Dilarang Merokok

Ada seorang bapak yang datang ke tempat saya dan membaca tulisan “DILARANG MEROKOK”. Berujarlah beliau kepada saya,

Dulu, kalau membaca “DILARANG MEROKOK”, saya sedih sekali karena tidak boleh merokok. Tapi sekarang, saya senang sekali ada tulisan seperti itu karena untuk kesehatan kita bersama. Si aktif juga kena penyakit bahkan yang pasif lebih parah lagi efeknya. Apalagi saya punya anak-anak harus dijaga kesehatan demi masa depan mereka.”

Suaranya mula-mula senang tapi pas diakhir kalimatnya berubah sendu.

Saya menaruh himbauan “DILARANG MEROKOK” di dinding bukan tanpa alasan. Kita pasti sudah tahu semua bahayanya merokok baik bagi si pasif dan si aktif. Saya tidak setuju kalau disediakan ruangan khusus untuk siperokok. Kalau pun ada pasti saya buatkan ruangan super tertutup tanpa kipas pembuang. Biar nyaho.

Dulu, sewaktu pulang pergi dari Bekasi ke Tebet Timur untuk sekolah SMP, pagi hari yang segar, matahari masih malu-malu, banyak sekali orang kerja membakar tembakau di dalam bis yang padat. Orang-orang seperti kumpulan ikan Sarden di dalam kaleng. Saya suka sekali bau cigarette sewaktu disulutkan pertama kali oleh api. Baunya itu lho sangat harum. Kadang-kadang saya menghirup sangat dalam tanpa sepengetahuan si empunya. Waktu tiga bulan sangatlah menyenangkan dengan bau itu.

Saya tersentak kaget ketika salah seorang teman wanita satu kelas memberitahukan bahkan menjurus menuduh “Auliah, kamu merokok ya ?”. Langsung saya jawab, “Tidak ! Kenapa ?”. “Baju kamu bau rokok !”, katanya lagi. Saya cium baju, iya benar bau rokok. Baunya membuat hidung saya sakit. Pikir-pikir asal bau rokok ini darimana ya ? Padahal dari rumah sudah wangi dan segar. Aha, saya ingat ! Tadi di bis ada beberapa laki-laki merokok, hmm asapnya yang menempel ke baju. Waduh, gawat … Saya katakan ke teman saya “Tadi ada beberapa laki-laki merokok di bis”. “Ohh …,” kata teman saya bulat.

Semenjak pemberitahuan itu, sesekali saya mencium baju saya sampai berada di rumah. Percuma donk kalau dari rumah wangi tapi ga sampai 5 menit udah bau rokok.

Aku benci asap rokok !!!

Nah, cerita diatas tidak begitu besar kali ya efeknya, cuma saya setiap hari ditanyain terus sama teman saya itu “Auliah, bajunya masih bau rokok ya ?” Lama kelamaan teman-teman satu kelas tahu semua bahwa baju Auliah setiap hari bau rokok.

Email dibawah ini dampak efek berat dari merokok. Yang terkena si pasif. Subject email tersebut “True Story” dari Aris di milist femaleafterhours tertanggal Wed Sep 29, 2004

*Adakabar menggemparkan di kantorku belakangan ini. Tiba-tiba saja Ibu Manajer Produksi kami divonis menderita kanker Paru-paru stadium 3B dengan masa hidup diperkirakan 5 bulan lagi.*

*Sekitar 3 minggu yang lalu, Beliau memeriksakan diri ke poliklinik Kantor karena mengeluh sesak nafas. Awalnya sesak nafas hanya terjadi pada saat berbaring untuk tidur di malam hari, yang dipikir karena kecapekan. Lama kelamaan, sesak nafas juga terasa ketika berkerja di kantor. Karena itulah akhirnya memutuskan untuk ke poliklinik. Dokter poliklinik bilang tidak apa-apa, tapi Mira W pengarang yang juga dokter menyarankan beliau untuk foto X. *

*Hasil foto tersebut cukup mengagetkan karena ada bercak di paru-paru. Ternyata ada 1 liter air di dalam paru-paru, yang disebut terkena paru-paru basah.*

*Sejauh yang banyak orang ketahui, paru-paru basah biasanya disebabkan karena sering berpergian pada malam hari, sering bertelanjang dada apalagi tersorot langsung kipas angin. Tapi Beliau ini tidak pernah begitu.*

*TERNYATA menurut dokter, penyebabnya adalah kerena beliau adalah PEROKOK PASIF.*

*Beliau tidak merokok, suami dan anak juga tidak (lingkungan rumah tidak ada asap rokok), tapi … Memang di kantor selama bertahun-tahun, beliau terpaksa menghirup asap rokok dari teman-teman kantor apalagi kantor ber-AC.*

*Sampai saat ini, beliau sendiri tidak merasa ada penyakit fisik yang berarti. Setelah disedot itu, bahkan merasa bernafas lebih lega.*

*Tapi ternyata, setelah dilakukan citiscan, dokter menyuruh untuk melakukan sedotan lagi, dan hasilnya keluar lagi cairan sebanyak 1,4 lt.*

*Katanya, Kanker paru-paru memang seperti PENCURI yang benar-benar tidak terlihat gejala-gejala apapun, tau-tau udah PARAH banget.*

*Bayangkan saja sudah stadium 3B, Beliau tidak merasa sakit serius?!*
*Kita semua ingin Tidak Percaya dengan diagnosis dokter, apalagi melihat penderita kok sepertinya sehat2 saja.*

*Tapi sayangnya, beliau sudah tanyakan ke beberapa teman dokternya, dan jawabannya sama.*

*Dan, semoga sharing ini bisa menggugah teman2 yang merokok untuk STOP SMOKING atau setidaknya mulai sekarang punya kesadaran untuk TIDAK MENCELAKAKAN ORANG LAIN, yang mungkin saja adalah salah satu dari ibu, anak, adik, kakak atau teman Anda. ;)*

Terima kasih.
Trims,
Aris ga pake H

Ada satu lagi “True Story”. Seorang penjaga Wartel, juga kena kanker paru-paru stadium 4. Sama seperti cerita di atas. Dia dan keluarganya tidak merokok tapi para pelanggan Wartel lah yang merokok. Padahal Wartelnya ada AC. Saya ga tahu ya.. kenapa orang Indonesia di ruangan ber AC tetap merokok !!! Padahal mereka tahu kalau di ruangan ber AC dilarang merokok. Kita yang buta mata dan hati atau kita memang bego atau kita memang suka mencelakakan orang lain atau tidak punya rasa perikemanusiaan ?!!!

Si penjaga Wartel ini, makan aja susah apalagi untuk berobat untuk penyakit yang tunggu mati. Dia tidak bisa minta pertanggung jawaban dari para pelanggan karena yang menggunakan Wartel suka ganti-ganti. Dan dia tidak tahu efek dari rokok sebegitu besarnya. Maklum dia orang kecil yang jarang membaca, mendengarkan televisi, cari-cari informasi.

Tapi nasi telah menjadi bubur kan !!??

Sebelum nasi menjadi bubur. Cobalah para perokok dengan sekuat tenaga untuk menghentikan merokok. Kalau ga bisa pelan-pelan. Coba dicamkan dalam pikiran, bayangkan wajah-wajah orang tercinta. Kalau merokok yang paling parah terkena adalah orang-orang tersayang. Toh, uang yang dikeluarkan untuk berobat tidak sebanding dengan kenikmatan merokok yang sesaat. Bahkan nyawa taruhannya.

Dulu Bapak saya perokok berat. Semenjak menikah dengan ibu saya yang kebetulan tidak suka sama asap rokok, Bapak berusaha tidak merokok di dalam rumah dan sekitarnya.

Semenjak mempunyai anak, Bapak saya dengan tekad bulat berhasil menghentikan merokoknya. Kata beliau demi anak-anak dan istrinya. Uangnya bisa buat makan lagipula ga kenyang kok kalau merokok.

Berita terkait :

Perokok Second Hand

Banyak Alasan Untuk Berhenti Merokok

Sakit Kok Ngajak-Ngajak

0 comments ↓

There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Leave a Comment