Dahulu kala, ada permasalahan di Istana Pagaruyung atau Kerajaan Minangkabau yang tidak bisa dipecahkan atau tidak bisa mencari jalan keluarnya oleh Raja Pagaruyung dan bertanyalah raja tersebut kepada yang hadir termasuk hulu balang. Karena pertanyaan yang diajukan tidak bisa dijawab oleh yang hadir maka sang Raja bertanya kembali kepada yang hadir. Dari daerah mana saja yang belum hadir atau duduk di dalam Rumah Gadang. Dan menjawablah yang hadir termasuk hulu balang “Yang belum keliatan adalah dusanak (saudara) kita yang dari Silungkang.”
Maka raja memerintahkan kepada utusan pribadinya untuk menjemput empat penasehat raja yang orang Silungkang ke kampungnya. Utusan pribadi sesampainya di Silungkang tidak mengatakan apa urusannya sang Raja memanggil mereka. Pergilah 4 orang penasehat raja asal Silungkang dan 1 orang utusan pribadi ke Istana Pagarayung dengan berjalan kaki selama 1 minggu.
Setelah hadir penasehat raja asal Silungkang dan duduk bersama di dalam rumah gadang maka raja mengemukakan permasalahan maka menjawablah satu orang penasehat asal Silungkang. Usulan yang diajukan oleh penasehat asal Silungkang disetujui oleh Sang Raja Pagarayung. Raja pun puas.
Kemudian Raja bertanya kembali kepada masyarakat yang hadir, penghargaan apa yang akan diberikan oleh Kerajaan Pagaruyung kepada masyarakat Silungkang atas solusi yang telah dipecahkan oleh masyarakat Silungkang yang diwakilkan oleh empat penasehatnya itu.
Maka para hadirin yang hadir di rumah gadang mengatakan berilah gelar yang tak lekang dipanas dan yang tak lapuk oleh hujan maka gelar tersebut adalah seseorang atau laki-laki yang lahir dipanggil datuk untuk panggilan sehari-hari.
Sumber : dari nenek-nenek moyang masyarakat Silungkang.






