Saudara si Anu dan Anu

Sebenarnya saya paling sebel kalau berurusan dengan birokrasi pemerintahan harus nyebutin “saya itu saudaranya pejabat si anu dan anu”.

Pelajaran pertama dengan menyebutkan “saudaranya si anu dan anu” sewaktu Bapak saya masuk rumah sakit di bilangan Bendungan Hilir.

Bapak saya sih cerita sama suster atau dokter di sana kalau beliau itu dari masa remajanya memang main di lapangan sepak bola Rumah Sakit itu, kenal si A dan si B. Memang sih, si A dan si B atau sampai si Z kerja dan menjadi orang terpandang di rumah sakit tersebut. Terus beberapa mantan murid saya adalah pegawai rumah sakit tersebut plus saya lahir di sana juga.
Gw aja dengernya sebel banget. Apa hubungannya ?!!

Nah, itu awal nginap di rumah sakit tersebut. Setelah ada masalah dengan kelamaan Bapak saya nginap di rumah sakit tersebut dipanggillah saudara yang jadi dokter di rumah sakit bilangan Grogol.

Gw aja ditegur sama saudara, “Auliah kenapa sih tidak bilang kalau kita itu saudara si Anu dan anu, Kepala Rumah sakit ini masih saudara kita ?!”

Gw tanya, “Apa hubungannya ?”

“Minimal kita diperhitungkan dan mereka harus bersikap hati-hati”

“Oh …,” bulat kata gw

Lima tahun kemudian, Bapak saya nginap lagi di rumah sakit itu dan langsung dibilangin ke gw sebagai anak tertua.

“Auliah, kita punya saudara yang sekarang jadi orang nomor satu di negeri ini dan dokternya pribadinya juga orang sini”

“Oh …,” kata gw bulat. Dan seperti biasa gw ga ngomong tuh sama seantero rumah sakit dan yang ngomong orang lain :p

Nah, tahun 2007, adik aul punya masalah dengan pihak kepolisian Bintaro alias dipersulit. Surat pemblokiran atas kasus pencurian sepeda motornya belum keluar juga padahal itu untuk ngurusin asuransi.

Akhirnya dengan sangat terpaksa, keluarga gw pake jurus pamungkas … :P

“Kita itu punya ipar orang Brimob, ada yang Brigjen, ada yang Kapten … dan lain-lain …, mau main-main sama anak kolong !!”

*gedubrak*

0 comments ↓

There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Leave a Comment