Kami kena imbas sulitnya mendapatkan minyak tanah. Pake acara bolak balik ke pangkalan minyak tanah. Cari sana sini untuk harga normal. Cari-cari info pangkalan mana yang sudah ada minyak tanahnya plus tanpa antri. Yang paling repot ibu. Setiap hari dengerin berita minyak tanah.
Wow, kami masih pakai minyak tanah ? Yohaa …. tetep. Minyak tanah yang sudah menemani dari saya lahir, mulai dari ibu dan bapak saya menikah. Yang bikin saya sebel kalau masak .. duh lama banget matengnya padahal ada acara.
Kalau masaknya cuma sayur-sayuran atau tumis-tumisan sih ga masalah tapi kalau masakan minang, duh … bener-benar, lama banget matangnya.
Kami baru meninggalkan kompor gas 8 tahun yang lalu. Mula-mula adik tengah saya. Di kantornya hanya ada kompor gas. Diajarin sama office girl disana. Kadang-kadang adik suka membawa masakan yang perlu dipanaskan.
Dengan bangga, adik bilang “Saya sudah bisa menghidupkan kompor gas donk”
Kalau saya butuh sekitar 2 tahun untuk berani menghidupkan kompor gas, mulai hitungan adik saya memproklamirkan bisa menyalakan kompor gas. Belajarnya di rumah tante. Kalau di rumah tante hidupkan korek api baru putar kompor gasnya, dekatkan korek api, nyala deh. Terima kasih ya sudah mengajarkan dengan sabar
Waktu berpikir cukup lama disebabkan takut kompornya meledak. Sama ya dengan alasan orang-orang sekarang yang dapat jatah kompor gas.
Udah bisa nih, wah enak ya cepat matangnya. Terus manas-manasin ibu untuk beli kompor gas. Kata kita, “Gampang kok menghidupkannya”, “Kalau bocor nanti ada bau ga sedap deh”, “tinggal muter doang, apinya nyala deh”, “bersihinnya gampang” atau “Ga meledak kok”.
Karena sering dipaksa akhirnya ibu beli juga kompor gas dengan persyaratan kalau masak air, masak rendang, panggang-panggangan atau masak yang butuh waktu lama pake kompor minyak tanah.
Waktu berjalan, akhirnya kompor minyak tanah buat masak air dan rendang yang dibuat dalam 1 tahun cuma 1 kali.
Soal kasus kompor gas ini, Pak RT dari desa tetangga sebelah mengeluh bahwa banyak warganya keberatan membeli kompor gas seharga Rp. 13.000,-. Menurut beliau, uang segitu sudah bisa beli macam-macam. Misalnya beli beras, ikan asin, sayur-sayuran, minyak goreng dll.
Kalau uang segitu cuma untuk beli kompor gas, duh … Beliau menarik napas panjang. Sekarang, mungkin gratis ga tahu kalau bulan depannya, bulan depannya lagi. Beliau juga ga percaya kalau kami masih pake minyak tanah.
Saya jadi mikir, selain hemat waktu untuk memasak, lebih bersih, apakah kompor gas lebih hemat uang ?
Menurut hitung-hitungan Bapak saya, kita cuma mengisi tabung gas 2 bulan sekali.









0 comments ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.
Leave a Comment