Masjid Kubah Emas

Hari lebaran ke dua, ibu ingin sekali ke masjid kubah emas yang terletak di Limo. Di Limo persisnya lupa, masalahnya namanya susah diingat. Jalannya kecil, sepertinya harus dilebarkan agar lewat leluasa.

Datang ke sana jam 9.30 pagi, wuihhh udah banyak banget orang ngantri masuk. Ngantri masuk masjid ? Yohaaa …

Parkirnya diluar, sepertinya punya penduduk setempat dengan sewa Rp. 2.000,- per motor. Motor yang parkir dikasih tanda masuk dan dicatat nomor motor. Walaupun ada pengumuman memperlihatkan STNK, adik saya tidak diminta.

Saat itu sinar matahari terik sekali. Jam masuk adalah 10.00 WIB. Sambil nunggu di Pos Satpam kita bisa lihat taman-taman dengan pohon-pohon yang beraneka ragam. Sedangkan tanaman bunga-bunga ditanam dipot yang bagus.

Pagarnya tinggi, bagus dan diberi ubin marmer warna hitam bercorak garis abu-abu. Tempat parkir didalam ada sih, jalannya juga bagus. Halamannya luas banget. Ada banyak tong sampah. Banyak petunjuk. Ada beberapa gedung yang beruntukannya berbeda. Ada juga danau. Rumput terurus rapi. Ada speaker untuk pengumuman. Kalau CCTV tidak kelihatan.

Jam 9.45 dibukalah palang yang menghalangi orang masuk. Rupanya beda pintu masuk pria dan wanita. Karena belum pukul 10.00 kita belum bisa masuk ke dalam masjid. Jadi dengan berterik ria kita tunggu jam 10.00 dibawah bayangan pohon. Beberapa ibu-ibu ada yang bawa payung. Ada juga yang menghindari matahari duduk di Aula yang saat itu sudah dibooking Halal bilahal warga Serang.

Sambil nunggu, diujung speaker memberi pengarahan antara lain, jangan buang sampah sembarangan, jangan membawa makanan dan minuman ke dalam masjid, dilarang masuk anak usia dibawah 7 tahun masuk, harap berpakaian sopan dan tertutup rapat ke dalam masjid.

Sementara yang dispeaker bercuap-cuap, ada beberapa ibu-ibu mengeluh karena terlalu banyak peraturan yang diterapkan oleh pengurus masjid kubah emas ini. Dia berkata kepada teman-temannya, “Di Istiglal aja ga gini-gini amat!” dengan nada kesal kemudian melanjutkan, “Ini kan masjid Allah, susah banget, pake jam segala!”

Saya pikir, rasanya perlu banget adanya peraturan, habisannya kita sudah dibilangin jangan buang sampah sembarangan plus ada tong sampah gede banget terlihat oleh mata kita, masih aja kan buang sampah sembarangan. Lihat saja, Istiqlal kurang bersihkan di plataran parkir. Soal jam masuk … no comment deh, saya dengar masjid itu masih milik pribadi ya …

Jangan ada orang jualan masuk ke dalam areal masjid, itu bagus banget, bisa tambah jorok. Soal anak-anak, bagus juga, masalahnya kalau anak-anak itu kalau diajak ke dalam masjid, memang berisik, lari sana lari sini, suka pipis kan. Hal tersebut bisa nganggu orang sholat. Ibu saya pernah pulang taraweh dengan muka ditekuk, katanya di masjid super berisik dan shafnya bolong-bolong. Itu kan namanya sholat sendiri-sendiri.

Rumput ga boleh diinjak … kan rumputnya bagus banget tuh, kalau sering diinjak berkurang cantiknya donk.

Setelah jam 10.00, masuklah kita dengan menginjak ubin marmer, sendal dan sepatu dititip ditempat penitipan. Ruang berwudhunya dan kamar mandi bagus sekali dan wangi.

Tapi rasanya saya pernah keruangan seperti itu tapi dimana ya ?

Di depan pintu masuk wanita ada lapangan yang dialas ubin dengan tiang-tiang tinggi. Kalau ke masjidnya pintu masuk pria dan wanita berbeda. Ada yang jaga di pintu tersebut dan menanyakan apakah kita mau sholat, kalau sholat silahkan masuk. Kalau saya mau lihat-lihat saja, boleh. Tapi didalam panas, kurang angin. Saya tidak tahu apakah pintu/jendela yang terbuat dari kayu diukir akan dibuka jika banyak orang yang sholat. Anak-anak yang tidak sholat dilarang keras masuk. Didalam masjid tidak boleh foto-foto, jadi saya hanya foto-foto kubahnya, lapangan, pilar, taman-taman, aula, kamar mandi dan tempat berwudhu. Tapi karena pixelnya kurang bagus di HP saya, rasanya kurang jelas deh.

Kita cuma sebentar saja disana, yang penting telah menghilangkan rasa penasaran. Kesimpulannya, masjid yang bagus sekali, banyak peraturannya tapi it’s OK demi kenyamanan dan kebersihan masjid, rasanya memang sulit merawat masjid dan areal sebesar itu jika tidak banyak peraturan dan penerapan disiplin bagi pendatang. Masuk gratis. Pohon-pohonnya masih kecil-kecil jadi matahari bebas menerjang.

Kalau diserahkan ke pemerintah misalnya Depok, apakah bisa sebersih, serawat dan senyaman saat ini ?

Di luar areal masjid, ada orang jualan bakso, mie ayam, minuman, ada tas-tas bagus dan sebagainya.

—————————————————————

Foto yang lain ada di fotographer

3 comments ↓

#1 Donny on 11.28.07 at 9:06 pm

Lain dengan pengalaman saya yg agak kurang enak disana. Waktu masuk dipalak sama preman lokal Rp.2.000,- Dan saya kasih.
Waktu keluar dipalak lagi Rp. 2.000,- , saya tidak kasih…
Mobil saya digedor2 dan dipaksa buka kaca… krn keluarga saya ada yg sakit jantung, saya putuskan untuk tidak buka kaca. Preman tetep gedor kaca n maki2 saya dg kata2 “budheg ya ???!!!” berkali2…
Jadi lain kali hati2…. kalo gak punya duit jgn sholat disana !!!!

#2 M. Edi Sulaksono on 08.11.08 at 12:40 am

Makanya sedekah jadi orang biar gak kena palak! Mang enak dipalak?

#3 auliahazza on 08.16.08 at 8:51 pm

@m.edi sulaksono : betul banget pak., harus rajin-rajin sedekah :)

Leave a Comment