PULANG KAMPUNG

Paling enak kalau pulang kampung bareng-bareng sama keluarga, saudara-saudara apalagi perginya sama orang sekampung yang tinggal di Jakarta. Seru habis. Seperti 3 tahun lalu, dengan 6 bis besar dan disambut sama Pak Walikota Sawahlunto/Sijunjung dan orang sekampung. Kayak pejabat tinggi.

Kami berangkat hari ke 2 Lebaran. Rame sekali gedung pertemuan kami, dipenuhi sama pengantar dan yang mau pulang. Beraneka ragam penampilan orang dan banyaknya barang yang dibawa. Waktu itu hari masih pagi. Saya dapat bis no. 2. Naik bis Blue Bird, bagus, bersih, ACnya dingin, tempat duduknya enak. Duduk sama ibu separuh baya. Pada saat itu untuk pertama kalinya pulang kampung sendiri, menjawab tantangan Bapak bahwa saya ga berani pulang kampung sendirian. Maklumlah kalau pulang kampung keseringan sama ortu, adik-adik, sepupu-sepupu dari pihak ibu atau keluarga bapak.

Ibu memberi bekal beberapa nasi dibungkus daun pisang yang sudah dipanaskan terlebih dahulu dan diberi minyak goreng agar tidak cepat basi, tidak lupa beberapa bungkus biscuit Roma, rendang, ayam balado, semuanya untuk 2 hari. Saya juga membawa air minum besar 2 botol, sedotan, handuk kecil, 1 buah piring melamin, 1 gelas minuman tupperware, sendok makan dan sendok garpu, sapu tangan, tissue. Timba yang berisi sikat gigi, odol, sabun, selimut besar, 1 bungkus kantong plastik warna hitam, kaos kaki, baju hangat, bantal kecil, sisir, minyak kayu putih, mylanta. Saya memakai pakaian yang enak dipakai, ga ribet dan penting pake sendal jepit. Beberapa lembar uang untuk persediaan untuk membeli nasi bila persediaan sudah habis or udah basi. Untuk baju semuanya ada ditas besar yang sudah ditaruh dibagasi.

Kalau naik mobil pribadi, tambahan bawaannya yaitu 6 bantal besar, pisau, golok, kayu panjang, termos besar, buah-buahan, tikar, kasur besar yang bisa lipat. Hmmm … seperti seisi rumah ingin dibawa kecuali sofa dan tempat tidur .. hehehehe.

Untuk senjata tajam yang dibawa, karena daerah Lahat dan Tebing Tinggi adalah daerah yang sangat berbahaya. Untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan didaerah tersebut, lewatnya jangan malam hari. Karena perampok, bajing loncat merajalela di malam hari … senjata tajam mereka panjang-panjang. Kalau ada bis atau kendaraan pribadi ditempat yang sepi/gelap berhenti, jangan berhenti, jangan jalan pelan-pelan. Langsung tancap gas, pokoknya kita punya prinsip kalau jalan di Trans Sumatera adalah “I don’t Care”. Walaupun orang yang punya bis atau mobil itu minta bantuan. Jangan-jangan mereka lagi dirampok.

Setelah sampai di tempat pemberhentian untuk istirahat memakan waktu 1 s/d 1.5 jam. Waktu yang cukup lama. Kalau caranya begini bisa sampai dikampung halaman telat alias ga sesuai jadwal. Dan benar sekali, kita nyampenya kemalaman tapi tetap ada yang nyambut. Penyambutannya lama banget … yang pidato ga ada yang dengerin …

Padahal udah capek banget … ngantuk … . Setelah berhai ria dengan saudara-saudara di tempat penyambutan. Saya pulang ke rumah ibu, langsung ke kamar mandi, gosok gigi, cuci muka, ganti baju dan tidur …. Zzzzzzzzzzzzzzz.

Catatan :
Dalam perjalanan ga pernah mandi :D … herannya Ga bau … :P
Ga pernah sikat gigi …. Hmmmm bau donkkkk …. HHHHHHH

Sebabnya ….

WC GA PERNAH BERSIH
WC kotor … bau … pesing … air tergenang … emas muter-muter … bikin Gw mual ….muntah …. tidak nafsu makan ….

Pak Supir … kalau berhenti … bisa tidak berhenti ditempat yang layak …. misalnya di hotel … losmen … hhmmmm dihutan ada hotel & losmen tidak ???? GA PERNAH LIHAT

Or di mesjid yang bagus banget terus ada fasilitas restaurantnya ….

Cowok kalau pergi bawa makanan donkkkkk

Terus kalau bisa, kalau papasan sama harimau sumatra, biawak gede, monyet, suku Kubu, rusa (kayaknya….), kita foto bersama. Kalau ga berani, minimal kendaraan jalannya pelan-pelan disamping mereka. Ini kalau bisa lho …

1 comment so far ↓

#1 Pulang Kampung — diary ku on 10.11.07 at 4:25 am

[…] pada pulang kampung lebaran nanti. Senang ya … apalagi kalau kampungnya dekat, misalnya di daerah pulau Jawa, […]