Entries from December 2007 ↓

Brrrr….. Dingin

Sudah dua minggu hujan terus menerus di rumahku. Udara semakin lama semakin dingin saja. Entahlah berapa derajat tapi yang jelas belum sampai min dan pasti dibawah rata-rata suhu pada musim panas. Disini kalau musim panas juga tidak begitu panas cuma terik saja tapi nyaman.
Paling terasa dingin sewaktu mandi yang 2 kali sehari itu. Dinginnya air membuat ngilu gigi. Dinginnya sampai terasa ketulang. Mandipun secepat kilat. Kalau mau keramas mikir lama banget. Masak air …. hehehe malas.

Malamnya, sambil duduk nonton televisi sambil berselimut. Brrrr…. masih dingin, pasang kaos kaki tebal, baju 2 lapis dan baju dingin. Woow…. seperti di Puncak saja.

Tidur di tempat tidur, sprei dingin sekali begitupula bantal. Hembusan angin malam yang dingin masuk ke dalam kamar. Akhirnya badannya dibuat melingkar.

Brrrr …. rasanya ingin minum susu coklat hangat …

Turut Berduka Cita Untuk Benazir Bhutto

artbhuttoobitafpgi.jpgMenjelang akhir tahun 2007, dunia dikejutkan dengan terbunuhnya Mantan Perdana Menteri Benazir Bhutto. Menurut berita di televisi, Beliau tertembak di bagian dada dan leher setelah berkampanye untuk Pemilu Pakistan di Rawalpindi. Menurut berita televisi Ary-One, Bhuto tertembak di bagian kepala.Si penembak ini setelah meletuskan timah panas meledak diri sehingga menewaskan 20 orang lainnya. Benazir Bhutto meninggal dunia di Rawalpindi General Hospital pada pukul 16.16 waktu setempat dan menurut rencana akan dimakamkan hari Jum’at tanggal 28 Desember 2007 di kota Sukur berdampingan dengan ayahnya Zulfikar Ali Butho. saat meninggalkan area kampanye di Rawalpindi, Pakistan.

Menurut berita di MetroTV tadi pagi bahwa Al Qaeda bertanggung jawab atas kematian Benazir Bhutto. Sedangkan pendukung Bhutto menuduh Perdana Menteri Pakistan dibalik tertembaknya Perdana Menteri Wanita pertama di dunia Islam.

Pemerintah Indonesia tadi malam sudah menyampaikan turut berduka cita tapi kenapa tidak ada kata “rakyat Indonesia”. Biasanya sih begitu yang dulu-dulu, seingat saya lho. Wong diwakilkan kek Pak SBY …. masak sendirian saja.

Pertama kali mendengar Benazir Bhutto meninggal dunia tadi malam di televisi. Adik laki-laki, saya dan Bapak kaget mendengarnya kabar tersebut. Tidak menyangka akan meninggal setragis itu.

Kita menunggu tayangan saat tertembaknya beliau sampai bom meledak tapi tak kunjung tampak. Saya bilang mungkin besok pagi kita dapat lihat di situs CNN. Pagi hari, lihat CNN sama saja tampilannya.

Jam 12.32 saya lihat ada foto di CNN dari John Moore. Lumayan walaupun masih berharap ada gambar bergerak saat penembakan tersebut di situs tersebut atau di televisi.

Update :

Kontroversi penyebab kematian Benazir Bhutto belum selesai. Terakhir diberitakan penyebab kematian mantan PM Pakistan ini karena kepalanya terbentur mobil sehingga terluka.

Komentar saya : hebat banget yach benturannya bisa menyebabkan orang meninggal dunia. Memangnya diatas mobilnya ada besi tajam atau apa yach, atau saat ada tembakan mobilnya remnya mendadak. Kalau lihat ditelevisi sekitar mobil banyak orang tuh, ga mungkin kalau ngebut. Menurut saya aneh banget.

Sementara ajudan Bhutto memberi kesaksian kematian Benazir karena tertembak.

Video CNN

Pilkada Jawa Barat

Tahun depan yaitu 2008, giliran propinsi Jawa Barat mengadakan pemilihan Gubernur. Sudah dua bulan yang lalu pemerintah dan rakyat Depok sudah siap-siap menyambut Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Mulai rapat ini dan itu, pendaftaran Panitia Pilkada di Kelurahan dan sebagainya.

Semua warga Depok boleh jadi Panitia Pilkada dengan syarat-syarat pada umumnya misalnya Warga Negara Indonesia, bukan anggota Gerakan Terlarang, dan sebagainya. Saya sendiri pernah ditawarin untuk tingkat Kelurahan tapi saya tidak mau walaupun ada uangnya, pasti repot.

Perlu diketahui jadi Panitia Pilkada digaji lho. Menurut pengalaman orang-orang yang jadi Panitia Pemilihan Walikota Depok pernah dapat honor tapi mereka kurang jelas ngasih tahu persisnya berapa. Rahasia ni yee.. tapi kata lumayanlah.

Jadi Panitia Pilkada memang report, mulai data orang-orang, susun sana susun sini, ngatur bilik-bilik sampai mengatur keuangan.

Mudah-mudahan Pilkada Jawa Barat aman, tentram, lancar seperti di DKI Jakarta. Jangan sampai seperti di Sulawesi Selatan apalagi seperti Kampanye Pemilu di Pakistan yang mengakibatkan terbunuhnya Benazir Bhutto setelah berkampanye.

Kursus Gratis

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan atau saya sering menyebut pada saat ini adalah Diknas. Diknas cabang Provinsi Jawa Barat baru-baru ini memberikan dana segar untuk membiayai siswa-siswi atau orang-orang yang tidak mampu untuk kursus gratis. Kursunya bisa komputer, salon dan sebagainya.
Setelah tujuh bulan sibuk dengan prosedur yang harus dilakukan, bulan kemarin kursus gratis dimulai.

Prosedur yang dilaksanakan seperti model dadakan dan terburu-buru. Penilik Diknas Kecamatan datang, memberitahukan sesuatu harus selesai besok, katanya data-datanya mau diantar ke Bandung. Begitu terus. Ada juga yang kita tidak tahu apa bentuk dan isi proposal, disuruh bikin. Akhirnya kita minta Penilik yang cari contoh nanti kita ketik dan dirubah disana sini. Maklum kita kan baru pertama kali.

Herannya dengan model dadakan dan seperti orang terburu-buru, dana yang sampai ke lembaga kursus yang ditunjuk tidak terburu-buru dan tidak segera sampai. Bahkan setelah tandatangan MOU, itupun uang tidak segera sampai ke rekening lembaga kursus. Kira-kira 1-2 bulan setelah MOU ditandatangani baru masuk ke rekening, itupun harus ditelepon ke Diknas Depok untuk menanyakan kenapa uangnya belum sampai. Kalau belum sampai, tidak akan dimulai kursusnya. Kalau kita sih, tidak jadi gpp, jadi … yach syukur.

Lembaga kursus yang ditunjuk oleh Diknas Jawa Barat sebanyak kurang lebih 75 lembaga. Uang yang diberikan dari Diknas Jawa Barat untuk biaya operasional dan ongkos anak-anak yang kursus.

Enakkan, sudah dibiayai oleh pemerintah Jawa Barat, udah dapat ilmu gratis, plus dapat ongkos setiap kedatangan … lumayan.

Kalau ditempat kami, software yang diajarkan adalah OpenOffice yaitu Writer dan Calc. Hal ini sudah disetujui oleh Diknas Jawa Barat dengan bukti tidak ada komplain dari departemen tersebut dan proposal disetujui. Padahal dalam buku panduannya, bahwa software yang diajarkan dan ujian negara menggunakan Microsoft Word dan Microsoft Excel.

Menurut Penilik dan Ketua Organisasi Lembaga Kursus Cabang Depok mengatakan tidak apa-apa, tidak ada bedanya.

Padahal ada beberapa perbedaan jika dilakukan ujian negara. Contohnya untuk format kertas, kalau di Word adalah File kemudian Page Setup. Kalau di OpenOffice adalah Format kemudian Page. Yang lebih parah, mungkin akan menyebabkan frustasi pada murid-murid jika membuat tabel. Kalau di OpenOffice menghitung tinggal ketik = (sama dengan) kemudian klik kolom yang ingin dihitung kemudian enter. Lebih gampang prosedurnya daripada di Microsft Word. Untuk mailmerge bedanya jauh banget. Sisip gambar, wuiiih beda juga. Kalau di Calc, saat di rumus Vlookup harus pake tombol shift + F4 untuk memunculkan tanda $ diantara range tabel Vlookup sedangkan di Excel cukup F4 saja.

Untuk mengatasi hal tersebut, disaat mengajar saya sering mengatakan bahwa kalau di Word caranya begini, kalau di Writer caranya begini. Entahlah mereka ingat atau tidak.

Menurut pengalaman saya, murid yang baru bisa Office akan mengalami kebingungan dan rasa frustasi jika yang dilihat berbeda dengan yang diajarkan sehari-hari. Itu baru lihat layar kerjanya, bagaimana waktu mengerjakannya. Sudah stress sama kata “ujian” ditambahkan perbedaan tampilan. Jangan yang baru belajar, orang yang sudah sering mengetik di Office dengan versi tertentu kemudian pindah ke versi yang lain dengan bentuk agak lain sedikit saja masih bingung.

Yang penting bagi saya, Penilik, Ketua Organisasi, Diknas Jawa Barat dan Diknas Depok sudah dibilangin bahwa kami mengajarkan OpenOffice. Kata mereka tidak apa-apa yach .. wish lah …

Sekarang mereka sedang menunggu sms untuk mengambil sertifikat ujian lokal. Banyak yang bagus nilainya. Mudahan-mudahan ilmu berguna.

Rencananya tahun depan ada lagi. Hmmm … tapi kita mau cari sendiri murid-muridnya. Sudah mengerti caranya. Yang penting tidak ada KKN dan hasilnya memang bersih.

Perbatasan

Saya bertempat tinggal bagian kota Depok pinggiran. Lebih dekat dengan perbatasan wilayah Bogor dan Tangerang. Lebih tepatnya perbatasan Parung dan Pamulang. Parung masuk wilayah Bogor dan Pamulang bagian dari Tangerang.

Kota Depok memang sudah banyak berdiri mal-mal, bioskop, terminal, jajanan yang enak, toko buku gede, pusat pemerintahan kota Depok dan Universitas Negeri dan swasta yang menurut Indonesia “the best” lah. Tapi semua jauh sekali jaraknya dari kediaman saya. Kalau ke kota Depok butuh banyak waktu dan uang. Bayangkan saja, jika saya ke kota Depok lama tempuh sekitar 1 s/d 1.5 jam, itupun kalau ga macet. Soal kendaraan, naik ojek dulu, kemudian angkot 2 kali, sampai di terminal naik lagi angkot untuk ketujuan yang diinginkan.

Kalau ditanya teman soal kota Depok, saya kurang tahu. Dalam 1 tahun bisa dikatakan cuma 1 kali atau bisa dikatakan tidak sama sekali.

Bagaimana dengan Bogor. Suasana, udara dan cuaca lebih dekat ke arah Bogor. Pagi yang berkabut tebal, udara agak dingin dari kota Jakarta tapi tidak sedingin Puncak Pass, tapi lumayan untuk mandi dipagi hari pakai mikir sambil mondar-mandir di depan kamar mandi. Curah hujan disini juga cukup banyak. Pernah musim hujan dalam 8 - 9 bulan, sisanya musim kemarau. Kalau ditempat saya dalam 1 minggu berturut-turut sering turun hujan, bisa diprediksi ada bagian Jakarta yang banjir.

Walaupun cuaca mendekat mirip dengan Kota Bogor, tapi dia jauh sekali dengan tempat tinggal saya. Untuk ngurusin administrasi negara jadi berat diongkos dan waktu, samalah jauhnya dengan kota Depok.

Bagaimana dengan Tangerang. Saya dan warga disini lebih dekat dengan Tangerang. Kalau sekolah SMA, SMP yang negeri maupun swasta pergi ke Tangerang. Padahal untuk ke sekolah Tangerang harus pindah rayon. Pindah rayon itu butuh biaya tambahan tapi ga pa pa daripada selama 3 tahun SMP dan 3 tahun SMA harus mengeluarkan uang banyak untuk ongkos dan pulang kemalaman terus, yahhh direlakan saja. Yang kasihan sih gurunya, harus ngurusin pindah rayon setiap tahunnya.

Di Pamulang semuanya ada kecuali Bioskop. Sudah 2 tahun ini tutup dan bangunan sudah rusak disana sini. Mungkin ga ada yang nonton. Menurut omongan orang-orang lama di tempat tinggal saya, jika mereka ingin nonton, pergi ke Bintaro, BSD, atau ke Pondok Indah, yang paling jauh ke Blok M. Kalau ke Depok bagaimana ? Katanya jauuhhhh, berat diongkos, lama lagi jarak tempuhnya plus super macet.

Pasar yang murah alias grosir larinya ke Ciputat, Cimanggis yang termasuk wilayah Tangerang, atau ke Parung. Mau ke Jakarta, naik bis ke Ciputat atau ke Lebak Bulus.

Jadi kami lebih dekat dengan Tangerang dari pada ke Depok dan Bogor untuk urusan kehidupan.

Kalau ada rakyat Indonesia yang lebih dekat dengan daerah perbatasannya dengan alasan lebih dekat untuk kemana-mana, lebih murah, lebih praktis, lebih hemat, dan sebagainya, apalagi negara diperbatasan tersebut dalam hal ekonomi lebih menjanjikan untuk penjualan hasil bumi, sekolah atau aktivitas, saya pun mengerti.

Jika Tangerang, Depok dan Bogor adalah suatu negara, saya punya passport donk. Hmmm … bayar visa ga yach …. *mode mikir*

Dan bisa lebih dari 20 kali dalam sebulan saya akan mondar-mandir dari Tangerang, Depok dan Bogor … hehehehe. Kalau ada yang tanya “Auliah mau pergi ke mana dan berapa lama ?”. Saya bilang “Mau ke luar negeri, cuma 10 menit doang kok, ke negara Tangerang, ada yang mau dibeli ….. hehehe … Beli jarum jahit doang …” gedubrak ….

Tabungan Qurban

RW tetangga …, maksudnya warga RW di luar komplek perumahan saya. Sekitar 15 tahun ini telah mengadakan tabungan Qurban. Idenya dari salah satu pemuka agama di sana. Tujuannya, agar kita (masyarakat yang beragama Islam) membiasakan diri untuk berqurban. Qurban itu penting, tidak usah nunggu uang berlimpah, kata beliau.

Tiga tahun lalu, Bapak yang punya ide ini sering ke tempat saya untuk mengetik tabungan qurban. Beliau tidak nawarin, tapi karena sering bolak-balik ngurusin qurban dari orang-orang, saya akhirnya tertarik untuk bertanya dan pernah ikutan sekali. Malu juga si, masak ga bisa berqurban.

Kalau saya, kalau berqurban pasti pikirannya sama sapi, padahal bisa dengan kambing. Kalau kambing dijamin ga ada yang makan, dan saya kasihan sama orang-orang yang saya kasih, takut sakit. Kita tidak tahu apakah sipenerima qurban ini, cocok atau tidak dengan kambing. Pernah sih niatan pake model ditanya dulu, misalnya “Pak, Bu, apakah punya penyakit darah tinggi ?” hehehe …

Kalau berqurban sapi, wah … 7 juta rupiah, duh … kalau sendiri, belum mampu. Dengar angkanya saja udah “Woouuwww”. Bapak ini modelnya sebagai berikut 1 sapi buat 7 orang (misalnya). Setiap bulan nabung Rp. 85.000,-. Waktu tiga tahun lalu Rp. 50.000,- per bulan, dengan harga sapi kurang dari 7 juta. Jadi angka nabungnya sesuai dengan harga sapi.

Kalau kambing, juga memakai sistem nabung. Nabungnya sesuai dengan harga kambing, biasanya 1 kambing untuk 1 orang.

Beliau juga menyediakan kartu tabungan, pokoknya Bapak ini rapi banget. Ada kalung yang isinya nama-nama orang yang berqurban, ada surat undangan, surat ucapan terima kasih dsbnya. Bapak ini ga digaji lho ;) kerjanya sukarela.

Dengan sistem menabung, lumayan banyak yang ikutan dan kita yang nabung tidak berat.

Kalau ada kelebihan uang tabungan, dihibahkan ke masjid sebagai bekal di dunia sana.

Cepek Pun Juga Duit

Saya paling tidak setuju kalau kembalian uang Rp. 100,- atau di Indonesia dikenal Cepek (sepertinya diambil dari bahasa Cina) diganti dengan permen. Mending permennya bisa milih. Kebanyakan permen pengganti, saya ga ada yang suka. Saya paling suka permen Mentos dan Sugus rasa mint. Paling bagus kalau gantinya BengBeng atau Top. Sayangnya harganya ga Cepek :(

Paling bagus pengganti uang Cepek itu korek api atau bumbu masak. Sayang, supermarket itu bukan toko di pasar yang jualan bumbu masak ketengan :(

Cepek itu kan duit juga. Coba kalau dikumpulin, lama-lama bisa jadi Rp. 500, Rp. 1.000, Rp. 2.000 dan seterusnya.

Kalau ditempat saya, jika ada user yang menolak uang Cepek, saya paksa dengan mengatakan “Nanti, lama kelamaan uang Cepek itu jadi Rp. 1.000″. Pada umumnya mereka dibilangin seperti itu, mau juga dikembalikan uangnya. Jika mereka ga mau juga, saya kumpulin terus dikasih sama tukang ngamen dan pengemis. Ngasihnya ga Cepek, paling dikit Rp. 500 dan paling banyak Rp. 1.000. Saya diajarkan untuk tidak menggunakan uang orang yang tidak mau dikembalikan walaupun orang tersebut ikhlas. Saya harap semoga mereka yang tidak mau dikembalikan uangnya dapat rezeki banyak karena sudah nolong orang.

Ada juga yang tidak mau dikembalikan uangnya sampai Rp. 500 dengan alasan berat. Yach, sudah disimpan kemudian dikasih ke tukang ngamen sama pengemis.

Kalau untuk disimpan di tempat saya, duh … saya tidak ingat. Dicatat ? … kebanyakan tidak tahu namanya … hehehe. Kalau tanya malu achh …. nanti ada yang bilang “Masak sama langganan ga tahu namanya” hahaha. Masalahnya saya sering panggil mereka dengan kata “Dik, Mas, Mbak, Pak, Ibu”. Cuma sedikit sekali saya ingat nama pelanggan saya karena mereka sering ngetik atau print surat lamaran kerja.

Jadi, please … terimalah uang Cepek dan jangan ganti uang Cepek dengan permen.

Bagaimana dengan uang Gocap alias Rp. 50 ? Ga deh … kayaknya gimana gitu … seperti tidak bonafid.

Jiffest

Nanti malam, Jiffest (Jakarta International Film Festival) resmi dibuka. Tadi siang, ada user yang sering datang ke tempat saya ngasih 8 buku promosi Jiffest untuk dibaca oleh yang lain. Diharapkan semua yang telah baca buku promosi tersebut datang ramai-ramai ke bioskop untuk nonton Jiffest. Jiffest tahun sekarang untuk ke 9 kalinya. Jiffes akan diselenggarakan dari tanggal 7 - 16 Desember 2007.

TQ untuk user saya untuk buku promosi Jiffest.

Isi buku sama seperti di website Jiffest.

Saya baca resensi dibukunya, film-film yang tampil bagus-bagus semua. Nonton yach … ada film Indonesianya lho ;)

jiffest.jpeg

Belajar Bahasa Sunda, Ga Mau !!

Daerah tempat tinggal saya, termasuk provinsi Jawa Barat tapi penghuni lama banget adalah orang Betawi yang kena gusur dari kampung halamannya yaitu Senayan.

Makanannya pun rata-rata Betawi. Kalaupun ada logat Sundanya pun “ngejemplak”, tidak halus seperti orang Sunda asli.

Selain penghuni lama orang Betawi, banyak juga para pendatang dari berbagai suku yang ada di Indonesia.

Karena tinggal di provinsi Jawa Barat, pelajaran sekolah khusus bahasa adalah bahasa Sunda.

Nah, ini yang diprotes. Kata para guru yang diprotes juga anak didiknya.

Ada yang bilang, “Bu, saya kan bukan orang Sunda, kenapa harus belajar bahasa Sunda ? Saya orang Jawa !”

Ada beberapa guru yang orang Betawi sudah mengajukan keberatan mata pelajaran yang satu ini. Menurut keterangan beliau-beliau sih, sudah lama diajukannya, tapi belum ada hasil.

Menurut saya sih tidak apa-apa belajar bahasa dimana kita tinggal. Toh, pasti suatu saat pasti ada manfaatnya. Misalnya kita lagi ngomongin orang yang didepan kita dengan bahasa yang tidak dimengerti olehnya. Hahaha …

Saya sebenarnya suka bahasa Sunda yang asli dan halus, logatnya dan intonasi suara mendayu-dayu dan ingin tidur ;)

Narkoba

Kalau lihat berita di televisi dan koran, narkoba semakin hebat saja. Jadi ingat tahun 1991, ditanya sama teman-teman.

Waktu keluar main saat SMA kelas 3, para cewe-cewe ngobrol soal cita-cita. Biasanya saya paling terakhir menjawab pertanyaan.

“Auliah, apa cita-cita kamu kalau lulus SMA ?”

Dengan mantap saya berkata,

“Mau jadi Psikolog, kerja di Komdak bagian obat-obatan terlarang”

“Ahhh .. jadi polisi ?”, kata teman

“Bukan jadi polisi, seru kali yach … Selain kerja di Komdak, buka praktek untuk konsultasi orang-orang yang terkena obat-obat terlarang. Saat saya lulus, pasti yang terkena obat-obat terlarang makin banyak”

“Kok ngedoain sih !!”, kata-teman-teman

Saya cuma bengong and than “Hmm … iya ya …. kok gitu ngomongnya. Duh, padahal ga bermaksud untuk mendoakan sih, kalau saya lulus nanti diperkirakan … menurut saya sudah banyak yang terkena narkoba.”

Pada tahun 1991, penderita narkoba belum seramai sekarang. Dalam 1 sekolah yang kena cuma 1 orang itupun ditutup-tutupin. Pemberitaan soal bahaya narkoba pun belum banyak menghiasi berita-berita dikoran dan televisi negeri kita yaitu TVRI. Efek negatif narkoba saya juga kurang banyak tahu. Dulu, yang terkenal itu ganja.

Dan dulu Psikologi bisa menjadi Psikiater jika ambil S2. Itu seingat saya.

Kesamber Petir

Ini cerita basi, kejadiannya sudah 4 minggu lalu. Tepatnya hari Jum’at, saat itu hujan disertai petir yang suaranya sangat besar dan terus menerus tanpa berhenti. Suara petirnya ada yang kecil, ada yang besar. Yang besar ini sanggup menggentarkan kaca, lemari, etalase, dan ubin.

Yang super besar menimbulkan suara pecah dan cahayanya masuk ke dalam rumah. Biasanya kalau suara pecah pasti ada yang kena.

Benar juga, sorenya, tetangga memberi kabar bahwa orang yang tinggal dengan Pos Polisi yang letaknya didepan komplek terkena sambaran petir dan langsung meninggal ditempat. Herannya, pohon-pohon disekitarnya yang jarak tidak sampai 50 meter dan tingginya melebihi orang tersebut tidak hangus alias utuh. Menurut pengalaman orang-orang di daerah saya, jika ada pohon disekitar orang yang terkena petir tersebut, benda itu akan terkena juga. Maklum mereka sudah sering lihat orang kena petir.

Besok pagi, ada guru yang mengajar di daerah ke arah Parung. Dia cerita, kemarin, waktu hujan turun, komputernya kena petir. Kebetulan 2 komputer yang hidup,langsung hangus. Beliau juga cerita, temannya yang tinggal di Ciseeng, kena petir juga pada hari dan jam yang sama. Saat itu 3 orang sedang bermain di sawah, disuruh cepat pulang karena petir dari jauh sudah terdengar. Yang satu menggunakan handsfree. Yang menggunakan handsfree bilang “Ga bakalan kena petir deh”. Habis bicara seperti itu, langsung kesamber petir, terlempar kena beton dan meninggal dunia. 2 temannya, dibelakang leher hangus.

Selain manusia, telepon pun kena. Orang yang tinggal di Vila Pamulang, sudah 3 kali ganti telepon dan rusaknya karena kena petir.

Musim hujan tahun kemarin, petirnya tidak begitu ganas, tapi dia main ke tempat lain. Ada orang kesamber petir lagi nyuci motor, tukang siomay lagi jalan diwaktu hujan (dulu kalau jalan saat hujan gpp yach).

Saya perhatikan, dibeberapa daerah akhir-akhir ini sudah sering terdengar orang kesamber petir. Alasannya karena global warming.

Kalau tempat saya memang dari zaman kiplik, petirnya suka nyamber orang, rumah, tiang listrik, tiang telepon, dan pohon.

Jadi kesimpulannya, kalau ke rumah saya menggunakan motor dan jalan kaki, telepon dulu, “Auliah disana mendung ga ?” atau “Disana ada petir ga ?”

Tunggu dulu, pernah lho lagi terang menderang tiba-tiba geledek gede … hahahaha ….