Saya sebenarnya ga begitu suka nonton film di bioskop bareng-bareng sama orang yang dikenal. Misalnya adik, saudara, tante, teman-teman apalagi sama doi.
Pertama kali nonton bioskop sewaktu SD kelas 3 di Adi Theater Pasar Blok A, Jakarta Selatan. 1 sekolahan, dari kelas 1 s/d 6, numplek disitu untuk nonton film G 30 S/PKI.
Nonton filmnya ga konsentrasi, pada ribut, disebelah kiri saya ada yang ngomong terus selama film diputar. Yang sebelah kanan, mulutnya berisik ngunyah makanan. Pokoknya “rebek” deh.
Soal tempat duduk. Setiap orang punya tempat duduk favorit di bioskop. Ada yang senang nonton paling depan, ada yang ditengah, ada yang suka dipojok atau paling atas. Sometime kita harus ngalah untuk mengikuti suara terbanyak.
Kalau saya senang duduk paling atas tapi tidak dipojok tapi juga tidak dipinggir. Memilih tempat tersebut karena ga kehalangan orang. I don’t care tentang rumor duduk paling atas. Selama duduk di atas tidak ada aktivitas yang mencurigakan dan tidak ada yang menganggu. Saya nyaman-nyaman saja. Rumornya, katanya banyak orang pacaran kalau duduk paling atas.
Alasan orang memilih tempat duduk suka membuat saya geli. Misalnya :
Kalau duduk ditengah, nanti lehernya sakit karena menengadah terus. Juga terganggu sama orang lewat-lewat, masak “gue nonton kepala orang”
Kalau duduk paling atas, nanti pipisnya susah (loh.. kenapa ga pipis sebelum film mulai kecuali memang beseran
)
Atau matanya sudah min, ga seru kan kalau wajahnya ga begitu keliatan atau translatenya rada-rada burem (kenapa ga bawa kacamata ?)
Kalau duduk paling depan, lebih menengadah. Juga filmnya kok jadi kebesarannya banget.
Kalau duduk paling pinggir, ga enak masak nontonnya miring sih, pengennya lurus.
Duduknya senang dekat tangga karena kalau mau pipis gampang keluar, ga repot bilang permisi ke orang-orang.
Nah, sekarang waktu mulai film diputar.
Saya paling sering kaget waktu film baru diputar, itu lho yang muncul logo pembuat film tersebut. Sering diketawain sih. Akibatnya jantung saya bisa berdebar sangat kencang.
Setelah masuk filmnya, sebelah kiri saya ada yang nerangin isi film dan pemainnya. Aduh.. saya kan ingin nonton bukan dengarin cerita, kan jadi ga seru kalau udah tahu isinya secara detail. Atau dengerin cerita pemainnya.
Soal pemain film, pernah saya tanya Tom Cruise itu yang mana ? Walaupun Tom Cruise tenar dimata cewek, tapi gue sebagai cewek ga jelas tuh Tom Cruise itu facenya kayak apa ? Katanya ganteng yach ? Sampai cewek-cewek teriak histeris.
Waktu lihat nonton Vampire (apa gitu namanya) bermain sama Brad Pritt (nah, yang ini idem deh saya ga tahu wajahnya), ditunjukin yang mana Brad Pritt dan Tom Cruise. Komentar saya … yach, gitu deh …
Soal bercerita saat pemutaran film, pernah saya tanya cuma 1 kali tapi dijawab panjang banget hampir 20 menit pemutaran film, cerita terus. Karena kesal tidak bisa konsentrasi pada apa yang ditonton walaupun ga suka filmnya, saya langsung bilang “Bisa ga kalau nontonnya diam!”
Nonton film Vampire itu bukan pilihan saya, karena ceritanya dari zaman dahulu kala ya .. begitu aja, sudah tahu endingnya. Tapi karena ada yang suka sama Brad Pritt dan Tom Cruise serta argumen dia lebih kuat juga ga ada film yang bagus saat itu ya.. ditonton aja.
Nonton bioskop itu mahal kan ?! Kenapa kita harus diganggu oleh sesuatu yang GA PENTING. Kita ingin menikmati suatu karya seni, karya cipta yang susah payah dibuat tanpa ada halangan. Itu yang saya inginkan.
Di bioskop sudah tercantum larangan menghidupkan HP. Sayangnya, kita jarang mematikan HP. Terus terang banget, sinar dan suara HP itu menganggu sekali dan mengurangi konsentrasi.
Karena sering banyak gangguan, saya lebih memilih nungguin ada di televisi. Biarin saja suaranya ga stereo atau kalau dibesarin ada yang marah. Yang penting puas …
Jadi yang ngajak nonton bareng … nehi deh ….







5 comments ↓
“Sekarang banyak orang sudah punya HP, di bioskop sudah tercantum larangan mematikan HP. Sayangnya HP tidak dimatikan saat menonton. Terus terang banget, sinar dan suara HP itu menganggu sekali. Menganggu konsentrasi.”
Kayaknya ada yang kebalik deh…
@Adis : sudah saya koreksi kalimatnya, terima kasih
maksud saya kalimat yang ini “Di bioskop sudah tercantum larangan mematikan HP”.
oo, yap salah ya … ok tq harusnya “dilarang menghidupkan HP”
oo, yap salah ya … ok tq harusnya “dilarang menghidupkan HP”
Leave a Comment