Entries from March 2009 ↓

Untungnya Ada Musibah

Tadi pagi, saya akhirnya pergi ke Situ Gintung.

Sebenarnya mau kesana udah lama, tapi karena dilarang sama yang ditelevisi karena akan merepotkan orang sana dan juga ga etis aja, kok orang kena musibah jadi tontonan. Lagipula saya paling bete kalau macet, apalagi macet total. Kemudian tempat parkir juga rada susah, takut keamanan tidak terjamin.

Diantar sama Bapak, kita ke Danaunya, Bayarnya Rp. 5.000 per orang. Bapak saya menunggu di luar danau. Saya disambut oleh 4 atau 5 anjing yang tak terurus. Melangkah dari pintu masuk kita, kanan dan kiri ada bangunan. Kita sudah bisa melihat tempat yang luas, ada arena outbound, pohon tinggi, lebat dan jaraknya berdekatan. Di sana juga tersedia tiang untuk menaruh burung, mungkin menyediakan perlombaan untuk burung kali ya….

Ada tempat untuk mencuci tangan dan ada tempelen Lifebouy. Agak jauh, ada ibu-ibu dan beberapa perempuan sedang membereskan perabotan jualannya. Saya tidak bertanya kenapa pagi-pagi sudah membereskan dagangan. Hmm … sepertinya tidak usah ditanya karena hari ini Senin. Memang suasana sepi, cuma terdengar suara mesin pemotong rumput. Di pinggir danau yang sudah agak mengering, ada 4 orang bapak duduk-duduk sambil bergurau. Sepertinya asyik ..

Di beberapa tempat ada air berwarna coklat yang tingginya dangkal. Banyak kerambah ikan berantakan. Dasar danau isinya semuanya tanah. Ada spanduk bertuliskan “Selamatkan Situ Gintung”. Danau ini cukup luas yah, ada yang sampai kekuburan. Kalau lewat kuburan, tidak bayar :)

Karena sepi dan rata-rata isinya para pria, saya tidak berani sampai ke tempat yang jebol dan matahari semakin tinggi. Saya memutuskan kembali.

Duh, anjingnya ditengah jalan. Saya takut sama anjing. Saya jalan pelan-pelan, menunggu anjing keluar dari jalan beraspal. Setelah dianggap cukup aman, saya berjalan pelan menuju pintu gerbang sambil sedikit melirik ke kumpulan anjing. Mereka hanya melihat saya sebentar dan saya pun mempercepat jalan.

Perjalanan dilanjutkan ke tempat penampungan. Rupanya saya pernah lewat tempat itu. Di samping … hmm kalau ga salah ingat di samping Fakultas Psikologi. CMIIW.

Saya cuma lihat dari seberang, cuma diam 5 menit kemudian pulang. Kalau saya pikir, memang benar jaraknya jauh dari tempat kejadian.

Yang kagetnya, wek .. jalannya udah mulus, aspalnya masih berwarna hitam gelap, membuktikan bahwa baru saja diaspal. Banyak orang membersihkan got yang tidak terlalu tinggi.

Hahaha ……… bersih-bersih ni yeee…. mentang-mentang banyak pejabat lewat :p

Waktu saya lewat situ tahun kemarin, beberapa kali, jalannya bolong-bolong, gotnya banyak sampah dan kalau hujan banjir habis.

Untung ada musibah yah, coba kalau ga ada musibah, tuh jalanan masih rusak dan gotnya masih banyak sampah :p

Pas lewat di IAIN, tidak jauh dari gedung rumah sakit, ada mobil untuk mengaspal jalan … jauh amat markir :p

Untuk korban Situ Gintung semoga tabah yah menghadapi musibah ini.

Contreng dan Setera

Dua kata itu sering menjadi bahan ledekan atau gurauan.

Hahahaha, saya memang sering sekali menggunakan dua kata tersebut.

Hmmm …… kalau contreng itu sudah saya kenal dari kecil. Entahlah dari mana, apakah itu bahasa Betawi ? Saya tidak tahu. Biasanya orang lain menyebutkan Centang. Kocak juga kata “Centang”, tidak jauh-jauh dari kata Centangan, yang biasa datang di jempol kaki :D

Saya lihat kata contreng itu di Pamulang. Banyak sekali spanduk kampanye yang bilang, “Contreng ini” hahahaha ….

Kalau SETERA itu, dulu sekali memang saya suka menyebutkan pengganti kata “TERSERAH”. Tanpa sadar sih ngomongnya.

Sadarnya waktu tante minta pengulangan kata “setera”, beliau pun meralat dan saya pun bingung ……… wwakakkakak. Masalahnya saya merasa ngomong terserah … ups salah ya .. tanpa sadar ngomong SETERA……..hahahaha

Tahun kemarin saya mendengar Patro (CMIIW) ……….. hmm siapa ya anggota grup lawak Patrio yang paling lantah menggunakan kacamata ? Saya dengar, dia menggunakan kata tesera ……. lucu juga ….. hahaha

Akhirnya saya tidak sendirian untuk mengucapkan kata “TESERA”

TQ juga untuk waktu SD yang menghilangkan satu huruf akhir namaku yaitu Azza menjadi Aza. Ngetrend boo … :D

O dan 0

Rupanya banyak juga ya yang tidak bisa membedakan antara huruf O besar dan O kecil dengan angka nol 0.

Begini untuk mengetahuinya :)

O itu bunder, bulet bagus. Begitu juga dengan o kecil, cuma ukurannya beda. Yang satu agak besar dan yang satunya lagi agak kecil.

Nol itu melonjong ke atas dan menyempit ke dalam. Ukuran besar dan kecil Nol sama aja, iya kan … hehehhehe

Kalau pada mesin ketik, kalau Onya rusak, sering dipakai angka Nol, begitu juga sebaliknya.