Minggu kemarin, naik Kopaja jurusan Tanah Abang - Blok M. Ada pengamen hmmm … ga ngamen sih karena ga punya alat musik, ga nyanyi cuma berkata-kata “Saya tidak makan …. bla-bla … ibu dan bapak-bapak, adik-adik, kakak-kakak sekalian mendermalah … bla-bla”. Suaranya sangat keras.
Kalau kata-kata tersebut, sudah pernah saya dengar, untungnya dia cuma seorang. Dulu banget ada 4 orang, ihhh mukanya pada sangar-sangar, kumuh, beringas, rambut panjang ga keramas, ucapannya mengancam. Jadilah rata-rata penumpang di bis tersebut pada ngasih, spesial perempuan.
Minggu yang panas itu, dia membawa ular coklat yang melingkar di tangan kirinya. Dia memang menekan mulut si ular agar tidak mengeluarkan lidahnya, mungkin juga teknik untuk mendiamkan ular.
Saya takut bukan sama si pengamen tapi sama ularnya. Saat itu saya duduk dekat pintu, pas didepan banget si pengamen.
Kalau si pengamen itu badannya menghadap ke saya, ularnya melihat ke saya. Glek ….
Saya melihat ibu yang duduk di samping saya. Ibu itu juga takut, saya hanya tersenyum getir dan berkata pelan “Ada ular …”
Setelah dia sudah selesai bertutur kata yang gw udah ga dengar lagi apa isinya, si pengamen ini minta duit, sekaligus melonggarkan tekanan tangannya di mulut si ular. Karena saya lihat, si ular bergerak.
Pas si pengamen itu minta uang ke saya, langsung saya kasih uang yang sudah disiapkan dari awal melihat ular ditangannya. Begitu juga ibu disamping saya.
Ularnya itu juga melihat saya … glek lagi … lemes deh …
Nah, semakin lemes dan kaget banget, tiba-tiba badan belakang saya kena sesuatu.
Untungnya cuma tas orang yang kepentok badan. Kalau ular … glek deh ….
Kalau yang seperti itu ngelapornya dimana ya ? masalahnya hal itu bisa dibilang menganggu ketertiban umum dan mengancam melalui binatang buas serta membahayakan keselamatan orang.






