak Kumis … tetap masih ramai, lebih maju dan ibunya masih tetap kenal sama saya. Beliau senang sekali melihat saya. Katanya saya sudah semakin besar dan sudah ga pernah makan disini lagi. Saat itu tidak melihat Pak Kumis, mungkin sibuk. Saya lupa menanyakan ke mereka apakah sudah punya cabang?. Saya makan disitu tapi sayang sudah tidak ada pangsit goreng dan rasanya sudah tidak seenak dulu, juga baunya aneh. Saya kecewa. Saya membawa 5 bungkus mie ayam ke rumah dan komentar orang rumah sama seperti saya. Sampai saat ini saya dan keluarga belum menemukan mie ayam seenak pertama kali mereka jualan. Saya, adik-adik, orang tua kami kangen dengan rasa itu.

Ibu dan Pak Kumis bisa kah mengembalikan rasa seperti dulu ? Dengan harga berapa pun juga kami akan membeli. Jangan buat rasa mie ayam yang standar tukang mie ayam yang lain. Kalau kami lewat Tebet, yang kami ingat cuma mie ayam Pak Kumis tahun 1985-an. Nyam … nyam … enak … sruup =P~

0 comments ↓

There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Leave a Comment