Entries from August 2007 ↓

FlashDisk

Saya tidak tahu sebabnya, kenapa flashdisk bisa membuat usb saya hang.

Biasanya, flashdisk dicolokin ke usb terus di terminal ketik lsusb kemudian tekan enter. Jika mentok di kata lsusb, no moving, berarti usb saya hang. Nah, kalau begitu saya ga bisa print. Saya ga tahu cara lain untuk menormalkan usb yang hang selain di restart ulang. Parahnya kalau sedang full tempat saya. Ya, jadi saya nungguin habis semua, baru restart dulu. Rugi ya .. menolak untuk print. Ya .. gimana lagi printer saya pake usb, terus usbnya masih hang.

Ngomong-ngomong ada yang tahu caranya selain direstart ? Kalau direstart ulang tampilan dilayar ada tulisan mount 2 : … busy, unmount : …. busy. See, si flashdisk masih meninggalkan jejak di usb saya dan masih berstatus super sibuk.

Ada sih cara yang lain, saya harus mengupgrade LTSP dengan versi terbaru agar bisa mengakses flashdisk dan CD di komputer client. Tapi saya belum bisa LTSP

Seringkali yang punya flashdisk bersikeras untuk memindahkan ke colokan usb yang lain. Saya punya colokan usb ada 8. Ok, saya setuju saya pindahkan, tapi tetap lho. Iyalah ‘kan lsusb yang tadi ga jalan-jalan. Malah, pernah berdebat …. Saya kan jadi marah “Kalau ga bisa ya ga bisa … jangan maksa donk .. cari tempat lain aja !”

Kata mereka di rumah bisa kok. Mereka rata-rata memang pake Windows. Sering kali ga kedetect, cabut, colokin lagi, ga detect, cabut, colokin lagi. Gitu aja terus.

Ada yang punya flashdisk, di rumah memang begitu mbak, nanti lama kelamaan nonggol juga. Woowww, duh komputer (?) saya ga bisa digituin.

Tapi ada juga, usbnya it’s ok kalau di lsusb tapi lambang usbnya ga muncul di desktop. Ditungguin juga ga muncul-muncul. Ga tahu deh kenapa tuh.

Flashdisk yang bagus menurut software di komputer saya, jika dicolokin di usb langsung nonggol lambang kotaknya.

Terus ada pengaruhnya ga ya .. kalau di flashdisknya mempunyai virus yang membahayakan, terus virusnya berusaha masuk ke Fedora (Linux). Nah, karena ga bisa masuk lebih dalam lagi ke Fedora, mereka pada ngumpul di usb yang mengakibatkan hang ?

Uangku Jelek !!

Uang RI kenapa jarang yang cakep ya … jika sudah beredar dari tangan ke tangan. Dari bank, mulus, bagus, ga lecek, bersih tapi sudah pindah tangan ada saja yang berubah.

Parahnya uang RI yang sobek terus disambung menggunakan silotip sedemikian rupa masih bisa jadi alat pembayaran.

Bukan sobek saja, ada yang sengaja disundut dengan rokok, bekas steples, ada tulisan “I love Dian”, “Wayang orang”, “Fuck you”. So what gitu lho … !!! Rupanya kita memang hobi “meninggalkan jejak” selain di pohon, di dinding gua, di batu, tembok rumah.

Ada juga robekan dipinggir uang.

Duh, kalau ga teliti dan diterima sahlah menjadi pembayaran transaksi pembelian/penjualan.

Sudah 3 bulan saya menerima uang yang diselotip. Jadi saya harus mencek bolak balik. Kalau ada sobekan, disilotip, saya ga terima. Terus ada uang sudah “Dekil of de kumel”. Ihhh …. jijik kalau megangnya. Kalau di mikroskop udah berapa juta bakteri yang ngendon disana. Apalagi uangnya untuk nutupin mulut jika batuk atau bersin. Yeaakkk ….

Kalau uang Rp. 100.000 model plastik saya ga terima kalau sudah disteples apalagi ada bekas sobekan ditengah.

Kita punya kebiasan meremek (apa ya istilahnya) atau membuat kusut, dibuntel-buntelin, dilipat-lipat. Duh …

Belum lagi kita harus hati-hati, jika ada uang besar, apakah uangnya palsu atau tidak ?

Coba pemerintah kita punya Undang-Undang yang mengatur uang yang dipergunakan sebagai transaksi jual beli harus rapi, bersih, tidak boleh dilipat, dilecekin, diremek-remek, sobek, dibolongin, dicoret-coret, dll deh.

Kalau ketahuan dengan sengaja memperlakukan uang RI dengan tidak hormat dipenjara 20 tahun.

Kekerasan pada WNI di Malaysia (hati-hati Promosi Wisata Malaysia!)

Rakyat Indonesia rupanya sedang murka tak terhingga atas kejadian pemukulan wasit karate di Malaysia. Indonesia datang atas UNDANGAN Pemerintah Malaysia. Kalau ada tamu ya … dilayani dengan baik.
Saya tidak bisa berkata-kata banyak, karena kena imbas kemarahan. Jadi saya cantumkan berita-berita online koran terpercaya di Indonesia.

http://www.antara.co.id/arc/2007/8/25/kepala-polisi-malaysia-janji-pemukulan-wasit-indonesia-jadi-prioritas/

http://www.okezone.com/index.php?option=com_content&task=view&id=42412&Itemid=67

http://www.gatra.com/artikel.php?id=107198

http://liputan6.com/news/?id=146601&c_id=2

http://liputan6.com/politik/?id=146767

Kalau pemerintah kita sekeras Bung Karno, pasti akan mengeluarkan kata “GANYANG MALAYSIA”
Comment di Gatra oleh makin kurang ajar (bambylibra@ya…, 26/08/2007 13:44) said :
Malaysia ini makin lama memang makin kurang ajar, mulai dari mencuri lagu kroncong Terang Bulan Terang di kali dijadikan lagi kebangsaannya, mencuri lagu-lagu Indonesia diakui sbg lagu Malaysia spt lagu Gelang sipatu gelang dll, mencuri desains batik Indonesia diakui batik Malaysia, mencuri Sipadan dan Ligitanb, pencurian kayu-kayu di perbatasan dan pencurian-pencurian lain, menganiaya tki-tki dan sekarang menaniaya wasit karate kita. Malaysia yang SOMBONG DAN KURANGAJAR.

————–

Sampai lagu gelang-gelangan ya ….

Saya jadi mikir, kita pembajak software saja mengakui kalau XP, Vista dll dibuat oleh MICROSOFT.

Ini malah lebih kejam lagi dan memalukan bahwa sudah jelas-jelas ciptaan orang Indonesia diakui-akui sebagai maha karya orang Malaysia.

Email dibawah ini telah disiarkan oleh liputan6.com di SCTV dan sudah menyebar ke milist.

Oh, ya di liputan6 tadi pagi, rupanya bukan saja orang Indonesia yang diperlakukan tidak hormat. Liputan6 menampilkan polisi wanita Malaysia sedang melakukan pelecehan seksual terhadap wanita Hongkong dengan membuka semua baju tuh perempuan dan disuruh loncat-loncat.

Kalau mau lihat coba ke liputan6.com kemudian klik liputan6 pagi. Kalau besok lihatnya sepertinya tidak ada lagi.
———- Forwarded message ———-
From: Satrio Arismunandar <satrioarismunandar@ yahoo.com>
Date: Aug 29, 2007 5:35 PM
Subject: Kekerasan pada WNI di Malaysia (hati-hati Promosi Wisata Malaysia!)

(dari milis Pantau):
============ ========= =====

Nama saya Budiman Bachtiar Harsa, 37 tahun,
WNI asal Banten, karyawan di BUMN berkantor di
Jakarta.

Kasus pemukulan wasit Donald Peter di Malaysia, BUKAN
kejadian pertama. Behubung sdr Donald adalah seorang
“Tamu Negara” hingga kasusnya terexpose besar-besaran.
Padahal kasus serupa sering menimpa WNI di Malaysia.
BUKAN HANYA TKI Atau Pendatang Haram, tapi juga
WISATAWAN.

Tahun 2006, bulan Juni, saya dan keluarga (istri, 2
anak, adik ipar), pertama kalinya kami “melancong” ke
Kuala Lumpur Malaysia. (Kami sudah pernah berwisata ke
negara2 lain, sudah biasa dengan berbagai aturan
imigrasi).
Hari pertama dan kedua tour bersama Travel agent ke
Genting Highland, berjalan lancar, kaluarga bahagia
anak-anak gembira.

Hari ketiga city tour di KL, juga berjalan normal.
Malam harinya, kami mengunjungi KLCC yang ternyata
sangat dekat dari Hotel Nikko, tempat kami menginap.
Usai makan malam, berbelanja sedikit, adik ipar dan
anak-anak saya pulang ke hotel karena kelelahan,
menumpang shuttle service yang disediakan Nikko Hotel.
Saya dan istri berniat berjalan-jalan, menikmati udara
malam seperti yg biasa kami lakukan di Orchrad
Singapore, toh kabarnya KL cukup aman.
Mengambil jalan memutar, pukul 22.30, di dekat HSC
medical, lapangan dengan view cukup bagus ke arah Twin
Tower.

Saat berjalan santai, tiba2 sebuah mobil Proton
berhenti, 2 pria turun mendekati saya dan istri.
Mereka tiba-tiba meminta identitas saya dan istri,
saya balas bertanya apa mau mereka. Mereka bilang
“Polis”, memperlihatkan kartu sekilas, lalu saya
jelaskan saya Turis, menginap di Nikko hotel. Mereka
memaksa minta passport, yang TIDAK saya bawa. (Masak
sih di negeri tetangga, sesama melayu, speak the same
language, saya dan istri bisa berbahasa inggris,
negara yg tak butuh visa, kita masih harus bawa
passport?). Salah satu “polis” ini bicara dengan HT,
entah apa yg mereka katakan dengan logat melayunya,
sementara seorang rekannya tetap memaksa saya
mengeluarkan identitas. Perliaku mereka mulai tak
sopan dan Istri saya mulai ketakutan. Saya buka
dompet, keluarkan KTP. Sambil melotot, dia tanya
:”kerja ape kau disini?” saya melongo… kan turis,
wisata. Ya jalan-jalan aja lah, gitu saya jawab. Pak
polis membentak dan mendekatkan mukanya ke wajah saya:
KAU KERJA APE? Punya Licence buat kerja?

Wah kali dia pikir saya TKI ilegal. Saya coba tetap
tenang, saya bilang saya bekerja di Jakarta, ke KL
untuk wisata. Tiba-tiba salah satu dari mereka mencoba
memegang tas istri, dan bilang: “mana kunci Hotel?
“… wah celakanya kunci 2 kamar kami dibawa anak dan
ipar saya yg pulang duluan ke hotel.

Saya ajak mereka ke hotel yang tak jauh dari lokasi
kami. Namun pak Polis malah makin marah, memegangi
tangan saya, sambil bilang: Indon… dont lie to us.
Saya kurung kalian…

Jelas saya menolak dan mulai marah. Saya ajak mereka
ke hotel Nikko, dan saya bilang akan tuntut mereka
habis2an. sambil memegangi tangan saya, tuan polis
meludah kesamping, dan bilang: kalian semua sama
saja…

Saat itu sebuah mobil polisi lainnya datang, pake logo
polisi, seorang polisi berseragam mendekat. Di dadanya
tertulis nama: Rasheed.

Saya merapat ke pagar taman sambil memegang istri yang
mulai menangis. Melawan 3 polis, tak mungkin. Mereka
berbicara beritga, mirip berunding. Wah, apa polis
malaysia juga sama aja, perlu mau nyari kesalahan
orang ujung2nya merampok?

Petugas berseragam lalu mendekati saya, meminta kami
untuk tetap tenang. Saya bertanya, apa 2 orang preman
melayu itu polisi, lalu polisi berseragam itu
mengiyakan. Rupanya karena saya mempertanyakan
dirinya, sang preman marah dan mendekati saya,
mencengkram leher jaket saya, dan siap memukul, namun
dicegah polisi berseragam.

Polisi berseragam mengajak saya kembali ke Hotel untuk
membuktikan identitas diri. saya langsung setuju,
namun keberatan bila harus menumpang mobil polisi.
Saya minta untuk tetap berjalan kaki menuju Nikko
Hotel, dan mereka boleh mengiringi tapi tak boleh
menyentuh kami. Akhirnya kami bersepakat, namun polisi
preman yang sempat hampir memukul saya sempat berkata:
if those indon run, just shoot them… katanya sambil
menunjuk istri saya. Saya cuma bisa istigfar saat itu,
ini rupanya nasib orang Indonesia di negeri tetangga
yang sering kita banggakan sebagai “sesama melayu”.
Diantar polisi berseragam saya tiba di Nikko Hotel.

Saya minta resepsionis mencocokan identitas kami, dan
saya menelpon adik ipar untuk membawakan kunci. Pihak
Nikko melarang adik saya, dan mengatakan kepada sang
Polis, bahwa saya adalah tamu hotel mereka, WNI yang
menyewa suites family, datang ke Malaysia dengan
Business class pada Flight Malayasia Airlines.
Pak Polis preman mendadak ramah, mencoba menjelaskan
bahwa di Malaysia mereka harus selalu waspada.
Saya tak mau bicara apapun dan mengatakan bahwa saya
sangat tersinggung, dan akan mengadukan kasus ini, dan
“membatalkan rencana bisnis dengan sejumlah rekan di
malaysia” (padahal saya tak punya rekan bisnis di
negeri sial ini).

Polisi berseragam berusaha tersenyum semanis mungkin,
berusaha keras untuk akrab dan ramah, petugas Nikko
Hotel kelimpungan dan berusaha membuat kami tersenyum.
Setelah istri saya mulai tenang, saya mengambil HP
P9901 saya dan merekam wajah kedua polisi ini.
Keduanya berusaha menutupi wajah, meminta saya untuk
tidak merekam wajah mereka.
Istri saya minta kita mengakhiri konflik ini, dan
sayapun lelah. Kami tinggalkan melayu-melayu keparat
ini, tanpa berjabat tangan.

Sepanjang malam saya sangat gusar, dan esoknya kami
membatalkan tur ke Johor baru, mengontak travel agent
agar mencari seat ke Singapore. Siang usai makan
siang, saya tinggalkan Malaysia dengan perasaan
dongkol, dan melanjutkan liburan di Singapore.

Mungkin saya sial? ya. Mungkin saya hanya 1 dari 1000
WNI yang apes di Malaysia? bisa. Tapi saya catat bahwa
bila saya pernah dihina, diancam, bahkan hampir
dipukuli, bukan tak mungkin masih ada orang lain
mengalami hal yg sama.

Jadi, kalau hendak berlibur di Malaysia, sebaiknya
pikir masak2. Jangankan turis, Rombongan atlet saja
bisa dihajar polisi Malaysia.
Bayangkan bila perlakuan seperti ini dilakukan
dihadapan anak kita. Tentu anak akan trauma, sekaligus
sedih.

Hati-hati pada PROMOSI WISATA MALAYSIA. Di Malaysia,
WNI diperlakukan seperti Kriminal.

Untung Ga Lewat Tol

Tarif tol naik lagi ya .. gile bangeeettt. Jauh dekat sama saja. Udah kayak tarif Metromini sama Kopaja.

Jadi ingat tinggal di Bekasi.

Kalau mau ke Bekasi selain lewat Kali Malang yang super macet jika jam sibuk bisa melalui jalan tol. Sami aja sih, but ga gitu-gitu banget macetnya. Lumayanlah.

Ciri-ciri macet jalan tol Dalam Kota, Cawang - Bekasi Timur itu khas banget, ga tahu deh kalau yang lain. Kadang-kadang macetnya ga jelas gitu. Pas nyampe pembayaran ga ada apa-apa, mungkin macetnya karena ngantri bayar kali ya .. Tapi itulah mengesalkan … macetnya sampai Cawang booooo Bahkan sampai Komdak.

Kalau pagi hari, macet itu bisa dari Tol Barat karena bayar tol di Jatibening terus sampai keluar pintu Komdak.

Sebab lain macet di tol karena dilain arah ada kecelakaan. Arah yang berlawanan tidak ada kecelakaannya tapi macet. Mobil-mobil yang melewati kecelakaan tersebut memperlambat kecepatannya … mau ngapain ? NONTON SEKILAS PANDANGAN

Tapi lumayanlah masih bisa jalan walaupun kayak keong kecepit pintu

Tol macet super parah, jika ada kecelakaan super hebat yang memakan dua arah jalan atau kecelakaan itu baru saja terjadi.

Dijamin bisa ga jalan benaran selama 3 jam lebih.

Saya pernah tuh, pulang jam 5 sore sampai di rumah jam 9 malam, sudah termasuk nungguin bis datang. Rupanya ada kecelakaan berat. Mobil ke arah Cawang, terbang ke jalan berlawanan yaitu arah Bekasi. Kecelakaan yang hebat. Atau truk selip ban, tumpah semua isinya, melintang ditengah-tengah. Ya .. nasib nungguin mobil derek yang juga kejebak macet.

Tidak selamanya tol itu macet. Kalau jam sepi, jarak tempuh dari Komdak sampai Tol Timur bisa 25 menit. Persis seperti iklan perumahan yang banyak bertebaran di sana. Pernah juga saya di jalan tol cuma 15 menit. Bayangkan. Gile .bener !! Supirnya ngesot habis … pas keluar jalan tol Timur, 90 % penumpang pada turun semua termasuk saya. Kata mereka, cari penyelamatan diri.
Setiap kenaikkan tarif tol dan BBM, ongkos bis juga naik. Terakhir itu Rp. 3.500,- untuk Patas Biasa. AC itu Rp. 4.000,- sudah termasuk ongkos tol.

Menurut informasi mantan tetangga, ongkos bis sudah Rp. 5.000,- sudah termasuk bayar tol. Kalau sekarang ga tahu, apakah ongkos bis bisa turun ? Karena jarak Bekasi ke Komdak itu sangat jauh dan hanya bayar 1 kali saja. Kalau dulu harus bayar 2 kali.

Hmm … seperti biasanya sih kalau harga sudah naik susah turunnya lagi Kita mah pasrah saja, karena dia monopoli. Ada sih PPD AC tapi jumlahnya sedikit dan lama datangnya serta lelet jalannya.

Dibandingkan dengan ongkos ke Bekasi lewat tol, PP cuma Rp. 10.000,- sudah sampai Blok M. Tinggal ditempat sekarang lebih mahal ongkosnya. PP bisa menghabiskan ongkos Rp. 50.000,-.

Trend Celana Gaya Melorot

Rupanya trend celana gaya melorot yang bisa kelihatan celana dalam bahkan sampai garis pantat (upss.. maaf) merupakan ide para penjahat di penjara AS.

Memang ide itu dapat dari mana saja ya.. sampai ke penjara. Duh, penjara … penjahat …

Menurut berita di Antara bahwa Dewan Kota Atlanta, AS Dexter Chambers mengkhawatirkan pola berpakaian tersebut. Katanya tidak senonoh.

Rupanya di AS juga memperhatikan norma juga ya …

Yang saya herankan kalau cewe-cewe pada make model seperti itu, sibuk narik-narik baju. Kalau sudah merepotkan, membuat risih alangkah baiknya ga usah dipakai. Kan ga enak kalau kita kemana-mana jadi ga pede dan sibuk mikirin, sibuk memperbaiki agar tidak terlihat.

Kompor Gas dan Minyak Tanah

Kami kena imbas sulitnya mendapatkan minyak tanah. Pake acara bolak balik ke pangkalan minyak tanah. Cari sana sini untuk harga normal. Cari-cari info pangkalan mana yang sudah ada minyak tanahnya plus tanpa antri. Yang paling repot ibu. Setiap hari dengerin berita minyak tanah.

Wow, kami masih pakai minyak tanah ? Yohaa …. tetep. Minyak tanah yang sudah menemani dari saya lahir, mulai dari ibu dan bapak saya menikah. Yang bikin saya sebel kalau masak .. duh lama banget matengnya padahal ada acara.

Kalau masaknya cuma sayur-sayuran atau tumis-tumisan sih ga masalah tapi kalau masakan minang, duh … bener-benar, lama banget matangnya.

Kami baru meninggalkan kompor gas 8 tahun yang lalu. Mula-mula adik tengah saya. Di kantornya hanya ada kompor gas. Diajarin sama office girl disana. Kadang-kadang adik suka membawa masakan yang perlu dipanaskan.

Dengan bangga, adik bilang “Saya sudah bisa menghidupkan kompor gas donk”

Kalau saya butuh sekitar 2 tahun untuk berani menghidupkan kompor gas, mulai hitungan adik saya memproklamirkan bisa menyalakan kompor gas. Belajarnya di rumah tante. Kalau di rumah tante hidupkan korek api baru putar kompor gasnya, dekatkan korek api, nyala deh. Terima kasih ya sudah mengajarkan dengan sabar ;)

Waktu berpikir cukup lama disebabkan takut kompornya meledak. Sama ya dengan alasan orang-orang sekarang yang dapat jatah kompor gas.

Udah bisa nih, wah enak ya cepat matangnya. Terus manas-manasin ibu untuk beli kompor gas. Kata kita, “Gampang kok menghidupkannya”, “Kalau bocor nanti ada bau ga sedap deh”, “tinggal muter doang, apinya nyala deh”, “bersihinnya gampang” atau “Ga meledak kok”.

Karena sering dipaksa akhirnya ibu beli juga kompor gas dengan persyaratan kalau masak air, masak rendang, panggang-panggangan atau masak yang butuh waktu lama pake kompor minyak tanah.

Waktu berjalan, akhirnya kompor minyak tanah buat masak air dan rendang yang dibuat dalam 1 tahun cuma 1 kali.

Soal kasus kompor gas ini, Pak RT dari desa tetangga sebelah mengeluh bahwa banyak warganya keberatan membeli kompor gas seharga Rp. 13.000,-. Menurut beliau, uang segitu sudah bisa beli macam-macam. Misalnya beli beras, ikan asin, sayur-sayuran, minyak goreng dll.

Kalau uang segitu cuma untuk beli kompor gas, duh … Beliau menarik napas panjang. Sekarang, mungkin gratis ga tahu kalau bulan depannya, bulan depannya lagi. Beliau juga ga percaya kalau kami masih pake minyak tanah. :D

Saya jadi mikir, selain hemat waktu untuk memasak, lebih bersih, apakah kompor gas lebih hemat uang ?

Menurut hitung-hitungan Bapak saya, kita cuma mengisi tabung gas 2 bulan sekali.

Heroes

heroes_wallpaper2y_1024.jpg

Sudah pernah nonton Heroes di TransTV setiap jam 18.00 WIB ? Seru ya … Saya kagum sama teknologi pembuatan filmnya. Hebat banget.

Menurut situs NBC, Heroes mendapatkan 8 Nominasi Emmy. Film ini dikategorikan sebagai drama dan fiction televisi. Heroes dibuat oleh Tim Kring. Pertama kali tayang di NBC tanggal 25 September 2006.

Claire BennetDalam film ini ada 12 pemain yang mempunyai kemampuan istimewa dan luar biasa. 1 orang berperan antagonis yang bernama Sylar yang diperankan oleh Zachary Quinto peranakan Italia-Irish.

Saya suka ada bahasa selain Inggris yaitu Jepang. Si Hiro yang tidak mau jadi bos, katanya ingin menyelamatkan dunia. Si Hiro sangat percaya diri bahwa dialah adalah pahlawan. Pemeran Hiro adalah Masi Oka, pria yang lahir tahun 1974. Kalau dilihat ditelevisi ga keliatan usianya segitu ya …
Kalau mau tahu apa kehebatan mereka bisa dilihat di Heroes Wikipedia.

Hiro ZahrahPengemar game ada game Heroes. DVD dan HD-DVD akan keluar tanggal 28 Agustus 2007 untuk wilayah Kanada dan USA.
Saya tertarik sama nama lambang Helix. Seperti di Helix Player di Linux.

Ngomong soal jam tayang alangkah baiknya TransTV menyiarkan jangan jam 18.00 WIB. ‘Kan orang pada sholat magrib. Film ini untuk anak usia 19 tahun ke atas. Biasanya anak-anak kecil masih nonton televisi. Dan film ini walaupun fiction, banyak teknologi yang dipakai tapi mengandung unsur kekerasan dan darah.

Kalau bisa siarannya malaman dikit, misalnya jam 10 malam agar saya bisa nonton full. Kalau jam 18.00 selain Magriban juga saya masih kerja.

Jadi please ya TransTV ….


Milikilah Buku “Songket Silungkang”

Songket Silungkang
(Sawahlunto, Sumatra Barat)

Ditenun Penuh Penjiwaan
Seni dan Budaya

Oleh

H. Nawir Said PM

Kerjasama

Pemerintah Daerah dan Perindagkop

Kota Madya Sawahlunto

buku songket

Tebal : XVI + 55

Ukuran : 21 x 16 cm

Setting dan Lay Out : Citra Kreasindo

Cover : Riwan Dias/A. Kasyfi

 

pertenunan limau purutDahulu diseluruh kampung dan pelosok Nagari Silungkang selalu terdengar suara detak-detak orang bertenun dan kini suara itu tidak lagi membahana.

Karena itu buku ini mampu menggugah kembali anak Nagari Silungkang yang pernah berjaya dengan Tenun Tradisional Songket Silungkang. Buku ini mencoba :

  • Merekam kembali kemampuan orang dahulu dalam mengerjakan Tenun Songket.

  • Membangun dan meningkatkan perhatian generasi muda pada kegiatan ini, menjadikan nagari Silungkang yang berpotensi sebagai tempat wisata budaya.

  • Mampu merevitalisasi songket lama yang kini boleh dikatakan hampir tidak ada lagi di Silungkang.

 

ibu upik sedang bertenun

Menjadikan Tenun Songket Tradisional Silungkang yang kaya motif dan kaya fungsi dalam kehidupan modern dewasa ini.

PROFIL PENGARANG

nawir said

Nawir Said lahir di Silungkang, Sawahlunto, 27 Agustus 1937. Pada usia 5 (lima) tahun diangkat anak oleh Mamak yang bekerja pada Pos Telegrap Telepon (PTT) dan tinggal di kota Malang Jawa Timur. Menyelesaikan pendidikan SR, SMP dan SMA di kota tersebut. Pernah menjadi staff Walikota Malang bagian kebudayaan qq sebagai anggota sensor film Kota Besar Malang 1957 – 1959. Akhir 1959 pindah ke Jakarta dan bekerja pada salah satu Perusahaan Negara “The Big Seven” yaitu Usindo yang kemudian berganti nama menjadi Perusahaan Negara (PN) Jaya Bhakti sampai dengan tahun 1961. Selanjutnya wiraswasta usaha perdagangan. Sambil melanjutkan studi pada Universitas Nasional di Salemba Jurusan SEP (Sosial Ekonomi Politik) hanya sampai tingkat dua berhenti. Pada tahun 1984 dibawa oleh seorang sahabat bernama Daniel Zein pada usahanya yang bergerak dibidang export barang-barang handicraft anyaman rotan. Tahun 1985 mengikuti Frankfurt Fair di Frankfurt Jerman. Tahun 1986 mengikuti Tokyo Fair di Tokyo Jepang. Tahun 1987 mengikuti selling mission BPEN (Badan Pengembangan Ekspor Nasional) Departemen Perdagangan ke beberapa kota besar di Australia. Tahun 1989 mengikuti Exhibition di High Point North Carolina. Tahun 1990 atas sponsor EEC (European Economic Community) Masyarakat Ekonomi Eropa yang berpusat di Brussel (Belgia) mendapat kesempatan mengikuti “market training”. Berawal training di Bangkok (Muangthai) yang kemudian di approval untuk melanjutkan training di Head Office (HO) ECC di Brussel dan mendapat tugas survey pada market London untuk Inggris dan Hamburg untuk market Jerman. Tahun 1992 kembali wiraswasta dan aktif dalam kegiatan kemasyarakat dan budaya. Mengikuti seminar-seminar budaya antara lain : Songket Palembang, Batik, Tenun dan Tradisional Sumba. Karya-karya penulis antara lain : Sejarah Pemberontakan Silungkang 1927 (1963), Penghulu Pemimpin Didalam Adat (2002), Perlawanan Rakyat Silungkang Terhadap Kolonial Belanda 1927 Sumatera Barat (2005) setengah Abad KSP Kemauan Bersama Berkiprah (2006).

 

Sambutan Walikota Sawahlunto

Bapak Ir. Amran Nur

Sambutan Kepala Dinas Kebudayaan dan Permusiuman Provinsi DKI Jakarta

Ibu Ir. Aurora Tambunan M.Si.

Sambutan Gubernur Sumatera Barat

Bapak Gamawan Fauzi

 

Sambutan Menteri Perindustrian

Bapak Fahmi Idris

 

Sambutan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia

Ibu Prof. Dr. Meutia Hatta Swasono

 

Bab I Pendahuluan

Bab II Nagari Dilingkar Bukit

Bab III Kain Tenun Songket Silungkang

Bab IV Jenis dan Ragam Hias Kain Songket Silungkang

Bab V Songket Lama dan Baru

Bab VI Penutup

Komentar Tentang Tenun Silungkang

Daftar Pustaka

 

 

Pemesanan Buku :

Gedung Pertemuan

PKS (Persatuan Keluarga Silungkang) Jakarta

Jl. Gotong Royong Kav. 13, Larangan Indah

Ciledug, Tangerang, Indonesia 15154

Phone : 62 21 7328676

email : aboerhan@yahoo.com

17 Agustus

MERDEKA !!!

Setiap tanggal 17 Agustus, rakyat Indonesia merayakan hari kemerdekaan. Kemerdekaan yang diperjuangkan dengan jerih payah yang luar biasa, mengorbankan banyak jiwa dan harta.

Kemerdekaan yang tidak diberikan secara cuma-cuma dari penjajah. Pendahulu kami merebutkan dengan gagah berani, meneteskan darah dan linangan air mata.

Sekarang, kami, generasi penerus masih berjuang untuk lepas dari penjajah yang terselubung. Penjajah ini menekan mental bangsa kami. Mereka berusaha merebut secara perlahan tapi pasti apa yang kami miliki selama ini.

Mereka ya.. mereka … dengan berbagai cara mereka akan merebutnya. Mereka mempunyai mata-mata yang sudah dari dulu mengetahui apa yang kami miliki. Kami miliki sesuatu yang sangat berharga dan mereka sudah tidak memilikinya untuk melanjutkan kehidupan.

Jika saat itu datang, rakyat Indonesia akan merapatkan barisan, dengan semangat berkorban menghadang dengan gagah berani.

Rakyat Indonesia bisa melupakan kesengsaraan, pertikaian, kemelut demi mengusir mereka.

Demi Indonesia ….

Baik buruknya Indonesiaku tetap INDONESIAKU.

JANGAN USIK KAMI JIKA MEREKA TIDAK MAU KENA AKIBATNYA.

SELAMAT PANJANG UMUR INDONESIAKU.

Mencetak di Kertas Kop

Baru 2 bulan kemarin baru dapat cara mudah mencetak di kertas kop tanpa mencobanya terlebih dahulu.

Waktu itu, di bawah monitor ada penggarisan. Saya lihat ada cm dan inchi. Writer juga ada cm dan inchi. Sama ya …

Wow … Seharusnya kalau print kop diukur dulu dengan penggarisan. Tidak usah dites pakai kertas bekas, dikeker dulu, namanya ngabisin tinta dan merepotkan. Walaupun yang dites itu cuma satu huruf, tetap namanya menghabiskan tinta.
Karena sudah ketemu, kalau ada orang yang mau print menggunakan kop surat saya ukur dengan penggarisan. Cepat, praktis, hemat tinta dan langsung pas.

Di Sana Murah …!!

Dari kecil saya dilarang keras untuk mengatakan “Di sana Murah !!!” kepada pedagang oleh orang tua.

Begitu terus sampai sekarang jika saya ingin belanja ke pusat perbelanjaan.

Kata orang tua saya, kata-kata itu sangat menyakitkan, pernyataan tolol dan tidak punya otak, apalagi dengan intonasi tinggi.

Pedagang bisa saja menimpali “Kalau disana murah kenapa ga beli disana aja …!!”

Toko satu dengan toko yang lain belum tentu sama dalam memberikan harga. Bisa jadi modal barang tidak sama dengan toko yang lain, distributornya tidak sama, pedagang mengambil untung yang sedikit sekali dibandingkan dengan yang lain, toko berada di lokasi mahal atau murah, belum survey alias belum kompakan sama toko yang lain, atau barang tersebut berasal bukan dari tangan pertama.

Pada umumnya, pedagang yang menerima perkataan tersebut akan diam saja melanjutkan pekerjaannya yang lain, bisa jadi dia mengomel dalam hati, atau dengan pura-pura baik “Oh, ya …”.

Jika pembeli masih terus dengan kata-kata “membandingkan”, kata-kata kurang ajar, barulah pedagang melakukan kata-kata atau bahasa tubuh yang tidak menyenangkan.

Jadi kalau kita tahu barang dari Toko A lebih mahal dari pada Toko C, jangan memaksakan diri membeli di Toko A sambil mengeluarkan kalimat tersebut. Janganlah berbisik tapi terdengar oleh si pedagang.

Kalau tidak suka, carilah ke tempat lain.

Gempa di Tengah Malam

Malam tadi, tanggal 9 Agustus 2007, jam 00.04 WIB atau ada yang bilang 00.06.

Ada GEMPA dengan kekuatan 7 skala Richter. Menurut Geologi USA, 7.5 skala Richter

Saya sendiri baru tidur jam 00.01. Baru 90% dibawah alam sadar, bunyilah SMS. Kaget, lemes … rupanya ada sms dari adik yang menanyakan “Terasa gempa ga ?”. Saya bales, “Tidak”.

Dia bales lagi, “Ada gempa”. Saya cari jalan tengah, “Gini aja, Auliah hidupkan televisi, terus ke MetroTV, OK”.

Mata sih masih setengah terbuka, jantung berdebar kencang bukan karena gempanya tapi karena SMS datang ditengah malam.

Iya benar, diberita berjalan MetroTV, ada gempa di Indramayu, tapi belum terlihat berapa skala. Maklumlah, mata baru setengah terbuka.

Setelah tahu ada gempa, matikan TV, SMS ke adik memberi kabar bahwa memang ada gempa dan saya suruh dia tidur karena sudah aman.

Paginya, langsung hidupkan TV. Wouuu …. gede juga skalanya dan hampir dekat Jakarta.

Kemudian buka komputer dan cari berita dunia, ketemu CNN. Di CNN penyampaiannya seru juga, klik di bagian Indonesia earthquake explainer. Coba di televisi Indonesia neranginya seperti itu.