Bulan depan kita telah memasuki Ramadhan aka Puasa. Salah satu ibadah sunat yang dijalan pada bulan tersebut adalah Tarawih.
Yang saya tahu, sholat Tarawih boleh dikerjakan di rumah baik berjamaah atau sendiri. Boleh juga dilakukan di masjid.
Kalau berjamaah kan enak, pahalanya banyak dan bisa silaturahmi.
Yang paling saya sebel kalau sholat di masjid. Duh …. beriiiiisiiiikkkk …
Anak-anak memang harus didik untuk belajar agama sejak dini, tapi kalau mereka buat kekacauan, berisik terus shaf menjadi bolong …. duh ….. menyebalkan …
Pernah juga tiba-tiba anak balita menangis sejadi-jadinya sehingga suaranya mengisi seluruh masjid. Ibunya lagi sholat dan tidak berhenti (saya tahu karena anaknya belum juga berhenti menangis sampai sholat selesai). Suara iman menjadi sayup-sayup terdengar bahkan tidak terdengar. Mbok ya … ibunya berhenti sholat, mendiamkan si kecil atau langsung pulang. Bacaan sholat saya berubah menjadi “Astagfirullah … Astagfirullah, Subhanallah … Subhanallah … Allahu Akbar … Allahu Akbar dstnya begitu …” setelah selesai sholat, kanan kiri saya mengeluh …. 
Waktu saya kecil, masjid di Cipete dan Tebet mengharuskan anak-anak berada di shaf paling terakhir. Alasannya karena anak-anak tukang berisik, suka berhenti seenaknya atau pulang sebelum waktunya, sehingga shaf terpotong atau hobinya keluar masuk, atau ga sholat malah ngobrol …..

Kalau ceramah … lebih baik ga usah ada ceramah deh!!!. Ada suara dengungan seperti ada sejuta tawon/lebah yang sedang terjebak di ruangan besar. Ibu-ibu yang sudah dianggap dewasa dan bisa menjadi contoh anak-anak malah hobinya ketawa, bicara, ngerumpi dll ….. Kan kasihan pak Ustad, udah cape-cape bikin ceramahnya tapi ga didengerin 
Banyak juga, orang-orang pada bubar jalan kalau ceramah terus masuk lagi kalau mau sholat.
Yang paling seru juga, jika ada shaf yang bolong, ga mau geser lagi. Pernah ada yang ngotot gesernya harus ke arah kanan bukan ke kiri. Yang satunya lagi ngotot yang benar ke arah kiri. Sama-sama ngotot, jadi shaf itu kosong, jadilah “setan” yang ngisi sampai sholat berjamaah selesai. Kalau shaf didepannya kosong juga ga mau maju, katanya “malu”
Padahal semakin ke depan, berarti tambah banyak pahalanya.
Jadi kalau mau sholat di masjid ya sholat …. ngerumpi, cekakak cekikik di waroeng aja atau di rumah …
Dan untuk Pengurus Masjid diharapkan lebih tegas lagi ….. kalau benar ga usah takut kan 
Untuk semua teman-temanku Selamat Puasa, maafkan daku jika tulisan saya banyak menyinggung perasaan semua teman-teman.
Dari YM beberapa minggu lalu, bagus deh
Jangan pernah digantung seperti Melly, akhirnya pudar seperti Rossa, carilah cinta sejati seperti Ari Lasso, hingga jadi kenangan terindah seperti Samson, bila kamu ga mau dijadikan yang ke 2 seperti Astrid, kamu harus jujr & tulus seperti Radja, dan kenanglah aku seperti Ungu, janganlah kamu selingkuh seperti Kangen Band, nanti kamu ketauan oleh Matta Band lho.
Jika hati sejernih air, jangan biarkan ia keruh, jika hati seputih awan jangan biarkan ia mendung, jika hati seindah bulan hiasilah dengan iman, kini Ramadhan akan tiba sebulan lagi, dengan kerendahan hati maafkanlah segala kesalahan. Marhaban ya Ramadhan, allahumma bariklana fi-sya’ban wa ballighna ramadhan, 1429 H









5 comments ↓
Ramadhan harus banyak latihan sabar, dan memang anak2, juga ibu2 itulah ujian buat kesabaran kita. Tetap semangat !!
@Taufik : memang dilatih sabar. Anak-anak sedari kecil harus diajarkan untuk menghormati, menghargai dan tata krama dalam beribadah. Kalau dari kecil tidak diajarkan seperti itu, bagaimana besarnya.
Pak Ustadz sudah cape2 membuat ceramah, tapi kita tidak mendengarkan, itu salah satu tidak menghormati orang, tidak menghargai jerih payah orang.
Ya pantas lah kalau kita tidak dihargai dan tidak dihormati orang lain, wong sama diri sendiri aja gitu kok.
selamat menyambut puasa….
@fr3n : maaf lahir batin ya fr3n
mohon maaf lahir & batin jg…selamat menjalankan ibadah puasa
Leave a Comment