Waktu lebaran haji beberapa hari yang lalu, masjid dekat rumah banyak sekali menerima sapi yaitu 11 ekor. Menurut laporan yang disampaikan pengurus masjid, setelah 20 tahun berdiri yang “tersengal-sengal berjalan”, baru kali ini ada sapi 11 ekor di halaman masjid, biasanya kalau tidak 1 ya 2 ekor.
Wow, prestasi yang luar biasa menurut saya. Jarang-jarang lho ada sapi 11 ekor saya lihat saat hari raya qurban, kebanyakannya kambing.
Sebelum hari raya, malam harinya salah satu pengurus masjid yang kebetulan tetangga saya, membagikan kupon qurban. Bingung kita menerimanya. Tapi tidak apa-apa, nanti pasti bertemu orang yang tepat.
Sewaktu saya bertemu tetangga yang lain RT dan blok mereka juga dapat kupon. Menurut keterangan pengurus masjid yang disampaikan sebelum sholat Idul Adha, daging qurban sangat cukup.
Sebenarnya memang sapi itu harus banyak bukan satu atau dua ekor terus setiap tahun. Ini bisa dilihat kondisi ekonomi komplek saya yaitu rumahnya besar-besar, mobil mewah-mewah, kerjaan penghuninya rata-rata OK semua, rata-rata punya komputer canggih dan bahkan mampu sewa internet speedy limited, punya motor banyak, satu orang bisa punya 2 atau 3 handphone model terkini, ada yang pake esia, flexi dan lain-lain. Nah, kurang apa hayooo ….
Masjidnya juga lambat sekali pembangunannya. Sejak saya SD kelas 6 (1986) belum tinggal di komplek tersebut sampai tahun 2007, setelah 4.5 tahun saya tinggal, nambahnya sedikit doang malah bisa dikatakan tidak “bergerak”. Baru penggantian pengurus, pembangunan masjid itu sangat pesat sekali. Saya tidak tahu salahnya dimana.
Suksesnya pengurus masjid mengumpulkan 11 ekor sapi adalah kerja keras semua pihak. Kemungkinan hal itu terjadi karena aktifnya pengurus untuk menawarkan berkorban di masjid dekat rumah, tingkat kepercayaan masyarakat komplek kepada pengurus masjid, pengurus masjid memberitahukan bahwa berkorban dengan Rp. 1.100.000 untuk 1 orang bisa mendapatkan qurban sapi, tidak harus beli 1 sapi untuk 1 orang, bisa jadi kesadaran dan pemahaman umat Islam di komplek tersebut sudah meningkat.
Kalau di luar komplek ada program tabungan qurban. Jadi mencicil Rp. 85.000 setiap bulannya sampai seharga Rp. 1.020.000 untuk sapi. Jika harga sapi sewaktu mendekati hari Idul Adha naik, peserta tabungan harus siap menambah koceknya. Tidak seberapa kok nambahnya
Sedangkan di organisasi kampung saya, 14 ekor sapi qurban setiap tahun adalah sesuatu biasa. Sewaktu saya dengar tahun kemarin, terkaget-kaget. Begitu juga teman saya di Minangkabau, 14 ekor sapi dan hanya 2 ekor kambing.
Sebenarnya seru juga lho kita ikut berqurban, suasananya itu lho - apa ya susah untuk dijelaskan -, bisa bertemu sama tetangga, bisa bantu orang, melihat orang motong-motong daging, bisa lihat daging sudah dikuliti masih bergerak, juga terharu melihat sapi dan kambing dipotong (duh kasihan), bisa ngecengen sapi dan kambing, bisa foto-foto dan masih banyak lagi keseruannya.







5 comments ↓
Met Idul Adha!!!! Ayao bagi2 daging nya.
wuaduuh, jadi banjir daging dunk. hehe, kadang sebagian dari kita lupa kalo kurban tu diutamakan buat yang kurang mampu. jadi saat idul adha malah terkesan Pesta Sate gitu hehe
@Ade : selamat hari raya qurban

@zakky : yap betul … bau sate tercium dimana-mana
masih ada gak sisa2 daging qurbannya
@fren : udah habis, dan dari kartunya udah dikasih orang
Leave a Comment