Ini cerita basi, kejadiannya sudah 4 minggu lalu. Tepatnya hari Jum’at, saat itu hujan disertai petir yang suaranya sangat besar dan terus menerus tanpa berhenti. Suara petirnya ada yang kecil, ada yang besar. Yang besar ini sanggup menggentarkan kaca, lemari, etalase, dan ubin.
Yang super besar menimbulkan suara pecah dan cahayanya masuk ke dalam rumah. Biasanya kalau suara pecah pasti ada yang kena.
Benar juga, sorenya, tetangga memberi kabar bahwa orang yang tinggal dengan Pos Polisi yang letaknya didepan komplek terkena sambaran petir dan langsung meninggal ditempat. Herannya, pohon-pohon disekitarnya yang jarak tidak sampai 50 meter dan tingginya melebihi orang tersebut tidak hangus alias utuh. Menurut pengalaman orang-orang di daerah saya, jika ada pohon disekitar orang yang terkena petir tersebut, benda itu akan terkena juga. Maklum mereka sudah sering lihat orang kena petir.
Besok pagi, ada guru yang mengajar di daerah ke arah Parung. Dia cerita, kemarin, waktu hujan turun, komputernya kena petir. Kebetulan 2 komputer yang hidup,langsung hangus. Beliau juga cerita, temannya yang tinggal di Ciseeng, kena petir juga pada hari dan jam yang sama. Saat itu 3 orang sedang bermain di sawah, disuruh cepat pulang karena petir dari jauh sudah terdengar. Yang satu menggunakan handsfree. Yang menggunakan handsfree bilang “Ga bakalan kena petir deh”. Habis bicara seperti itu, langsung kesamber petir, terlempar kena beton dan meninggal dunia. 2 temannya, dibelakang leher hangus.
Selain manusia, telepon pun kena. Orang yang tinggal di Vila Pamulang, sudah 3 kali ganti telepon dan rusaknya karena kena petir.
Musim hujan tahun kemarin, petirnya tidak begitu ganas, tapi dia main ke tempat lain. Ada orang kesamber petir lagi nyuci motor, tukang siomay lagi jalan diwaktu hujan (dulu kalau jalan saat hujan gpp yach).
Saya perhatikan, dibeberapa daerah akhir-akhir ini sudah sering terdengar orang kesamber petir. Alasannya karena global warming.
Kalau tempat saya memang dari zaman kiplik, petirnya suka nyamber orang, rumah, tiang listrik, tiang telepon, dan pohon.
Jadi kesimpulannya, kalau ke rumah saya menggunakan motor dan jalan kaki, telepon dulu, “Auliah disana mendung ga ?” atau “Disana ada petir ga ?”
Tunggu dulu, pernah lho lagi terang menderang tiba-tiba geledek gede … hahahaha ….







5 comments ↓
di bgr (dkt ipebe) ada daerah namanya petir
denger2 sih di situ petirnya gede2
@Luthfi : berarti saudaraan sama Pondok Petir donk
Perlu ditelusuri keturunannya petir disana hahaha
Orang terkena petir itu tidak selalu tewas ditempat. Banyak yg bisa diselamatkan. Terkadang orang awam hanya melihat denyut nadinya saja. Jika tidak ada dianggap mati. Padahal bukan seperti itu. Perlu bantuan dokter untuk menyatakan bahwa seseorang itu telah mati. Bisa jadi denyutnya ada tapi kecil dan tidak teraba, dan orangnya masih hidup. Itu namanya mati suri.
Jadi kalo ada yang terkena petir. Langsung lakukan pertolongan pertama, dan larikan ke Puskesmas atau Rumah sakit terdekat. Kalau ternyata korbannya tidak mati, dan karena dikira sudah mati, akhirnya mati beneran karena tidak dilakukan perawatan sebagaimana mestinya.
@Agam : terima kasih pak atas informasinya. Nanti saya kasih tahu sama para tetangga untuk lebih memperhatikan korban kena petir.
saya malah pernah mimpi kesamber petir tpi hidup lgi…knpa yah