Dalam dunia dagang ada hal-hal tertentu yang harus dirahasiakan oleh publik. Saat-saat tertentu juga si pedagang akan berbincang-bincang kepada salah anggota keluarganya soal perniagaan didepan orang banyak/pembeli. Bisa jadi ini situasi yang tidak bisa dihindarkan sehingga dengan terpaksa berbicara di depan orang banyak (pembeli).
Misalnya harga pokok (modal) suatu barang, lokasi mana barang itu diambil dan sebagainya.
Paling enak orang Cina. Karena orang Indonesia masih jarang mengerti bahasa negara tirai bambu tersebut.
Kita/orang pribumi pun yang berniaga dapat saja menggunakan bahasa daerahnya. Misalnya bahasa Jawa, Minangkabau, Aceh, NTB, Papua, Maluku dan lain-lain.
Kami sering mengalami kendala dalam bahasa rahasia ini. Karena sering kali juga harus mengutarakan suatu rahasia yang tidak boleh orang tahu, dan kebetulan kami dalam posisi di tempat publik alias di toko.
Kalau kami menggunakan bahasa Indonesia, tentu semua orang tahu apa dibicarakan. Jika menggunakan bahasa Sunda, saya hanya bisa 10 %, adik saya 80%, Bapak saya bisa 40%. Maklumlah adik saya pindah SMP ke Bekasi, dia mendapat pelajaran bahasa Sunda. Sedangkan saya pindah SMA ke Bekasi sudah tidak belajar bahasa Sunda. Kalau bahasa Sunda dipergunakan, pasti saya malah sering ga nyambung dan sering tanya “Apa tuh artinya ?”. Bahasa Sunda ditempat saya (Depok) dari anak anak kecil sampai orang besar disana mengerti dan bisa mengucapkannya.
Kalau bahasa Jawa, duh kami cuma ngerti 1%, Bapak saya mengerti bahasa kasarnya sekitar 60%, bahasa halusnya 10%. Tapi pernah lho teman saya berbicara dengan teman saya yang lain menggunakan bahasa Jawa. Kebetulan ditengah-tengah antara mereka ada saya. Karena saya mengerti apa yang diomongin, langsung deh nyeletuk, “Bagaimana kondisi dia sekarang ? Sudah baikan ?”. Keduanya bengong melihat saya. Ketahuannya ni yee …. ![]()
Bahasa Cina … apalagi … kami ga bisa sama sekali. Bapak saya bisa 20%. Bapak sering sih ngasih tahu bahasa Cina yang angka tapi kok ga masuk otak ya … ![]()
Bahasa Silungkang (Minangkabau). Bahasa kampung halaman saya ini kebanyakan ada persamaan dengan bahasa Indonesia. Walaupun orang yang bukan Silungkang pun pasti mengerti banget kecuali kalau kami ngomongnya sambil kumur-kumur. Bahasa Minangkabau menurut saya ada dua yaitu Minangkabau laut dan Minangkabau gunung. Kalau gunung itu salah satu contohnya Silungkang, rada-rada kemelayu-melayuan, jarang ada O-nya, masih ada persamaan dengan bahasa Indonesia.
Bahasa Inggris, everybody know … Ga mungkin ga ngerti kecuali anak balita.
Jalan keluarnya, menggunakan bahasa Perancis. Saya pernah belajar selama 2 tahun menggunakan bahasa kumur-kumur itu. Saya anak IPS yang dalam seminggu belajar bahasa Perancis 5 hari, ada yang 1 kali pertemuan 2 jam, ada yang 3 jam. Walaupun ga bisa banget-banget, maklum kalau ulangan selalu kurang tanda kutipnya melulu. Tapi ada-lah. Lupa … ? Tinggal diasah lagi ![]()
Adik saya selama 10 tahun bekerja di orang Perancis. Bos dan temannya berasal dari negara fashion itu. Adik saya jadi Sekretaris. Masak selama 10 tahun ga bisa nyuri-nyuri ilmu walaupun cuma sedikit.
Saya sering kok tanya ke dia, kalau kata bahasa Perancis yang ini diucapkan apa ? Dia bisa kok jawabnya.
Kita sih sebenarnya sering membahas soal angka, kata modal, kata tidak dan ya. Jadi hapalkan saja yang itu dulu.
Bereskan …
Tapi sampai sekarang ga dilaksanakan
… keseringan pake bahasa bisik-bisik ![]()







8 comments ↓
Uni, kalo pake bahasa padang untuk beli nasi di warung padang dapet lebih gak nasinya? boleh nih belajar bahasa padang… hehhee
@Apung : oh kalau nasi ga pernah dapat gratis karena nasi mahal. Kalau yang lain pernah sih malah sering, misalnya kuahnya dibanyakin, dapat urap padang gratis, sayur sopnya ditambahin. Rajin-rajin aja ke sana dan bikin akrablah sama pegawainya. Pasti ditambahin.
Kalau Auliah ga pernah pake jurus bahasa Padang dan akrab. Tapi herannya pasti ditambahin,dan ada yang gratis
Padahal auliah ga minta lho dan sering nolak, tapi sering dipaksa harus terima. Ya terima aja, lumayan rezeki.
Atau apung ganti kelamin aja, masalahnya di warung padang itu kebanyakan laki-laki.
Kalau pegawai perempuannya suka susah diakrab-pin sama pembeli. Auliah pernah coba tuh, tapi ga berhasil, tujuannya sih nambah teman.
Masak mainnya sama laki-laki melulu
wah?? masa sih harus sama perempuan?? mmm… aku “berubah” dulu dong? kekekke
@Apung :
saya suka membaca artikel bisnis anda, saya terinspirasi, tapi paling elok dlam berbisnis, memakai bahasa isyarat, karana tidak semua pandai berbahasa isyarat,asal jangan berbahasa siluman alias bahasa jin, nanti di kira, orang gila salam berpikir bisnis
@freind : salam kenal freind … terima kasih telah berkunjung ke rumah saya.
Maksud bahasa isyarat itu bahasa untuk tuna rungu ?
Kalau bahasa jin, kita ga bisa ..
liat jin aja langsung kabur 
[…] pasti suatu saat pasti ada manfaatnya. Misalnya kita lagi ngomongin orang yang didepan kita dengan bahasa yang tidak dimengerti olehnya. Hahaha […]
lumayan tuh bs ngerti berbagai bahasa wlpun cman kumur2.kasi contohnya dong istilah yg sama cman artinya bd.kan bnyk tuh bahasa jawa banyk kesamaanya ma bhs sunda
Leave a Comment