Cinanya Indonesia

Ada tambahan julukan ke saya yang diberikan oleh teman-teman setelah 1 tahun krisis ekonomi melanda Indonesia. Julukan itu adalah saya “Cinanya Indonesia”.

Mula-mula saya sewot karena sudah “kenyang” dari kecil dikatain “Padang pelit” atau “Padang bengkok” sekarang “Cinanya Indonesia”. Walah…. apalagi ini. Dulu saya menganggap yang ngatain saya adalah orang kejam karena memfitnah tanpa alasan yang jelas. Karena saya TIDAK BEGITU. Jangan sama ratakan donk. Masak-masak apa-apa “Auliah, Padang pelit!”, “Auliah, Padang bengkok”. Sekali lagi FITNAH yang sangat keji.

Saat itu saya langsung protes keras karena tidak ada keturunan Cina dan saya BUKAN CINA.

Setelah saya tenang, mereka memberi penjelasan. Tapi dipikir lagi sih, dilihat dari warna baju adat, warna pelaminan, musik dan beberapa wajah dari saudara-saudara saya ada nuansa negeri tirai bambu tersebut. Kalau wajah saya sendiri lebih (katanya) ke wajah orang Timur Tengah atau orang Aceh.

Kembali ke teman-teman saya ….

Menurut mereka (saat itu), pribumi yang menguasai ekonomi Indonesia dan mudah-mudahan bisa mengalahkan Cina yaitu orang Padang - untuk seterusnya saya akan mengatakan “orang Padang” itu “orang Minang”

Masak sih …. ??

Buktinya … kata mereka. Dimana-mana yang berdagang itu orang Minang dan mereka menyatakan kebanggaan mereka. And then, saya diminta untuk mengajarkan cara berdagang.

*gdubrak

Walaupun saya bilang tidak bisa berdagang tetap menurut mereka … pasti punya bakat dan tidak mungkin orang tua saya tidak mengajarkan cara berdagang.

*Mikir lagi ….. ingat-ingat ….
Diakui, memang dari kecil saya dan adik-adik sudah dikenalkan dengan toko karena kita harus siap menggantikan bapak untuk makan siang, misalnya atau menyerahkan kunci toko dipagi hari, sekaligus bantuin bukanya walaupun bantuannya ringan saja sesuai fisik anak 8 - 15 tahun.

Mencatat uang masuk, belajar membungkus barang, memperhatikan barang-barang jualan, memperhatikan orang-orang dan lain-lain, itupun dikasih tahu caranya oleh bapak. Kalau liburan sekolah, kita beredar di pasar, jaga toko … yah sementara jadi “preman pasar” atau kita disuruh kursus. Tapi setelah pulang dari kursus, yahhh kita jadi “preman pasar” lagi :p

Buktinya, kita terkenal nih…. sampai saya pernah ditanya sama tukang pangsit, “Adiknya yang berdua kemana ?” Itu jika saya tidak membawa kedua adik saya ke pasar. Kalau kita bertiga di pasar dijamin digodain …
Dari balita, saya diajak oleh bapak kemana saja. Mulai membeli barang dagangan sampai cuma lihat-lihat doank. Nah soal lihat-lihat donk atau jalan-jalan tujuannya untuk melihat peluang usaha baru atau cari grosiran yang lebih murah dari toko langganan yang lama … nah yang ini baru saya mengerti setelah besar.

Jika seorang anak kecil atau anak remaja yang saya jumpai berjualan, apapun jenis jualannya akan saya tanyakan “asalnya dari mana?”. Bila dijawab “dari Padang”. Saya hanya menjawab “Oooo …. pantes”. Tapi kalau dijawabnya suku yang lain di luar orang Minangkabau, saya angkat jempol.

Dan masih banyak lagi. Bapak saya langsung memberikan praktek. Kalau diceritain berbentuk tulisan jadi panjang nih …..

Cara hidup orang Minang dengan orang Cina beda jauh banget. Akhirnya saya tahu bedanya.

Beberapa minggu yang lalu, diacara MoneyTalk MetroTV membahas buku tentang cara “Kaya Ala Tionghoa”.

Menurut saya, ada yang tidak dipunyai orang Minang tapi ada di orang Cina. Adapula yang dipunyai orang Cina dan orang Minang. Nah, simpulin sendiri ya .. mana bedanya, mana samanya.

Orang Cina itu hemat, sebelum kaya mereka makan bubur. Orang Minang tidak bisa melakukan hal tersebut. Miskin aja makan daging. Daging sapi/kerbau dalam kehidupan orang Minang adalah makanan segala-galanya, untuk menambah gengsi dan kelasnya.

Tapi pada masa sekarang, setelah banyak sekali orang Minang terkena penyakit “orang kaya” yang bisa menghabiskan uang penghasilan ”seumur hidupnya”, akhirnya mereka mau makanan yang sehat.

Orang Cina itu untuk urusan kesehatan, vitamin dan susu lebih penting. Biarkan saja rumahnya amburadul, jelek, bobrok yang penting urusahan kesehatan nomor 1.

Orang Cina itu pekerja keras. Mereka selalu memikirkan bisnis, urusan gosip, urusan orang lain berpoligami dan lain-lain ga ada dikamus mereka. Yang penting dagang. Istilahnya “emangnya gw pikirin”

Sewaktu Presiden SBY ke Bukittinggi, mengatakan “Enak ke padang, tidak ada yang demo”

Lah .. iyalah … ngapain bikin acara demo … kita lagi sibuk cari makan. Kan lebih enak cari duit dari pada demo yang ga ada “piti”nya.

Seingat aul ya.. waktu krisis ekonomi melanda Indonesia, orang Minang itu tidak ada yang protes atau teriak-teriak … adem ayemmm. Kalau bahasa sombongnya “Ga ngeffect krisis ekonominya sama kita” :D

Jika orang Cina menikah, si istri adalah segala-galanya. Ia harus bisa menjadi manajer keuangan yang baik. Soal urusan uang, rumah tangga, sang istrinya yang mengatur. Kas di toko yang ngurusin sang istri. Si suami mencari peluang-peluang baru di luar toko. Jadi hemat uang, tidak usaha sewa orang lain.

Kemudian lakukan konsilidasi ke dalam. Artinya semuanya pegawai dari top sampai ke bottom gunakan keluarga sekandung. Jadi kalau ada rahasia dijamin ga bocor kali ya.. dan lebih penting lagi hemat uang karena tidak menyewa mahal orang. Jangan heran kalau anak-anak mereka yang masih kecil-kecil sudah diajarkan berdagang bantuin orang tuanya.

Bapak saya melarang ibu ke pasar. Tugasnya ngurusin anak, makan dan rumah. Kalau ikutan juga ke pasar, nanti kebutuhan rohani, jasmani, kecerdasan anak dll tidak tertangani dengan baik. Hmmm … ada benarnya juga.

Ibu saya itu hemat walaupun kita makanannya setiap hari khas Minang tapi ditambah jatah setiap 1 orang 1 mangkuk bakso sayuran hijau, ga boleh nolak. Setiap hari harus minum susu dan vitamin, harus tidur siang, belajarnya harus on time. Walaupun makanannya seperti itu, ibu saya selalu punya uang saat keadaan sangat kritis. Sampai sekarang, bapak saya tidak percaya kalau ibu tidak punya uang. Kedua orang tua saya mempunyai peraturan harus nyuci dan setrika baju sendiri. Ada jadwal ngepel, nyuci piring dan masak setiap hari. Tidak boleh nolak.

Mudah-mudahan di masa depan bukan orang Minang dan Cina saja ada dimana-mana menguasai perekonomian Indonesia.

Sepertinya segitu dulu ….

24 comments ↓

#1 apung on 03.03.07 at 12:19 am

wah calon saya orang padang.. gimana dong? pelit sih emang, tapi gimana lagi??

#2 cahyo on 03.04.07 at 7:09 pm

berarti kultur yang membentuk orang padang & cina hebat dalam berdagang/bisnis? gitu ya?

#3 auliahazza on 03.04.07 at 10:19 pm

@Apung : ditanyakan dulu ke dia kenapa pelit. Pelit sama hemat beda tipis

@Cahyo : hmmm mungkin… mungkin juga karena faktor lingkungan atau yang lain. Nanti aul tanyak ke yang ahli

#4 fazlurrahman on 03.05.07 at 8:19 am

kalo nggak salah ada 4 petuah mamak minang sebelum anaknya pergi merantau… apa aja tuh …lupa neh..
kalo nggak salah 1) jangan tinggalkan sholat kecuali terpakso… seterusnya lupa …

#5 apung on 03.09.07 at 2:49 am

@aul: haha.. iyah, hemat mudah2an aja..

@fazlurrachman: kenalin dong sama “cut” nya mas?

#6 auliahazza on 03.11.07 at 8:23 pm

@faziurrahman
1. Jangan tinggalkan sholat (tidak ada ceritanya tinggalkan sholat karena terpaksa, jadi harus sholat walaupun dengan alasan apapun juga)
2. jangan berkeluyuran atau membuang-buang waktu dengan orang-orang yang ga jelas
3. Anggaplah induk semang (majikan) sebagai orang tua kandung (ibarat pepatah kalau pandai berinduk semang lebih rasanya daripada mande kanduang)
4. hemat-hemat dirantau orang
5. bangkitkan batang tarandam artinya mungkin kita berangkat dari kampung sebagai orang susah mudah-mudahan ada rezeki yang diridhoi oleh Alloh jadi orang yang bercukupan (batang tarandam artinya kalau dizaman dahulu, orang mau bikin rumah menebang kayu untuk rumah tidak akan segera digunakan sebelum direndam didalam air atau didalam kolam agar kuat beratus-ratus tahun)

#7 apung on 03.22.07 at 1:35 am

4. hemat-hemat dirantau orang

#8 apung on 03.22.07 at 1:37 am

eh ada yang kurang..
4. hemat-hemat dirantau orang (ini bedanya sama pelit tipis.. kekekeke)

#9 auliahazza on 03.22.07 at 6:55 pm

@Apung …
Ya.. :D beda tipisnya setipis rambut =))

Begini …
Gajian orang pedagang sama orang pegawai itu beda.
Orang pegawaian sudah pasti bulan depan dia dapat gaji sekian. Kalau tekor kan bisa pinjam uang koperasi pegawai kan ….

Kalau pedagang itu, belum tentu pendapatannya.
Misalnya : Hari ini dapat Rp. 10.000, besok Rp. 5.000, lusa bisa dapat Rp. 0

Kalau hari ini dihabiskan untuk hari ini juga, kan kita tidak tahu apakah hari esok dapat Rp. 10.000 … iya kan… apa lagi lusa …

Kalau modelnya hari ini dihabiskan, besok dipikirkan nanti.. tunggu kelaperan aja deh..

Nah, agar tidak tekor, dihemat-hemat. dibagi-bagi tuh uang. Misalnya : yang dari Rp. 10.000 itu dibagi 10 % untuk makan, 10% untuk bayar sewa toko (kalau sewa), 10% bayar listrik, 10% bayar telepon, 10% bayar pegawai dan seterusnya.. sampai 10% untuk ditabung dan 10 % dll.

Kalau suatu hari tidak dapat pemasukan, si pedagang bisa mengambil dari 10% yang dll..

Kalau pegawai bisa saja menggunakan sistem pembagian tersebut, tapi kan pasti hitungannya … ;))

#10 Bahasa Rahasia » diary ku on 09.05.07 at 1:41 am

[…] Paling enak orang Cina. Karena orang Indonesia masih jarang mengerti bahasa negara tirai bambu tersebut. […]

#11 naina on 12.28.07 at 7:05 pm

walau saya tidak dibesarkan diranah minang, namun orang tua asli minang. menurut saya tidak semua orang minang itu pelit. mereka mungkin sangat berhitung dalam berdagang tapi dalam hal sosial mereka juga sangat dermawan, hendaknya tidak menyamaratakannya, harus dilihat dalam konteks apa? jika memang ada yg begitu pasti hanya satu dua dan jangan semua kena getahnya, jikapun ada yg begitu pasti mereka punya alasan, sejarah hidup yg pahit dsb, dan bukan berarti minang itu pelit,busuk dan jahat. sependek pengetahuan saya, setiap suku itu punya sisi positif dan negatif, saya tidak tahu kena ada justifikasi yg sangat memojokkan kami orang minang, orang yg pelit?jika suku lain menilai begitu, berarti mereka etnosentrisme, seolah2 suku mereka saja yg baik. itu pandangan yg amat sempit. saya berkata bukan membela suku saya tapi hendaknya kita jangan menilai sesuatu yg hanya diketahui sedikit dan langsung memvonis kami2 ini orang minang pelit! itu sangat menyakitkan…baik2nya kita sama menyadari bahwa baik untuk suku lain belum tentu baik untuk suku yg lain, jangan melihat dari sudut pandang kita sendiri, tapi lihat juga dari sudut pandang mereka yg menjalankan (orang2 antropologi budaya pasti tahu..)yang saya tahu tidak semua orang minang itu pelit..

#12 auliahazza on 12.31.07 at 2:38 am

@naina : yap betul banget … :D Yang pernah kali nyebut padang itu pelit siapa yach …. ? ada yang tahu ?

#13 ita on 01.24.08 at 8:18 pm

apa bener kagak ngefec adanya krisis ekonomi

#14 auliahazza on 01.25.08 at 3:51 am

@ita : Kena krisis ekonomi tapi sedikit, masalah saudara-saudara saya ga ada yang ngeluh. Kita juga ga pake acara “berisik”, ga protes, ga demo. Seingat saya waktu krisis ekonomi, saya tidak pernah lihat di televisi tidak ada orang minang protes demo seabrek-abrek untuk urusan ekonomi. Tidak teriak-teriak, “tolong pemerintah pusat!!”

#15 cath on 05.08.08 at 2:05 am

nice artikel…

http://sutanmudo.co.cc

#16 ta on 06.30.08 at 1:03 am

yup emang betul slma ni gw lihat orang minang ga pernah tu demo.orang minang ga mo ngurusin yang gitu2 an. mending ngrusin keluarga, lanjutin hidup gimana biar lebih baik ke depannya ntar.and satu lagi klo emang orang padang itu pelit wajar aja, sebab orang minang cari duit nya cara merantau betul ga temen2?

#17 auliahazza on 06.30.08 at 5:27 pm

@ta : betul banget. iya cari duitnya dapatnya ga pasti, hari ini dapat banyak, besok belum tentu dapat banyak juga. Kalau pegawai kan udah pasti, setiap bulan sekian ….

#18 herik on 11.02.08 at 2:25 am

Setahu saya, orang minang itu suka bangga2in anak :) kalo anak2nya sukses (baca:banyak duit) wah pasti diomongin terus.. hehe bener gak sih?

Sepertinya orang minang sekarang harus banyak mencontoh orang minang jaman dulu (agus salim, natsir, hatta, dll) yang tidak cuma memikirkan ‘pitih’ doang tapi juga kemajuan bangsa.. hehe tau’ ah

#19 auliahazza on 11.03.08 at 12:20 am

@herik : iya tuh, sudah beberapa tahun terlalu matre amat. tapi kalau dilihat sisi positifnya bagus juga sih, untuk memicu teman-teman lainnya giat bekerja.

Ya, zaman telah berubah … gdubrak … tantangan dan masalah semakin besar :D

#20 frety. rose on 01.18.09 at 9:07 pm

q punya cow..dia hobi bgt manggil q cina..
tp q sbr ja..abzzzz mau dapain..
mudah2an keturunan q gk mirip kyk cina sm sprt q..
moga mirip cln pa2na yg cuakep…,..

#21 padangnese on 08.27.09 at 3:26 am

dari 20 orang padang yang saya kenal, semuanya irit banget, tapi sebenernya bukan irit, tapi pelit. padahal udah domisili di ibu kota sejak lahir. berarti penyakit itu sudah mendarah daging dunk.

#22 auliahazza on 09.18.09 at 5:53 am

@padangnese : gimana yah … berdagang itu setiap hari ga tentu dapatnya, pedagang itu bukan peramal yang tahu besok dapat berapa rupiah. tapi mereka kaya kan yah ?

#23 Bingung on 10.08.09 at 11:37 pm

Setelah lewat lebih dari seminggu sejak bencana gempa meluluhlantakkan ranah Minang, saya belum sempat juga menyisihkan sedikit piti yang saya miliki untuk para korban. Hal ini agak berbeda dengan ketika bencana serupa melanda daerah Jawa Barat beberapa waktu sebelumnya. Maaf, bukan apa-apa, tapi saya agak berat untuk berusaha meringankan beban para korban selamat, yang nyata-nyata telah kehilangan harta dan keluarga mereka. Mungkin alasan utamanya adalah yang sedang dibahas di artikel ini.

Padahal istri seh udah bilang ama saya: “Klo mo nyumbang ya nyumbang aja, jangan ngeliat dari sisi itu (baca: rumor tentang pelitnya urang awak)”. Lebih lanjut bini bilang: “Toh tiap suku ada sifat buruk dan baiknya masing2″. Gitu dia bilang.

Jadi, ya mungkin saya pending dulu nyumbangnya. Yang jelas, duit saya juga gak seberapa… :(

#24 auliahazza on 10.09.09 at 5:13 am

@Bingung : coba usaha berdagang, Bingung akan bisa merasakan bagaimana susahnya berdagang dan Bingung pasti bisa memahami.

Sebenarnya kurang tepat untuk “SUKU”. Tepatnya semua orang itu mempunyai sisi buruk dan baiknya. Ada yang pelit tapi dia bukan orang Minang.