Entries Tagged 'Kesehatan' ↓
August 31st, 2007 — Bisnis, Kesehatan, Sosial, Story
Uang RI kenapa jarang yang cakep ya … jika sudah beredar dari tangan ke tangan. Dari bank, mulus, bagus, ga lecek, bersih tapi sudah pindah tangan ada saja yang berubah.
Parahnya uang RI yang sobek terus disambung menggunakan silotip sedemikian rupa masih bisa jadi alat pembayaran.
Bukan sobek saja, ada yang sengaja disundut dengan rokok, bekas steples, ada tulisan “I love Dian”, “Wayang orang”, “Fuck you”. So what gitu lho … !!! Rupanya kita memang hobi “meninggalkan jejak” selain di pohon, di dinding gua, di batu, tembok rumah.
Ada juga robekan dipinggir uang.
Duh, kalau ga teliti dan diterima sahlah menjadi pembayaran transaksi pembelian/penjualan.
Sudah 3 bulan saya menerima uang yang diselotip. Jadi saya harus mencek bolak balik. Kalau ada sobekan, disilotip, saya ga terima. Terus ada uang sudah “Dekil of de kumel”. Ihhh …. jijik kalau megangnya. Kalau di mikroskop udah berapa juta bakteri yang ngendon disana. Apalagi uangnya untuk nutupin mulut jika batuk atau bersin. Yeaakkk ….
Kalau uang Rp. 100.000 model plastik saya ga terima kalau sudah disteples apalagi ada bekas sobekan ditengah.
Kita punya kebiasan meremek (apa ya istilahnya) atau membuat kusut, dibuntel-buntelin, dilipat-lipat. Duh …
Belum lagi kita harus hati-hati, jika ada uang besar, apakah uangnya palsu atau tidak ?
Coba pemerintah kita punya Undang-Undang yang mengatur uang yang dipergunakan sebagai transaksi jual beli harus rapi, bersih, tidak boleh dilipat, dilecekin, diremek-remek, sobek, dibolongin, dicoret-coret, dll deh.
Kalau ketahuan dengan sengaja memperlakukan uang RI dengan tidak hormat dipenjara 20 tahun.
July 3rd, 2007 — Kesehatan, Story
Tadi malam, tanggal 2 Juli 2007, sekitar jam 23.50, lahirlah keponakan saya kedua. Jenis kelaminnya perempuan dengan berat 3.8 kg dan panjang 50 cm. Tangisnya sangat keras. Keluar dari perut ibu, nangisnya keras, dimandikan nangis keras, di bawa ke tempat tidur bayi, nangis keras. Seisi rumah sakit pada bangun kali ya … habisannya kenceng banget.
Menurut dokter, kelahirannya tanggal 30 Juni 2007. Pas tanggal tersebut sang Kakek sudah menaruh tas bayi di motornya. Pokoknya seksi repot. Mulai menanyakan “Apakah kartunya berobat sudah ada di tas, nomor telepon teman si menantu jika menantu tidak ada ditempat, air minum, pulsa, apakah baju-baju cucu pertamanya sudah dibereskan dan sebagainya”. Suaminya sih tenang-tenang aja.
Tanggal 30 Juli 2007, pagi harinya adik mulai mules tapi cuma sebentar. Dia cek ke rumah sakit. Disuruh balik ke rumah karena belum terjadi apa-apa, sorenya disuruh balik lagi. Rupanya sudah pembukaan 1. Diputuskan menginap di rumah sakit.
Karena tidak ada tanda-tanda yang berarti lagi, minta pulang siangnya.
Selasanya, subuh-subuh, air ketubannya sudah pecah. Katanya kayak air pipis. Paniklah isi rumah. Adik yang rumahnya tidak jauh dari rumah ortu, disuruh ke rumah beliau. Kemudian ke rumah sakit … hebatnya naik motor euuuuiiii …
Masuk kamar bersalin, masih pembukaan 2. Jam 10 malam masih pembukaan 5. Katanya sih sampai pembukaan 10.
Nah, soal pembukaan ini saya ga ngerti lho, kok tebal banget ya … Kayak acara pembuka acara aja 
Menurut orang-orang yang cerita, kalau anak kedua dan seterusnya lebih cepat dan gampang. Tapi adik saya sepertinya tidak, mungkin sudah terlalu lama tidak melahirkan ya … Beda antara anak pertama kedua ini adalah 8 tahun.
Nunggu sampai pembukaan 10, wuiih lama banget, bisa besok pagi, tapi ga jelas paginya jam berapa. Baru pembukaan 5 saja, adik sudah ga kuat, sudah pucat, air ketubannya sudah ga ada. Akhirnya diputuskan operasi caesar.
Sewaktu periksa selama kehamilan, si adik bayi sehat, dan dokter telah menyatakan akan melahirkan normal. Soal ukuran berat badan, memang sih si ibu harus mengurangi makan, perbanyak makan buah dan sayur. Karena waktu kehamilan menginjak usia 8 bulan, beratnya sudah pas. Kalau makannya ga direm bisa 4 kg lebih.
Operasi caesar itu mahal ya … padahal tinggal ngebelek. Sstt, tapi resikonya gedeeee banget. Operasi caesar di rumah sakit dekat rumah Rp. 8 juta. 1 hari, kamarnya yang kelas 1 itu Rp. 150 ribu. Saat operasi, dokternya ada 3 dan beberapa asisten. Lamanya operasi cuma 30 menit. Total jenderal, keluarga si ibu ini harus mengeluarkan 11 juta rupiah. Duh … gimana orang ga punya uang ya …
Untungnya si ibu ini sehat, ga ada sakit berat.
Kalau saya nih, biasanya tanya dulu. Contohnya waktu saya operasi usus buntu. Kelas 1 berapa ongkos operasinya, kelas 2 berapa ongkosnya, kelas 3 juga berapa. Saya pilih kelas 3 karena operasinya Rp. 1.5 juta. Naik kelas 2 lagi, tambahin aja Rp. 500 ribu. Tanya ke dokter, berapa hari saya menginap, biaya obat bius lokal berapa, dan kalau bius semuanya berapa. Kalau bius saya pilih seluruh badan dengan harga lebih mahal. Tapi gpp, masalah saya takut. Untungnya usus buntu saya ga parah kok.
Sepupu saya bilang, kalau operasi usus buntu di RS. Fatmawati pada saat ini Rp. 5 juta ya … ccckkkkk … mahal euiii … Benar juga yach …. kalimat “Orang miskin dilarang sakit”.
Itu kan operasinya diplaning, kalau dadakan … yach tetap prosedurnya begitu tapi gerak cepat, mikirnya juga cepat. Kalau uangnya ga cukup tapi nyawa taruhannya. Soal uang dipikirin entar 
Sebenarnya ibu-ibu hamil dan suaminya bisa tanya dulu yach berapa biaya caesar sesuai dengan harga kamar selama pemeriksaan kehamilan. Walaupun dokter telah memperkirakan akan bersalin normal. Tapi ‘kan Tuhan yang punya planing. Jadi siap-siaplah ibu-ibu hamil untuk menyediakan uang untuk caesar.
June 29th, 2007 — Kesehatan, Story
Saya tidak tahu kenapa … jari telunjuk tangan sebelah kanan saya sakit sekali, padahal ini asset.
Kalau mengklik mouse kiri saya pasti menggunakan telunjuk kanan. Sekarang karena sakit, saya menggunakan jari tengah.
Mengetik pun begitu …. kalau menekan tuts-tuts keyboard, jari telunjuk ini rasanya ngilu.
Apakah terlalu lama menekan jari telunjuk ke mouse kiri ya ? 
Kalau pergelangan tangan sebelah kanan, kadang-kadang suka sakit. Ya … kalau kelamaan megang mouse ya … sakit juga 
Nah, yang ini saya tahu kenapa sakit. Pergelangan tangan yang kanan ini pernah kecekleng waktu saya jatuh ke got di Puncak. 
Sudah diurut 2 kali tapi belum mempan.
Kemarin malam, karena ga tahan sakit di jari telunjuk dan iseng taruh di pergelangan tangan dengan koyo …. Wuihhh panas dan perih. Karena ga tahan, jam 2 malam saya copot tuh koyo.
Akibat itu semua, saya mengetik, mengklik mousenya lambat dan males.
Sebenarnya, saya mengharapkan cepat sembuh karena pekerjaan banyak banget dan membutuhkan waktu lama untuk megang mouse.
Rasanya saya mau ke dokter tulang 
June 18th, 2007 — Kesehatan, Sosial
Paling senang lihat orang yang berkulit putih dengan warna kemerah-merahan.
Letak merahnya terserah dimana, boleh di pipi, di telapak tangan dan kaki atau ditelinga. Asal jangan dihidung, pasti dia lagi pilek atau habis buang ingus 
Merahnya juga bukan karena dia sedang malu atau menahan marah bahkan habis bersin
.
Ya …. merah yang selalu terlihat tanpa diapa-apakan.
Sebenarnya merah disini bisa dikatakan warna pink. Bibir pink tanpa warna dari gincu juga bagus.
Kalau lihat artis-artis film Hollywood pada umumnya kulitnya banyak sekali warna merah. Senang sekali melihat, terlihat segar dan sehat.
Saya pikir kenapa mereka seperti itu, apakah karena faktor kulit mereka yang memang dari “sononya” begitu atau karena mereka terlalu banyak makanan bergizi, makan vitamin atau apa ya ?
Kalau orang Negropun seperti sehat sekali. Memang sih, telapak tangan mereka tidak merah, sometimes putih. Tapi mereka tidak gersang. Mungkin juga karena punya uang mereka bisa mengeluarkan banyak uang untuk merawat tubuh. Tapi kulit segar kan tidak bisa disembunyikan 
Beberapa orang Indonesia yang berkulit putih juga ada berwarna kemerah-merahan tapi masih sedikit.
Contohnya :
Saya punya saudara perempuan, sekampung tepatnya … ya … masih ada hubungan saudara tapi jauh juga sih …. hmmm … tapi saudara …. Nah lho.
Dia itu mempunyai warna kulit putih bersih, pipinya itu lho merah atau tepatnya pink. Keluarganya memang begitu kulitnya. Dilihat urutan keturunan tidak ada yang menikah dengan orang bule. Memang sih, kampung saya itu rata-rata wajah memang kebule-bulean, kearab-araban, kecina-cinaan, kejawa-jawaan atau keambon-ambonan. Lengkap deh …
Ibu saya mempunyai bibir warna pink, ga perlu beliau pake lipstik. Beliau suka sekali makan sayur dan buah. Beliau itu lebih baik ga makan daging.
Saya melakukan percobaan pada diri sendiri, bagaimana kulit bisa terlihat segar dan kemerah-merahan walaupun kulit saya sawo matang. Tapi kan ada bagian kulit saya yang putih. Misalnya di telapak tangan dan kaki atau kuku.
Caranya minum vitamin penambah darah. Saya tidak punya anemia, kata dokter lho. Setelah setahun minum vitamin penambah darah yang berjenis sirup buat anak-anak, sekarang telapak tangan dan kaki lebih merah daripada yang dulu. Untuk bibir, saya sudah tidak menggunakan lipstik.
Bagaimana ? Mau mencoba menjadi kulit putih yang kemerah-merahan. Jadi jangan asal putih … 
Bukankah menyenangkan jika ada yang bilang “kamu itu ada keturunan bule ya ?” 
Atau “Kulit kamu segar banget” 
June 8th, 2007 — Kesehatan, Story
Sarapan pagi keluarga saya dimulai dari ibu. Ibu bisanya bangunnya lebih awal, bisa jam 3 atau 4 bahkan 4.30 malam. Beliau biasanya ke dapur, bikin teh, susu, masak air. Sambil menunggu air masak dan segala bahan untuk membuat teh dan susu sudah disiapkan tinggal menyeduh, ibu menghidupkan televisi. Beliau biasanya nonton acara keagamaan. Kalau sudah bedug, beliau sholat dulu.
Agar semua penghuni itu bangun untuk sholat Subuh, beliau mengeraskan suaranya. Jangan-jangan terdengar sampai keluar rumah
Tapi berhasil dengan cara seperti itu
Setelah air mendidih, susu dan teh sudah siap. Beliau masak nasi. Atau masak nasi goreng yang diberi kecap atau nasi goreng putih tanpa kecap. Tapi masak dua nasi goreng tersebut jarang juga. Kalau tidak membuat nasi goreng, kita makannya pake lauk yang kemarin malam dengan catatan tidak basi atau dipanaskan setelah dari kulkas.
Kita memang sejak kecil diharuskan sarapan pagi berbentuk padat dan cair. Kata beliau, jika kenyang belajar lebih konsentrasi. Oh, ya sambil melakukan aktivitas di dapur, beliau tetap menyalakan televisi dengan volume besar.
Kalau Bapak bangun, setelah melakukan yang menjadi kewajiban umat muslim segera mengganti channel televisi ke berita. Siaran berita ini bisa sampai jam 7 pagi dengan channel televisi yang berbeda-beda. Semua berita di stasiun televisi, beliau suka dan pasti ditonton, minimal didengar jarak jauh.
Ya, jarak jauh karena ditinggal pergi untuk menyiram tanaman dan teras depan. Soal suara televisi, so pasti tetap gede.
Kalau saya … hehehehe … biasa, Islam … terus tidur lagi. Bangun lagi jam 6 pagi terus makan dan minum. Kemudian, beresin tempat kerjaan.
Jam 7 nonton film kartun, hanya 30 menit
Spesial hari Jum’at, pagi-pagi sudah baca koran. Hari minggu, ibu nonton acara masak-masak.
June 1st, 2007 — Kesehatan, Promosi
Rupanya saya telat ikutan kampanye 100% Smoke-free dari WHO. Maklum sudah seminggu sibuk ngetik, udah kriting tangannya. Konsentrasi mata sudah tidak karuan melihat tulisan. Tanggal 1 Juni 2007, baru selesai ketikannya ;). Tapi gpp dapat duit
… lumayan nambahin pundi-pundi kas 
Padahal saya anti sama rokok. Sebelum kampanye ini, saya sudah beberapa kali posting soal merokok.
Pak Priyadi di blognya mencari yang meninggal akibat perokok pasif. Sebenarnya sih kalau si yang meninggal atau ahli warisnya berteriak pasti ada donk.
Bukankah Alm. Chrisye dulunya perokok berat ?
Di posting saya, ada perokok pasif yang sudah stadium tinggi, entahlah sekarang nasibnya bagaimana ? Terus penjaga wartel juga gitu … mudah-mudahan dia selamat ya
Paman saya akhirnya berhenti merokok karena jantungnya sudah ga beres. Itu kata dokternya.
Dua orang pelanggan saya, perokok berat, sekarang kayak orang sakit TBC, batuk-batuk berdahak :p
Kalau ipar saya juga gitu, tapi batuknya ga begitu parah.
Sayangnya peraturan melarang merokok di tempat umum oleh Gubernur DKI Jakarta semakin lama dilanggar.
May 20th, 2007 — Kesehatan, Story
Hari Sabtu (19/5/2007) ada pengasapan di rumahku. Fogging massal atau pengasapan untuk membasmi nyamuk yang menyebabkan penyakit Demam Berdarah sudah menelan korban 18 orang dalam 1 RT. Tidak ada yang meninggal dunia dalam kasus ini. Rata-rata yang terkena anak kecil sampai usia remaja.
Atas kejadian tersebut, paniklah warga. Satu warga telah mengirimkan surat permohonan ke Kelurahan untuk pengasapan (fogging).
Sebelum ada yang terkena demam berdarah, setiap pagi (5.00 WIB) kalau buka jendela memang sudah banyak nyamuk masuk ke kamar saya. Saya tidak berani tidur lagi. Alhamdulillah, selama nyamuk merajalela tidak kena demam berdarah. Mudah-mudahan jangan.
Sebelum fogging terjadi, selama dua hari Ibu sibuk beres-beres perabotan rumah tangga, pada disimpan ditempat tertutup.
Ibu saya sebenarnya tidak suka fogging karena bau, beliau harus merapikan semua barang baik sebelum fogging maupun sesudah fogging. Nah, kemarin sesudah fogging Ibu tidak terlalu repot. Kata beliau, lantai tidak terlalu licin, baunya cepat hilang. Beda sama pengasapan sebelumnya.
Fogging di RT saya gratis. 
April 16th, 2007 — Kesehatan, Politik, Sosial, Story
Sebenarnya saya paling sebel kalau berurusan dengan birokrasi pemerintahan harus nyebutin “saya itu saudaranya pejabat si anu dan anu”.
Pelajaran pertama dengan menyebutkan “saudaranya si anu dan anu” sewaktu Bapak saya masuk rumah sakit di bilangan Bendungan Hilir.
Bapak saya sih cerita sama suster atau dokter di sana kalau beliau itu dari masa remajanya memang main di lapangan sepak bola Rumah Sakit itu, kenal si A dan si B. Memang sih, si A dan si B atau sampai si Z kerja dan menjadi orang terpandang di rumah sakit tersebut. Terus beberapa mantan murid saya adalah pegawai rumah sakit tersebut plus saya lahir di sana juga.
Gw aja dengernya sebel banget. Apa hubungannya ?!!
Nah, itu awal nginap di rumah sakit tersebut. Setelah ada masalah dengan kelamaan Bapak saya nginap di rumah sakit tersebut dipanggillah saudara yang jadi dokter di rumah sakit bilangan Grogol.
Gw aja ditegur sama saudara, “Auliah kenapa sih tidak bilang kalau kita itu saudara si Anu dan anu, Kepala Rumah sakit ini masih saudara kita ?!”
Gw tanya, “Apa hubungannya ?”
“Minimal kita diperhitungkan dan mereka harus bersikap hati-hati”
“Oh …,” bulat kata gw
Lima tahun kemudian, Bapak saya nginap lagi di rumah sakit itu dan langsung dibilangin ke gw sebagai anak tertua.
“Auliah, kita punya saudara yang sekarang jadi orang nomor satu di negeri ini dan dokternya pribadinya juga orang sini”
“Oh …,” kata gw bulat. Dan seperti biasa gw ga ngomong tuh sama seantero rumah sakit dan yang ngomong orang lain :p
Nah, tahun 2007, adik aul punya masalah dengan pihak kepolisian Bintaro alias dipersulit. Surat pemblokiran atas kasus pencurian sepeda motornya belum keluar juga padahal itu untuk ngurusin asuransi.
Akhirnya dengan sangat terpaksa, keluarga gw pake jurus pamungkas …
“Kita itu punya ipar orang Brimob, ada yang Brigjen, ada yang Kapten … dan lain-lain …, mau main-main sama anak kolong !!”
*gedubrak*
April 14th, 2007 — Artikel, Kesehatan, Sosial, Story
Ada seorang bapak yang datang ke tempat saya dan membaca tulisan “DILARANG MEROKOK”. Berujarlah beliau kepada saya,
Dulu, kalau membaca “DILARANG MEROKOK”, saya sedih sekali karena tidak boleh merokok. Tapi sekarang, saya senang sekali ada tulisan seperti itu karena untuk kesehatan kita bersama. Si aktif juga kena penyakit bahkan yang pasif lebih parah lagi efeknya. Apalagi saya punya anak-anak harus dijaga kesehatan demi masa depan mereka.”
Suaranya mula-mula senang tapi pas diakhir kalimatnya berubah sendu.
Saya menaruh himbauan “DILARANG MEROKOK” di dinding bukan tanpa alasan. Kita pasti sudah tahu semua bahayanya merokok baik bagi si pasif dan si aktif. Saya tidak setuju kalau disediakan ruangan khusus untuk siperokok. Kalau pun ada pasti saya buatkan ruangan super tertutup tanpa kipas pembuang. Biar nyaho.
Dulu, sewaktu pulang pergi dari Bekasi ke Tebet Timur untuk sekolah SMP, pagi hari yang segar, matahari masih malu-malu, banyak sekali orang kerja membakar tembakau di dalam bis yang padat. Orang-orang seperti kumpulan ikan Sarden di dalam kaleng. Saya suka sekali bau cigarette sewaktu disulutkan pertama kali oleh api. Baunya itu lho sangat harum. Kadang-kadang saya menghirup sangat dalam tanpa sepengetahuan si empunya. Waktu tiga bulan sangatlah menyenangkan dengan bau itu.
Saya tersentak kaget ketika salah seorang teman wanita satu kelas memberitahukan bahkan menjurus menuduh “Auliah, kamu merokok ya ?”. Langsung saya jawab, “Tidak ! Kenapa ?”. “Baju kamu bau rokok !”, katanya lagi. Saya cium baju, iya benar bau rokok. Baunya membuat hidung saya sakit. Pikir-pikir asal bau rokok ini darimana ya ? Padahal dari rumah sudah wangi dan segar. Aha, saya ingat ! Tadi di bis ada beberapa laki-laki merokok, hmm asapnya yang menempel ke baju. Waduh, gawat … Saya katakan ke teman saya “Tadi ada beberapa laki-laki merokok di bis”. “Ohh …,” kata teman saya bulat.
Semenjak pemberitahuan itu, sesekali saya mencium baju saya sampai berada di rumah. Percuma donk kalau dari rumah wangi tapi ga sampai 5 menit udah bau rokok.
Aku benci asap rokok !!!
Nah, cerita diatas tidak begitu besar kali ya efeknya, cuma saya setiap hari ditanyain terus sama teman saya itu “Auliah, bajunya masih bau rokok ya ?” Lama kelamaan teman-teman satu kelas tahu semua bahwa baju Auliah setiap hari bau rokok.
Email dibawah ini dampak efek berat dari merokok. Yang terkena si pasif. Subject email tersebut “True Story” dari Aris di milist femaleafterhours tertanggal Wed Sep 29, 2004
*Adakabar menggemparkan di kantorku belakangan ini. Tiba-tiba saja Ibu Manajer Produksi kami divonis menderita kanker Paru-paru stadium 3B dengan masa hidup diperkirakan 5 bulan lagi.*
*Sekitar 3 minggu yang lalu, Beliau memeriksakan diri ke poliklinik Kantor karena mengeluh sesak nafas. Awalnya sesak nafas hanya terjadi pada saat berbaring untuk tidur di malam hari, yang dipikir karena kecapekan. Lama kelamaan, sesak nafas juga terasa ketika berkerja di kantor. Karena itulah akhirnya memutuskan untuk ke poliklinik. Dokter poliklinik bilang tidak apa-apa, tapi Mira W pengarang yang juga dokter menyarankan beliau untuk foto X. *
*Hasil foto tersebut cukup mengagetkan karena ada bercak di paru-paru. Ternyata ada 1 liter air di dalam paru-paru, yang disebut terkena paru-paru basah.*
*Sejauh yang banyak orang ketahui, paru-paru basah biasanya disebabkan karena sering berpergian pada malam hari, sering bertelanjang dada apalagi tersorot langsung kipas angin. Tapi Beliau ini tidak pernah begitu.*
*TERNYATA menurut dokter, penyebabnya adalah kerena beliau adalah PEROKOK PASIF.*
*Beliau tidak merokok, suami dan anak juga tidak (lingkungan rumah tidak ada asap rokok), tapi … Memang di kantor selama bertahun-tahun, beliau terpaksa menghirup asap rokok dari teman-teman kantor apalagi kantor ber-AC.*
*Sampai saat ini, beliau sendiri tidak merasa ada penyakit fisik yang berarti. Setelah disedot itu, bahkan merasa bernafas lebih lega.*
*Tapi ternyata, setelah dilakukan citiscan, dokter menyuruh untuk melakukan sedotan lagi, dan hasilnya keluar lagi cairan sebanyak 1,4 lt.*
*Katanya, Kanker paru-paru memang seperti PENCURI yang benar-benar tidak terlihat gejala-gejala apapun, tau-tau udah PARAH banget.*
*Bayangkan saja sudah stadium 3B, Beliau tidak merasa sakit serius?!*
*Kita semua ingin Tidak Percaya dengan diagnosis dokter, apalagi melihat penderita kok sepertinya sehat2 saja.*
*Tapi sayangnya, beliau sudah tanyakan ke beberapa teman dokternya, dan jawabannya sama.*
*Dan, semoga sharing ini bisa menggugah teman2 yang merokok untuk STOP SMOKING atau setidaknya mulai sekarang punya kesadaran untuk TIDAK MENCELAKAKAN ORANG LAIN, yang mungkin saja adalah salah satu dari ibu, anak, adik, kakak atau teman Anda. ;)*
Terima kasih.
Trims,
Aris ga pake H
Ada satu lagi “True Story”. Seorang penjaga Wartel, juga kena kanker paru-paru stadium 4. Sama seperti cerita di atas. Dia dan keluarganya tidak merokok tapi para pelanggan Wartel lah yang merokok. Padahal Wartelnya ada AC. Saya ga tahu ya.. kenapa orang Indonesia di ruangan ber AC tetap merokok !!! Padahal mereka tahu kalau di ruangan ber AC dilarang merokok. Kita yang buta mata dan hati atau kita memang bego atau kita memang suka mencelakakan orang lain atau tidak punya rasa perikemanusiaan ?!!!
Si penjaga Wartel ini, makan aja susah apalagi untuk berobat untuk penyakit yang tunggu mati. Dia tidak bisa minta pertanggung jawaban dari para pelanggan karena yang menggunakan Wartel suka ganti-ganti. Dan dia tidak tahu efek dari rokok sebegitu besarnya. Maklum dia orang kecil yang jarang membaca, mendengarkan televisi, cari-cari informasi.
Tapi nasi telah menjadi bubur kan !!??
Sebelum nasi menjadi bubur. Cobalah para perokok dengan sekuat tenaga untuk menghentikan merokok. Kalau ga bisa pelan-pelan. Coba dicamkan dalam pikiran, bayangkan wajah-wajah orang tercinta. Kalau merokok yang paling parah terkena adalah orang-orang tersayang. Toh, uang yang dikeluarkan untuk berobat tidak sebanding dengan kenikmatan merokok yang sesaat. Bahkan nyawa taruhannya.
Dulu Bapak saya perokok berat. Semenjak menikah dengan ibu saya yang kebetulan tidak suka sama asap rokok, Bapak berusaha tidak merokok di dalam rumah dan sekitarnya.
Semenjak mempunyai anak, Bapak saya dengan tekad bulat berhasil menghentikan merokoknya. Kata beliau demi anak-anak dan istrinya. Uangnya bisa buat makan lagipula ga kenyang kok kalau merokok.
Berita terkait :
Perokok Second Hand
Banyak Alasan Untuk Berhenti Merokok
Sakit Kok Ngajak-Ngajak
January 26th, 2007 — Kesehatan
Menatap layar monitor terlalu lama akan membuat mata pedih, kering dan sebagainya. Untuk mengatasi hal tersebut, layar monitor diberi screen monitor untuk menghindari mata sakit. Pada zaman sekarang memang ada monitor yang ramah dengan mata tapi untuk menjaga kejadian yang tidak diinginkan, perlindungan masih diperlukan.
Kalau kita ke warnet atau tempat rentalan jarang sekali ada screen monitor padahal sangat diperlukan. Kita tidak mungkin membawa screen monitor kemanapun kita pergi bukan ?
Solusinya mempunyai kacamata komputer. Kaca mata komputer ini sama seperti kaca mata min atau plus atau kacamata untuk ngeceng. Bedanya sebagian kaca berwarna hijau, letaknya diatas. Sedangkan berwarna bening yang terletak di bawah untuk melihat tulisan agar jelas.
Kacamata ini bisa dibuat di optik dengan harga frame dari yang mahal sampai yang murah untuk berbagai macam merk. Atau bisa juga beli frame murahan lalu buat kacanya di optik.
Saya punya satu walaupun tidak keren-keren amat. Framenya dan kacanya plastik. Maklum saya itu suka selebor. Waktu itu harganya Rp. 50.000,- karena menghabiskan stok, kebetulan optik itu baru kena rampok dan tante saya kenal sama pemiliknya. Rampok ini masuk lewat gorong-gorong di Blok M. Dan semua isinya hampir bisa dikatakan terkuras habis. Berita perampokan ini pernah masuk TV dan koran sekitar tahun 1990-an … termasuk heboh saat itu.
Kalau tidak lupa, saya pasti membawa kacamata komputer jika ingin ke warnet atau rental komputer agar saya bisa bertahan agak lama. Kalau tidak ada screen monitor atau tidak memakai kacamata komputer, saya paling sanggup 5 menit didepan monitor dengan jenis apapun.
June 15, 2006
January 14th, 2007 — Kesehatan
Date Posted : 8 April 2006
Yang dimaksud dengan dokter jerawat adalah dokter spesialis kulit dan kelamin. Selama saya pergi ke dokter kulit kebanyakan orang berkonsultasi tentang jerawat. Kalau penyakit kulit yang lain atau yang berhubungan dengan kelamin, paling-paling cuma 1 atau 2 orang saja. Itu menurut info yang saya dapat lho …
Tujuan ke dokter kulit .. yaaa karena jerawat ga sembuh-sembuh, timbul tenggelam juga cerewetnya ibu. Cuma 1 biji jerawat aja diributkan. Aul sih sebenarnya ga ambil pusing dengan jerawat. Ga parah-parah banget dibandingkan dengan orang yang pernah saya lihat punya jerawat sampai mukanya bopeng-bopeng.
Udah kesel dan kuping panas, dengan sangat terpaksa pergi ke rumah sakit Angkatan Laut yang lokasinya dekat kantor. Hmm …. akhirnya … akhirnya kesana juga :)). Jam 8 pagi udah ngendon di rumah sakit dan pastinya minta izin kantor donk …:D
Yang Gemuk Pengen Kurus, Yang Kurus Pengen Gemuk
Sudah daftar, bayar, antri dan akhirnya duduk didepan dokter kulit. Dokternya perempuan, umurnya sekitar 40-an … hmm kira-kira seumuran tante-tante saya di Bendungan Hilir – memang dokternya teman salah satu tante saya :)) -. Setelah lihat-lihat map saya, akhirnya ia bertanya :
“Ada keluhan apa, Auliah ?”
“Jerawat dok … mau dihilangkan!”
Sambil lihat map lagi … “Hmm, usia masih 22 tahun ya … ga pa pa, wajar kok .. biarin aja .. nanti sembuh sendiri … jerawat kamu ga parah kok“
Sambil geleng-geleng kepala “Yang gemuk pengen kurus, yang kurus pengen gemuk… perempuan itu aneh .. manusia itu aneh …”
Saya hanya nyengir kuda. Tidak lama kemudian datang mahasiswa kedokteran yang kuliah lagi ambil spesialis. Disini saya mulai ga demem. Paling ga suka ditontonin sama koas (seingat saya, istilah untuk dokter yang spesialis).
“Ada keturunan ?” tanya dokter lagi.
“Ada dok, dari pihak Bapak. Dokter kenal yang tinggal di gang 10 ? itu keluarga Bapak.”
Sambil mengangguk, ia menyenderkan badan ke kursi.
Dokter kulit ini kenalan tante saya yang nomor 3 dan tinggal di Bendungan Hilir Gg. 10.
“Dimuka kamu ada bekas jerawat, suka dipencet-pencet ?”
Dengan semangat saya jawab …
“Enggak kok dok ….”
“Lho, ada luka parutnya …”
Sambil mengernyitkan dahi … “Tapi dok, saya ga pernah pencet-pencet deh…”
“Suer deh”, kataku dalam hati.
Lapnya Seperti Tante Genit
“Begini Auliah …
Cara melap muka yang ada keringatnya, jangan digosok-gosok, jangan keras-keras. Lemah lembut aja, seperti ini …. sambil mengambil tissue ditepuk-tepuknya dengan lembut ke muka”.
Saya melihatnya tertawa dalam hati dan berkata “Kayak, becandaan saya dan teman-teman sewaktu kecil, kalau ngatain tante genit sewaktu melap mukanya yang kena keringat” :)).
“Terus … “, katanya lagi. “Pake tissue yang lembut, habis itu langsung buang, ga boleh disimpan. Tidak boleh pake handuk, saputangan, pake tissue, langsung buang”.
Wah … rugi bandar … !!!
“Kenapa pake tissue sekali pake ?”, tanyaku menyelidik.
“Karena … tidak tercemar sama kuman, debu, kotoran. Menyimpan handuk biasanya ditas, udah penuh kotoran. Tissue dipegang-pegang, berada diruang terbuka yang banyak debunya .. terus dilap lagi ke muka .. bukannya tambah bersih malah tambah kotor”.
Waduh … berapa helai tissue dalam sehari, sebulan, setahun yang akan dihabiskan dan berapa uang yang harus keluar … waaaahhhh!!!
Saputangan … handuk … ?!!
“Jangan lupa, tidak boleh menyentuh wajah dengan tangan, karena disana juga banyak kuman, bakteri, kotor, udah bekas pegang sana sini”.
Makan Rebus-rebusan
“Terus … Auliah ga boleh makan berminyak, coklat, susu berlemak, santan, goreng-gorengan, pedes-pedesan, kacang-kacangan …!!”
Sebelum daftarnya tambah panjang, saya cut ….
“Jadi, dok …. saya hanya makan rebus-rebusan ?”
Dokter mengangguk
MATI AKU !!
“Tapi dok, saya kan orang Padang, ga lepas dari makanan begituan …”
“Auliah mau sembuh tidak ?!”
Saya pun terdiam.
Sebenarnya bukan masalah orang Padang atau tidak … Sebenarnya ga tega memberatkan Ibu untuk mikirin menu tambahan.
“Iya deh dok, saya akan coba…”
“Sementara segitu dulu. Auliah punya alergi obat ?”
“Tidak dok. Saya punya maag”
Sambil menulis di kertas resep.
“Saya kasih antibiotik, makannya harus sampai habis dan vitamin A. Dua minggu lagi kamu kesini”
“Baik, dokter”
Selama saya disana, sesekali saya melirik empat orang koas Trisakti. Terus terang aja, semenjak datangnya 2 orang wanita dan 2 orang laki-laki calon dokter spesialis itu, udah ga nyaman. Saya sih maunya ga ada yang boleh dengerin percakapan kami berdua.
Saya keluar sebelumnya bilang permisi, terima kasih kemudian menembus obat.
Setelah sampai dirumah, saya bilang ke ibu bahwa dokter melarang hal diatas. Ibu gembira dan antusias. Saya sendiri, mula-mula, agak berat ya … hambar tapi lama-lama biasa kok.
Efek pelarangan itu, yang paling terasa sampai sekarang … saya jadi ga begitu suka pedas. Bila orang bilang ga pedas, saya bilang pedas sekali. Kalau beli nasi goreng, mie goreng, ketoprak, gado-gado sudah menjadi kebiasaan bilang ke tukangnya “Pak, minyaknya dikurangi, kalau bisa ga usah pake minyak goreng :D, terus cabenya yang sedang atau cabenya 1 buah aja or tidak pake lada”. Kalau bubur ayam, biasanya ga pake sambel, ga pake kacang. Jadi cerewet amat … :))
Kilang Minyak
Dua minggu kemudian, datang lagi…
Koasnya udah pada datang.
“Pagi, dok …” sambil melirik para koas dan memberi senyum kepada mereka. Wah ada yang cakep nih…
“Pagi, Auliah …”
“Obatnya sudah dihabiskan ?”
Saya mengangguk
“Dok, muka saya terlalu berminyak. Menghilangkannya gimana ?”
“Kayak kilang minyak donk … :)”
Iiih, orang nanya serius malah becanda.
“Bukannya bagus, awet muda tapi memang perawatannya harus ekstrak karena muka jenis ini gampang sekali kotor apalagi rumah Auliah jauh” dengan nada kembali serius.
“Auliah, sholat ?”
“Iya, Bu”
“Kalau sholat, mukanya dibasuh pake apa?”
“Pake air doang …”
“Pake air dan sabun. Sabunnya harus yang ph balance. Kalau perlu pake sabun bayi. 5 kali sholat 5 kali cuci muka pake sabun tidak boleh air saja. Jika membersihkan make up pun, harus benar-benar bersih… terserah Auliah apakah pake pembersih, astringen kemudian cuci lagi dengan sabun bayi atau ph balance. Dan jangan lupa kalau mau tidur, cuci muka juga ya …. Tahu kan yang Ph balance, banyak kan yang dijual”.
“Tahu dok …. Baik dok”.
Banyak “JANGAN”nya
“Jangan stress, ga boleh banyak pikiran … nyantai aja”.
“Jangan punya poni. Keramas setiap hari. Karena rambut itu juga kena debu, kotoran, asap knalpot. Apalagi rumah auliah kan jauh. Harus diikat rambutnya, dibando … pokoknya diusahakan rambut jangan menyentuh wajah. Dan sekali lagi, jangan menyentuh wajah. Jangan melap muka dengan tangan”.
Sambil dengerin petuah sang dokter, sesekali melihat para koas yang dari tadi cuma jengar-jengir. Hmm … si ganteng mesem-mesem aja :)).
Kesimpulan dari semua itu … saya harus bersih … bersih … bersih … dan bersih.
Udah selesai konsultasi, dikasih antibiotik dan vitamin A, disuruh balik lagi 2 minggu lagi.
Beberapa minggu kemudian obat antibiotik mulai dikurangi pemakaian. Tapi takaran vitamin A masih seperti diawal sewaktu ke dokter.
Bekas Jerawat
Bulan ke tiga. Saya bertanya bagaimana cara menghilangkan bekas jerawat. Jawabannya seperti ini :
“Biarkan saja, nanti juga hilang sendiri”
Saya pun tercengang, ga lama kemudian tanya lagi …
“Berapa lama dok ?”
“Bisa berminggu-minggu, berbulan-bulan”
Again, tercengang lagi ….
Aduh … sebenarnya saya ga nyangka kalau jawabannya seperti itu … nyantai minah…
Menurut dokter wajah saya sudah mendingan kemudian dilakukan pembakaran (lupa namanya apa). Maksudnya mengeluarkan lemak-lemak yang bisa menimbulkan jerawat atau apa lah namanya … Auliah ga ngerti, pokoke pasrah deh … Udah selesai, muka kayak udang rebus. Kasihan deh muka, kata dokter, ga boleh kena sinar matahari. Terus dikasih salep, vitamin A dan antibiotik.
Beberapa kali dibakar dan sudah berjalan 8 bulan pengobatan, akhirnya Auliah berhenti karena kasihan wajah selalu jadi korban penderitaan.
Dan akhirnya …. kalau udah jerawat …. ya jerawat aja …. entar sembuh sendiri ….:D … tul ga !!!
January 5th, 2007 — Kesehatan, Story
Wabah flu burung mulai lagi. Telah ditemukan burung yang mengandung virus berbahaya bagi manusia di Vietnam baru-baru ini.
Jadi ingat kejadian 2 lebaran kemarin yang sedang gencar-gencar flu burung.
Bapak ingin telur dadar buatan Auliah pada pukul 21.00 WIB. Auliah buatin. Kupas dan iris bawang merah, bawang putih serta bawang bombay secukupnya. Iris halus daun bawang, sejumput garam. Kemudian masukkan 2 telur ayam dari kulkas. Aduk. Cicipin sedikit. Cicipan lagi .. tambahkan garam .. kurang rasanya. Upssss ….
Setelah masak dengan model telur dadar kering berorama menggugah selera kesukaan Bapak. Makan deh kita karena sudah laper banget. Setelah itu badan panas, pilek, sesak napas.
Waduh…
Besok harinya, keadaan tubuh masih sama. Lusanya masih sama. Panik … flu burung kah ? Tanya ke teman yang sekolah farmasi, browsing internet. Wah.. salah satu ciri flu burung ada tuh di Auliah. Tapi teman sih menenangkan Auliah.
Kebetulan siangnya, murid saya yang dokter, kursus nih… tanya deh. Kata beliau, tunggu saja 3 hari, kalau dalam tiga hari sudah sembuh berarti gpp. Tapi kemungkinan besar, Auliah tidak flu burung kok.
Waduh, tunggu satu hari.. gw ga tahannya sama sesak napas dan ga bisa tidur, mikiran kematian :)). Juga terasa dunia itu sempit. Malamnya karena udah ga kuat, ingat obat sesak napas yang diberikan dokter. Auliah minum. 10 menit kemudian - kurang lebih lho - udah ga sesak napas lagi tapi panas dan pilek masih sih.. but it’s ok.
Penderitaan banget…
Ingat-ingat…
Sebelum bikin telur dadar itu, minum 2 gelas gede tupperware yang isinya air sirup sangat dingin. Habisannya setiap buka kulkas sirup merah itu selalu menggiurkan. Sirupnya sisa puasa kemarin dan Auliah belum pernah minum saat itu. Dan itupun pake ngumpet. Ga boleh minum dingin nanti dimarahin sama Ortu.
Ini akibat laper mata dan ga bisa nahan nafsu.
Besok-besok hari, Auliah ga bakalan nyicipin adukan telur dadar … kapok
Soal minum dingin… hmmm… dikit boleh kan … spesialnya es krim. Auliah suka banget sama es krim.
GEDUBRAKKKK 
December 5th, 2006 — Kesehatan
Memang jerawat tidak boleh dipencet-pencet, selain meninggalkan luka parut juga ada bekasnya. Untuk kasus ibu asal Manado kena getahnya akibat memencet jerawat, al hasil parah booo…
Berikut liputannya ….
Hati-hatilah bila Anda memiliki kebiasaan mencongkel jerawat. Belum lama ini seorang ibu asal Manado, Sulawesi Utara, menderita tumor wajah karena kebiasaan memencet jerawat. Bahkan wajahnya rusak parah dan tak berbentuk lagi.
Nur Lamusa menderita tumor wajah sejak 15 tahun silam. Beruntung sebuah lembaga kemanusiaan memberikan pertolongan agar Nur dioperasi face-off di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat. Setelah operasi, Nur akan dirawat di RSCM selama tiga bulan. Sebelum dioperasi, tumor ibu tiga anak ini hanya diobati untuk mencegah pertumbuhan sel tumor.
Amir Zuhdi, dokter di RSCM mengatakan, operasi wajah diperkirakan tak akan mengembalikan wajah Nur seperti semula. “Rahang atasnya sudah tidak ada, hidungnya tidak ada, matanya tidak ada, pipinya sudah tidak ada. Wajahnya rata,” kata Amir.(DNP/Abdul Rosyid)
Sumber : liputan6.com
November 28th, 2006 — Kesehatan, Komputer
Rasanya mau muntah, jijik kalau keyboard udah dekil, hitam-hitam, ada remah-remah makanan. Mouse lengket, berminyak, berkeringat. Layar monitor banyak sidik jari … merusak pemandangan aja. Biasanya setiap 6 bulan sekali bersih-bersih. Bersih-bersih keyboard, monitor, kabel. Bersih-bersih ini bisa dilakukan sendiri tanpa tukang service komputer dengan syarat punya pembersih khusus komputer (cairan warna biru, biasanya 1 dirijen kecil seharga 20.000 rupiah, bisa ditawar), lap halus, kanebo, kuas ukuran sedang atau kecil (belilah yang berbulu halus), kalau perlu masker untuk penutup mulut dan hidung. Untuk layar monitor dan mouse dibersihkan dengan kanebo setiap pagi hari. Saya tidak tahu apakah diperbolehkan. Yang jelas layar monitor dan mouse saya sampai saat ini tidak apa-apa. Untuk keyboard harus mempunyai waktu khusus karena harus dibongkar tombol-tombolnya. Biasanya mencongkel tombol-tombol itu dengan obeng kecil min dengan hati-hati sekali. Kalaupun akhirnya tergores, biasanya sisi tombol … hmm tapi gpp, jarang terjadi kok dan keyboardpun masih bisa jalan. Susunlah tombol-tombol tersebut sesuai posisinya yang asli ditempat terpisah dan bersihkan dengan cairan khusus untuk komputer. Papan keyboardnya dibersihkan dengan kuas ukuran sedang atau kecil dari kotoran. Untuk mouse, bukalah bautnya, hapalkan posisi papan yang berisi transistor, bersihkan rodanya dengan cairan. Nah, kotoran diroda ini yang suka menghampat laju jalannya mouse. Jadi kalau macet jangan dibanting.
Cara cepat : buka penutup rodanya, lepas bolanya dan bersihkan rodanya dengan kuku setelah itu cucilah tangan Anda. Jika tidak sempat mencuci tangan dan sedang berada di warnet atau rental komputer, jangan menggosok hidung dan mata, makan, memasukan jari ke mulut apalagi cari harta karun dihidung. Setelah bersih tombol-tombol keyboard, lanjutkan ke monitor (cukup diluarnya saja), kabel-kabel atau menurut Anda sudah kotor …. bersihkan. Kalau CPU berwarna putih dan tidak luntur warnanya, bersihkan juga. Untuk mengetes apakah warna cat tidak luntur, cobanya sedikit ditempat yang tidak terlihat. Ups, ada yang ketinggalan. Selama membersihkan komputer jangan terhubung dengan listrik … nanti kesetrum :D. Nah, setelah selesai semua dan menurut Anda sudah bersih, coba perhatikan dan duduk dengan manis didepan komputer …. bagaimana … nyaman bukan ??… dan pasti orang-orang yang melihatnya akan bertanya “Baru beli komputer baru ya ?”
November 28th, 2006 — Kesehatan
Maag & Obat Antibiotik Sakit itu tidak menyenangkan, menyebalkan dan merepotkan. Apalagi sakit itu sudah sangat parah, terus kita harus hati-hati makan sesuatu. Pantang ini .. Pantang itu.
Saya kena maag waktu kelas 3 SMP. Saya ga tahu kalau telat makan kemudian makan banyak banget menyebabkan perut melilit itu adalah maag. Awal-awal ga begitu parah. Terus waktu kerja, muncul lagi ditambah banyak pikiran. Kata dokter, maag itu ada dua jenis yaitu maag yang disebabkan karena salah makan dan maag karena pikiran. Kalau saya bisa kedua-duanya. Tapi keseringan telat makan dan salah makan juga.
Untuk obat, harus hati-hati meminum obat antibiotik. Pengalaman pribadi saya, obat antibiotik itu membuat mual, mau muntah dan kalaupun terpaksa makan obat tersebut, dokter akan memberikan takaran yang rendah. Alhasilnya lama sembuhnya.
Waktu saya operasi usus buntu, dokter memberitahukan urutan obat yang terlebih dahulu dikonsumsi. Kalau tidak salah ingat antibiotik diurutan terakhir. Kalau tidak sesuai urutan saya akan mual, muntah dan tidak bagus untuk jahitan diperut yang masih basah. Wah.. saya ga mau lagi dijahit dan operasi lagi. Lagi pula ga enak, mual dan ingin muntah, rasa sakit sehabis dioperasi masih terasa.
Waktu kena penyakit tipuspun, saya membutuhkan kesembuhan 3 minggu dan istirahat kurang lebih 3 bulan plus tidak boleh kerja berat, tidak boleh banyak pikiran, kalau perlu ga usah ke kantor. Jadi tidak seperti orang lain, yang sembuhnya cuma seminggu or kurang. Saya diberi obat antibiotik dengan takaran yang rendah. Kalau antibiotik menimbulkan efek sampingnya muntah dan mual, saya harus buru-buru ke dokter untuk mengganti obat antibiotik dengan merk lain sampai ketemu antibiotik yang ramah dengan lambung saya.
Saya pernah baca juga, maag yang parah bisa komplikasi ke organ yang lain, misalnya jantung. Bahkan bisa meninggal dunia.
Jadi kalau sakit, saya takut.
Segitu dulu. Sakit itu memang tidak menyenangkan … Jadi jangan telat makan. Sehat itu sangat berharga.