Entries from January 2008 ↓

Pameran Foto Pariwisata Sumatera Barat

Tour de Kerinci Sumatera

Diam-Diam PLN Naikan Harga Listrik

Berita di tempo interaktif hari ini menyatakan bahwa PLN diam-diam menaikan harga listrik dari tahun kemarin.

Pantes yach … Bapak saya setiap hari nyatet meteran listrik, makenya tetap tapi kok setiap bulan bayarannya mahal banget. Saya kira PLN setiap bulan naikin harga listrikĀ  :p

PLN jangan main curang donk …

Diam-Diam PLN Gunakan Tarif Baru Pelanggan 450-900 VA

TEMPO Interaktif, Jakarta:PT PLN (Persero) sejak Mei 2005 telah memberlakukan tarif baru untuk pelanggan baru rumah tangga (R1) 450-900 volt ampere (VA) dan pelanggan bisnis (B1-3) 450-20.000 VA. Pemberlakuan tarif baru tersebut dinilai melanggar Undang-Undang No. 15 Tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan. Sesuai undang-undang tarif dasar listrik ditetapkan pemerintah melalui keputusan presiden.

Sebelumnya pemerintah berulangkali menjamin tarif dasar listrik (TDL) sejak 1 Januari 2004 tidak naik hingga 2009. Pemerintah menegaskan tarif listrik yang berlaku hingga saat ini sesuai Keputusan Presiden No. 104 Tahun 2003 tanggal 31 Desember 2003 dan ditandatangani Megawati Soekarnoputri.

Dalam Surat Edaran Direksi PLN No. 0008.E/DIR/2005 tanggal 2 Mei 2005 untuk produk Menyala, disebutkan untuk pelanggan baru dan perubahan daya 450 VA menggunakan tarif 0,47 dikalikan Rp 1.380 atau Rp 648 per kilowatt per jam (kWh). Jika dibandingkan dengan tarif dasar listrik 2004 untuk golongan yang sama tarif baru tersebut lebih mahal 30,91 persen atau Rp 153 dari Rp 495 yang ditetapkan pemerintah.

Pelanggan 450 VA merupakan pelanggan paling rendah atau pelanggan miskin yang disubsidi pemerintah. Tahun lalu pemerintah mengganggarkan subsidi listrik sebesar Rp 32 triliun.

Sedangkan untuk pelanggan baru golongan rumah tangga 900 VA, sesuai surat edaran tersebut PLN mengenakan tarif sebesar Rp 717 per kWh. Padahal sesuai tarif resmi yang ditetapkan pemerintah untuk pelanggan 900 VA dikenakan Rp 495. Akibat perbedaan tarif tersebut pelanggan baru 900 VA harus membayar lebih mahal 44,85 persen atau Rp 222 per kWh. PLN menyebut penyambungan baru pelanggan 450-900 VA dengan produk Menyala.

Sedangkan Surat Edaran No. 0010.E/DIR/2005 ditujukan untuk peyambungan baru pelanggan bisnis 460-20.000 VA yang nama produk Bersinar. Tarif yang dikenakan PLN rata-rata lebih mahal 65,48 persen hingga 84,78 persen atau Rp 275-390 per kWh dari tarif yang ditetapkan pemerintah.

Sumber Tempo mengungkapkan sejak 2005 hingga saat ini tambahan pelanggan baru PLN sebanyak 1,5 juta pelanggan. Dari jumlah itu sekitar 1,3 juta pelanggan adalah rumah tangga dengan sambungan 450-900 VA. Sisanya merupakan pelanggan bisnis 450-20.000 VA. “Pelanggan rumah tangga 450-900 VA adalah pelanggan miskin, tapi mereka yang paling banyak dikenakan tarif baru PLN,” ujarnya.

Akibat praktek yang dilakukan PLN tersebut, jumlah kWh yang dijual menjadi lebih besar dari perhitungan menggunakan tarif resmi. Akibatnya subsidi listrik yang diberikan negara membengkak bila dibandingkan perhitungan kWh dengan menggunakan TDL 2004.

Direktur Pemasaran dan Niaga PLN Sunggu Anwar Aritonang menyatakan, belum bisa menjelaskan perihal tarif listrik yang berbeda dari tarif resmi pemerintah. “Saya belum bisa menjelaskan, karena masih ada pertemuan,” ujanya kepada Tempo, Selasa (29/1).

Sedangkan Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi J. Purwono menyatakan, pemerintah hingga belum menetapkan tarif bari listrik. “Tarif listrik masih menggunakan TDL 2004,” katanya kepada Tempo.

Dia menjelaskan, hingga saat ini pemerintah belum berencana menaikan TDL. Sebagai konsekwensi dari tidak adanya kenaikan tarif listrik, kata Purwono, pemerintah memberikan subsidi. Tentang tarif yang dibuat PLN, dia akan mempertanyakan hal tersebut ke perusahaan listrik pemerintah itu.

ALI NUR YASIN

Ada Apa Digigimu

Minggu kemarin, saya dipasang behel. Minggu kemarinnya lagi pasang 2 cincin di 2 geraham atas kanan dan kiri. Fungsi cincin ini lupa nih buat apaan …. :D

Sampai sekarang fine-fine aja, tidak menganggu.

Pas sampai rumah, ibu, adik dan keponakan antusias lihat gigi saya, “Coba lihat giginya …”

Yang paling lucu keponakan nomor 2 yang masih berumur 7 bulan. Biasanya saya gendong, dia melihat mata dan dia pun tertawa, tantenya ikut tertawa pula.

Tapi kali ini dia langsung berhenti tertawanya setelah melihat gigi-gigi tantenya.

Ekspresi wajahnya itu lho …. bikin saya ketawa geli … Semakin saya tertawa terbahak-bahak … dia tetap melihat gigi saya, lama-lama jari telunjuknya menunjuk ke arah mulut, saya biarkan … mendekati mulut, akhirnya saya pegang jarinya tersebut.

“Sayang, mau tanya kenapa gigi uwo ? Namanya dibehel. Kenapa ? Aneh yach .. kemarin ga ada kan .. sekarang ada nih … nanti udah gede tahu kok apa itu behel”

Sambil saya berbicara, dia tetap menatap gigi-gigi saya. Biasanya kalau saya berbicara dia akan melihat mata.

Hari ini adalah hari ke 2, saya gendong kembali dan tetap dia melihat gigi saya. Dia sudah tak melihat mata saya. Sudah tak sibuk mengaduk-aduk wajah tantenya, tidak tertawa senang lagi. Dia menggunakan ekspresi wajah …. hmmm apa yach namanya … “mungkin ingin tahu, tanda tanya” yang jelas bagi saya, wajahnya jadi lucu …

Warna Kesayangan

Warna kesayangan saya adalah warna putih. Putih itu bersih, kita menjaganya agar tidak kotor.

Waktu masih SD, paling senang hari Senin karena pake putih-putih kecuali sepatu warnanya hitam, dasi dan topi warna merah.

Waktu jadi dokter kecil, saya pake baju putih-putih kecuali topi berwarna biru langit dan sepatu hitam. Jadi dalam 1 minggu 2 kali pake putih-putih.

Pernah karena pake baju putih-putih, guru-guru saya jadi repot, “Auliah, jangan main kasti, nanti baju doktermu kotor”, “Auliah jangan main itu, ga boleh main ini, nanti bajumu jadi coklat”. Tapi kenapa yang lain boleh ? Please deh bu .. pak … yang lain juga pake baju dokter kecilnya.

Warna kesayangan kedua adalah hitam dan abu-abu. Kalau hitam ga keliatan dekilnya … hahahaa. Menurut saya, abu-abu warna tak pasti, paling sering dipakai jika suasana hati lagi bimbang dan resah.

Kelas 2 SMP saya suka warna coklat muda, hijau muda dan pink muda.

Setelah kejadian ini, saya menyukai warna biru tapi yang muda kalau perlu sama seperti kejadian tersebut tapi belum ketemu.

Saya kalau lagi suka suatu warna, bisa beberapa hari warnanya itu aja. Warna biru saja ada beberapa baju. Tapi kan orang jadi melihatnya bajunya itu melulu walaupun modelnya lain-lain plus kalau bawahannya juga warnanya senada.

Sepupu kan bikin baju dan punya toko sendiri, saya kalau beli ditempat sepupu pasti beliau sudah tahu warna kesukaan saya .. yach kalau ga coklat muda, hitam, putih paling akhir pilihan biru. Suatu hari, mungkin ga tahan untuk kasih saran, “Auliah, bisa ga cari warna yang lain, yang ini bagus warnanya (sambil nunjukin baju), yang ini juga bagus … cocok sama kulit kamu”. Hahaha tapi percuma dia kasih saran, tetap aja warnanya yang diambil itu lagi-lagi.

Soal biru, semakin kesini agak terobsesi, background FS dan blognya warna biru karena fotonya pake baju biru. Myspace juga di profilnya biru dengan background penari Bali. Di bagian dalam Myspace, biru juga. Cuma di 2 blog saya warna coklat karena birunya ga ada yang bagus. Blog yang asli keluaran Wordpress, juga biru. Dekstop saya warnanya biru, wallpaper gambar “beach” yang pastilah ada warna birunya. Sprei dan baju bantal warnanya biru.
Saya juga suka matanya Leonardo DiCaprio, Daniel “Harry Potter”, beberapa pemain The Lord of Ring terutama Elijah Wood. Walaupun warna mata tersebut belum persis-persis amat.

Waktu hari Minggu kemarin, dokter gigi tanya, karetnya giginya (?) mau warna apa ? Biru. Sikat gigi khususnya warna apa ? Biru.

Perasaan Tak Enak

Hari Minggu ini, sepanjang hari perasaan saya tak enak. Why ? Ga tahu …

Selamat Jalan Bapak Pembangunan

Saya turut berduka cita atas meninggalnya Pak Soeharto, mantan Presiden RI yang ke 2 pada pukul 13.10 WIB di Rumah Sakit Pertamina Jakarta Selatan dalam keadaan tidur. Semoga amal kebaikan beliau diterima oleh Allah SWT.

Es Batu

Bulan puasa kemarin punya keinginan jualan es batu. Lumayan tapi …. entar dulu, biasanya saya tanya sana sini.

Pertama saya beli es batu dari pedagang yang lain untuk ukuran plastiknya. Saya cairkan, ambil plastiknya kemudian ukur sama plastik yang ada di rumah. Ada yang cocok. Sekarang soal airnya. Hmmm … orang-orang pada jualan es batu itu Rp. 500,-. Untuk seharga segitu pake acara dimasak dulu ?

Kata Bapak saya, kalau dimasak dulu, rugi. Belum harga minyak tanahnya, masaknya lama lagi, plastik sama karet atau tali rafia, listrik. Kalau pake gas apalagi. Jadi jualnya bisa Rp. 1.000,-. Duh, kalau sama Bapak saya hitung-hitungan detail banget :(

Tanya sepupu. Menurut beliau, biasanya yang dijualin itu ga dimasak. Jika harganya Rp. 500. Gleeeekkk …. Saya tanya ke milist masak-masak, memang rata-rata ga dimasak. Glek lagi ….

Ada yang bilang juga, kalau kuman/bakteri yang ada di air kalau suhu seperti es batu bisa mati. Hmmm … iya memangnya ? Ada yang tahu jawabannya ? Pertanyaan saya yang lain, gimana kalau si makhluk kecil itu cuma mati suri karena kebekuan, nanti setelah suhu normal dia kembali hidup ?

Hmmm … kalau ingat fosil di kutub, sepertinya mati semua yach … :D Kan bukan si Aang :D

Saya pernah lihat orang jualan es balok, digeletakin aja di jalan, atau di jalan pasar. Ada yang pake sarung tangan tapi udah hitam and the kumel. Jorok yach … Kalau saya sih kalau beli di depot es itu dibersihkan dulu. Tapi masih ada ga yach kumannya. Masak saya harus bersihkan es batu pake sabun pembersih hama/bakteri atau saya tuangkan air panas mendidih … :D

Ada solusi dari teman milist masak-masak untuk es batu plastikan yang biasa dijualin dirumah-rumah dengan cara masukin aja es batu tanpa dibuka plastiknya ke tempat minuman. Kalau sudah dingin, baru dimasukkan ke gelas masing-masing. Hehehe, selama ini kita ga gitu. Kita buka plastiknya, pecahkan menjadi ukuran kecil-kecil dan masukkan ke gelas masing-masing :( :D

Kalau es balokan belum tahu solusinya apa …

So …. karena jualan es batunya ingin dimasak berarti Rp. 1.000. Tapi siapa yang mau beli segitu. Jadi kesimpulannya ga jadi jualan. Es batu yang airnya dimasak buat konsumsi keluarga saja.

Sekarang kan panas sekalieee di musim penghujan, sepertinya mau jualan es batu tapi ga dimasak ;)

Lumayan, freezer ga begitu banyak nganggur … Ayo freezer kita kerja …. ;)

Saya tugasnya masukin air ke plastik, ikat dan freezer tugasnya bekukan, sebeku-bekunya …. yang bagus kerjanya … sip deh ;)

Ngantuk

Saya pernah menguap dan mengantuk sangat berat waktu Aa Gym ceramah. Saat itu beliau belum begitu tenar se-Indonesia, Aa Gym ceramahnya di sekolah Al Azhar. Waktu beliau tenar, ceramah pindah ke masjid, orang sudah banyak yang dengar beliau, saya tetap mengantuk sangat berat.

Saya pernah menguap dan mengantuk sangat berat waktu di kelas Bang Arifin Ilham. Sialnya beliau bisa memandang seluruh isi kelas. Karena ga tahan ngantuknya, akhirnya saya bertopang dagu. Kayaknya beberapa kali saya di”sentil”. Hahahaha bodo deh, Saat itu beliau sering ngajarin kelas saya. Waktu itu beliau belum tenar dengan Majelis Zikirnya.

Saya pernah menguap dan mengantuk sangat berat waktu pengajian Huttaqi. Beliau bisa memandang kami semua.

Saya pernah menguap dan mengantuk pada ceramah Ary Ginandjar sewaktu beliau presentasikan soal jagad alam yang sedang trend waktu itu. Saat itu peserta sedikit, suasana masjid remang-remang. Sayangnya, audio yang menggelegar tidak bisa memulihkan rasa mengantuk saya.

Saya pernah menguap dan mengantuk pada rapat-rapat bersama teman-teman, pelatihan dan seminar.

Entahlah kenapa saya cepat mengantuk yach … walaupun materi dan pembicaranya sangat menarik. Saya pernah coba tidur yang cukup, tidak makan kenyang sebelum acara tapi tetap tidak pengaruhnya.

Saya cepat mengantuk juga jika membaca.

Duh, Musim Hujan atau Kemarau ?

Paaanas sekali … kata BMG, hari ini hujan disertai petir. Kemarin hujan sedang sampai ringan. Tapi hujan sudah lama ga turun. Hmm dua minggu kali yach, ga turun hujan … Katanya sekarang musim hujan sampai bulan Februari :(

AC saja tidak terasa dingin. ACnya rusak ? Engga kok baru aja ditambah freon dan dicek. Kalau banyak orang di warnet, puannnnaaas. Ga ada kipas angin tambahan lagi :(

Serba salah, kalau hujan, AC terlalu dingin. Keseringan hujan, Jakarta banjir, baju lama keringnya dan lembab. Mandi segan tapi harus.

Kalau panas, ingin mandi terus karena sering berkeringat. Di ruangan berAC berpeluh tapi baju cepat kering.

Maunya sih … maunya … heheheh :D Udaranya sedang-sedang saja, ga panas ga hujan. Tapi please kalau hujan jangan pake petir yach …

Popcornku Ditolak

Saya mengajukan popcorn untuk dijual ke warung sebelah rumah. Warung tersebut menyediakan jasa Playstation (PS). Saya lihat banyak anak-anak sekolah dan orang dewasa. Warung tersebut berjualan makanan kecil yang bungkusnya gede, bagus tapi isinya secuil.

Saya tawarkan ke penjual tersebut dan bersedia mau dijualin dengan sistem konsinasi. Dengan harga Rp 1.000 dengan berat 5 gram dengan rasa manis dan asin, saya rasa sudah cukup puas anak-anak untuk makan popcorn tersebut. Bahan-bahannya pun aman dikonsumsi bagi anak-anak.

Satu minggu berlalu, saya cek ke penjual tersebut. Alamak … cuma laku 1 buah. Saya tanya kenapa ga laku ? Menurut keterangan penjual tersebut, “Kata anak-anak : kemahalan”.

Saya hanya bisa bengong.

Memang makanan kecil di sana, rata-rata dijual Rp 500. Paling mahal minuman. Paling mahal itu roti. Tapi kan bungkusnya yang gede, isinya secuil dan dari bahan-bahan yang meragukan untuk kesehatan. Popcorn saya dibuat dari gula asli, gulanya banyak lagi, mentega asli, minyak bukan pake minyak babi. Lagipula dengan ukuran popcorn segitu, sudah cukup kenyang kok.

Waktu saya minta popcorn. Si penjual itu mengambilnya ditempat yang tidak semestinya yaitu didalam lemari yang tertutup.

Saya terkejut kembali.

Ok … lah kalau alasannya kemahalan, tapi kok jualan saya ditaruh ditempat tersembunyi, bukan dipajang !! Kalau ga suka sama jualan saya dari awal bilang saja ga bisa gitu dijual ditempatnya !!

Ini bukan jualan popcorn pertama saya dan bukan penjualan snack yang pertama pula. Waktu SMA saya pernah jualan popcorn ke orang Cina. Di toko tersebut jualan kelontong. Dipajang dalam seminggu laku 10 buah, lumayanlah. Dan orang Cinanya punya saran ke saya, kalau yang asin cepat lembek tapi yang manis lebih tahan lama garingnya. Jadi saya disarankan jualan yang manis saja. Memang sih yang lebih banyak laku yang manis.

Bandingkan jualan di toko kelontong sama jualan di PS yang banyak anak-anak dan orang dewasanya. Saya kan sudah survey cukup lama bagaimana prospeknya. Di PS itu bukan anak-anak saja yang main, orang-orang dewasa juga ada. Bukanya aja sampai jam 2 malam. Anak-anak sekarang uang jajannya gede-gede.

Coba yang si penjual jasa PS itu memajangkan popcorn saya, pasti lakunya banyak, jangan pake alasan anak-anak dan kemahalan …. :P

Nasib Tempe dan Tahu

Mulai hari Senin kemarin (14/1/08) pedagang tahu dan tempe di pasar dekat rumah ga jualan. Alasannya libur dulu.

Dua hari kemudian (saya yang baru tahu berita) harga kedelai melonjak terlalu tinggi. Dan saya juga baru tahu juga kalau kedelai itu impor dari Amerika dan … yang ini negara keduanya lupa.

Saya cuma bisa bengong bego, “kok bisa sih impor, kan makanan sehari-hari, makanan khalayak ramai. Bukankah dulu kita menanam kedelai juga ? Emangnya pada kemana aja sih “orang-orang”?

Duh, kalau begini terus, alhasil ga makan tahu Sumedang yang enak. Dalam 4 hari dalam seminggu kita makan tahu Sumedang dengan olahan macam-macam. Ga bisa makan tempe yang dibungkus daun pisang yang diolah balado. Ga ada gorengan tempe. Ga ada Tempe MENDOAN.

Kalau ga diatasi cepat, akan merembet ke kecap yang bahan dasarnya kedelai. Pasti tukang bubur ga ngasih kecap. Saya suka bubur pake kecap yang banyak. Emping dikasih kecap secukupnya. Kalau pedes nasi yang diberi balado, kita kasih kecap. Telur mata sapi pake kecap, ayam bakar kecap, sate kambing dan sate ayam pake kecap. Nasi goreng pake kecap. Hayoo apa lagi yang pake kecap, tempe dan tahu atau yang berurusan sama kedelai.

Hari ini, di televisi, terigu juga naik. Naik aja terus … kapan sih turunnya ? Selama harga naik ga pernah turun tuh …

*Gw yang lagi sebel*

Bersihkan Karang

Ini karang yang hidup di darat. Terjadinya karang karena waktu membersihkannya kurang sempurna, tertinggal ditempat yang dihinggapinya kemudian mengeras. Menghilangkan karang yang sudah mengeras tidak cukup menyikatnya tapi harus menggunakan alat canggih. Sebaiknya karang dibersihkan 6 bulan sekali ke ahlinya.

Siapakah saya ? Ayo tebak ;)

Nah, itu namanya karang gigi.

Hari Minggu ini, saya ke dokter. Rencananya mau pasang behel (nulisnya gimana yach ?) tapi ga jadi. Kata dokter gigi, prosedurnya harus dimulai bersihkan karang gigi dan cetak gigi

Upssss … sudah lama ga bersihkan karang gigi. Saya sih rajin sikat gigi, tapi kadang-kadang ngasal, super kilat dan ingin cepat masuk tempat tidur. Kadang-kadang juga lupa gosok gigi. Untungnya saya belum pernah sakit gigi, wuiiih jangan sampai deh.

Terakhir bersihkan gigi sekitar tahun 2000-an, cukup lama juga yach. Rasanya ga enak, ada yang tajam-tajam. Jadi males deh ke dokter gigi lagi. Lagipula rasa ngilu di gigi saat berlangsungnya pembersihan tersebut membuat tidak nyaman.

Karena sudah kelamaan ga bersihkan gigi, tebal karangnya. Iya sih, saya bisa lihat di kaca. Waktu pembersihan 1 jam. Rupanya gigi saya sensitif. Masak baru alat dokter giginya ngiung-ngiung dekat gigi saya sudah terasa ngilunya. Karena keseringan ngilu dan dokter harus menekan agak keras alatnya waktu mengerjakan 2 gigi diatas, dia mengajukan dua opsi yaitu terus dengan rasa ngilu sekali atau disuntik. Katanya selain karang, dua gigi saya ada bekas tehnya. Jadi kerjanya double. Daripada sebentar-sebentar saya bilang stop, megang tangan dokternya atau kasih isyarat tangan karena merasa ngilu sekali yang bisa menyebabkan lama kerjaannya, saya pilih disuntik saja. Padahal saya takut suntik juga. Suntik biusnya cuma di dua gigi. Hasilnya mulut tebal selama 1 jam dan ngilupun hilang. Alat suntiknya beda dengan yang normal. Tetap panjang wadahnya tapi jarumnya pendek. Kalau kita rileks ga terasa suntiknya.

Setelah 1 jam membersihkan karang gigi, setelah dikasih lotion warna putih, kumur-kumur 30 detik, enak loh giginya, terlihat dikaca sudah bersih, kalau digesek oleh lidah tidak terasa tajam. Bagus juga kerjaannya.

Ngomong-ngomong soal dokternya, sebenarnya dokternya seorang ibu … Karena ada saudaranya yang meninggal dunia dadakan diganti sama dokter cowok. Kalau ga salah dengar, lulusan tahun 2003 .. masak iya … mungkin dia mulai kuliah tahun 2003 di UI, gitu kali maksudnya. Yang penting dokter cowok itu sabar dan kerjaannya bersih.

Mau tanya dokternya cakep atau tidak ? Jawabannya adalah cakep kok.

Menurut orang-orang untuk dokter gigi lebih baik milih dokter cewek karena lebih telaten, sabar dan baik hati …. walah …. Asisten dokternya juga sabar.

Minggu depan, rencananya pasang cincin dan behel. Soal cincin, lupa fungsinya untuk apa, masalahnya bukan bidang saya, jadi saya mah angguk-angguk saja, yang penting nanti hasilnya bagus dan saya mah nurut aja deh apa kata dokter.

Surfing di Mentawai

Di milist Rantau@net lagi ramai membicarakan salah satu daerah tujuan pariwisata di Sumatera Barat yaitu Kepulauan Mentawai. Yang utama dibicarakan adalah olahraga surfing dan pemandangannya.

Kegiatan surfing di Mentawai ini hanya dikenal oleh para surfer luar negeri. Katanya banyak olahragawan internasional senang main kesana. Sayang para surfer lokal masih jarang. Kalau lihat di google memang kebanyakan orang bulenya.

Ombak di Mentawai merupakan terbagus no. 3 setelah Hawaii dan Tahiti. Berikut infromasi yang didapat dari situs mysurfbrand :

3. Lance’s Right, Indonesia - Remote and tucked away in the Mentawai Islands, Lance’s Rights (Hollow Trees) is a world class right hander breaking sharply over shallow coral reef. Optimal size is 4-8 ft and is harder to surf than the surf mags make it look. Typically, getting to Lance’s Right is a bit of a mission. Most people fly to Padang, stay overnight before catching a transfer out to the Mentawai Islands the next day. Its expensive too, Most people who surf the Mentawais go by charter boat and pay up to whopping $US450 per day! Take heart tho, you can do it cheaply aswell by staying in a camp up there.

Sedangkan Uluwatu-Bali dan Lakey Peak, Sumbawa-Indonesia termasuk perangkat ke 17 dan 19.

Ombak yang bagus menurut Pak Rudi_silausumatra yang disampaikan di west-sumatra.com :

Di Mentawai dimulai pada awal Februari, bagi surfer best seasonnya itu pada bulan Mei, Juli, Agustus. Bulan September adalah saat paling ramai disana. Dan Kandui berada di Surf Playground Area yaitu di Siberut Selatan (Muara Siberut), banyak terdapat spot-spot wafe world class.

Untuk pemandangannya juga sangat bagus. Kebudayaan dan hutan masih bertahan dan asri.

Jika ingin lihat video para surfer luar negeri main ombak di Mentawai, bisa cari di youtube dengan kunci pencari “surf Mentawai”.

Kalau ingin mancing, disana olahraga yang juga menarik. Ikannya gede-gede.

Jadi … ga usah jauh-jauh kan ke luar negeri atau kalau sudah bosen ke Bali, coba datang ke Mentawai.

And … ini penting banget … JANGAN RUSAK ALAM DISANA. Belajar dari pengalaman di Nias, setelah dirusaknya alamnya pariwisata disana sudah tidak menarik dan sepi pengunjung.

Kalau ada yang ngerusakin, berurusan sama GW dan orang-orang di west-sumatra …. hehehe …

Source :
WavePark Mentawai
West-Sumatra.com
http://rickyds905.multiply.com
mentawaiisland.com

Belajar Batik, Songket & Bordir

Waktu masih kerja di Jakarta Pusat, lewat museum Tekstil di Tanah Abang, lihat spanduk bertuliskan “Kursus Batik”. Woouww, kursus batik di Jakarta, hmm asyik nih, ga perlu jauh-jauh ke Yogyakarta atau ke Pekalongan.

Beberapa kali lewat, cuma numpang baca “Kursus Batik“, ga berani turun dan bilang “Stop Bang, saya mau turun!!”. Ga punya keinginan untuk mencatat nomor telepon untuk tanya-tanya berapa harga kursusnya. Kalau dilihat dari luar, museum Tekstil sepertinya “enggak deh untuk mampir”, banyak sekali daun-daun kering berserakan, dan itu bangunan tua. Bangunan tua …. iiiihhh seperti di museum Bahari … nanti ada penampakan *gedubrak*. Hari gini masih takut hantu !!?? Maklum saya kan penakut.

Kalau lihat di google, gedungnya cakep yach … mudah-mudahan museumnya semakin hari semakin bersih.

Tapi benar lho, museum Tekstil tidak mempunyai magnet untuk mampir. Semakin lama, spanduknya tidak bagus lagi. Sebenarnya tidak ada masalah kalau itu bangunan tua, asalkan bersih, tidak lusuh, kotor. Kalau dari luar mempunyai daya tarik magnetik untuk mengajak orang mampir, tak usah terlihat/terkesan mewah nanti malah orang mikir, “pasti mahal”. Itu dulu, sekarang tidak tahu karena belum kesana lagi walaupun cuma numpang lewat.

Tahun berganti tahun, belajar batik terlupakan, keinginan pun tak menggebu. Kebiasaan jelek nih .. :D

2 bulan lalu, Pak RW ngetik pekerjaan kantornya. Sudah 4 tahun saya jadi warga RW tersebut, ga tahu persis apa pekerjaan Pak RW. Waktu itu beliau minta discan foto-foto anyaman, katanya untuk diajarkan ke suatu daerah di Indonesia. Anyaman yang ada difoto seperti saya sering lihat, misalnya dikesetan, bambu untuk dinding rumah dan sebagainya. Saya tanya, rupanya Pak RW kerjanya di Departemen perindustrian bagian urusan kerajinan.

Iseng tanya, soal batik karena saya tahu beliau orang Jawa dilihat cara berbicara beliau. Suprise banget, beliau bisa ngebatik juga. Katanya beliau bisa ngajar saya ngebatik. Katanya alat-alatnya murah. Senang banget saya, jadi tinggal tunggu waktu yang pas untuk ngajarin batik ke saya. Tapi ongkos ngajarnya belum dibicarakan, katanya beliau itu gampang. Nanti beliau mengajarkan dasar-dasar batik, cara bikin pewarnaan, pokoknya dari dasar sampai selesai batik untuk bisa dipakai.

Menurut keterangan Bapak, Pak RW lulusan seni rupa UGM. Menurut Pak RW, beliau ga bisa bikin songket karena susah. :D

Saking senangnya, saya bilang ke salah satu tokoh pemuda di komplek perumahan saya. Dia senang banget, katanya bisa jadi proyek yang menarik. Menurut rencana sih, belajar batik bisa menambah income bagi ibu-ibu rumah tangga. Untuk anak-anak sekolah bisa jadi modal jika besar nanti mengalami kesulitan cari kerjaan bisa buka lapangan kerja sendiri. Belajar ngebatik bisa menyalurkan hobi menggambar. Nanti saya bikin batik yang tidak pakem, buat kreasi sendiri :D dan ga bisa diulang.

Untuk songket, ibu saya bisa buat songket tapi alatnya mahal, sekitar 2 jutaan, dan lebih baik dibeli langsung dari daerah pengrajin songket. Saya maunya belajar dari awal proses sampai songket selesai, mulai dari benang emas, sutra sampai aneka jenis benang yang dulu tidak terpikir akan bisa dibuat songket. Iya, segala benang yang sedang trend dipengrajin songket Silungkang. Songket ingin seperti batik yang bisa dipakai, mudah dijahit, tidak tebal, gerah, dan berat.

Dengar cerita ibu soal proses membuat songket dari awal saja sudah kebayang rumitnya, lebih rumit dari buat batik. Waktu masuk ke alatnya saja harus dihitung benangnya … Ibu nerangin pake cara matematika. Padahal saya ga suka matematika.

Walaupun susah, someday pasti saya akan belajar. Saat ini belajar batik aja, mumpung dekat rumah … ;)

Yang benar-benar belajar adalah bordir Tasikmalaya. Waktu ngetrend bordir, saya belajarnya di pasar Tasikmalaya setiap hari Minggu. Saya tertarik karena kagum benang bisa diletakkan di kain dengan warna-warni yang menarik. Kalau ke pasar Bendhill, lewat tukang bordir, jarum sangat cepat bergerak, lebih cepat mesin jahit listrik.

Saya belajar sama Kakek (lupa namanya), beliau mengajarkan bagaimana menghasilkan bordir yang bagus, memilih benang yang bagus, membedakan mana bordir yang kasar dan halus.

Semua pengrajin bordir di pasar Jatinegara mau mengajarkan dengan biaya rata-rata Rp. 500 ribu sudah termasuk benang, alat-alat bordir, kain. Kalau ga salah ingat lama waktu belajar 3 bulan.

Waktu belajar bordir saya takut, jarumnya terlalu bergerak cepat. Rencananya mau pake pelindung mata. Tapi Kakek tersebut mengatakan tidak apa-apa, belum pernah ada kasus mata kena patahan jarum :P

Mula-mula agak susah sih dan mengerikan tapi lama kelamaan lancar juga. Yang digemesin sama tuh Kakek, saya kalau bordir terlalu slowly. Bulan ke 2 sang Kakek maklum tapi menginjak bulan ke 3 bilang ke saya, “Gerakan ngebordirnya terlalu lama, padahal kamu sudah mahir” :D

Hahahaha, terus terang yach kek, saya masih takut.

Tips untuk yang beli mesin bordir. Menurut pengalaman saya, jangan beli mesin bordir di Tanah Abang yang kearah Palmerah karena orangnya ga mau masangin. Kalau dipasangin di rumah belum tentu tukang bordir bisa masangin. Saya pernah begitu, hasilnya ga bagus dan ga bisa bordir.

Lebih baik, beli mesin di pasar Jatinegara dan tanyakan dulu apakah bisa masangin sekalian. Kalau ga ada yang masangin ga usah, lebih baik bayar mahal dari pada di rumah ga jalan. Dulu, harga mesin bordir kurang dari Rp. 2 jutaan.

Update :

Pernah diajarkan membuat motif kain yang terbuat dari ikatan batu ? Saya lupa namanya. Waktu SMP kelas 2 (1987), guru seni rupa saya (Pak I Ketut Suda) mengajarkan kami membuat motif yang berasal dari ikatan batu. Bahan kain yaitu belacu, karet gelang, dan batu ukurang sedang. Batu dibungkus kain kemudian diikat dengan tali gelang. Ikatan ini harus kuat sekali. Setelah batu diikat disana sini pada kain, terserah jaraknya, lalu direbus dengan air yang sudah ada warnanya. Warnanya dari wantek.

Hasilnya … wuiiih canggih. Setelah dinilai, hasil kerajinan tersebut oleh ibu saya dibuatkan rok celana. Ibu dan Bapak saya kesemsem ini, jadi di rumah buat lagi lagipula cara membuatnya gampang sekali. Untuk kualitas warna yang lebih bagus dan tahan lebih lama, pastikan pilih zat pewarna kain kualitas terbagus. Kalau tidak suka bahan belacu, cobalah gunakan bahan katun atau bahan yang lain.

Tak berapa lama, model seperti ini jadi trend. Kalau ga salah ingat namanya Lurik. Saya tak tahu persis apakah motif ini berasal dari Bali atau Sumbawa. Karena waktu saya ke Bali tahun 2000-an, banyak dijualin disana