Buya Hamka

Siapa yang tidak kenal dengan Buya Hamka. Tokoh Islam kharismatik yang sampai sekarang masih dikenang dan karya-karyanya sangat berguna bagi seluruh umat manusia khususnya masyarakat Islam.

Bagi orang Minangkabau, Ongku (Kakek) Hamka bukan merupakan sosok yang asing apalagi saya. Saya diberitahukan Ongku ini dari Bapak. Walaupun Bapak tidak bilang “fans berat” dari ucapan dan tingkah laku sudah terlihat. Waktu sholat Idul Fitri, “Kita sholat di Masjid Al Azhar, ada Buya Hamka ceramah”. Setiap Shubuh, Bapak saya setel radio atau televisi untuk mendengarkan khotbah Ongku. Pergi ke Masjid Al Azhar untuk sholat berjamaah bersama Ongku. Habis sholat hari Raya, saya dijunjung tinggi untuk melihat wajah Ongku. Saya lupa apakah saya juga berjabat tangan dengan Ongku juga hahahaha .. nanti saya tanyakan ke Bapak saya … Seingat saya, yang salaman banyak banget. Dan sampai sekarang, saya menganggap masjid Al Azhar adalah rumah milik saya. Bolehkan ;)

Saat paling membanggakan bagi Bapak saya (I think) waktu salah satu keponakannya yang pria menikah dengan cucu Hamka. Cakep lho kakak iparku, baik lagi orangnya ;)

Ongku Hamka sendiri tak asing dengan Silungkang, kampung halaman saya. Beliau pernah kirim surat yang isinya mengucapkan selamat Konferensi I. Tanggal surat Awal Desember 1939.

Banyak orang bangga sekali telah membaca buku-buku Ongku Hamka, apalagi kalau membaca buku Hamka sejak kecil, tapi rata-rata dari SMP. Malah ada tokoh besar di Indonesia (dengan nada rada sombong) mengatakan “Mana ada anak-anak sekarang baca buku Buya Hamka, saya aja dari SMP kelas 2 sudah baca buku Hamka” saat acara seminar di Al Azhar.

Hahahahaha ….

Dalam hati, saya bilang, “Duluan saya. Saya sudah baca buku Hamka dari kelas 5 SD” :P

Duh, saat itu rasanya saya ingin tunjuk tangan untuk “intrupsi”.

Saya punya buku Hamka yang berjudul “Hamka, berkisah tentang Nabi dan Rasul”. Ada 3 jilid. Terbitan Pustaka Panjimas Jakarta tahun 1982. Cetakan ketiga. Cetakan I tahun 1979. Cetakan II tahun 1981. Ditulis kembali oleh M. Saribi. Buku ini untuk bacaan murid Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah tapi di sekolah saya buku tersebut ga dipakai. Belinya di toko buku Pasar Tebet Barat. Saat itu, Bapak saya lagi senang-senangnya beliin saya buku tebal-tebal, mulai cerita detektif sampai karya sastra.

Yang paling saya suka pada kata-kata, “Cucu-cucuku”. Rasanya beliau sedang berbisik lembut dan berada dekat saya.

Waktu beliau meninggal dunia, Bapak saya sangat sedih sekali. Saya menulis cerita ini, mata saya berkaca-kaca … Udahan yach ….

Saya lampirkan cover buku Hamka berkisah tentang Nabi dan Rasul, cuma ada jilid 2 dan 3. Yang jilid 1, entah kemana. Bukunya diplastikin dan naruhnya sembarangan, juga sudah lama belinya jadi agak kusam. Tahun 1985, buku jilid 2 harganya Rp. 900,-. Untuk jilid 3 itu harganya Rp. 1500,-. Masih murah kan jika dinilai saat ini, dulu buku ini untuk ukuran anak-anak mahal lho. Saya aja jajan cuma 100 perak perhari :(

21 comments ↓

#1 Adis on 02.18.08 at 6:32 pm

Saya tahu kalau HAMKA itu singkatan juga baru2 ini..hihi..

#2 ebie on 02.23.08 at 9:23 pm

hmm,,

akhir-akhir ini, saya sering dikasih tugas sama guru sejarah saya yang super killer. nyuruh buat makalah tentang buya hamka sebanyak 20 lembar ntuk minggu ini…!!

bisa bayanginkan berapa banyaknya????

tapi, yang saya sering liat di nternet, isi biografi buya hamka itu sama saja…

plis, kasih tw saya informasi apa aja yang kalian dapat tentang hamka….

#3 auliahazza on 02.23.08 at 10:06 pm

@ebie : ya memang itu semua, sudah lengkap atau beli aja beberapa bukunya, sorry ga kasih jalan keluarnya. Kalau mau observasi mendalam bisa datang ke sekretariat masjid Agung Al Azhar, kebetulan anaknya Pak Rusdi Hamka disana.

Kalau 20 lembar mah sedikit, dirangkum aja. Sudah cari di google ? banyak kok tapi yach itu informasinya begitu juga, coba cari sampai halaman terakhir, mudah-mudahan dapat.

#4 azfith on 06.18.08 at 6:37 am

sangat lah pantas dijadikan sebagai guru,orang tua,dan sebagai panutan bagi anak muda skrg,apalagi jaman skrg banyak nya anak muda2 yang kehilangan arah atau tujuan hidup.saya sebagai orang yang pernah menuntut ilmu ditempat nya dulu buya pernah juga menuntut ilmu ditempat yg sama yaitu di sumatera thawalib parabek angkatan 1987.sangat bangga dan pingin mengikuti jejak buya cuma satu dan lain hal cita2 itu kandas ditengah jalan tapi saya puas mimimal ilmu yg saya dapat di stp Aihamdulillah sampai skrg bisa membantengi diri saya dari hal2 yang berbau mungkar dan maksiat.sekarang saya sudah berkeluarga dan isteri saya masih ada tali saudara dengan buya,yaitu ibu mertua saya adalah kemanakan(anak adik) buya.semoga buya diterima dan ditempatkan di surga nya ALLAH.amin.

#5 GILANG on 12.25.08 at 7:50 am

MOHON INFORMASI YANG LEBIH DALAM TENTANG BELIAU SAYA SANGAT NGEFEN BANGET

#6 auliahazza on 12.27.08 at 10:57 pm

@gilang : nulisnya jangan pake huruf kapital. huruf kapital itu menandakan orangnya lagi marah-marah atau berteriak.
Bisa beli bukunya di toko buku

#7 suesara on 02.20.09 at 1:58 am

bagus kenangan anda membesar dengan buku2 HAMKA

#8 minhajul qowim on 04.09.09 at 4:17 am

saya pengagum pemikiran Hamka, kalau Saudara punya buku-buku karangan Hamka tolong berikan kabar kepada saya. biar saya minta dikirimkan foto copy_nya. tentu saya akan bayar ongkos copy dan ongkos kirim. sampai saat ini, saya baru punya “di bawah lindungan ka’bah, tenggelamnya kapal van der wicjk, ayahku”. tolong kabari saya di emai saya: mh.qowim@yahoo.co.id

#9 OMEN on 07.04.09 at 6:06 pm

TAELAH

#10 var!d on 09.29.09 at 6:22 am

buya hamka sudah saya kenal sejak saya dulu masih di bangku SD,,, coz ayah saya dulu pernah jadi supir pribadinya buya hamka,,, bnyak bgt buku hasil karangan buya yang ayah bawa, gratis lagi,, hehe ,,, ya walaupun cuma supir, tpi itu justru yang membuat saya mengenal sosok buya hamka,,

#11 auliahazza on 10.09.09 at 5:21 am

@Var!d : wah keren. supir kan tetap kerja halal :)

#12 ratna on 10.29.09 at 2:45 am

assalamualaikum saya mengenali anak buya yg bongsu dari isteri pertama. Saya telah terputus hubungan dgnnya sekian lama. Saya ingin sekali mendapatkn no tel atau alamatnya. Adakah saudara ada?

#13 auliahazza on 10.29.09 at 8:44 pm

@ratna : wa’alaikumsalam wr wb. coba ke masjid al azhar, jakarta selatan cari pak rusydi hamka di sana

#14 WaRdA# pRoBoLiNgGo on 11.04.09 at 4:15 am

Salam BaHaGiA……!!!!,Wah aku tertarik sekali SaMa Buya Hamka Ini…,,Pintaaar,Ternyata Dia bekerja keras meski di dalam penjara sekalipun Bangga rasanya jadi putra-putri indonesia.
Wa……h ternyata kita sama-sama ngefens ma Buya Hamka!!Makasihhhya aku dah boleh curhat tentang buya hamka.

#15 fitra on 11.13.09 at 9:48 pm

kengan yang hampir sama semasa kecil dulu,alm ayhku juga penggamum beliau,wkt kecil adikku juga sering di gendong tuk melihat wajah buya,atau bersalaman selesai sholat ied…kenangan yang indah..pun aq sering merinding bila ingat kenangan masa kecil dgn mesjid Al azhar

#16 renandita on 12.01.09 at 3:22 am

Trimakasih,saya juga kagum dengan sosok hamka ini,pejuang dan relawan yang tak kenal dengan kata putus asa. semoga masih ada orang seperti hamka ditanah air kita ini.

#17 Akmal on 04.03.10 at 3:07 am

assalaamu’alaikum wr. wb.

Kami menjual buku-buku karya Buya Hamka dengan judul sbb:

Pelajaran Agama Islam
Pandangan Hidup Muslim
Di Bawah Lindungan Ka’bah
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk

Semua buku yg dijual adalah buku baru, bukan bekas. Untuk info lebih lanjut silakan menghubungi malami.bookstore@gmail.com

wassalaamu’alaikum wr. wb.

#18 herman on 05.13.10 at 7:59 pm

ya Alloh itu buku saya waktu masih SD, nggak tau sekarang dimana.. ibu saya yg belikan dulu :’(
kalau tidak keberatan mohon dapat diberikan filenya melalui e-mail herman_h88@yahoo.com, krn kalo cetakan saya yakin tidak ada lagi di toko buku. terimakasih

#19 ms arief on 06.16.10 at 8:54 pm

Adinda,
dua atau tiga minggu sebelum Buya wafat beliau memberikan pendapat di masjid Agung Al azhar. Ketika itu saya duduk di kelas I bangku SMP di seputar cipete selatan. Saat itu beliau sebagai KETUA UMUM MUI berada dalam posisi yang sangat kritis. Pak HArto berusaha untuk meneruskan gagasan P4 dan Pancasila, yang tahun 1978 diojadikan Ketetapan MPR. Ketika itu, kita umat islam dalam posisi yang sangat terjepit. Memang umat Islam besar namun langsing di dalam kebijakan ibadah. Kala itu usai sholat Jumat, Buya dengan dipapah berdiri dan berbicara, seingat saya beliau mengatakan:
SEBAGAI HAJI ABDUL MALIK KARIM AMARULLAH SAYA MENYATAKAN MUNDUR SEBAGAI KETUA UMUM MAJELIS ULAMA INDONESIA. DAN SEBAGAI HAJI ABDUL MALIK KARIM AMARULLAH SAYA MENYATAKAN TIDAK AKAN PERNAH MENCABUT FATWA MUI YANG MENGHARAMKAN UMAT ISLAM UNTUK HADIR DALAM ACARA DAN PERIBADATAN YANG DISELENGGARAKAN O;LEH UMAT LAIN. BAGI SAYA SECARA TEGAS SAYA KATAKAN BAHJWA SEBAGAI SEORANG HAJI ABDU; MALIK KARIM AMARULLAH SAYA TETAP MENERUSKAN FATWA TERSEBUT. DEMI KEUTUHAN KITA SEBAGAI BANGSA, SAYA BERSEDIA MUNDUR SEBAGAI KETUA UMUM MAJELIS ULAMA INDONESIA.
Adinda yang tercinta, kami semua meneteskan air mata ketika itu. Entah spirit apa yang membuat kami harus menangis terisak. saya yang belum mengenal politik atau kaidah apapun, merasa demikian terharu mendengar kata-kata buya itu. beliau tidak pernah tergoyahkan oleh apapun juga ketika harus melindungi umatnya. Ketika itu seandainya buya berdamai dengan menteri agama ketika itu Alamsyah Ratuprawiranegara, mungkin Buya akan banyak mendapatkan keuntungan materi. Buya seingat saya selalu menghadiri siapapun juga yang dia ketahui wafat dengan mendatangi rumah duka, entah orang berpangkat ataupun orang miskin sekalipun. Bagi saya Buya tiadalah ada tandingannyua hingga kini, saya selalu teringat dengan wajah sejuk beliau, saya teringat selalu dengan ketegarannya dalam berpihak pada umat dan saya kagum sekali dengan keteguhannya menjaga prinsip. Memang sekarang kita butuh ulama sekaliber beliau. Seingat saya di era 1970an dan 1980-an, ALLAH memberikan rahmat besar kepada umat Islam Indonesia. Saat itu dibidang budaya HAMKA selalu menjaga umat. Di bIdang politik Ada Pak NAtsir, Pak Roem dan Pak Syaf. Di DPR kita ada pak Syaifuddin Zuhri yang sampai sekarang tetap saya kagumi karena pernyataan beliau yang menolak PPP bertanggung jawab terhadap dijadikannya P4 dan PAncasila sebagai Ideologi Negara. Sekarang kita butuh ulama-ualama teguh dalam pendirian sepertri Hamka, Syaifuddin Zuhri, Pak NAtsir, Pak Roem dan pak Syaf. Rasanya semakin tua saya, semakin gagap dalam menghadapi kehidupan dalam bangsa ini karena kepada siapa lagi kita akan berlidnung dan berpayung. Mungkin ALLAH Taala belum terbuka menyediakan ulama-ulama besar seperti Buya HAMKA disaat sekarang ini.

#20 Wendra doni on 06.28.10 at 11:29 pm

saya selalu mensukuri hidup ini tanpa putus asa dan selalu berpayung padanya tapi megapa rintangan, halagan godaan seperti mendayu dayu saya apa kah seperti ini hidup selalu penuh godaan tapi yg saya pikir mungkin sabar seperti para ulama megucapkan itu

#21 ismu on 08.02.10 at 10:21 pm

saya dah lama kenal nama besar buya hamka dan dah sering denger beberapa judul buku tafsir dan buku cerita, tp baru bulan juli ini bisa kebeli bukunya, tenggelamnya kapal vanderwijh dan dibawah naungan ka’bah, tp itu juga gak sengaja, lagi anter barang ke tmpt temen penerbit bulan-bintang trus diajak liat-liat buku, tiba2x aja liat karangan buya hamka. bukunya mantaaaaaaap……..

Leave a Comment