Entries Tagged 'Bisnis' ↓
October 30th, 2008 — Bisnis
Ada kabar gembira dari Asosiasi Ritel Indonesia (Aprindo) dan Departemen Perdagangan yaitu penukaran barang yang telah kadaluarsa.
Jadi jika tak sengaja membeli barang kadaluarsa, bisa ditukar dengan barang yang sama sebanyak 2 kali lipat.
Ceklah barang belanjaan Anda, kali aja ketemu barang kadaluarsanya
Berita lengkapnya :
30/10/2008 13:16 - Makanan
Barang Kedaluwarsa Bisa Ditukar
Liputan6.com, Jakarta: Anda yang sering berbelanja sebaiknya memeriksa terlebih dahulu apakah produk yang dibeli masih layak dikonsumsi atau tidak. Kini ada aturan jika mendapatkan produk yang sudah kedaluwarsa maka berhak mendapatkan ganti rugi dua kali lipat produk yang sama.
Peraturan ini merupakan kesepakatan baru antara Asosiasi Ritel Indonesia (Aprindo) dengan Departemen Perdagangan untuk melidungi konsumen. Sayangnya peraturan baru ini tidak membuat konsumen gembira. Peraturan ini juga tidak berlaku jika membeli produk di pasar tradisional karena pengawasan lebih sulit.
Sejak diberlakukan Rabu kemarin, sosialisasi kepada para penjaga toko langsung dilakukan. Sosiaslisasi berlangsung setidaknya di 7.000 gerai anggota Aprindo di seluruh Indonesia.(TOZ/Vivi Waluyo dan Daeng Tanto)
April 28th, 2008 — Bisnis
Kemarin pagi, saya belanja sendiri untuk sarapan pagi. Kebetulah tadi ibu tidak buat sarapan pagi.
Ingin beli bihun dan mie goreng yang paling enak di pasar dekat rumah, sudah lama banget ga beli, jadi kangen. Saya mau beli Rp. 2.500. Saya lihat takarannya, wooww …. dikit sekali. Ini mah sama aja beli Rp. 1.000,- 3 bulan yang lalu
Hari ini, iseng beli ketoprak, enak lho ;). Lokasinya sama di pasar dekat rumah.
Saya tanya dulu, seporsi harganya Rp. 4.500,-. Dia ulek-ulek cabe rawit 3 buah, 1 siung bawang putih dan sedikit garam kemudian tambah gula merah secukupnya, baru kacang yang telah digiling halus. Setelah itu air deh untuk mengentalkan.
Setelah bumbu selesai, dia ambil bihun kemudian toge selanjutnya tahu … yaaa … dikit amat. Kemudian dia ambil lontong. Lho kok lontong ? Saya pun tanya, “Pak, kok lontong ? ga ketupat ? biasanya ketupat ?”. Kata penjual ketoprak, “Pertama kali jualan, memang saya pakai ketupat. Kemudian ibu-ibu pada protes, inginnya pakai lontong, ya saya ikutin kata ibu-ibu”. Sambil bapaknya motong-motong lontong yang panjangnya kecil, saya mikir dan memandang wajah penjual ketoprak yang keliatan cuma sebelah kiri dari posisi berdiri saya, “Ini penjual ketoprak yang biasa ga ya ? Kok jadi lupa sama wajahnya ? Kayaknya wajahnya ga familiar banget ? Seingat saya, kulitnya coklat, lebih periang dan ramah dan udah bapak-bapak. Yang ini lebih bersih, putih dan lebih kecil. Nah, lho salah beli nih”. Saya berusaha keras untuk mengingat wajah tukang ketoprak. Duh, ga dapat raut wajahnya.
Saya lihat sekeliling, ada penjual pangsit. Agak jauh dari penjual pangsit ada penjual bakso. Iya, benar ga ada penjual ketoprak selain bapak ini !
Penjual ketoprak telah selesai memotong lontongnya …. wah … sedikit sekali :(. Proses selanjutnya saya sudah tidak memperhatikan aktifitasnya, saya sibuk mikir kembali, “Ini tukang ketoprak yang biasa ga sih ? Kok pake lontong ? Seingat saya dulu pake ketupat ?”
“Sudah, Neng,” katanya. “Oh, ya …. Ini uangnya Pak, 4500. Terima kasih ya Pak,” kata saya. “Iya …. terima kasih juga,” katanya.
Duh, ada beda yang lain, biasanya bapak penjual ketoprak pasti ngajakin saya ngomong. Sambil ngulek dan menyusun bahan, beliau ngomong terus, ada aja yang diomongin.
Bertanyaan soal lontong kembali jadi pertanyaan. Ga habis pikir kenapa pake lontong, ga lazim deh. Dan seingat saya, bapak penjual ketoprak selalu pakai ketupat, apakah dengan mengunakan daun kelapa atau dari plastik. Pas sampai di rumah, saya buka bungkusan ketoprak, saya aduk-aduk sama kerupuk … dikit sekali … banyakan kerupuknya ! Sampai saya selesai makan ketoprak, saya ga ngerasa lontongnya
Dan saya bilang ke ibu, “Tukang ketopraknya pake lontong ? Kenapa ga pake ketupat ya ?!!”
… salah tempat bertanya …
Ibu saya cuma geleng-geleng kepala kemudian bilang, “Enak ga ? Bagi ibu donk, dikit banget porsinya !”
Saya lihat, bolu kukus di atas meja, mungil sekali. Saya tanya ke ibu harganya Rp. 600,-. Padahal sebelum kenaikan segala kebutuhan hidup, cuma Rp. 500,- dengan ukuran jauh lebih besar.
Kata ibu, di pasar memang begitu, setiap hari harga belanjaan naik. Hari ini dan besok harganya bisa lain untuk barang yang sama. Misalnya hari ini tempe harganya 2000 rupiah, besok bisa 3000 rupiah. Udah mahal, ukurannya kecil sekali.
Jadi jangan kaget … kalau ibu minta uang belanja tambahan
… setiap hari juga pusing kepala nih mikirin harga barang segalanya naik dengan ukuran sedikit.
February 18th, 2008 — Bisnis
Dibujuk sama adik untuk taruh iklan-iklan dari Amazon di blog pribadi. Saya tak tahu info dia dari mana, tapi memang saya pernah baca disuatu blog dengan pembahasan taruh iklan Amazon.
Continue reading →
February 10th, 2008 — Bisnis, Politik, Sosial
Kalau kita dapat uang Rp. 100 juta dari pemerintah, suka kan ;)
Jika uang tersebut yang kita terima hanya Rp. 60 juta dan harus memberi laporan keuangan Rp. 100 juta, bagaimana, masih mau terima ?
Kalau saya, ogah …. Gede amat pemerintah korupsinya :P
Padahal uang Rp. 100 juta itu untuk kepentingan rakyat miskin agar menjadi melek teknologi dan ga ketinggalan zaman.
Pantes yach Indonesia ga pernah beres, wong pimpinannya sudah disumpahin sama orang miskin dan orang-orang teraniaya.
January 19th, 2008 — Bisnis, Kesehatan
Bulan puasa kemarin punya keinginan jualan es batu. Lumayan tapi …. entar dulu, biasanya saya tanya sana sini.
Pertama saya beli es batu dari pedagang yang lain untuk ukuran plastiknya. Saya cairkan, ambil plastiknya kemudian ukur sama plastik yang ada di rumah. Ada yang cocok. Sekarang soal airnya. Hmmm … orang-orang pada jualan es batu itu Rp. 500,-. Untuk seharga segitu pake acara dimasak dulu ?
Kata Bapak saya, kalau dimasak dulu, rugi. Belum harga minyak tanahnya, masaknya lama lagi, plastik sama karet atau tali rafia, listrik. Kalau pake gas apalagi. Jadi jualnya bisa Rp. 1.000,-. Duh, kalau sama Bapak saya hitung-hitungan detail banget
Tanya sepupu. Menurut beliau, biasanya yang dijualin itu ga dimasak. Jika harganya Rp. 500. Gleeeekkk …. Saya tanya ke milist masak-masak, memang rata-rata ga dimasak. Glek lagi ….
Ada yang bilang juga, kalau kuman/bakteri yang ada di air kalau suhu seperti es batu bisa mati. Hmmm … iya memangnya ? Ada yang tahu jawabannya ? Pertanyaan saya yang lain, gimana kalau si makhluk kecil itu cuma mati suri karena kebekuan, nanti setelah suhu normal dia kembali hidup ?
Hmmm … kalau ingat fosil di kutub, sepertinya mati semua yach …
Kan bukan si Aang
Saya pernah lihat orang jualan es balok, digeletakin aja di jalan, atau di jalan pasar. Ada yang pake sarung tangan tapi udah hitam and the kumel. Jorok yach … Kalau saya sih kalau beli di depot es itu dibersihkan dulu. Tapi masih ada ga yach kumannya. Masak saya harus bersihkan es batu pake sabun pembersih hama/bakteri atau saya tuangkan air panas mendidih …
Ada solusi dari teman milist masak-masak untuk es batu plastikan yang biasa dijualin dirumah-rumah dengan cara masukin aja es batu tanpa dibuka plastiknya ke tempat minuman. Kalau sudah dingin, baru dimasukkan ke gelas masing-masing. Hehehe, selama ini kita ga gitu. Kita buka plastiknya, pecahkan menjadi ukuran kecil-kecil dan masukkan ke gelas masing-masing
Kalau es balokan belum tahu solusinya apa …
So …. karena jualan es batunya ingin dimasak berarti Rp. 1.000. Tapi siapa yang mau beli segitu. Jadi kesimpulannya ga jadi jualan. Es batu yang airnya dimasak buat konsumsi keluarga saja.
Sekarang kan panas sekalieee di musim penghujan, sepertinya mau jualan es batu tapi ga dimasak
Lumayan, freezer ga begitu banyak nganggur … Ayo freezer kita kerja ….
Saya tugasnya masukin air ke plastik, ikat dan freezer tugasnya bekukan, sebeku-bekunya …. yang bagus kerjanya … sip deh 
January 17th, 2008 — Bisnis
Saya mengajukan popcorn untuk dijual ke warung sebelah rumah. Warung tersebut menyediakan jasa Playstation (PS). Saya lihat banyak anak-anak sekolah dan orang dewasa. Warung tersebut berjualan makanan kecil yang bungkusnya gede, bagus tapi isinya secuil.
Saya tawarkan ke penjual tersebut dan bersedia mau dijualin dengan sistem konsinasi. Dengan harga Rp 1.000 dengan berat 5 gram dengan rasa manis dan asin, saya rasa sudah cukup puas anak-anak untuk makan popcorn tersebut. Bahan-bahannya pun aman dikonsumsi bagi anak-anak.
Satu minggu berlalu, saya cek ke penjual tersebut. Alamak … cuma laku 1 buah. Saya tanya kenapa ga laku ? Menurut keterangan penjual tersebut, “Kata anak-anak : kemahalan”.
Saya hanya bisa bengong.
Memang makanan kecil di sana, rata-rata dijual Rp 500. Paling mahal minuman. Paling mahal itu roti. Tapi kan bungkusnya yang gede, isinya secuil dan dari bahan-bahan yang meragukan untuk kesehatan. Popcorn saya dibuat dari gula asli, gulanya banyak lagi, mentega asli, minyak bukan pake minyak babi. Lagipula dengan ukuran popcorn segitu, sudah cukup kenyang kok.
Waktu saya minta popcorn. Si penjual itu mengambilnya ditempat yang tidak semestinya yaitu didalam lemari yang tertutup.
Saya terkejut kembali.
Ok … lah kalau alasannya kemahalan, tapi kok jualan saya ditaruh ditempat tersembunyi, bukan dipajang !! Kalau ga suka sama jualan saya dari awal bilang saja ga bisa gitu dijual ditempatnya !!
Ini bukan jualan popcorn pertama saya dan bukan penjualan snack yang pertama pula. Waktu SMA saya pernah jualan popcorn ke orang Cina. Di toko tersebut jualan kelontong. Dipajang dalam seminggu laku 10 buah, lumayanlah. Dan orang Cinanya punya saran ke saya, kalau yang asin cepat lembek tapi yang manis lebih tahan lama garingnya. Jadi saya disarankan jualan yang manis saja. Memang sih yang lebih banyak laku yang manis.
Bandingkan jualan di toko kelontong sama jualan di PS yang banyak anak-anak dan orang dewasanya. Saya kan sudah survey cukup lama bagaimana prospeknya. Di PS itu bukan anak-anak saja yang main, orang-orang dewasa juga ada. Bukanya aja sampai jam 2 malam. Anak-anak sekarang uang jajannya gede-gede.
Coba yang si penjual jasa PS itu memajangkan popcorn saya, pasti lakunya banyak, jangan pake alasan anak-anak dan kemahalan …. 
January 4th, 2008 — Bisnis
Waktu masih kerja di Jakarta Pusat, lewat museum Tekstil di Tanah Abang, lihat spanduk bertuliskan “Kursus Batik”. Woouww, kursus batik di Jakarta, hmm asyik nih, ga perlu jauh-jauh ke Yogyakarta atau ke Pekalongan.
Beberapa kali lewat, cuma numpang baca “Kursus Batik“, ga berani turun dan bilang “Stop Bang, saya mau turun!!”. Ga punya keinginan untuk mencatat nomor telepon untuk tanya-tanya berapa harga kursusnya. Kalau dilihat dari luar, museum Tekstil sepertinya “enggak deh untuk mampir”, banyak sekali daun-daun kering berserakan, dan itu bangunan tua. Bangunan tua …. iiiihhh seperti di museum Bahari … nanti ada penampakan *gedubrak*. Hari gini masih takut hantu !!?? Maklum saya kan penakut.
Kalau lihat di google, gedungnya cakep yach … mudah-mudahan museumnya semakin hari semakin bersih.
Tapi benar lho, museum Tekstil tidak mempunyai magnet untuk mampir. Semakin lama, spanduknya tidak bagus lagi. Sebenarnya tidak ada masalah kalau itu bangunan tua, asalkan bersih, tidak lusuh, kotor. Kalau dari luar mempunyai daya tarik magnetik untuk mengajak orang mampir, tak usah terlihat/terkesan mewah nanti malah orang mikir, “pasti mahal”. Itu dulu, sekarang tidak tahu karena belum kesana lagi walaupun cuma numpang lewat.
Tahun berganti tahun, belajar batik terlupakan, keinginan pun tak menggebu. Kebiasaan jelek nih ..
2 bulan lalu, Pak RW ngetik pekerjaan kantornya. Sudah 4 tahun saya jadi warga RW tersebut, ga tahu persis apa pekerjaan Pak RW. Waktu itu beliau minta discan foto-foto anyaman, katanya untuk diajarkan ke suatu daerah di Indonesia. Anyaman yang ada difoto seperti saya sering lihat, misalnya dikesetan, bambu untuk dinding rumah dan sebagainya. Saya tanya, rupanya Pak RW kerjanya di Departemen perindustrian bagian urusan kerajinan.
Iseng tanya, soal batik karena saya tahu beliau orang Jawa dilihat cara berbicara beliau. Suprise banget, beliau bisa ngebatik juga. Katanya beliau bisa ngajar saya ngebatik. Katanya alat-alatnya murah. Senang banget saya, jadi tinggal tunggu waktu yang pas untuk ngajarin batik ke saya. Tapi ongkos ngajarnya belum dibicarakan, katanya beliau itu gampang. Nanti beliau mengajarkan dasar-dasar batik, cara bikin pewarnaan, pokoknya dari dasar sampai selesai batik untuk bisa dipakai.
Menurut keterangan Bapak, Pak RW lulusan seni rupa UGM. Menurut Pak RW, beliau ga bisa bikin songket karena susah.
Saking senangnya, saya bilang ke salah satu tokoh pemuda di komplek perumahan saya. Dia senang banget, katanya bisa jadi proyek yang menarik. Menurut rencana sih, belajar batik bisa menambah income bagi ibu-ibu rumah tangga. Untuk anak-anak sekolah bisa jadi modal jika besar nanti mengalami kesulitan cari kerjaan bisa buka lapangan kerja sendiri. Belajar ngebatik bisa menyalurkan hobi menggambar. Nanti saya bikin batik yang tidak pakem, buat kreasi sendiri
dan ga bisa diulang.
Untuk songket, ibu saya bisa buat songket tapi alatnya mahal, sekitar 2 jutaan, dan lebih baik dibeli langsung dari daerah pengrajin songket. Saya maunya belajar dari awal proses sampai songket selesai, mulai dari benang emas, sutra sampai aneka jenis benang yang dulu tidak terpikir akan bisa dibuat songket. Iya, segala benang yang sedang trend dipengrajin songket Silungkang. Songket ingin seperti batik yang bisa dipakai, mudah dijahit, tidak tebal, gerah, dan berat.
Dengar cerita ibu soal proses membuat songket dari awal saja sudah kebayang rumitnya, lebih rumit dari buat batik. Waktu masuk ke alatnya saja harus dihitung benangnya … Ibu nerangin pake cara matematika. Padahal saya ga suka matematika.
Walaupun susah, someday pasti saya akan belajar. Saat ini belajar batik aja, mumpung dekat rumah …
Yang benar-benar belajar adalah bordir Tasikmalaya. Waktu ngetrend bordir, saya belajarnya di pasar Tasikmalaya setiap hari Minggu. Saya tertarik karena kagum benang bisa diletakkan di kain dengan warna-warni yang menarik. Kalau ke pasar Bendhill, lewat tukang bordir, jarum sangat cepat bergerak, lebih cepat mesin jahit listrik.
Saya belajar sama Kakek (lupa namanya), beliau mengajarkan bagaimana menghasilkan bordir yang bagus, memilih benang yang bagus, membedakan mana bordir yang kasar dan halus.
Semua pengrajin bordir di pasar Jatinegara mau mengajarkan dengan biaya rata-rata Rp. 500 ribu sudah termasuk benang, alat-alat bordir, kain. Kalau ga salah ingat lama waktu belajar 3 bulan.
Waktu belajar bordir saya takut, jarumnya terlalu bergerak cepat. Rencananya mau pake pelindung mata. Tapi Kakek tersebut mengatakan tidak apa-apa, belum pernah ada kasus mata kena patahan jarum
Mula-mula agak susah sih dan mengerikan tapi lama kelamaan lancar juga. Yang digemesin sama tuh Kakek, saya kalau bordir terlalu slowly. Bulan ke 2 sang Kakek maklum tapi menginjak bulan ke 3 bilang ke saya, “Gerakan ngebordirnya terlalu lama, padahal kamu sudah mahir”
Hahahaha, terus terang yach kek, saya masih takut.
Tips untuk yang beli mesin bordir. Menurut pengalaman saya, jangan beli mesin bordir di Tanah Abang yang kearah Palmerah karena orangnya ga mau masangin. Kalau dipasangin di rumah belum tentu tukang bordir bisa masangin. Saya pernah begitu, hasilnya ga bagus dan ga bisa bordir.
Lebih baik, beli mesin di pasar Jatinegara dan tanyakan dulu apakah bisa masangin sekalian. Kalau ga ada yang masangin ga usah, lebih baik bayar mahal dari pada di rumah ga jalan. Dulu, harga mesin bordir kurang dari Rp. 2 jutaan.
Update :
Pernah diajarkan membuat motif kain yang terbuat dari ikatan batu ? Saya lupa namanya. Waktu SMP kelas 2 (1987), guru seni rupa saya (Pak I Ketut Suda) mengajarkan kami membuat motif yang berasal dari ikatan batu. Bahan kain yaitu belacu, karet gelang, dan batu ukurang sedang. Batu dibungkus kain kemudian diikat dengan tali gelang. Ikatan ini harus kuat sekali. Setelah batu diikat disana sini pada kain, terserah jaraknya, lalu direbus dengan air yang sudah ada warnanya. Warnanya dari wantek.
Hasilnya … wuiiih canggih. Setelah dinilai, hasil kerajinan tersebut oleh ibu saya dibuatkan rok celana. Ibu dan Bapak saya kesemsem ini, jadi di rumah buat lagi lagipula cara membuatnya gampang sekali. Untuk kualitas warna yang lebih bagus dan tahan lebih lama, pastikan pilih zat pewarna kain kualitas terbagus. Kalau tidak suka bahan belacu, cobalah gunakan bahan katun atau bahan yang lain.
Tak berapa lama, model seperti ini jadi trend. Kalau ga salah ingat namanya Lurik. Saya tak tahu persis apakah motif ini berasal dari Bali atau Sumbawa. Karena waktu saya ke Bali tahun 2000-an, banyak dijualin disana
December 8th, 2007 — Bisnis
Saya paling tidak setuju kalau kembalian uang Rp. 100,- atau di Indonesia dikenal Cepek (sepertinya diambil dari bahasa Cina) diganti dengan permen. Mending permennya bisa milih. Kebanyakan permen pengganti, saya ga ada yang suka. Saya paling suka permen Mentos dan Sugus rasa mint. Paling bagus kalau gantinya BengBeng atau Top. Sayangnya harganya ga Cepek
Paling bagus pengganti uang Cepek itu korek api atau bumbu masak. Sayang, supermarket itu bukan toko di pasar yang jualan bumbu masak ketengan
Cepek itu kan duit juga. Coba kalau dikumpulin, lama-lama bisa jadi Rp. 500, Rp. 1.000, Rp. 2.000 dan seterusnya.
Kalau ditempat saya, jika ada user yang menolak uang Cepek, saya paksa dengan mengatakan “Nanti, lama kelamaan uang Cepek itu jadi Rp. 1.000″. Pada umumnya mereka dibilangin seperti itu, mau juga dikembalikan uangnya. Jika mereka ga mau juga, saya kumpulin terus dikasih sama tukang ngamen dan pengemis. Ngasihnya ga Cepek, paling dikit Rp. 500 dan paling banyak Rp. 1.000. Saya diajarkan untuk tidak menggunakan uang orang yang tidak mau dikembalikan walaupun orang tersebut ikhlas. Saya harap semoga mereka yang tidak mau dikembalikan uangnya dapat rezeki banyak karena sudah nolong orang.
Ada juga yang tidak mau dikembalikan uangnya sampai Rp. 500 dengan alasan berat. Yach, sudah disimpan kemudian dikasih ke tukang ngamen sama pengemis.
Kalau untuk disimpan di tempat saya, duh … saya tidak ingat. Dicatat ? … kebanyakan tidak tahu namanya … hehehe. Kalau tanya malu achh …. nanti ada yang bilang “Masak sama langganan ga tahu namanya” hahaha. Masalahnya saya sering panggil mereka dengan kata “Dik, Mas, Mbak, Pak, Ibu”. Cuma sedikit sekali saya ingat nama pelanggan saya karena mereka sering ngetik atau print surat lamaran kerja.
Jadi, please … terimalah uang Cepek dan jangan ganti uang Cepek dengan permen.
Bagaimana dengan uang Gocap alias Rp. 50 ? Ga deh … kayaknya gimana gitu … seperti tidak bonafid.
November 2nd, 2007 — Bisnis, Komputer
Jam 3 subuh, tanggal 3 November 2007, teman saya yang punya warnet di Bandung bernama Cartoonet, kerampokan lagi.
AGAIN …
Beberapa bulan lalu Ghian - nama pemiliknya pernah dirampok juga. Kalau ga salah ingat, salah satu CPU, isinya hilang. Kejadiannya malam-malam, sekitar jam 2-an gitu.
Untuk hari ini, perampok berhasil menggondol 17 CPU, Pmset dan HP User, 10 orang disekap di kamar mandi.
Menurut keterangan Nizar Bunyamin yang punya warnet di Bandung juga, dalam 2 bulan terakhir telah terjadi 3 kali perampokan dalam jam yang sama.
Ada yang “lucu”, pernah perampok mengambil LCD 17″ di warnet Jakarta. LCD itu kan gede banget, berarti tasnya gede juga. Kok bisa ya sampai tidak ketahuan ?
Beberapa kasus perampokan warnet, memang sering terjadi antara pukul 2 - 3 pagi, dimana saat itu suasana tidak mendukung untuk orang terjaga penuh. Menurut pengalaman Bapak saya, perampokan memang paling demen ngambil jam sekitar itu.
Sebelum puasa, menjelang lebaran, pergantian ajaran baru alias naik-naikan kelas atau pergantian tahun, saya perhatikan perampokan warnet lebih banyak terjadi dan biasanya perampok akan menjarah warnet yang buka 24 jam.
Mudah-mudahan, warnet Ghian diasuransikan ya …. seperti warnet Pak Gunarno, jadi kerugian dapat diperkecil.
Kalau teman saya punya cara untuk menghindari perangkatnya (dia pernah kena juga) digondol maling dengan memasang rantai untuk LCD, menghidupkan recording IP camera, memasang electric door lock.
Kalau untuk isi CPU, sudah ada yang masang kawat tajam sekeliling CPU.
Untuk warnet lain yang belum kerampokan, keamanan perlu sekali untuk diusahakan secepatnya. Misalnya pasang CCTV (hmm, mahal ga yach ?), ada yang jaga tapi jago bela diri, ada bel dengan suara super berisik yang diletakkan strategi oleh operator warnet, kalau perlu suaranya “Angkat Tangan, Jatuhkan Senjata”. Gemboknya yang banyak. Dan penting banget nih, baca doa keselamatan setiap mau buka dan tutup warnet.
Kalau mau extreme, setiap user di foto seperti penjahat, tampak samping kanan kiri, tampak depan tanpa sepengetahuan user 
October 21st, 2007 — Bisnis, Movie, Politik, Sosial
October 16th, 2007 — Bisnis, Sosial, Traveling
Kemarin, kami sekeluarga kedatangan tamu. Sepupu dan anak-anaknya dari pihak Bapak saya alias tante dan anak-anaknya.
Iseng tanya, kapan nih Silungkang pulang kampuang basamo ? Katanya tahun 2008.
Tahun 2002 pernah pulang kampuang basamo dengan menyewa mobil Bigbird AC 54 duduk sebanyak 5 buah (?) plus kendaraan pribadi kurang lebih 200 yang sudah pulang duluan dengan ukuran dan merk beraneka ragam. Rata-rata dengan mobil keren-keren.
Berhubung kalau lewat darat itu capek, ngabisin piti (uang), melewati medan berat, dan lama. Bagaimana kita semua pada acara Pulang Basamo 2008 nyewa PESAWAT TERBANG. Isinya kita-kita aja, satu kampung. Kalau ga muat 1 pesawat terbang yahh sewa 1 lagi. Jangan lupa yang besar pesawat terbangnya …
Tapi jangan pesawat yang digunakan oleh ABRI untuk ngangkutin barang
Pesawatnya jangan yang ancur, tidak punya history jatuh …. hmm .. ada ga ya …
Pesan tiketnya saat ada promosi murah
kira-kira 5 bulan sebelum lebaran. Nanti di sisi kanan dan kiri badan pesawat, ada spanduk atau stiker gede tertulis “Pulang Basamo Silungkang 2008″ plus sepanjangan perjalanan muncul asap di ekor pesawat dengan tulisan yang sama.
Keren ga ….
Pas turun di Bandara Minangkabau, Bis Bigbird AC sudah tersedia untuk mengantarkan kami ke kampung halaman dan raun-raun (jalan-jalan) Sumatera Barat.
Keren …. 
September 25th, 2007 — Bisnis, Story
Karena global warming local, lem lantai di rumah pun mengering.
Becanda ding… kali lho
Menurut tukang yang biasa pasang lantai, banyak rumah-rumah yang lantainya itu pada copot lemnya. Kata pak tukang karena terlalu panas, jadi “lem”nya mengering, terlepaslah. Pak tukang ini juga mengerjakan lantai di rumah lain yang terlepas dari “lem”nya.
Mula-mula kaget banget, karena lantai itu naik keatas. Kalau saya pijak, lantai turun naik dan berbunyi. Duh, tanya dalam hati, timbul parnonya … tadi memang ada gempa ya … atau ini efek dari gempa
Cepat-cepat panggil Bapak. Bapak saya dengan santai, gpp kok. Maklumlah saya, belum pernah kejadian seperti ini dan cuma bisa bilang “Oh …”
Jadi sekarang lantainya dilepas untuk penyelamatan. Dan yang belum terlihat menaik dan bunyi-bunyi, diketok-ketok “Halloooo, anybody home ?” Kalau nyaring bunyinya berarti harus dilepas dan dipasang lagi dengan “lem” baru. Kalau ga cepat dilepas terus kita injak-injak dalam waktu lama, lantainya akan pecah. Lantai dengan warna senada yang ada dirumah sudah ga ada yang jual.
Sekarang, lantainya bercorak abu-abu dengan tekstur kasar dan coklat yang halus 
September 6th, 2007 — Bisnis
Di barang yang kita beli ada huruf atau dan angka yang ditulis dengan spidol. Pada umumnya adalah kode rahasia modal barang tersebut.
Kode rahasia tersebut terdiri dari 10 huruf dengan arti angka 0 s/d 9. Buatlah huruf yang membentuk angka dengan jumlah 10 huruf. Misalnya Pergi Pasar. P adalah huruf ke 1, E adalah huruf ke 2, R adalah huruf ke 3 dst sampai huruf R paling terakhir huruf 0 (nol). Bisa saja dibalik. P adalah huruf ke 0 (nol), E adalah huruf ke 1 dstnya. Suka-suka kita lah …
Jadi sabun merk “A” dijual Rp. 500,-. Modalnya Rp. 200,-. Jadi kodenya adalah ERR.
Jika ada yang menawarkan harga, sipedagang lihat modalnya berapa dan pedagang tahu sampai mana menyetujui penawaran si pembeli.
Kode ini merupakan rahasia perusahaan, tidak boleh bocor dan harus dihapal diluar kepala.
September 5th, 2007 — Bisnis, Sosial, Story
Dalam dunia dagang ada hal-hal tertentu yang harus dirahasiakan oleh publik. Saat-saat tertentu juga si pedagang akan berbincang-bincang kepada salah anggota keluarganya soal perniagaan didepan orang banyak/pembeli. Bisa jadi ini situasi yang tidak bisa dihindarkan sehingga dengan terpaksa berbicara di depan orang banyak (pembeli).
Misalnya harga pokok (modal) suatu barang, lokasi mana barang itu diambil dan sebagainya.
Paling enak orang Cina. Karena orang Indonesia masih jarang mengerti bahasa negara tirai bambu tersebut.
Kita/orang pribumi pun yang berniaga dapat saja menggunakan bahasa daerahnya. Misalnya bahasa Jawa, Minangkabau, Aceh, NTB, Papua, Maluku dan lain-lain.
Kami sering mengalami kendala dalam bahasa rahasia ini. Karena sering kali juga harus mengutarakan suatu rahasia yang tidak boleh orang tahu, dan kebetulan kami dalam posisi di tempat publik alias di toko.
Kalau kami menggunakan bahasa Indonesia, tentu semua orang tahu apa dibicarakan. Jika menggunakan bahasa Sunda, saya hanya bisa 10 %, adik saya 80%, Bapak saya bisa 40%. Maklumlah adik saya pindah SMP ke Bekasi, dia mendapat pelajaran bahasa Sunda. Sedangkan saya pindah SMA ke Bekasi sudah tidak belajar bahasa Sunda. Kalau bahasa Sunda dipergunakan, pasti saya malah sering ga nyambung dan sering tanya “Apa tuh artinya ?”. Bahasa Sunda ditempat saya (Depok) dari anak anak kecil sampai orang besar disana mengerti dan bisa mengucapkannya.
Kalau bahasa Jawa, duh kami cuma ngerti 1%, Bapak saya mengerti bahasa kasarnya sekitar 60%, bahasa halusnya 10%. Tapi pernah lho teman saya berbicara dengan teman saya yang lain menggunakan bahasa Jawa. Kebetulan ditengah-tengah antara mereka ada saya. Karena saya mengerti apa yang diomongin, langsung deh nyeletuk, “Bagaimana kondisi dia sekarang ? Sudah baikan ?”. Keduanya bengong melihat saya. Ketahuannya ni yee …. 
Bahasa Cina … apalagi … kami ga bisa sama sekali. Bapak saya bisa 20%. Bapak sering sih ngasih tahu bahasa Cina yang angka tapi kok ga masuk otak ya … 
Bahasa Silungkang (Minangkabau). Bahasa kampung halaman saya ini kebanyakan ada persamaan dengan bahasa Indonesia. Walaupun orang yang bukan Silungkang pun pasti mengerti banget kecuali kalau kami ngomongnya sambil kumur-kumur. Bahasa Minangkabau menurut saya ada dua yaitu Minangkabau laut dan Minangkabau gunung. Kalau gunung itu salah satu contohnya Silungkang, rada-rada kemelayu-melayuan, jarang ada O-nya, masih ada persamaan dengan bahasa Indonesia.
Bahasa Inggris, everybody know … Ga mungkin ga ngerti kecuali anak balita.
Jalan keluarnya, menggunakan bahasa Perancis. Saya pernah belajar selama 2 tahun menggunakan bahasa kumur-kumur itu. Saya anak IPS yang dalam seminggu belajar bahasa Perancis 5 hari, ada yang 1 kali pertemuan 2 jam, ada yang 3 jam. Walaupun ga bisa banget-banget, maklum kalau ulangan selalu kurang tanda kutipnya melulu. Tapi ada-lah. Lupa … ? Tinggal diasah lagi 
Adik saya selama 10 tahun bekerja di orang Perancis. Bos dan temannya berasal dari negara fashion itu. Adik saya jadi Sekretaris. Masak selama 10 tahun ga bisa nyuri-nyuri ilmu walaupun cuma sedikit.
Saya sering kok tanya ke dia, kalau kata bahasa Perancis yang ini diucapkan apa ? Dia bisa kok jawabnya.
Kita sih sebenarnya sering membahas soal angka, kata modal, kata tidak dan ya. Jadi hapalkan saja yang itu dulu.
Bereskan …
Tapi sampai sekarang ga dilaksanakan
… keseringan pake bahasa bisik-bisik 
September 3rd, 2007 — Bisnis, Story
Kalau di bulan Ramadhan banyak sekali penjualan dadakan yang menjual penganan khas buka puasa. Ada kolak, es kelapa, kolang kaling, semua makanan kecil khas seluruh daerah di Indonesia, asinan, korma dan lain-lain.
Yang saya herankan kenapa ada yang jualan asinan sayur, rujak, bahan yang terbuat dari ketan.
Asinan sayur itu kan mengandung cuka. Kan asam. Kasihan perut. Kalau yang lambungnya sakit, bukannya sembuh malah tambah parah. Rujak juga pedas ya …. idemlah ….
Kalau ketan itu keras ya… kasihan donk usus jika tiba-tiba menerima ketat, walaupun sudah dikunyah halus digigi.
Saya pernah tanya sama ibu-ibu yang jualan asinan dan rujak. Menurut keterangan beliau, banyak yang minta. Dia tahu kalau tidak baik buat makanan pembuka puasa.
Duh …. saya jadi ga ngerti …