Entries Tagged 'Artikel' ↓

Smack down murid, Guru SDI diadukan ke Polsek Sawangan

Jam 13.00, Bapak saya bilang tukang koran keliling komplek perumahan untuk mempromosikan isi koran tentang guru men-smack down muridnya…

Rupanya guru ga mau ketinggalan trend ya….
Dan hari ini, tanggal 21 Desember 2006, sekolah tersebut ramai…

Saya cari beritanya .. ketemu deh… di Monitor Depok, rupanya kejadiannya sudah lama.. ketinggalan berita nih, padahal sekolahnya satu komplek sama rumah Aul… kok gw ga tahu ya… :))

Maklum, jarang ngegosip same tetangge ;)

Berikut beritanya …

SAWANGAN, MONDE: Barangkali terpengaruh tayangan smack down, seorang guru Sekolah Dasar Islam Nurul Hidayah di Kel. Pondok Petir, Kec. Sawangan, NH, dilaporkan ke Polsek Sawangan.

NH dilaporkan telah menendang perut Hari (12), siswa sekolah itu. NH bukannya dilaporkan Hari atau keluarganya, tapi justru oleh sesama guru di sekolah itu, Alimin. Pelaporan ini bertujuan agar kekerasan semacam itu tak terulang lagi.

Di kantor Polsek Sawangan, Alimin mengemukakan, peristiwa itu terjadi di tempat ibadah milik sekolah, 29 November 2006. Namun kejadian itu, katanya, tidak dilihatnya secara langsung lantaran pada saat itu tengah melaksanakan sholat Dzuhur.

Namun, menurut saksi mata, yang juga rekan korban di SDI Nurul Hidayah, kata Alimin, disebutkan bahwa kejadian kekerasan itu memang terjadi.

Korban, menurut saksi mata, ditendang oleh NH karena dianggap tak disiplin. “Kejadian itu sebelum sholat,” kata Alimin mengutip saksi mata. Tentu saja, kata Alimin, korban kesakitan. Saat itu, katanya, korban masih melakukan sholat Dzuhur.

Seusai sholat korban mengalami kejang-kejang.

“Jadi saya melaporkannya [ke polisi], didampingi saksi yaitu rekan korban,” tutur Alimin.

Saat melapor ke kantor Polsek Sawangan Alimin didampingi Liestyati Sugeng Haryono, warga setempat, Chairul Pasaribu yang mengaku ikut mendirikan sekolah Nurul Hidayah, dan Rini Sriandi, orang tua siswa.

Kepala Pengawas Sentra Pelayanan Masyarakat (SPK) Polsek Sawangan Aiptu Iksan menyebutkan laporan tentang guru tercatat dengan nomor polisi 425/K/XII/2006/Swg.

Mengomentari peristiwa tersebut, Liestyati Sugeng Haryono mengatakan, peristiwa ini tidak bisa dibiarkan dan harus diproses secara hukum sehingga ada efek jera bagi pelaku. Sebab, lanjut dia, dalam dunia pendidikan jika anak tidak disiplin, tidak harus diperlakukan seperti itu.

“Ini sama juga smack down,” ujar Liestyati yang duduk di LSM Perhimpunan Orang Tua Murid Indonesia (POMI) pusat.

Sementara itu Rini Sriandi, orang tua siswa di sekolah tersebut, minta kepada pihak sekolah untuk memberikan sanksi kepada pelaku agar nantinya kejadian serupa tidak terulang. “Saya minta kepada pihak sekolah memberikan sanksi kepada pelaku,” ujarnya.

Chairul Pasaribu yang mengaku sebagai pendiri dan pembina sekolah itu menambahkan, sehari setelah peristiwa ditendangnya siswa SDI kelas VI Nurul Hidayah itu, dia bersama Bimas dan kepolisian setempat datang ke sekolah untuk mengetahui peristiwa yang sebenarnya.

Tapi saat itu, belum ada penjelasan secara langsung dari guru itu (NH), namun istrinya mengaku bahwa persoalan itu sudah dimusyawarahkan.

Sementara itu saat Monde menghubungi sekolah itu beberapa kali melalui telepon untuk mendapat konfirmasi mengenai persoalan ini, nomor yang dituju tidak ada yang mengangkat.(sud)

Ibarat Emergency Exit di Pesawat

Prof Dr M Quraish Shihab:

Sejak lama istilah poligami, jumlah yang tidak sedikit dari perempuan yang berhak digauli, sudah dikenal dalam kehidupan manusia. Tidak hanya di kalangan masyarakat Arab Jahiliyah tapi juga negara-negara Eropa seperti di Jerman, Swiss, Belanda, Denmark, Swedia, Norwegia hingga Inggris. Islam membolehkan poligami berdasar firman Allah SWT pada Alquran surat Nisa (4) ayat 3. Namun demikian, bukan berarti ayat itu membuka lebar-lebar pintu poligami tanpa batas dan syarat, tetapi dalam saat yang sama ia tidak juga dapat dikatakan menutup pintunya rapat-rapat, sebagaimana dikehendaki sementara orang.

Poligami itu bukan anjuran, tetapi salah satu solusi yang diberikan kepada mereka yang sangat membutuhkan dan memenuhi syarat-syaratnya. Poligami mirip dengan pintu darurat dalam pesawat terbang yang hanya boleh dibuka dalam keadaan emergency tertentu,” tandas Quraish kepada Damanhuri Zuhri dari Republika di ruang kerjanya Pusat Studi al Quran (PSQ) Ciputat Tangerang Selasa (5/12). Berikut ini penjelasan lengkap tentang apa dan bagaimana poligami menurut Islam:

Kapan istilah poligami mulai muncul?
Poligami telah dikenal oleh masyarakat manusia, yaitu hubungan dengan perempuan yang berhak digauli dengan jumlah lebih dari satu. Dalam Perjanjian Lama misalnya, disebutkan bahwa Nabi Sulaiman AS memiliki tujuh ratus ‘istri’ bangsawan dan tiga ratus gundik. Poligami meluas di samping dalam masyarakat Arab Jahiliyah juga pada bangsa Ibrani dan Sicilia yang kemudian melahirkan sebagian besar bangsa Rusia, Lithuania, Polandia, dan sebagainya.

Bagaimana pandangan Islam tentang poligami?
Islam membolehkan poligami berdasar firman Allah dalam QS an-Nisa’ ayat 3 yang artinya: ”Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap perempuan (yatim), maka nikahilah yang kamu senangi dari perempuan-perempuan (lain): dua-dua, tiga-tiga atau empat-empat. Lalu jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka seorang saja, atau budak-budak perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” Ayat ini turun berkaitan dengan sikap sementara pemelihara anak yatim perempuan yang bermaksud menikahi mereka karena harta mereka tapi enggan berlaku adil.

Pada ayat tersebut disebutkan adanya syarat berlaku adil, bisa dijelaskan?

Dalam ayat tersebut terdapat kata khiftum yang biasa diartikan takut, yang juga dapat diartikan mengetahui, menunjukkan bahwa siapa saja yang yakin atau menduga keras atau bahkan menduga tidak akan berlaku adil terhadap istri-istrinya yang yatim maupun yang bukan, maka mereka tidak diperkenankan oleh ayat tersebut untuk berpoligami. Yang diperkenanakan berpoligami hanyalah yang yakin atau menduga keras dapat berlaku adil. Yang ragu, apakah bisa berlaku adil atau tidak, seyogyanya tidak berpoligami.

Ada yang menyebutkan ayat tersebut merupakan perintah untuk berpoligami karena adanya fi’il amr (kata kerja perintah, red)?
Ayat ini tidak menganjurkan apalagi mewajibkan berpoligami, tetapi ia hanya berbicara tentang bolehnya poligami. Poligami dalam ayat itu merupakan pintu kecil yang hanya dapat dilalui oleh siapa yang sangat membutuhkan dan dengan syarat yang tidak ringan. Islam mendambakan kebahagiaan keluarga, kebahagiaan yang antara lain didukung oleh cinta kepada pasangan. Cinta yang sebenarnya menuntut agar seseorang tidak mencintai kecuali pasangannya.

Kira-kira apa yang melatarbelakangi seseorang berpoligami?
Bukankah kenyataan menunjukkan bahwa jumlah lelaki lebih sedikit dari jumlah perempuan? Bukankah rata-rata usia perempuan lebih panjang dari usia lelaki, sedang potensi masa subur lelaki lebih lama daripada potensi masa subur perempuan? Hal ini bukan saja karena mereka mengalami haid, tapi juga karena mereka mengalami manopouse sedang lelaki tidak mengalami keduanya. Bukankah peperangan yang hingga kini tidak kunjung dapat dicegah lebih banyak merenggut nyawa lelaki daripada nyawa perempuan? Maka poligami ketika itu adalah jalan keluar yang paling tepat. Namun sekali lagi perlu diingat poligami bukanlah anjuran apalagi kewajiban. Seandainya ia anjuran, pasti Allah SWT menciptakan perempuan lebih banyak empat kali lipat dari jumlah laki-laki, karena tidak adanya menganjurkan sesuatu kalau apa yang dianjurkan tidak tersedia. Ayat ini hanya memberi wadah bagi mereka yang mengingingkannya, ketika menghadapi kondisi atau kasus tertentu. Poligami mirip dengan pintu darurat dalam pesawat terbang, yang hanya boleh dibuka dalam keadaan emergency tertentu.

Bagaimana dengan anggapan berpoligami adalah sunnah Rasul?
Tidak bisa dikatakan bahwa Rasul SAW menikahi lebih dari satu perempuan dan pernikahan semacam itu hendaknya diteladani. Karena, tidak semua apa yang dilakukan Rasul SAW perlu diteladani sebagaimana tidak semua yang wajib atau terlarang bagi beliau, wajib atau terlarang pula bagi umatnya. Bukankah Rasul SAW antara lain wajib bangun shalat malam dan tidak boleh menerima zakat? Bukankah tidak batal wudlu beliau bila tertidur? Selanjutnya perlu dipertanyakan buat mereka yang beranggapan poligami adalah sunah Rasul SAW. ”Apakah benar mereka benar-benar ingin meneladani Rasul SAW dalam pernikahannya?”

Kalau benar demikian, maka perlu mereka sadari Rasul SAW baru berpoligami setelah pernikahan pertamanya berlalu sekian lama setelah meninggalnya Khadijah RA. Kita ketahui Rasul SAW menikah dalam usia 25 tahun, 15 tahun setelah pernikahan beliau dengan Sayyidah Khadijah RA, beliau diangkat menjadi Nabi. Istri beliau ini wafat pada tahun ke-10 kenabian Beliau. Ini berarti beliau bermonogami selama 25 tahun. Lalu setelah tiga atau empat tahun sesudah wafatnya Khadijah RA, baru beliau menggauli Aisyah RA yakni pada tahun kedua atau ketiga Hijriyah, sedang beliau wafat dalam tahun ke-11 Hijriyah dalam usia 63 tahun.

Ini berarti beliau berpoligami hanya dalam waktu delapan tahun, jauh lebih pendek daripada hidup bermonogami beliau, baik dihitung berdasar masa kenabian lebih-lebih jika dihitung seluruh masa pernikahan beliau. Jika demikian, maka mengapa bukan masa yang lebih banyak itu yang diteladani? Mengapa mereka yang bermaksud meneladani Rasul SAW itu tidak meneladaninya dalam memilih calon-calon istri yang telah mencapai usia senja? Semua istri Nabi SAW selain Aisyah adalah janda-janda yang berusia di atas 45 tahun? Di samping itu, mengapa mereka tidak meneladani beliau dalam kesetiaannya yang demikian besar terhadap istri petamanya, sampai-sampai beliau menyatakan kecintaan dan kesetiaannya walau di hadapan istri-istri beliau yang lain?

Dialog Jum’at, Harian Republika, Edisi Jum’at, 8 Desember 2006

“Penampakan” Sepeninggal Alda

Nah, ini berita dari HotShot yang kemarin (16 Desember 2006) nyiarin berita tentang judul di atas. Kalau melihat lengkapnya ada di SCTV. Jadi klik aja disini….

Keanehan Iringi Pemakaman Alda

Rupanya kejadian aneh seperti di sinetron “Takdir Ilahi” or apapun yang jenisnya sama di Televisi memang benar ya… Saya kira bohongan, maklum belum pernah melihat atau menjumpai orang menjelang ajal atau mayat belum masuk ke liang lahat menimbulkan kejadian aneh.

Menurut berita koran online pikiran rakyat, sebelum datang mayat Alda, liang lahatnya tiba-tiba longsor, terpaksa tukang penggali tanah menggali kembali. Berikut isi berita lengkapnya …

KEANEHAN mengiringi pemakaman jenazah penyanyi Alda Risma Elfariani (24) di TPU Blender, Kel. Kebon Pedes, Kec. Tanah Sareal Kota Bogor, Rabu (13/12). Sebelum jenazah tiba di TPU Blender, tiba-tiba saja tanah kuburan yang bersebelahan dengan liang lahat yang dipersiapkan untuk jenazah Alda, longsor dan menutup liang lahat yang telah dipersiapkan. “Kami terpaksa menggali kembali,” ujar Ujang (40), salah seorang penggali kubur.

Ketika jenazah diturunkan ke liang lahat dan tali pocong dibuka serta wajah Alda terlihat dengan jelas, ibu almarhumah, Halimah histeris seperti orang kesurupan, sehingga diamankan ke sebuah pos hansip. “Keluarga memang sangat terpukul dengan kematian Alda dan kita berharap agar masalah ini segera diungkap,” kata Fahmi, adik kandung Alda.

Kematian pelantun tembang “Aku Tak Biasa” itu, membuat keluarga dan masyarakat tersentak. Alda Risma Elfariani binti A. Farid, demikian nama lengkapnya, ditemukan tewas di kamar 432 Hotel Grand Menteng, Jakarta, Selasa (12/12) malam. Saat itu, perempuan kelahiran Bogor, 23 November 1982 ini, ditemukan bersama teman lelakinya. Upaya penyelamatan dengan membawanya ke RS Mitra Internasional, sempat terhambat karena pihak rumah sakit menolak. Ia pun dilarikan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.

Saat itu, mulutnya sudah mengeluarkan busa. Ia mengembuskan napas terakhir sekira pukul 19.30 WIB. “Ketika petugas tiba di kamar korban, Alda sedang bersama teman lelakinya. Dialah yang memberi tahu petugas keamanan Hotel Grand Menteng bahwa Alda dalam kondisi sekarat. Sekarang, pria itu sedang diburu polisi,” kata Kapolres Jakarta Timur Kombes Pol. Robinson Manurung.

Kesimpulan sementara polisi, Alda meninggal akibat overdosis. Di tempat kejadian, polisi menemukan beberapa barang bukti yang menguatkan kesimpulan tersebut.

Di TKP, polisi menemukan beberapa jarum suntik. Berdasarkan pemeriksaan tim forensik dari RSCM, di tubuh Alda juga ditemukan adanya lebam di tangan dan telapak kanan. Selain itu, di urat nadi tangan kanan Alda terdapat bekas jarum suntik. Kepala Pelayanan Masyarakat Forensik RSCM dr. Zulhasmar Samsu mengatakan, korban meninggal karena ada indikasi pemakaian zat psikotropika berlebihan.

“Salah satu zat itu memang ada metamphetamine. Tapi untuk kepastiannya harus diteliti lebih dalam lagi. Kira-kira seminggu lagi baru bisa ditentukan apa jenisnya,” kata Zulhasmar, yang memaparkan sedikitnya ada 20-25 titik tusukan jarum suntik di tubuh Alda.

Ditambahkan, tidak ada tanda-tanda kekerasan pada diri korban. Adanya lebam biru pada tubuh korban, menurut dia, merupakan lebam mayat. Lebam mayat adalah kondisi mayat setelah kematian somatis.

Alda pernah mengalami overdosis pada 8 November 2005 di sebuah hotel ternama di Jakarta Pusat. Namun, dalam kejadian tersebut, jiwanya dapat tertolong. Tudingan kematian Alda disebabkan karena overdosis dibantah pihak keluarga. “Alda tidak pernah menggunakan obat-obatan,” kata Fahmi, adik kandung Alda.

Histeris

Kedatangan jenazah Alda di rumah kakeknya, Dedi Suwardi (55) di Jln. Sukasari 1 RT 02/2 Kel. Sukasari Kec. Bogor Timur, Rabu (13/12) sekira pukul 6.30 WIB, disambut isak tangis pihak keluarga.

Alda Risma dikebumikan Rabu (13/12) sekira pukul 9.15 WIB. Kedua adik Alda, Nur dan Dinda beberapa kali pingsan. Tak cuma itu, Halimah sempat pingsan saat jenazah diberangkatkan ke TPU sehingga prosesi pemakaman tertunda menunggu Halimah siuman.

Tampak hadir di pemakaman, artis Yuni Shara, mantan manajer Alda, Del, dan produser Alda, Iwan Sastrawijaya dari EMI Indonesia.

Yuni Shara mengaku kaget ketika tahu Alda meninggal. Itu sebabnya ketika mendapat telefon dari seorang teman dan ibunya, Yuni langsung berangkat ke Bogor.

Karier menyanyi Alda terbilang biasa-biasa saja. Ia pernah mengeluarkan album bertajuk ” Kupilih Yang Mana” namun kurang sukses. Barulah di tahun 1998, namanya dikenal setelah lagunya “Aku Tak Biasa” sempat booming dan memperoleh penghargaan sebagai Penyanyi Pop Terbaik versi AMI Award 1998. Alda pun pernah membintangi sinetron “Kesucian Prasasti”.

Pada tahun 2007 , ada rencana Alda comeback ke dunia nyanyi. ” Alda masih menyisakan enam sampai tujuh album , tetapi mau apa lagi, sekarang Alda sudah tiada,” kata Iwan.

Dijemput polisi

Di tengah duka yang dialami keluarga Alda, sekira pukul 17.45 WIB, Tim Reserse Polsekta Bogor Selatan menjemput Halimah. Ternyata, selama dua tahun ini, Halimah masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) Polsek Bogor Selatan dalam kasus penggelapan. Pada tahun 2004, Halimah diduga telah melakukan penggelapan surat-surat mobil milik korban bernama Epi Supriatna dari salah satu perusahaan rental di Bogor Selatan. (Suhirlan/Feby/Anton R/”PR”/A. Arief)***

Benarkah Poligami Sunah?

Kompas, Senin 12 Mei 2003
Faqihuddin Abdul Kodir

UNGKAPAN “poligami itu sunah” sering digunakan sebagai pembenaran poligami. Namun, berlindung pada pernyataan itu, sebenarnya bentuk lain dari pengalihan tanggung jawab atas tuntutan untuk berlaku adil karena pada kenyataannya, sebagaimana ditegaskan Al Quran, berlaku adil sangat sulit dilakukan (An-Nisa: 129).

DALIL “poligami adalah sunah” biasanya diajukan karena sandaran kepada teks ayat Al Quran (QS An-Nisa, 4: 2-3) lebih mudah dipatahkan. Satu-satunya ayat yang berbicara tentang poligami sebenarnya tidak mengungkapkan hal itu pada konteks memotivasi, apalagi mengapresiasi poligami. Ayat ini meletakkan poligami pada konteks perlindungan terhadap yatim piatu dan janda korban perang.

Dari kedua ayat itu, beberapa ulama kontemporer, seperti Syekh Muhammad Abduh, Syekh Rashid Ridha, dan Syekh Muhammad al-Madan-ketiganya ulama terkemuka Azhar Mesir-lebih memilih memperketat. Lebih jauh Abduh menyatakan, poligami adalah penyimpangan dari relasi perkawinan yang wajar dan hanya dibenarkan secara syar’i dalam keadaan darurat sosial, seperti perang, dengan syarat tidak menimbulkan kerusakan dan kezaliman (Tafsir al-Manar, 4/287).

Anehnya, ayat tersebut bagi kalangan yang propoligami dipelintir menjadi “hak penuh” laki-laki untuk berpoligami. Dalih mereka, perbuatan itu untuk mengikuti sunah Nabi Muhammad SAW. Menjadi menggelikan ketika praktik poligami bahkan dipakai sebagai tolok ukur keislaman seseorang: semakin aktif berpoligami dianggap semakin baik poisisi keagamaannya. Atau, semakin bersabar seorang istri menerima permaduan, semakin baik kualitas imannya. Slogan-slogan yang sering dimunculkan misalnya, “poligami membawa berkah”, atau “poligami itu indah”, dan yang lebih populer adalah “poligami itu sunah”.

Dalam definisi fikih, sunah berarti tindakan yang baik untuk dilakukan. Umumnya mengacu kepada perilaku Nabi. Namun, amalan poligami, yang dinisbatkan kepada Nabi, ini jelas sangat distorsif. Alasannya, jika memang dianggap sunah, mengapa Nabi tidak melakukannya sejak pertama kali berumah tangga?

Nyatanya, sepanjang hayatnya, Nabi lebih lama bermonogami daripada berpoligami. Bayangkan, monogami dilakukan Nabi di tengah masyarakat yang menganggap poligami adalah lumrah. Rumah tangga Nabi SAW bersama istri tunggalnya, Khadijah binti Khuwalid RA, berlangsung selama 28 tahun. Baru kemudian, dua tahun sepeninggal Khadijah, Nabi berpoligami. Itu pun dijalani hanya sekitar delapan tahun dari sisa hidup beliau. Dari kalkulasi ini, sebenarnya tidak beralasan pernyataan “poligami itu sunah”.

Sunah, seperti yang didefinisikan Imam Syafi’i (w. 204 H), adalah penerapan Nabi SAW terhadap wahyu yang diturunkan. Pada kasus poligami Nabi sedang mengejawantahkan Ayat An-Nisa 2-3 mengenai perlindungan terhadap janda mati dan anak-anak yatim. Dengan menelusuri kitab Jami’ al-Ushul (kompilasi dari enam kitab hadis ternama) karya Imam Ibn al-Atsir (544-606H), kita dapat menemukan bukti bahwa poligami Nabi adalah media untuk menyelesaikan persoalan sosial saat itu, ketika lembaga sosial yang ada belum cukup kukuh untuk solusi.

Bukti bahwa perkawinan Nabi untuk penyelesaian problem sosial bisa dilihat pada teks-teks hadis yang membicarakan perkawinan-perkawinan Nabi. Kebanyakan dari mereka adalah janda mati, kecuali Aisyah binti Abu Bakr RA.

Selain itu, sebagai rekaman sejarah jurisprudensi Islam, ungkapan “poligami itu sunah” juga merupakan reduksi yang sangat besar. Nikah saja, menurut fikih, memiliki berbagai predikat hukum, tergantung kondisi calon suami, calon istri, atau kondisi masyarakatnya. Nikah bisa wajib, sunah, mubah (boleh), atau sekadar diizinkan. Bahkan, Imam al-Alusi dalam tafsirnya, Ruh al-Ma’ani, menyatakan, nikah bisa diharamkan ketika calon suami tahu dirinya tidak akan bisa memenuhi hak-hak istri, apalagi sampai menyakiti dan mencelakakannya. Demikian halnya dengan poligami. Karena itu, Muhammad Abduh dengan melihat kondisi Mesir saat itu, lebih memilih mengharamkan poligami.

Nabi dan larangan poligami

Dalam kitab Ibn al-Atsir, poligami yang dilakukan Nabi adalah upaya transformasi sosial (lihat pada Jami’ al-Ushul, juz XII, 108-179). Mekanisme poligami yang diterapkan Nabi merupakan strategi untuk meningkatkan kedudukan perempuan dalam tradisi feodal Arab pada abad ke-7 Masehi. Saat itu, nilai sosial seorang perempuan dan janda sedemikian rendah sehingga seorang laki-laki dapat beristri sebanyak mereka suka.

Sebaliknya, yang dilakukan Nabi adalah membatasi praktik poligami, mengkritik perilaku sewenang-wenang, dan menegaskan keharusan berlaku adil dalam berpoligami.

Ketika Nabi melihat sebagian sahabat telah mengawini delapan sampai sepuluh perempuan, mereka diminta menceraikan dan menyisakan hanya empat. Itulah yang dilakukan Nabi kepada Ghilan bin Salamah ats-Tsaqafi RA, Wahb al-Asadi, dan Qais bin al-Harits. Dan, inilah pernyataan eksplisit dalam pembatasan terhadap kebiasan poligami yang awalnya tanpa batas sama sekali.

Pada banyak kesempatan, Nabi justru lebih banyak menekankan prinsip keadilan berpoligami. Dalam sebuah ungkapan dinyatakan: “Barang siapa yang mengawini dua perempuan, sedangkan ia tidak bisa berbuat adil kepada keduanya, pada hari akhirat nanti separuh tubuhnya akan lepas dan terputus” (Jami’ al-Ushul, juz XII, 168, nomor hadis: 9049). Bahkan, dalam berbagai kesempatan, Nabi SAW menekankan pentingnya bersikap sabar dan menjaga perasaan istri.

Teks-teks hadis poligami sebenarnya mengarah kepada kritik, pelurusan, dan pengembalian pada prinsip keadilan. Dari sudut ini, pernyataan “poligami itu sunah” sangat bertentangan dengan apa yang disampaikan Nabi. Apalagi dengan melihat pernyataan dan sikap Nabi yang sangat tegas menolak poligami Ali bin Abi Thalib RA. Anehnya, teks hadis ini jarang dimunculkan kalangan propoligami. Padahal, teks ini diriwayatkan para ulama hadis terkemuka: Bukhari, Muslim, Turmudzi, dan Ibn Majah. Nabi SAW marah besar ketika mendengar putri beliau, Fathimah binti Muhammad SAW, akan dipoligami Ali bin Abi Thalib RA. Ketika mendengar rencana itu, Nabi pun langsung masuk ke masjid dan naik mimbar, lalu berseru: “Beberapa keluarga Bani Hasyim bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah, aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi tidak akan mengizinkan. Sungguh tidak aku izinkan, kecuali Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku, kupersilakan mengawini putri mereka. Ketahuilah, putriku itu bagian dariku; apa yang mengganggu perasaannya adalah menggangguku juga, apa yang menyakiti hatinya adalah menyakiti hatiku juga.” (Jami’ al-Ushul, juz XII, 162, nomor hadis: 9026).

Sama dengan Nabi yang berbicara tentang Fathimah, hampir setiap orangtua tidak akan rela jika putrinya dimadu. Seperti dikatakan Nabi, poligami akan menyakiti hati perempuan, dan juga menyakiti hati orangtuanya.

Jika pernyataan Nabi ini dijadikan dasar, maka bisa dipastikan yang sunah justru adalah tidak mempraktikkan poligami karena itu yang tidak dikehendaki Nabi. Dan, Ali bin Abi Thalib RA sendiri tetap bermonogami sampai Fathimah RA wafat.

Poligami tak butuh dukungan teks

Sebenarnya, praktik poligami bukanlah persoalan teks, berkah, apalagi sunah, melainkan persoalan budaya. Dalam pemahaman budaya, praktik poligami dapat dilihat dari tingkatan sosial yang berbeda. Bagi kalangan miskin atau petani dalam tradisi agraris, poligami dianggap sebagai strategi pertahanan hidup untuk penghematan pengelolaan sumber daya. Tanpa susah payah, lewat poligami akan diperoleh tenaga kerja ganda tanpa upah. Kultur ini dibawa migrasi ke kota meskipun stuktur masyarakat telah berubah. Sementara untuk kalangan priayi, poligami tak lain dari bentuk pembendamatian perempuan. Ia disepadankan dengan harta dan takhta yang berguna untuk mendukung penyempurnaan derajat sosial lelaki.

Dari cara pandang budaya memang menjadi jelas bahwa poligami merupakan proses dehumanisasi perempuan. Mengambil pandangan ahli pendidikan Freire, dehumanisasi dalam konteks poligami terlihat mana kala perempuan yang dipoligami mengalami self-depreciation. Mereka membenarkan, bahkan bersetuju dengan tindakan poligami meskipun mengalami penderitaan lahir batin luar biasa. Tak sedikit di antara mereka yang menganggap penderitaan itu adalah pengorbanan yang sudah sepatutnya dijalani, atau poligami itu terjadi karena kesalahannya sendiri.

Dalam kerangka demografi, para pelaku poligami kerap mengemukakan argumen statistik. Bahwa apa yang mereka lakukan hanyalah kerja bakti untuk menutupi kesenjangan jumlah penduduk yang tidak seimbang antara lelaki dan perempuan. Tentu saja argumen ini malah menjadi bahan tertawaan. Sebab, secara statistik, meskipun jumlah perempuan sedikit lebih tinggi, namun itu hanya terjadi pada usia di atas 65 tahun atau di bawah 20 tahun. Bahkan, di dalam kelompok umur 25-29 tahun, 30-34 tahun, dan 45-49 tahun jumlah lelaki lebih tinggi. (Sensus DKI dan Nasional tahun 2000; terima kasih kepada lembaga penelitian IHS yang telah memasok data ini).

Namun, jika argumen agama akan digunakan, maka sebagaimana prinsip yang dikandung dari teks-teks keagamaan itu, dasar poligami seharusnya dilihat sebagai jalan darurat. Dalam kaidah fikih, kedaruratan memang diperkenankan. Ini sama halnya dengan memakan bangkai; suatu tindakan yang dibenarkan manakala tidak ada yang lain yang bisa dimakan kecuali bangkai.

Dalam karakter fikih Islam, sebenarnya pilihan monogami atau poligami dianggap persoalan parsial. Predikat hukumnya akan mengikuti kondisi ruang dan waktu. Perilaku Nabi sendiri menunjukkan betapa persoalan ini bisa berbeda dan berubah dari satu kondisi ke kondisi lain. Karena itu, pilihan monogami-poligami bukanlah sesuatu yang prinsip. Yang prinsip adalah keharusan untuk selalu merujuk pada prinsip-prinsip dasar syariah, yaitu keadilan, membawa kemaslahatan dan tidak mendatangkan mudarat atau kerusakan (mafsadah).

Dan, manakala diterapkan, maka untuk mengidentifikasi nilai-nilai prinsipal dalam kaitannya dengan praktik poligami ini, semestinya perempuan diletakkan sebagai subyek penentu keadilan. Ini prinsip karena merekalah yang secara langsung menerima akibat poligami. Dan, untuk pengujian nilai-nilai ini haruslah dilakukan secara empiris, interdisipliner, dan obyektif dengan melihat efek poligami dalam realitas sosial masyarakat.

Dan, ketika ukuran itu diterapkan, sebagaimaan disaksikan Muhammad Abduh, ternyata yang terjadi lebih banyak menghasilkan keburukan daripada kebaikan. Karena itulah Abduh kemudian meminta pelarangan poligami.

Dalam konteks ini, Abduh menyitir teks hadis Nabi SAW: “Tidak dibenarkan segala bentuk kerusakan (dharar) terhadap diri atau orang lain.” (Jami’a al-Ushul, VII, 412, nomor hadis: 4926). Ungkapan ini tentu lebih prinsip dari pernyataan “poligami itu sunah”.

Faqihuddin Abdul Kodir Dosen STAIN Cirebon dan peneliti Fahmina Institute Cirebon, Alumnus Fakultas Syariah Universitas Damaskus, Suriah

Sumber dari suatu milist, kiriman emma.

Tambahan :

Bukankah sudah diterangkan oleh Ibnu Suhana, alasan penolakan Rasulullah atas permintaan Poligami dari Ali r.a.

Quote :

Rasulullah melarang Ali untuk berpoligami saat itu, karena yg mau dipoligami oleh Ali adalah anak dari musuhnya Allah yaitu putri Abu Jahal. Hmm … kira-kira yang aku ingat kata-kata yg diucapkan oleh Rasulullah pada saat Fatimah menceritakan perihal Ali yg ingin menikahi putri Abu Jahal dan Rasul langsung pergi naik ke mimbar dan berkata “Aku tidak pernah mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram, tapi sungguh tidak akan pernah kuijinkan Ali menyandingkan putriku dengan putri dari musuh Allah, kecuali Ali menceraikan terlebih dahulu Fatimah putriku. Sakitnya Fatimah adalah sakitnya aku”
Unquote.

Wassalam,
Anto

Pas Foto Lamaran Kerja, Bukan Cuma Pelengkap Semata

Apa sih elemen yang tidak boleh terluputkan dalam amplop coklat berisi surat lamaran kerja dan curriculum vitae Anda? Tentunya pas foto. Bila Anda selama ini menganggap pas foto hanyalah sekedar bumbu agar calon pewawancara bila mendapatkan bayangan mengenai wajah Anda, tampaknya sudah waktu Anda menggeser anggapan itu.

Nyatanya, pas foto tidak kalah pentingnya dengan barisan kata-kata yang menjual dalam surat lamaran Anda, tidak kalah kuatnya dengan catatan pengalaman kerja Anda di CV, karena pas foto juga otomatis akan mempromosikan diri Anda serta bukan sekedar pelengkap semata. Foto yang dikirim untuk lamaran kerja sifatnya lebih resmi dibanding foto biasa maupun foto pribadi. Walaupun resmi, tapi foto tetap harus terlihat menarik dan tidak kaku. Tidak mau kan foto Anda jadi bahan bulan-bulanan bercandaan para pewawancara, ataupun surat lamaran Anda masuk tong sampah karena subyektifitas para pewawancara Sebelum foto untuk keperluan lamaran kerja, simak beberapa hal di bawah untuk hasil pas foto yang optimal.

  1. Foto terbaru. Untuk lamaran, jangan pernah mengirim foto semasa masih kuliah, apalagi sekolah. Sudah jelas harus yang terbaru. Maksimal kadaluarsa foto adalah setengah tahun.
  2. Busana. Namanya juga pas foto untuk melamar kerja. Walaupun Anda melamar di lingkungan kerja yang tidak mengharuskan mengenakan baju kerja formal, tetapi untuk urusan pas foto, kenakan kemeja dengan warna busana yang netral. Mengenakan blazer akan mendapat nilai tambah.
  3. Rambut tergerai rapi. Untuk membuat foto terlihat hidup dan enak dipandang, untuk Anda yang berambut panjang, biarkan rambut tergerai, tapi diatur dengan rapi dan jangan menutupi telinga. Simpan dulu aksesori rambut yang ramai seperti jepit, pita warna-warni, atau bando besar. Bila Anda hobi bereksperimen dengan model rambut, sebaiknya simpan dulu kreatifitas Anda dan jangan membentuk rambut dengan model yang tidak lazim untuk lamaran, misalnya dikuncir tinggi atau disanggul.
  4. Posisi tubuh. Ini juga penting lho. Jangan dikira karena pas foto maka posisi tubuh tidak menjadi fokus utama. Atur posisi tubuh Anda dengan tegap tapi jangan tegang. Posisi bungkuk akan membuat Anda tampak lesu, lemas dan malas. Alih-alih masuk seleksi malahan poin Anda berkurang dimata para pewawancara.
  5. Posisi kepala. Ini juga penting. Atur kepala Anda agar lurus dan tidak miring, menunduk ataupun menengadah. Dagu pun sejajar dan jagalah agar tidak mendongak ataupun menunduk.
  6. Mata. Pandangan harus lurus ke depan dan tidak boleh melenceng ke kiri atau ke kanan. Ekspresi mata harus keluar dengan ‘hidup’, memancarkan pandangan yang bersahabat, tidak galak tapi juga jangan ngantuk ataupun bengong.
  7. Ekspresi wajah. Usahakan bibir dalam keadaan tersenyum santun, tidak cemberut dan tidak tersenyum lebar. Alis sejajar dan tidak naik sebelah ataupun dua-duanya.
  8. Make-up. Tata rias wajah dibutuhkan untuk membuat wajah Anda merona segar. Tapi hati-hati, jangan sampai make-up justru menjadi bumerang dan membuat wajah Anda seperti topeng karena saking tebalnya lapisan make-up.

Sumber : hanyawanita

Ya Tuhan, Temukan Tia Untukku

Sumber : “Heru Absoro”

Teman-teman,

Berikut ini cerita seorang relawan, dr. Tari, yang telah kembali ke kota Calang, ibukota Kab. Aceh Jaya setelah 2 hari menengok ibunya yang sakit di Jakarta :

Gadis kelas III SMP berusia 14 tahun ini bernama Cut Meutia, panggilannya Tia, anak sulung seorang pedagang Bapak & Ibu H. Karim. Aku temui Tia ketika ia sedang merawat seorang tua, pak Ibrahim, yang terluka parah kakinya ditempat pengungsi tak jauh dari kota Calang. Aku tertarik padanya karena Tia sangat sigap membantu. Itulah awal persahabatan kami selama seminggu. Ketika kutanya apakah pak Ibrahim adalah ayahnya ? Tia menjawab: ”Bukan, beliau adalah guru Bahasa Inggris. Sepertinya beliau adalah satu-satunya guru Tia yang ditemukan. Keluarganya juga hilang seperti keluarga Tia”. Siang itu dan hari-hari selanjutnya Tia membantuku sebagai perawat. Sungguh hari-hari yang menguras tenaga kami berdua. Pada malam harinya, aku meminta Tia menemaniku tidur ditendaku. Upahnya, dia minta diceritakan dongeng apa saja. Aku mencoba mengarang dongeng untuk membuatnya tidur dan melepaskannya dari rasa trauma. Hingga hari ketiga, barulah Tia bercerita tentang dirinya: ”Malam Minggu itu Tia sakit dan tidur jam 20.00 setelah diberi obat oleh Umi (Ibu). Abi (panggilan Ayah) dan adikku Hasan nonton TV. Setelah itu Tia tidak tahu apa yang terjadi ketika terbangun dan berada diatas dahan pohon. Semua berubah, kak Tari. Rumah dan bangunan telah rata tanah. Tia menangis dan coba cari Abi, Umi, dan Hasan, tapi tidak ketemu. Sampai hari tanggal 28 Tia coba kembali kerumah, tetapi dilarang orang karena susah jalan kesana. Beruntung Tia bertemu pak Ibrahim, walau Tia benci karena galak. Tapi beliau terbaring lemah dan kami menangis bersama”. Tia punya segalanya. Pintar, selalu juara sejak SD, ketua regu Pramuka, aktif di OSIS, periang dan cantik. Tetap cantik walau memakai baju longgar dari dos yang dijatuhkan dari helikopter. Tia bercita-cita menjadi dokter. Aku membayangkan seharusnya bila menjadi dokter, Tia akan lebih cantik dari dr Lula Kamal ! Tak heran bila ayahnya sangat sayang padanya dan beberapa kali mengajaknya bersama ke Medan, bahkan Singapore. Tia sekeluarga baru saja asyik menikmati mobil kijang barunya untuk pergi ke Banda Aceh. Tsunami merenggut semuanya ! Ia merasa kehilangan Aziz, teman sekelas yang sebulan sebelumnya mengajaknya ”jadian’. Bahkan Tia juga merindukan teman-teman yang nakal dan tidak disukainya: Andi, Ridwan, dll ! ”Kak Tari, bila Tuhan membolehkan biarlah mereka hidup menggangguku sepuasnya setiap hari asalkan mereka jangan seperti ini..” katanya terbata sambil menunjukkan bekas ruang kelasnya yang telah hancur ketika kami berhasil mencapai sekolahnya. Aku mengingatkannya komitmen kami untuk tidak menangis sebagai calon dokter dan sedang bertugas menolong orang. Tia cepat belajar sebagai asisten dan penterjemahku dalam merawat penderita. Banyak kejadian menegangkan dan lucu yang kami alami bersama. Kami berdua menjadi team yang kompak sampai pada hari ketujuh ketika aku harus ke Banda Aceh mengambil persediaan obat. Persediaan makanan juga semakin sulit. Terjadi perebutan bahan bantuan. ”Kak Tari pasti kembali lagi, khan. Tia akan menunggu”, katanya dengan matanya yang bundar ketika aku naik keatas truk TNI. Tetapi Tuhan berencana lain! Dua hari kemudian, aku tidak menemukannya ketika kembali ketempat semula. Mereka pengungsi baru dari desa-desa sekitar tidak tahu kemana rombongan pengungsi yang lama. Aku terus mencarinya sekitar kota Calang. Ah, Tia dimana kamu … ? Aku ingin mengajakmu ke Jakarta untuk sekolah. Aku yakin kamu akan menjadi dokter. Tsunami boleh mengambil semuanya darimu kecuali semangatmu ! Ya Tuhan, temukan Tia untukku …

Teman-teman, kami membiarkan dr. Tari mengingkari janjinya sendiri : menangis. Yah, dr. Tari juga manusia biasa.

Beda Cinta & Suka

Dihadapan orang yang kau cintai, musim dingin berubah menjadi musim semi yang indah.
Dihadapan orang yang kau sukai, musim dingin tetap saja musim dingin hanya saja suasananya lebih indah sedikit.

Dihadapan orang yang kau cintai, jantungmu tiba-tiba berdebar lebih cepat. Dihadapan orang yang kau sukai, kau hanya merasa senang dan gembira saja.

Apabila engkau melihat kepada mata orang yang kau cintai, matamu berkaca-kaca.
Apabila engkau melihat kepada mata orang yang kau sukai, engkau hanya tersenyum saja.

Dihadapan orang yang kau cintai, kata-kata yang keluar berasal dari perasaan yang terdalam. Dihadapan orang yang kau sukai, kata-kata hanya keluar dari pikiran saja.

Jika orang yang kau cintai menangis, engkaupun akan ikut menangis disisinya. Jika orang yang kau sukai menangis, engkau hanya menghibur saja.

Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan rasa suka dimulai dari telinga. Jadi jika kau mau berhenti menyukai seseorang, cukup dengan menutup telinga.

Tapi apabila kau mencoba menutup matamu dari orang yang kau cintai, cinta itu berubah menjadi tetesan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam jarak waktu yang cukup lama.

“Tetapi selain rasa suka dan rasa cinta … ada perasaan yang lebih mendalam. Yaitu rasa sayang … rasa yang tidak hilang secepat rasa cinta. Rasa yang tidak mudah berubah. Perasaan yang dapat membuatmu berkorban untuk orang yang kamu sayangi. Mau menderita demi kebahagiaan orang yang kamu sayangi. Apabila Cinta ingin memiliki. Namun Sayang, hanya ingin melihat orang yang disayanginya bahagia, walaupun harus kehilangan”.

joan janet

Realisasi Bantuan Pecahkan Rekor

* TI : Pantau Ketat Penyaluran Bantuan
Geneva, Rabu - Realisasi bantuan untuk kategori darurat para korban tsunami mencatatkan rekor baru. Rekor itu jauh melampaui realisasi bantuan global selama ini. Bencana tsunami begitu “memukau” sehingga muncul kekhawatiran bahwa dunia melupakan bantuan pada bencana-bencana lain.

Baca lebih lanjut …

Pasca-Amuk Samudra

SAMUDRA Hindia mengamuk. Bukan lantaran samudra itu balas dendam karena bosnya semua samudra, Imam Samudra, sedang dipenjara di Bali, tetapi karena gempa tektonik yang sudah barang tentu disebabkan oleh kehendak Imamnya segala imam, Tuhan Yang Maha Esa.

Baca lebih lanjut …

Kisah Nyata Korban Tsunami

Pada musim haji dua tahun lalu aku pernah ditugasi untuk membantu menangani proses pemberangkatan jemaah haji Indonesia di embarkasi Aceh. Waktu itu kondisi politik dan keamanan cukup menghangat, tetapi tugas itu dapat aku laksanakan dengan baik dan aku kembali ke Jakarta dengan selamat. Desember 2004 ini aku kembali ditugasi oleh Bos ku untuk ikut kembali ke Aceh membantu pemberangkatan jemaah Haji dari embarksi Aceh. Rasanya gembira juga bisa ikut berpatisipasi dalam tugas mulia ini. Singkat cerita di Aceh aku diinapkan di Hotel Kuala Tripa di lantai 2, hari itu adalah hari terakhir aku bertugas di Aceh dan aku melapor ke Manager Aceh bahwa besok pagi aku akan kembali ke Jakarta. “Pak Kamdo hari ini aku balik ke Jakarta, Surat Perjalanan Dinas ku sudah selesai …” lapor ku ke Pak Sukamdo Manajer Garuda di Aceh. “Wah Pak Sanwani, jangan gitu dong … kamu sangat dibutuhkan di operasional haji disini …” keluh Pak Kamdo, “kamu di extend, spj kamu diperpanjang ya sampai dua hari … sebulan juga boleh… oke ya ??!” pinta Pak Kamdo setengah memaksa. “Enggak bisa Pak, pokoknya saya harus pulang ke Jakarta besok pagi” aku memberanikan diri membantah Pak Kamdo. Akhirnya Pak Kamdo menyerah “Ya sudahlah … tapi semua kerjaan beres khan ??” “Beres semua Bos ! …temen-teman nanti yang gantin saya juga sebentar lagi datang dari Jakarta” jawabku, Pak Kamdo orangnya baik, semua fasilitas untuk pekerjaanku dilengkapinya, apa yang aku minta untuk menunjang operasional pekerjaan langsung disediakannya, sehingga aku bekerja bisa lancar tanpa hambatan berarti.

Malam itu aku berbenah di kamar, koper yang sudah aku pack, aku buka lagi kayanya ada yang lupa apa yaa … seolah koper ini enggan ditutup. Ku buka lagi ku tutup lagi … apa-apaan nih…pikir ku. Oleh-olehyang aku siapkan dikulkas kamar hotel aku keluarkan, tapi tak lama aku masukan lagi ke kulkas … kenapa nih pikiranku koq gak konsen gini ??? Sepertinya ada yang mencegah oleh-oleh itu untuk aku bungkus biar kubawa ke Jakarta.

Aah …lupakan saja , tidur aja dulu …Hari Minggu pagi jam setengah tujuh tanggal 26 Desember 2004 aku sudah rapih berpakaian dan langsung menuju restoran dilantai bawah hotel tempat ku menginap untuk breakfast, rekan2 lain juga sudah mulai berkumpul, agak-agaknya makan pagi ini akan terasa makan yang paling nikmat karena tugas-tugasku sudah selesai, tinggal pulang ke Jakarta ketemu anak isteri begitu angan-anganku. Belum lagi kami mengambil makanan … masih dalam keadaan berdiri … sejenak terasa kakiku berguncang -guncang, tidak hanya itu, kuperhatikan sekeliling ruangan restoran dindingnya bergerak-gerak, makin lama guncangan itu makin kuat….

“Gempa..gempaaaa …ada gempa !!!!” teriak orang-orang yang ada diruangan itu, aku masih belum tersadar, aku masih melihat sekeliling ruangan … mulai satu-satu tiang diruangan itu seperti amblas perlahan-lahan … seperti mau runtuh perlahan-lahan … aku tidak dapat menggambarkannya dengan kata-kata …

“Gempaaaa …!!!!” baru pada teriakan yang kedua aku tersadar, ini benar-benar ada gempa !!. Semua tamu berlarian keluar ruangan, sambil berlarian sempat aku lihat tiang-tiang bangunan itu mulai runtuh, sampai diluar hotel kembali kami harus berlari menjauh dari bangunan hotel karena kaca-kaca hotel pada pecah, seperti meledak … menghamburkan potongan-potongan kaca ke segala arah. Sambil merunduk kami terus berlari tambah kencang. Pada saat itu teringat dalam pikiranku didepan hotel ada taman agak luas, rupanya semua rekan-rekan bepikiran sama, kesana kami semua berlarian berhamburan dengan penuh kepanikan. Sampai ditaman kami berhenti berlari, sambil berdiri terasa gempa masih mengguncang-guncang tubuh kami. Didekat taman ternyata ada tiang antene besar terbuat dari besi, berpikiran tiang antene akan ambruk kami berlari lagi menjauh … gempa itu masih terus mengguncang tubuh kami, sampai didekat taman ada pohon asem besar seolah ada yang membisikan kepadaku “Pegangan pohon itu …” tanpa pikir panjang aku peluk pohon asem besar itu, pohon itu lebih besar dari pelukkan tanganku sehingga tanganku tidak dapat bertemu dengan tangan yang satunya. Melihat aku memeluk pohan asem itu teman-teman yang lain berlari ke pohon asem itu dan ikut-ikutan berpegangan dan berpelukan seperti ku.

Sehingga kami saling berpegangan erat melingkari pohon dan yang mendapat lingkaran diluar saling melapisi dengan badannnya sehingga pelukan itu makin kuat. Hal ini kami lakukan karena gempa itu demikian kuatnya dan masih terus mengguncang-guncang kami. Kurang lebih sepuluh menit guncangan hebat itu mereda … kami mulai meregangkan pelukan … dan mulai memandang ke sekeliling … ternyata hotel tempat ku menginap sudah runtuh dua lantai kebawah. Tak terbayang olehku apa jadi kalau kami masih ada diruangan restoran tadi. Belum lagi rasa ketakutan ku hilang, terdengar suara teriakan

“Air..Aiiir !!!” aku pikir ada korban gempa yang sangat membutuhkan air minum ternyata

…”Ada aiir !..Air datang, air datang !!!” Ooh, ternyata ini air banjir yang datang ! kulihat orang berlari-larian kesana kemari menyelamatkan diri dari kejaran air. Tanpa pikir panjang akupun ikut berlari, tapi ke mana aku harus berlari, sambil berlari sekuat-kuatnya tanpa sadar aku berucap berulang-ulang “Allohu Akbar…Allohu Akbar..Allohu Akbar” terus tak berhenti berlari entah harus kemana dengan rasa takut yang tak terkirakan, pikiran kalut, kacau, yang ada hanya menyelamatkan diri. Sambil berlari dan mengucap takbir seolah ada yang memberiku ilham, tiba-tiba terlintas dipikiran “Air itu mencari tanah yang lebih rendah …” ku arahkan lariku ke tanah daerah yang lebih tinggi, “ya tapi harus lari kemana ???” buntu pikiranku… sambil terus bertakbir, kembali seolah ada yang membisiki ku “lari ke arah kanan” aku ikuti bisikan itu aku lari berbelok ke kanan, ternyata yang kutemui adalah tanggul yang tingginya satu setengah meter, akupun mencoba untuk menaikinya tapi tak berhasil karena begitu lelah setelah terus berlari, kulihat dibelakangku … rupanya teman-temanku berlari mengikuti arah ku berlari sehingga kami berkumpul dibawah tanggul. Sambil bahu membahu, berpegangan tangan, yang berhasil naik keatas tanggul membantu mengangkat yang laiinya sampai semua berhasil naik tidak ada yang tertinggal. Aku melihat kearah belakang lagi, ternyata sudah mulai ada korban-korban yang tersapu oleh air yang mengerikan itu, tetapi air masih mengejar kami, “lari … lari … airnya mulai naik !!!” teriak ku.

Tanpa sengaja aku berlari paling depan dan semua teman-teman mengikuti di belakang. Ooh … harus kemana aku ber lari, napasku tersengal-sengal “Allohu Akbar…Allohu Akbar..Allohu Akbar” hanya dalam hati karena tak sanggup lagi aku mengucapkannya. Kepalaku mulai pening kehabisan napas, mungkin sebentar lagi aku akan pingsan dan akan tersapu oleh air bah, pikirku. “Allohu Akbar…Allohu Akbar..Allohu Akbar” (hanya dalam hati karena tak sanggup lagi aku mengucapkannya) … seolah ada bisikan lembut tapi tegas “lari ke arah trotoar jalan besar” kuikuti bisikan itu … tetapi air sudah mulai menerpa kaki-kaki kami. Tubuh kami mulai basah oleh cipratan air sampai akhirnya basah kuyup, setengah putus asa aku berlari karena akhirnya air bah itu akan menelan kami juga, ooh inilah ajal mungkin sudah tiba, pikirku, “Allohu Akbar…Allohu Akbar..Allohu Akbar” (hanya dalam hati karena tak sanggup lagi aku mengucapkannya).

“Lari terus kearah trotoar jalan besar” aah bisikan itu datang lagi, kuikuti lagi, sambil menoleh kebelakang, ternyata teman-teman masih mengikuti dibelakang mengikuti arah lariku, kulihat dibelakangku saluran-saluran air sudah meluap airnya, airnya mengalir deras membawa sampah, potongan-potongan kayu, mengerikan ! Dikejauhan semakin banyak orang yang mulai terjatuh tertelan air bah, arah lari mereka memang berlawanan dengan arah ku. Aku tidak berani menoleh lagi, sungguh pemandangan yang menakutkan, mengerikan. Dalam keadaan berlari, bingung arah mana yang harus kutempuh, sejenak kemudian terdengar lagi bisikan “lihat gorong-gorong, lari ke trotoar”
“ya aku lari ke arah trotoar itu … tapi apa maksudnya disuruh melihat gorong-gorong ??” pikirku sambil terus berlari.

Berlari …terus sambil berlari kulihat gorong-gorong yang ada sisi-sisi jalan dimana kuberlari, ya betul ! digorong-gorong itu tidak ada air yang menggenang … tidak ada air yang mengalir kearah gorong-gorong itu … ooh ini rupanya jawabannya, air bah itu pasti mencari saluran air dan yang ada hanya gorong-gorong itu, air tidak sampai mengalir kearah gorong-gorong itu berarti, arah lariku adalah benar mencapai daerah yang lebih tinggi ! Oooh Yaa Alloooh …Engkau Yang Maha Ghaib … Engkau Bisikan Suara GhaibMu untuk membimbingku berlari … tanpa terasa air mataku berlinang, doa kupanjatkan dalam hati “Yaaa Alloooh tuntunlah kami, lindungilah kami…” semangatku terpompa kembali untuk terus berlari … sampai kupastikan daerah itu tidak ada air yang menjangkaunya, perlahan-lahan aku berhenti berlari dan habis sudah napas ini, akhirnya aku berhenti dan duduk tersungkur dipinggir trotoar.

Dengan napas yang tinggal satu-satu dan kepalaku mulai pening, berat sekali rasanya kepalaku ini. Sementara aku duduk ditrotoar ternyata rekan-rekanku masih mengikuti arah lari dan ikut berhenti dan ikut duduk dan tersungkur ditrotoar tetapi rekan-rekan yang wanita tidak dapat duduk lagi langsung lunglai pingsan, kami biarkan saja karena kami sendiri juga dalam keadaan kepayahan, ketakutan , belum dapat bernapas dan berpikir dengan baik, setengah hilang kesadaran. Hampir setengah jam kami terduduk, ada yang mulai siuman dari pingsannya, ada yang mulai menagis tersedu-sedu, ada yang menyeringai menahan kakinya yang sakit, ada yang terdiam membisu, masih terbayang-bayang kejaran air bah itu, masih teringat orang-orang yang berjatuhan ditelan bah, runtuhnya hotel, Oooh Tuhan apa yang sedang terjadi ??

Perlahan-lahan kesadaran kami mulai timbul, “Pak kemana lagi kita akan berlari ???” tanya seorang rekan kepadaku, rupanya arah lariku dijadikannya tumpuan bagi rekan-rekanku. “Tidak tahu lagi saya harus kemana, kita berhenti dulu disini … “Jawabku sekenanya, sambil mengenang dan mengingat-ingat akan Bisikan Ghaib itu, hatiku menangis… bagaimana jadinya bila tidak ada yang menuntunku berlari, mungkin aku juga sudah tersapu oleh air bah itu… terasa betapa aku sangat membutuhkan dan berharap-harap Bisikan itu datang lagi. Setelah hening tidak terdengar lagi bisikan itu, tapi aku yakin sudah bahwa Bisikan Itu adalah petunjuk bagi keselamatan diriku dan rekan-rekanku. Aku bersyukur dalam hati masih dilindungi oleh Yang Maha Ghaib.

Kehingan kami tidak berlangsung lama, kurang lebih satu jam kami hanya berdiam diri, setelah tenaga terkuras habis, perasaan lapar mulai menyergap, karena kami memang belum sempat menyantap sarapan kami sewaktu terjadi gempa tadi. Rekan wanita mulai ada yang mengeluh “Perutku mulai terasa lapar …” aku dan rekan-rekan yang lain berdiam diri saja, tidak ada yang menanggapi walaupun kami tahu bahwa semua pasti belum sarapan tapi kemana harus mencari makan dalam keadaan kacau balau seperti ini. Masih untung kami bisa hidup, apa jadinya kalau tadi kami salah arah dalam berlari, bisa jadi terjebak dipusaran air bah yang masuk sampai ketengah kota.

Tetapi Alloh Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, kuedarkan pandangan ku kesekeliling, jalan itu sepi, lenggang, ada beberapa bangunan ruko masih tutup, tapi mataku terpaku disalah satu ruko tulis dipapannya “Rumah Makan Padang”, lho koq sudah ada rumah makan padang yang buka??? Rasa gembiraku bukan kepalang, kami bergegas ke rumah makan itu, setelah selidik punya selidik ternyata rumah makan itu sudah kosong ditinggalkan pemiliknya, tetapi makanannya lengkap dan kayaknya baru dimasak, masih hangat !!! Waduh gimana ini, mau makan bayarnya ke siapa ?? Makan tanpa bayar juga bisa, tapi itu mencuri namanya ! “Bagaimana kalau kita makan saja dulu” kemudian kita tinggalkan saja uang kita dilacinya ??” aku mengusulkan karena aku merasa dikantongku masih ada uang sisa perjalanan dinasku. Tanpa menunggu lama lagi rekan-rekanku langsung setuju. Kami makan dengan lahapnya, Yaa Alloh Yaa Rahman Yaa Rahim … ampuni kami…walaupun didalam bencana besar ini Kasih Sayang Mu masih memayungi jiwa-jiwa kami, masih juga kami diberi Nya makan.

Tak lama setelah selesai makan muncul serombongan ibu-ibu ada anak-anak juga melintas didepan rumah makan itu, mereka melongokkan kepala kepada kami “Pak kami mau beli makanan, tapi kami tidak punya uang, rumah kami hancur, kami lapar Pak ??” Tersentak kami semua mendengar nya, spontan rekan-rekan menjawab “Kami bukan pemilik rumah makan ini, tapi kalau mau makan silahkan ambil saja, makan saja, kami yang bayar” jawab kami seketika. Tanpa dikomando mereka menyendok makan itu dan memakannya dengan lahap, sebentar saja seluruh makanan sudah ludes, selesailah makan mereka. Dengan rasa gembira ibu-ibu dan anak-anak itu mengucapkan terima kasih berkali-kali, “Terus ibu-ibu ini mau kemana ?” tanya salah seorang rekanku, seketika kegembiraan ibu-ibu itu lansung sirna, “Kami akan mencari keluarga kami yang hilang tersapu air bah, entah mencarinya kemana …” mendung menggayut dimata ibu itu. Mereka pun berpamitan dan berjalan pelan-pelan menyusuri trotoar, entah hendak kemana.

Aku dan rekan-rekan menghela napas, sambil berdoa semoga keluarga mereka dalam keadaan selamat semua. Kami termenung kembali, sejenak kemudian mulai saling berbicara apa yang akan kami lakukan selanjutnya. Akhirnya diputuskan kami kembali ke arah hotel tempat menginap. Serasa sudah aman kami berjalan kembali kearah hotel, sepanjang jalan terlihat betapa ganasnya air bah itu menyapu kota Aceh ! tidak hanya bangunan-bangunan yang hancur, terlihat juga tumpukan tubuh manusia saling bertumpuk di gorong-gorong air, menyumbat saluran air, mengerikan sekali …

Sesampainya dilokasi hotel, terlihat bangunannya sudah runtuh, sangat >berbahaya bila didekati. Kami putuskan untuk berjalan kearah Airport, semoga disana masih ada rekan-rekan yang sudah selamat terlebih dahulu. Letak Airport ada didataran yang agak tinggi, sesampainya di Airport kami baru bisa bertemu dengan rekan-rekan lainnya yang ikut selamat dari hantaman air bah. Setelah itu kami sepakat menjadikan Airport sebagai Posko sementara dan selanjutnya harus bagaimana … aaah entahlah … aku badanku tidak kuat lagi, hatiku menangis bila mengingat mayat-mayat yang bergelimpangan, aku tertidur diluar gedung airport karena kemungkinan masih ada gempa susulan, aku pejamkan mataku … aku tidak dapat berfikir lagi… Yaa Alloh bukakan mata hati kami untuk dapat mendapat hikmah dari semua ini .

Seperti yang dituturkan oleh Pak Sanwani kepada Penulis.

Faisal, Faryanti” Faryanti.Faisal@AIG.com

Tsunami Dalam Sejarah

Selama bertahun-tahun ribuan orang tewas akibat tsunami …

Baca berita lebih lanjut, klik disini

Meletusnya Krakatau pernah menimbulkan tsunami yang sangat tinggi …

Baca berita lebih lanjut, klik disini …

Foto Tsunami Aceh

Tanggal 26 Desember 2004, Aceh (Naggroe Aceh Darussalam) dan sebagian Sumatera Utara telah terjadi gempa dengan 8,9 skala ritcher, jam 8 pagi, sekitar 30 - 60 menit kemudian terjadi tsunami dengan tinggi 3-5 meter. Pusat gempa disebelah barat pantai Sumatera. Gempa tertinggi dalam sejarah abad 20. Mengenai negara Thailand, Pantai barat Malaysia, Srilangka, Pesisir pantai India, Myamar, pesisir pantai Afrika. Memakan korban jiwa, harta benda yang cukup banyak. Korban paling terbanyak adalah Indonesia. Dan inilah foto-fotonya.

Banda Aceh, before and after

before and after tsunami aceh
Catatan :
Karena telah terjadi sesuatu dengan blog saya, tidak bisa menampilkan foto dari sumber AFP dan Reuters.

Tak Ada Alat, Gajah pun Jadi

Kreativitas kadang tercipta dari kondisi serba terbatas. Dari tumpukan puing dan jenazah yang mengepung Banda Aceh pasca bencana gempa bumi dan tsunami yang menghantam Ahad pekan lalu (26 Desember 2004) - sementara tenaga dan peralatan begitu minim - lahirlah sebuah jalan alternatif.

Baca lebih lanjut klik disini

Lihat foto, klik disini

Two elephants, Medang and Ida, clear the debris of houses damaged by the tsunami disaster to make a path for vehicles in Indonesia’s tsunami-hit city of Banda Aceh January 3, 2005. Eight days on, hungry and sick survivors of the Indian Ocean tsunami are waiting for food and medicine in growing desperation as a multinational aid operation tries to reach remote towns ravaged by the waves. REUTERS/Beawiharta

Lihat foto, klik disini

Daerah Rawan Gempa Tektonik di Indonesia

Fauzi MSc, PhD
Pusat Gempa Nasional
Badan Meteorologi dan Geofisika

Ringkasan
Kerugian akibat gempa bumi tidak langsung disebabkan oleh gempa bumi, namun disebabkan oleh kerentanan bangunan sehingga terjadi runtuhan bangunan, kejatuhan peralatan dalam bangunan, kebakaran, tsunami dan tanah longsor. Faktor kerentanan bangunan sangat erat hubungannya untuk perhitungan bencana gempa bumi di masa yang akan datang. Faktor gempa bumi tak dapat dielakkan tapi harus dihadapi dengan merencanakan bangunan beserta lingkungannya yang tahan terhadap gempa bumi.
Prediksi gempa bumi sampai sekarang masih dalam taraf penelitian sehingga faktor mitigasi lebih penting untuk mencegah kerugian dan bencana yang lebih besar. Untuk itu diperlukan analisa resiko yang mencakup parameter gempa bumi, bangunan dan geologi setempat dimana bangunan atau perencanaan kota berada. Analisa ini memerlukan kerjasama antara masing-masing professional; Geofisikawan, Insinyur sipil dan Geology.

Pendahuluan
Lapisan kulit bumi dengan ketebalan 100 km mempunyai temperatur relatif jauh lebih rendah dibanding dengan lapisan dalamnya (mantel dan inti bumi) sehingga terjadi aliran konveksi dimana massa dengan temperatur tinggi mengalir ke daerah temperatur rendah atau sebaliknya. Teori aliran konveksi ini sudah lama berkembang untuk menerangkan pergeseran lempeng tektonik yang menjadi penyebab utama terjadinya gempa bumi tektonik. Disamping itu kita kenal juga gempa vulkanik, gempa runtuhan, gempa imbasan dan gempa buatan. Gempa vulkanik disebabkan oleh desakan magma ke permukaan, gempa runtuhan banyak terjadi di pegunungan yang runtuh, gempa imbasan biasanya terjadi di sekitar dam karena fluktuasi air dam, sedangkan gempa buatan adalah gempa yang dibuat oleh manusia seperti ledakan nuklir atau ledakan untuk mencari bahan mineral. Skala gempa tektonik jauh lebih besar dibandingkan dengan jenis gempa lainnya sehingga efeknya lebih banyak terhadap bangunan.

Indonesia merupakan daerah pertemuan 3 lempeng tektonik besar, yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan lempeng Pasific. Lempeng Indo-Australia bertabrakan dengan lempeng Eurasia di lepas pantai Sumatra, Jawa dan Nusatenggara, sedangkan dengan Pasific di utara Irian dan Maluku utara. Di sekitar lokasi pertemuan lempeng ini akumulasi energi tabrakan terkumpul sampai suatu titik dimana lapisan bumi tidak lagi sanggup menahan tumpukan energi sehingga lepas berupa gempa bumi. Pelepasan energi sesaat ini menimbulkan berbagai dampak terhadap bangunan karena percepatan gelombang seismik, tsunami, longsor, dan liquefaction. Besarnya dampak gempa bumi terhadap bangunan bergantung pada beberapa hal; diantaranya adalah skala gempa, jarak epicenter, mekanisme sumber, jenis lapisan tanah di lokasi bangunan dan kualitas bangunan.

Tulisan ini membahas beberapa aspek gempa bumi di Indonesia untuk menunjukkan daerah-daerah rawan gempa bumi berdasarkan aktifitas tektonik dan sejarah kegempaan yang pernah melanda Indonesia. Informasi ini bersifat regional karena belum menyentuh aspek lokal di sekitar bangunan yang mempengaruhi resiko bangunan terhadap getaran gempa bumi.

Daerah aktif gempa di Indonesia
Gempa bumi terjadi diawali dengan akumulasi stress di sekitar batas lempeng, sehingga aktifitas gempa banyak disini. Walaupun konsentrasi akumulasi stress akibat tabrakan lempeng berada di sekitar batas lempeng, akibatnya bisa sampai jauh sampai beberapa ratus kilometer dari batas lempeng karena ada pelimpahan stress di kerak bumi, sehingga ada daerah aktif gempa di luar daerah pertemuan lempeng. Kasus sesar Sumatra umpamanya adalah sesar yang dibentuk oleh pelimpahan stress tabrakan lempeng Indo-Australia dengan Eurasia dengan sudut tabrakan miring terhadap garis batas. Kemiringan ini menyebabkan timbulnya sesar Sumatra dimana konsentrasi akumulasi stress atau pusat-pusat gempa di daerah ini.

Beberapa sesar aktif yang terkenal di Indonesia adalah sesar Sumatra, sesar Cimandiri di Jawa barat, sesar Palu-Koro di Sulawesi, sesar naik Flores, sesar naik Wetar, dan sesar geser Sorong. Keaktifan masing-masing sesar ditandai dengan terjadinya gempa bumi. Gempa dangkal (kedalaman 0-50 km) yang terjadi pada periode 1900-1995 dengan skala Richter 5.5 atau lebih, membuktikan lokasi-lokasi daerah aktif gempa di Indonesia. Sebagian dari gempa tersebut menimbulkan bencana, bergatung pada beberapa hal;
· Skala atau magnitude gempa
· Durasi dan kekuatan getaran
· Jarak sumber gempa terhadap perkotaan
· Kedalaman sumber gempa
· Kualitas tanah dan bangunan
· Lokasi bangunan terhadap perbukitan dan pantai

Faktor kualitas tanah dan bangunan adalah faktor yang sangat menentukan untuk pengkajian resiko gempa bumi. Kualitas tanah di tempat bangunan berdiri dinyatakan dengan percepatan tanah maksimum (Peak Ground Acceleration) dari catatan exact accelerograph sewaktu gempa besar terjadi. Hal ini sangat jarang terjadi karena periode gempa besar sangat panjang (50-100 tahun) dan karena acceleropgraph.belum terpasang. Karena itu banyak cara empiris dilakukan untuk menemukan percepatan maksimum di perkotaan. Disamping itu lokasi bangunan terhadap pantai yang rentan terhadap ancaman tsunami dan lokasi bangunan terhadap perbukitan yang rentan terhadap longsoran perlu juga dimasukkan dalam pertimbangan asuransi.

Pemetaan gempa bumi
Pemetaan gempa bumi bisa dilakukan dengan 2 cara; pertama adalah dengan memetakan sumbernya atau hyposenter (pusat gempa) dengan skala dan kedalaman tertentu, kedua adalah dengan memetakan efeknya atau informasi makro gempa bumi. Magnitude gempa dengan magnitude 5 atau lebih dan kedalaman kecil dari 50km sering dipakai karena berpotensi untuk merusak bangunan. Informasi makro gempa bumi adalah peta dengan memakai skala Modified Mercalli Intensity (MMI), yaitu besarnya efek yang dirasakan oleh pengamat dimana dia berada tanpa memperhatikan sumbernya.

Aktifitas gempa yang pernah terjadi dari tahun 1900 sampai 1996 dengan skala magnitudo diatas 6.0 menunjukkan bahwa aktifitas gempa tersebut berada di sekitar tabrakan lempeng tektonik (interplate earthquake) dan di sekitar sesar (gambar 2). Ciri khas di daerah Indonesia, umumnya kekuatan gempa yang besar (M>7) berada di sekitar tabrakan lempeng, sedangkan gempa di dalam lempeng (intraplate earthquake) ukurannya relatif kecil. Namun akibatnya terhadap bangunan mungkin sama, karena gempa interplate berada di laut sedangkan gempa intraplate berada di darat yang relatif lebih dekat dengan perkotaan.

Bencana Bengkulu dan Sukabumi
Gempa Bengkulu pada 4 Juni 2000 dengan magnitude Mb 7.3 atau Mw 7.9 menimbulkan korban 100 orang lebih. Kerusakan terparah berturut-turut ada di Pulau Enggano, Pasar Ngalam, Sukaraja, Bengkulu Selatan dan di Kota Bengkulu. Laporan team survey dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) menggambarkan tingkat kerusakan dengan memakai skala Modified Mercally Intensity (MMI) bahwa tingkat kerusakan terparah terjadi di Pulau Enggano (gambar 3). Kedalaman gempa dari USGS, CMT-Harvard maupun BMG bervariasi dari 5km sampai kedalaman 62km. Fokal mekanisme juga bervariasi dari sesar naik dengan arah yang bervariasi atau sesar mendatar. Perbedaan ini pada dasarnya adalah perbedaan penggunaan data dan cara menganalisa data. Pada awanya prosessing dilakukan dengan cara otomatis dengan memakai data real time, kemudian dilanjutkan dengan proses yang dilakukan operator dengan menambahkan data sesuai dengan kriteria yang diinginkan.

Hari Rabu pagi tanggal 12 Juli, 2000 pada saat kantor baru saja mulai, gempa dengan kekuatan sedang mengejutkan penduduk di Jakarta, Bandung, Sukabumi dan Bogor. Pusat gempa dilaporkan dekat dengan Sukabumi. Gempa bumi melanda daerah Sukabumi untuk kesekian kalinya; tahun 1982 (M=5.5), 1973 (M=4.9), 1969 (M5.4). Intensitas maksimum yang dirasakan di Jakarta adalah MMI III, yang berarti beberapa orang merasakannya, khususnya di bangunan bertingkat.

Monitoring gempa susulan
Gempa susulan (aftershock) merupakan proses stabilisasi medan stress ke keseimbangan yang baru setelah pelepasan energi atau stress drop yang besar pada gempa utama. Setiap gempa tektonik dangkal (kira-kira < 100 km) selalu diikuti oleh dislokasi atau patahan. Dislokasi ini mengganggu keseimbangan medium sekelilingnya, sehingga dengan sendirinya muncul gempa lainnya yang merupakan proses keseimbangan baru. Proses ini bisa berlangsung beberapa jam sampai berminggu-minggu, tergantung pada besar gempa utama dan sifat batuan. Frekuensi dan magnitude gempa susulan ini umumnya menurun secara exponensial terhadap waktu. Extrapolasi kurva frekuensi dan magnitude terhadap waktu bisa menjadi patokan perkiraan besarnya gempa susulan, sehingga bahaya dari gempa susulan ini menjadi sangat serius apabila gempa utama telah merusak struktur bangunan. Struktur bangunan yang sudah dirusak oleh gempa bisa dianggap seperti susunan dinding, batu dan pilar yang tak mempunyai daya ikat lagi satu sama lain. Sehingga gempa susulan dengan MMI IV saja sudah cukup untuk merubuhkan bangunan.

Untuk itu peranan peneliti gempa susulan baik dari BMG atau lainnya sangat diperlukan untuk melihat tingkat penurunan aktifitas gempa. Gempa susulan Bengkulu yang dilaporkan team survey BMG menunjukkan penurunan aktifitas secara exponensial. Pada hari ke empat terdapat gempa susulan dengan skala Mw 6.5 yang mengakibatkan kenaikan aktifitas kedua setelah gempa utama.

Monitoring Gempa bumi
Kenyataan bahwa berita bencana sangat cepat menyebar di media massa, sehingga pemerintah atau lembaga lainnya sangat cepat bereaksi untuk memberikan bantuan untuk penduduk yang sedang dilanda bencana. Jika kita bisa meramalkan gempa bumi, maka bencana tentunya tidak akan terjadi dan tidak perlu mengeluarkan dana. Namun teknik untuk meramal gempa bumi sampai sekarang belum ada yang bisa dipertahankan secara ilmiah, sehingga kita perlu mempersiapkan diri, lingkungan dan bangunan yang tahan terhadap gempa bumi. Untuk itu diperlukan peta aktifitas gempa bumi yang menunjukkan bahwa aktifitas seismik (gempa) di Indonesia umumnya tinggi hampir di semua pulau. Setiap pulau mempunyai tingkat aktifitasnya masing-masing yang perlu di monitor dengan merapatkan jaringan seismograp sehingga informasi aktifitas gempa bumi bisa lebih teliti.
Bencana gempa bumi, tsunami atau letusan gunung berapi adalah suatu bukti dari ketidakmampuan kerak bumi menampung akumulasi deformasi yang berasal dari proses berkesinambungan dari pergerakan tektonik lempeng atau pergerakan magma kepermukaan. Sehingga deformasi sesaat berupa gempa bumi atau letusan gunung api tak terhindarkan. Bencana gunung berapi umumnya dapat ditanggulangi secara dini, karena gejala letusan bisa diamati, mulai dari arah letusan, arah aliran magma sampai pada luas daerah yang akan mengalami bencana dapat diperkirakan. Gunung Rabaul (Papua Nugini) contohnya meletus bulan September 1994. Persiapan evakuasi telah dilaksanakan secara bertahap 10 tahun sebelumnya, sehingga nyawa dan harta dapat diselamatkan. Hal ini menyangkut efektifitas informasi yang disampaikan pada masarakat. Di pihak lain juga menyangkut keberhasilan monitoring dan penelitian tentang tabiat pergerakan magma dan peramalannya.

Dua pihak antara masarakat dan peneliti berkomunikasi dengan baik sehingga calon korban dapat dan mau diselamatkan. Karena itu interaksi antara masarakat dan peneliti gempa bumi perlu ditingkatkan seperti halnya bencana gunung api. Korban gempabumi disebabkan oleh runtuhan bangunan yang digoyang gempa, sedangkan korban letusan gunungapi disebabkan oleh aliran lahar, magma, debu panas, atau kebakaran, dimana manusia tidak dapat bertahan ditempat kejadian dan harus mengungsi puluhan kilometer. Calon korban gempa bumi tidak perlu mengungsi asalkan bangunan dan lingkungan mereka tahan terhadap gempa bumi, karena itu sangat perlu kita sadari bersama bahwa jatuhnya korban karena runtuhan bangunan atau kejatuhan peralatan rumah tangga.

Resiko terhadap gempa bumi jelas ada, namun gejalanya tak sejelas bencana gunung berapi, karena itu pengertian dan pengetahuan masyarakat lebih ditekankan agar tidak membangun bencananya sendiri di tempat kediaman. Pegertian ini dapat ditingkatkan dengan penerangan dan penjelasan tentang kenyataan hidup di lokasi aktif gempa. Makin besar kesiagaan masarakat atas bencana yang mengancam, maka makin kecil resiko yang dihadapi. Sarana yang paling efektif menurut penulis adalah pendidikan formal melalui program monitoring di sekolah atau program monitoring di daerah sekitar aktif gempa dimana pemerintah daerah langsung ikut terlibat didalamnya.

Penanggulangan
Bencana alam terfokus pada korban manusia beserta miliknya. Peristiwa alam yang extreem (tsunami setinggi 20 m misalnya) tidak masuk dalam kategori bencana alam apabila tidak menelan korban. Karena itu bencana alam bergantung pada dua faktor yang harus ada; peristiwa alam dan penduduk.

Identifikasi daerah tsunami berdasarkan sejarah sudah bisa dikenali sebagai daerah bahaya tsunami yang harus diwaspadai. Apalagi untuk masa sekarang, faktor jumlah penduduk jauh lebih banyak, sehingga bencana alam bisa lebih besar dibanding 100 tahun yang lalu di tempat yang sama. Jumlah korban akibat tsunami sangat bergantung pada tinggi gelombang yang sampai di pantai. Disamping sejarah, perkiraan tinggi gelombang bisa dihitung melalui model sumber gempa, bentuk pantai dan bentuk permukaan dasar laut (batimetri). Sehingga pembangunan pelabuhan, perumahan di sekitar pantai dapat mempertimbangkan efek tsunami yang mengancam.

Selain tsunami, korban banyak juga terjadi karena runtuhan bangunan yang tak tahan terhadap percepatan gelombang gempa yang tinggi. Maksimum percepatan gelombang gempa terjadi pada saat gempa terbesar yang pernah terjadi di suatu daerah. Ini menjadi catatan yang sangat penting bagi perancang bangunan agar bisa merancang bangunan yang tahan terhadap percepatan maksimum tersebut. Namun tidak banyak data percepatan maksimum yang pernah dicatat, sehingga dilakukan secara empirik dimana magnitude atau intensitas gempa dikonversikan ke percepatan dengan beberapa asumsi.

Peranan peneliti untuk mengetahui bencana gempa bumi sangat diperlukan agar calon korban gempa bumi bisa dihindari dengan berbagai cara, namun yang paling penting menurut kami adalah ‘melek’ gempa untuk kesadaran kita hidup di daerah aktif gempa. Sangat analogi dengan sabuk pengaman di mobil, jika tidak dipakai tidak akan berguna sampai suatu kecelakaan yang fatal.

Prediksi Gempa bumi
Prediksi gempa bumi meliputi parameter lokasi, waktu dan skala gempa bumi tersebut. Ketiga paremeter tersebut harus ada, sehigga penanggulangan bencana bias dilakukan dengan tepat dan proporsional. Sayangnya sampai saat ini prediksi gempa yang tepat dan teliti belum bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah, karena tanda-tandanya (precursor) tidak pasti. Gejala yang banyak diamati berdasarkan pada sifat-sifat batuan yang mengalami stress akibat tekanan yang ditimbulkan dari pergerakan lempeng tektonik. Gejala tersebut terlihat pada perubahan posisi satu titik relatif terhadap titik lainnya yang diamati dengan menggunakan Global Positioning System (GPS). Perubahan posisi tersebut bisa terlihat nyata setiap tahunnya, namun belum bisa dipakai untuk prediksi gempa. Gejala lainnya adalah perubahan muka air tanah, electro magnetis, seismisitas, kecepatan gelombang dsb. Semuanya tetap belum bisa dipakai sebagai tanda yang jelas untuk predisksi gempa bumi.

Karena prediksi gempa bumi belum sempurna, maka lebih tepat digunakan forcasting yang mencakup luasan daerah, kisaran waktu maupun kisaran skala sebagai penanggulangan bencana ataupun analisa resiko gempa bumi. Berdasarkan sejarah kekuatan sumber gempa, aktifitas gempa bumi di Indonesia bisa dibagi dalam 6 daerah aktifitas;
1. Daerah sangat aktif. Magnitude lebih dari 8 mungkin terjadi di daerah ini. Yaitu di Halmahera, pantai utara Irian.
2. Daerah aktif. Magnitude 8 mungkin terjadi dan magnitude 7 sering terjadi. Yaitu di lepas pantai barat Sumatra, pantai selatan Jawa, Nusa Tenggara, Banda.
3. Daerah lipatan dan retakan. Magnitude kurang dari 7 mungkin terjadi. Yaitu di pantai barat Sumatra, kepulauan Suna, Sulawesi tengah.
4. Daerah lipatan dengan atau tanpa retakan. Magnitude kurang dari tujuh bisa terjadi. Yaitu di Sumatra, Jawa bagian utara, Kalimatan bagian timur.
5. Daerah gempa kecil. Magnitude kurang dari 5 jarang terjadi. Yaitu di daerah pantai timur Sumatra, Kalimantan tengah.
6. Daerah stabil, tak ada catatan sejarah gempa. Yaitu daerah pantai selatan Irian, Kalimantan bagian barat.

Pembagian daerah aktif gempa bisa juga ditinjau dari data makro atau intensitas gempa yang pernah dirasakan. Peta intensitas gempa Bengkulu pada tanggal 4 Juni 2000 adalah satu kasus data makro yang langsung bisa dikaitkan dengan bangunan. Beberapa kasus gempa merusak merupakan data makro yang menghasilkan peta intensitas regional seperti yang pernah dilakukan oleh J.Murjaya dan G.Ibrahim pada tahun 1998.

Pada peta ini, daerah yang terkena dampak gempa bumi dibagi menjadi 4 daerah;
1. Daerah dengan intensitas MMI IX atau lebih.
2. Daerah dengan intensitas MMI VII-VIII.
3. Daerah dengan intensitas MMI V-VI.
4. Daerah dengan intensitas MMI < V

Pembagian ini masih bersifat regional, dengan perkataan lain bahwa untuk analisa resiko gempa pada suatu bangunan yang terletak pada suatu tempat di satu kota, memerlukan analisa mikro yang memasukkan beberapa unsur seperti lapisan tanah tempat bangunan, ketebalan lapisan, respon tanah dan bangunan terhadap getaran dsb.

Periodisitas gempa bumi
Periode ulang gempa bumi maksudnya adalah bahwa gempa bumi dengan skala tertentu (misalnya M=8) akan terulang kembali di daerah yang sama pada kurun waktu tertentu. Perhitungan periode ulang ini memerlukan data paling tidak satu periode, lebih panjang lebih baik. Namun catatan gempa bumi dengan peralatan, baru dimulai pada awal abad 20. Karena itu untuk memperanjang periode pengamatan, dibantu dengan catatan intensitas gempa yang sudah dimulai sejak awal abad masehi. Selain itu penelitian paleoseismic juga bisa membantu memperpanjang periode pengamatan.

Gempa yang sama kekuatannya dengan gempa pada 4 Juni 2000 di Bengkulu pernah terjadi dua kali pada 1833, 1914. Sehingga banyak yang setuju dengan teori peramalan (forcasting) gempa dengan metode perioda ulang berkisar 80 tahun. Disamping itu terdapat juga gempa yang ukurannya lebih kecil dengan periode ulang lebih pendek.

Perhitungan matematis periode ulang gempa bumi di Sumatra oleh peneliti BMG (Rasyidi Sulaiman dan Robert Pasaribu, 2000) menunjukkan bahwa periode ulang di Sumatra Selatan berkisar antara 8-34 tahun dengan nilai tengah 21 tahun. Gempa pada tahun 1979 di Bengkulu yang cukup besar dengan M = 5.8, MMI = VIII, sedangkan gempa berikutnya adalah Juni 2000 (1979 + 21tahun).

Peranan Badan Meteorologi dan Geofisika
BMG sebagai lembaga pemerintah yang bertugas untuk memonitor aktifitas gempa bumi di Indonesia sejak zaman kolonial Belanda. BMG mulai mengoperasikan stasiun pemantau gempa bumi permanen pada tahun 1908, yakni dengan memasang seismograph Wichert komponen horisontal di Jakarta. Sedangkan komponen vertikal sesimograph tersebut dipasang pada tahun 1928 pada tempat yang sama.

Pada pertengahan dekade 1970, dengan disponsori oleh UNESCO, BMG mulai mengembangkan jaringan pemantau gempabumi dengan mengoperasikan 28 stasiun seismograph. Tiap-tiap stasiun dilengkapi dengan seismograph 1 komponen vertikal periode pendek, dan sinyal seismik direkam pada kertas seismogram. Mulai tahun 1990 sampai dengan saat ini, pada 10 stasiun seismograph dari 28 stasiun telah ditingkatkan menjadi 3 komponen periode pendek.

Sebagai organisasi yang bertugas diantaraanya melakukan pengamatan gempabumi, BMG mempunyai 5 Balai Wilayah, yakni BMG Wilayah I di Medan, BMG Wilayah II di Ciputat, BMG Wilayah III di Denpasar, BMG Wilayah IV di Ujung Pandang dan BMG Wilayah V di Jayapura. Untuk pengolahan data gempabumi di Balai Wilayah, data gempabumi dari stasiun seismograph dikirim ke Balai Wilayah setiap 3 jam melalui SSB, telex, atau sarana telekomunikasi lain, bersama-sama dengan data meteorologi. Sekarang ini fasilitas komunikasi sudah dilengkapi dengan sarana VSAT untuk komunikasi stasiun dengan Balai wilayah dan dengan Pusat.

Saat ini BMG mengoperasikan jaringan pemantau gempabumi telemetri, yang terdiri dari 32 sensor. Sesuai dengan struktur organisasi BMG yang terdiri dari 5 Wilayah, jaringan tersebut dibagi menjadi 5 Jaringan Regional yang berpusat di Medan, Ciputat (Jakarta), Denpassar, Makassar dan Jayapura.

Info dari — sugi_im2