Tapi Ayah ….

Seorang ayah bercerita dengan bangga kepada anaknya yang beranjak remaja.

Dimulailah cerita tersebut ….

Waktu SMA dulu, ayah jadi Ketua Osis, kemana-mana hayoo. Panjat tebing, naik gunung, main musik, main drama, sibuk sana sibuk sini. Pokoknya ayah populer saat itu dan disayang guru. Dan pasti dari kelas 1 sampai dengan kelas 3 semua kenal ayah. Beberapa teman-teman ayah saat ini ada yang sudah terkenal jadi artis, pejabat, pengusaha dan macam-macam deh. Satu persatu ayah sebutkan nama-nama temannya yang terkenal sekarang dan beberapa ada yang dikenal si anak karena pernah lihat ditelevisi.

Dulu ayah menggunakan pakaian model yang lagi trend zaman itu. Mulai dari atas rambut sampai kaki, trend habis. Kalau anak sekarang bilangnya “Anak Gaul”.

Anaknya mendengarkan dengan seksama dan penuh kekaguman. “Ayahku hebat”.

“Bagaimana pelajaran ayah?”, tanya anaknya.

Karena kebanyakan ngadain kegiatan dan jadi panitia itu dan ini, pelajaran akhirnya jatuh walaupun waktu ujian terakhir lulus dengan nilai pas-pasan.

Suatu hari anaknya menghadap dan mengajukan izin.

“Ayah, saya boleh ikutan OSIS ?”

“Ngapain kamu ikutan OSIS ? Menghabiskan waktu saja, nanti pelajaran kamu tertinggal !”, katanya ayahnya dengan nada kurang senang.

Dengan pandangan heran dan sedih.

“Tapi ayah …”

“Tidak ada tapi-tapian, kamu boleh ikut organisasi apapun di sekolah tapi tidak jadi pengurus !”

Dengan hati sedih, dia pergi menjauh dari ayahnya.

Sebenarnya anak ayah murid pintar di sekolahnya. Waktu di SD dulu pernah memangku 2 jabatan strategis dan begitu banyak perlombaan yang diikutinya tapi pelajaran tidak tertinggal, selalu rangking.

Sambil duduk termenung di teras rumah, “Mungkin ayah benar, nanti pelajaran tertinggal”.

Masuk kuliah, si anak ikut organisasi yang diminatinya.

Suatu hari menghadaplah si anak ke ayahnya dan pertanyaan kurang lebih serupa waktu SMA.

“Ayah, saya boleh jadi panitia “A” ?”

Ayah pun menjawab dengan santai.

“Kuliah aja dulu sampai beres, baru ikutan jadi panitia ini dan itu”

“Tapi ayah …”, jawab si Anak.

“Tidak bisa, kuliah yang benar, boleh ikutan organisasi kampus tapi ga boleh ikutan jadi ketua, wakil ketua, bendahara dll apalagi jadi panitia ini dan itu! Ngabisin waktu, uang dan tenaga !”

Tapi si anak cerdik, diam-diam dia telah menjadi panitia tapi bukan yang strategi, dia menjadi anggota panitia atau wakil panitia. Dan si anak bisa membagi waktu agar tidak ketahuan ayahnya.

Disuatu sore hari, Ayahnya bercerita kembali organisasi yang pernah diikutinya setelah lulus SMA bahkan sampai ikutan partai dan anak partai. Dan seperti biasanya, ayahnya bercerita dan menyebutkan nama-nama teman organisasinya. Ada yang jadi menteri, pejabat, anggota DPR MPR, dubes, diplomat, penguasa, gubernur dan sebagainya.

Dan seperti biasanya sianak mendengarnya dengan kagum.

Suatu hari, pulang dari kerja.

“Ayah, saya diangkat jadi Ketua Panitia di kantor!”

“Bukannya kerja malah jadi ketua! Ngabisin waktu dan uang saja !”

Mendengar hal tersebut si anak cuma tersenyum sinis.

7 comments ↓

#1 Luthfi on 11.23.07 at 10:34 pm

hehhehe

#2 mbelgie on 11.25.07 at 10:15 am

tulisan yang menggugah tentang bagaimana seharusnya orang tua mendidik sang anak… teruslah menulis mbak n lam kenal…

#3 auliahazza on 11.25.07 at 7:10 pm

@mbelgie : tumben sih lagi benar hahaha :) ngetiknya lagi ga banyak gangguan. Salam kenal mbelgie.

#4 M Fahmi Aulia on 11.26.07 at 2:25 am

Ayahnya cerita hoax kali ya?? ;-)

#5 auliahazza on 11.26.07 at 6:33 am

@Fahmi : bukan, hoax. Memang seperti hoax ?

#6 Dadang Kadarusman on 11.26.07 at 8:15 pm

Saya seorang ayah. Terimaksih tulisannya. Siapa tahu saya bisa lebih baik dari itu. Haha.

Eh, salam kenal ya Bu.

#7 auliahazza on 11.26.07 at 11:11 pm

@Dadang : terima kasih telah berkunjung. Sebenar waktu tidak melulu soal belajar dan belajar. Kita hidup perlu hidup bersosial. Menjadi pintar bukan segala-galanya. Kalau kita pintar tapi tidak bersosialisasi dan tidak gaul apalagi tidak bisa mengurus organisasi adalah percuma. Pintar dan bergaul lebih baik menjadi satu bagian utuh. Toh, kalau kita berkeluarga, keluarga itu adalah organisasi terkecil.

Sebenarnya si ayah bisa lebih bagus jika anaknya juga diizinkan menjadi orang nomor 1 diorganisasi. Si ayah secara tidak langsung mengajarkan tanggung jawab yang tidak perlu pake suara mulut terlalu banyak.

Leave a Comment