Entries Tagged 'Bisnis' ↓
August 31st, 2007 — Bisnis, Kesehatan, Sosial, Story
Uang RI kenapa jarang yang cakep ya … jika sudah beredar dari tangan ke tangan. Dari bank, mulus, bagus, ga lecek, bersih tapi sudah pindah tangan ada saja yang berubah.
Parahnya uang RI yang sobek terus disambung menggunakan silotip sedemikian rupa masih bisa jadi alat pembayaran.
Bukan sobek saja, ada yang sengaja disundut dengan rokok, bekas steples, ada tulisan “I love Dian”, “Wayang orang”, “Fuck you”. So what gitu lho … !!! Rupanya kita memang hobi “meninggalkan jejak” selain di pohon, di dinding gua, di batu, tembok rumah.
Ada juga robekan dipinggir uang.
Duh, kalau ga teliti dan diterima sahlah menjadi pembayaran transaksi pembelian/penjualan.
Sudah 3 bulan saya menerima uang yang diselotip. Jadi saya harus mencek bolak balik. Kalau ada sobekan, disilotip, saya ga terima. Terus ada uang sudah “Dekil of de kumel”. Ihhh …. jijik kalau megangnya. Kalau di mikroskop udah berapa juta bakteri yang ngendon disana. Apalagi uangnya untuk nutupin mulut jika batuk atau bersin. Yeaakkk ….
Kalau uang Rp. 100.000 model plastik saya ga terima kalau sudah disteples apalagi ada bekas sobekan ditengah.
Kita punya kebiasan meremek (apa ya istilahnya) atau membuat kusut, dibuntel-buntelin, dilipat-lipat. Duh …
Belum lagi kita harus hati-hati, jika ada uang besar, apakah uangnya palsu atau tidak ?
Coba pemerintah kita punya Undang-Undang yang mengatur uang yang dipergunakan sebagai transaksi jual beli harus rapi, bersih, tidak boleh dilipat, dilecekin, diremek-remek, sobek, dibolongin, dicoret-coret, dll deh.
Kalau ketahuan dengan sengaja memperlakukan uang RI dengan tidak hormat dipenjara 20 tahun.
August 29th, 2007 — Bisnis, Sosial, Story
Tarif tol naik lagi ya .. gile bangeeettt. Jauh dekat sama saja. Udah kayak tarif Metromini sama Kopaja.
Jadi ingat tinggal di Bekasi.
Kalau mau ke Bekasi selain lewat Kali Malang yang super macet jika jam sibuk bisa melalui jalan tol. Sami aja sih, but ga gitu-gitu banget macetnya. Lumayanlah.
Ciri-ciri macet jalan tol Dalam Kota, Cawang - Bekasi Timur itu khas banget, ga tahu deh kalau yang lain. Kadang-kadang macetnya ga jelas gitu. Pas nyampe pembayaran ga ada apa-apa, mungkin macetnya karena ngantri bayar kali ya .. Tapi itulah mengesalkan … macetnya sampai Cawang booooo
Bahkan sampai Komdak.
Kalau pagi hari, macet itu bisa dari Tol Barat karena bayar tol di Jatibening terus sampai keluar pintu Komdak.
Sebab lain macet di tol karena dilain arah ada kecelakaan. Arah yang berlawanan tidak ada kecelakaannya tapi macet. Mobil-mobil yang melewati kecelakaan tersebut memperlambat kecepatannya … mau ngapain ? NONTON SEKILAS PANDANGAN 
Tapi lumayanlah masih bisa jalan walaupun kayak keong kecepit pintu 
Tol macet super parah, jika ada kecelakaan super hebat yang memakan dua arah jalan atau kecelakaan itu baru saja terjadi.
Dijamin bisa ga jalan benaran selama 3 jam lebih.
Saya pernah tuh, pulang jam 5 sore sampai di rumah jam 9 malam, sudah termasuk nungguin bis datang. Rupanya ada kecelakaan berat. Mobil ke arah Cawang, terbang ke jalan berlawanan yaitu arah Bekasi. Kecelakaan yang hebat. Atau truk selip ban, tumpah semua isinya, melintang ditengah-tengah. Ya .. nasib nungguin mobil derek yang juga kejebak macet.
Tidak selamanya tol itu macet. Kalau jam sepi, jarak tempuh dari Komdak sampai Tol Timur bisa 25 menit. Persis seperti iklan perumahan yang banyak bertebaran di sana. Pernah juga saya di jalan tol cuma 15 menit. Bayangkan. Gile .bener !! Supirnya ngesot habis … pas keluar jalan tol Timur, 90 % penumpang pada turun semua termasuk saya. Kata mereka, cari penyelamatan diri.
Setiap kenaikkan tarif tol dan BBM, ongkos bis juga naik. Terakhir itu Rp. 3.500,- untuk Patas Biasa. AC itu Rp. 4.000,- sudah termasuk ongkos tol.
Menurut informasi mantan tetangga, ongkos bis sudah Rp. 5.000,- sudah termasuk bayar tol. Kalau sekarang ga tahu, apakah ongkos bis bisa turun ? Karena jarak Bekasi ke Komdak itu sangat jauh dan hanya bayar 1 kali saja. Kalau dulu harus bayar 2 kali.
Hmm … seperti biasanya sih kalau harga sudah naik susah turunnya lagi
Kita mah pasrah saja, karena dia monopoli. Ada sih PPD AC tapi jumlahnya sedikit dan lama datangnya serta lelet jalannya.
Dibandingkan dengan ongkos ke Bekasi lewat tol, PP cuma Rp. 10.000,- sudah sampai Blok M. Tinggal ditempat sekarang lebih mahal ongkosnya. PP bisa menghabiskan ongkos Rp. 50.000,-.
August 25th, 2007 — Bisnis, Sosial
Kami kena imbas sulitnya mendapatkan minyak tanah. Pake acara bolak balik ke pangkalan minyak tanah. Cari sana sini untuk harga normal. Cari-cari info pangkalan mana yang sudah ada minyak tanahnya plus tanpa antri. Yang paling repot ibu. Setiap hari dengerin berita minyak tanah.
Wow, kami masih pakai minyak tanah ? Yohaa …. tetep. Minyak tanah yang sudah menemani dari saya lahir, mulai dari ibu dan bapak saya menikah. Yang bikin saya sebel kalau masak .. duh lama banget matengnya padahal ada acara.
Kalau masaknya cuma sayur-sayuran atau tumis-tumisan sih ga masalah tapi kalau masakan minang, duh … bener-benar, lama banget matangnya.
Kami baru meninggalkan kompor gas 8 tahun yang lalu. Mula-mula adik tengah saya. Di kantornya hanya ada kompor gas. Diajarin sama office girl disana. Kadang-kadang adik suka membawa masakan yang perlu dipanaskan.
Dengan bangga, adik bilang “Saya sudah bisa menghidupkan kompor gas donk”
Kalau saya butuh sekitar 2 tahun untuk berani menghidupkan kompor gas, mulai hitungan adik saya memproklamirkan bisa menyalakan kompor gas. Belajarnya di rumah tante. Kalau di rumah tante hidupkan korek api baru putar kompor gasnya, dekatkan korek api, nyala deh. Terima kasih ya sudah mengajarkan dengan sabar
Waktu berpikir cukup lama disebabkan takut kompornya meledak. Sama ya dengan alasan orang-orang sekarang yang dapat jatah kompor gas.
Udah bisa nih, wah enak ya cepat matangnya. Terus manas-manasin ibu untuk beli kompor gas. Kata kita, “Gampang kok menghidupkannya”, “Kalau bocor nanti ada bau ga sedap deh”, “tinggal muter doang, apinya nyala deh”, “bersihinnya gampang” atau “Ga meledak kok”.
Karena sering dipaksa akhirnya ibu beli juga kompor gas dengan persyaratan kalau masak air, masak rendang, panggang-panggangan atau masak yang butuh waktu lama pake kompor minyak tanah.
Waktu berjalan, akhirnya kompor minyak tanah buat masak air dan rendang yang dibuat dalam 1 tahun cuma 1 kali.
Soal kasus kompor gas ini, Pak RT dari desa tetangga sebelah mengeluh bahwa banyak warganya keberatan membeli kompor gas seharga Rp. 13.000,-. Menurut beliau, uang segitu sudah bisa beli macam-macam. Misalnya beli beras, ikan asin, sayur-sayuran, minyak goreng dll.
Kalau uang segitu cuma untuk beli kompor gas, duh … Beliau menarik napas panjang. Sekarang, mungkin gratis ga tahu kalau bulan depannya, bulan depannya lagi. Beliau juga ga percaya kalau kami masih pake minyak tanah.
Saya jadi mikir, selain hemat waktu untuk memasak, lebih bersih, apakah kompor gas lebih hemat uang ?
Menurut hitung-hitungan Bapak saya, kita cuma mengisi tabung gas 2 bulan sekali.
August 12th, 2007 — Bisnis
Dari kecil saya dilarang keras untuk mengatakan “Di sana Murah !!!” kepada pedagang oleh orang tua.
Begitu terus sampai sekarang jika saya ingin belanja ke pusat perbelanjaan.
Kata orang tua saya, kata-kata itu sangat menyakitkan, pernyataan tolol dan tidak punya otak, apalagi dengan intonasi tinggi.
Pedagang bisa saja menimpali “Kalau disana murah kenapa ga beli disana aja …!!”
Toko satu dengan toko yang lain belum tentu sama dalam memberikan harga. Bisa jadi modal barang tidak sama dengan toko yang lain, distributornya tidak sama, pedagang mengambil untung yang sedikit sekali dibandingkan dengan yang lain, toko berada di lokasi mahal atau murah, belum survey alias belum kompakan sama toko yang lain, atau barang tersebut berasal bukan dari tangan pertama.
Pada umumnya, pedagang yang menerima perkataan tersebut akan diam saja melanjutkan pekerjaannya yang lain, bisa jadi dia mengomel dalam hati, atau dengan pura-pura baik “Oh, ya …”.
Jika pembeli masih terus dengan kata-kata “membandingkan”, kata-kata kurang ajar, barulah pedagang melakukan kata-kata atau bahasa tubuh yang tidak menyenangkan.
Jadi kalau kita tahu barang dari Toko A lebih mahal dari pada Toko C, jangan memaksakan diri membeli di Toko A sambil mengeluarkan kalimat tersebut. Janganlah berbisik tapi terdengar oleh si pedagang.
Kalau tidak suka, carilah ke tempat lain.
May 24th, 2007 — Bisnis, Komputer, Story
Apa sih yang tidak bisa diperbuat oleh PhotoShop atau Gimp untuk memanupulasi foto atau data ? Mungkin itu kata yang tepat untuk dua software ini.
Dulu, masih menggunakan PhotoShop (sst, masih bajakan) saya bisa manupulasi foto atau data hasil scan untuk urusan tidak melanggar hukum dan kepentingan pribadi. Contohnya menghilangkan jerawat diwajah, menerangkan wajah, mengganti background.
Begitu juga dengan Gimp, Anda bisa melakukan apa saja dengan foto diri sendiri.
Kebanyakan orang yang mempunyai kepentingan terburu-buru atau mendesak sehingga memaksa seseorang untuk merubah dokumen negara. Katanya kalau langsung ke kantor pemerintahan sesuai urusan mereka memakan waktu lama, jadi mereka ingin cara cepat, murah dan praktis. Mereka butuh “right now”.
Contoh kasus menambah/mengurangi data di Kartu Keluarga, KTP, mengganti nama di sertifikat sekolah milik orang lain.
Seringkali saya terjebak setelah mengatakan “Saya tidak bisa” dan mereka tahunya saya bisa. Mereka terus mendesak. Dengan cepat harus berpikir untuk sanggahan dan ketemulah “Maaf, software sudah dihapus”.
Setelah berganti dengan Fedora, PhotoShop diganti dengan Gimp, untungnya saya belum begitu mahir dengan software ini. Cuma bisa memotong foto.
Sebenarnya cara kerjanya tidak jauh beda dengan PhotoShop.
May 14th, 2007 — Bisnis, Komputer, OpenOffice
Kita maunya Linux itu user friendly, tapi Microsoft sudah menuding Open Source langgar hak patennya dia.
Saya sering kali kasih jawaban sama orang-orang yang bertanya, kenapa Linux tidak user friendly, salah satu jawabannya “Kalau user friendly nanti Microsoft menuduh/memperkarakan Linux karena menyontek” :p
Seru juga baca di detikinet hari Senin, 14 Mei 2007 dan perhatikan komentar-komentar disana.
Nah, sebenarnya siapa yang terbesar dibajak, Mie Kocok atau Linux ?
Pokoknya weeek …
:P
May 12th, 2007 — Bisnis, Komputer, OpenOffice, Sosial, Story
Sebenarnya judul diatas lebih tepat “Kambing hitam itu bernama OpenOffice”
Tapi karena orang sering mengganggap apapun yang ga pernah mereka lihat di Windows, berarti Linux walaupun mereka sedang mengerjakan di Writer, Calc, Gimp, dan sebagainya.
Sama, kalau mereka sedang mengerjakan di Word, atau Excel atau PowerPoint, menyebutkan sedang mengerjakan di Windows.
Seringkali, jika mereka tidak bisa menggunakan Calc, Writer akan keluar kalimat “pakai Linux sih”
Apa yang salah ?!!
Saya lihat mereka hanya mengetik surat lamaran yang hanya perlu icon bold, italic dan sebagainya.
Mengerjakan tabel, toh tampilan Calc hampir sama kok sama Excel.
Kalau ga bisa kemudian menyalahkan Linux.
Apakah penyalahan tersebut karena menutupi ketidakmampuan atau ketidakbisaan kemudian mencari “kambing hitam”.
Kalau mereka bisa mengerjakan sesuai dengan aturan, tata cara di Microsoft Office, ke OpenOffice tidak akan mengalami kesulitan berarti.
Mereka atau kita sebenarnya cepat panik karena melihat sesuatu yang berbeda. Cobalah nyantai sedikit. Kemudian tidak mau bertanya, merasa lebih pintar - “gw udah jago”, sombong dan lain sebagainya.
Ya udah … salah sendiri …
Terus saja mencari kambing hitam dan kita ga bakalan maju-maju.
Memangnya mereka itu pada bayar lisensi Microsoft ?!!!
Dijamin ENGGAK …
Ngebajak aja SOMBONG …. !!!!
May 9th, 2007 — Artikel, Bisnis, Musik, Sosial, Story
User saya dua orang sekarang jadi penyiar radio Pamulang. Mereka berdua ingin saya mendengar radio Pamulang sekaligus diperdengarkan oleh user-user yang lain. Kata mereka lagu-lagunya bagus. Promosi gratis ya … tapi it’s ok
Selama ini saya mendengar radio Female. Sudah 3 tahun manteng disitu terus. User-user saya semuanya suka lagu-lagu yang disetel dan sering tanya radio apa.
Request dari dua user saya untuk sementara ini belum dapat terpenuhi karena suka lupa merubah channelnya. Selain lupa, ga kepikiran untuk merubah saat menyetelnya karena sibuk.
Request yang lain, keyboardnya bisa mengetik bahasa Cina. Wah, kalau yang ini sudah dicoba, tapi sayang di fasilitas keyboard Fedora, ga tahu kenapa ga bisa. Kalau bisa, repot juga ‘kan saya harus mencoret keyboard dengan bahasa Cina. Seperti saya memberi huruf Arab di keyboard. Saya juga lupa menanyakan apakah Cina daratan atau Cina Hongkong. Takutnya nanti lain-lain lagi
Dan masih banyak lagi requestnya …
April 4th, 2007 — Bisnis, Politik, Sosial
Dear Friend,
Daripada serius terus jadi pusing, mending baca ini dulu
Regards,
Stefanus
HUMOR ANGGOTA DPR DAN LAPTOP
Anggota DPR: “Mba, laptopnya salah.”
Customer Service: “Salah gimana pak?”
Anggota DPR: “Laptopnya nggak mau hidup.”
CS: “Sudah tekan tombol power pak?”
Anggota DPR: “Tombol powernya sebelah mana mba?”
****
Anggota DPR: “Mba, saya mau konek ke internet nggak bisa, kenapa ya?”
Customer service: “Nggak bisanya kenapa?”
Anggota DPR: “Saya ketik www.playboy. com, gambarnya nggak keluar.”
Customer service: “Pesan errornya apa pak?”
Anggota DPR: “Nggak ada pesan error, pokoknya saya ketik playboy.com diaddressnya, nggak muncul gambar sama sekali.”
Customer service: “Bapak koneksi internetnya pakai apa, dial up, hotspot?”
Anggota DPR: “Pakai gambar yang ada tulisan e (maksudnya internet explorer).”
Customer service: “Maksudku, bapak langganan internetnya pakai ISP apa, lalu cara koneksi internetnya pakai dial-up atau hotspot, mungkin settingnya ada yang salah.”
Anggota DPR: “ISP itu apa sih mba?”
Customer service: “Wah ini sih 50 x 2 pak..”
Anggota DPR: “Apa tuh mba?”
Customer service: “CAPE’ DEH!!”
******
Anggota DPR: “Mba’ saya ingin daftar account di yahoo.com kok nggak bisa ya?”
Customer service: “Nggak bisa kenapa pak?”
Anggota DPR: “Ada tulisan, paswort is nat long inof, suld bi mor ten 8 karakter”
Customer service: “Itu maksudnya, password bapak minimal 8 huruf.”
Anggota DPR: “Oooo…oke deh.., saya coba dulu.”
Anggota DPR: “Mba password minimal delapan huruf itu delapannya pakai angka 8 atau ejaan delapan?”
Customer service: “Maksudnya?”
Anggota DPR: “Saya suda tulis di kolom password minimal 8 huruf, tapi bingung mau tulis delapannya, pakai angka delapan atau ejaan huruf ‘delapan’.”
Customer service: “Ketik ini aja pak..C Spasi D.”
Anggota DPR: “Apa tuh?”
Customer service: “CAPE’ DEH !!!”
****
Anggota DPR: “Mba’ kalau muter film di laptop, gimana caranya ya?
CS: “Ada dvd playernya kan pak?”
Anggota DPR: “Sebelah mana tuh mba?”
CS: “Disamping kanan, pak. kalau di tekan tombolnya nanti, piringan discnya keluar.”
Anggota DPR: “Ooooo…. yang keluar itu, piringan disc ya? Udah patah tuh kemarin.”
CS: “Kok bisa patah?”
Anggota DPR: “Saya kira tempat buat naruh gelas minuman.”
******
Anggota DPR: “Komputer saya rasanya kena virus”
CS: “Virus apa tuh pak?”
Anggota DPR: “Kurang tahu juga, setiap mau cetak ke printer, selalu ada tulisan kennot fain printer.”
CS: “Itu mungkin salah setting pak.”
Anggota DPR: “Settingnya udah bener kok, kemarin aja bisa nyetak, tapi sekarang nggak bisa. Saya sudah tunjukkin printernya di depan laptop, tetap aja dia terus-terusan “searchng printer not found.” Kayanya webcamnya rusak, nggak bisa lihat printer.”
CS: “Mendadak laper nih Pak, ingin makan tape..”
Anggota DPR: “Lho..kok begitu?”
CS: “TAPE DEH !!!!”
********
Anggota DPR: “Mba, kalau mau baca blognya si artist anu dimana ya?”
CS: “Bapak cari aja di google.”
Anggota DPR: “Tapi si artist anu nggak kerja di google kok mba, saya tahu persis.”
Capeeek deeehhh….. ……… …. !!!!
From me : =))
From : Stefanus, DataScript
Pak Stefanus dari temannya..
March 21st, 2007 — Artikel, Bisnis, Komputer, Story
Komponen printer Canon paling panjang umurnya 2 tahun atau tepatnya pelan-pelan setelah keluar printer seri terbaru, spare part produk lama perlahan menghilang. Makin ke sana jangan harap bisa menemukan sparepart baru. Kalaupun ada pasti mencarinya sangat susah, biaya servicenya bisa sama dengan harga printer baru Canon. Jika rusak setelah 2 tahun, pasti kita disuruh beli baru.
Kalau dipasar gelap .. hmm … males deh… ya itu nanti … jangan-jangan bisa lebih dalam meronggoh saku.
Saya punya 2 printer Canon i255, printer pertama dibeli 3 tahun yang lalu. Setelah 1 tahun dia bekerja keras, headnya rusak. Menurut dugaan saya, headnya rusak karena sering kali kertas nyangkut. Tapi saya malas bertanya kenapa headnya bisa rusak ke pihak Canonnya. Harga headnya sekitar Rp. 300 ribu. Setelah dipikir masak-masak, kita beli baru, nanti kalau ada uangnya beli headnya. Harga Canon i255 yang kedua yaitu Rp. 495 ribu sudah termasuk pajak.
Selama 1 tahun menggunakan Canon i255 yang pertama, kita memakai tinta asli. Mahal ya… Setiap 6 bulan sekali atau sudah penuh penampung tinta, kita service.
Setelah printer pertama dimasukkan ke kardusnya, kita menggunakan printer kedua. Printer kedua ini menggunakan tinta non original dengan merk Inktec. Lumayan murah dan gampang naruhnya. 8 bulan menggunakan Inktec, kita tertarik menggunakan tinta suntik. Masalah timbul lagi, headnya rusak. Lagi-lagi bukan karena pake tinta non ori tapi karena kertasnya nyangkut lagi.
Terpaksa kita ganti head untuk printer ke 2 dan sekaligus untuk printer yang pertama.
Mengganti printer dengan nomor seri terbaru atau merk lain agak sulit jika kita pengguna Linux. Seharusnya, rusaknya head, kita lebih baik membeli printer seri terbaru. Saat itu mencari driver printer merk Canon nomor seri terbaru untuk Fedora/Linux sangat susah. Tidak ada pilihan, dari pada pusing, ngubek-ngubek, teriak-teriak di milist atau ngirim surat ke Canon pusat dan jawabannya “sampai sekarang Canon seri “anu” tidak support di Linux”
Setelah si 2 printer ini bekerja keras kembali akhirnya rusaknya tambah parah perbaiki ke tempat lain sama juga no good … ke tempat service yang lain lagi … sama juga … baiknya cuma sebentar
Dari pada habis uang dan waktu … dengan sangat terpaksa beli baru dan sibuk “teriak-teriak” and then “ngubek-ngubek” di internet … tanya “Canon seri “anu” ….. support ke Linux ga ???!!”
Uggghhhh …. menyebalkan …..
Seandainya, printer Canon bisa ada sparepart seumur hidup seperti TV Sharp … printer seri terbaru ga laku kali ya…
Kalau merk lain begitu juga ga ya ??? *mode mikir”
Dipikir-pikir … pintar juga cara dagangnya ….
March 2nd, 2007 — Artikel, Bisnis, Story
Ada tambahan julukan ke saya yang diberikan oleh teman-teman setelah 1 tahun krisis ekonomi melanda Indonesia. Julukan itu adalah saya “Cinanya Indonesia”.
Mula-mula saya sewot karena sudah “kenyang” dari kecil dikatain “Padang pelit” atau “Padang bengkok” sekarang “Cinanya Indonesia”. Walah…. apalagi ini. Dulu saya menganggap yang ngatain saya adalah orang kejam karena memfitnah tanpa alasan yang jelas. Karena saya TIDAK BEGITU. Jangan sama ratakan donk. Masak-masak apa-apa “Auliah, Padang pelit!”, “Auliah, Padang bengkok”. Sekali lagi FITNAH yang sangat keji.
Saat itu saya langsung protes keras karena tidak ada keturunan Cina dan saya BUKAN CINA.
Setelah saya tenang, mereka memberi penjelasan. Tapi dipikir lagi sih, dilihat dari warna baju adat, warna pelaminan, musik dan beberapa wajah dari saudara-saudara saya ada nuansa negeri tirai bambu tersebut. Kalau wajah saya sendiri lebih (katanya) ke wajah orang Timur Tengah atau orang Aceh.
Kembali ke teman-teman saya ….
Menurut mereka (saat itu), pribumi yang menguasai ekonomi Indonesia dan mudah-mudahan bisa mengalahkan Cina yaitu orang Padang - untuk seterusnya saya akan mengatakan “orang Padang” itu “orang Minang”
Masak sih …. ??
Buktinya … kata mereka. Dimana-mana yang berdagang itu orang Minang dan mereka menyatakan kebanggaan mereka. And then, saya diminta untuk mengajarkan cara berdagang.
*gdubrak
Walaupun saya bilang tidak bisa berdagang tetap menurut mereka … pasti punya bakat dan tidak mungkin orang tua saya tidak mengajarkan cara berdagang.
*Mikir lagi ….. ingat-ingat ….
Diakui, memang dari kecil saya dan adik-adik sudah dikenalkan dengan toko karena kita harus siap menggantikan bapak untuk makan siang, misalnya atau menyerahkan kunci toko dipagi hari, sekaligus bantuin bukanya walaupun bantuannya ringan saja sesuai fisik anak 8 - 15 tahun.
Mencatat uang masuk, belajar membungkus barang, memperhatikan barang-barang jualan, memperhatikan orang-orang dan lain-lain, itupun dikasih tahu caranya oleh bapak. Kalau liburan sekolah, kita beredar di pasar, jaga toko … yah sementara jadi “preman pasar” atau kita disuruh kursus. Tapi setelah pulang dari kursus, yahhh kita jadi “preman pasar” lagi :p
Buktinya, kita terkenal nih…. sampai saya pernah ditanya sama tukang pangsit, “Adiknya yang berdua kemana ?” Itu jika saya tidak membawa kedua adik saya ke pasar. Kalau kita bertiga di pasar dijamin digodain …
Dari balita, saya diajak oleh bapak kemana saja. Mulai membeli barang dagangan sampai cuma lihat-lihat doank. Nah soal lihat-lihat donk atau jalan-jalan tujuannya untuk melihat peluang usaha baru atau cari grosiran yang lebih murah dari toko langganan yang lama … nah yang ini baru saya mengerti setelah besar.
Jika seorang anak kecil atau anak remaja yang saya jumpai berjualan, apapun jenis jualannya akan saya tanyakan “asalnya dari mana?”. Bila dijawab “dari Padang”. Saya hanya menjawab “Oooo …. pantes”. Tapi kalau dijawabnya suku yang lain di luar orang Minangkabau, saya angkat jempol.
Dan masih banyak lagi. Bapak saya langsung memberikan praktek. Kalau diceritain berbentuk tulisan jadi panjang nih …..
Cara hidup orang Minang dengan orang Cina beda jauh banget. Akhirnya saya tahu bedanya.
Beberapa minggu yang lalu, diacara MoneyTalk MetroTV membahas buku tentang cara “Kaya Ala Tionghoa”.
Menurut saya, ada yang tidak dipunyai orang Minang tapi ada di orang Cina. Adapula yang dipunyai orang Cina dan orang Minang. Nah, simpulin sendiri ya .. mana bedanya, mana samanya.
Orang Cina itu hemat, sebelum kaya mereka makan bubur. Orang Minang tidak bisa melakukan hal tersebut. Miskin aja makan daging. Daging sapi/kerbau dalam kehidupan orang Minang adalah makanan segala-galanya, untuk menambah gengsi dan kelasnya.
Tapi pada masa sekarang, setelah banyak sekali orang Minang terkena penyakit “orang kaya” yang bisa menghabiskan uang penghasilan ”seumur hidupnya”, akhirnya mereka mau makanan yang sehat.
Orang Cina itu untuk urusan kesehatan, vitamin dan susu lebih penting. Biarkan saja rumahnya amburadul, jelek, bobrok yang penting urusahan kesehatan nomor 1.
Orang Cina itu pekerja keras. Mereka selalu memikirkan bisnis, urusan gosip, urusan orang lain berpoligami dan lain-lain ga ada dikamus mereka. Yang penting dagang. Istilahnya “emangnya gw pikirin”
Sewaktu Presiden SBY ke Bukittinggi, mengatakan “Enak ke padang, tidak ada yang demo”
Lah .. iyalah … ngapain bikin acara demo … kita lagi sibuk cari makan. Kan lebih enak cari duit dari pada demo yang ga ada “piti”nya.
Seingat aul ya.. waktu krisis ekonomi melanda Indonesia, orang Minang itu tidak ada yang protes atau teriak-teriak … adem ayemmm. Kalau bahasa sombongnya “Ga ngeffect krisis ekonominya sama kita”
Jika orang Cina menikah, si istri adalah segala-galanya. Ia harus bisa menjadi manajer keuangan yang baik. Soal urusan uang, rumah tangga, sang istrinya yang mengatur. Kas di toko yang ngurusin sang istri. Si suami mencari peluang-peluang baru di luar toko. Jadi hemat uang, tidak usaha sewa orang lain.
Kemudian lakukan konsilidasi ke dalam. Artinya semuanya pegawai dari top sampai ke bottom gunakan keluarga sekandung. Jadi kalau ada rahasia dijamin ga bocor kali ya.. dan lebih penting lagi hemat uang karena tidak menyewa mahal orang. Jangan heran kalau anak-anak mereka yang masih kecil-kecil sudah diajarkan berdagang bantuin orang tuanya.
Bapak saya melarang ibu ke pasar. Tugasnya ngurusin anak, makan dan rumah. Kalau ikutan juga ke pasar, nanti kebutuhan rohani, jasmani, kecerdasan anak dll tidak tertangani dengan baik. Hmmm … ada benarnya juga.
Ibu saya itu hemat walaupun kita makanannya setiap hari khas Minang tapi ditambah jatah setiap 1 orang 1 mangkuk bakso sayuran hijau, ga boleh nolak. Setiap hari harus minum susu dan vitamin, harus tidur siang, belajarnya harus on time. Walaupun makanannya seperti itu, ibu saya selalu punya uang saat keadaan sangat kritis. Sampai sekarang, bapak saya tidak percaya kalau ibu tidak punya uang. Kedua orang tua saya mempunyai peraturan harus nyuci dan setrika baju sendiri. Ada jadwal ngepel, nyuci piring dan masak setiap hari. Tidak boleh nolak.
Mudah-mudahan di masa depan bukan orang Minang dan Cina saja ada dimana-mana menguasai perekonomian Indonesia.
Sepertinya segitu dulu ….
February 26th, 2007 — Bisnis, Komputer
Diambil dari postingan Irwin Day di milist asosiasi-warnet@yahoogroups.com
Rekan rekan Yth,
Munas I AWARI yang berlangsung pada tanggal 24-25 Februari 2007 kemarin berlangsung dengan lancar dan dalam suasana yang sangat bersahabat. Secara garis besar, agenda-agenda utama dapat dicapai berkat dukungan penuh Panitia, Presidium dan Peserta Munas.
Agenda lainnya yang unik adalah: diskusi umum yang merupakan arena “curhat” para warnet. di dalam diskusi ini banyak didapatkan masukan yang sangat berharga bagi AWARI. Selain itu pula, warnet-warnet saling bertukar informasi yang diharapkan akan memberik manfaat kepada
warnet yang hadir lainnya.
Jumlah peserta sendiri diluar ekpektasi Panitia, mengingat panitia memperkirakan total peserta (maksimal) di angka 50, ternyata yang hadir mencapai 60 peserta dan kenyataan ini sangat positif nilainya bagi panitia pelaksana.
Adapun hasil hasil yang dirangkum dari Munas I AWARI antara lain:
- Laporan pertanggung jawaban presidium dan kilas balik sejarah AWARI
- Penetapan status AWARI sebagai badan hukum
- Pengesahan Anggaran Dasar
- Program Kerja
- Kode Etik
Adapun susunan Dewan Pengurus Masa bakti 2007 - 2010 adalah sebagai berikut:
Badan Pengurus Nasional:
Ketua Umum : Irwin Day
Ketua Bidang Teknis : Gunarno
Ketua Bidang Organisasi : Yamin El Rust
Ketua Bidang Pendanaan : 1. Erwan Setiadi, 2. Bill Fridini, 3. Aditantra
Ketua Bidang Kerjasama : Nizar G Bunyamin
Badan Pengawas:
Ketua : Judith MS
Anggota : Muhammad Salahuddien
Anggota : Michael S. Sunggiardi
Mewakili Panitia Pelaksana, saya (Irwin Day) juga meminta maaf jika dalam pelaksanaan Munas I Asosiasi Warnet Indonesia 2007 terdapat kekurangan disana sini. Kami (Panitia Pelaksana Munas Awari) berharap dapat memberikan yang lebih baik pada event-event AWARI yang akan datang.
–
Salam AWARI,
source :
http://irwinday.wordpress.com/
http://awari.or.id/