Lauk Keprihatinan

Date Posted : July 27, 2006

Banyak sekali lauk dalam keadaan prihatin, misalnya ikan asin, makan garam saja dengan nasi dan sebagainya.

Kalau ibu saya lauk dalam keadaan prihatin yaitu minyak batanak. Bau minyak ini wangi sekali. Waktu ibu saya masih kecil di zaman pra kemerdekaan, ga punya uang, atau punya uang tapi ga ada yang bisa dibeli, lauk ini menjadi favorit. Zaman Belanda dan Jepang pun kakak-kakaknya makan dengan lauk itu.

Minyak batanak, berasal dari kelapa yang sangat tua sekali, diambil santannya dan dimasak (batanak) sampai terbit minyaknya. “Tai” yang berwarna coklat juga enak dimakan dengan nasi.

Pohon kelapa di kampung saya (Silungkang) banyak sekali, karena sebagian besar lauknya semua pakai santan mulai gulai ayam, rendang, gulai singkong dan lain-lain. Padahal kampung kami tinggal jauh dari pantai, berada di perbukitan Bukit Barisan. Semua orang punya pohon kelapa termasuk ibu dan kakak-kakaknya.

Cara makannya :
Setelah dimasak sampai terbit minyaknya, masukkan ke dalam toples dan tutup dengan kencang agar tidak masuk angin. Kalau masuk angin akan bau apek dan tidak bertahan lama. Jika ditutup dengan baik dan benar, minyak ini akan tahan bertahun-tahun tergantung apakah kita sering mengkonsumsinya atau tidak.

Tuangkan sedikit minyak tersebut ke nasi dan taburkan garam secukupnya (sedikit sekali). Ciciplah apakah terasa asin. Setelah rasanya cukup makanlah, pasti nambah deh….

Kentang pada zaman dahulu merupakan barang mewah, makanan orang londo. Rebuslah kentang baik dengan kulitnya atau tidak. Setelah matang, hancurkan sampai halus. Jika tadi memasaknya memakai kulit, dibuang kulitnya dulu ya…. Ups jangan lupa kentang sebelum dimasak dibersihkan kulitnya…. OK. Makanlah dengan nasi, minyak batanak serta garam.

Selain fungsi diatas, minyak ini menambah enak untuk dendeng batoko, jengkol batoko, pokoknya yang dibatoko-kan atau ikan macho - gw ga tahu nama lainnya -.

Sekarang, minyak batanak merupakan salah favorit lauk untuk menambah lezatnya makanan dan salah satu oleh-oleh favorit pulang kampung.

5 comments ↓

#1 Syarifuddin Dahlan on 02.13.07 at 7:29 am

Assalamu Alaikum
Salam kenal

Kalo resep dendeng batoko punya ga ? Soalnya saya pernah ke sungai penuh, kerinci dan makan dendeng batoko disana. Itu sudah 20 tahun yang lalu (1986), tapi nikmatnya sampai sekarang masih kerasa, jadi saya kangen sama makanan itu. Atau tau ga tempat jual dendeng batoko di jakarta, kl tau pls info

Thanks ya

#2 auliahazza on 02.13.07 at 7:08 pm

punya… kalau cara Silungkang begini :
Sediakan daging bulat. iris tipis, rendam dengan air asam jawa dan garam selama 5 jam, kemudian bakar dengan menggunakan arang sabuk kelapa sampai matang. Setelah matang dan kering getok dengan alat penggiling cabe (cobek ya .. namanya ??) di tempat gilingan cabenya. Nah, siram dengan minyak batanak. Kalau tidak ada minyak bekas gorengan bawang merah juga boleh. Sambelnya lebih baik digiling pake gilingan cabe tradisional, lebih baik banyakin bawang merah.
Daging batokok juga boleh digoreng juga. Kalau restoran daging batokok tanpa di goreng aul ga tahu

Mudah-mudahan membantu :)

#3 Bayou on 12.24.07 at 1:56 am

Coba ke restoran sederhana bintaro sektor 3A..daging batokoknya muantap..

#4 auliahazza on 12.24.07 at 2:41 am

@Bayou : tq informasinya, nanti coba kesana.

#5 Makannya Hanya Dengan Garam — diary ku on 09.16.08 at 12:32 am

[…] tidak tetap. Sering kali penghasilannya hanya bisa membeli beras. Seringkali anaknya hanya menjilati garam yang diletakkannya di telapak tangan sepanjang hari karena tidak ada yang bisa dimakan. Jika esok […]

Leave a Comment