Ada keluarga yang masih utuh orang tuanya. Ibunya sebagai ibu rumah tangga biasa. Salah satu tugas si ibu mengurusin anak-anaknya yang berjumlah 5 orang yang masih kecil-kecil. Suaminya kerja semrawutan, penghasilan tidak tetap. Sering kali penghasilannya hanya bisa membeli beras. Seringkali anaknya hanya menjilati garam yang diletakkannya di telapak tangan sepanjang hari karena tidak ada yang bisa dimakan. Jika esok hari bapaknya tidak membawa uang, garam pun masih dijilati dan dinikmati dengan tekun. Rumahnya saling dempet dengan yang lain. Ruangan sempit dan tidur pun berjejal. Air got sangat bau tercium di udara, warnanya abu-abu dan hitam.
Kemarin Minggu, 14 September 2008. Saat itu sehabis hujan mengguyur panasnya Jakarta membuat suasana Semper Barat, Kec. Cilincing menjadi lebih sejuk. Karena tahu akan berada di udara panas pantai, saya menggunakan pakaian agak tipis. Tapi udara saat itu sangat bersahabat. Walaupun bau got sangat menyengat sempat mampir di hidung, sebentar-sebentar angin pantai berhembus, sehingga baunya cepat dibawa arus angin. Kalau dipikir, paling enak jika kita berleha-leha menikmatinya.
Tempat yang saya dan teman-teman kunjungi berada agak di belakang Islamic Center yang berdiri sangat megah. Disebelah kanan, banyak sekali orang yang berjualan, tempatnya jualan jangan ditanya, saya ga minat untuk membelinya. Sepertinya pasar, ramai sekali dengan orang nongkrong, lalu lalang mobil dan kontainer. Di belakang Islamic Center banyak berdiri dengan lesu rumah-rumah jelek, sepetak-petak, penghuninya berjejal jika tidur. Ada juga rumah-rumah yang layak huni. Pokoknya lingkungan khas daerah kumuh. Jalannya ditutup dengan batu koral, rupanya mau di aspal.
Di dekat got yang baunya sangat, berdiri Puskesmas. Wah, keren Puskesmasnya. Tidak seperti Puskesmas di dekat rumah saya yang berdiri seadanya, bangunan tidak bertingkat, tidak rapi, kotor, cat putih yang sudah kusam disana sini, genteng model kuno. Puskesmas di Semper bergedung megah, bertingkat, tangga berjenjang, pagarnya stainless, keramik dan banyak sekali pohon-pohon yang sedang berbunga. Tanah parkirnya di bata block. Rata-rata dindingnya berkeramik. Saya dan teman-teman mengira itu gedung Kecamatan. Saya terkagum-kagum gedung pemerintah ini. Sayang, saya tidak masuk ke dalam untuk menyelidiki lebih lanjut karena sudah telat.
Menuju ke rumah ibu RW, pemandangan yang sama, rumah kecil-kecil, jalan yang sempit, banyak orang, aroma yang tidak enak yang berasal dari got. Satu atau dua rumah, membuka usaha makanan, baju-baju sekolah atau kebutuhan pokok.
Setelah sampai di depan rumah ibu RW, sudah banyak orang menanti. Kebanyakan nenek-nenek dan kakek-kakek lanjut usia. Menurut keterangan ibu RW, mereka sudah duduk di terasnya dari jam 1 siang. Kita sampainya 3 sore. Memang pertemuannya jam segitu. Wajah-wajah sabar menyambut kedatangan kami. Barang-barang sembako sedang dimasukkan ke dalam rumah Ibu RW. Banyak sekali.
Di depannya ada pemandangan yang sangat kontras dibandingkan dengan rumah-rumah sekitarnya. Rumah yang lebih cocok berada di lingkungan elit. Besar, megah, angkuh menjulang tinggi dan luar biasa keren. Saya tertegun melihatnya. Menurut keterangan Pak Hansip, yang punya memang orang kaya, punya toko di Pasar Koja, punya banyak kontrakan. Mudah-mudahan orang kaya ini baik hati, berderma karena sepanjang mata memandang membuat hati teriris.
Menurut ibu RW, wilayahnya ada 17 RT. RT 17 adalah yang paling parah ekonominya. Waktu ada pembagian BLT ada 238 kepala keluarga yang berhak untuk menerimanya. Karena sangking banyaknya yang harus dikasih BLT, Panitia BLT terkaget-kaget dan harus mensurvey kembali sendirian. Data yang dikasih ibu RW memang benar adanya. Memang rata-rata di wilayah Ibu RW banyak sekali kaum super miskin, dhuafa dan yatim piatu.
Setelah pembagian sembako, susu, vitamin, baju, uang Rp. 100.000 dan alat sholat selesai dengan rapi dan tertib. Tidak pakai acara desak-desakan dan korban jiwa seperti di Pasuruan. Sembako masih banyak berlebih, untungnya semua yang didaftar telah terima semua. Menurut Panitia, sisa sembako dan lain-lainnya untuk orang miskin yang di RT 17. Kebetulan acara ini hanya ditujukan bagi para manula dan anak yatim piatu.
Keluar dari rumah ibu RW, saya kembali melihat rumah megah tersebut. Saya menghela nafas panjang. Semua orang berhak mempunyai sesuatu yang wah. Tapi yang ini terlalu kontras. Mudah-mudahan yang punya rumah, orangnya baik hati, penuh kasih sayang dengan sesama, banyak berderma, penyumbang yang sangat banyak dan memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitarnya.
Melihat gedung Puskesmas dan Islamic Center kembali, saya berharap, banyak gunanya untuk kesejahteraan umat. Rasanya sedih sekali jika gedung yang dibangun dengan sangat megah, angkuh di tengah-tengah kemiskinan tidak ada manfaat dan meningkatkan perekonomian keluarga disana.
Keluar dari Semper untuk pergi mencari makanan berbuka puasa. Jalan tol mulus dilewati, kanan kiri mobil mewah, gedung-gedung mencakar langit. Kami terdiam mengingat keluarga yang hampir setiap harinya menjilati garam. Mudah-mudahan keluarga tersebut bisa tabah, tegar dan mendapat bantuan agar bisa hidup layak dan berkecukupan. Mudah-mudahan kami dijauhi dari murka Allah SWT. Ampuni kami ….









3 comments ↓
Tahunnya apa tidak salah?
14 September 2004?
Saya mengkritisi satu hal ; gak perlu lah menjelek-jelekkan kejadian yang di Pasuruan. Mohon maaf, dalam hemat saya, Anda dan teman-teman Anda-kan bisa dihitung dengan jari bergaul dengan kalangan ini… Kalau Anda berani mendeklarasikan diri Anda pendampingan orang-orang ini selama satu tahun, baru Anda boleh menjelek-jelekkan kejadian di Pasuruan…Tebakkan saya, ini kegiatan rutin Anda dan YISC atau komunitas lain…Terlalu…
Hidup ini indah apabila Anda menikmati, hidup ada dan hidup tiada itu bedanya tipis…Ketika ada, coba tengok..ada karena diri Anda, atau ada karena Ortu Anda?
Kalau anda penggiat, Anda dapat menemukan, mereka yang papa di Jakarta, tidak sedikit punya rumah bagus di daerah, tapi kalau Anda hanya hidup “sekali-sekali” ke lingkungan mereka, yang Anda lihat hanya “sekali-sekali itu saja…
Mohon, jangan membiasakan melihat KULIT…Parah…Sederhananya…Anda ingin mengatakan Anda Tahu SESUATU…padahal ANDA melihat sedetik…Model kayak gini yang bikin Islam hancur…cuma tahu alif ba, ta, bicarnya dah tafsir…
Above all, ini masukan, diterima syukur, gak diterima ya buang…Intinya…Anda harus jujur…melihat tidakboleh sekejap-sekejap…tetapkan diri Anda…mau jadi pengamat kemiskinan, penikmat KeADAAN miskin ORANG LAIN, atau memberdayakan ORANG UNTUK dapat MELIHAT KEMISKINAN bukan TAKDIR
Sorry, it’s hard to say that U’ve to broaden your social horizon…Tq
@Fahmi : terima kasih telah dikoreksi
@Ganggang laut : hey .. orang yang selalu bersembunyi memakai kedok, tidak berani mengungkapkan identitas pribadi, jika berani mengkritik orang, tampilkan muka asli kamu.
Sama donk sama kamu, tulisan kamu itu adalah cerminan diri kamu sendiri. Kamu sendiri aja sudah berburuk sangka dengan orang lain … hahahaha .. geli saya. Apalagi sok tahu atas diri saya.
Kegiatan ini bukan dari YISC Al Azhar tapi institusi yang lain, ada 3 institusi yang menyelenggarakan, tapi bukan dari Group Al Azhar.
Leave a Comment