Entries from November 2006 ↓

Ya Tuhan, Temukan Tia Untukku

Sumber : “Heru Absoro”

Teman-teman,

Berikut ini cerita seorang relawan, dr. Tari, yang telah kembali ke kota Calang, ibukota Kab. Aceh Jaya setelah 2 hari menengok ibunya yang sakit di Jakarta :

Gadis kelas III SMP berusia 14 tahun ini bernama Cut Meutia, panggilannya Tia, anak sulung seorang pedagang Bapak & Ibu H. Karim. Aku temui Tia ketika ia sedang merawat seorang tua, pak Ibrahim, yang terluka parah kakinya ditempat pengungsi tak jauh dari kota Calang. Aku tertarik padanya karena Tia sangat sigap membantu. Itulah awal persahabatan kami selama seminggu. Ketika kutanya apakah pak Ibrahim adalah ayahnya ? Tia menjawab: ”Bukan, beliau adalah guru Bahasa Inggris. Sepertinya beliau adalah satu-satunya guru Tia yang ditemukan. Keluarganya juga hilang seperti keluarga Tia”. Siang itu dan hari-hari selanjutnya Tia membantuku sebagai perawat. Sungguh hari-hari yang menguras tenaga kami berdua. Pada malam harinya, aku meminta Tia menemaniku tidur ditendaku. Upahnya, dia minta diceritakan dongeng apa saja. Aku mencoba mengarang dongeng untuk membuatnya tidur dan melepaskannya dari rasa trauma. Hingga hari ketiga, barulah Tia bercerita tentang dirinya: ”Malam Minggu itu Tia sakit dan tidur jam 20.00 setelah diberi obat oleh Umi (Ibu). Abi (panggilan Ayah) dan adikku Hasan nonton TV. Setelah itu Tia tidak tahu apa yang terjadi ketika terbangun dan berada diatas dahan pohon. Semua berubah, kak Tari. Rumah dan bangunan telah rata tanah. Tia menangis dan coba cari Abi, Umi, dan Hasan, tapi tidak ketemu. Sampai hari tanggal 28 Tia coba kembali kerumah, tetapi dilarang orang karena susah jalan kesana. Beruntung Tia bertemu pak Ibrahim, walau Tia benci karena galak. Tapi beliau terbaring lemah dan kami menangis bersama”. Tia punya segalanya. Pintar, selalu juara sejak SD, ketua regu Pramuka, aktif di OSIS, periang dan cantik. Tetap cantik walau memakai baju longgar dari dos yang dijatuhkan dari helikopter. Tia bercita-cita menjadi dokter. Aku membayangkan seharusnya bila menjadi dokter, Tia akan lebih cantik dari dr Lula Kamal ! Tak heran bila ayahnya sangat sayang padanya dan beberapa kali mengajaknya bersama ke Medan, bahkan Singapore. Tia sekeluarga baru saja asyik menikmati mobil kijang barunya untuk pergi ke Banda Aceh. Tsunami merenggut semuanya ! Ia merasa kehilangan Aziz, teman sekelas yang sebulan sebelumnya mengajaknya ”jadian’. Bahkan Tia juga merindukan teman-teman yang nakal dan tidak disukainya: Andi, Ridwan, dll ! ”Kak Tari, bila Tuhan membolehkan biarlah mereka hidup menggangguku sepuasnya setiap hari asalkan mereka jangan seperti ini..” katanya terbata sambil menunjukkan bekas ruang kelasnya yang telah hancur ketika kami berhasil mencapai sekolahnya. Aku mengingatkannya komitmen kami untuk tidak menangis sebagai calon dokter dan sedang bertugas menolong orang. Tia cepat belajar sebagai asisten dan penterjemahku dalam merawat penderita. Banyak kejadian menegangkan dan lucu yang kami alami bersama. Kami berdua menjadi team yang kompak sampai pada hari ketujuh ketika aku harus ke Banda Aceh mengambil persediaan obat. Persediaan makanan juga semakin sulit. Terjadi perebutan bahan bantuan. ”Kak Tari pasti kembali lagi, khan. Tia akan menunggu”, katanya dengan matanya yang bundar ketika aku naik keatas truk TNI. Tetapi Tuhan berencana lain! Dua hari kemudian, aku tidak menemukannya ketika kembali ketempat semula. Mereka pengungsi baru dari desa-desa sekitar tidak tahu kemana rombongan pengungsi yang lama. Aku terus mencarinya sekitar kota Calang. Ah, Tia dimana kamu … ? Aku ingin mengajakmu ke Jakarta untuk sekolah. Aku yakin kamu akan menjadi dokter. Tsunami boleh mengambil semuanya darimu kecuali semangatmu ! Ya Tuhan, temukan Tia untukku …

Teman-teman, kami membiarkan dr. Tari mengingkari janjinya sendiri : menangis. Yah, dr. Tari juga manusia biasa.

Beda Cinta & Suka

Dihadapan orang yang kau cintai, musim dingin berubah menjadi musim semi yang indah.
Dihadapan orang yang kau sukai, musim dingin tetap saja musim dingin hanya saja suasananya lebih indah sedikit.

Dihadapan orang yang kau cintai, jantungmu tiba-tiba berdebar lebih cepat. Dihadapan orang yang kau sukai, kau hanya merasa senang dan gembira saja.

Apabila engkau melihat kepada mata orang yang kau cintai, matamu berkaca-kaca.
Apabila engkau melihat kepada mata orang yang kau sukai, engkau hanya tersenyum saja.

Dihadapan orang yang kau cintai, kata-kata yang keluar berasal dari perasaan yang terdalam. Dihadapan orang yang kau sukai, kata-kata hanya keluar dari pikiran saja.

Jika orang yang kau cintai menangis, engkaupun akan ikut menangis disisinya. Jika orang yang kau sukai menangis, engkau hanya menghibur saja.

Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan rasa suka dimulai dari telinga. Jadi jika kau mau berhenti menyukai seseorang, cukup dengan menutup telinga.

Tapi apabila kau mencoba menutup matamu dari orang yang kau cintai, cinta itu berubah menjadi tetesan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam jarak waktu yang cukup lama.

“Tetapi selain rasa suka dan rasa cinta … ada perasaan yang lebih mendalam. Yaitu rasa sayang … rasa yang tidak hilang secepat rasa cinta. Rasa yang tidak mudah berubah. Perasaan yang dapat membuatmu berkorban untuk orang yang kamu sayangi. Mau menderita demi kebahagiaan orang yang kamu sayangi. Apabila Cinta ingin memiliki. Namun Sayang, hanya ingin melihat orang yang disayanginya bahagia, walaupun harus kehilangan”.

joan janet

Realisasi Bantuan Pecahkan Rekor

* TI : Pantau Ketat Penyaluran Bantuan
Geneva, Rabu - Realisasi bantuan untuk kategori darurat para korban tsunami mencatatkan rekor baru. Rekor itu jauh melampaui realisasi bantuan global selama ini. Bencana tsunami begitu “memukau” sehingga muncul kekhawatiran bahwa dunia melupakan bantuan pada bencana-bencana lain.

Baca lebih lanjut …

Pasca-Amuk Samudra

SAMUDRA Hindia mengamuk. Bukan lantaran samudra itu balas dendam karena bosnya semua samudra, Imam Samudra, sedang dipenjara di Bali, tetapi karena gempa tektonik yang sudah barang tentu disebabkan oleh kehendak Imamnya segala imam, Tuhan Yang Maha Esa.

Baca lebih lanjut …

Kisah Nyata Korban Tsunami

Pada musim haji dua tahun lalu aku pernah ditugasi untuk membantu menangani proses pemberangkatan jemaah haji Indonesia di embarkasi Aceh. Waktu itu kondisi politik dan keamanan cukup menghangat, tetapi tugas itu dapat aku laksanakan dengan baik dan aku kembali ke Jakarta dengan selamat. Desember 2004 ini aku kembali ditugasi oleh Bos ku untuk ikut kembali ke Aceh membantu pemberangkatan jemaah Haji dari embarksi Aceh. Rasanya gembira juga bisa ikut berpatisipasi dalam tugas mulia ini. Singkat cerita di Aceh aku diinapkan di Hotel Kuala Tripa di lantai 2, hari itu adalah hari terakhir aku bertugas di Aceh dan aku melapor ke Manager Aceh bahwa besok pagi aku akan kembali ke Jakarta. “Pak Kamdo hari ini aku balik ke Jakarta, Surat Perjalanan Dinas ku sudah selesai …” lapor ku ke Pak Sukamdo Manajer Garuda di Aceh. “Wah Pak Sanwani, jangan gitu dong … kamu sangat dibutuhkan di operasional haji disini …” keluh Pak Kamdo, “kamu di extend, spj kamu diperpanjang ya sampai dua hari … sebulan juga boleh… oke ya ??!” pinta Pak Kamdo setengah memaksa. “Enggak bisa Pak, pokoknya saya harus pulang ke Jakarta besok pagi” aku memberanikan diri membantah Pak Kamdo. Akhirnya Pak Kamdo menyerah “Ya sudahlah … tapi semua kerjaan beres khan ??” “Beres semua Bos ! …temen-teman nanti yang gantin saya juga sebentar lagi datang dari Jakarta” jawabku, Pak Kamdo orangnya baik, semua fasilitas untuk pekerjaanku dilengkapinya, apa yang aku minta untuk menunjang operasional pekerjaan langsung disediakannya, sehingga aku bekerja bisa lancar tanpa hambatan berarti.

Malam itu aku berbenah di kamar, koper yang sudah aku pack, aku buka lagi kayanya ada yang lupa apa yaa … seolah koper ini enggan ditutup. Ku buka lagi ku tutup lagi … apa-apaan nih…pikir ku. Oleh-olehyang aku siapkan dikulkas kamar hotel aku keluarkan, tapi tak lama aku masukan lagi ke kulkas … kenapa nih pikiranku koq gak konsen gini ??? Sepertinya ada yang mencegah oleh-oleh itu untuk aku bungkus biar kubawa ke Jakarta.

Aah …lupakan saja , tidur aja dulu …Hari Minggu pagi jam setengah tujuh tanggal 26 Desember 2004 aku sudah rapih berpakaian dan langsung menuju restoran dilantai bawah hotel tempat ku menginap untuk breakfast, rekan2 lain juga sudah mulai berkumpul, agak-agaknya makan pagi ini akan terasa makan yang paling nikmat karena tugas-tugasku sudah selesai, tinggal pulang ke Jakarta ketemu anak isteri begitu angan-anganku. Belum lagi kami mengambil makanan … masih dalam keadaan berdiri … sejenak terasa kakiku berguncang -guncang, tidak hanya itu, kuperhatikan sekeliling ruangan restoran dindingnya bergerak-gerak, makin lama guncangan itu makin kuat….

“Gempa..gempaaaa …ada gempa !!!!” teriak orang-orang yang ada diruangan itu, aku masih belum tersadar, aku masih melihat sekeliling ruangan … mulai satu-satu tiang diruangan itu seperti amblas perlahan-lahan … seperti mau runtuh perlahan-lahan … aku tidak dapat menggambarkannya dengan kata-kata …

“Gempaaaa …!!!!” baru pada teriakan yang kedua aku tersadar, ini benar-benar ada gempa !!. Semua tamu berlarian keluar ruangan, sambil berlarian sempat aku lihat tiang-tiang bangunan itu mulai runtuh, sampai diluar hotel kembali kami harus berlari menjauh dari bangunan hotel karena kaca-kaca hotel pada pecah, seperti meledak … menghamburkan potongan-potongan kaca ke segala arah. Sambil merunduk kami terus berlari tambah kencang. Pada saat itu teringat dalam pikiranku didepan hotel ada taman agak luas, rupanya semua rekan-rekan bepikiran sama, kesana kami semua berlarian berhamburan dengan penuh kepanikan. Sampai ditaman kami berhenti berlari, sambil berdiri terasa gempa masih mengguncang-guncang tubuh kami. Didekat taman ternyata ada tiang antene besar terbuat dari besi, berpikiran tiang antene akan ambruk kami berlari lagi menjauh … gempa itu masih terus mengguncang tubuh kami, sampai didekat taman ada pohon asem besar seolah ada yang membisikan kepadaku “Pegangan pohon itu …” tanpa pikir panjang aku peluk pohon asem besar itu, pohon itu lebih besar dari pelukkan tanganku sehingga tanganku tidak dapat bertemu dengan tangan yang satunya. Melihat aku memeluk pohan asem itu teman-teman yang lain berlari ke pohon asem itu dan ikut-ikutan berpegangan dan berpelukan seperti ku.

Sehingga kami saling berpegangan erat melingkari pohon dan yang mendapat lingkaran diluar saling melapisi dengan badannnya sehingga pelukan itu makin kuat. Hal ini kami lakukan karena gempa itu demikian kuatnya dan masih terus mengguncang-guncang kami. Kurang lebih sepuluh menit guncangan hebat itu mereda … kami mulai meregangkan pelukan … dan mulai memandang ke sekeliling … ternyata hotel tempat ku menginap sudah runtuh dua lantai kebawah. Tak terbayang olehku apa jadi kalau kami masih ada diruangan restoran tadi. Belum lagi rasa ketakutan ku hilang, terdengar suara teriakan

“Air..Aiiir !!!” aku pikir ada korban gempa yang sangat membutuhkan air minum ternyata

…”Ada aiir !..Air datang, air datang !!!” Ooh, ternyata ini air banjir yang datang ! kulihat orang berlari-larian kesana kemari menyelamatkan diri dari kejaran air. Tanpa pikir panjang akupun ikut berlari, tapi ke mana aku harus berlari, sambil berlari sekuat-kuatnya tanpa sadar aku berucap berulang-ulang “Allohu Akbar…Allohu Akbar..Allohu Akbar” terus tak berhenti berlari entah harus kemana dengan rasa takut yang tak terkirakan, pikiran kalut, kacau, yang ada hanya menyelamatkan diri. Sambil berlari dan mengucap takbir seolah ada yang memberiku ilham, tiba-tiba terlintas dipikiran “Air itu mencari tanah yang lebih rendah …” ku arahkan lariku ke tanah daerah yang lebih tinggi, “ya tapi harus lari kemana ???” buntu pikiranku… sambil terus bertakbir, kembali seolah ada yang membisiki ku “lari ke arah kanan” aku ikuti bisikan itu aku lari berbelok ke kanan, ternyata yang kutemui adalah tanggul yang tingginya satu setengah meter, akupun mencoba untuk menaikinya tapi tak berhasil karena begitu lelah setelah terus berlari, kulihat dibelakangku … rupanya teman-temanku berlari mengikuti arah ku berlari sehingga kami berkumpul dibawah tanggul. Sambil bahu membahu, berpegangan tangan, yang berhasil naik keatas tanggul membantu mengangkat yang laiinya sampai semua berhasil naik tidak ada yang tertinggal. Aku melihat kearah belakang lagi, ternyata sudah mulai ada korban-korban yang tersapu oleh air yang mengerikan itu, tetapi air masih mengejar kami, “lari … lari … airnya mulai naik !!!” teriak ku.

Tanpa sengaja aku berlari paling depan dan semua teman-teman mengikuti di belakang. Ooh … harus kemana aku ber lari, napasku tersengal-sengal “Allohu Akbar…Allohu Akbar..Allohu Akbar” hanya dalam hati karena tak sanggup lagi aku mengucapkannya. Kepalaku mulai pening kehabisan napas, mungkin sebentar lagi aku akan pingsan dan akan tersapu oleh air bah, pikirku. “Allohu Akbar…Allohu Akbar..Allohu Akbar” (hanya dalam hati karena tak sanggup lagi aku mengucapkannya) … seolah ada bisikan lembut tapi tegas “lari ke arah trotoar jalan besar” kuikuti bisikan itu … tetapi air sudah mulai menerpa kaki-kaki kami. Tubuh kami mulai basah oleh cipratan air sampai akhirnya basah kuyup, setengah putus asa aku berlari karena akhirnya air bah itu akan menelan kami juga, ooh inilah ajal mungkin sudah tiba, pikirku, “Allohu Akbar…Allohu Akbar..Allohu Akbar” (hanya dalam hati karena tak sanggup lagi aku mengucapkannya).

“Lari terus kearah trotoar jalan besar” aah bisikan itu datang lagi, kuikuti lagi, sambil menoleh kebelakang, ternyata teman-teman masih mengikuti dibelakang mengikuti arah lariku, kulihat dibelakangku saluran-saluran air sudah meluap airnya, airnya mengalir deras membawa sampah, potongan-potongan kayu, mengerikan ! Dikejauhan semakin banyak orang yang mulai terjatuh tertelan air bah, arah lari mereka memang berlawanan dengan arah ku. Aku tidak berani menoleh lagi, sungguh pemandangan yang menakutkan, mengerikan. Dalam keadaan berlari, bingung arah mana yang harus kutempuh, sejenak kemudian terdengar lagi bisikan “lihat gorong-gorong, lari ke trotoar”
“ya aku lari ke arah trotoar itu … tapi apa maksudnya disuruh melihat gorong-gorong ??” pikirku sambil terus berlari.

Berlari …terus sambil berlari kulihat gorong-gorong yang ada sisi-sisi jalan dimana kuberlari, ya betul ! digorong-gorong itu tidak ada air yang menggenang … tidak ada air yang mengalir kearah gorong-gorong itu … ooh ini rupanya jawabannya, air bah itu pasti mencari saluran air dan yang ada hanya gorong-gorong itu, air tidak sampai mengalir kearah gorong-gorong itu berarti, arah lariku adalah benar mencapai daerah yang lebih tinggi ! Oooh Yaa Alloooh …Engkau Yang Maha Ghaib … Engkau Bisikan Suara GhaibMu untuk membimbingku berlari … tanpa terasa air mataku berlinang, doa kupanjatkan dalam hati “Yaaa Alloooh tuntunlah kami, lindungilah kami…” semangatku terpompa kembali untuk terus berlari … sampai kupastikan daerah itu tidak ada air yang menjangkaunya, perlahan-lahan aku berhenti berlari dan habis sudah napas ini, akhirnya aku berhenti dan duduk tersungkur dipinggir trotoar.

Dengan napas yang tinggal satu-satu dan kepalaku mulai pening, berat sekali rasanya kepalaku ini. Sementara aku duduk ditrotoar ternyata rekan-rekanku masih mengikuti arah lari dan ikut berhenti dan ikut duduk dan tersungkur ditrotoar tetapi rekan-rekan yang wanita tidak dapat duduk lagi langsung lunglai pingsan, kami biarkan saja karena kami sendiri juga dalam keadaan kepayahan, ketakutan , belum dapat bernapas dan berpikir dengan baik, setengah hilang kesadaran. Hampir setengah jam kami terduduk, ada yang mulai siuman dari pingsannya, ada yang mulai menagis tersedu-sedu, ada yang menyeringai menahan kakinya yang sakit, ada yang terdiam membisu, masih terbayang-bayang kejaran air bah itu, masih teringat orang-orang yang berjatuhan ditelan bah, runtuhnya hotel, Oooh Tuhan apa yang sedang terjadi ??

Perlahan-lahan kesadaran kami mulai timbul, “Pak kemana lagi kita akan berlari ???” tanya seorang rekan kepadaku, rupanya arah lariku dijadikannya tumpuan bagi rekan-rekanku. “Tidak tahu lagi saya harus kemana, kita berhenti dulu disini … “Jawabku sekenanya, sambil mengenang dan mengingat-ingat akan Bisikan Ghaib itu, hatiku menangis… bagaimana jadinya bila tidak ada yang menuntunku berlari, mungkin aku juga sudah tersapu oleh air bah itu… terasa betapa aku sangat membutuhkan dan berharap-harap Bisikan itu datang lagi. Setelah hening tidak terdengar lagi bisikan itu, tapi aku yakin sudah bahwa Bisikan Itu adalah petunjuk bagi keselamatan diriku dan rekan-rekanku. Aku bersyukur dalam hati masih dilindungi oleh Yang Maha Ghaib.

Kehingan kami tidak berlangsung lama, kurang lebih satu jam kami hanya berdiam diri, setelah tenaga terkuras habis, perasaan lapar mulai menyergap, karena kami memang belum sempat menyantap sarapan kami sewaktu terjadi gempa tadi. Rekan wanita mulai ada yang mengeluh “Perutku mulai terasa lapar …” aku dan rekan-rekan yang lain berdiam diri saja, tidak ada yang menanggapi walaupun kami tahu bahwa semua pasti belum sarapan tapi kemana harus mencari makan dalam keadaan kacau balau seperti ini. Masih untung kami bisa hidup, apa jadinya kalau tadi kami salah arah dalam berlari, bisa jadi terjebak dipusaran air bah yang masuk sampai ketengah kota.

Tetapi Alloh Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, kuedarkan pandangan ku kesekeliling, jalan itu sepi, lenggang, ada beberapa bangunan ruko masih tutup, tapi mataku terpaku disalah satu ruko tulis dipapannya “Rumah Makan Padang”, lho koq sudah ada rumah makan padang yang buka??? Rasa gembiraku bukan kepalang, kami bergegas ke rumah makan itu, setelah selidik punya selidik ternyata rumah makan itu sudah kosong ditinggalkan pemiliknya, tetapi makanannya lengkap dan kayaknya baru dimasak, masih hangat !!! Waduh gimana ini, mau makan bayarnya ke siapa ?? Makan tanpa bayar juga bisa, tapi itu mencuri namanya ! “Bagaimana kalau kita makan saja dulu” kemudian kita tinggalkan saja uang kita dilacinya ??” aku mengusulkan karena aku merasa dikantongku masih ada uang sisa perjalanan dinasku. Tanpa menunggu lama lagi rekan-rekanku langsung setuju. Kami makan dengan lahapnya, Yaa Alloh Yaa Rahman Yaa Rahim … ampuni kami…walaupun didalam bencana besar ini Kasih Sayang Mu masih memayungi jiwa-jiwa kami, masih juga kami diberi Nya makan.

Tak lama setelah selesai makan muncul serombongan ibu-ibu ada anak-anak juga melintas didepan rumah makan itu, mereka melongokkan kepala kepada kami “Pak kami mau beli makanan, tapi kami tidak punya uang, rumah kami hancur, kami lapar Pak ??” Tersentak kami semua mendengar nya, spontan rekan-rekan menjawab “Kami bukan pemilik rumah makan ini, tapi kalau mau makan silahkan ambil saja, makan saja, kami yang bayar” jawab kami seketika. Tanpa dikomando mereka menyendok makan itu dan memakannya dengan lahap, sebentar saja seluruh makanan sudah ludes, selesailah makan mereka. Dengan rasa gembira ibu-ibu dan anak-anak itu mengucapkan terima kasih berkali-kali, “Terus ibu-ibu ini mau kemana ?” tanya salah seorang rekanku, seketika kegembiraan ibu-ibu itu lansung sirna, “Kami akan mencari keluarga kami yang hilang tersapu air bah, entah mencarinya kemana …” mendung menggayut dimata ibu itu. Mereka pun berpamitan dan berjalan pelan-pelan menyusuri trotoar, entah hendak kemana.

Aku dan rekan-rekan menghela napas, sambil berdoa semoga keluarga mereka dalam keadaan selamat semua. Kami termenung kembali, sejenak kemudian mulai saling berbicara apa yang akan kami lakukan selanjutnya. Akhirnya diputuskan kami kembali ke arah hotel tempat menginap. Serasa sudah aman kami berjalan kembali kearah hotel, sepanjang jalan terlihat betapa ganasnya air bah itu menyapu kota Aceh ! tidak hanya bangunan-bangunan yang hancur, terlihat juga tumpukan tubuh manusia saling bertumpuk di gorong-gorong air, menyumbat saluran air, mengerikan sekali …

Sesampainya dilokasi hotel, terlihat bangunannya sudah runtuh, sangat >berbahaya bila didekati. Kami putuskan untuk berjalan kearah Airport, semoga disana masih ada rekan-rekan yang sudah selamat terlebih dahulu. Letak Airport ada didataran yang agak tinggi, sesampainya di Airport kami baru bisa bertemu dengan rekan-rekan lainnya yang ikut selamat dari hantaman air bah. Setelah itu kami sepakat menjadikan Airport sebagai Posko sementara dan selanjutnya harus bagaimana … aaah entahlah … aku badanku tidak kuat lagi, hatiku menangis bila mengingat mayat-mayat yang bergelimpangan, aku tertidur diluar gedung airport karena kemungkinan masih ada gempa susulan, aku pejamkan mataku … aku tidak dapat berfikir lagi… Yaa Alloh bukakan mata hati kami untuk dapat mendapat hikmah dari semua ini .

Seperti yang dituturkan oleh Pak Sanwani kepada Penulis.

Faisal, Faryanti” Faryanti.Faisal@AIG.com

Photo Highlight

Klik disini untuk melihat foto yang diambil oleh photographer profesional

Tsunami Dalam Sejarah

Selama bertahun-tahun ribuan orang tewas akibat tsunami …

Baca berita lebih lanjut, klik disini

Meletusnya Krakatau pernah menimbulkan tsunami yang sangat tinggi …

Baca berita lebih lanjut, klik disini …

Foto Tsunami Aceh

Tanggal 26 Desember 2004, Aceh (Naggroe Aceh Darussalam) dan sebagian Sumatera Utara telah terjadi gempa dengan 8,9 skala ritcher, jam 8 pagi, sekitar 30 - 60 menit kemudian terjadi tsunami dengan tinggi 3-5 meter. Pusat gempa disebelah barat pantai Sumatera. Gempa tertinggi dalam sejarah abad 20. Mengenai negara Thailand, Pantai barat Malaysia, Srilangka, Pesisir pantai India, Myamar, pesisir pantai Afrika. Memakan korban jiwa, harta benda yang cukup banyak. Korban paling terbanyak adalah Indonesia. Dan inilah foto-fotonya.

Banda Aceh, before and after

before and after tsunami aceh
Catatan :
Karena telah terjadi sesuatu dengan blog saya, tidak bisa menampilkan foto dari sumber AFP dan Reuters.

Tak Ada Alat, Gajah pun Jadi

Kreativitas kadang tercipta dari kondisi serba terbatas. Dari tumpukan puing dan jenazah yang mengepung Banda Aceh pasca bencana gempa bumi dan tsunami yang menghantam Ahad pekan lalu (26 Desember 2004) - sementara tenaga dan peralatan begitu minim - lahirlah sebuah jalan alternatif.

Baca lebih lanjut klik disini

Lihat foto, klik disini

Two elephants, Medang and Ida, clear the debris of houses damaged by the tsunami disaster to make a path for vehicles in Indonesia’s tsunami-hit city of Banda Aceh January 3, 2005. Eight days on, hungry and sick survivors of the Indian Ocean tsunami are waiting for food and medicine in growing desperation as a multinational aid operation tries to reach remote towns ravaged by the waves. REUTERS/Beawiharta

Lihat foto, klik disini

Servis Komputer

Alkisah ada seorang pelanggan datang dengan hati gelisah ke tempat servis, upgrade dan reparasi komputer.

Customer Service (CS) : Ya, ada yang bisa saya bantu?
Pelanggan (P) : Mmmm, setelah saya pertimbangkan, saya ingin menginstal CINTA-KASIH. Bisakah anda memandu saya menyelesaikan prosesnya?

CS : Ya, saya dapat membantu anda. Anda siap melakukannya?
P : Ya, saya tidak mengerti secara teknis, tetapi saya siap untuk menginstalnya sekarang. Apa yang harus saya lakukan dahulu?

CS : Langkah pertama adalah membuka HATI anda. Tahukah anda di mana HATI anda?
P : Ya, tapi ada banyak program yang sedang aktif. Apakah saya tetap bisa menginstalnya sementara program-program tersebut aktif?

CS : Program apa saja yang sedang aktif?
P : Sebentar, saya lihat dulu, Program yang sedang aktif adalah SAKITHATI.EXE, MINDER.EXE, DENDAM.EXE dan BENCI.COM.

CS : Tidak apa-apa. CINTA-KASIH akan menghapus SAKITHATI.EXE dari sistem operasi Anda. Program tersebut akan tetap ada dalam memori anda, tetapi tidak lama karena akan tertimpa program lain. CINTA-KASIH akan menimpa MINDER.EXE dengan modul yang disebut PERCAYADIRI.EXE. Tetapi anda harus mematikan BENCI.DAT dan DENDAM.EXE. Program tersebut akan menyebabkan CINTA-KASIH tidak terinstal secara sempurna. Dapatkah anda mematikannya?
P : Saya tidak tahu cara mematikannya. Dapatkah anda memandu saya?

CS : Dengan senang hati. Gunakan Start menu dan aktifkan MEMAAFKAN.EXE. Aktifkan program ini sesering mungkin sampai BENCI.DAT dan DENDAM.EXE terhapus.
P : OK, sudah. CINTA-KASIH mulai terinstal secara otomatis. Apakah ini wajar?

CS : Ya, anda akan menerima pesan bahwa CINTA-KASIH akan terus diinstal kembali dalam HATI anda. Apakah anda melihat pesan tersebut?
P : Ya. Apakah sudah selesai terinstal?

CS : Ya, tapi ingat bahwa anda hanya punya program dasarnya saja. Anda perlu mulai menghubungkan HATI yang lain agar untuk mengupgradenya.
P : Oops. Saya mendapat pesan error. Apa yang harus saya lakukan?

CS : Apa pesannya?
P : ERROR 412-PROGRAM NOT RUN ON INTERNAL COMPONENT. Apa artinya?

CS : Jangan kuatir, itu masalah biasa. Artinya, program CINTA-KASIH diset untuk aktif di HATI eksternal tetapi belum bisa aktif dalam HATI internal anda. Ini adalah salah satu kerumitan pemrograman, tetapi dalam istilah non-teknis ini berarti anda harus men-CINTA-KASIH-i anda sendiri sebelum men-CINTA-KASIH-i orang lain.
P : Lalu apa yang harus saya lakukan?

CS : Dapatkah anda klik pulldown direktori yang disebut PASRAH?
P : Ya, sudah.

CS : Bagus. Pilih file-file berikut dan salin ke direktori MYHEART:MEMAAFKAN-DIRI- SENDIRI.DOC, dan MENYADARI-KEKURANGAN.TXT. Sistem akan menimpa file-file konflik dan mulai memperbaiki program-program yang salah. Anda juga perlu mengosongkan Recycle Bin untuk memastikan program-program yang salah tidak muncul kembali.
P : Sudah. Hei! HATI saya terisi file-file baru. SENYUM.MPG aktif di monitor saya dan menandakan bahwa DAMAI.EXE dan KEPUASAN.DAT dikopi ke HATI. Apakah ini wajar?

CS : Kadang-kadang. Orang lain mungkin perlu waktu untuk mendownloadnya. Jadi CINTA-KASIH telah terinstal dan aktif. Anda harus bisa menanganinya dari sini. Ada satu lagi hal yang penting.
P : Apa?

CS : CINTA-KASIH adalah produk OPENSOURCE. Pastikan untuk memberikannya kepada orang lain yang anda temui. Mereka akan share ke orang lain dan seterusnya sampai anda akan menerimanya kembali.
P : Pasti. Terima kasih atas bantuannya.

(^_^;) mentang mentang udah jaman komputerisasi …………..

Zilwina Shofa”

Daerah Rawan Gempa Tektonik di Indonesia

Fauzi MSc, PhD
Pusat Gempa Nasional
Badan Meteorologi dan Geofisika

Ringkasan
Kerugian akibat gempa bumi tidak langsung disebabkan oleh gempa bumi, namun disebabkan oleh kerentanan bangunan sehingga terjadi runtuhan bangunan, kejatuhan peralatan dalam bangunan, kebakaran, tsunami dan tanah longsor. Faktor kerentanan bangunan sangat erat hubungannya untuk perhitungan bencana gempa bumi di masa yang akan datang. Faktor gempa bumi tak dapat dielakkan tapi harus dihadapi dengan merencanakan bangunan beserta lingkungannya yang tahan terhadap gempa bumi.
Prediksi gempa bumi sampai sekarang masih dalam taraf penelitian sehingga faktor mitigasi lebih penting untuk mencegah kerugian dan bencana yang lebih besar. Untuk itu diperlukan analisa resiko yang mencakup parameter gempa bumi, bangunan dan geologi setempat dimana bangunan atau perencanaan kota berada. Analisa ini memerlukan kerjasama antara masing-masing professional; Geofisikawan, Insinyur sipil dan Geology.

Pendahuluan
Lapisan kulit bumi dengan ketebalan 100 km mempunyai temperatur relatif jauh lebih rendah dibanding dengan lapisan dalamnya (mantel dan inti bumi) sehingga terjadi aliran konveksi dimana massa dengan temperatur tinggi mengalir ke daerah temperatur rendah atau sebaliknya. Teori aliran konveksi ini sudah lama berkembang untuk menerangkan pergeseran lempeng tektonik yang menjadi penyebab utama terjadinya gempa bumi tektonik. Disamping itu kita kenal juga gempa vulkanik, gempa runtuhan, gempa imbasan dan gempa buatan. Gempa vulkanik disebabkan oleh desakan magma ke permukaan, gempa runtuhan banyak terjadi di pegunungan yang runtuh, gempa imbasan biasanya terjadi di sekitar dam karena fluktuasi air dam, sedangkan gempa buatan adalah gempa yang dibuat oleh manusia seperti ledakan nuklir atau ledakan untuk mencari bahan mineral. Skala gempa tektonik jauh lebih besar dibandingkan dengan jenis gempa lainnya sehingga efeknya lebih banyak terhadap bangunan.

Indonesia merupakan daerah pertemuan 3 lempeng tektonik besar, yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan lempeng Pasific. Lempeng Indo-Australia bertabrakan dengan lempeng Eurasia di lepas pantai Sumatra, Jawa dan Nusatenggara, sedangkan dengan Pasific di utara Irian dan Maluku utara. Di sekitar lokasi pertemuan lempeng ini akumulasi energi tabrakan terkumpul sampai suatu titik dimana lapisan bumi tidak lagi sanggup menahan tumpukan energi sehingga lepas berupa gempa bumi. Pelepasan energi sesaat ini menimbulkan berbagai dampak terhadap bangunan karena percepatan gelombang seismik, tsunami, longsor, dan liquefaction. Besarnya dampak gempa bumi terhadap bangunan bergantung pada beberapa hal; diantaranya adalah skala gempa, jarak epicenter, mekanisme sumber, jenis lapisan tanah di lokasi bangunan dan kualitas bangunan.

Tulisan ini membahas beberapa aspek gempa bumi di Indonesia untuk menunjukkan daerah-daerah rawan gempa bumi berdasarkan aktifitas tektonik dan sejarah kegempaan yang pernah melanda Indonesia. Informasi ini bersifat regional karena belum menyentuh aspek lokal di sekitar bangunan yang mempengaruhi resiko bangunan terhadap getaran gempa bumi.

Daerah aktif gempa di Indonesia
Gempa bumi terjadi diawali dengan akumulasi stress di sekitar batas lempeng, sehingga aktifitas gempa banyak disini. Walaupun konsentrasi akumulasi stress akibat tabrakan lempeng berada di sekitar batas lempeng, akibatnya bisa sampai jauh sampai beberapa ratus kilometer dari batas lempeng karena ada pelimpahan stress di kerak bumi, sehingga ada daerah aktif gempa di luar daerah pertemuan lempeng. Kasus sesar Sumatra umpamanya adalah sesar yang dibentuk oleh pelimpahan stress tabrakan lempeng Indo-Australia dengan Eurasia dengan sudut tabrakan miring terhadap garis batas. Kemiringan ini menyebabkan timbulnya sesar Sumatra dimana konsentrasi akumulasi stress atau pusat-pusat gempa di daerah ini.

Beberapa sesar aktif yang terkenal di Indonesia adalah sesar Sumatra, sesar Cimandiri di Jawa barat, sesar Palu-Koro di Sulawesi, sesar naik Flores, sesar naik Wetar, dan sesar geser Sorong. Keaktifan masing-masing sesar ditandai dengan terjadinya gempa bumi. Gempa dangkal (kedalaman 0-50 km) yang terjadi pada periode 1900-1995 dengan skala Richter 5.5 atau lebih, membuktikan lokasi-lokasi daerah aktif gempa di Indonesia. Sebagian dari gempa tersebut menimbulkan bencana, bergatung pada beberapa hal;
· Skala atau magnitude gempa
· Durasi dan kekuatan getaran
· Jarak sumber gempa terhadap perkotaan
· Kedalaman sumber gempa
· Kualitas tanah dan bangunan
· Lokasi bangunan terhadap perbukitan dan pantai

Faktor kualitas tanah dan bangunan adalah faktor yang sangat menentukan untuk pengkajian resiko gempa bumi. Kualitas tanah di tempat bangunan berdiri dinyatakan dengan percepatan tanah maksimum (Peak Ground Acceleration) dari catatan exact accelerograph sewaktu gempa besar terjadi. Hal ini sangat jarang terjadi karena periode gempa besar sangat panjang (50-100 tahun) dan karena acceleropgraph.belum terpasang. Karena itu banyak cara empiris dilakukan untuk menemukan percepatan maksimum di perkotaan. Disamping itu lokasi bangunan terhadap pantai yang rentan terhadap ancaman tsunami dan lokasi bangunan terhadap perbukitan yang rentan terhadap longsoran perlu juga dimasukkan dalam pertimbangan asuransi.

Pemetaan gempa bumi
Pemetaan gempa bumi bisa dilakukan dengan 2 cara; pertama adalah dengan memetakan sumbernya atau hyposenter (pusat gempa) dengan skala dan kedalaman tertentu, kedua adalah dengan memetakan efeknya atau informasi makro gempa bumi. Magnitude gempa dengan magnitude 5 atau lebih dan kedalaman kecil dari 50km sering dipakai karena berpotensi untuk merusak bangunan. Informasi makro gempa bumi adalah peta dengan memakai skala Modified Mercalli Intensity (MMI), yaitu besarnya efek yang dirasakan oleh pengamat dimana dia berada tanpa memperhatikan sumbernya.

Aktifitas gempa yang pernah terjadi dari tahun 1900 sampai 1996 dengan skala magnitudo diatas 6.0 menunjukkan bahwa aktifitas gempa tersebut berada di sekitar tabrakan lempeng tektonik (interplate earthquake) dan di sekitar sesar (gambar 2). Ciri khas di daerah Indonesia, umumnya kekuatan gempa yang besar (M>7) berada di sekitar tabrakan lempeng, sedangkan gempa di dalam lempeng (intraplate earthquake) ukurannya relatif kecil. Namun akibatnya terhadap bangunan mungkin sama, karena gempa interplate berada di laut sedangkan gempa intraplate berada di darat yang relatif lebih dekat dengan perkotaan.

Bencana Bengkulu dan Sukabumi
Gempa Bengkulu pada 4 Juni 2000 dengan magnitude Mb 7.3 atau Mw 7.9 menimbulkan korban 100 orang lebih. Kerusakan terparah berturut-turut ada di Pulau Enggano, Pasar Ngalam, Sukaraja, Bengkulu Selatan dan di Kota Bengkulu. Laporan team survey dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) menggambarkan tingkat kerusakan dengan memakai skala Modified Mercally Intensity (MMI) bahwa tingkat kerusakan terparah terjadi di Pulau Enggano (gambar 3). Kedalaman gempa dari USGS, CMT-Harvard maupun BMG bervariasi dari 5km sampai kedalaman 62km. Fokal mekanisme juga bervariasi dari sesar naik dengan arah yang bervariasi atau sesar mendatar. Perbedaan ini pada dasarnya adalah perbedaan penggunaan data dan cara menganalisa data. Pada awanya prosessing dilakukan dengan cara otomatis dengan memakai data real time, kemudian dilanjutkan dengan proses yang dilakukan operator dengan menambahkan data sesuai dengan kriteria yang diinginkan.

Hari Rabu pagi tanggal 12 Juli, 2000 pada saat kantor baru saja mulai, gempa dengan kekuatan sedang mengejutkan penduduk di Jakarta, Bandung, Sukabumi dan Bogor. Pusat gempa dilaporkan dekat dengan Sukabumi. Gempa bumi melanda daerah Sukabumi untuk kesekian kalinya; tahun 1982 (M=5.5), 1973 (M=4.9), 1969 (M5.4). Intensitas maksimum yang dirasakan di Jakarta adalah MMI III, yang berarti beberapa orang merasakannya, khususnya di bangunan bertingkat.

Monitoring gempa susulan
Gempa susulan (aftershock) merupakan proses stabilisasi medan stress ke keseimbangan yang baru setelah pelepasan energi atau stress drop yang besar pada gempa utama. Setiap gempa tektonik dangkal (kira-kira < 100 km) selalu diikuti oleh dislokasi atau patahan. Dislokasi ini mengganggu keseimbangan medium sekelilingnya, sehingga dengan sendirinya muncul gempa lainnya yang merupakan proses keseimbangan baru. Proses ini bisa berlangsung beberapa jam sampai berminggu-minggu, tergantung pada besar gempa utama dan sifat batuan. Frekuensi dan magnitude gempa susulan ini umumnya menurun secara exponensial terhadap waktu. Extrapolasi kurva frekuensi dan magnitude terhadap waktu bisa menjadi patokan perkiraan besarnya gempa susulan, sehingga bahaya dari gempa susulan ini menjadi sangat serius apabila gempa utama telah merusak struktur bangunan. Struktur bangunan yang sudah dirusak oleh gempa bisa dianggap seperti susunan dinding, batu dan pilar yang tak mempunyai daya ikat lagi satu sama lain. Sehingga gempa susulan dengan MMI IV saja sudah cukup untuk merubuhkan bangunan.

Untuk itu peranan peneliti gempa susulan baik dari BMG atau lainnya sangat diperlukan untuk melihat tingkat penurunan aktifitas gempa. Gempa susulan Bengkulu yang dilaporkan team survey BMG menunjukkan penurunan aktifitas secara exponensial. Pada hari ke empat terdapat gempa susulan dengan skala Mw 6.5 yang mengakibatkan kenaikan aktifitas kedua setelah gempa utama.

Monitoring Gempa bumi
Kenyataan bahwa berita bencana sangat cepat menyebar di media massa, sehingga pemerintah atau lembaga lainnya sangat cepat bereaksi untuk memberikan bantuan untuk penduduk yang sedang dilanda bencana. Jika kita bisa meramalkan gempa bumi, maka bencana tentunya tidak akan terjadi dan tidak perlu mengeluarkan dana. Namun teknik untuk meramal gempa bumi sampai sekarang belum ada yang bisa dipertahankan secara ilmiah, sehingga kita perlu mempersiapkan diri, lingkungan dan bangunan yang tahan terhadap gempa bumi. Untuk itu diperlukan peta aktifitas gempa bumi yang menunjukkan bahwa aktifitas seismik (gempa) di Indonesia umumnya tinggi hampir di semua pulau. Setiap pulau mempunyai tingkat aktifitasnya masing-masing yang perlu di monitor dengan merapatkan jaringan seismograp sehingga informasi aktifitas gempa bumi bisa lebih teliti.
Bencana gempa bumi, tsunami atau letusan gunung berapi adalah suatu bukti dari ketidakmampuan kerak bumi menampung akumulasi deformasi yang berasal dari proses berkesinambungan dari pergerakan tektonik lempeng atau pergerakan magma kepermukaan. Sehingga deformasi sesaat berupa gempa bumi atau letusan gunung api tak terhindarkan. Bencana gunung berapi umumnya dapat ditanggulangi secara dini, karena gejala letusan bisa diamati, mulai dari arah letusan, arah aliran magma sampai pada luas daerah yang akan mengalami bencana dapat diperkirakan. Gunung Rabaul (Papua Nugini) contohnya meletus bulan September 1994. Persiapan evakuasi telah dilaksanakan secara bertahap 10 tahun sebelumnya, sehingga nyawa dan harta dapat diselamatkan. Hal ini menyangkut efektifitas informasi yang disampaikan pada masarakat. Di pihak lain juga menyangkut keberhasilan monitoring dan penelitian tentang tabiat pergerakan magma dan peramalannya.

Dua pihak antara masarakat dan peneliti berkomunikasi dengan baik sehingga calon korban dapat dan mau diselamatkan. Karena itu interaksi antara masarakat dan peneliti gempa bumi perlu ditingkatkan seperti halnya bencana gunung api. Korban gempabumi disebabkan oleh runtuhan bangunan yang digoyang gempa, sedangkan korban letusan gunungapi disebabkan oleh aliran lahar, magma, debu panas, atau kebakaran, dimana manusia tidak dapat bertahan ditempat kejadian dan harus mengungsi puluhan kilometer. Calon korban gempa bumi tidak perlu mengungsi asalkan bangunan dan lingkungan mereka tahan terhadap gempa bumi, karena itu sangat perlu kita sadari bersama bahwa jatuhnya korban karena runtuhan bangunan atau kejatuhan peralatan rumah tangga.

Resiko terhadap gempa bumi jelas ada, namun gejalanya tak sejelas bencana gunung berapi, karena itu pengertian dan pengetahuan masyarakat lebih ditekankan agar tidak membangun bencananya sendiri di tempat kediaman. Pegertian ini dapat ditingkatkan dengan penerangan dan penjelasan tentang kenyataan hidup di lokasi aktif gempa. Makin besar kesiagaan masarakat atas bencana yang mengancam, maka makin kecil resiko yang dihadapi. Sarana yang paling efektif menurut penulis adalah pendidikan formal melalui program monitoring di sekolah atau program monitoring di daerah sekitar aktif gempa dimana pemerintah daerah langsung ikut terlibat didalamnya.

Penanggulangan
Bencana alam terfokus pada korban manusia beserta miliknya. Peristiwa alam yang extreem (tsunami setinggi 20 m misalnya) tidak masuk dalam kategori bencana alam apabila tidak menelan korban. Karena itu bencana alam bergantung pada dua faktor yang harus ada; peristiwa alam dan penduduk.

Identifikasi daerah tsunami berdasarkan sejarah sudah bisa dikenali sebagai daerah bahaya tsunami yang harus diwaspadai. Apalagi untuk masa sekarang, faktor jumlah penduduk jauh lebih banyak, sehingga bencana alam bisa lebih besar dibanding 100 tahun yang lalu di tempat yang sama. Jumlah korban akibat tsunami sangat bergantung pada tinggi gelombang yang sampai di pantai. Disamping sejarah, perkiraan tinggi gelombang bisa dihitung melalui model sumber gempa, bentuk pantai dan bentuk permukaan dasar laut (batimetri). Sehingga pembangunan pelabuhan, perumahan di sekitar pantai dapat mempertimbangkan efek tsunami yang mengancam.

Selain tsunami, korban banyak juga terjadi karena runtuhan bangunan yang tak tahan terhadap percepatan gelombang gempa yang tinggi. Maksimum percepatan gelombang gempa terjadi pada saat gempa terbesar yang pernah terjadi di suatu daerah. Ini menjadi catatan yang sangat penting bagi perancang bangunan agar bisa merancang bangunan yang tahan terhadap percepatan maksimum tersebut. Namun tidak banyak data percepatan maksimum yang pernah dicatat, sehingga dilakukan secara empirik dimana magnitude atau intensitas gempa dikonversikan ke percepatan dengan beberapa asumsi.

Peranan peneliti untuk mengetahui bencana gempa bumi sangat diperlukan agar calon korban gempa bumi bisa dihindari dengan berbagai cara, namun yang paling penting menurut kami adalah ‘melek’ gempa untuk kesadaran kita hidup di daerah aktif gempa. Sangat analogi dengan sabuk pengaman di mobil, jika tidak dipakai tidak akan berguna sampai suatu kecelakaan yang fatal.

Prediksi Gempa bumi
Prediksi gempa bumi meliputi parameter lokasi, waktu dan skala gempa bumi tersebut. Ketiga paremeter tersebut harus ada, sehigga penanggulangan bencana bias dilakukan dengan tepat dan proporsional. Sayangnya sampai saat ini prediksi gempa yang tepat dan teliti belum bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah, karena tanda-tandanya (precursor) tidak pasti. Gejala yang banyak diamati berdasarkan pada sifat-sifat batuan yang mengalami stress akibat tekanan yang ditimbulkan dari pergerakan lempeng tektonik. Gejala tersebut terlihat pada perubahan posisi satu titik relatif terhadap titik lainnya yang diamati dengan menggunakan Global Positioning System (GPS). Perubahan posisi tersebut bisa terlihat nyata setiap tahunnya, namun belum bisa dipakai untuk prediksi gempa. Gejala lainnya adalah perubahan muka air tanah, electro magnetis, seismisitas, kecepatan gelombang dsb. Semuanya tetap belum bisa dipakai sebagai tanda yang jelas untuk predisksi gempa bumi.

Karena prediksi gempa bumi belum sempurna, maka lebih tepat digunakan forcasting yang mencakup luasan daerah, kisaran waktu maupun kisaran skala sebagai penanggulangan bencana ataupun analisa resiko gempa bumi. Berdasarkan sejarah kekuatan sumber gempa, aktifitas gempa bumi di Indonesia bisa dibagi dalam 6 daerah aktifitas;
1. Daerah sangat aktif. Magnitude lebih dari 8 mungkin terjadi di daerah ini. Yaitu di Halmahera, pantai utara Irian.
2. Daerah aktif. Magnitude 8 mungkin terjadi dan magnitude 7 sering terjadi. Yaitu di lepas pantai barat Sumatra, pantai selatan Jawa, Nusa Tenggara, Banda.
3. Daerah lipatan dan retakan. Magnitude kurang dari 7 mungkin terjadi. Yaitu di pantai barat Sumatra, kepulauan Suna, Sulawesi tengah.
4. Daerah lipatan dengan atau tanpa retakan. Magnitude kurang dari tujuh bisa terjadi. Yaitu di Sumatra, Jawa bagian utara, Kalimatan bagian timur.
5. Daerah gempa kecil. Magnitude kurang dari 5 jarang terjadi. Yaitu di daerah pantai timur Sumatra, Kalimantan tengah.
6. Daerah stabil, tak ada catatan sejarah gempa. Yaitu daerah pantai selatan Irian, Kalimantan bagian barat.

Pembagian daerah aktif gempa bisa juga ditinjau dari data makro atau intensitas gempa yang pernah dirasakan. Peta intensitas gempa Bengkulu pada tanggal 4 Juni 2000 adalah satu kasus data makro yang langsung bisa dikaitkan dengan bangunan. Beberapa kasus gempa merusak merupakan data makro yang menghasilkan peta intensitas regional seperti yang pernah dilakukan oleh J.Murjaya dan G.Ibrahim pada tahun 1998.

Pada peta ini, daerah yang terkena dampak gempa bumi dibagi menjadi 4 daerah;
1. Daerah dengan intensitas MMI IX atau lebih.
2. Daerah dengan intensitas MMI VII-VIII.
3. Daerah dengan intensitas MMI V-VI.
4. Daerah dengan intensitas MMI < V

Pembagian ini masih bersifat regional, dengan perkataan lain bahwa untuk analisa resiko gempa pada suatu bangunan yang terletak pada suatu tempat di satu kota, memerlukan analisa mikro yang memasukkan beberapa unsur seperti lapisan tanah tempat bangunan, ketebalan lapisan, respon tanah dan bangunan terhadap getaran dsb.

Periodisitas gempa bumi
Periode ulang gempa bumi maksudnya adalah bahwa gempa bumi dengan skala tertentu (misalnya M=8) akan terulang kembali di daerah yang sama pada kurun waktu tertentu. Perhitungan periode ulang ini memerlukan data paling tidak satu periode, lebih panjang lebih baik. Namun catatan gempa bumi dengan peralatan, baru dimulai pada awal abad 20. Karena itu untuk memperanjang periode pengamatan, dibantu dengan catatan intensitas gempa yang sudah dimulai sejak awal abad masehi. Selain itu penelitian paleoseismic juga bisa membantu memperpanjang periode pengamatan.

Gempa yang sama kekuatannya dengan gempa pada 4 Juni 2000 di Bengkulu pernah terjadi dua kali pada 1833, 1914. Sehingga banyak yang setuju dengan teori peramalan (forcasting) gempa dengan metode perioda ulang berkisar 80 tahun. Disamping itu terdapat juga gempa yang ukurannya lebih kecil dengan periode ulang lebih pendek.

Perhitungan matematis periode ulang gempa bumi di Sumatra oleh peneliti BMG (Rasyidi Sulaiman dan Robert Pasaribu, 2000) menunjukkan bahwa periode ulang di Sumatra Selatan berkisar antara 8-34 tahun dengan nilai tengah 21 tahun. Gempa pada tahun 1979 di Bengkulu yang cukup besar dengan M = 5.8, MMI = VIII, sedangkan gempa berikutnya adalah Juni 2000 (1979 + 21tahun).

Peranan Badan Meteorologi dan Geofisika
BMG sebagai lembaga pemerintah yang bertugas untuk memonitor aktifitas gempa bumi di Indonesia sejak zaman kolonial Belanda. BMG mulai mengoperasikan stasiun pemantau gempa bumi permanen pada tahun 1908, yakni dengan memasang seismograph Wichert komponen horisontal di Jakarta. Sedangkan komponen vertikal sesimograph tersebut dipasang pada tahun 1928 pada tempat yang sama.

Pada pertengahan dekade 1970, dengan disponsori oleh UNESCO, BMG mulai mengembangkan jaringan pemantau gempabumi dengan mengoperasikan 28 stasiun seismograph. Tiap-tiap stasiun dilengkapi dengan seismograph 1 komponen vertikal periode pendek, dan sinyal seismik direkam pada kertas seismogram. Mulai tahun 1990 sampai dengan saat ini, pada 10 stasiun seismograph dari 28 stasiun telah ditingkatkan menjadi 3 komponen periode pendek.

Sebagai organisasi yang bertugas diantaraanya melakukan pengamatan gempabumi, BMG mempunyai 5 Balai Wilayah, yakni BMG Wilayah I di Medan, BMG Wilayah II di Ciputat, BMG Wilayah III di Denpasar, BMG Wilayah IV di Ujung Pandang dan BMG Wilayah V di Jayapura. Untuk pengolahan data gempabumi di Balai Wilayah, data gempabumi dari stasiun seismograph dikirim ke Balai Wilayah setiap 3 jam melalui SSB, telex, atau sarana telekomunikasi lain, bersama-sama dengan data meteorologi. Sekarang ini fasilitas komunikasi sudah dilengkapi dengan sarana VSAT untuk komunikasi stasiun dengan Balai wilayah dan dengan Pusat.

Saat ini BMG mengoperasikan jaringan pemantau gempabumi telemetri, yang terdiri dari 32 sensor. Sesuai dengan struktur organisasi BMG yang terdiri dari 5 Wilayah, jaringan tersebut dibagi menjadi 5 Jaringan Regional yang berpusat di Medan, Ciputat (Jakarta), Denpassar, Makassar dan Jayapura.

Info dari — sugi_im2

Masjid Yang Kokoh Berdiri di Aceh

Untuk sekian kalinya musibah melanda Indonesia dan untuk sekian kalinya pula masjid yang berada dilokasi bencana masih tegak berdiri ditengah puing-puing rumah. Alloh menunjukkan kuasaNya dan menentukan apa, siapa yang masih Ia inginkan ‘tuk berdiri, hidup mati di alam ini.

Meulaboh, tidak jauh dari bibir pantai, tegak berdiri ditengah-tengah bekas rumah-rumah penduduk yang telah rata dengan tanah dan sudah tidak kelihatan bentuknya. Meulaboh, daerah yang paling terparah dan paling terdekat dengan pusat gempa. Dari 700.000 penduduknya yang hanya tersisa 250.000-an orang yang hidup. Hebat, masjid tersebut menjadi saksi bisu betapa dahsyat gempa berkekuatan 8,9 richter.

Banda Aceh, Masjid Agung Baiturahman pun tidak tersentuh oleh dahsyatnya kekuatan alam walaupun halamannya penuh dengan puing-puing bangunan dan mayat. Menaranya hanya rusaknya tidak terlalu berat, letaknya agak jauh dengan masjid.

Kalau dilihat oleh kacamata awan, mungkin banyak sebab kenapa masjid tetap berdiri bila ada bencana alam. Masjid yang masih tegak berdiri, bisa jadi dibangun dengan kualitas yang sangat bagus walaupun usianya telah tua. Bahan yang dipakai sesuai dengan aturan yang berlaku, tidak ditambahkan, tidak dikurangi alias tidak dikorupsi, dimarkup. Saya juga bertanya kepada orang yang ilmu agama (menurut saya) lebih tinggi, “kenapa masjid jarang sekali ikut hancur bila ada bencana alam ?”, kata beliau, masjid dibangun oleh orang-orang yang ikhlas, juga masjid yang telah berusia tua, zaman dulu kalau kita membangun suatu bangunan dibuat sangat kokoh, tidak ada manupulasi, sesuai dengan takaran dan diambil dari bahan-bahan yang berkualitas.

Mudah-mudahan, waktu terjadi saat alam yang luar biasa mengamuk dan berlindung dimasjid walaupun usia bangunan itu sangat muda, insya Alloh masjid itu terlindungi beserta seluruh isi didalamnya. Amiin.

Sekali lagi, Alloh melindungi apa yang ingin dilindungi. Semoga bisa kita ambil hikmah yang diperlihatkan olehNya. Saya kagum luar biasa. Terima kasih Alloh.

Catatan : Maaf foto tidak dapat ditampilkan karena ada kerusakan pada blog sehingga yang berhubungan dengan foto tidak bisa diambil kembali. Jika ingin melihat foto yang berhubungan dengan Tsunami Aceh bisa dicari papa Google atau mama Yahoo

Tidak Pake Mata Sapi

Pagi hari keponakan saya, Riza namanya, ditanya sama neneknya :
Nenek : Riza, nanti sekolah mau makan apa ?
Riza : Makan telur
Nenek : Telur mata sapi aja yach …
Riza : Makan telur
Nenek : Iya, telur mata sapi aja …
Riza : Iya nenek …. tapi ga pake mata sapi. Nenek ini gimana sich …

Nenekpun ketawa terpingkal-pingkal

Atas Nama Alloh

Beberapa hari yang lalu sekitar jam 4an sore, petir/geledek terdengar dari jauh. Walaupun masih jauh, suaranya sudah menyeramkan. Saat itu, keponakan saya belum mandi. Agak susah menyuruhnya mandi. Biasanya saya tidak peduli, apakah dia sudah mandi atau belum. ‘kan saya tidak tidur sekamar … Tapi entahlah kenapa saya tiba-tiba menyuruhnya mandi. “Ja, mandi gih, sebentar lagi Alloh datang …”. Dengan segera Riza mengajak mamanya mandi tapi mamanya bilang “Ntar aja …”.

Agak lama, petir masih saling bersahutan. Saya ulangi lagi “Ja, mandi gih, kalau Alloh datang … Riza masih bau .. marah lho …”.
“Kata mama entar aja”
“Iya … kalau Alloh datang, Riza sudah wangi … kan Alloh senang donk”
“Ma … mandi yuk …”
Dengan malas, mamanya bangun dari tempat duduk
“Ayo mandi …”

Setelah selesai mandi, dia duduk disofa, badannya masih berselempang handuk.
“Ja, pake baju gi dech …, denger tuh Alloh tambah deket”
“Ma … cepetan …”
Ibunya datang dengan membawa baju, celana panjang, celana dalam, bedak dan sisir. Setelah selesai semua tiba-tiba petir datang lagi dan dia berdoa “Ya Alloh, belhenti petilnya, ija takut”
Ha … ha …. geli saya
Dan datanglah hujan.
“Nah, Riza, Alloh sudah datang, hujan, Alloh senang Riza sudah rapi dan wangi”

Riza, nama keponakanku, kurang lebih umur 2-3 tahun, takut sekali dengan namanya “Alloh”. Dia terlalu lincah, banyak gerak dan terlalu banyak bicara alias cerewet. Saya tidak tahu mulai dari siapa yang mempergunakan atas nama “Alloh” supaya dia bisa diam. Seingat saya, kalau Adzan Magrib datang, dia akan duduk manis, mendengar dengan hikmat. Lama-kelamaan dia ketakutan. Ngumpet dibalik punggung salah satu anggota keluarga. Pas dia nakal, ada Adzan Magrib di TV, kami bilang “Alloh mau ngomong … Alloh datang, Riza diam …”. Suatu ketika, dia meletakkan jari telunjuknya dimulut agar semua diam. Dia bilang “Alloh mau ngomong …”

Sekarangnya umurnya 4 ½ tahun. Senjata andalan kita sekarang adalah petir. Alloh sudah pindah objek.

Kami pindah ruangan.. ke dapur, petir datang lagi … aku kaget … Riza bilang “Uwo takut yach … Alloh kan sayang sama Uwo … Alloh sayang banget sama Uwo”
“Iya, Alloh sayang banget sama Uwo”, kataku. Memang, Alloh terlalu sayang … Senyumku getir

Keesokan harinya, petir, hujan, mendung sudah selesai sebelum sore, Alloh sudah pergi. Saya tidak bisa “mengancamnya” untuk segera mandi. Nenek, kakek dan mamanya tidak bisa menyuruhnya mandi.
“Ija ga mau mandi …”
“Ija ga mau mandi …”

Yaaaa .. Alloh datangnya kecepatan sich …
Rizanya ga mandi dech sampai dia bobo.

Uwo : bibi

Kadaluwarsa ELPIJI

PERTAMINA Aviation
PT PERTAMINA (PERSERO)
Head Office 12th Floor
Jl. Medan Merdeka Timur 1A Jakarta 10110
Phone : 021 3815547
Fax : 021 3848934

PERTAMINA selaku produsen LPG dengan brand ELPIJI mengemas produknya dalam tabung yang memenuhi aspek safety yang sangat ketat dengan mengacu pada standar-standar tertentu.

Untuk masalah kadaluarsa, tabung ELPIJI memiliki umur pakai minimal 20 tahun. Setiap 5 tahun sekali tabung tersebut dilakukan uji ulang retest tabung) dan repaint (cat ulang) dan setiap 2 tahun sekali dilakukan repaint (cat ulang). Sehingga setelah umur 20 tahun, meskipun masih memenuhi syarat safety pada saat retest, tabung tersebut tetap saja dihancurkan. Tanggal kadaluarsa tabung dapat dilihat pada gambar 119 1934 yang berada sisi tabung. Tanda 10 - 07 berarti tabung akan dilakukan retest pada Oktober 2007. Untuk lebih lengkapnya, pada tabung ELPIJI diberikan tanda dengan keterangan sebagai berikut :

Ket. Utk gambar 119_1933:
Di bagian belakang hand guard, ada beberapa istilah:
WC 26.2 L – water content, artinya kalo diisi air, bakalan sebanyak 26.2 L
TW 15.2 kg – tare weight, berat tabung kosong

“Tanda lingkaran dan 07-2001 – lulus uji oleh Depnaker pada bulan Juli 2001 dan kan dilakukan retest pada Juli 2006″

TP 31 kg/cm2: total pressure isi tabung, 31 kg/cm2
PR 11 kg: kalo diisi propane saja, muatnya 11 kg
BU 13 kg: kalo diisi butane saja, muatnya 13 kg
NB: Elpiji adalah campuran propane dan butane (PR & BU)

Apabila anda selaku konsumen mendapati tabung yang telah melewati masa
retest (tanda pada sisi tabung Gb. 119 1934) maka jangan diterima, dan pada banyak konsumen mengeluhkan menerima tabung yang banyak berkarat dan kondisinya sangat kotor terlihat parah, maka apabila belum melewati masa retest tabung tersebut TETAP AMAN DIGUNAKAN. Namun, KONSUMEN TETAP MEMILIKI HAK UNTUK MENOLAK apabila merasa tidak yakin. Apabila telah terlanjur, tukarkanlah di AGEN RESMI LPG terdekat.

Saat ini Pertamina selaku pemegang brand ELPIJI terus berusaha mengadakan pembenahan pelayanan meskipun harga jual ke konsumen belum
mencapai keekonomian (merugi).

Semoga bermanfaat.

Muhammad Yasir A
Marketing and Trading Directorate
Business Development
Domestic Gas - PT. PERTAMINA (Persero)

12th floor PERTAMINA Head Office
ph. (021) 3815522 fax (021) 3846943