Entries from February 2007 ↓
February 28th, 2007 — Sosial, Story
Pada masyarakat Silungkang yang termasuk daerah Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung, kata “datuk” bukan sesuatu yang istimewa. Tidak seperti masyarakat Minangkabau pada umumnya, “datuk” menunjukkan strata terhormat dalam kehidupan masyarakat yang menganut garis ibu ini. Biasanya setelah “datuk” ada kata-kata yang lain, misalnya Datuk Sinaro Panjang, Datuk Rajo Mudo dan sebagainya.
Untuk mendapatkan “datuk”, masyarakat Minangkabau melaksanakan pesta adat. Pemberian “datuk” kepada seorang laki-laki karena dia adalah bangsawan atau ningrat.
Lain halnya dengan masyarakat Silungkang. Pada masyarakat Silungkang, “datuk” tidak memerlukan pesta adat, segala golongan bisa menggunakan. Artinya tidak perlu seorang bangsawan atau keturunannya. Tidak perlu menunggu laki-laki menjadi dewasa.
“DATUK” bukan sesuatu yang istimewa.
Siapapun yang dianggap laki-laki yang dituakan dipanggillah “Datuk”. Misalnya Datuk Denny berusia 20 tahun mempunyai adik bernama Khairi. Khairi memanggil Denny dengan kata pendahulu “Datuk”. Nisa berusia 6 tahun, mempunyai kakak bernama Imran. Nisa memanggil Imran “Datuk Imran”.
Kebebasan penggunaan “datuk” pada masyarakat Silungkang karena hadiah dari Raja Pagaruyung dahulu kala karena pemuka adat asal Silungkang bisa menjawab suatu pertanyaan sulit sang Raja dengan tepat dibandingkan pemuka adat dari kota lain.
Kapan diberi gelar “sungguhan” ? Biasanya saat pernikahan atau resepsi, sesuai dengan gelar yang dimiliki satu garis keturunan.
Inipun tidak terlalu dibesar-besarkan, tidak perlu potong kerbau atau pesta adat. Cukup diberi “Pengumuman” ke khalayak ramai, itupun juga tidak perhatikan. Salah satu contoh saat penyebutan nama …. Rifky Rangkayo Sakti telah menikah dengan bla..bla… blaa….
February 26th, 2007 — Bisnis, Komputer
Diambil dari postingan Irwin Day di milist asosiasi-warnet@yahoogroups.com
Rekan rekan Yth,
Munas I AWARI yang berlangsung pada tanggal 24-25 Februari 2007 kemarin berlangsung dengan lancar dan dalam suasana yang sangat bersahabat. Secara garis besar, agenda-agenda utama dapat dicapai berkat dukungan penuh Panitia, Presidium dan Peserta Munas.
Agenda lainnya yang unik adalah: diskusi umum yang merupakan arena “curhat” para warnet. di dalam diskusi ini banyak didapatkan masukan yang sangat berharga bagi AWARI. Selain itu pula, warnet-warnet saling bertukar informasi yang diharapkan akan memberik manfaat kepada
warnet yang hadir lainnya.
Jumlah peserta sendiri diluar ekpektasi Panitia, mengingat panitia memperkirakan total peserta (maksimal) di angka 50, ternyata yang hadir mencapai 60 peserta dan kenyataan ini sangat positif nilainya bagi panitia pelaksana.
Adapun hasil hasil yang dirangkum dari Munas I AWARI antara lain:
- Laporan pertanggung jawaban presidium dan kilas balik sejarah AWARI
- Penetapan status AWARI sebagai badan hukum
- Pengesahan Anggaran Dasar
- Program Kerja
- Kode Etik
Adapun susunan Dewan Pengurus Masa bakti 2007 - 2010 adalah sebagai berikut:
Badan Pengurus Nasional:
Ketua Umum : Irwin Day
Ketua Bidang Teknis : Gunarno
Ketua Bidang Organisasi : Yamin El Rust
Ketua Bidang Pendanaan : 1. Erwan Setiadi, 2. Bill Fridini, 3. Aditantra
Ketua Bidang Kerjasama : Nizar G Bunyamin
Badan Pengawas:
Ketua : Judith MS
Anggota : Muhammad Salahuddien
Anggota : Michael S. Sunggiardi
Mewakili Panitia Pelaksana, saya (Irwin Day) juga meminta maaf jika dalam pelaksanaan Munas I Asosiasi Warnet Indonesia 2007 terdapat kekurangan disana sini. Kami (Panitia Pelaksana Munas Awari) berharap dapat memberikan yang lebih baik pada event-event AWARI yang akan datang.
–
Salam AWARI,
source :
http://irwinday.wordpress.com/
http://awari.or.id/
February 25th, 2007 — Story, Traveling
Kalau kita kurang tidur, berarti masih ngantuk. Baik ngantuk ringan sampai ngantuk super berat sering kita menyebutkan “…… nyawanya ….”. Nah, titik disini terserah deh mau ditambahin apa.
Hari Senin, (26/02/07) saya masih ngantuk tapi harus kerja berarti berusaha untuk “ngumpulin nyawa”. Biasanya kalau habis bepergian jauh baik bertujuan untuk refreshing, rapat atau seminar ke luar kota pasti masih capek. Jadi gembiranya cuma ditempat tujuan. Terasanya pas dirumah tepatnya, ditempat tidur langsung “tanpa nyawa”. Terbayarnya … hmm mungkin 1 atau 2 hari bahkan bisa seminggu tergantung jauh dekatnya perjalanan, juga banyak atau tidak pekerjaan setelah sampai di rumah.
Dua hari ke Bandung, muter-muternya cuma dari kamar hotel, toilet hotel, ambil makanan, ruang makan, ruang munas … ga keluar-keluar dari hotel tetap ngantuk, tetap cape. Bagaimana sama panitianya ? Saya aja jadi peserta segitunya…
Tapi terima kasih lho buat Panitia Munas Awari, TQ untuk kamarnya yang luas banget yang ada ruang tamunya. TQ juga buat makanannya, kita ga kelaperan. TQ atas kerja kerasnya.
Selain mengikuti munas, maunya sih beli oleh-oleh. Sayangnya hotel tempat menginap jauh dari Cihampelas. Dulu, 2 kali ke Bandung, beli dodol itu ke Cihampelas. Cari di BTC (Bandung Trade Center) cuma goreng-gorengan. Kalau goreng-gorengan, di Jakarta juga ada kok. Saya pernah lihat jenis goreng-gorengan tersebut di Jakarta.
Kita suka dodol campuran warna putih dan coklat. Walaupun bukan khas Bandung, di Cihampelas ada. Kata orang Bandung, Cihampelas jauh dari Pasteur. Lokasi hotel yang saya tempati tidak jauh dari tol Pasteur. Dari pada nyasar, lebih baik ga usah saja. Nanti malah dikerjain orang lagi. Kalau ga ketemu tidak apa-apa. Nanti toh, juga ada yang ke Bandung lagi. Sayangnya yang sering ke Bandung itu suka salah beli dodol. Dodolnya kalau ga hijau atau polos, pernah rasa strawberry yang berwarna merah, rasa durian. Kalau ga ada dodol, belinya Kartikasari melulu. Setiap minta dodol campuran putih dan coklat ga dibeliin … kasihan amat deh ..
Udah dulu, ngantuk banget, mau tidur … met bobo ….
February 21st, 2007 — Story
Aul heran deh sama Wordpress, kenapa sih berubah sendiri. Beberapa pekan lalu, icon-icon di sidebar menghilang.
Uuuugggghhhh …..
Sekarang, di tempat untuk ngetik (Write Post) semua icon berbentuk huruf semua. Seingat saya icon-iconnya bentuknya gambar.
Uuuuuggghhhh…….
Seingat Aul, ga ngerubah-ngerubah tampilan deh atau ngutak-ngatik di fasilitas yang ada di Wordpress. Gw kan rada-rada goblok mempergunakan Wordpress, jadi ga berani gitu ngutak-ngatik. Pernah sih ngutak-ngatik …. dulu … 4 bulan yang lalu …. ikutin petunjuk hasil pencarian di google tapi jadi berantakan
Tapi perubahan kali ini, tidak terlalu bermasalah sih bagi saya, karena udah tahu fungsi-fungsinya. Tidak seperti menghilangnya icon-icon di sidebar.
Kalau perubahan itu bilang dulu ke aul sih ga pa pa asalkan positif, gw ga bakalan marah deh …
Nanti, apa lagi nih yang berubah sendiri ….. kalau postingan aul hilang …. awas deh………. !!!!
February 19th, 2007 — Komputer, OpenOffice
Akhirnya setelah berkutat cukup lama, bisa mencetak di Canon iP1700 menggunakan OpenOffice.
Saya menggunakan turboprint, dengan configuration Draft. Sewaktu mencetaknya saya menggunakan http://localhost:631/
Terima kasih untuk Harry untuk menyakinkan bahwa Canon bisa jalan di turboprint ….
Terima kasih untuk Pak Rusmanto (InfoLinux) dan Pak Stefanus (Canon Indonesia) untuk info Canoni255 dua tahun yang lalu.
TQ banget ….
Hari ini saya senang sekali …..
February 18th, 2007 — Story
Tadi pagi, di berita RCTI ada video amatir yang merekam kejadian puting beliung di Yogyakarta kemarin, sekitar pukul 5-an sore.
Aul baru tahu lho.. selama ini yang sering disebut-sebut puting beliung rupanya tornado ya..
Tampangnya sama ya… mengecil dari bawah dan membesar ke atas kemudian warnanya abu-abu.
Tapi kalau lihat di film tornado ga ada hujan ya… atau puting beliung di Indonesia beda ?
Di Wikipedia berbahasa Melayu, puting beliung = tornado dan biasanya memang ada hujannya.
Kenapa ga sebut aja tornado ? Apakah nama “tornado” begitu menyeramkan daripada puting beliung. Dalam segi pengucapan lebih enak kata “tornado” karena 1 kata juga lebih menggigit sehingga orang lebih waspada.
Selama ini saya beranggapan puting beliung itu angin yang tidak membahayakan, cuma angin kencang saja. Anggota keluarga saya juga gitu. Baru tadi pagi, kompak semua bilang “Oooo …. puting beliung itu = tornado …”. Juga teman di YM.
Kalau benar, wah…. itu namanya bahaya …. hmmm, berarti setiap rumah harus punya bunker ya….??
Sekali lagi ….
Kenapa sih ga bilang “TORNADO” ???
February 16th, 2007 — Story
Dua hari yang lalu ada kejadian menggelikan bahkan bisa dikatakan tidak masuk akal.
Sore itu, datang 3 anak perempuan ke tempat saya, umur mereka kira-kira 12 tahun. Mereka datang mau minta diketikan sekaligus translate buku cerita dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Saya mengatakan, “Tidak bisa translate”. Mereka kebingungan. Melihat wajah mereka seperti itu, saya memberi informasi bahwa tempat pengetikan yang bisa translate pada umumnya didekat kampus. Jadi mereka harus ke UIN karena itu kampus satu-satunya yang dekat rumah. Padahal sih, ga dekat… dekat amat. Harus dua kali naik angkot. Lumayan ongkosnya, sekali jalan bisa Rp. 5.000 untuk satu orang.
Mendengar informasi seperti itu, mereka gembira lagi. Tapi bukannya segera ke UIN malah … “Kalau gitu, kita mau chatting dulu !”
*gdubrak ….
Waduh, anak-anak ini bukannya nyelesaikan tugasnya dulu malah mau chatting.
Langsung saya protes “Ke UIN aja dulu, baru chatting. Nanti ada banjir lho, geledek, hujan… malah nanti ga bisa kemana-mana”. Protes saya tidak digubris tetap aja mereka mau chatting. “Cuma sebentar kok mbak, cuma 40 menit…,” kata mereka. Ok deh…
Setelah chatting 40 menit, setelah bayar, mereka pergi dari tempat saya.
10 menit kemudian, Bapak saya nonggolin kepalanya dipintu. Bertanyalah beliau kepada saya …
“Di luar, ada sendal kok beda ya.. mulai dari ukuran dan warnanya. Yang satu, sandal untuk perempuan berwarna pink ukurannya kecil. Yang satunya lagi sendal jepit ukuran besar untuk pria dewasa”.
Saya lihat keluar ehhhh benar …. deh. Langsung saya tanyakan ke semua orang didalam.
“Yang punya sandal pink siapa ?”
Ga ada yang ngaku tapi ada pria yang sedang mengetik bilang “Yang biru dekat sendal pink itu sendal jepit saya”
Saya tanya, “Sendal jepitnya cuma satu, yang satunya lagi kemana ?”
Pria itu bangkit dari tempat duduknya dan keluar. Paniklah dia melihat sendalnya hilang satu.
Hebohlah tempat saya ….
Siapa ya …. kira yang nukar sendal tapi kok bisa ga ngerasa ketukar. Secara logika, ukuran sendal sudah beda. Jenisnya beda pula, yang satu sendal khas wanita, yang satu sendal jepit.
Setelah panik sebentar, Bapak saya menebak, menurut beliau pasti 3 anak perempuan tadi …. pasti ketukar … Karena mereka lah yang baru keluar dari ruangan.
Tapi kok bisa ya…
Eh.. benar, 20 menit kemudian mereka datang dengan cengegesan …
“Ini, Pak ketukar sendalnya,” kata salah satu diantara mereka kepada Bapak saya yang ada diluar.
Si pemilik sendal jepit yang gelisah mau pulang langsung bangkit dan keluar mengambil sendalnya dengan wajah bersungut-sungut. Saya dan Bapak ketawa geli …. =))
Yang ga habis pikir … kok bisa ya… ketukar sendalnya padahal mulai dari ukuran dan warnanya beda banget.
NB. :
Perlu diketahui, kenapa ditempat saya pada buka sendal ? Saya sendiri tidak tahu. Mereka tahu kali ya.. kalau habis hujan sendalnya pada kotor, kata mereka lantai saya itu bersih banget, jadi untuk tidak mengotori lantai, mereka tanpa disuruh buka sendal. Saya pribadi tidak ada masalah kalau sendal mereka kotor kemudian masuk.
February 11th, 2007 — Story
Pintu kantor saya yang paling depan menggunakan kaca. Ruang kantor saya menggunakan AC. Di kaca pintu ditulis dengan ukuran huruf 50, tebal dengan font Arial yaitu “TUTUP PINTU KEMBALI”. Letakkannya terlihat jelas saat kita akan membuka pintu kantor.
Kenapa ditulis seperti itu ?
Karena orang yang suka buka pintu jarang yang ditutup kembali. Pintu akan ternganga lebar padahal saat itu sedang terpasang AC. Padahal hawa diluar kantor dan didalam terasa sekali bedanya. Kalau diluar panas, kalau di dalam kantor itu dingin. Saya rasa semua orang tahu kok beda hawa dingin AC dan hawa dingin bukan AC.
Setiap saat saya harus bangkit dari tempat duduk untuk menutupnya kembali. Mula-mula sih, it’s OK … itung-itung olahraga :p
Tapi setelah tiga bulan.. kesel juga. Akhirnya saya menggunakan kalimat “Tolong ditutup lagi pintunya … “
Cape ngomong, dipajang deh tulisan di atas.
Sayangnya tetap ga mempan, masih ada yang kalau buka pintu ga ditutup lagi
Masak, saya harus memperbesar huruf sampai 200 pt atau mau paling ekstrem bikin spanduk :p
Ini termasuk kegiatan “Every time … Every day … Every year …”
Rupanya, di wartel ga jauh dari rumah juga gitu. Selain bertugas sebagai kasir wartel, juga tukang tutup pintu karena wartelnya pake AC.
Saya … cuma bisa geleng kepala aja
=)) karena melihat kasir wartel menggerutu.
Sama gelengnya kepalanya jika melihat orang merokok di rumah sakit padahal disana ada tulisan GEDE BANGET “DILARANG MEROKOK”
*gdubrak
February 8th, 2007 — Artikel
Dear All,
We have to accept and prepare ourselves as we are living in the eartquake zone. We had some lessons learnt by a few incidents which happened recently. Expert’s advice and information from various sources are provide from time to time. With these we are more or less able to sense and rect to situations considering our status as PREPARED. Well, the working environment is well organized to handle such situations. Unfortunately is not the case in public places. Sometimes smal tips will be of great help during and in anticipation of an earthquake. Always tell yourself we are well ORGANIZED AND PREPARED. Do not panic and just follow instructios given.
Hope this tips will serve you better positively.
Don’t Rush Out of Doors
[See Picture]
- Get yourself under a desk. Cover your head with cushions or magazines so that you can protect your head from falling objects.
- No matter how bing an earthquake is, violent movements generally last for only one minute or so. Don’t panic !
At Home
[See Picture]
- Turn off the sources of fires quickly and open windows and doors.
- When a fire occurs, put it out with a fire extinguisher or other things such as blankets.
- Cooperate with your neighbors in extinguishing the fires.
- Switch off all the electricity circuit breakes. Turn the gas off at the main.
- Work out a plan regularly on how to promptly evacuate and what are required for the escape.
Keep in mind the following if you live in a highrise apartment house;
* Follow the instructions of the apartment complex custodian.
* Don’t use elevators.
The most frightening thing during an eartquake is the threat of fires. In the Great Kanto Eartquake, approximately 100,000 people were killed by fires.
On The Street
[See Picture]
- Keep away from vending machines or block walls. They are likely to fall over easily.
- To protect yourself from falling object, rush into a building or make your way to a nearby open area.
- Stay away from downed electrical power lines.
In the Off-Shore Miyagi Earthquake, 18 people were killed by some falling concrete block walls, stone walls or gateposts. Also, in the Great Hanshin-Awaji Earthquake, a large number of buildings collapsed. As a result, glass debris were coming down on people.
In Department Store or Movie House
[See Picture]
- In a department store, protect your head with a bag or a shopping bag in hand. Stay away from the exhibit shelves. They are likely to fall over easily.
- In a movie house, get under the seats to protect your head from falling objects
- Don’t scramble for exits or elevators.
Don’t try to find your own way out. Stay calm down and follow the instructions announced inside the department store/movie house or by persons-in-charge.
In Underground Passageway
[See Picture]
- The fearsome thing when you are underground is not the damage caused by the earthquake but the confusion by panic. Even when the power is down, some emergency lights will come on in a split second. There is no need for you to rush to stairs or emergency exits.
- Don’t use elevators.
- Follow the instructions of the person-in-charge.
On Subway or Other Public Transportation
- Stay inside the train unless it is absolutely necessary to leave. Otherwise, you may be electrocuted or hit by another train.
- Hold on to a strap, handrail or anything that is fixed firmly inside the train.
- Follow the instructions of a member of the train crew or station staff.
On the Beach or Near River
[See Picture]
- When you feel a tremor near the beach or when a tidal wave alarm is issued, leave the place right away for some heights.
- Tidal waves come continuously one after the other. Be on the alert until the “all clear” sign is given.
- Listen to the radio or watch television, or get contact with the police or local public offices for accurate information. Don’t be fooled by rumors.
Pay attention to whether a tidal wave alarm is issued or not in case of a big earthquake. Back in 1993, tidal waves hit the Okushiri Island off the south-west coast of Hokkaido within five minutes after an earthquake occurred. Twho hundred two people were reported killed and 28 missing.
Evacuation in Group
[See Picture]
- Follow the instructions of police officers or person-in-charge. Don’t try to evacuate on your own. Move with the neighborhood or resident association.
- Evacuate on foot and keep your emergency takeout items to the minimum.
- People in the community should cooperate in the evacuation of : persons who are hospitalized; bedridden senior citizens, and the physically/mentally handicapped.
Keep your valuables with you
[See Picture]
- Keep your valuables in the places so that, in an emergency, you can take them out immediately.
- Make sure to keep your valuables with you when you evacuate.
For example : after the Great Hanshin-Awaji Earthquake and the Niigata Chuetsu Earthquake, a number of houses and shops were broken or looted while the people were out for evacuation.
Follow Accurate Information
[See Picture]
- On your way to or after seeking safety at a designated Evacuation Site, listen to the radio or watch televesion for emergency public announcements. Don’t be misled by false information.
- People will become extremely nervous and panicky after severe tremors. Therefore, you should refrain from talking and acting irresponsibly.
Whenever a big earthquake occurs, dissemination of false information misleads us. As an example, during the Great Hanshin-Awaji Earthquake, some rumors circulated and almost triggered panic. However, most people kept calm and sought accurate information so as to maintain order.
Source :
retny@idealfastener.net and Earthquake Center Japan
February 5th, 2007 — Promosi
Banjir besar yang menenggelamkan Jakarta ternyata membuat efek terhadap penyelenggaraan MUNAS AWARI 2007. Banyaknya rekan-rekan warnet yang terkena musibah, membuat panitia Munas memutuskan untuk menunda penyelenggaraan MUNAS ini hingga 2 minggu kedepan menunggu kondisi agar lebih kondusif.
Keputusan ini dibuat bersamaan dengan banyaknya rekan-rekan warnet yang terkena musibah, banyak warnet yang ikut terendam banjir, juga putusnya koneksi internet TELKOM karena Telkom Semanggi-2 jebol dihantam air bah membuat banyak warnet yang tidak terkena banjir sekalipun harus tutup karena tidak ada koneksi. Efek psikologis bagi warnet yang terkena bencana tentunya akan membuat hilangnya konsentrasi saat MUNAS berlangsung karena harus memikirkan bagaimana me-recovery warnet yang mengalami musibah. Atas dasar inilah akhirnya Panitia MUNAS menunda pelaksanaan MUNAS ini.
Bersama ini pula, Panitia MUNAS menyatakan turut prihatin kepada rekan-rekan warnet yang terkena bencana besar di Jakarta ini. Panitia akan mencoba untuk mendata warnet yang terkena musibah dengan harapan semoga data-data tersebut bisa sangat bermanfaat untuk beberapa pihak yang bisa membantu warnet yang terkena musibah tersebut.
PENDAFTARAN MUNAS TETAP DIBUKA
Sementara itu, saat ini terdaftar lebih dari 50 warnet yang sudah menyatakan keikutsertaannya dalam MUNAS AWARI tersebut. Sedangkan warnet yang terdaftar baik melalui email (munasawari@yahoo.com) dan melalui website resmi sudah mencapai 100 warnet dari beberapa propinsi di Indonesia seperti yang dapat dilihat disini.
Pendaftaran tetap dibuka hingga H-4 pelaksanaan MUNAS (akan dikoreksi jika ada perubahan). Sedangkan syarat-syarat pendaftaran MUNAS AWARI 2007 tetap seperti dulu, begitupun draft agenda dan AD/ART yang akan di bahas. Selengkapnya dapat dilihat disini.
Jakarta, 05 Februari 2007
~ Panitia ~
February 5th, 2007 — Story
Keluarga tante saya kasihan deh … rumahnya kena banjir. Mereka tinggal di Bendungan Hilir (Bendhill). Mereka 5 bersaudara, 4 sekandung tinggal di Bendhill, satu gang pula tapi beda rumah. Kakak perempuan tinggal di no. 2, kakak cowok punya rumah 2 buah dan tante saya tinggal dirumah yang lain, dan kakak perempuan yang lain tinggal dilain rumah. Semuanya masih dalam 1 gang. Saya kenal 80% tetangga mereka.
Kakak perempuan yang lain tinggal di Kalibata, nah ini ga kena banjir.
Banjir kemarin itu, dirumah tante yang paling depan udah sedada. Terus ke rumah belakang alias di rumah abangnya itu udah semata kaki. Sampai sekarang (5/2) airnya belum surut. Menurut berita di televisi masih ada banjir susulan.
Yang paling stress itu tante saya yang bungsu karena rumahnya banyak sekali komputer, printer dll …. plus kucing 5 ekor.
Keluarga 3 tante saya pada ngungsi ke rumah teman di Pejompongan. Pejompongan letaknya lebih tinggi. Abangnya ngungsi ke Jatibening.
Aul sih udah kebayang deh tersiksa jadi pengungsi. Udah tidur ga karuan, makan ga teratur, mikirin harta benda yang rusak. Kalau udah selesai banjir, giliran bersihin rumah beserta isi-isinya. Masih untung tante-tante saya itu, masih punya teman dan saudara yang ga kebanjiran.
Tahun 2002, saya ngerasain banjir di Bendhill karena kantor saya di sana. Waktu masih tinggal di Bekasi, juga ngerasain banjir.
Yang paling nyesekin, udah selesai bersih-bersih, hujan berhenti …. kemudian hujan datang lagi …. ehhh tahunya banjir lagi …
Cape deh … hancur badan …
Kalau banjir datang, semua yang ada dibawah tanah keluar semua, mulai dari kaki seribu, lipan dan kecoa. Paling mengerikan dan kebetulan paling ditakutin sama aul yaitu ular. Kemudian emas yang tidak mengkilat
… tau kan
Kalau emas tidak mengkilat sih adanya dijalan raya sama dikamar mandi.
Untungnya saya sekarang ga tinggal di daerah banjir tapi akibat hujan yang sangat lebat, akhirnya rumah bocor. Ya.. ngungsi juga sih … ga jauh kok cuma beda ruangan, bisa dihitung langkah kakinya, masih bisa makan minum, ada lampu, bisa nonton TV, masih bisa ke kamar mandi, ga kedinginan dan sebagainya.
2 kamar bocor, ruang tamu bocor. Sampai sekarang Aul masih tidur disofa. Genteng di kamar udah diperbaiki tapi karena sofanya hangat dan kamar dingin karena hembusan angin dari ventilasi, jadi keterusan tidur di sofa.
Hari ini ga hujan (5/2/07) jadi tidur di kamar dan tetap … masih terkena hembusan angin malam lewat ventilasi.
Walaupun begitu, Aul bersyukur … rumah ga kebanjiran, ga tidur di pengungsian atau ke rumah orang lain, masih bisa makan 3x sehari, ga sakit, ga cape bersihin rumah.
Mudah-mudahan banjir ga datang lagi ya …. tapi mungkinkah .. gw pesimis ….. nanti 5 tahun pasti gitu lagi jika pemerintah DKI Jakarta dan masyarakat Jabodetabek tidak berbenah diri.
February 2nd, 2007 — Artikel
Setiap datangnya musim hujan juga datang banjir. Untuk warga Ibukota Jakarta atau lebih luas lagi yaitu Indonesia, banjir saat musim hujan merupakan hal biasa. Air yang mengguyur bumi bisa menjadi teman bisa juga menjadi musuh.
Kalau air menjadi teman jika lingkungan di bumi begitu ramah menyambutnya. Misalnya tidak ada tanah yang gundul, saluran air lancar, tidak ada yang membuat sampah ke got dan sebagainya.
Sayangnya, di Indonesia air yang kalau curahannya banyak sekali, ia menjadi musuh. Tapi bukan salah air, salah manusia. Karena tidak bisa melindungi hutan, dibabat habis untuk kebutuhan komersial, suka membuang sampah ke got, banyaknya pemukiman penduduk dibantaran kali sehingga membuat sungai mendangkal.
Saat ini Ibukota Jakarta sebagai ibu kota negara lumpuh karena banjir. Begitu juga daerah sekitarnya. Perumahan terendam air yang tingginya bisa mencapai leher orang dewasa bahkan rumah hanya terlihat atapnya saja. Air juga masuk ke Istana Presiden. Air melumpuhkan telkom, bahkan situs yang berada di telkom tidak bisa diakses. Jaringan internet milik telkom pun mati.
Begitu besar efek yang ditimbulkan oleh air baik dari hal positif maupun negatif.
Kenapa kita tidak pernah mau belajar dari pengalaman. Setiap musim selalu berteriak, sengsara dan musibahnya itu ke itu saja. Dan masalahnya itu ke itu saja.