Seandainya Dia Datang

Menurut saudara saya, dimilist-milist lagi heboh soal gempa 9 SR. Tapi dibeberapa milist yang saya ikutin belum beredar ya …

Informasi yang pertama saya dengar itu dari wawancara MetroTV dengan ahli geologi BPPT. BPPT dan BMG sudah memperkirakan setahun yang lalu bahwa gempa di Bengkulu itu memang akan terjadi. Permasalahannya tidak tahu kapan.

Dari pada kita “pusing” sama urusan gempa, bagaimana cara kita menyelamatkan harta benda ala saya :D

Waktu anak Krakatau sedang batuk-batuk sedang, saya heboh cari-cari bahan-bahan tentang meletusnya si ibu Krakatau. Karena khawatir, saya mendesak keluarga mempersiapkan sesuatu jika anak Krakatau meletus. Mendesaknya tidak bilang “Ayo donk” tapi dengan cara dibicarakan terus setiap hari ;)

Hahaha ….. dan terlaksana.

Saya masukin baju yang ringan-ringan dan kebutuhan pribadi ditas ransel. Beli biskuit, air mineral, sikat gigi, sabun, pembersih muka, pembalut, baju dingin, kaos kaki, alat sholat, KTP, HP, charger, bulpen (kali aja buat nulis), korek api. Harus dirombak beberapa kali untuk memilah mana yang penting banget. Setelah pas, saya taruh di samping tempat tidur dengan baju dingin diatas ransel dan sendal disampingnya.

Yang membuat saya tercenung soal majalah dan buku resep masakan saya. Banyak banget, tidak mungkin dibawa-bawa. Padahal “mereka” itu merupakan benda yang paling berharga. Tapi sudah ketemu solusinya, taruh di internet aja :D cari masakan yang tenar, tradisional, saya paling suka, bagus fotonya dengan menggugah selera, ga aneh-aneh dan sudah pernah dicoba dengan rasa ok.

Kalau bapak saya setelah urusan pribadinya berlanjut urusan dokumen. Beliau memang dari dulu telah menempatkan dokumen disatu tas. Tas beratnya minta ampun. Gimana diajak “lari”. Setiap hari beliau bilang ke anak-anaknya dimana tempatnya dan yang paling penting tas tersebut harus diselamatkan.

Setiap malam baca doa banyak banget, pengaturan posisi tidur, setiap hari kolong tempat tidur disapu. Kali aja ga sempat menyelamatkan diri ke luar rumah, ngumpet di kolong tempat tidur.

Bersihin loteng atas, kali aja menyelamatkan diri ke sana ;)

Rencananya sih mau bikin gerobak kecil untuk ngangkut semua tas tapi tidak jadi mahal bikinnya.

Sebenarnya rumah saya bisa dianggap tidak terjangkau sama tsunami karena cukup berada diketinggian. Tapi siapa tahu ya … cuma dikhawatirkan gempanya. Waktu Krakatau meletus tahun 1800-an, Bogor hanya merasakan gempa kecil dan terlihat di langit Jakarta ada sesuatu.

Tapi untungnya anak Krakatau ga lama sudah tenang lagi.

Ada satu lagi yang berhasil membujuk bapak saya mengansuransikan rumah. Cuma tahan 1 tahun dan tidak diperpanjang lagi. Akhirnya kita mah pasrah saja. Yang penting udah usaha.

Untuk kasus 9 SR, kita cuek nih …. lagian mau diapain lagi … baca petunjuk penyelamatan diri sudah tapi belum dipraktekkan.

Saya malah bingung bagaimana menyelamatkan diri dari kaca yang dekat sekali dengan tempat duduk. Rumah saya itu keamanannya berlapis, kalau gempanya terjadi malam-malam, kita sibuk nyari kunci dan buka pintu. Kalau lagi panik, grogi juga cari lubang kunci.

Sekarang tinggal berdoa …. “mudah-mudahan ga ada 9 SR”.

0 comments ↓

There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Leave a Comment