Entries Tagged 'Kesehatan' ↓
July 2nd, 2008 — Kesehatan
Kenapa di Indonesia tidak ada pelarangan orang untuk batuk
sembarangan, dilarang buang ludah/dahak sembarang tempat atau ada peraturan jika pilek dan batuk tidak boleh menampilkan diri didepan publik/tidak boleh masuk kerja.
Yang saya tahu di Sumatera Barat, kalau ketahuan meludah sembarang, disuruh jilat ludah itu.
Atau juga “curigai orang kurus”
Untuk batuk, pilek, kita pasti tahu kalau di kita seperti penyakit massal. 1 orang pilek/batuk nanti ga lama seisi kota terkena dampaknya. Jadi terkenalmusim batuk/pilek.
Gimana kalau orang yang batuk itu pengidap penyakit TBC. Ada yang batuk, mulutnya ditutup pake tangan, terus megang ke benda lain yang dipegang oleh orang juga. MIsalnya kursi dibis, besi dibis. Parahnya jika batuk ga ditutup, pasti virusnya terbang kan kemudian dengan tidak sengaja terhisap. Masih untung kalau si hidup penghisap tersebut dalam keadaan fit. Bagaimana
kalau tidak ?
Ada orang yang meludah dahak, ludah, buang ingus di lantai halte. Saya pernah, rok saya disebelah belakang ada cairan kental. Entah datangnya dari mana. Duh, jadi mau muntah ….
Jika dahak, ludah, ingus itu kalau kering bagaimana ? Apakah virusnya didalam dahak, ludah, ingus terbang tertiup angin bila encer atau kering ?
Ada tetangga saya, dia perokok berat, batuknya juga sangat berat. Kata dokternya, paru-parunya sudah parah. Yang saya sebelkan beliau kalau batuk ga pernah ditutup, terus suka menghadap saya jika batuk. Saya sudah bilang “Pak, kalau batuk ditutup donk mulutnya terus jangan menghadap saya”.
Kemudian, memang tidak selamanya orang kurus itu mengidap penyakit. Mungkin dari keturunannya seperti itu. Tapi bisa ga ya … kita mengetes rame-rame baik orang gemuk dan orang kurus …
Kalau ngetes apakah paru-paru kita terkena TBC apakah cukup rontgen saja ?
June 15th, 2008 — Kesehatan
Minggu, tanggal 15 Juni 2008, kurang lebih pukul 9.30 pagi, 2 gigi di rahang bawah yang posisinya tidak bagus dicabut.
Kata dokter ortho, saya ditangani sama dokter gigi spesialis bedah mulut. Dokter giginya baik banget, lucu, senang ngobrol, sabar, ceria.
Padahal saya stress selama seminggu karena takut dicabut giginya, pikirannya udah macam-macam. Takut inilah, takut itulah, tapi pas kejadian ga ada apa-apanya.
Dokternya juga kalau nyuntik ga terasa. Alat suntiknya kayak bulpen, kalau mau masukin obat biusnya juga bunyi seperti suara bulpen, tik …. tik …. tik …
Giginya atasnya (duh, tadi namanya apa ya ? ….. mahkota ya ? CMIIW) seperti dibor gitu. Maaf saya dengarnya seperti suara bor, bau hangus, suaranya sangat berisik. Saya ga berani buka karena takut kemudian nanti ada yang muncrat. Ga lama, beliau bilang selesai. Rupanya selesai atasnya, akarnya kemudiannya. Dan selesai yang sebelah kiri.
Sebenarnya, cuma 1 gigi tapi menuru dokter sekalian aja yang kedua. Jadi sekalian makan obatnya, sekalian datang, sekalian sakitnya. Istilah pak dokter, efektivitas saja.
Saya mikir keras, sekarang ga ya ? Tadi kan ga sakit. Setelah memperhatikan nasihat dokter dan saya juga mau minum obat, saya setuju untuk dibedah lagi.
Gigi yang kedua tidak tumbuh sempurna, harus dibelek pake pisau khusus. Sama seperti gigi yang sebelumnya, tidak sakit waktu dibelek, tidak terasa dicabut dan selesainya cepat.
Akhirnya selesai deh … tinggal minum obat. Sampai sekarang ok …. ok saja. Tanggal 29 Juni, lepasin jahitan dan pasang behel untuk dirahang bawah.
TQ dokter untuk tida sakitnya ;)
May 23rd, 2008 — Kesehatan
Awal bulan Mei, saya kontrol lagi ke dokter gigi. Dia kasih saran untuk memberikan warna karet (seperti karet gelang kecil) yang berbeda setiap breketnya (CMIIW).
Wow … saya tertawa …
Kebetulan juga saya bingung sama warna-warna karet yang disodorkan sama asistennya. Ada 2 warna yang saya suka, yaitu hijau agak muda dan pink agak muda. Duh … saya ingin keduanya, tapi kan harus pilih salah satunya.
Katanya, terserah mau diselang seling warnanya atau selang seling 2 breket.
Ok, deh asal kan tidak merepotkan dokter dan asistennya, saya mah senang-senang aja sekaligus geli sendiri.
Jadilah breketnya dilapisi selang-seling 2 breket dengan warna yang berbeda. Dan saya masih tertawa geli …

Mudah-mudahan, Agustus nanti ada persediaan karet warna merah dan putih. Sesuai dengan tema bulan Agustus yaitu hari kemerdekaan, behel saya juga ga mau ketinggalan moment nih ….
Kocak deh …….

May 2nd, 2008 — Kesehatan
Semenjak gigi saya dipasang behel, bibir saya tidak sempurna tertutup untuk aksi senyum mingkem.
Iseng tes senyum dikaca, cuma bertahan sekian detik bibirnya rapat, kemudian perlahan tapi pasti akan terlihat nonggol sedikit demi sedikit sebagian behelnya dan akhirnya full behelnya terlihat semua.
Sudah dicoba 5 kali tetap tidak bisa.
Tapi maklum ya … kan behel itu diletakkan di depan gigi, jadi jelaslah ga bisa mingkem kalau senyum.
Sebenarnya ingin sekali kalau orang-orang ga tahu kalau saya pakai behel apalagi setiap bulan sekali warna karetnya ganti.
Yang lucu, keponakan saya yang usianya 9 bulan, dia sekarang paling demen lihat dan nunjuk behel dengan cara seperti ET, setelah itu dia tergelak-gelak kesenangan. Padahal waktu pertama kali saya pake behel, wajahnya gimana gitu.
April 17th, 2008 — Kesehatan, Story
“Salah bantal” alias leher tegang selama berjam-jam saat tidur, sakit juga ya …..
Baru ngerasain Senin pagi (14/4/08), waktu bangun …. duh …. ga bisa diangkat kepalanya. Pelan-pelan tapi pasti akhirnya keangkat juga nih kepala.
Karena menganggu aktivitas dan sakit banget, dengan cepat saya minta diantar ke tukang urut. Tukang urut pertama ga ada di rumahnya. Jadi kita ke tukang urut ke dua. Kalau bapak sih ga rekomendasikan yang kedua, tapi gimana ya … saya ga tahu obatnya dan baru kali ini kena “salah bantal”. Saya juga ga mau diurut karena ga suka diurut.
Urutan pertama, membuat leher saya tambah sakit. Kata tukang urutnya kembali saja sore hari, karena belum selesai. Tidak sampai sore, siangnya saya kembali lagi karena sakitnya tambah menjadi-jadi. Katanya memang sakit tapi nanti beberapa hari sembuh kok. Beliau bilang, jangan lupa kasih koyo yang putih.
Glekk … duh …. pake koyo … hiiik hikkk, saya kenalnya koyo cabe. Dulu, pernah pake koyo cabe, ga sampai 10 menit, langsung dilepas, panaaasss rek … dan ngelepasinya harus menahan sakit karena kecabut juga bulu-bulu halus.
Ke toko obat beli koyo, nah di toko obat ditawarin koyo dari tulang macan (akhirnya tahu di rumah). Bapaknya ngasih tahu cara menggunakan koyo tersebut. Saya setuju untuk menggunakannya. Pokoknya apa aja deh buat sembuhin leher saya.
Sampai di rumah, saya baca, duh dari tulang macan. Kan saya pecinta the big cat and small cat. Yang membuat saya terheran-heran dan ketawa geli, bahan-bahan yang digunakan ga sesuai sama judul koyonya ! Ga ada tulisan dari tulang macan malah ada kata dari 3 macam ular. Bahasa tulisannya campuran bahasa Indonesia tempo dulu dan sekarang.
Bahan obatnya dibikinnja dari 36 daon-daonan, 75 matjem obat akar-akaran jang berfaedah, 5 matjem minyak, 3 matjem uler, lantas dimasak dan kerdjaken dalem tempo 3 hari 3 malem baru siap dan dijadilah ini obat (Koyo).
Saya panggang nih, tapi sayang nempelnya ga lama, katanya kulit saya berkeringat. Tapi boros ya .. kalau ga nempel, harus ke api untuk dipanggang. Saya saja dalam 30 menit sudah 5 kali koyonya dipanggang.
Akhirnya beli salonpas. Salonpas ga panas, padahal 3 lembar ditempel ke leher … 2 jam kemudian dicabut. Waktu tidur malam hari, saya pasang lagi salonpas, akhirnya panas juga tapi saya ga bisa tidur. Karena ga bisa tidur, jam 3 malam saya buka saja salonpasnya, akhirnya bisa tidur juga walaupun sebentar.
Pagi harinya, saya ga bisa buka mulut, susah nelan, susah makan dan minum, leher dan pundak sebelah kiri tambah sakit, malah sakitnya sampai ke kepala. Saya juga jemur bantal. Dokter gigi saya SMS pagi-pagi memberitahukan memajukan jadwal kontrol tanggal 20 April 2008, sayang saya ga bisa, nunggu sembuh dulu lehernya. Nanti ga jelas mana sakit karena urusan gigi atau sakit leher dan kepala yang tiba-tiba datang. Biasanya dokter gigi saya, kalau saya merasa sakit, beliau berhenti dulu. Wah, kalau berhenti terus lama donk selesainya.
Untuk bekerja di depan komputer saya ga sanggup untuk lama-lama. Cari di google, ketemu obat masa kini, namanya Neuropyron-V yang terdiri dari Methampyron 500 mg, Vitamin B1 50 mg, Vitamin B6 100 mg, Vitamin B12 100 mcg, minumnya 3 kali dalam sehari sesudah makan. Alhamdulillah, bisa tidur ….
Besok harinya, sepanjang waktu, saya oleskan counterpain dan seperti biasanya saya ga bisa bertahan lama di depan komputer. Malam hari, obatnya ga manjur, saya kembali ga bisa tidur.
Hari Kamis di malam hari, ga kuat juga dan disarankan oleh para pelanggan dan teman-teman di dunia maya, saya pergi ke dokter. Dan dokter memberi obat yang sejenis dengan Neuropyron-V tapi agak lebih keras dan ramah dengan lambung saya. Juga dikasih obat untuk merilekkan otot dan penenang.
Malam hari, bisa tidur :). Pagi harinya, lumayan tidak begitu sakit, kepala saya juga ga seperti ditarik, sudah mudah makan, nelan ludah, minum. Kata dokter, boleh saja diurut tapi harus pelan dan sembuhnya sekitar kurang dari 2 minggu. Dan jangan lupa masih diolesin balsem atau counterpain atau kompres dengan air hangat sering-sering.
Mudah-mudahan cepat sembuh, benar-benar tersiksa, sampai-sampai bales email, ngaco tulisannya :))
April 13th, 2008 — Kesehatan
Akhirnya, selesai juga asuransi kesehatan saya. Sudah lama saya ingin mengasuransikan diri tapi baru tahun ini kesampaian.
Waktu ditawarkan pada usia sekitar 23 tahun, masih murah … hmmm … seingatnya sebulan cuma Rp. 150 ribu, kalau ga salah ingat. Saya sudah dibilangin kalau usia semakin tua semakin mahal nanti bayarnya. Yahhh, ditanggung sendirilah, inilah akibat mikirnya kelamaan padahal sudah tahu dampaknya … hehehe.
Sayangnya saya tidak melewati teman saya karena yang membuat keputusan soal keuangan adalah Bapak saya. Duh, maaf ya teman … but kamu kan sudah jadi manager, jadi ga begitu perlu ya
Yang paling saya demen sama asuransi ini adalah ga hilang uangnya, bisa diambil sewaktu-waktu. Jika lagi ga mampu boleh cuti untuk tidak bayar.
Sebelum mendapat kartu asuransinya, harus medical check-up di Rumah Sakit terdekat. Kebetulan yang terdekat RS Pondok Indah, gratis lho, yang bayarin pihak asuransi. Nah, karena saya ga pernah sakit parah, masuk rumah sakit cuma penyakit ringan, dan dilihat berat badan saya yang tidak gemuk, saya tidak pake medical check-up. Horeee … duh senangnya saya ga berurusan sama RS dan dokter. Padahal udah deg-degan, duh paling takut sama jarum suntik.
Sekarang saya tenang kalau masuk rumah sakit semuanya dicover (CMIIW). Keluarga pernah habis-habisan mengeluarkan uang sewaktu bapak 2 kali masuk rumah sakit. Selain habis-habisan soal uang juga habis-habis badan dan pikiran. Habis uangnya ga cuma 1 juta tapi puluhan juta. Rasanya kecewa saja, uang yang terkumpul bertahun-tahun hilang begitu saja, tidak ada yang tersisa. Memang kita punya kas sendiri untuk kesehatan tapi jika uang simpanan yang lain juga diambil, sulitlah awak. Tapi demi orang tua yang tersayang, ya … pasrah saja. Toh bisa dicari lagi
Sayangnya, uang yang dicari lagi pun butuh bertahun-tahun untuk mendapatkan kembali apalagi dilihat kondisi ekonomi sekarang ini.
Belajar pengalaman dari orang tua dan saya sendiri yang pernah masuk rumah sakit, terang terang saya dan keluarga merasa terpukul sekali. Perasaan campur baur.
Sayang, keinginan untuk mengasuransikan orang tua tidak bisa karena orang tua sudah agak lanjut. Sebenarnya bukannya tidak bisa, bisa tapi bayarnya lebih mahal, medical check-upnya bisa beberapa kali. Dan kedua orang tua sudah menolak untuk mengasuransikan dirinya.
Sepertinya segitu dulu, nanti kalau kepanjangan bisa dikirain agen asuransi.
Oh, ya … jika saya bunuh diri saya ga dapat asuransinya lho
Kalau saya dibunuh … hmm … saya belum tanya tuh … Tetapi sekarang ada 2 kartu yang harus dibawa kemana-mana yaitu KTP dan kartu asuransi.
February 20th, 2008 — Jokes, Kesehatan, Sosial
Pernah dibilangin sama orang gila bahwa Anda CAKEP ? Saya pernah, kemarin, di pagi hari tanpa sinar matahari.
Saat itu, saya dan adik sedang mengobrol soal Amazonnya. Adik duduk di depan komputer, saya berdiri tak jauh dari pintu dan darinya. Pintu sedang dibuka sangat lebar agar udara pagi masuk untuk kesegaran ruangan. Pintu dan dinding terbuat dari kaca, jadi kami bisa leluasa melihat keluar.
Continue reading →
January 29th, 2008 — Kesehatan, Story
Minggu kemarin, saya dipasang behel. Minggu kemarinnya lagi pasang 2 cincin di 2 geraham atas kanan dan kiri. Fungsi cincin ini lupa nih buat apaan ….
Sampai sekarang fine-fine aja, tidak menganggu.
Pas sampai rumah, ibu, adik dan keponakan antusias lihat gigi saya, “Coba lihat giginya …”
Yang paling lucu keponakan nomor 2 yang masih berumur 7 bulan. Biasanya saya gendong, dia melihat mata dan dia pun tertawa, tantenya ikut tertawa pula.
Tapi kali ini dia langsung berhenti tertawanya setelah melihat gigi-gigi tantenya.
Ekspresi wajahnya itu lho …. bikin saya ketawa geli … Semakin saya tertawa terbahak-bahak … dia tetap melihat gigi saya, lama-lama jari telunjuknya menunjuk ke arah mulut, saya biarkan … mendekati mulut, akhirnya saya pegang jarinya tersebut.
“Sayang, mau tanya kenapa gigi uwo ? Namanya dibehel. Kenapa ? Aneh yach .. kemarin ga ada kan .. sekarang ada nih … nanti udah gede tahu kok apa itu behel”
Sambil saya berbicara, dia tetap menatap gigi-gigi saya. Biasanya kalau saya berbicara dia akan melihat mata.
Hari ini adalah hari ke 2, saya gendong kembali dan tetap dia melihat gigi saya. Dia sudah tak melihat mata saya. Sudah tak sibuk mengaduk-aduk wajah tantenya, tidak tertawa senang lagi. Dia menggunakan ekspresi wajah …. hmmm apa yach namanya … “mungkin ingin tahu, tanda tanya” yang jelas bagi saya, wajahnya jadi lucu …
January 19th, 2008 — Bisnis, Kesehatan
Bulan puasa kemarin punya keinginan jualan es batu. Lumayan tapi …. entar dulu, biasanya saya tanya sana sini.
Pertama saya beli es batu dari pedagang yang lain untuk ukuran plastiknya. Saya cairkan, ambil plastiknya kemudian ukur sama plastik yang ada di rumah. Ada yang cocok. Sekarang soal airnya. Hmmm … orang-orang pada jualan es batu itu Rp. 500,-. Untuk seharga segitu pake acara dimasak dulu ?
Kata Bapak saya, kalau dimasak dulu, rugi. Belum harga minyak tanahnya, masaknya lama lagi, plastik sama karet atau tali rafia, listrik. Kalau pake gas apalagi. Jadi jualnya bisa Rp. 1.000,-. Duh, kalau sama Bapak saya hitung-hitungan detail banget
Tanya sepupu. Menurut beliau, biasanya yang dijualin itu ga dimasak. Jika harganya Rp. 500. Gleeeekkk …. Saya tanya ke milist masak-masak, memang rata-rata ga dimasak. Glek lagi ….
Ada yang bilang juga, kalau kuman/bakteri yang ada di air kalau suhu seperti es batu bisa mati. Hmmm … iya memangnya ? Ada yang tahu jawabannya ? Pertanyaan saya yang lain, gimana kalau si makhluk kecil itu cuma mati suri karena kebekuan, nanti setelah suhu normal dia kembali hidup ?
Hmmm … kalau ingat fosil di kutub, sepertinya mati semua yach …
Kan bukan si Aang
Saya pernah lihat orang jualan es balok, digeletakin aja di jalan, atau di jalan pasar. Ada yang pake sarung tangan tapi udah hitam and the kumel. Jorok yach … Kalau saya sih kalau beli di depot es itu dibersihkan dulu. Tapi masih ada ga yach kumannya. Masak saya harus bersihkan es batu pake sabun pembersih hama/bakteri atau saya tuangkan air panas mendidih …
Ada solusi dari teman milist masak-masak untuk es batu plastikan yang biasa dijualin dirumah-rumah dengan cara masukin aja es batu tanpa dibuka plastiknya ke tempat minuman. Kalau sudah dingin, baru dimasukkan ke gelas masing-masing. Hehehe, selama ini kita ga gitu. Kita buka plastiknya, pecahkan menjadi ukuran kecil-kecil dan masukkan ke gelas masing-masing
Kalau es balokan belum tahu solusinya apa …
So …. karena jualan es batunya ingin dimasak berarti Rp. 1.000. Tapi siapa yang mau beli segitu. Jadi kesimpulannya ga jadi jualan. Es batu yang airnya dimasak buat konsumsi keluarga saja.
Sekarang kan panas sekalieee di musim penghujan, sepertinya mau jualan es batu tapi ga dimasak
Lumayan, freezer ga begitu banyak nganggur … Ayo freezer kita kerja ….
Saya tugasnya masukin air ke plastik, ikat dan freezer tugasnya bekukan, sebeku-bekunya …. yang bagus kerjanya … sip deh 
January 13th, 2008 — Kesehatan
Ini karang yang hidup di darat. Terjadinya karang karena waktu membersihkannya kurang sempurna, tertinggal ditempat yang dihinggapinya kemudian mengeras. Menghilangkan karang yang sudah mengeras tidak cukup menyikatnya tapi harus menggunakan alat canggih. Sebaiknya karang dibersihkan 6 bulan sekali ke ahlinya.
Siapakah saya ? Ayo tebak
Nah, itu namanya karang gigi.
Hari Minggu ini, saya ke dokter. Rencananya mau pasang behel (nulisnya gimana yach ?) tapi ga jadi. Kata dokter gigi, prosedurnya harus dimulai bersihkan karang gigi dan cetak gigi
Upssss … sudah lama ga bersihkan karang gigi. Saya sih rajin sikat gigi, tapi kadang-kadang ngasal, super kilat dan ingin cepat masuk tempat tidur. Kadang-kadang juga lupa gosok gigi. Untungnya saya belum pernah sakit gigi, wuiiih jangan sampai deh.
Terakhir bersihkan gigi sekitar tahun 2000-an, cukup lama juga yach. Rasanya ga enak, ada yang tajam-tajam. Jadi males deh ke dokter gigi lagi. Lagipula rasa ngilu di gigi saat berlangsungnya pembersihan tersebut membuat tidak nyaman.
Karena sudah kelamaan ga bersihkan gigi, tebal karangnya. Iya sih, saya bisa lihat di kaca. Waktu pembersihan 1 jam. Rupanya gigi saya sensitif. Masak baru alat dokter giginya ngiung-ngiung dekat gigi saya sudah terasa ngilunya. Karena keseringan ngilu dan dokter harus menekan agak keras alatnya waktu mengerjakan 2 gigi diatas, dia mengajukan dua opsi yaitu terus dengan rasa ngilu sekali atau disuntik. Katanya selain karang, dua gigi saya ada bekas tehnya. Jadi kerjanya double. Daripada sebentar-sebentar saya bilang stop, megang tangan dokternya atau kasih isyarat tangan karena merasa ngilu sekali yang bisa menyebabkan lama kerjaannya, saya pilih disuntik saja. Padahal saya takut suntik juga. Suntik biusnya cuma di dua gigi. Hasilnya mulut tebal selama 1 jam dan ngilupun hilang. Alat suntiknya beda dengan yang normal. Tetap panjang wadahnya tapi jarumnya pendek. Kalau kita rileks ga terasa suntiknya.
Setelah 1 jam membersihkan karang gigi, setelah dikasih lotion warna putih, kumur-kumur 30 detik, enak loh giginya, terlihat dikaca sudah bersih, kalau digesek oleh lidah tidak terasa tajam. Bagus juga kerjaannya.
Ngomong-ngomong soal dokternya, sebenarnya dokternya seorang ibu … Karena ada saudaranya yang meninggal dunia dadakan diganti sama dokter cowok. Kalau ga salah dengar, lulusan tahun 2003 .. masak iya … mungkin dia mulai kuliah tahun 2003 di UI, gitu kali maksudnya. Yang penting dokter cowok itu sabar dan kerjaannya bersih.
Mau tanya dokternya cakep atau tidak ? Jawabannya adalah cakep kok.
Menurut orang-orang untuk dokter gigi lebih baik milih dokter cewek karena lebih telaten, sabar dan baik hati …. walah …. Asisten dokternya juga sabar.
Minggu depan, rencananya pasang cincin dan behel. Soal cincin, lupa fungsinya untuk apa, masalahnya bukan bidang saya, jadi saya mah angguk-angguk saja, yang penting nanti hasilnya bagus dan saya mah nurut aja deh apa kata dokter.
December 2nd, 2007 — Kesehatan, Sosial
Kalau lihat berita di televisi dan koran, narkoba semakin hebat saja. Jadi ingat tahun 1991, ditanya sama teman-teman.
Waktu keluar main saat SMA kelas 3, para cewe-cewe ngobrol soal cita-cita. Biasanya saya paling terakhir menjawab pertanyaan.
“Auliah, apa cita-cita kamu kalau lulus SMA ?”
Dengan mantap saya berkata,
“Mau jadi Psikolog, kerja di Komdak bagian obat-obatan terlarang”
“Ahhh .. jadi polisi ?”, kata teman
“Bukan jadi polisi, seru kali yach … Selain kerja di Komdak, buka praktek untuk konsultasi orang-orang yang terkena obat-obat terlarang. Saat saya lulus, pasti yang terkena obat-obat terlarang makin banyak”
“Kok ngedoain sih !!”, kata-teman-teman
Saya cuma bengong and than “Hmm … iya ya …. kok gitu ngomongnya. Duh, padahal ga bermaksud untuk mendoakan sih, kalau saya lulus nanti diperkirakan … menurut saya sudah banyak yang terkena narkoba.”
Pada tahun 1991, penderita narkoba belum seramai sekarang. Dalam 1 sekolah yang kena cuma 1 orang itupun ditutup-tutupin. Pemberitaan soal bahaya narkoba pun belum banyak menghiasi berita-berita dikoran dan televisi negeri kita yaitu TVRI. Efek negatif narkoba saya juga kurang banyak tahu. Dulu, yang terkenal itu ganja.
Dan dulu Psikologi bisa menjadi Psikiater jika ambil S2. Itu seingat saya.
September 25th, 2007 — Kesehatan, Story
Duh, banyak nyamuk. Gigitannya tajam. Langsung buka pintu dan jendela, mereka menghambur ke dalam.
Duh, banyak nyamuk … sudah disemprot jangan datang lagi ya … Mau tidur …
Duh, banyak nyamuk … mudah-mudahan bukan nyamuk malaria. Tapi saya lihat kalian ga ada tampang nyamuk malaria.
Duh, banyak nyamuk … jika musim panas terlalu panjang ….
September 13th, 2007 — Kesehatan, Photo, Sosial, Story
Rabu kemarin, gempa melanda Bengkulu, Sumatra Barat, Jambi, Sumatera Selatan dan sekitarnya bahkan sampai negara tetangga. Pusat Gempa di Bengkulu dengan kekuatan 7.9 Skala Richter pada pukul 18.10 WIB. BMG memberikan peringatan tsunami tapi sudah dicabut.
Saat itu, saya sedang menonton siaran berita dari ANTV. Penyiar berita saat itu mengumumkan bahwa di studionya terasa guncangan. Saya lihat layar televisi bergerak tapi penyiarnya tetap siaran, tidak beranjak dari tempatnya.
Loyalitas terhadap pekerjaan dan pemirsanya … hebat ya … nyawa taruhannya. Dia terus siaran sampai gempa reda. Cukup lama juga.
Yang nonton aja panik lihat layar televisi bergerak tak tentu arahnya. Mukanya saya lihat ketakutan tapi “jalan” terus siarannya …
Saya sendiri ga terasa gempa tapi adik laki-laki saya terasa karena dia duduk di lantai. Kalau saya duduk dikursi. Hmm … biasanya terasa sih … tapi ga tahu kenapa tidak terasa.
Sepupu, suaminya, anak-anaknya dan ibu sepupu saya yang tinggal di kota Padang ketakutan sekali. Rabu, mati lampu. Karena sering gempa, mereka tidur diluar rumah.
Tadi pagi, 5 Pagi (Jum’at, 14/9/2007), saya nonton berita di MetroTV bahwa gunung Talang sudah gempa 400 kali. Saya harap ke mereka untuk pulang ke Silungkang. Kalau sampai Gunung Talang meletus, terus ada gempa besar dan tsunami mereka tidak bisa pulang ke Silungkang. Untuk lewat Silungkang harus melewati Solok (Gunung Talang).
Menurut keterangan sepupu saya, hari Jum’at sudah hidup lampu, rumahnya tidak ada yang rusak. Banyak saudara dari pihak suami yang tinggal di rumah mereka karena letaknya lebih tinggi. Bantuan sudah datang, sudah ada yang memberi instruksi cara menyelematkan diri dari Tsunami.
Menurut wawancara kemarin pagi di MetroTV dengan ahli geologi BPPT bahwa kita menunggu gempa kekuatan 9 Skala Richter. Bapak tersebut mengharapkan bahwa gempa yang terjadi saat ini dicicil sehingga tidak terjadi yang 9.
Tapi beliau tidak tahu apakah ini gempa cicilan atau nanti ada yang 9. Beliau tidak tahu kapan yang besarnya.
Tapi saya harap ga terjadi yang 9. Duh …
Gempa di Bengkulu dan Sumbar akan terjadi dalam 2 pekan dengan skala lebih dari 5, menurut BMG.
Video : CNN
News : Yahoo, Liputan6.com, Are We Ready for Another Tsunami
Photo : AFP, Reuters
An Indonesian girl kisses her cat near her collapsed house in Lais, Bengkulu, Sumatra island, Indonesia, Thursday, Sept. 13, 2007. Three powerful earthquakes jolted Indonesia in less than 24 hours, triggering tsunami warnings, damaging hundreds of houses and sending panicked residents fleeing to high ground. Rescuers feared some victims were trapped beneath the rubble. (AP Photo/Dita Alangkara).

An Indonesian rescue team removes a body from a damaged building in Padang of West Sumatra province September 13, 2007. Indonesia’s Sumatra island was pounded by aftershocks on Thursday after the world’s most powerful earthquake so far this year killed at least six people and buried many more under buildings. REUTERS/Singgalang- Muhammad Fitrah (INDONESIA).

A motorist passes cracks in a damaged road at Air Besi in North Bengkulu, 13 September, a day after a massive 8.4 magnitude earthquake shook the region. Huge aftershocks rumbled across Indonesia’s Sumatra island on Thursday but officials said the damage from a massive earthquake that killed 10 people was not as bad as feared.(AFP/Adek Berry)

A mother holds her son as he is treated by a doctor at makeshift tent hospital in Bengkulu September 13, 2007. Indonesia’s Sumatra island was pounded by aftershocks on Thursday after the world’s most powerful earthquake so far this year killed at least six people and buried many more under buildings. REUTERS/Beawiharta (INDONESIA)

Hospital patients stay at a makeshift tent after an earthquake, in the Indonesian city of Bengkulu, September 13, 2007. Indonesia’s Sumatra island was pounded by aftershocks on Thursday after the world’s most powerful earthquake so far this year killed at least six people and buried many more under buildings. REUTERS/Beawiharta (INDONESIA)
August 31st, 2007 — Bisnis, Kesehatan, Sosial, Story
Uang RI kenapa jarang yang cakep ya … jika sudah beredar dari tangan ke tangan. Dari bank, mulus, bagus, ga lecek, bersih tapi sudah pindah tangan ada saja yang berubah.
Parahnya uang RI yang sobek terus disambung menggunakan silotip sedemikian rupa masih bisa jadi alat pembayaran.
Bukan sobek saja, ada yang sengaja disundut dengan rokok, bekas steples, ada tulisan “I love Dian”, “Wayang orang”, “Fuck you”. So what gitu lho … !!! Rupanya kita memang hobi “meninggalkan jejak” selain di pohon, di dinding gua, di batu, tembok rumah.
Ada juga robekan dipinggir uang.
Duh, kalau ga teliti dan diterima sahlah menjadi pembayaran transaksi pembelian/penjualan.
Sudah 3 bulan saya menerima uang yang diselotip. Jadi saya harus mencek bolak balik. Kalau ada sobekan, disilotip, saya ga terima. Terus ada uang sudah “Dekil of de kumel”. Ihhh …. jijik kalau megangnya. Kalau di mikroskop udah berapa juta bakteri yang ngendon disana. Apalagi uangnya untuk nutupin mulut jika batuk atau bersin. Yeaakkk ….
Kalau uang Rp. 100.000 model plastik saya ga terima kalau sudah disteples apalagi ada bekas sobekan ditengah.
Kita punya kebiasan meremek (apa ya istilahnya) atau membuat kusut, dibuntel-buntelin, dilipat-lipat. Duh …
Belum lagi kita harus hati-hati, jika ada uang besar, apakah uangnya palsu atau tidak ?
Coba pemerintah kita punya Undang-Undang yang mengatur uang yang dipergunakan sebagai transaksi jual beli harus rapi, bersih, tidak boleh dilipat, dilecekin, diremek-remek, sobek, dibolongin, dicoret-coret, dll deh.
Kalau ketahuan dengan sengaja memperlakukan uang RI dengan tidak hormat dipenjara 20 tahun.
July 3rd, 2007 — Kesehatan, Story
Tadi malam, tanggal 2 Juli 2007, sekitar jam 23.50, lahirlah keponakan saya kedua. Jenis kelaminnya perempuan dengan berat 3.8 kg dan panjang 50 cm. Tangisnya sangat keras. Keluar dari perut ibu, nangisnya keras, dimandikan nangis keras, di bawa ke tempat tidur bayi, nangis keras. Seisi rumah sakit pada bangun kali ya … habisannya kenceng banget.
Menurut dokter, kelahirannya tanggal 30 Juni 2007. Pas tanggal tersebut sang Kakek sudah menaruh tas bayi di motornya. Pokoknya seksi repot. Mulai menanyakan “Apakah kartunya berobat sudah ada di tas, nomor telepon teman si menantu jika menantu tidak ada ditempat, air minum, pulsa, apakah baju-baju cucu pertamanya sudah dibereskan dan sebagainya”. Suaminya sih tenang-tenang aja.
Tanggal 30 Juli 2007, pagi harinya adik mulai mules tapi cuma sebentar. Dia cek ke rumah sakit. Disuruh balik ke rumah karena belum terjadi apa-apa, sorenya disuruh balik lagi. Rupanya sudah pembukaan 1. Diputuskan menginap di rumah sakit.
Karena tidak ada tanda-tanda yang berarti lagi, minta pulang siangnya.
Selasanya, subuh-subuh, air ketubannya sudah pecah. Katanya kayak air pipis. Paniklah isi rumah. Adik yang rumahnya tidak jauh dari rumah ortu, disuruh ke rumah beliau. Kemudian ke rumah sakit … hebatnya naik motor euuuuiiii …
Masuk kamar bersalin, masih pembukaan 2. Jam 10 malam masih pembukaan 5. Katanya sih sampai pembukaan 10.
Nah, soal pembukaan ini saya ga ngerti lho, kok tebal banget ya … Kayak acara pembuka acara aja 
Menurut orang-orang yang cerita, kalau anak kedua dan seterusnya lebih cepat dan gampang. Tapi adik saya sepertinya tidak, mungkin sudah terlalu lama tidak melahirkan ya … Beda antara anak pertama kedua ini adalah 8 tahun.
Nunggu sampai pembukaan 10, wuiih lama banget, bisa besok pagi, tapi ga jelas paginya jam berapa. Baru pembukaan 5 saja, adik sudah ga kuat, sudah pucat, air ketubannya sudah ga ada. Akhirnya diputuskan operasi caesar.
Sewaktu periksa selama kehamilan, si adik bayi sehat, dan dokter telah menyatakan akan melahirkan normal. Soal ukuran berat badan, memang sih si ibu harus mengurangi makan, perbanyak makan buah dan sayur. Karena waktu kehamilan menginjak usia 8 bulan, beratnya sudah pas. Kalau makannya ga direm bisa 4 kg lebih.
Operasi caesar itu mahal ya … padahal tinggal ngebelek. Sstt, tapi resikonya gedeeee banget. Operasi caesar di rumah sakit dekat rumah Rp. 8 juta. 1 hari, kamarnya yang kelas 1 itu Rp. 150 ribu. Saat operasi, dokternya ada 3 dan beberapa asisten. Lamanya operasi cuma 30 menit. Total jenderal, keluarga si ibu ini harus mengeluarkan 11 juta rupiah. Duh … gimana orang ga punya uang ya …
Untungnya si ibu ini sehat, ga ada sakit berat.
Kalau saya nih, biasanya tanya dulu. Contohnya waktu saya operasi usus buntu. Kelas 1 berapa ongkos operasinya, kelas 2 berapa ongkosnya, kelas 3 juga berapa. Saya pilih kelas 3 karena operasinya Rp. 1.5 juta. Naik kelas 2 lagi, tambahin aja Rp. 500 ribu. Tanya ke dokter, berapa hari saya menginap, biaya obat bius lokal berapa, dan kalau bius semuanya berapa. Kalau bius saya pilih seluruh badan dengan harga lebih mahal. Tapi gpp, masalah saya takut. Untungnya usus buntu saya ga parah kok.
Sepupu saya bilang, kalau operasi usus buntu di RS. Fatmawati pada saat ini Rp. 5 juta ya … ccckkkkk … mahal euiii … Benar juga yach …. kalimat “Orang miskin dilarang sakit”.
Itu kan operasinya diplaning, kalau dadakan … yach tetap prosedurnya begitu tapi gerak cepat, mikirnya juga cepat. Kalau uangnya ga cukup tapi nyawa taruhannya. Soal uang dipikirin entar 
Sebenarnya ibu-ibu hamil dan suaminya bisa tanya dulu yach berapa biaya caesar sesuai dengan harga kamar selama pemeriksaan kehamilan. Walaupun dokter telah memperkirakan akan bersalin normal. Tapi ‘kan Tuhan yang punya planing. Jadi siap-siaplah ibu-ibu hamil untuk menyediakan uang untuk caesar.