Orang-orang pada pulang kampung lebaran nanti. Senang ya … apalagi kalau kampungnya dekat, misalnya di daerah pulau Jawa, cuma beberapa jam. Kecuali kalau ke Jawa Timur ujung yang jarak tempuhnya sama ke Sumatera Barat, bisa 2 hari 1 malam. Kalau jalan di Jawa mulus, banyak lampu, keamanan terjamin. Tapi kalau pulang ke Sumatera, wuihh deg-degan, penuh petualangan, pengaturan time yang tepat agar tidak masuk ke wilayah yang banyak bajing lompatnya. Kalau menurut Auliah, paling seru kalau ketemu monyet yang jenisnya baru dilihat di kebun binatang, ketemu babi hutan, harimau, kadal raksasa, suku Badui, lihat pohon sawit, pohon duku dan durian plus sama buahnya. Memandang dan berharap kapan kita lihat laut. Saking rindunya, pernah langit biru diujung mata dikiranya laut, berarti sudah sampai Merak. Atau kalau sudah dijalan mulus dan lurus berarti sudah sampai kampung halaman. Itu namanya seru habis …
Nah, itu kalau pake kendaraan. Kalau pake pesawat terbang, cepat, ga cape, murah. Sepupu Auliah dapat tiket Rp. 100.000 … hmm … aman ga ya … cuma segitu harganya
Apapun kendaraannya, yang penting pulang kampung. Kalau sudah sampai di kampung halaman. Kita muter-muter ke seluruh Minangkabau. Pemandangannya ga bakalan bosan untuk dilihat apalagi makanannya. Dimana-mana makanannya enak semua. Walaupun di Jakarta juga ada restoran Minang tetapi rasa makanan di kampung lain banget, … pokoknya lebih enak. Sebentar-bentar kita makan dan makan. Pernah Auliah di kampung cuma 7 hari naik 5 kilo …….. hahahahahaha ….
Duh, jadi kangen sama kampung halaman, pulang kampung yuuukkkk …. rame-rame lebih seru ….
Sumber foto pada paragraf pertama : Daniel
Foto yang kedua : Corbis







4 comments ↓
di tunggu hasil laporan pulang kampung nya
@starboard : bosen laporan terus, masalah sudah pernah diposting dulu sekali.
wah bagus banget tuh kampung, pasti dingin di sana ya. mandinya pakai pancuran ngak? terus ada banyak anggrek liar sama burung-burung beterbangan, ooo enaak sekaliii…………….
@gmdiqhan : udah ga dingin lagi kata orang disana. Mungkin karena global warming. Tapi airnya masih dingin, air di rumah keluarga berasal dari paling atas bukit, jadi warna air agak kecoklatan kalau musim hujan. Sering kali airnya ga turun ke bawah karena alirannya atau selangnya dicopot sama monyet. Kalau musim kemarau, sedikit air yang keluar.
Mandinya ga pake pancuran, sudah ada bak gede disetiap kamar mandi. Kalau mau mandi pake pancuran, dari asal air berada, di atas bukit, dengan resiko ditonton harimau yang terbangun, monyet, dan ular.
Kalau anggrek liar, saya tidak tahu, saya ga berani lebih ke atas, takut …. . Pohonnya masih rapat-rapat dan tinggi-tinggi. Burung-burung bukan ditempat saya, ada daerah lain tapi masih satu desa. Tapi saya tidak pernah dengar burung.
Mampir aja, banyak oleh-oleh disana.
Leave a Comment