Ada wanita yang datang ke tempat saya untuk mengetikan data anak-anak asuhannya kurang lebih 200 orang.
Keesokan harinya diambillah ketikannya. Setelah ditanya kenapa banyak sekali yatim piatu. Dia pun menjelaskan, yatim piatunya seperti ada yang yatim saja, piatu saja atau yatim piatu. Katanya ada lagi kurang lebih 200 orang. Saya terkejut dan sekaligus sedih … banyak banget.
Kok seperti habis perang saja yach.
Kata wanita tersebut, pada umum anak-anak dari balita sampai usia SMA.
Yap, saya sudah baca jenjang pendidikan mereka dan usianya.
Pada umumnya di Indonesia jika salah satu atau kedua orang tua meninggal dunia dan meninggalkan anak akan dititipkan ke kerabat tersebut. Tapi ditempat wanita tersebut, kebanyakan kerabat paling dekat tidak mampu. Untuk membiayakan diri sendiri dan keluarganya tidak sanggup bagaimana merawat anak orang.
Ada model yang lain, salah satu orang tua si anak ada yang kabur alias menghilang tanpa kabar. Pada umumnya orang tua laki-laki.
Panti Asuhan tempat dia bekerja merupakan milik keluarga. Saya dengar-dengar tanah dan bangunannya akan diperluas. Anak-anak di Panti Asuhan tersebut ada yang tinggal disana, ada anak yang tinggal dengan kerabatnya tapi uang sekolah dan makan diberikan, yach ongkos hiduplah. Dan semua anak tersebut sekolah agama seperti madrasah.
Sebenarnya saya tidak jauh dari lingkungan yatim piatu. Bapak saya, waktu umur 8 tahun telah ditinggal Bapaknya. Umur 10 tahun ditinggal Ibunya. Saudara-saudara sekandung yang berjumlah 6 orang (kalau ga salah ingat) meninggal dunia dalam jarak tahun yang tidak lama. Bapak saya bukan bungsu asli, adiknya sudah meninggal terlebih dahulu waktu kecil banget.
Jadi Bapak saya kalau cerita wajah Ibunya pasti diawali “Kata orang, Nenek Auliah kayak bule, putih bersih, dan paling cantik”. Yang paling yakin cuma perawakan Kakek.
Yang meninggal terakhir kakak perempuan Bapak. Saat itu, saya masih kelas 6 SD. Beliau meninggalkan anak-anak seusia saya. Sebelumnya kakak perempuannya yang lain, seingat saya 2 atau 3 tahun sebelumnya, juga meninggal dunia. Jadi Bapak saya sebatang kara. Ibu saya pun waktu usia 10 tahun telah ditinggal Bapaknya.
Meninggalnya kakak Bapak, saya sampai sekarang masih membekas, melihat keponakan-keponakan Bapak yang masih kecil-kecil dan tidak mengerti. Kalau ingat itu saya bersyukur karena masih utuh orang tua sampai sekarang.
2 lebaran kemarin, waktu lihat acara Dorce Show. Dorce sedang cerita orang tuanya, saya lihat Bapak menyeka matanya. Saya baru lihat. Akhirnya saya tahu bagaimana perasaan Bapak kalau di hari raya Idul Fitri. Selama ini saya selalu melihat beliau happy-happy saja.









4 comments ↓
“Saya terima dengan tidak memperhatikan apa dan bagaimana anak asuhannya”
masih ambigu, bs lebih dijelas lagi
@Ale : waduh … tulisannya belum selesai. Saya kira tadi cuma disimpan doang, rupanya saya klik publish hahahaha
Sorry … nanti dilanjutkan
Nice post
Tolong klo ada informasi ttg panti asuhan, anak yatim/piatu/yatim piatu yg udah lulus SMA, pintar dan ingin bekerja saya di informasikan…. (klo bisa lsg ke email saya aja) Kebetulan kami butuh tenaga kerja wanita, rencananya anak2 itu akan di didik sebagai tenaga operator komputer agar mampu bekerja di tempat kami…. Tapi klo bisa di daerah Depok, bukan apa2 sih… cuma agar lebih mudah dalam berhubungan…
Sebelumnya terima kasih banyak
Leave a Comment