Sarapan pagi keluarga saya dimulai dari ibu. Ibu bisanya bangunnya lebih awal, bisa jam 3 atau 4 bahkan 4.30 malam. Beliau biasanya ke dapur, bikin teh, susu, masak air. Sambil menunggu air masak dan segala bahan untuk membuat teh dan susu sudah disiapkan tinggal menyeduh, ibu menghidupkan televisi. Beliau biasanya nonton acara keagamaan. Kalau sudah bedug, beliau sholat dulu.
Agar semua penghuni itu bangun untuk sholat Subuh, beliau mengeraskan suaranya. Jangan-jangan terdengar sampai keluar rumah
Tapi berhasil dengan cara seperti itu
Setelah air mendidih, susu dan teh sudah siap. Beliau masak nasi. Atau masak nasi goreng yang diberi kecap atau nasi goreng putih tanpa kecap. Tapi masak dua nasi goreng tersebut jarang juga. Kalau tidak membuat nasi goreng, kita makannya pake lauk yang kemarin malam dengan catatan tidak basi atau dipanaskan setelah dari kulkas.
Kita memang sejak kecil diharuskan sarapan pagi berbentuk padat dan cair. Kata beliau, jika kenyang belajar lebih konsentrasi. Oh, ya sambil melakukan aktivitas di dapur, beliau tetap menyalakan televisi dengan volume besar.
Kalau Bapak bangun, setelah melakukan yang menjadi kewajiban umat muslim segera mengganti channel televisi ke berita. Siaran berita ini bisa sampai jam 7 pagi dengan channel televisi yang berbeda-beda. Semua berita di stasiun televisi, beliau suka dan pasti ditonton, minimal didengar jarak jauh.
Ya, jarak jauh karena ditinggal pergi untuk menyiram tanaman dan teras depan. Soal suara televisi, so pasti tetap gede.
Kalau saya … hehehehe … biasa, Islam … terus tidur lagi. Bangun lagi jam 6 pagi terus makan dan minum. Kemudian, beresin tempat kerjaan.
Jam 7 nonton film kartun, hanya 30 menit
Spesial hari Jum’at, pagi-pagi sudah baca koran. Hari minggu, ibu nonton acara masak-masak.









0 comments ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.
Leave a Comment