Setiap datangnya musim hujan juga datang banjir. Untuk warga Ibukota Jakarta atau lebih luas lagi yaitu Indonesia, banjir saat musim hujan merupakan hal biasa. Air yang mengguyur bumi bisa menjadi teman bisa juga menjadi musuh.
Kalau air menjadi teman jika lingkungan di bumi begitu ramah menyambutnya. Misalnya tidak ada tanah yang gundul, saluran air lancar, tidak ada yang membuat sampah ke got dan sebagainya.
Sayangnya, di Indonesia air yang kalau curahannya banyak sekali, ia menjadi musuh. Tapi bukan salah air, salah manusia. Karena tidak bisa melindungi hutan, dibabat habis untuk kebutuhan komersial, suka membuang sampah ke got, banyaknya pemukiman penduduk dibantaran kali sehingga membuat sungai mendangkal.
Saat ini Ibukota Jakarta sebagai ibu kota negara lumpuh karena banjir. Begitu juga daerah sekitarnya. Perumahan terendam air yang tingginya bisa mencapai leher orang dewasa bahkan rumah hanya terlihat atapnya saja. Air juga masuk ke Istana Presiden. Air melumpuhkan telkom, bahkan situs yang berada di telkom tidak bisa diakses. Jaringan internet milik telkom pun mati.
Begitu besar efek yang ditimbulkan oleh air baik dari hal positif maupun negatif.
Kenapa kita tidak pernah mau belajar dari pengalaman. Setiap musim selalu berteriak, sengsara dan musibahnya itu ke itu saja. Dan masalahnya itu ke itu saja.






