Entries from March 2007 ↓
March 30th, 2007 — Promosi, Sosial
Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh.
Mohon ijin untuk menyebarkan informasi.
___________________________________________________________________
UNDANGAN PENGAJIAN Al KAUTSAR
Bismillahirraahmanirraahim.
Assalamualaikum Warahmatullahu Wabarakatuhu,
Kajian Penguatan Akidah, Insya Allah akan diadakan kembali pada:
Hari, Tanggal : Minggu, 1 April 2007
Waktu : 14.00 s/d selesai
Alamat : Jalan Kemandoran I No. 97, Jakarta Selatan
Penceramah : Ustad Masrizal
Tema : Syarat Implementasi Syahadataini (Lanjutan)
Kami lampirkan pula peta lokasi dan semoga membantu teman-teman menuju
tempat pengajian kita nanti.
Seperti biasa perlengkapan yang dibawa masing-masing adalah peralatan
shalat lengkap (untuk shalat azhar berjamaah), Al Qur’an dan
terjemahannya serta alat tulis.
Kehadiran teman-teman sangat kami harapkan dan mohon pula berkenan
menyampaikan informasi ini kepada teman-teman yang lain yang ingin datang
pada pengajian kita nanti.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
BPH Pengajian Al Kautsar
March 29th, 2007 — Sosial, Story
Dari berita yang berjalan saat penghabisan acara Jazirah di TransTV mengabarkan bahwa Chrisye telah meninggal dunia, hari Jum’at tanggal 30 Maret 2007, pukul 04.08 WIB.
Selama jalan Chrisye, semoga semua amal ibadah diterima disisi Tuhan. Lagu-lagunya akan dikenang sepanjang masa.
Chrisye akan dimakamkan di Pemakaman umum Jeruk Purut, jam 13.00 WIB (info dari female radio)


March 28th, 2007 — Story
Sibuk… hari-hari sibuk….
Kalau saya sibuk ngetik soal-soal sekolah dari guru-guru sekitar tempat usaha saya sekitar sebulan yang lalu.
Setelah habis ujian, sibuk ngetik daftar nilai… angka… itu harus teliti banget …
Mata udah cape … ribet …
Bayangkan kalau 1 sekolah ada 10 kelas, semuanya urusan angka … keriting nih tangan.
Belum ditambah, para guru yang meneruskan sekolahnya untuk meraih S1 atau S2 untuk mengetik papernya.
Mereka minta buru-buru….
Tapi lumayan dapat uangnya
Nanti 2 bulan lagi saya akan sibuk ngetik rekap angka untuk raport dari guru-guru sekitar tempat usaha saya.
Dua orang aja ga cukup ….
Sibuk … hari-hari sibuk…
Di otak saya udah banyak yang mau ditulis di blog.. tapi hmmm …. nanti aja kalau udah ga sibuk …
March 25th, 2007 — Komputer
Setelah saya mencoba mencetak di CanoniP1700 menggunakan TurboPrint, hasilnya tidak memuaskan. Karena menggunakan tinta asli. Tinta tercetak di kertas berwarna abu-abu. Jika mencetak berwarna, kurang jelas seperti watermark. Ya.. karena kan mencetaknya dengan cara Draft.
Ada solusinya agar mencetak terang/tidak abu-abu, gunakan tinta non original. Berhubung saya belum berani menggunakan tinta suntik dan printernya masih baru. Jadi saya menggunakan jasa yang bisa menginkjet di sebuah toko berinisial “V”.
Hasilnya, tinta tetap hitam, yang warna lebih terang.
Selamat mencoba 
March 21st, 2007 — Artikel, Bisnis, Komputer, Story
Komponen printer Canon paling panjang umurnya 2 tahun atau tepatnya pelan-pelan setelah keluar printer seri terbaru, spare part produk lama perlahan menghilang. Makin ke sana jangan harap bisa menemukan sparepart baru. Kalaupun ada pasti mencarinya sangat susah, biaya servicenya bisa sama dengan harga printer baru Canon. Jika rusak setelah 2 tahun, pasti kita disuruh beli baru.
Kalau dipasar gelap .. hmm … males deh… ya itu nanti … jangan-jangan bisa lebih dalam meronggoh saku.
Saya punya 2 printer Canon i255, printer pertama dibeli 3 tahun yang lalu. Setelah 1 tahun dia bekerja keras, headnya rusak. Menurut dugaan saya, headnya rusak karena sering kali kertas nyangkut. Tapi saya malas bertanya kenapa headnya bisa rusak ke pihak Canonnya. Harga headnya sekitar Rp. 300 ribu. Setelah dipikir masak-masak, kita beli baru, nanti kalau ada uangnya beli headnya. Harga Canon i255 yang kedua yaitu Rp. 495 ribu sudah termasuk pajak.
Selama 1 tahun menggunakan Canon i255 yang pertama, kita memakai tinta asli. Mahal ya… Setiap 6 bulan sekali atau sudah penuh penampung tinta, kita service.
Setelah printer pertama dimasukkan ke kardusnya, kita menggunakan printer kedua. Printer kedua ini menggunakan tinta non original dengan merk Inktec. Lumayan murah dan gampang naruhnya. 8 bulan menggunakan Inktec, kita tertarik menggunakan tinta suntik. Masalah timbul lagi, headnya rusak. Lagi-lagi bukan karena pake tinta non ori tapi karena kertasnya nyangkut lagi.
Terpaksa kita ganti head untuk printer ke 2 dan sekaligus untuk printer yang pertama.
Mengganti printer dengan nomor seri terbaru atau merk lain agak sulit jika kita pengguna Linux. Seharusnya, rusaknya head, kita lebih baik membeli printer seri terbaru. Saat itu mencari driver printer merk Canon nomor seri terbaru untuk Fedora/Linux sangat susah. Tidak ada pilihan, dari pada pusing, ngubek-ngubek, teriak-teriak di milist atau ngirim surat ke Canon pusat dan jawabannya “sampai sekarang Canon seri “anu” tidak support di Linux”
Setelah si 2 printer ini bekerja keras kembali akhirnya rusaknya tambah parah perbaiki ke tempat lain sama juga no good … ke tempat service yang lain lagi … sama juga … baiknya cuma sebentar
Dari pada habis uang dan waktu … dengan sangat terpaksa beli baru dan sibuk “teriak-teriak” and then “ngubek-ngubek” di internet … tanya “Canon seri “anu” ….. support ke Linux ga ???!!”
Uggghhhh …. menyebalkan …..
Seandainya, printer Canon bisa ada sparepart seumur hidup seperti TV Sharp … printer seri terbaru ga laku kali ya…
Kalau merk lain begitu juga ga ya ??? *mode mikir”
Dipikir-pikir … pintar juga cara dagangnya ….
March 11th, 2007 — Politik, Sosial, Story
Dahulu kala, ada permasalahan di Istana Pagaruyung atau Kerajaan Minangkabau yang tidak bisa dipecahkan atau tidak bisa mencari jalan keluarnya oleh Raja Pagaruyung dan bertanyalah raja tersebut kepada yang hadir termasuk hulu balang. Karena pertanyaan yang diajukan tidak bisa dijawab oleh yang hadir maka sang Raja bertanya kembali kepada yang hadir. Dari daerah mana saja yang belum hadir atau duduk di dalam Rumah Gadang. Dan menjawablah yang hadir termasuk hulu balang “Yang belum keliatan adalah dusanak (saudara) kita yang dari Silungkang.”
Maka raja memerintahkan kepada utusan pribadinya untuk menjemput empat penasehat raja yang orang Silungkang ke kampungnya. Utusan pribadi sesampainya di Silungkang tidak mengatakan apa urusannya sang Raja memanggil mereka. Pergilah 4 orang penasehat raja asal Silungkang dan 1 orang utusan pribadi ke Istana Pagarayung dengan berjalan kaki selama 1 minggu.
Setelah hadir penasehat raja asal Silungkang dan duduk bersama di dalam rumah gadang maka raja mengemukakan permasalahan maka menjawablah satu orang penasehat asal Silungkang. Usulan yang diajukan oleh penasehat asal Silungkang disetujui oleh Sang Raja Pagarayung. Raja pun puas.
Kemudian Raja bertanya kembali kepada masyarakat yang hadir, penghargaan apa yang akan diberikan oleh Kerajaan Pagaruyung kepada masyarakat Silungkang atas solusi yang telah dipecahkan oleh masyarakat Silungkang yang diwakilkan oleh empat penasehatnya itu.
Maka para hadirin yang hadir di rumah gadang mengatakan berilah gelar yang tak lekang dipanas dan yang tak lapuk oleh hujan maka gelar tersebut adalah seseorang atau laki-laki yang lahir dipanggil datuk untuk panggilan sehari-hari.
Sumber : dari nenek-nenek moyang masyarakat Silungkang.
March 7th, 2007 — Sosial, Story
Aul ga kaget kalau ada gempa di Sumatera Barat karena sudah keseringan gempa. Menurut keterangan sepupu Aul, rada aneh soal waktu terjadi gempa. Menurut keterangan dia, tahun 2005, gempa sangat terasa tanggal 4 April. Tahun 2006, gempa kuat tanggal 1 April. Sekarang gempa menjelang bulan April. Kata dia sambil bergurau — masih sempat aja —- “masak gempanya terjadinya setahun sekali sih..”
Waktu saya tanya, bukannya gempa di Padang memang sering akhir-akhir ini semenjak tsunami. Menurut dia, memang sering tapi kan kecil-kecil. Yang besar kan sekali setahun
Terjadi gempa dengan pusat di Batusangkar dengan kekuatan 6 skala richter membuat kota Solok berantakan. Jalur telepon putus. Aul saja tidak bisa menghubungi sepupu di Silungkang. Setelah berhasil menghubungi Silungkang esok harinya tidak parah cuma kena “senggolan” saja. Tidak ada bangunan yang rusak. Cuma tetangga rumah ada yang gentengnya jatuh. Korban jiwa di Silungkang mudah-mudahan tidak ada
Kakak ibu dari Padang, tidak mengalami masalah dalam perjalanan.
Kalau ingat Solok, jadi ingat pasar Solok untuk membeli daging. Kalau ada acara, orang Silungkang suka membeli daging sapi atau ikan di Pasar Solok. Pedagang disana orangnya bersih-bersih, ganteng-ganteng, pasarnya juga bersih. Tukang asongan pun juga parlente kok …. Kotanya bersih juga. Di pasar Solok banyak sekali penjual oleh-oleh makanan khas Minangkabau. Aul juga sempat jajan makanan khas Solok.. uennaaak banget.
Sudah segitu dulu yachh.. aul jadi laper nih…
Aul dan beserta keluarga besar masyarakat Silungkang turut berduka atas musibah di Sumatera Barat.
March 5th, 2007 — Sosial, Story
Baru tiga tahun menempati rumah di Pondok Petir, Sawangan Depok sudah banyak kecelakaan kendaraan bermotor atau orang di depan rumah. Selama tinggal disana, kalau dihitung-hitung, kendaraan bermotor itu 7 kali, kalau orang ada 10 lebih
Lumayan kan untuk ukuran jalan tidak ramai, kecil, di pemukiman lagi.
Jalan di depan rumah tidak terlalu besar. 2 mobil dua arah aja ga bisa lewat, harus satu mobil lewat dulu baru mobil yang lainnya kecuali mobilnya kecil. Itupun empet-empetan. Parkir aja susah. Kalau jalan di depan rumah lama di Margahayu Bekasi lebih besar 2 kali lipat, tapi tidak pernah ada kecelakaan baik dalam keadaan beraspal mulus sekali atau banyak lobang “kerbaunya”. Rumah lama padat lalu lintasnya sebagai alternatif jalan untuk menghindari macet di Bulak Kapal.
Rumah yang baru ini, aspal jalannya rada kasar. Lalulintasnya tidak begitu ramai. Ramainya kalau pagi-pagi karena rumah saya dekat pasar. Itupun tidak seramai rumah saya yang dulu. Tidak jauh dari rumah saya, cuma beda 1 rumah ada perempat jalan. Orang-orang disana sering sekali mengendarai sepeda motornya super ngebut, ga pagi, ga siang, ga malam.
Disamping jalan itu, tepatnya diseberang rumah saya ada got yang dalamnya 1 meter lebih. Dulu tinggi batasan antara jalan ke got cuma 10 cm. Sekarang sudah ada batasan beton tapi tetap aja ga ngaruh.
Menurut keterangan orang lama dan tukang ojek, memang jalan pas depan rumah saya sampai rumah tetangga sering sekali kecelakaan, kadang-kadang ga tahu apa penyebab kecelakaan. Dulu pernah ada mobil terperosok ke got, kata orang tepatnya “nyemplung”. Dari nada bicaranya si info “rada ekstrim” jatuh tuh mobil ke got. Kata si info lagi, nariknya aja susah… walah…. Berarti parah. Kata yang punya mobil, ga tahu kenapa bisa ke terperosok, padahal mobilnya ok-ok saja. Pokoknya banyak deh kecelakaannya, kita ada terbengong-bengong.
Kalau anak-anak suka berjalan bertitian seperti jalan diatas seutas tali, bedanya tali itu ‘kan lebarnya tipis tapi yang ini lebarnya 15 cm atau selebar sepatu olah raga. Kalau ga konsentrasi jalannya pasti tergelincir. Dulu melihat kelakuan anak-anak tersebut … biasa saja, tapi semenjak ada yang tergelincir, kita larang. Ada juga anak-anak main lompat-lompatan, untungnya ga pernah meleset tapi kalau kelihatan sama kita, pasti dilarang.
Ada anak naik sepeda berdua terus becanda, didorong temannya yang dekat got, jatuhlah dia. Atau tanpa ada alasan jelas, jatuh ke got
Ada juga tukang ojek stangnya belum diamankan. Jadi ya… oleng deh, tapi si penumpangnya jatuh ke got … Menurut si tukang ojek si remnya. Tapi pas dicek gpp remnya.
Ada yang jatuh tanpa alasan ga jelas juga – banyak ga jelasnya - padahal nyetir motornya nyantai. Ada yang keluar dari perempatan ga pake klason atau berhenti lihat kanan kiri langsung bamblas, terjadilah kecelakaan. Terus ada ibu membawa anak bayi pake motor, kata si ibu.. anak terlepas dari gendongan, jatuhnya kena pot yang sudah karatan, retak dimana-mana, kena daun telinga, terseboklah …. sst.. potnya bukan punya aul lho, punya tetangga depan. Dan masih banyak lagi, hasil kecelakaan ini pada umumnya yang kena kepala sampai berdarah-darah.
Kemarin sore (5/3/07), setelah hujan selesai… ada kecelakaan didepan rumah … kecelakaan hebat menurut ukuran jalan komplek ….. kali ini pas di depan pintu masuk …
…
Aduh kecelakaan lagi …..
Salah siapa ?
Hmm… saya lihat pas kejadian tersebut dari dalam ruangan. Kebetulan saya sebentar-sebentar melihat suasana luar, padahal saat itu lagi ngetik… ditungguin sama orangnya. Orangnya lagi ngedikte. Pokoknya saya saat itu pengen lihat keluar. Benar-benar lagi ga konsentrasi.
Jadi kejadiannya, si anak muda lewat dari sebelah kanan si gadis, padahal yang kanan itu sempit sudah diambil si anak gadis itu. Si anak muda ini, melajukan motornya sangat kencang. Menurut keterangan si anak muda, si gadis ini tidak pake lampu mau belok. Tapi saya lihat, si anak muda mengendarai motornya terlalu kencang. Ga pas sama jalan dipemukiman.
Atas kejadian ini, baju si gadis sebelah kanannya kotor, untungnya dia pake baju dan celana panjang. Motor varionya cuma retak didepan. Kalau saya sih, untungnya si gadis ga pecah kepalanya karena ga pake helm mengingat benturannya sangat keras. Yang cowok, saya lihat tidak apa-apa tapi motornya ga tahu deh…..
Jalanannya, ada bekas tabrakannya, cukup dalam juga sih …
Tidak berapa lama, tempat saya ramai sama orang, macet pula, si anak gadis manggil orang tuanya. Si anak gadis dan si anak muda saling minta ganti rugi serta main salah-salahan.
Nah… what’s next …
Apakah perlu diruwat atau apalahnamanya … jalanan dan got didepan rumah sering menjadi tempat kecelakaan …. sekali lagi, ‘kan cuma jalananan komplek dan got tersebut sudah diberi batas.
*mode on “geleng-geleng kepala”
March 2nd, 2007 — Artikel, Bisnis, Story
Ada tambahan julukan ke saya yang diberikan oleh teman-teman setelah 1 tahun krisis ekonomi melanda Indonesia. Julukan itu adalah saya “Cinanya Indonesia”.
Mula-mula saya sewot karena sudah “kenyang” dari kecil dikatain “Padang pelit” atau “Padang bengkok” sekarang “Cinanya Indonesia”. Walah…. apalagi ini. Dulu saya menganggap yang ngatain saya adalah orang kejam karena memfitnah tanpa alasan yang jelas. Karena saya TIDAK BEGITU. Jangan sama ratakan donk. Masak-masak apa-apa “Auliah, Padang pelit!”, “Auliah, Padang bengkok”. Sekali lagi FITNAH yang sangat keji.
Saat itu saya langsung protes keras karena tidak ada keturunan Cina dan saya BUKAN CINA.
Setelah saya tenang, mereka memberi penjelasan. Tapi dipikir lagi sih, dilihat dari warna baju adat, warna pelaminan, musik dan beberapa wajah dari saudara-saudara saya ada nuansa negeri tirai bambu tersebut. Kalau wajah saya sendiri lebih (katanya) ke wajah orang Timur Tengah atau orang Aceh.
Kembali ke teman-teman saya ….
Menurut mereka (saat itu), pribumi yang menguasai ekonomi Indonesia dan mudah-mudahan bisa mengalahkan Cina yaitu orang Padang - untuk seterusnya saya akan mengatakan “orang Padang” itu “orang Minang”
Masak sih …. ??
Buktinya … kata mereka. Dimana-mana yang berdagang itu orang Minang dan mereka menyatakan kebanggaan mereka. And then, saya diminta untuk mengajarkan cara berdagang.
*gdubrak
Walaupun saya bilang tidak bisa berdagang tetap menurut mereka … pasti punya bakat dan tidak mungkin orang tua saya tidak mengajarkan cara berdagang.
*Mikir lagi ….. ingat-ingat ….
Diakui, memang dari kecil saya dan adik-adik sudah dikenalkan dengan toko karena kita harus siap menggantikan bapak untuk makan siang, misalnya atau menyerahkan kunci toko dipagi hari, sekaligus bantuin bukanya walaupun bantuannya ringan saja sesuai fisik anak 8 - 15 tahun.
Mencatat uang masuk, belajar membungkus barang, memperhatikan barang-barang jualan, memperhatikan orang-orang dan lain-lain, itupun dikasih tahu caranya oleh bapak. Kalau liburan sekolah, kita beredar di pasar, jaga toko … yah sementara jadi “preman pasar” atau kita disuruh kursus. Tapi setelah pulang dari kursus, yahhh kita jadi “preman pasar” lagi :p
Buktinya, kita terkenal nih…. sampai saya pernah ditanya sama tukang pangsit, “Adiknya yang berdua kemana ?” Itu jika saya tidak membawa kedua adik saya ke pasar. Kalau kita bertiga di pasar dijamin digodain …
Dari balita, saya diajak oleh bapak kemana saja. Mulai membeli barang dagangan sampai cuma lihat-lihat doank. Nah soal lihat-lihat donk atau jalan-jalan tujuannya untuk melihat peluang usaha baru atau cari grosiran yang lebih murah dari toko langganan yang lama … nah yang ini baru saya mengerti setelah besar.
Jika seorang anak kecil atau anak remaja yang saya jumpai berjualan, apapun jenis jualannya akan saya tanyakan “asalnya dari mana?”. Bila dijawab “dari Padang”. Saya hanya menjawab “Oooo …. pantes”. Tapi kalau dijawabnya suku yang lain di luar orang Minangkabau, saya angkat jempol.
Dan masih banyak lagi. Bapak saya langsung memberikan praktek. Kalau diceritain berbentuk tulisan jadi panjang nih …..
Cara hidup orang Minang dengan orang Cina beda jauh banget. Akhirnya saya tahu bedanya.
Beberapa minggu yang lalu, diacara MoneyTalk MetroTV membahas buku tentang cara “Kaya Ala Tionghoa”.
Menurut saya, ada yang tidak dipunyai orang Minang tapi ada di orang Cina. Adapula yang dipunyai orang Cina dan orang Minang. Nah, simpulin sendiri ya .. mana bedanya, mana samanya.
Orang Cina itu hemat, sebelum kaya mereka makan bubur. Orang Minang tidak bisa melakukan hal tersebut. Miskin aja makan daging. Daging sapi/kerbau dalam kehidupan orang Minang adalah makanan segala-galanya, untuk menambah gengsi dan kelasnya.
Tapi pada masa sekarang, setelah banyak sekali orang Minang terkena penyakit “orang kaya” yang bisa menghabiskan uang penghasilan ”seumur hidupnya”, akhirnya mereka mau makanan yang sehat.
Orang Cina itu untuk urusan kesehatan, vitamin dan susu lebih penting. Biarkan saja rumahnya amburadul, jelek, bobrok yang penting urusahan kesehatan nomor 1.
Orang Cina itu pekerja keras. Mereka selalu memikirkan bisnis, urusan gosip, urusan orang lain berpoligami dan lain-lain ga ada dikamus mereka. Yang penting dagang. Istilahnya “emangnya gw pikirin”
Sewaktu Presiden SBY ke Bukittinggi, mengatakan “Enak ke padang, tidak ada yang demo”
Lah .. iyalah … ngapain bikin acara demo … kita lagi sibuk cari makan. Kan lebih enak cari duit dari pada demo yang ga ada “piti”nya.
Seingat aul ya.. waktu krisis ekonomi melanda Indonesia, orang Minang itu tidak ada yang protes atau teriak-teriak … adem ayemmm. Kalau bahasa sombongnya “Ga ngeffect krisis ekonominya sama kita”
Jika orang Cina menikah, si istri adalah segala-galanya. Ia harus bisa menjadi manajer keuangan yang baik. Soal urusan uang, rumah tangga, sang istrinya yang mengatur. Kas di toko yang ngurusin sang istri. Si suami mencari peluang-peluang baru di luar toko. Jadi hemat uang, tidak usaha sewa orang lain.
Kemudian lakukan konsilidasi ke dalam. Artinya semuanya pegawai dari top sampai ke bottom gunakan keluarga sekandung. Jadi kalau ada rahasia dijamin ga bocor kali ya.. dan lebih penting lagi hemat uang karena tidak menyewa mahal orang. Jangan heran kalau anak-anak mereka yang masih kecil-kecil sudah diajarkan berdagang bantuin orang tuanya.
Bapak saya melarang ibu ke pasar. Tugasnya ngurusin anak, makan dan rumah. Kalau ikutan juga ke pasar, nanti kebutuhan rohani, jasmani, kecerdasan anak dll tidak tertangani dengan baik. Hmmm … ada benarnya juga.
Ibu saya itu hemat walaupun kita makanannya setiap hari khas Minang tapi ditambah jatah setiap 1 orang 1 mangkuk bakso sayuran hijau, ga boleh nolak. Setiap hari harus minum susu dan vitamin, harus tidur siang, belajarnya harus on time. Walaupun makanannya seperti itu, ibu saya selalu punya uang saat keadaan sangat kritis. Sampai sekarang, bapak saya tidak percaya kalau ibu tidak punya uang. Kedua orang tua saya mempunyai peraturan harus nyuci dan setrika baju sendiri. Ada jadwal ngepel, nyuci piring dan masak setiap hari. Tidak boleh nolak.
Mudah-mudahan di masa depan bukan orang Minang dan Cina saja ada dimana-mana menguasai perekonomian Indonesia.
Sepertinya segitu dulu ….