Kekerasan pada WNI di Malaysia (hati-hati Promosi Wisata Malaysia!)

Rakyat Indonesia rupanya sedang murka tak terhingga atas kejadian pemukulan wasit karate di Malaysia. Indonesia datang atas UNDANGAN Pemerintah Malaysia. Kalau ada tamu ya … dilayani dengan baik.
Saya tidak bisa berkata-kata banyak, karena kena imbas kemarahan. Jadi saya cantumkan berita-berita online koran terpercaya di Indonesia.

http://www.antara.co.id/arc/2007/8/25/kepala-polisi-malaysia-janji-pemukulan-wasit-indonesia-jadi-prioritas/

http://www.okezone.com/index.php?option=com_content&task=view&id=42412&Itemid=67

http://www.gatra.com/artikel.php?id=107198

http://liputan6.com/news/?id=146601&c_id=2

http://liputan6.com/politik/?id=146767

Kalau pemerintah kita sekeras Bung Karno, pasti akan mengeluarkan kata “GANYANG MALAYSIA”
Comment di Gatra oleh makin kurang ajar (bambylibra@ya…, 26/08/2007 13:44) said :
Malaysia ini makin lama memang makin kurang ajar, mulai dari mencuri lagu kroncong Terang Bulan Terang di kali dijadikan lagi kebangsaannya, mencuri lagu-lagu Indonesia diakui sbg lagu Malaysia spt lagu Gelang sipatu gelang dll, mencuri desains batik Indonesia diakui batik Malaysia, mencuri Sipadan dan Ligitanb, pencurian kayu-kayu di perbatasan dan pencurian-pencurian lain, menganiaya tki-tki dan sekarang menaniaya wasit karate kita. Malaysia yang SOMBONG DAN KURANGAJAR.

————–

Sampai lagu gelang-gelangan ya ….

Saya jadi mikir, kita pembajak software saja mengakui kalau XP, Vista dll dibuat oleh MICROSOFT.

Ini malah lebih kejam lagi dan memalukan bahwa sudah jelas-jelas ciptaan orang Indonesia diakui-akui sebagai maha karya orang Malaysia.

Email dibawah ini telah disiarkan oleh liputan6.com di SCTV dan sudah menyebar ke milist.

Oh, ya di liputan6 tadi pagi, rupanya bukan saja orang Indonesia yang diperlakukan tidak hormat. Liputan6 menampilkan polisi wanita Malaysia sedang melakukan pelecehan seksual terhadap wanita Hongkong dengan membuka semua baju tuh perempuan dan disuruh loncat-loncat.

Kalau mau lihat coba ke liputan6.com kemudian klik liputan6 pagi. Kalau besok lihatnya sepertinya tidak ada lagi.
———- Forwarded message ———-
From: Satrio Arismunandar <satrioarismunandar@ yahoo.com>
Date: Aug 29, 2007 5:35 PM
Subject: Kekerasan pada WNI di Malaysia (hati-hati Promosi Wisata Malaysia!)

(dari milis Pantau):
============ ========= =====

Nama saya Budiman Bachtiar Harsa, 37 tahun,
WNI asal Banten, karyawan di BUMN berkantor di
Jakarta.

Kasus pemukulan wasit Donald Peter di Malaysia, BUKAN
kejadian pertama. Behubung sdr Donald adalah seorang
“Tamu Negara” hingga kasusnya terexpose besar-besaran.
Padahal kasus serupa sering menimpa WNI di Malaysia.
BUKAN HANYA TKI Atau Pendatang Haram, tapi juga
WISATAWAN.

Tahun 2006, bulan Juni, saya dan keluarga (istri, 2
anak, adik ipar), pertama kalinya kami “melancong” ke
Kuala Lumpur Malaysia. (Kami sudah pernah berwisata ke
negara2 lain, sudah biasa dengan berbagai aturan
imigrasi).
Hari pertama dan kedua tour bersama Travel agent ke
Genting Highland, berjalan lancar, kaluarga bahagia
anak-anak gembira.

Hari ketiga city tour di KL, juga berjalan normal.
Malam harinya, kami mengunjungi KLCC yang ternyata
sangat dekat dari Hotel Nikko, tempat kami menginap.
Usai makan malam, berbelanja sedikit, adik ipar dan
anak-anak saya pulang ke hotel karena kelelahan,
menumpang shuttle service yang disediakan Nikko Hotel.
Saya dan istri berniat berjalan-jalan, menikmati udara
malam seperti yg biasa kami lakukan di Orchrad
Singapore, toh kabarnya KL cukup aman.
Mengambil jalan memutar, pukul 22.30, di dekat HSC
medical, lapangan dengan view cukup bagus ke arah Twin
Tower.

Saat berjalan santai, tiba2 sebuah mobil Proton
berhenti, 2 pria turun mendekati saya dan istri.
Mereka tiba-tiba meminta identitas saya dan istri,
saya balas bertanya apa mau mereka. Mereka bilang
“Polis”, memperlihatkan kartu sekilas, lalu saya
jelaskan saya Turis, menginap di Nikko hotel. Mereka
memaksa minta passport, yang TIDAK saya bawa. (Masak
sih di negeri tetangga, sesama melayu, speak the same
language, saya dan istri bisa berbahasa inggris,
negara yg tak butuh visa, kita masih harus bawa
passport?). Salah satu “polis” ini bicara dengan HT,
entah apa yg mereka katakan dengan logat melayunya,
sementara seorang rekannya tetap memaksa saya
mengeluarkan identitas. Perliaku mereka mulai tak
sopan dan Istri saya mulai ketakutan. Saya buka
dompet, keluarkan KTP. Sambil melotot, dia tanya
:”kerja ape kau disini?” saya melongo… kan turis,
wisata. Ya jalan-jalan aja lah, gitu saya jawab. Pak
polis membentak dan mendekatkan mukanya ke wajah saya:
KAU KERJA APE? Punya Licence buat kerja?

Wah kali dia pikir saya TKI ilegal. Saya coba tetap
tenang, saya bilang saya bekerja di Jakarta, ke KL
untuk wisata. Tiba-tiba salah satu dari mereka mencoba
memegang tas istri, dan bilang: “mana kunci Hotel?
“… wah celakanya kunci 2 kamar kami dibawa anak dan
ipar saya yg pulang duluan ke hotel.

Saya ajak mereka ke hotel yang tak jauh dari lokasi
kami. Namun pak Polis malah makin marah, memegangi
tangan saya, sambil bilang: Indon… dont lie to us.
Saya kurung kalian…

Jelas saya menolak dan mulai marah. Saya ajak mereka
ke hotel Nikko, dan saya bilang akan tuntut mereka
habis2an. sambil memegangi tangan saya, tuan polis
meludah kesamping, dan bilang: kalian semua sama
saja…

Saat itu sebuah mobil polisi lainnya datang, pake logo
polisi, seorang polisi berseragam mendekat. Di dadanya
tertulis nama: Rasheed.

Saya merapat ke pagar taman sambil memegang istri yang
mulai menangis. Melawan 3 polis, tak mungkin. Mereka
berbicara beritga, mirip berunding. Wah, apa polis
malaysia juga sama aja, perlu mau nyari kesalahan
orang ujung2nya merampok?

Petugas berseragam lalu mendekati saya, meminta kami
untuk tetap tenang. Saya bertanya, apa 2 orang preman
melayu itu polisi, lalu polisi berseragam itu
mengiyakan. Rupanya karena saya mempertanyakan
dirinya, sang preman marah dan mendekati saya,
mencengkram leher jaket saya, dan siap memukul, namun
dicegah polisi berseragam.

Polisi berseragam mengajak saya kembali ke Hotel untuk
membuktikan identitas diri. saya langsung setuju,
namun keberatan bila harus menumpang mobil polisi.
Saya minta untuk tetap berjalan kaki menuju Nikko
Hotel, dan mereka boleh mengiringi tapi tak boleh
menyentuh kami. Akhirnya kami bersepakat, namun polisi
preman yang sempat hampir memukul saya sempat berkata:
if those indon run, just shoot them… katanya sambil
menunjuk istri saya. Saya cuma bisa istigfar saat itu,
ini rupanya nasib orang Indonesia di negeri tetangga
yang sering kita banggakan sebagai “sesama melayu”.
Diantar polisi berseragam saya tiba di Nikko Hotel.

Saya minta resepsionis mencocokan identitas kami, dan
saya menelpon adik ipar untuk membawakan kunci. Pihak
Nikko melarang adik saya, dan mengatakan kepada sang
Polis, bahwa saya adalah tamu hotel mereka, WNI yang
menyewa suites family, datang ke Malaysia dengan
Business class pada Flight Malayasia Airlines.
Pak Polis preman mendadak ramah, mencoba menjelaskan
bahwa di Malaysia mereka harus selalu waspada.
Saya tak mau bicara apapun dan mengatakan bahwa saya
sangat tersinggung, dan akan mengadukan kasus ini, dan
“membatalkan rencana bisnis dengan sejumlah rekan di
malaysia” (padahal saya tak punya rekan bisnis di
negeri sial ini).

Polisi berseragam berusaha tersenyum semanis mungkin,
berusaha keras untuk akrab dan ramah, petugas Nikko
Hotel kelimpungan dan berusaha membuat kami tersenyum.
Setelah istri saya mulai tenang, saya mengambil HP
P9901 saya dan merekam wajah kedua polisi ini.
Keduanya berusaha menutupi wajah, meminta saya untuk
tidak merekam wajah mereka.
Istri saya minta kita mengakhiri konflik ini, dan
sayapun lelah. Kami tinggalkan melayu-melayu keparat
ini, tanpa berjabat tangan.

Sepanjang malam saya sangat gusar, dan esoknya kami
membatalkan tur ke Johor baru, mengontak travel agent
agar mencari seat ke Singapore. Siang usai makan
siang, saya tinggalkan Malaysia dengan perasaan
dongkol, dan melanjutkan liburan di Singapore.

Mungkin saya sial? ya. Mungkin saya hanya 1 dari 1000
WNI yang apes di Malaysia? bisa. Tapi saya catat bahwa
bila saya pernah dihina, diancam, bahkan hampir
dipukuli, bukan tak mungkin masih ada orang lain
mengalami hal yg sama.

Jadi, kalau hendak berlibur di Malaysia, sebaiknya
pikir masak2. Jangankan turis, Rombongan atlet saja
bisa dihajar polisi Malaysia.
Bayangkan bila perlakuan seperti ini dilakukan
dihadapan anak kita. Tentu anak akan trauma, sekaligus
sedih.

Hati-hati pada PROMOSI WISATA MALAYSIA. Di Malaysia,
WNI diperlakukan seperti Kriminal.

9 comments ↓

#1 imam mawardi on 09.01.07 at 12:54 am

Kita ini negara pengekspor babu, wajarlah babu digitukan. Saya yakin karena yang digitukan tidaki punya skilll

#2 auliahazza on 09.01.07 at 5:52 am

@Imam, bukankah baju babu berbeda dengan baju wisatawan ? Masak sih polisi Malaysia tidak bisa membedakan.

Kalau di Indonesia ada kalimat “Praduga tak bersalah” Seharusnya polisi disono melakukan itu pula.

#3 ahamad shah on 09.02.07 at 7:02 pm

Belum habis kes Monggolia,sekarang kes Indonesia pula.Pemerintah/polis Malaysia mewarisi sikap penjajah British , sombong,angkuh dan tak hormat alim ulama.
Ya. Allah ampunkan dosa kami dan jauhi bala bencana.

#4 auliahazza on 09.02.07 at 10:14 pm

@Ahamad Shah : Pak di Mongolia memang ada apa ?

#5 muchsin on 09.10.07 at 1:53 am

m’sians is such wolf in sheep’s clothing.. mrk tu nganggap bangsa nya itu superior dan nganggap bangsa kita tu inferior…

benar2 bgs yg arrogan

jangan mau kalo dipanggil indon sm msians, coz itu adl derogatory term nya bgs indonesia oleh mereka…
link.
http://myindo.com/story/241.asp

#6 ALI on 01.09.08 at 7:03 am

ORANG MALAYSIA PERLU KITA HAJAR
DIA SOMBONG SEKALI, PADAHAL DIA BANGSAT INGGRIS

JANGAN MACEM2 MALAYSIA, BISA-BISA HABIS AWAK
OLEH ORANG INDONESIA YANG 200 JUTA.

KAMU JANGAN SOMBONG MALAYSIA
KALAU TIDAK ADA TKI NEGARA AWAK PASTI MATI

AWAK MALAYSIA KAN MALAS-MALAS.
POLISI SOK GAYA

“GANYANG MALAYSIA”

#7 MRDJMSTKBDG on 06.01.08 at 8:18 am

Negara ini biar masih di dalam asia akan tetapi negara ini di anggap sangat rendah oleh negara tetangga karena negara ini hanya bisa berhutang seperti pengemis tanpa menghasilkan apa-apa buat rakyatnya sendiri , maka dari itu jangan percaya dengan iklan-iklan mengajak negara ini untuk berkunjung pada mereka yang mengiming-iming diri kita akan di layani seperti raja dan ratu di negara surga mereka karena negara ini di anggap penghasil keset kaki mereka yang tenaganya dapat dihargai semurah atau gratis sama sekali , mereka juga sering MERAMPOK hasil laut dan PEROMPAK negara ini dengan menggunakan BENDERA NEGARA KITA

#8 doni hendra on 08.14.08 at 1:16 am

setahu saya orang melayu lembut dan sopan…krn saya besar diranah melayu (Riau)…padahal saya seneng sekali budaya melayu tp saya yakin yang brengsek bukan dari etnis melayu tp mgkn melayu keturunan india atau arab…..namun demikian saya akan dukung ganyaanng malaysia, kalau m’sia masih memandang rendah warga indonesia yg nota bene jg kental budaya melayunya…..

#9 auliahazza on 08.16.08 at 8:39 pm

@doni hendra : kalau orang Melayu Riau sih percaya deh, baik semua dan lembut. Tapi melayu seberang itu lho rada-rada … Ok bung, MERDEKA !!!

Leave a Comment