Tempat Jin Buang Anak

Tahun 1988, Bekasi dianggap “jauh” sekali. Kalau kesana lewat jalan tol dengan bis Mayasari yang butut dan tidak ber-AC, berhenti di UKI kemudian naik bis lagi untuk turun di Gelael Tebet. Jalan kaki, naik bis super cepaaaaaat yaitu Metromini S60.

Teman-teman saya bilang, “Auliah tinggal di tempat jin buang anak!!”. Kalau saya nyebutnya “tinggal nun jauh disana”.

Perkembangan Bekasi termasuk paling cepat. Dari bis Mayasari butut tanpa AC sampai Mayasari AC berbody biru dan putih, dengan tempat duduk nyaman dan bisa tidur. Dari berhenti di UKI, pelan-pelan tapi pasti sudah berhenti disegala terminal di ibukota.

Dulu komplek saya, gersang, banyak debu, banjirnya cuma didepan komplek, persisnya dekat jalan protokol kota Bekasi.

Pelan-pelan tapi pasti mulai dari tidak ada telepon dan angkot, akhirnya ada angkot berhenti depan rumah, Indomart pas sebelah rumah, ada show room kecil-kecilan tapi ramai, pas disebelah rumah juga. Ada televisi dan internet kabel, gas, PAM, harga rumah yang tinggi karena berada di segitiga emasnya kota Bekasi. Musim kemarau, daun Akasia berguguran, hujan datang, rimbun kembali. Tapi tetap debunya ga tahan, banjirnya semakin lama sudah sampai melewati rumah saya. Tinggi air bisa sampai betis. Pemerintah kota Bekasi telah berusaha untuk memperbaiki gorong-gorong di bawah jalan Ir. H. Juanda tapi tetap banjir. Kalau ke mall tinggal jalan kaki, tinggal pilih mau ke arah terminal atau ke Mangunsarkoro. Kalau mau sembako murah, ada Pasar Baru Bekasi, tinggal jalan kaki atau naik angkot, cuma 10 menit.

Bekasi macet, iya macet kalau jam pagi dan sore hari sampai di depan rumah saya. Serunya, Mayasari, kendaraan paling setia, supir dan keneknya hapal muka kita, lewat juga di depan rumah. Asyikkk .. Maklumlah, kami pelanggan mereka dari tahun 1988, dari kami yang masih malu-malu sampai berpakaian blazer, hak tinggi dan bergincu. Sayangnya, mereka belum bisa merubah hidupnya.

Bekasi sudah bukan “Tempat Jin Buang Anak”

Sekarang, sudah 4 tahun tinggal di lain tempat dan kembali kata-kata “Tempat Jin Buang Anak” terdengar. “Tempat Jin Buang Anak” bukan sembarangan diucapkan. Kemarin, beberapa tetangga cerita memang benar banyak setannya bukan jin. Saya dikasih tahu beberapa titik yang perlu diwaspadai jika malam hari. Saya pernah ke salah satu titik tersebut pada siang hari, agak lama, duduk-duduk. Tempatnya nyaman dapat hembusan angin dari pohon bambu dan suara gesekannya jadi ingin tidur. Kalau malam hari, memang didaerah tersebut kurang pencahayaan.

Pernah, heboh color hijau santer terdengar, seluruh isi komplek waspada tapi tidak terlihat panik. Waktu itu color hijau baru nyatronin perumahan tetangga. Untungnya si color hijau menjauh dari komplek.

Memang, daerah yang sekarang ditempati, lambat sekali pertumbuhannya dibandingkan dengan Bekasi. Komplek tersebut sudah ada sebelum tahun 1985. Semenjak ada angkot, waktu operasinya cuma sampai jam 5 sore. Kalau ke Jakarta berat diongkos dan “lebih cepat tua dijalan”. Kalau ke mall harus ke Bintaro, BSD, Pondok Indah atau Town Square. Bedanya, udara sangat segar, airnya dingin, dan petirnya ga kuukuuu. Bagus untuk tempat istirahat, olahraga, cuci mata lihat yang hijau.

4 comments ↓

#1 Riri Audiya on 04.05.08 at 11:25 pm

pertamax..

udah lama ga kesana..

#2 M Fahmi Aulia on 04.06.08 at 2:05 am

mungkin maksudnya banyak yg aborsi…itu disebut jin buang anak.. :p

#3 uwiuw on 04.07.08 at 4:04 am

hmm sy baru tau soal ini hehehe kalau ternyata bekasi disebut begitu

bandung disebut apa yah ama orang tempo dulu ?

#4 auliahazza on 04.08.08 at 6:59 pm

@riri : maksud riri : sudah lama ga kesini :D
@Fahmi : ha3x. Sayangnya orang-orang disana belum pernah cerita ke auliah ada jin anak berkeliaran
@uwiuw : itu istilah buat daerah yang masih dianggap orang kota terlalu deso gitu … Orang Bandung terkenal kota bunga, ga pernah kedengaran jeleknya

Leave a Comment