Entries from September 2009 ↓

Dilarang Pipis Di Lantai

Tanggal 22 September 2009, bertepatan lebaran ketiga 1430 H, saya, tante dan 3 temannya para wanita semua jalan-jalan ke kota Bogor. Saya berangkat dari rumah pukul 05.30 WIB dengan jarak tempuh 1 jam perjalanan ke rumah tante dengan mengendarai motor dikemudikan oleh Bapak. Ups, kepagian sampainya :D. Rencananya ke stasiun Pasar Minggu Baru yang terletak di depan Komplek Kalibata Indah pukul 07.00 WIB. Yah sudah, saya main sama kucing dulu. Bulunya lebat dan halus, dengan warna abu-abu, putih dan kuning, badannya gemuk, hidungnya pesek, matanya ngantuk xixixixi seperti biasanya langsung manja ama saya dan gatallah tenggorokan … hmm belum juga hilang alerginya. Gpp deh, lumayan, jarang-jarang megang kucing tanpa larangan :D :D. Si puss keasyikan … ga tahan tenggorokan gatal, distop sayang-sayangnya …. :D. Kasian matanya memohon :(. Sebentar batuk dulu

Kurang lebih pukul 07.00 WIB, tante dan saya berangkat naik ojek ke stasiun Pasar Minggu Baru. Baru pertama kali saya jalan-jalan tanpa orang tua, adik-adik dan berkendaraan pribadi. Asyik kayaknya naik kendaraan umum, apalagi naik kereta api. Seumur hidup, ini yang kedua kalinya naik kereta api. Yang pertama waktu kerusuhan Semanggi, naik kereta api dari Tanah Abang ke Pasar Minggu, nyambung lagi naik bis ke Kampung Rambutan kemudian ke rumah di Bekasi. Waktu itu memang kacau balau.

Ongkos naik ojek Rp. 5.000. Ongkos kereta api AC Ekonomi Rp. 6.000. Kata petugas karcis, kereta api sampai di stasiun Pasar Minggu Baru setengah jam lagi. Ditawarkan kereta api ekonomi karena sebentar lagi ada yang sampai dan 2 kali kedatangan. Wah kita ga mau, udah pernah naik jenis Ekonomi non AC, kapok deh, kayak kumpulan ikan di tong gede kapal penangkap ikan. Masih lumayan naik bis. Gpp nunggu 30 menit sambil berjemur dibawah sinar matahari pagi. 2 karcis sudah ditangan. Kami melewati petugas karcis berikutnya dan menunjukkan karcis yang tadi dibeli. Suasana saat itu masih agak lengang. Bangku besi kira-kira ditempatin 2 sampai 4 orang. Ada penjual air mineral, permen.. biasalah jualan 1 paket yah … :D. Lantai conblock lumayan bersih, mungkin baru disapu dan masih jarang yang buang sampah sembarangan. Tong sampah banyak loh disana …

Kereta api ekonomi berlalu lalang, angin berhembus kencang setelah gerbong-gerbong melewati kami. Suaranya sangat khas …. saya senang mendengarnya. Lantai bergoncang sesaat. Suara kami hampir tak terdengar jika dia datang. Jadi kami stop obrolan sesaat sampai kereta berhenti . Setiap kedatangan, petugas memberitahu tujuan kereta api.

Setiap kereta api berhenti, saya melihat orang-orang nongkrong dipintu kereta. Raut wajah-wajah mereka beraneka ragam. Saat itu saya tidak melihat ada orang duduk di atas gerbong, semuanya didalam. Rata-rata tidak begitu padat saat itu.

30 menit berlalu, sedikit demi sedikit, orang-orang berdatangan dari segala usia. Tempat yang kami duduki hampir penuh. Dua tas yang ditaruh disamping badan, dipindahkan. Tas pertama yang isinya baju ganti saya taruh dipangkuan. Tas yang berisi makanan saya taruh di depan kaki.

Hmm …. kereta yang ditunggu tidak kunjung datang. Saya mulai mengeluh :(. Tanya ibu-ibu disamping, katanya ada masalah di Manggarai. Beliau bilang tadi ada pengumumannya. Wah, keasyikan ngobrol tidak mendengar pengumuman. 15 menit kemudian, saya mulai gelisah dan mengeluh. Sekarang mendengar baik-baik setiap pengumuman. Kata petugasnya kereta api yang akan saya naikin mengalami kerusakan. Dan akhirnya saudara-saudara sekalian… jam 9 pagi, orang-orang sudah banyak menunggu, kereta api pun datang. Wow penuh, sudah tidak ada tempat duduk. Berdirilah kita. Untung ACnya masih terasa. Teman-teman tante yang 3 orang naik kereta api AC ekonomi sesudah kami. Jadi kami sampai duluan di stasiun Bogor.

Kereta yang saya naiki buatan Jepang. Banyak sekali tulisan Jepang. Kondisinya masih bagus. Selain AC, ada juga kipas angin. Masih sepi dengan sampah. Tidak ada yang merokok. Pegangan tangan banyak sekali. Tidak ada pedagang yang menjajakan makanan. Banyak juga orang duduk2 di lantai.

Saya lupa di stasiun mana, tiba2 kereta kami diserbu banyak orang. Kata orang yang naik, kereta ekonomi jurusan Bogor mogok. Penuh deh, yang duduk dilantai, berdiri semua. Xixixixi kayak metromini atau kopaja saja. Tidak ada petugas karcis sampai ke Bogor. Kata tante biasanya ada petugas karcis, mungkin karena banyak operan dari yang mogok jadi ga jalan petugasnya. Karena banyak orang, udara menjadi panas. Dipasanglah kipas. Yang buat panjang juga pikirannya. Ada ibu hamil besar, kasihan. Sepertinya sudah berdiri cukup lama karena waktu saya naik, beliau sudah berdiri. Tapi beliau asyik2 aja, tapi kok kita yang repot “kok ga ada yang ngasih tempat duduk”

Jalannya kereta api terasa lambat. Sesekali kaca bergetar karena hempasan angin dari kereta api yang lewat dari arah sebaliknya. Karena saya memang jarang naik kereta api, saya tanya ke tante, “Memang kereta api jalannya begini yah ? Ga bisa ngebut ?”, hahaha. Kata tante, “Biasanya cepat sekali. Ga tahu kenapa jalannya lambat”. Setiap stasiun berhenti dan saat itu penumpang bertambah. Saya lihat ibu hamil itu, eitt dia udah dapat duduk. Waktu di stasiun Citayem, kami akhirnya dapat duduk.

Rasanya selama perjalanan saya bawel … dari soal penuhnya penumpang, jalan yang lambat, nanti turun lewat pintu mana, masih berapa stasiun lagi sampai di Bogor, teman2nya sudah sampai mana, jam berapa sekarang hahaha, ga ada pengumuman sudah sampai stasiun mana seperti di busway, karcis diapain, ga ada petugas karcis lewat, duh kayaknya udah panen di FarmTown dan FarmVillage … gdubrak ….

Sampai di stasiun Bogor, wow … yang turun dihantam sama yang naik. Pada teriak2 yang mau turun, “Yang turun dulu donk … gimana mau turun kalau diserbu dulu”. Nunggu agak sepi, kami baru turun. Banyak penjual tahu Sumedang, warna coklatnya menggiurkan. Sayang, saya enggan beli, padahal enak loh :D. Tapi cara bicara saya seperti ingin beli.

Terus terang saya paling takut kalau lewat jalan kereta api. Saya tengok kanan kiri, takut tiba2 ada kereta api lewat. Ada penjual klapertaart. Harganya Rp. 6.000. Beli 1 buah. Hmmm …. secara umum stasiun Bogor banyak sampah dan banyak orang – ya iyalah -. Bangunan tua dengan lantai kumuh. Eitt ada Hoka-hoka Bento … beli enggak … beli enggak …. menghitung nih …. akhirnya ga beli ahh. Ada penjual koran, sambil lewat saya lihat tidak ada majalah/koran yang saya suka.

Duduk dimana nih .. kita duduk di Dunkin Donut… di depan tukang ngamen. Suaranya bagus2 dengan alat musik hampir lengkap. Rupanya mereka ada dua group. Group yang pertama saat saya datang nyanyi lagi Indonesia, group kedua kebanyakan nyanyi irama latin.

Hmm.. sepertinya ga bagus duduk di Dunkin, karena ga pesan makanan. Kita pindah ke tempat penjual koran yang ga buka, kami duduk disitu. Sambil nunggu teman2 tante, kita FB-an dari HP, sekali2 narsis. Hahaha …. duh saya lupa cara mengoperasikan … gdubrak ….. :P. FB-annya sudah selesai karena Hpnya tiba2 mati …. hahahaha, payah nih HP. Sinyal dan batre full, mati wakakkkak. Sekali lagi kita lihat ke dalam Dunkin, lihat harga … beli ga yah … beli ga yah …. ga beli deh :D :D

Akhirnya yang ditunggu datang. Dikenalin sama tante 3 ce cantik2. Saya sebut saja si A, B dan C…. Kenalan sebentar, ngobrol .. bla .. bla .. kami keluar. Si C beli makanan siang di luar stasiun Bogor karena semua yang pergi bawa bekal dan minuman.

Berbekal peta dan data-data dari internet kami pergi ke Curug Luhur, tapi tetap salah naik angkot … hahahaha … menurut data yang diperoleh naik angkot 03 tapi kenapa naik angkot 02. Ikut aja deh, kebetulan saya ngekor aja karena ga pernah ke Bogor naik angkot, biasanya naik mobil pribadi. Lagipula abang angkot juga main iya aja sih ….

Karena salah naik angkot jadi kembali ke arah stasiun Bogor tapi turun yang dekat bunderan lambang salah satu provider Hp yaitu 3 (Three). Ongkos pulang pergi jadi Rp. 4.000,-. Saya mah asyik2 aja sih kalau nyasar … seru ….

Pas balik ke arah stasiun Bogor, kan lewat rumah besar, halamannya luas. Saya tanya ke tante, “Gila rumah gede amat dan luas …. rumah siapa nih?”. Kata tante, “Istana Batu Tulis” … hahahaha baru tau gw … norak yah … :hammer:, ga lama kemudian sampai pintu gerbang tertulis “Istana Batu Tulis”

Semenjak keluar dari stasiun Bogor, banyak sekali penjual asinan sayur dan buah serta toge goreng. Hmm … saya ga gitu suka asinan sayur dan buah …. mikir-mikir apakah orang rumah suka juga ? … daripada mubazir, ga usah beli. Dari tadi ga jadi beli terus yah … haha … Kalau toge goreng … xixixi lagi nyari2 tempat yang bersih … belum keliatan.

Akhirnya tanya ke para supir angkot ke curug luhur dikasih tahu naik angkot 03 dengan tulisan FATEN tapi bacanya PATEN … hahahahaha … Untungnya salah satu dari kami ada yang fasih bahasa sunda tapi dia orang Minangkabau. Katanya kalau salah jalan, ga mau bayar. Berhubung saya ga tahan mau beli makanan, ada gorengan … beli tempe, risol, cireng, dan bakwan. 1 buahnya Rp. 500,-. Soal cireng, saya baru tahu namanya saat itu, dikasih tahu salah satu teman tante. Biasanya bilang ke abang tukang gorengan, “Bang, yang putih2, kenyel habis yah ?”. Cireng paling favorit selain risol.

Hari itu terik sekali tapi hembusan angin terasa dingin. Di angkot, kami narsis dulu … gdubrak … dan ngobrol ngarul ngidul ….. waktu terasa lama … duh ga nyampe2 …. Saya sms ama teman yang tinggal di Bogor. Dia lagi pergi ke Bekasi.

Jam makan siang kelewat …. untung udah makan gorengan :D. Jadi sampai disana kira2 jam 14.30 atau 13.30 …. rupanya curug luhur itu terletak di jalan tikus ke Sukabumi …. jalan berkelok2 dan menanjak …. Curug Luhur melewati Curug Nangka. Di Curug Nangka ga macet tapi ke Curug Luhur macet, kami suruh turun karena macet. Yah, kami jalan kaki, padat sekali, yang jalan kaki aja susah lewat. Dengan susah payah akhirnya sampai. Ongkos angkotnya seorang Rp. 6.000,- Karcis masuk bayar seorang Rp. 15.000,-. Ada 17 kolam renang, 1 air terjun (curug) made in Tuhan dan 1 curug buatan manusia.

Dekat loket masuk, ada co baru pingsan … wah jarang2 gw lihat co pingsan …. Suara hingar bingar sudah terdengar. Dari jalanan sudah terlihat banyaknya manusia berenang. Wah padat sekali yah.

Pas masuk …. aje gile …. kacau 13. Turun ke bawah terjal, basah, untung ga licin, kolam renang banyak. Dimana2 ketemu orang dengan pakaian basah. Curugnya ? Masih dibawah lagi .. duh … eit ketemu …. kacau deh …. cari tempat untuk duduk di rumput, udah penuh. Kalau ada ga nyaman. Pas ketemu, ada orang dengan seenaknya tempat pipis. Tapi kami masih sempat foto2. Cuma 15 menit disana, kita pulang, tapi mampir dulu buat makan bekal yang dibawa. Numpang makan di tukang bakso. Setelah selesai. Tetap macet, susah jalan baik untuk motor, mobil dan pejalan kaki. Beli air mineral di Curug Luhur Rp. 4.000,-. Mahal yah biasanya kan Rp. 2.500,-

Pas keluar dari Curug, ada yang ketangkep ga beli karcis, denda Rp. 50.000,-. Yang punya negor, kalau dilihat rupa wajahnya adalah orang latin atau Spanyol/Portugis. Istrinya orang Ciapus.

Naik angkot ke BTM …. di BTM untuk sholat, yang ga sholat ke 21 untuk numpang pipis. Dan kekecewaan selanjutnya … lantainya banjir …. dan ada tulisan “DILARANG KENCING DI LANTAI” hahahaha….. Dalam sejarah gw, ke kamar mandi kecil di 21 baru kali ini nemu toiletnya parah. Suasana 21 saat itu banyak yang lesehan, abg semuanya, entah yang ditonton apa.

Sambil nunggu 3 orang ce sholat, yang berdua duduk2 di luar 21 dengan view sangat bagus. Akhirnya ada yang membuat hati kita senang. Viewnya gunung dan sebagian kota Bogor. 3 orang ce datang, narsis episode ke 3 dimulai. Ga enak hanya duduk2, foto sana dan sini seperti rumah sendiri, kami pesan minuman. 4 kopi hangat dan 1 capucinno dingin. Saya ga pernah minum 1 gelas kopi tapi karena harganya mahal2 dan agak mendingan harganya yah kopi :D

Kira-kira jam 4.30, kami memutuskan pergi dari sana. Tujuan selanjutnya, saya tidak tahu. Kemudian pada naik angkot lagi, rupanya ada yang ingin roti unyil venus. Dan salah informasi kembali terulang. Emang yah pak supir angkot gimana toh …. Kami diturunkan di roti mungil, padahal maunya ke roti unyil venus. Kami tanya, “Kok roti mungil sih??, maunya roti unyil”. Kata salah satu penumpang dan pak supir angkot, “roti unyil udah ganti nama, yah itu roti mungil”. Kami tanya, “Memangnya kenapa ganti nama?”. Kata mereka kembali, “Banyak yang palsu”

Walah dalah ….

Kami ga gitu percaya lagi …. salah satu dari kami tanya sama penjual kaki lima disana. Kata bapak tersebut, “Roti unyil itu disana. Ongkos angkotnya 1.000.” Kalau ga salah ingat, roti unyil venus di jalan Pajajaran, tidak jauh dari petunjuk arah Jagorawi.

Ada yang ngasih tahu, dekat … jalan kaki 300 meter, naik angkot aja. Eittt tunggu dulu, 300 meter ama mereka dengan 300 meter sesungguhnya bisa beda loh. 300 meter bisa juga 1 km. Memang benar 300 meternya jauhhhh deh hahahahaha …. Untung naik angkot setelah kami kompromi soal jarak tempuh yang suka salah. Naik angkotnya pake ngancem kalau salah lagi ga mau bayar .. wakakkkak…..

Pas sampai di roti unyil venus, hujan rintik2. Masuk … wow banyak orang, kayak ngantri sembako. Catet mau pesan roti rasa apa saja, ga tunggu lama … rupanya saudara2 sekalian roti habis … hahahha .. ada ibu-ibu marah2, “Bilang kek dari tadi kalau abis” … antrian pun bubar. Kami ga dapat roti tapi gpp saya udah pernah makan.

Hujan masih turun, saat itu malam telah hadir. Kami naik angkot ke arah stasiun yang sebelumnya tanya angkot nomor berapa. Sebelum naik, tanya dulu dengan embel2 “kalau salah ngasih tahu ga bayar, bang, awas loh” kata teman dengan logat sundanya.

Diangkot kami cerita2 seru soal kasus2 di negeri ini. Jadi perjalanan ga gitu terasa lama. Lama kelamaan baru nyadar kok ga nyampe2. Padahal dari BTM ke roti unyil sebentar, tinggal lurus. kenapa ke stasiun Bogor lama amat.

Akhirnya sampai juga, buru-buru jalannya. Saya ga tahu kenapa, ngikut aja. Saat itu jam menunjukkan 7 kurang 10 malam. Kami pesan karcis, saya bingung karena paling depan. Maklum belum pernah ngantri karcis kereta. “Berapa orang?”, kata penjaga loket. “Lima orang,” kata saya. “Jadi 27.500 rupiah,” kata penjaga loket. Karena kepala pusing sebelah semenjak di Curug, jadi saya bilang ke teman2, “Masing-masing, 1 karcis 27.500 rupiah”. Hahaha … Kata penjaga loket yang lain, “Ups.. boleh 1 orang Rp. 27.500,-”. Dan saya ga dengar lagi apa kata tuh bapak, sibuk nahan sakit kepala.

Dodolnya, saya ga nyedian uang karcis .. jadi siapa aja yang keluarin uang duluan, nanti dibagi rata waktu di kereta. Jam berangkat kereta pukul 7.10 malam, jurusan Manggarai – Bogor.

Saat itu ada dua kereta api AC ekonomi. Satu jurusan Tanah Abang – Bogor, satu lagi jurusan Manggarai – Bogor.

Kami salah naik kereta, karcis jurusan Manggarai - Bogor, kereta yang dinaikin jurusan Tanah Abang – Bogor. Tapi kata orang2 disana, sama aja sih, tapi kan tidak sesuai sama karcis. Yah sudah, kami turun lagi.

Naik turun kereta seperti orang kalang kabut. Menurut keterangan penjaga loket, kereta akan berangkat pukul 7.10 malam. Jadi harus buru-buru naik dan cari tempat duduk. Gerbong yang tidak ada tangganya dinaikin, kan tinggi tuh … kacau deh para ce … Kalau saya cari yang ada tangganya, karena dengkul sakit naik tangga di Curug tadi. Padahal teman2 kakinya pada sakit semua. Nekad …..

Pas turun .. ga perhatiin … saya turun pake tangga, ga tahu yang lain, karena kalang kabut semuanya … hahahaha … Tiba-tiba ada orang yang teriak, ada kereta datang … kacau nih, kami berdiri antara rel … Kalau kereta lewat kan anginnya kenceng, nanti gw terbang lagi …. Saya langsung panik … saya buru-buru nyembrang ke arah dalam stasiun, loncat, nabrak bapak2 gendong anak, orang2 pada teriak juga … hahahaha … “maaf nih … kereta mau datang … takut ketabrak ….,” kata saya. Duh selamat sampai di tempat aman …. norak yah :hammer:

Saya paling takut dekat rel dan kereta api …. dan juga takut naik kereta api.

Sekarang naik kereta api Manggarai – Bogor, naiknya juga buru-buru, dari gerbong belakang sampai mendekati depan kereta api, cari bangku kosong. Akhirnya dapat duduk ….

2 kali tukang ngamen datang, suaranya bagus-bagus …. Kepala tetap pusing … ditawarin sih obat pusing tapi cocoknya ama obat Panadol merah. Lihat sendal jepit model baru …. - baru lihat kali yah saya – diujung kaki cuma pentolan aja -

Setelah hampir 1 jam menunggu dalam kegelisahan, dan setiap saat dengerin petugas hallo-hallonya bilang, “kereta api akan berangkat, kereta terakhir” - walah dari tadi ga berangkat2, bilangnya terakhir melulu … nunggu penuh dulu yah :hammer: - 1 jam lebih molor dari jadwal .. payah nih – Akhirnya berangkat juga …. dan tetap lelet jalannya.

Tidak lama kemudian, pemeriksaan karcis. Sayangnya, petunjuk nama stasiun tidak terlihat dari dalam, kacanya terlalu gelap. Langsung saya ama tante bilang, “Aturannya kayak di busway, pemberitahuan mendekati stasiun anu …. dan ada lampu yang jalan2 di dinding kereta api. Pokoknya kayak di busway. Setiap stasiun, palang nama lokasi dikasih lampu dan keliatan dari dalam gerbong.”

Ga lama ngomong gitu, ada suara orang memberitahukan sudah sampai stasiun mana lewat pengeras suara. Wah dengar aja ….. nguping yah :P

Jam 9 malam sampailah di stasiun Pasar Minggu Baru, mampir di Alfa beli Panadol Merah. Pas sampai di rumah tante, obat ga dimakan karena udah sembuh wakakkakak …. makan, cuci muka, dll

Besok paginya, dijemput bapak dan klapertaartnya baru dimakan waktu sampai di rumah. Enak banget …. rugi ga beli banyak :(

Mau lagi pergi model seperti itu ? Mau donk …. seru lagi … hahaha ….