Waktu masih kerja di Jakarta Pusat, lewat museum Tekstil di Tanah Abang, lihat spanduk bertuliskan “Kursus Batik”. Woouww, kursus batik di Jakarta, hmm asyik nih, ga perlu jauh-jauh ke Yogyakarta atau ke Pekalongan.
Beberapa kali lewat, cuma numpang baca “Kursus Batik“, ga berani turun dan bilang “Stop Bang, saya mau turun!!”. Ga punya keinginan untuk mencatat nomor telepon untuk tanya-tanya berapa harga kursusnya. Kalau dilihat dari luar, museum Tekstil sepertinya “enggak deh untuk mampir”, banyak sekali daun-daun kering berserakan, dan itu bangunan tua. Bangunan tua …. iiiihhh seperti di museum Bahari … nanti ada penampakan *gedubrak*. Hari gini masih takut hantu !!?? Maklum saya kan penakut.
Kalau lihat di google, gedungnya cakep yach … mudah-mudahan museumnya semakin hari semakin bersih.
Tapi benar lho, museum Tekstil tidak mempunyai magnet untuk mampir. Semakin lama, spanduknya tidak bagus lagi. Sebenarnya tidak ada masalah kalau itu bangunan tua, asalkan bersih, tidak lusuh, kotor. Kalau dari luar mempunyai daya tarik magnetik untuk mengajak orang mampir, tak usah terlihat/terkesan mewah nanti malah orang mikir, “pasti mahal”. Itu dulu, sekarang tidak tahu karena belum kesana lagi walaupun cuma numpang lewat.
Tahun berganti tahun, belajar batik terlupakan, keinginan pun tak menggebu. Kebiasaan jelek nih ..
2 bulan lalu, Pak RW ngetik pekerjaan kantornya. Sudah 4 tahun saya jadi warga RW tersebut, ga tahu persis apa pekerjaan Pak RW. Waktu itu beliau minta discan foto-foto anyaman, katanya untuk diajarkan ke suatu daerah di Indonesia. Anyaman yang ada difoto seperti saya sering lihat, misalnya dikesetan, bambu untuk dinding rumah dan sebagainya. Saya tanya, rupanya Pak RW kerjanya di Departemen perindustrian bagian urusan kerajinan.
Iseng tanya, soal batik karena saya tahu beliau orang Jawa dilihat cara berbicara beliau. Suprise banget, beliau bisa ngebatik juga. Katanya beliau bisa ngajar saya ngebatik. Katanya alat-alatnya murah. Senang banget saya, jadi tinggal tunggu waktu yang pas untuk ngajarin batik ke saya. Tapi ongkos ngajarnya belum dibicarakan, katanya beliau itu gampang. Nanti beliau mengajarkan dasar-dasar batik, cara bikin pewarnaan, pokoknya dari dasar sampai selesai batik untuk bisa dipakai.
Menurut keterangan Bapak, Pak RW lulusan seni rupa UGM. Menurut Pak RW, beliau ga bisa bikin songket karena susah.
Saking senangnya, saya bilang ke salah satu tokoh pemuda di komplek perumahan saya. Dia senang banget, katanya bisa jadi proyek yang menarik. Menurut rencana sih, belajar batik bisa menambah income bagi ibu-ibu rumah tangga. Untuk anak-anak sekolah bisa jadi modal jika besar nanti mengalami kesulitan cari kerjaan bisa buka lapangan kerja sendiri. Belajar ngebatik bisa menyalurkan hobi menggambar. Nanti saya bikin batik yang tidak pakem, buat kreasi sendiri
dan ga bisa diulang.
Untuk songket, ibu saya bisa buat songket tapi alatnya mahal, sekitar 2 jutaan, dan lebih baik dibeli langsung dari daerah pengrajin songket. Saya maunya belajar dari awal proses sampai songket selesai, mulai dari benang emas, sutra sampai aneka jenis benang yang dulu tidak terpikir akan bisa dibuat songket. Iya, segala benang yang sedang trend dipengrajin songket Silungkang. Songket ingin seperti batik yang bisa dipakai, mudah dijahit, tidak tebal, gerah, dan berat.
Dengar cerita ibu soal proses membuat songket dari awal saja sudah kebayang rumitnya, lebih rumit dari buat batik. Waktu masuk ke alatnya saja harus dihitung benangnya … Ibu nerangin pake cara matematika. Padahal saya ga suka matematika.
Walaupun susah, someday pasti saya akan belajar. Saat ini belajar batik aja, mumpung dekat rumah …
Yang benar-benar belajar adalah bordir Tasikmalaya. Waktu ngetrend bordir, saya belajarnya di pasar Tasikmalaya setiap hari Minggu. Saya tertarik karena kagum benang bisa diletakkan di kain dengan warna-warni yang menarik. Kalau ke pasar Bendhill, lewat tukang bordir, jarum sangat cepat bergerak, lebih cepat mesin jahit listrik.
Saya belajar sama Kakek (lupa namanya), beliau mengajarkan bagaimana menghasilkan bordir yang bagus, memilih benang yang bagus, membedakan mana bordir yang kasar dan halus.
Semua pengrajin bordir di pasar Jatinegara mau mengajarkan dengan biaya rata-rata Rp. 500 ribu sudah termasuk benang, alat-alat bordir, kain. Kalau ga salah ingat lama waktu belajar 3 bulan.
Waktu belajar bordir saya takut, jarumnya terlalu bergerak cepat. Rencananya mau pake pelindung mata. Tapi Kakek tersebut mengatakan tidak apa-apa, belum pernah ada kasus mata kena patahan jarum
Mula-mula agak susah sih dan mengerikan tapi lama kelamaan lancar juga. Yang digemesin sama tuh Kakek, saya kalau bordir terlalu slowly. Bulan ke 2 sang Kakek maklum tapi menginjak bulan ke 3 bilang ke saya, “Gerakan ngebordirnya terlalu lama, padahal kamu sudah mahir”
Hahahaha, terus terang yach kek, saya masih takut.
Tips untuk yang beli mesin bordir. Menurut pengalaman saya, jangan beli mesin bordir di Tanah Abang yang kearah Palmerah karena orangnya ga mau masangin. Kalau dipasangin di rumah belum tentu tukang bordir bisa masangin. Saya pernah begitu, hasilnya ga bagus dan ga bisa bordir.
Lebih baik, beli mesin di pasar Jatinegara dan tanyakan dulu apakah bisa masangin sekalian. Kalau ga ada yang masangin ga usah, lebih baik bayar mahal dari pada di rumah ga jalan. Dulu, harga mesin bordir kurang dari Rp. 2 jutaan.
Update :
Pernah diajarkan membuat motif kain yang terbuat dari ikatan batu ? Saya lupa namanya. Waktu SMP kelas 2 (1987), guru seni rupa saya (Pak I Ketut Suda) mengajarkan kami membuat motif yang berasal dari ikatan batu. Bahan kain yaitu belacu, karet gelang, dan batu ukurang sedang. Batu dibungkus kain kemudian diikat dengan tali gelang. Ikatan ini harus kuat sekali. Setelah batu diikat disana sini pada kain, terserah jaraknya, lalu direbus dengan air yang sudah ada warnanya. Warnanya dari wantek.
Hasilnya … wuiiih canggih. Setelah dinilai, hasil kerajinan tersebut oleh ibu saya dibuatkan rok celana. Ibu dan Bapak saya kesemsem ini, jadi di rumah buat lagi lagipula cara membuatnya gampang sekali. Untuk kualitas warna yang lebih bagus dan tahan lebih lama, pastikan pilih zat pewarna kain kualitas terbagus. Kalau tidak suka bahan belacu, cobalah gunakan bahan katun atau bahan yang lain.
Tak berapa lama, model seperti ini jadi trend. Kalau ga salah ingat namanya Lurik. Saya tak tahu persis apakah motif ini berasal dari Bali atau Sumbawa. Karena waktu saya ke Bali tahun 2000-an, banyak dijualin disana







17 comments ↓
dulu, saat kuliah di bandung, pernah diajakin teman untuk ikutan. cuma, melihat cara membatik, kok bikin saya sengsara…maklum, bukan orang yg sabaran :p
*mungkin kalo ikut belajar mbatik, bisa jadi lebih sabar kali ya?? hmmm…*
Hmm…membaca proses pembuatan kain yang ribet kayak gini, membuat kita jadi lebih menghargai “sandang” yang kita pakai…
Pertama jangan pernah malu takut hantu. Untuk tempat-tempat tertentu seperti gedung tua dan museum pasti “mereka” nyaman di situ karena belum ada kontaminasi, atau mereka tidak suka perubahan.
Kedua, saya kagum masih ada yang mau belajar membatik di jaman sekarang ini. Menyedihkan, batik menjadi bagian dari budaya Malaysia secara legal hak cipta.
Ketiga, kayaknya doyan wisata belanja juga nich?
@Bamby : salam kenal Pak … soal hantu sepertinya saya sensitif kalau ada sesuatu yang aneh disekeliling saya, mungkin semua orang begitu juga yach ? *mode mikir
Menurut survey kecil-kecilan, banyak lho yang ingin belajar batik. Waktu saya ajakin belajar batik terus ngajakin anak-anak mereka belajar batik, mereka semangat sekali. Dan masalah dengan Malaysia beberapa waktu lalu, saya tanyakan pada tidak tahu semua.
Saya paling suka wisata makanan sama beli buku, belanja sih engga cuma suka lihat-lihat
hehehe
@Aulia : hahahaha … lama dibagian mana pak ? lama nulisnya yach ?
@Adis : betul banget
hebat kalau mau belajar seperti ini…nggak mudah melestarikan budaya khan..
btw : arti surga nunut neraka katut …surga ikut neraka juga ikut
@iman : yap betul banget Pak, memang tidak mudah untuk melestarikan budaya apalagi jumlahnya seabrek-abrek. Kebetulan saya suka seni. Budaya Indonesia adalah seni yang menakjubkan.
TQ pak informasinya soal surga …
Jangan khawatir, mereka dan Wakil Perdana Menteri Malaysia Dato Sri Najib Tun Razak mengakui kalau batik berasal dari Indonesia. Namun corak dan motifnya saja yang berbeda.
tapi kayaknya kudu hati-hati, jangan-jangan nge-blog nantinya dipatenkan sebagai warisan budaya negerinya Teteh Siti Nurhalizah :p
mbak aul, nanti kalo saya kawinan, beli songketnya ato jait baju di mbak aul aja yah,
lah, belum dibetulin toh?
yo wis… aku tambahin komentanya yah..
out of topic sih, tapi… Bandung di bilang Kota Pelacur sama Malaysia!
** Spammer Mode: ON **
hikikikiki…
@Apung : sudah diperbaiki. Soal warisan budaya no comment dulu deh …
Saya ga terima jahitan. Yang usaha jahitan itu tante saya yang di Bendungan Hilir 33 atau Gg X No. 2 atau orang mengenalnya toko Kelap-Kelip. Nama tante saya Erni dan Erna Ismail.
Untuk beli songket Sllungkang di Jakarta bisa ke Silvana Herman atau dikalangan selebritis Indonesia dengan nama panggilan Ano.
Soal mini Bandung : menurut informasi di milist dan detikforum, memang di Malaysia mengenal suatu komunitas kecil yang orang-orangnya kebanyakan berasal dari kota tertentu dari negara lain. Misalnya mini Thailand. Soal pelacuran : yaaa …. diterima dengan kepala dingin saja. Makanya kalau ke negara lain tingkah lakunya yach dijaga walaupun cuma 1 oknum. Bukankah kita keluar negeri menjadi Duta Besar. Kan jadinya seperti karena nila setitik rusak susu sebelanga. Apalagi kalau hal-hal ini menjadi pihak ketiga mengambil untung atas pertikaian kita dengan Malaysia.
Terus terang, saya lama-lama “pusing” apalagi kalau orang Malaysia dan orang Indonesia berdiskusi seperti orang tidak punya pendidikan saja, semua keluarga kejorokan dan keluarga kebun binatang keluar semua. Seperti orang zaman purba saja !!
Keinginan buat kemuseum ada….tapi belum pernah kesampaian :p
Apalagi ttg belajar membatik, bordir dll …. harus ada bakat juga kali yah?
@Tza : Saya juga agak males ke museum, bukan tidak tertarik sama isinya tapi gedungnya ituloh ..
Saya tidak tahu apakah perlu bakat ? Yang jelas ingin tahu saja proses pembuatannya. Ga penting bisa atau engga, susah atau gampang, yang penting rasa penasaran sudah terpenuhi.
Pernah diajarkan membuat motif kain yang terbuat dari ikatan batu ? Saya lupa namanya. Kalau ga salah ingat namanya Lurik.
——————
Nama teknik yang dimaksud adalah “Jumputan”. Kalau lurik adalah berupa kain tenun dan motifnya ber garis garis.
Kalau mau, membatik dengan bahan pewarna alam dan bukan dengan pewarna kimia. Lebih ramah lingkungan gitu. Indonesia kan banyak sekali sumbernya. Mulai dari dedaunan, batang2 pohon, akar2an dan biji2an.
@enkoos : iya benar jumputan. TQ. Kalau pewarna alam belinya dimana ?
salut!saya jadi semangat belajar bordir, daripada nganggur di rumah. saat ini saya sudah belajar bordir, tapi hasilnya masih jelek dan kasar. boleh minta tipsnya?supaya bisa cepat, bagus, benang bak gampang putus dan kalo ada cara2 baru membuat motif bordir.truss tips memilih mesin bordir yang bagus plus tips kalo ada masalh yang biasa terjadi pada mesin.
matur nuwun……
terima kasih tulisannya,kebetulan saya lagi pengen belajar membatik&bordir,siapa tahu mbak bisa membantu saya,terima kasih banyak sebelumnya.
@kikim : sama-sama kikim …. Pak RW saya bekerja di departemen perindustrian, baru-baru ini ada belajar gratis di bogor. Tapi belajarnya dari pagi sampai sore, setiap hari atau sampai bisa.
sayangnya saya ga bisa ikutan
Leave a Comment