Pohon Mangga Bapak

Di depan kamar saya, berdiri pohon mangga Manalagi yang dibeli saat dia masih kecil, bukan berasal dari biji. Waktu beli, ibu ingin punya mangga harum manis. Kata penjualannya, pohon yang ditunjuknya memang mangga harus manis. Karena ibu tidak tahu model-model pohon mangga, iyakan saja. Beliau tentulah lebih percaya sama yang jual diperkirakan tukang pohon pasti tahu barang dagangannya.

Setelah berbuah dan orang-orang sering bilang, pohon yang di rumah bukan mangga Harum Manis tapi si Manalagi. Orang-orang melihat dari daunnya.

Kecewalah ibuku, karena dibohongi atau memang penjualnya tidak tahu yach ?!!!

Setelah belajar berbuah selama 2 tahun dengan buah yang kecil, sering gagal, diserang lalat dari pasar, banyak kutunya, akhirnya musim mangga kali ini buahnya lumayan banyak.

Buah yang terbanyak bergelantungan di luar pagar. Menurut hukum pidana (kali yach ??), buah yang berada di luar pagar rumah adalah milik umum.

Waduh … yaahhhhhh …

Kalau jalan-jalan di Jl. Raya Pondok Petir, banyak banget buah yang keluar dari pagarnya, mulai dari rambutan, mangga, duren, duku, jambu, jeruk Bali, nangka, melinjo dan sebagainya. Nah, buah-buah tersebut gampang ngambilnya, tidak perlu susah payah, bisa digapai dengan dengan mudah. Kalau kita menggunakan hukum pidana tersebut, kita bakalan diteriakin maling. Sekuat kita beragumen tetap kita diteriakin MALING.

Kembali ke mangga Manalagi. Seperti biasanya, orang tua saya akan membagikan. Seperti yang dilakukan waktu punya jambu apel yang enak banget di Bekasi.

Menurut orang-orang yang jago pohon, buah mangga Manalagi masih muda tetap enak dagingnya … buat rujak.

Soal pohon yang ditaruh diluar pagar rumah, saya pernah punya Srikaya. Karena terlalu lama muncul buahnya, saya gembira sekali. Pas sudah besar, buahnya diambil orang …. :(

2 comments ↓

#1 M Fahmi Aulia on 11.18.07 at 10:34 pm

kalo di rumah, di bdg, sedang panen nangka :D

#2 auliahazza on 11.19.07 at 1:19 am

@Aulia : asyik nih, banyak duit tambahan ;)