Entries from January 2007 ↓
January 31st, 2007 — Promosi
Rekan-rekan.
MUNAS AWARI yang diadakan di Bandung tanggal 10-11 Februari nanti bukan hanya sekedar ajang silaturahmi antar warnetters, tetapi jg bisa menjadi ajang saling membuka bisnis dan kerjasama.
Di Lokasi MUNAS akan diadakan pameran / bazaar yang diisi oleh sponsor dan pihak vendor. Panitia menyediakan sekitar (+/-) 20 stand + 1 WARNET AWARI.
Pameran akan berlangsung selama Munas, yaitu selama 2 (dua) hari.
WARNET AWARI adalah Simulasi Warnet LEGAL, didalamnya terdapat PC yang berplatform Propriatery dan Open-Source. Bagaimana nanti warnet yg menggunakan platform Windows ASLI tetap Legal dengan program aplikasi yang juga Legal akan bisa dilihat disana. Peserta juga akan melihat bagaimana kinerja Client, Billing dan Server PINUX, juga SOLITE dan beberapa Distro lainnya yang cocok untuk WARNET LEGAL.
Sedangkan Stand disediakan untuk pihak vendor dan sponsor. Saat ini panitia membuka kepada pihak vendor yang berminat untuk mengisi STAND.
Bagi vendor yang berminat untuk mengisi STAND pada saat penghelatan Munas AWARI 2007 di bandung, dapat menghubungi panitia (by Japri) mpiq.0511@gmail.com
Ingin melihat apa saja yang akan dibicarakan dalam seminar Munas AWARI 2007 bisa lihat di http://awari.or.id/artikel/berita%20munas-3.php
Atau download di
http://awari.or.id/Draft%20Materi%20&%20Acara.pdf
http://awari.or.id/Draft%20Penjelasan%20Demo%20&%20Seminar.pdf
Terima kasih
Salam
PANITIA
January 29th, 2007 — Story
Orang sering mengatakan Office di Microsoft itu adalah Windows. Kalau sudah begitu saya harus mengerti maksud mereka jika ada pertanyaan “Mbak, ketikan saya bisa dibuka di Windows kan ?”. Kalau lagi peduli saya ralat “Bisa dibuka di Officenya Microsoft”. Dengan menatap matanya, saya melihat keterkejutan atau kebingungan. Biasanya saya diamkan. Kecuali dia bertanya lebih lanjut dan biasanya akan diulang pertanyaan tadi. Saya tetap menjawab dengan kalimat yang sama. Jika ada penambahan kalimat dari saya adalah “Perhatikan filenya ada titik doc kan ?, Pasti bisa dibuka di Word Microsoft”Bagi saya Windows beda dengan Office, itu pasti … :D. Windows ya … Windows, Office ya … Office. Tapi ya … sudahlah …
Waktu menggunakan Windows, seringkali orang berkata “Mbak, saya mau ngetik di Windows!”
Ok, saya buka WordPad. Katanya bukan itu. Lha iyalah.. bukan itu … saya tahu kok, sengaja !!
Seharusnya bilangnya “Mbak, saya mau ngetik di Word!”
Saya sudah terbiasa mendengar kata yang salah penyampaiannya bahkan bisa membuat saya salah paham bahkan sakit hati menjurus mengelus dada.
Seringkali perkataan mereka membuat saya seperti tertuduh, sepertinya saya yang melakukan perbuatan yang salah atas dokumen mereka atau situs yang dibuka. Misalnya mereka mengganti font Times New Roman ke font yang lain. Berubahlah tata letaknya. Perlu diketahui antara font satu dengan font yang lain tinggi dan lebarnya tidak sama. Tinggi dan lebar Times New Roman dengan size 12 tidak sama dengan font Arial size 12. Saya tidak melakukan apapun di dokumen mereka, saya juga yang disalahkan.
Soal website yang mereka buka juga pun sepertinya saya yang dianggap telah melakukan sesuatu yang buruk terhadap situs padahal tidak. Misalnya tidak bisa diakses atau kesalahan mereka dalam pengetikan data sehingga ada pesan-pesan dalam bahasa Inggris yang seharusnya mereka tahu artinya karena ditulis dalam bahasa Inggris sederhana. Jangan apa-apa saya yang disalahkan karena (saya tekankan) BUKAN SAYA YANG PUNYA ITU SITUS atau YANG NGERUSAKIN TUH SITUS.
Seringkali pula yang datang ingin minta print, sayapun meminta disket tapi mereka menyodorkan kertas.Print atau mencetak di kertas berarti harus ada dulu datanya yang sudah diketik. Tidak diprint baru diketik. Seharusnya perkataan yang benar menurut saya adalah “Mbak, saya minta diketikan, ini konsepnya atau tulisannya” Tidak benar print dulu baru diketik.
Ada juga ingin print tapi tidak bilang diedit dulu. Pas dibuka filenya baru bicara mau diedit dulu. Kalau print ya print no edit. Apapun tampilan di dokumen tidak usah diedit, tidak usah ditambahkan atau dikurangi jadi tinggal print. Kalau diedit dulu, itu sudah lain cerita dan harus ada tambahan biaya. Kita pun jangan keberatan dikenakan biaya karena pengeditan itu sudah memakan waktu dan menggunakan keahlian orang lain.
Jika ada yang membuat pernyataan “Mbak, saya mau ngetik !” Pasti saya akan bertanya “Mau diketikan atau ketik sendiri ?” Saya ingin langsung kalimatnya, contohnya “Mbak, saya mau ngetik sendiri !”, atau “Mbak, saya mau minta diketikan!”.
Ada juga pernyataan : “Mbak, saya mau komputer!”
Karena ditempat saya ada 2 jasa untuk urusan komputer, pasti saya akan bertanya lagi “Mau internet atau ngetik sendiri ?”
Syukur kalau jawabannya “Mau internet” atau “Mau ngetik sendiri”
Ada juga diulang lagi pertanyaan pertama dan dengan pasti saya akan mengulang pertanyaan yang sama pula.
Sama seperti kalau bertanya asal usul daerah seseorang. Pasti akan saya tanya lagi dan tanya lagi. Contohnya : “Mbak, dari mana ?,” kata saya
“Dari, Jawa”
Pasti saya tanya kembali karena Jawa itu luas.
Jawanya mana ? Kalau dari Jawa Barat, yang sebelah mana dan seterusnya. Seharusnya, langsung saja menjawabnya “dari Geger Kalong, Bandung” pada pertanyaan pertama. Selesaikan ! Tidak usah berpanjang-panjang untuk bertanya.
Ada lagi penyampaiannya salah (menurut saya lho
) untuk pernyataan “Mbak, saya mau rental !” padahal tidak mau rental.
OK, saya hidupkan komputer. Saya duduk kembali ke tempat duduk saya.
“Tapi Mbak, saya maunya mbak yang ngetikin”
*gdubrak …*
Seharusnya bilangnya “Mbak, saya minta tolong diketikan donk”
Rental itu berarti ngetik sendiri.
Nah, lumayankan selama 4 tahun menghadapi semua itu.
January 26th, 2007 — Artikel
Dia anak muda yang masih belia. Umurnya 21 tahun. Namanya Wang Chungqing. Tapi, dialah yang menyelamatkan Kabupaten Qinglong dari bencana besar. Tak satu pun orang meninggal di daerahnya. Padahal, akibat gempa terbesar di dunia selama satu abad ke-20 yang terjadi pada 1976 lalu itu luar biasa. Di Kota Tangshan, tetangganya, jumlah orang yang meninggal mencapai 280.000 jiwa (melebihi korban tsunami Aceh).
Yang dilakukan Wang Chungqing kini tercatat dalam dokumen internasional yang semestinya bisa menjadi pelajaran bagi negara-negara yang berpotensi terkena gempa. Dokumen itu lengkap menyebutkan apa yang diprogramkan Wang dan bagaimana menerapkannya dalam action plan. Memang, tercatat satu orang meninggal di Kabupaten Qinglong saat itu, namun ternyata akibat serangan jantung.
Dua tahun sebelum gempa, Wang ditunjuk sebagai kepala kantor penanggulangan gempa di kabupatennya. Memang, tidak ada penjelasan mengapa pemerintah berani mengangkat pejabat semuda itu. Saya sedang berusaha bertemu anak itu yang sekarang tentu umurnya masih 50 tahun. Tentu saya tidak bisa mencarinya dalam waktu singkat karena kesibukan saya di Tianjin saat ini. Kalau saja saya masih wartawan seperti zaman muda dulu, pasti orang tersebut sudah saya temukan.
Pemuda Wang yang tercatat dalam dokumen itu sangat memperhatikan informasi dari ahli-ahli geologi. Memang, saat dia diangkat menjadi pimpinan satkorlak gempa kabupaten tersebut, sudah ada informasi dari pemerintah pusat bahwa dalam waktu dua tahun kemungkinan akan terjadi gempa besar di kawasan utara Tiongkok. Namun, kapan waktunya dan di daerah mana saja yang terkena, tidak ada yang tahu.
Padahal, kawasan utara Tiongkok sangat luas. Pokoknya, pemerintah pusat hanya menegaskan bahwa gempa tersebut akan terjadi di kawasan tujuh provinsi di utara (Tianjin, Beijing, Hebei, Shanxi, dan sekitarnya).
Yang membedakan pemuda Wang dari pimpinan satkorlak (eh, apa tepat ya menggunakan istilah ini?) di kabupaten lain adalah: Wang sangat memperhatikan informasi itu. Sedangkan kabupaten lain tidak. Dia berusaha di kabupatennya dipasangi detektor sederhana. Lalu, diterapkan juga cara-cara tradisional.
Misalnya, setiap hari mengecek kualitas air di sumur-sumur penduduk. Berubah warna dan rasa atau tidak. Mengecek air sungai. Meletakkan gelas-gelas berisi air di atas tanah. Setiap hari dicek, apakah ada air yang tumpah akibat getaran atau tidak.
Tiap hari prosedur itu dilakukan. Tentu bisa sangat membosankan karena gempa tidak juga datang setahun setelah persiapan tersebut. Namun, pemuda Wang tidak bosan. Dia terus mengadakan kontak dengan ahli geologi, melakukan rapat dengan kelompok-kelompok masyarakat, mengajari cara-cara menyelamatkan diri, dan mempersiapkan tim pertolongan.
Ketika informasi akan terjadinya gempa mendekati dua tahun, usaha Wang semakin intensif. Sebulan sebelum terjadi gempa, langkah-langkahnya semakin konkret. Dia meminta agar masyarakat tidak lagi menutup pintu dan jendela waktu malam agar kalau terjadi gempa bisa menyelamatkan diri dengan cepat. Dia meminta satu di antara anggota keluarga tidak tidur secara bergiliran.
Namun dia tetap tidak tahu akan terjadi gempa. Bahkan, dia memprogramkan, pada 28 Juli, Wang akan mengadakan simposium besar untuk menyadarkan masyarakat mengenai bahaya gempa. Tentu simposium tersebut tidak terjadi karena gempanya ternyata sudah datang pada 26 Juli, dua hari sebelum itu.
Tapi, banyak program yang sempat dilakukan. Misalnya, sejak 25 Juli sekolah harus mengajar muridnya di luar kelas. Penduduk sebanyak mungkin berada di luar rumah. Dokter yang bertanggung jawab mengepalai penyelamatan sudah ditunjuk. Dan seterusnya.
Maka, di kabupaten tersebut, meski guncangan gempa juga hebat dan rumah yang roboh mencapai 180.000 rumah, tidak satu pun orang meninggal.
Rasanya, kita juga pernah diberi informasi bahwa akan terjadi gempa besar di selatan Jawa. Ahli Australia yang mengemukakannya. Sikap kita umumnya menyepelekan informasi itu. Kalau saja ada pemuda Wang di Kabupaten Bantul atau Pacitan atau Klaten, barangkali akibat gempa Jogja akan berbeda. Barangkali. (*)
Sumber : indopos
http://indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=229392
January 26th, 2007 — Kesehatan
Menatap layar monitor terlalu lama akan membuat mata pedih, kering dan sebagainya. Untuk mengatasi hal tersebut, layar monitor diberi screen monitor untuk menghindari mata sakit. Pada zaman sekarang memang ada monitor yang ramah dengan mata tapi untuk menjaga kejadian yang tidak diinginkan, perlindungan masih diperlukan.
Kalau kita ke warnet atau tempat rentalan jarang sekali ada screen monitor padahal sangat diperlukan. Kita tidak mungkin membawa screen monitor kemanapun kita pergi bukan ?
Solusinya mempunyai kacamata komputer. Kaca mata komputer ini sama seperti kaca mata min atau plus atau kacamata untuk ngeceng. Bedanya sebagian kaca berwarna hijau, letaknya diatas. Sedangkan berwarna bening yang terletak di bawah untuk melihat tulisan agar jelas.
Kacamata ini bisa dibuat di optik dengan harga frame dari yang mahal sampai yang murah untuk berbagai macam merk. Atau bisa juga beli frame murahan lalu buat kacanya di optik.
Saya punya satu walaupun tidak keren-keren amat. Framenya dan kacanya plastik. Maklum saya itu suka selebor. Waktu itu harganya Rp. 50.000,- karena menghabiskan stok, kebetulan optik itu baru kena rampok dan tante saya kenal sama pemiliknya. Rampok ini masuk lewat gorong-gorong di Blok M. Dan semua isinya hampir bisa dikatakan terkuras habis. Berita perampokan ini pernah masuk TV dan koran sekitar tahun 1990-an … termasuk heboh saat itu.
Kalau tidak lupa, saya pasti membawa kacamata komputer jika ingin ke warnet atau rental komputer agar saya bisa bertahan agak lama. Kalau tidak ada screen monitor atau tidak memakai kacamata komputer, saya paling sanggup 5 menit didepan monitor dengan jenis apapun.
June 15, 2006
January 26th, 2007 — Artikel, Story
Malam kemarin, pukul 21.00 tiba-tiba terdengar suara gaduh diluar, antara kaca dan rolling door. 2 menit saya biarkan, lama-lama … saya berdiri dan melihat …
Wah … apa yang mereka lakukan ? Mereka seperti panik, berusaha masuk ke dalam ruangan, mondar-mandir ga tentu arah. Saya hitung… ada 10 ekor kecoa. Tumben, pada keluar semua. Biasanya tidak begini.
Saya berdiri 5 menit, berpikir cepat. Akhirnya, saya pegang meja … tidak bergetar. Saya lihat sekeliling ruangan. It’s OK. Saya melihat kembali gerombolan kecoa yang masih panik.
Kesimpulannya :
Saya menyelesaikan pekerjaan di komputer, matikan komputer, buka pintu ke arah rumah. Sambil menunggu komputer mati, saya bereskan meja, masukkan 2 handphone di kantong celana, ambil segepok kunci, kunci laci. Jalan kebelakang rumah, lihat ke luar …. hmmm, tidak ada kecoa. Kembali ke komputer.
Rupanya sudah mati komputernya, kemudian mati powersupply, cabut colokan, matikan lampu 1 kemudian lampu ke 2 dan tutup pintu kemudian menguncinya.
Sekarang, giliran ke luar rumah.
Waduh, sudah dikunci, saya ambil kunci. Saya keluar dan melihat rolling door. Kecoanya kemana ? udah ga ada. Saya lihat sekitar …. tidak ada apa-apa.
Pagi ini, pukul 6.00 WIB, baca koran online Suara Pembaharuan.com. dengan berita Aktivitas Seismik Meningkat, Masyarakat Diminta Siaga. Menurut D. Chandrasekharam, profesor senior di bagian ilmu bumi dari Institut Teknologi India di Mumbai, India mengatakan telah terjadi aktivitas seismik sepanjang wilayah Jawa, Sumatera, dan Andaman, Asia Tenggara sebulan terakhir ini. Masyarakat yang dilewati lempengan tersebut diminta waspada.
Keterangan profesor itu dikuatkan oleh BMG tapi tidak berani mengatakan akan terjadi bencana besar.
Saya pasrah … setelah mengasuransikan rumah untuk bencana alam. Tinggal banyak berdoa, menyusun strategi yang disimpan di kepala.
Sayangnya, rumah saya keamanannya berlapis, padahal rumah bukan jenis elit. Kalau gempa terjadi pasti sibuk nyari kunci, buka kunci, buka gembok
Waktu anak krakatau berulah, saya sekeluarga sudah menyiapkan ransel yang berisi pakaian seadanya, biskuit, minuman botol, ditaruh disamping tempat tidur. Kita tahu dimana surat-surat berharga ditaruh.
Setelah anak krakatau diam, tiga bulan kemudian kita sudah mengembalikan barang-barang yang diransel. Tapi tetap surat-surat berharga ditempat yang terjangkau untuk diraih.
Sekarang …. saya melakukan hal yang sama ? hmm … belum tahu. Sekarang hanya bisa berdoa. Hidup saya ditanganNya. Yang penting kita sudah berusaha.
January 26th, 2007 — OpenOffice
Keterkejutan saya yang kedua di OpenOffice setelah melihat icon PDF adalah bisa membuka file dengan type file yang berbeda.
Misalnya :
Kita dalam posisi di dokumen Writer (Word di OpenOffice) kemudian kita mau buka file Calc (Excel di OpenOffice), cukup klik icon Open di Writer kemudian cari deh file Calcnya and then terbukalah.
Begitu juga sebaliknya …
Jika kita mau ngetik file baru di Writer tapi masih dalam posisi di Calc, cukup klik File kemudian New, pilihlah kata Spreadsheet.
Bisa juga, klik icon New dengan cara menahan mouse kiri pilihlah Spreadsheet.
Untuk type file yang lain juga begitu.
January 25th, 2007 — OpenOffice
Waktu pertama kali buka Writer, Wordnya di Linux sekitar 2 tahun yang lalu, lihat icon PDF. Wah, keren ….
Kalau di Office Microsoft belum ada, tapi ga tahu ya.. kalau di Vista :D.
Kalau di OpenOffice 2.0, iconnya terletak di urutan ke 6. Kalau di OpenOffice 1.1.2 itu terletak di nomor 5.
Gampang kok nyarinya, ada tulisan PDF.
Membuat dokumen berbentuk PDF tinggal klik icon PDF kemudian ketik nama filenya lalu klik Save.
Semua software Office di OpenOffice ada icon PDF. Mulai dari Writer, Calc, Impress, Math, Draw dan lain-lain.
Gampang bukan 
January 25th, 2007 — Komputer
Sering sekali kalau user/pelanggan melihat saya melakukan proses mencetak caranya terlalu panjang.
Memang sih, prosedurnya agak panjang. Kita kalau mau cetak menggunakan Canon i255 di Fedora Core harus buka web browser dalam bentuk offline. Kemudian ketik http://localhost:631/
Kemudian, klik printer, modify printer, continue, pilih Canoni255, continue, pilih Canon, continue, pilih Canoni255 ver 2.3 (en), continue.
Setelah itu, pilih printers, configure printer, pilih ukuran kertas yang akan digunakan (sesuaikan dengan ukuran kertas di dokumen) contoh Letter, continue.
Ukuran kertas harus sama dengan yang didokumen dan harus sama juga di Format Setup serta File Print. Jika tidak hasil printnya akan berantakan.
Bagaimana ? Panjangkan ….
Kalau ada pertanyaan seperti yang diatas, saya cuma mesem-mesem saja.
Bagaimana saya harus memperkenalkan Linux kalau untuk mencetaknya saja “menurut” mereka ribet
Dan seperti biasa dan dengan yakin sekali, saya bilang “Kalau pake printer HP, ga kayak gini kok…”
*gdubrak ….. :-\
January 22nd, 2007 — Story
Sekitar seminggu yang lalu pergi ke daerah Ceger. Sudah waktunya sholat Ashar, saya cari musholla. Akhirnya ketemu atas pemberitahuan seseorang.
Mushollanya cukup besar, banyak kaca, lingkungannya tidak nyaman. Disekelilingnya banyak rumah, seperti untuk santri karena dilihat banyak sekali anak-anak muda berpeci, memakai sarung, jemuran melintang dimana-mana.
Saya datang ke sana, sholat Ashar berjamaahnya rupanya sudah selesai.
Ada lelaki tua, umurnya sekitar 60-an, keluar dari pintu musholla dan bertanyalah saya.
“Assalamu’alaikum Wr. Wb., Permisi, Pak, saya mau sholat, tempat berwudhu untuk wanita dimana ?”
Saya bertanya seperti itu karena tidak ada tanda-tanda berwudhu wanita yang tertutup, hanya tempat berwudhu dengan empat keran yang terlihat oleh umum.
“Disana, mbak, berwudhunya.” bapak itu menunjukkan tempat berwudhu yang terbuka dengan empat keran.
Dengan tergagap serta terkejut.
“Pak, saya perempuan … saya pake jilbab, dimana untuk perempuan ?” tanya saya kembali.
“Hmm, coba lewat pintu itu, dibaliknya ada kamar mandi…”
Saya berjalan ke arah yang ditunjuk. Dengan melewati tempat berwudhu laki-laki, saya buka pintu yang sudah rewot … wah gelap. Saya lihat ruangan tanpa pintu, gelap dan kering, tidak ada tanda-tanda air. Padahal saya melihat ada beberapa perempuan sholat di musholla tersebut. Kemana mereka berwudhu ?
Kembali lagi saya ke tempat Bapak tersebut berdiri dan dia masih memperhatikan saya.
“Maaf, Pak … disana pak ?”, tanya saya ragu-ragu.
“Iya, disana …”, kata Bapak itu dengan nada santai.
“Tidak ada tempat yang lain ?”, tanya saya kembali.
“Disana …”, sambil berkata dia menunjuk ulang tempat berwudhu super terbuka.
“Saya perempuan, Pak”, saya ulang lagi pernyataan saya.
“Buka saja, jilbabnya”, kata Bapak itu.
“Ooooo … “, kata saya bunder.
“Kalau begitu, saya permisi dan terima kasih”,
Dengan gusar, saya berjalan keluar pekarangan musholla. Dengan ujung mata, saya melihat pria dan wanita berdiri menatap kepergian saya.
January 22nd, 2007 — Story
Tante saya sepupu dari Bapak yang paling bungsu, trauma BANJIR. Tahun 2002, hampir semua wilayah kota Jakarta terkena banjir begitu juga Bendungan Hilir kediaman Tante. Tante punya usaha LPK Komputer. Alhamdulillah, CPU, Monitor, semua buku-buku, diktat dll tidak kena banjir karena sudah diletakkan dilemari paling atas. Sisanya dibawa kerumah Kakaknya yang tidak terlalu jauh dari tempat kerja. Di rumah kakaknya lantai dasar yang terkena itupun cuma sedikit.
Setiap lewat kali sungai Ciliwung pasti beliau kasih komentar “Airnya deras sekali”, “Tinggi sekali airnya”. Kalau mendung, hujan .. raut wajahnya cemas.
Kalau saya sendiri sama geledek, kilat. Pernah makan siomay di bawah mesjid Al Azhar, sore-sore, langit mendung, angin kencang, buru-buru makannya, bentar-bentar lihat langit. Ga peduli diliat orang. Kebetulan dikanan saya berdiri mantan Ketum Yisc Al Azhar (Ahmad Maksum) tau deh ngeliati ga ya … malu kan … kalau cara makannya kayak dikejar setan.
I don’t care … cari aman, udah bayar, langsung kabur ke sekre, duduk didepan TV …. aman deh .. ga lama kemudian hujan disertai geledek, kilat walaupun ga gede-gede banget. Ups .. lupa nonton dekat dengan TV .. kalau TVnya kena petir gimana ya .. langsung saya mundur agak jauh … ups lupa lagi … kan Jakarta masih lebih aman dari pada Pondok Petir. Mesjid Al Azhar itu ada penangkal petirnya ga ya ?
Mau pulang ke rumah telepon dulu .. dirumah ada hujan ? or udah selesai ga hujannya, udah ga ada geledek tidak ? Kalau udah aman .. baru pulang … tapi kalau di jalan masih hujan … terjang aja … berani mati … hmm gimana kalau hujannya ga selesai sampai besok pagi lagi … ? gimana tuh … bisa-bisa tidur dijalan.
Naik bis, mikirnya .. kalau kesamber petir gimana ya ? … ada kilat … kaget gw … mau berusaha lebih nyantai … diusahakan sih … tapi … kalau tidur dibis .. aul ga biasa tidur di BIANGLALA … keamanan tidak terjamin, kalau di bis MAYASARI BHAKTI jurusan BEKASI berani donk untuk tidur nyenyak … maklum ga ada halte di jalan tol dan makhluk pada jelas semua.
Jadi kalau di luar rumah, ada geledek, ada kilat kebanyakan takut, sebentar-bentar kaget, ga berani pake payung … aduh .. please deh … AULIAH … sampai kapan … GA TAU deh …
PARNO …PARNO …
February 02, 2006
January 22nd, 2007 — Story
Paling menyenangkan mencoba resep masakan. Banyak lucunya, kesel, gagal, berhasil, ribet, berantakan.
Yang paling ingat aja aul ceritain …
Paling ingat bikin donat untuk pertama kalinya. Wah cape bikin adonannya, berkeringat, tangan pegel. Maunya sih pake mixer yang adukannya untuk roti, tapi kayaknya ga tega deh sama adukannya … takut patah. Pake alat tradisional aja yaitu tangan, cape …cape deh. Sambil kerja mikir aja, “lama banget kalisnya”. Sebentar-bentar tanya ke ibu “udah belum…” Pasti jawabnya belum. Akhirnya sudah ga lengket “Alhamdulillah” … wah kayak olah raga aja .. udah turun berapa kilo … ha ha haha. Giliran membulatkannya juga tidak bagus-bagus banget. Waktu pake cetakan, pas dilepas dari cetakan masih lengket, bodo ahh yang penting udah jadi. 2 kali didiamkan… asyik donatnya gede. Senang deh, ibuku juga senang karena ibu ga pernah bikin segede gitu. Dari ukuran kecil bisa 2 kali lipat :P. Terus hasilnya empuk banget terus dapatnya banyak.
Nah, kebiasan jelek keluarga gw, kalau sekali berhasil minta terus dibuatin :D. Beberapa hari kemudian sewaktu pulang kerja, baru aja buka pintu pagar. Ibu langsung menyambut dan berkata “Auliah, bikin donat, udah ada kentang, sudah disediakan semua bahan, tinggal ditimbang, buatnya setelah makan, sholat ya …”. Wah … :=)) … lemes deh :)). Tapi gpp bisa ada sarapan pagi tambahan dari pada beli roti. Tapi yang jelas, Auliah ga mau buat donat terus-terusan cape nih … bisa turun berapa kilo :)). Tapi tetap aja sebulan kemudian disuruh buat lagi :=)).
Buat empek-empek. Suksesnya dikuahnya. Kalau di empek-empeknya … amis banget, padahal udah direndam berjam-jam pake jeruk nipis dan cuka sampai tuh ikan pucat. Menurut Mia, ikannya sudah tidak segar. Masalahnya ikan tenggiri itu memang susah didapat di Pasar Baru Bekasi dan Pasar Margahayu, terus kalau ada harganya mahal dan kurang bagus. Karena saya tanyain terus ikan Tenggiri/Belida akhirnya beliau terpaksa beli.
Kalau bikin Mie Bakso, sukses sih kalau ditambah mecin. Kalau ga pake mecin banyakin bumbunya (jamin enak ga ya ??!! … hmmm) dan baksonya harus yang segar/bagus kalau perlu bikin sendiri. Begitu juga mie ayam kalau mau enak tambahkan mecin dan yang penting mie yang bagus punya … saya lupa merk mie yang enak. Dijamin seperti yang dijual. … mabok .. mabok deh makan mecin melulu … sakit tau rasa loo.
Kalau Sate Padang, bumbunya ditakarin 2 kali lipat aja dari resep. Pedesen aja kalau diresep cabenya kurang atau tidak ada tambahan lada. Kalau pake lidah, harga sate mahal karena lidah itu juga mahal, tapi kalau campuran jeroan … untungnya juga gede karena hasilnya banyak.
Kalau bikin serabi, kalau diresepnya : diamkan selama 1 jam, jangan diikutkan .. diamkan aja 5 jam. Pernah saya ikutin, hasilnya tidak bagus. Kata ibu, kalau zaman dulu, bikin sore paginya baru dimasak. Saya coba lagi diamkan lama dan memang berhasil.
Kalau bikin bolu kukus, ini sempat diprotes sama ibu .. again. Kukusannya bisa muat 20 cetakan, tapi saya isinya cuma 5. Kata ibu “Gimana cepat selesai kalau isinya 5 biji dan sama juga ngabisin minyak tanah, kalau dijual rugi bandar” :)). Saya sih ngikutin yang ditulis diresep, katanya “Jangan diisi banyak-banyak supaya mekarnya bagus”, begituloh… Akhirnya saya taruh 10 biji, hasilnya tetap bagus.
Nah, segitu dulu .. suka duka didapur … hmmm ada yang ga bisa hapal sampai sekarang yaitu bumbu masakan padang … sebenarnya sama semua jenis masakannya, cuma masakan A bumbu ada yang dikurangi, kalau masak masakan B bumbunya ada yang dilebihkan … kayaknya harus dicatat dan ditimbang versi masakan ibu ….
February 07, 2006
January 22nd, 2007 — Story
Hari Sabtu, ada yang ngilangin aksesoris di blog Aul. Padahal baru aja berhenti akses 2 menit. Pas kembali lagi, semua aksesoris udah ga ada. Aksesoris yang biasanya ada diblog Aul yaitu icon OpenOffice, KampungBlog, Blogarama, PageRank. Terus … apa lagi ya … lupa kan tuh….
Aul ga tahu kenapa bisa hilang. Kehilangan ini membuat saya marah-marah karena pasti perlu waktu untuk nambahin iconnya padahal hari itu saya sibuuuuk banget.
Dengan masih marah-marah, Aul ke kamar mandi. Sehabis dari kamar mandi kembali ke ruangan ga pake jilbab ….
Ketahuan deh sama 1 orang, untungnya orangnya buru-buru juga …. mudah-mudahan dia ga perhatiin….
*masak sih ??, orang segede aul ga diperhatikan … :p
Akibat hilangnya icon-icon tersebut dengan terpaksa copy paste code lagi disitus masing-masing.
Dari pada hilang, saya simpan di writer.
Kemarahan saya ? masih tuh sampai ke tempat tidur ….
January 19th, 2007 — Story
Date Posted : 13 Februari 2006
Kemarin siang ada user laki-laki, rambutnya panjangnya sampai diatas pundak, hmmm ganteng juga. Si user itu duduk dikomputer no. 3 yang kebetulan bersebelahan dengan server. Antara server dengan client no. 3 disekat. Keponakan aul berdiri melihat orang tersebut … hmm cukup lama juga sih berdiri depannya.Akhirnya keponakan aul tanya ke saya dan masih berdiri depan user itu ….
“Uwo… dia itu laki-laki atau perempuan ?”
Karena saya mengerti siapa yang dia maksud, saya bilang “Laki-laki”
“Kok rambutnya panjang ?” kata keponakan
“Coba tanya ke dia, kenapa rambutnya panjang …” kata saya
Dengan muka malu-malu, keponakan aul menggeleng … artinya ga mau …
Dan saya pun tertawa dalam hati …
Sayangnya saya ga tahu reaksi muka tuh cowok. Untungnya, saat itu warnet lagi sepi, cuma 2 user. Kalau lagi rame, tuh cowok pasti malu …
Kalau saya jadi tuh cowok, habis dari warnet … potong rambut …
Hmm … Kalau cewek potongan rambutnya cowok tapi pake rok… keponakan aul tanya juga ga …?
Kayaknya ditanya juga .. masalahan dia orang pengen tauuuuuuuu aja …
Pasti tanyanya kayak gini dan pasti juga didepan orangnya :
“Uwo… dia itu perempuan atau laki-laki ?”
“Perempuan” kata saya
“Kok rambutnya pendek ?” kata keponakan aul
hahaahahahahaaaa
Tiga hari kemudian ada 3 anak, sepertinya masih sekolah, 2 perempuan dan 1 laki-laki (?). Kok aneh ya…
Besoknya mereka datang lagi. Yang laki-laki selalu memakai celana yang panjangnya sampai lutut. Dua hari kemudian, mereka datang lagi.
Keponakan saya yang duduk disamping saya melihat mereka, kemudian bertanya kepada saya ….
“Uwo, dia itu perempuan atau laki-laki ?”
Sambil berbicara begitu dia menunjuk ke salah satu dari mereka yang menggunakan celana yang panjangnya sampai lutut alias celana 3/4, rambut dipotong gaya laki-laki. Saya melihat dengan mata menyelidik dari atas sampai bawah …
“Memang kenapa ?”, tanya saya ke keponakan
“Dia itu perempuan !”, kata keponakan
“Perempuan …?”
Belum habis keterkejutan saya, keponakan sudah lari keluar ruangan.
Padahal saya mau tanya ke dia “Tahu dari mana?”
Masalahnya saya menganggapnya laki-laki, cuma rada aneh gitu … tumben ada laki-laki digerombolan perempuan.
Sampai selesai mereka ada dihadapan, saya menatapnya dengan pandangan menyelidiki
Hmm … perempuan ya… ??
Kali ini, keponakan membuat saya terheran-heran
Catatan :
Uwo = panggilan anak tertua pada masyarakat Minangkabau
January 19th, 2007 — Artikel
Date Posted : 14 Februari 2006
Menurut saya, dibawah ini adalah doa atau puisi. Didapat dari undangan pernikahan sepupu saya “Mukti Ali Munir”. Maklum baru baca seperti dibawah ini, biasanya kalau ada undangan cuek bebek cuma baca siapa yang nikah. Judulnya CINTA. Berikut isinya :
CINTA
Ya Robbi,
Saat aku menyukai seorang, ingatlah aku bahwa ada sebuah akhir, sehingga aku tetap bersama yang tak pernah berakhir.
Ya Robbi,
Ketika aku merindukan seseorang kekasih, rindukanlah kepada yang rindu cinta sejatimu
Agar kerinduanku terhadap-Mu semakin menjadi.
Ya Robbi,
Jika aku mencintai seseorang, temukanlah aku dengan orang yang mencintai-Mu, agar bertambah kuat cintaku pada-Mu.
Ya Robbi,
Ketika aku sedang jatuh cinta, jagalah cinta itu, agar tidak melebihi cintaku pada-Mu
Ya Robbi,
Ketika aku berucap “Aku Cinta Padamu” biarkanlah kukatakan kepada yang hatinya tertaut pada-Mu agar aku tak jatuh dalam cinta yang bukan karena-Mu …
Amien 3x Ya Allah ya Robbal ‘Alamin…
January 17th, 2007 — Komputer
Klik icon Web Browser Browser the Web atau icon Firefox
Hapus/klik 2 x kata yang tidak diinginkan pada kotak address, ketilah nama situs, ENTER
Untuk menambah situs baru, tekan tombol Control T
Membesarkan tulisan tekan tombol Control (Ctrl) dan tombol + (plus)
Mengecilkan tulisan tekan tombol Control (Ctrl) dan tombol - (min)
WORD, iconnya OpenOffice.org Writer Word Processor
EXCEL, iconnya OpenOffice.org Calc Spreadsheet
POWERPOINT, iconnya OpenOffice.org Impress Create Presentations
GAMBAR, iconnya OpenOffice.org Draw Draw diagrams and figures
ACCESS, iconnya OpenOffice.org Base
EQUATION, iconnya OpenOffice.org Math
PAGEMAKER, iconnya Scribus
PHOTOSHOP, iconnya GIMP
CORELDRAW, iconnya Inkscape