Entries Tagged 'Politik' ↓

Indonesia Unite

Bom yang melanda kembali ibukota Jakarta membangkitkan rasa solidaritas, kebangsaan, kekuatan dan keberanian bagi anak bangsa.

Dari komunitas twitter, muncullah semangat yang disebut INDONESIA UNITE.

Hal ini menunjukkan kepadan dunia bahwa rakyat Indonesia tidak takut terhadap para pembom yang bikin rusuh Indonesia.

Mari kita perangi orang gila-orang gila yang membuat kita tidak nyaman di rumah sendiri

Hidup Indonesia Unite. Kita TIDAK TAKUT.

Cek Ke Kelurahan untuk PilPres

Kemarin siang, bapak saya ke Kelurahan untuk mengecek perpanjangan Kartu Keluarga. Kartu Keluarga ada salah penulisan, padahal Kartu Keluarga yang lama disertakan juga. Tidak tahu kenapa bisa salah penulisan nama.

Setelah Kartu Keluarga dinyatakan belum selesai, bapak mengecek keikutsertaan keluarga untuk pemilihan Presiden mendatang.

Setelah dicek sampai 5 kali, tidak ada nama anggota keluarga yang berjumlah 4 orang. Padahal Pemilu untuk anggota dewan kita, 4 orang, sudah contreng. Keluarga adik sudah ada namanya sebagai pemilih Presiden. Karena nama keluarga tidak tercantu, akhirnya bapak mengisi formulir susulan.

Tadi pagi, kembali bapak saya ke Kelurahan untuk mengecek permohonan susulan pemilihan Presiden, belum jadi.

Saya saranin ke bapak agar setiap hari saja ke Kelurahan ……… hahahahaha

Jangan sampai kasus Pilkada Depok kemarin terulang, sudah daftar tapi 1 hari sebeluh hari Hnya tidak dapat kemudian kita panggil wartawan. Setelah panggil wartawan dan super heboh baru deh kartunya nonggol. Kata Ketua RT alasannya keselib. Padahal sebelum wartawan datang, katanya udah dicariin tapi ga ketemu.

Jadi teman-teman, jika ingin ikut pemilihan presiden, buru-buru cek ke Kelurahan setempat sebelum tanggal 30 Mei.

Untungnya Ada Musibah

Tadi pagi, saya akhirnya pergi ke Situ Gintung.

Sebenarnya mau kesana udah lama, tapi karena dilarang sama yang ditelevisi karena akan merepotkan orang sana dan juga ga etis aja, kok orang kena musibah jadi tontonan. Lagipula saya paling bete kalau macet, apalagi macet total. Kemudian tempat parkir juga rada susah, takut keamanan tidak terjamin.

Diantar sama Bapak, kita ke Danaunya, Bayarnya Rp. 5.000 per orang. Bapak saya menunggu di luar danau. Saya disambut oleh 4 atau 5 anjing yang tak terurus. Melangkah dari pintu masuk kita, kanan dan kiri ada bangunan. Kita sudah bisa melihat tempat yang luas, ada arena outbound, pohon tinggi, lebat dan jaraknya berdekatan. Di sana juga tersedia tiang untuk menaruh burung, mungkin menyediakan perlombaan untuk burung kali ya….

Ada tempat untuk mencuci tangan dan ada tempelen Lifebouy. Agak jauh, ada ibu-ibu dan beberapa perempuan sedang membereskan perabotan jualannya. Saya tidak bertanya kenapa pagi-pagi sudah membereskan dagangan. Hmm … sepertinya tidak usah ditanya karena hari ini Senin. Memang suasana sepi, cuma terdengar suara mesin pemotong rumput. Di pinggir danau yang sudah agak mengering, ada 4 orang bapak duduk-duduk sambil bergurau. Sepertinya asyik ..

Di beberapa tempat ada air berwarna coklat yang tingginya dangkal. Banyak kerambah ikan berantakan. Dasar danau isinya semuanya tanah. Ada spanduk bertuliskan “Selamatkan Situ Gintung”. Danau ini cukup luas yah, ada yang sampai kekuburan. Kalau lewat kuburan, tidak bayar :)

Karena sepi dan rata-rata isinya para pria, saya tidak berani sampai ke tempat yang jebol dan matahari semakin tinggi. Saya memutuskan kembali.

Duh, anjingnya ditengah jalan. Saya takut sama anjing. Saya jalan pelan-pelan, menunggu anjing keluar dari jalan beraspal. Setelah dianggap cukup aman, saya berjalan pelan menuju pintu gerbang sambil sedikit melirik ke kumpulan anjing. Mereka hanya melihat saya sebentar dan saya pun mempercepat jalan.

Perjalanan dilanjutkan ke tempat penampungan. Rupanya saya pernah lewat tempat itu. Di samping … hmm kalau ga salah ingat di samping Fakultas Psikologi. CMIIW.

Saya cuma lihat dari seberang, cuma diam 5 menit kemudian pulang. Kalau saya pikir, memang benar jaraknya jauh dari tempat kejadian.

Yang kagetnya, wek .. jalannya udah mulus, aspalnya masih berwarna hitam gelap, membuktikan bahwa baru saja diaspal. Banyak orang membersihkan got yang tidak terlalu tinggi.

Hahaha ……… bersih-bersih ni yeee…. mentang-mentang banyak pejabat lewat :p

Waktu saya lewat situ tahun kemarin, beberapa kali, jalannya bolong-bolong, gotnya banyak sampah dan kalau hujan banjir habis.

Untung ada musibah yah, coba kalau ga ada musibah, tuh jalanan masih rusak dan gotnya masih banyak sampah :p

Pas lewat di IAIN, tidak jauh dari gedung rumah sakit, ada mobil untuk mengaspal jalan … jauh amat markir :p

Untuk korban Situ Gintung semoga tabah yah menghadapi musibah ini.

Moderator Milist Dipanggil Polisi

Rupanya tak sia-sia pembuatan UU ITE. Salah satu moderator milist di tanah air dipanggil polisi Polda Metro Jaya Unit Cyber Crime dengan tuduhan yang tercantum pada UU ITE pasal 27 ayat 3, denda hukuman 6 tahun penjara dan Rp miliar sekian, maksimum.

Isi pasal tersebut kurang lebih kasus pencemaran nama baik di Internet dan milis FPK.

Duh, cuma bisa nyengir :D

Menurut saya, moderator itu hanya sebagai penonton diskusi, tapi moderator boleh ikutan diskusi karena dia juga sebagai anggota milist tersebut. Ada juga moderator tugasnya “bersih-bersih”.

Moderator memang menyortir email-email yang masuk. Tapi ada juga milist yang tidak dimoderator. Penilaian seseorang belum tentu sama dengan orang lain. Misalnya diskusi A menurut pandangan sang moderator masih dalam tahap aman. Tapi menurut si moderator B sudah tidak bagus. Tapi kalau semua moderator menganggap diskusi masih berjalan sesuai aturan yang berlaku dimilist tersebut, masih dilanjutkan. Bagaimana kalau ada satu anggota tidak suka jalannya diskusi tapi ada 1000 anggota tidak mempermasalahkan :D … susah donk

Lama-lama … takut juga nih, kembali ke zaman orba donk :(

Oh ya … maaf … isi emailnya ga bisa ditaruh disini, takut kena pasal :(

Nanti juga orang-orang pada forward kok dimilist-milist yang Anda ikuti …

Cheers … :D

Update dari detikinet.com

Milis Pembaca, Pers atau Bukan?

Jakarta - Apakah sebuah mailing list (milis) pembaca media tertentu bisa dikategorikan sebagai pers? Hal itu yang menjadi pertanyaan penyidik dalam kasus pencemaran nama baik di milis. Tepatnya, milis Forum Pembaca Kompas (FPK).

Moderator Milis Forum Pembaca Kompas, Agus Hamonangan pada Kamis (4/9/2008) diperiksa oleh Satuan Kriminal Khusus Cybercrime, Polda Metro Jaya. Agus diberi 12 pertanyaan terkait postingan artikel dari Narliswandi Piliang alias Iwan Piliang di milis FPK.

Salah satunya adalah apakah milis yang dia buat tersebut merupakan bagian dari pers atau bukan. “Saya diperiksa seputar tanggung jawab moderator dalam milis dan prosedur pengiriman e-mail,” ujar Moderator Milis Forum Pembaca Kompas, Agus Hamonangan, saat ditemui di Jakarta, Kamis (04/09/08).

Agus, yang didampingi oleh kuasa hukumnya, Nurhidayat, juga menerangkan pemeriksaan terhadap dirinya sebagai saksi dikonfrontir seputar tanggung jawab konten serta milis tersebut bagian dari pers atau bukan. Agus menjelaskan bahwa tanggung jawab konten bukan tanggung jawabnya, namun hal tersebut merupakan tanggung jawab dari pengirim.

Agus juga membeberkan bahwa milis yang dibentuknya sejak Juni 2004 tidak ada kaitannya dengan pers sama sekali. Bahkan Agus sendiri, profesinya sehari-hari adalah sebagai wiraswasta.

“Ini murni forum untuk pembaca Kompas, siapapun boleh bersuara di sana, asal tidak menyinggung soal SARA,” ujar pria berkaca mata itu.

Tulisan Iwan Piliang dalam milis pada 20 juni 2008 lalu menimbulkan gugatan dari Alvin Lie. Dalam tulisannya tersebut, Iwan menuliskan: PAN meminta uang sebesar Rp 2 Triliun kepada Adaro agar DPR tidak lakukan hak angket yang akan menghambat IPO Adaro. Bahkan Alvin Lie datang ke Kantor Adaro temui Teddy P Rahmat. Menurut Sumber, Alvin meminta uang sebesar Rp 6 Triliun, terakhir Rp 1 Miliar untuk dirinya.

Atas tulisan yang menuding dirinya tersebut, Alvin Lie pada 14 Juli 2008 lalu melaporkan Iwan Piliang ke Polda Metro Jaya. Anggota DPR Komisi VII, Fraksi PAN ini merasa tercemarkan nama baiknya. Iwan Piliang sendiri belum ditetapkan jadi tersangka.

Jadi Anggota DPRD Yukkkk

Beberapa hari ini banyak orderan pengetikan untuk mengisi formulir menjadi anggota DPRD.

Kursinya sih sedikit - lupa berapa kursi, tadi sih dikasih tahu :D - hmmm … 14 kursi atau 7 kursi ya … :D

Yang ingatnya sih, calegnya sejibun untuk memperebutkan kursi tersebut.

Menurut informasi, para caleg ini bisa mengeluarkan uang banyak untuk berebut jadi anggota Dewan Terhormat Sejagat Depok. Ya .. mulai dari foto copy segala tetek bengek, pengetikan, foto-foto … hmmm …… saya ga tahu apakah nanti kampanye mereka juga ikutan kampanye dan mengeluarkan duit untuk promosi ?
Kalaupun keluar uang, hmmm …. kalau ga dari uang pribadi — ccckkk …. banyak duit ya …. — dari sponsor atau dari partai … hmm dari partai … saya ga tau …

Memangnya enak ya jadi anggota DPRD/DPR/MPR, kok pada berbondong-bondong jadi anggota terhormat ?

Ingat saya sih, kalau jadi anggota DPRD/DPR/MPR duitnya banyak :D. Kemudian bisa jalan-jalan dari dalam kota, luar kota sampai keluar negeri.

Kerjanya rapat dan rapat. Sering lihat ditelevisi, kalau rapat suka ngantuk, baca koran, teriak-teriak, berantema atau ada yang duduk dengan takzim.
Tapi ada juga rapat yang menghasilkan Undang-Undang, Keputusan ini dan itu. Ada juga yang mendengarkan aspirasi rakyat, menyelesaikan beberapa masalah dll.

Kalau saya …. sepertinya untuk saat ini — ccieeeee — ga mau jadi anggota dewan terhormat.

Engga deh, daripada stress, walaupun disodorkan uang puluhan gepok :(

Tips Demo

Sewaktu Malaysia ada demo dari salah satu warga keturunan India, di Forum Detik saya kasih tips demonstrasi yang paling seru … hehehe - menurut saya - … sebagai berikut :

  1. Bawa helm yang full kepala. Jadi kalau dipukul masih bisa bales dan ga retak kepalanya.
  2. Pake kacamata khusus masak. Ituloh yang full nutupin mata. Kalau ga ada, pake kacamata berenang. Jadi kalau kena gas airmata masih bisa HAJAR BLEHH, ga pedes mata.
  3. Bawa tongkat bisbol, creket buat mukul kalau perlu kayu jati.
  4. Pake baju zaman romawi … hmm kalau lari gimana yach ? atau pake baju olahraga anggar.
  5. Bawa pisau … hehehehe.
  6. Menghindari asap, bawa kipas tangan.
  7. Menutup mulut, pake masker.
  8. Sebelum demo, selidiki lokasi demo agar cepat untuk melarikan diri.
  9. Bawa juga gas airmata, batu segede bogem, kaleng untuk pembalasan.
  10. Sebelum demo, sekitar satu tahunan, belajar ilmu tenaga dalam, ilmu menjatuhkan lawan dari jarak jauh atau ilmu siluman, dijamin tentara pada kelabakan deh ;)
  11. Polis kasar, pendemo juga harus lebih kasar.

Ada tambahan usul dari wongedandotcom :
Untuk melawan gas pemedih mata / gas air mata coba pakai resep berikut:
Leletkan odol/pastagigi/toothpaste di bawah kelopak mata, dijamin mengurangi rasa pedih

Dari delila : jualan kacamata renang ma tongkat pramuka

Ada yang bilang pake event organisator, isinya bisa artis-artis, para provakotar, hitman, polisi palsu, pura-pura jadi wartawan internasional dan lokal, agamawan, pelajar, PSK sampai yang bersedia bugil di jalan.

Ada-ada aja … tapi boleh juga ;)

Selamat berjuang !!

Ada yang mau tambahin ;) ?

Putra Silungkang Jadi Menteri di Malaysia

Dapat tabloid buatan anak nagari Silungkang, Kotamadya Sawahlunto, ada berita bahwa putra asal Silungkang jadi menteri disana. Jabatannya Menteri Perancangan Ekonomi.

Pak Menteri bernama Datuk Amirsham A. Aziz, FIBM, seorang Bankir. Orang tuanya asli Silungkang, Bapaknya dari kampung Patopang, ibunya dari kampung Melawas (Malowe), suku Payabadar.

Secara pribadi .. hehehehe keren aja dan yaaaaaaaaa :(

tahu kan maksud dari ya ;)

Walaupun begitu kita doain aja semoga lancar selalu pekerjaannya dan dapat menunaikan tugasnya dengan baik.

Sebagai generasi muda Silungkang diharapkan bisa menjadi motivasi yang bagus.

Untuk Pak Amirsham, jangan lupa sama kampuang halaman, jangan malu-maluin dan sering-sering lihat situs kita.

Untuk tahu siapa Pak Datuk Amirsham, bisa klik disini

Sumber : Tabloid Suara Silungkang, April Edisi Kesepuluh 2008 

Nyoblos

Akhirnya selesai juga tugas saya sebagai warga negara yang baik yaitu ikutan PILKADA Jawa Barat. Saya berubah pikiran untuk tidak menjadi golput. Tapi tetap saja ngasal siapa yang dipilih. Yang penting nyoblos kan ;)

Datang ke TPS pagi hari, sekitar jam 7.45. Kalau pagi-pagi masih sepi, jadi cepat ngantrinya. Buka TPSnya mulai jam 7.00. TPSnya di sekolah SD dan SMP Kristen Mater Dei. Saya belum pernah masuk ke dalam sekolah tersebut, paling sering lewat doang.

Kalau pagi hari, terlihat banyakan panitianya daripada yang nyoblos. Untuk acara ini dua kelas dibuka sekatnya. Ada kipas angin, kue-kue, minuman galon, kotak coblos dan teman-temannya. Seperti biasanya setelah selesai nyoblos, kelingking kita dicelupin tinta. Setelah itu langsung pulang deh.

Adik saya ga ikutan milih, karena RTnya berbeda tapi masih satu Kelurahan. Adik kalau siang ga pernah di rumahnya jadi ga dapat kartu pemilih. Sebenarnya sih, panitia Pilkada bisa datang ke rumah orang tua karena siangnya dia memang ada di rumah ortu. Waktu pilkada Depok, panitianya datang ke rumah ortu. Panitia ‘kan para tetangganya disana dan mereka tahu siapa dan dimana ortu adik saya. Jadi ga alasan kan untuk didata.

Menurut keterangan adik, banyak kok tidak menggunakan hak pilihnya dan juga banyak tidak kenal serta tidak tahu sama sekali sama kandidatnya. User saya juga gitu kok.

Walaupun begitu, saya harap nanti hasil akhir dari Pilkada Jawa Barat tidak ribut seperti daerah lain. Berisik dan seperti anak kecil. Kalau kalah ya kalah aja, terima dengan lapang dada. Kalau menang … ya syukur … amanah yang berat ‘kan. Kalau merasa ada yang ga beres, jalan keluarnya bukan ngerusakin fasilitas dan ngamuk, malu …. sama badan yang udah gede tuh …!!!

Kalau untuk Siskamling masih jalan, minggu depan Bapak saya giliran jaga lagi.

Siskamling Pilkada

Mulai pertengahan Maret ini, seluruh orang di komplek perumahan saya mengadakan siskamling.

Akhirnya …. Siskamling lagi :P
Alasannya mengadakan siskamling bukan karena banyak maling tapi karena mau Pilkada Gubernur Jawa Barat.

Seluruh Ketua RT sibuk bikin Jadwal Warga yang mau Siskamling. Siskamlingnya setiap hari Sabtu dan Minggu serta liburan tanggal merah.

Lumayan dari pada ga ada … :P

Di RT saya, ada petugas keamanan, sayangnya cuma berdua. Kedua orang Bapak ini menjaga 1 RW. 1 RW itu terdiri dari RT 1 s/d RT 6. Satu RT itu ga tahu berapa kepala keluarga jiwa .. hehehe … yang penting warganya banyak. Karena penjaganya cuma 2 orang … ya sering kemalingan juga.

Sayang ya … Siskamlingnya cuma mau Pilkada saja :(

100 Juta dari Pemerintah

Kalau kita dapat uang Rp. 100 juta dari pemerintah, suka kan ;)

Jika uang tersebut yang kita terima hanya Rp. 60 juta dan harus memberi laporan keuangan Rp. 100 juta, bagaimana, masih mau terima ?

Kalau saya, ogah …. Gede amat pemerintah korupsinya :P

Padahal uang Rp. 100 juta itu untuk kepentingan rakyat miskin agar menjadi melek teknologi dan ga ketinggalan zaman.

Pantes yach Indonesia ga pernah beres, wong pimpinannya sudah disumpahin sama orang miskin dan orang-orang teraniaya.

Vote Me

Kampanye Pilkada Jawa Barat apakah sudah dimulai ? Beberapa waktu lalu dapat SMS yang isinya “Pilihlah A*** …”.

Sebenarnya saya sudah males untuk pilih si anu atau si anu. Yang ikut pemilihan untuk jadi si nomor wahid jika sudah duduk di singgasananya suka lupa sama janjinya.

Janjinya waktu kampanye setinggi langit kenyataannya sedikit terlaksana. Alasan macam-macamlah kalau ga bisa ditepati janji. Ngelesnya pintar banget. Jadi yach …. kalau mau bikin janji, pelajarin dulu tuh janji, kalau sudah ketemu solusinya dan permasalahannya, baru koar-koar !!

Waktu pemilihan Walikota Depok yang dipilih secara langsung udah rencana ingin golongan putih. Karena dibujuk-bujuk sama Bapak dengan alasan “Ini pemilihan pertama langsung lho, belum tentu nanti-nantinya akan terjadi lagi”

:P

Ok lah demi …. demi siapa yach … demi pertama kali :P

Untuk Pilkada Jawa Barat …. suerrr gw males habis untuk milih. Jadi GOLPUT aja yukkkkk ….

Turut Berduka Cita Untuk Benazir Bhutto

artbhuttoobitafpgi.jpgMenjelang akhir tahun 2007, dunia dikejutkan dengan terbunuhnya Mantan Perdana Menteri Benazir Bhutto. Menurut berita di televisi, Beliau tertembak di bagian dada dan leher setelah berkampanye untuk Pemilu Pakistan di Rawalpindi. Menurut berita televisi Ary-One, Bhuto tertembak di bagian kepala.Si penembak ini setelah meletuskan timah panas meledak diri sehingga menewaskan 20 orang lainnya. Benazir Bhutto meninggal dunia di Rawalpindi General Hospital pada pukul 16.16 waktu setempat dan menurut rencana akan dimakamkan hari Jum’at tanggal 28 Desember 2007 di kota Sukur berdampingan dengan ayahnya Zulfikar Ali Butho. saat meninggalkan area kampanye di Rawalpindi, Pakistan.

Menurut berita di MetroTV tadi pagi bahwa Al Qaeda bertanggung jawab atas kematian Benazir Bhutto. Sedangkan pendukung Bhutto menuduh Perdana Menteri Pakistan dibalik tertembaknya Perdana Menteri Wanita pertama di dunia Islam.

Pemerintah Indonesia tadi malam sudah menyampaikan turut berduka cita tapi kenapa tidak ada kata “rakyat Indonesia”. Biasanya sih begitu yang dulu-dulu, seingat saya lho. Wong diwakilkan kek Pak SBY …. masak sendirian saja.

Pertama kali mendengar Benazir Bhutto meninggal dunia tadi malam di televisi. Adik laki-laki, saya dan Bapak kaget mendengarnya kabar tersebut. Tidak menyangka akan meninggal setragis itu.

Kita menunggu tayangan saat tertembaknya beliau sampai bom meledak tapi tak kunjung tampak. Saya bilang mungkin besok pagi kita dapat lihat di situs CNN. Pagi hari, lihat CNN sama saja tampilannya.

Jam 12.32 saya lihat ada foto di CNN dari John Moore. Lumayan walaupun masih berharap ada gambar bergerak saat penembakan tersebut di situs tersebut atau di televisi.

Update :

Kontroversi penyebab kematian Benazir Bhutto belum selesai. Terakhir diberitakan penyebab kematian mantan PM Pakistan ini karena kepalanya terbentur mobil sehingga terluka.

Komentar saya : hebat banget yach benturannya bisa menyebabkan orang meninggal dunia. Memangnya diatas mobilnya ada besi tajam atau apa yach, atau saat ada tembakan mobilnya remnya mendadak. Kalau lihat ditelevisi sekitar mobil banyak orang tuh, ga mungkin kalau ngebut. Menurut saya aneh banget.

Sementara ajudan Bhutto memberi kesaksian kematian Benazir karena tertembak.

Video CNN

Pilkada Jawa Barat

Tahun depan yaitu 2008, giliran propinsi Jawa Barat mengadakan pemilihan Gubernur. Sudah dua bulan yang lalu pemerintah dan rakyat Depok sudah siap-siap menyambut Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Mulai rapat ini dan itu, pendaftaran Panitia Pilkada di Kelurahan dan sebagainya.

Semua warga Depok boleh jadi Panitia Pilkada dengan syarat-syarat pada umumnya misalnya Warga Negara Indonesia, bukan anggota Gerakan Terlarang, dan sebagainya. Saya sendiri pernah ditawarin untuk tingkat Kelurahan tapi saya tidak mau walaupun ada uangnya, pasti repot.

Perlu diketahui jadi Panitia Pilkada digaji lho. Menurut pengalaman orang-orang yang jadi Panitia Pemilihan Walikota Depok pernah dapat honor tapi mereka kurang jelas ngasih tahu persisnya berapa. Rahasia ni yee.. tapi kata lumayanlah.

Jadi Panitia Pilkada memang report, mulai data orang-orang, susun sana susun sini, ngatur bilik-bilik sampai mengatur keuangan.

Mudah-mudahan Pilkada Jawa Barat aman, tentram, lancar seperti di DKI Jakarta. Jangan sampai seperti di Sulawesi Selatan apalagi seperti Kampanye Pemilu di Pakistan yang mengakibatkan terbunuhnya Benazir Bhutto setelah berkampanye.

Perbatasan

Saya bertempat tinggal bagian kota Depok pinggiran. Lebih dekat dengan perbatasan wilayah Bogor dan Tangerang. Lebih tepatnya perbatasan Parung dan Pamulang. Parung masuk wilayah Bogor dan Pamulang bagian dari Tangerang.

Kota Depok memang sudah banyak berdiri mal-mal, bioskop, terminal, jajanan yang enak, toko buku gede, pusat pemerintahan kota Depok dan Universitas Negeri dan swasta yang menurut Indonesia “the best” lah. Tapi semua jauh sekali jaraknya dari kediaman saya. Kalau ke kota Depok butuh banyak waktu dan uang. Bayangkan saja, jika saya ke kota Depok lama tempuh sekitar 1 s/d 1.5 jam, itupun kalau ga macet. Soal kendaraan, naik ojek dulu, kemudian angkot 2 kali, sampai di terminal naik lagi angkot untuk ketujuan yang diinginkan.

Kalau ditanya teman soal kota Depok, saya kurang tahu. Dalam 1 tahun bisa dikatakan cuma 1 kali atau bisa dikatakan tidak sama sekali.

Bagaimana dengan Bogor. Suasana, udara dan cuaca lebih dekat ke arah Bogor. Pagi yang berkabut tebal, udara agak dingin dari kota Jakarta tapi tidak sedingin Puncak Pass, tapi lumayan untuk mandi dipagi hari pakai mikir sambil mondar-mandir di depan kamar mandi. Curah hujan disini juga cukup banyak. Pernah musim hujan dalam 8 - 9 bulan, sisanya musim kemarau. Kalau ditempat saya dalam 1 minggu berturut-turut sering turun hujan, bisa diprediksi ada bagian Jakarta yang banjir.

Walaupun cuaca mendekat mirip dengan Kota Bogor, tapi dia jauh sekali dengan tempat tinggal saya. Untuk ngurusin administrasi negara jadi berat diongkos dan waktu, samalah jauhnya dengan kota Depok.

Bagaimana dengan Tangerang. Saya dan warga disini lebih dekat dengan Tangerang. Kalau sekolah SMA, SMP yang negeri maupun swasta pergi ke Tangerang. Padahal untuk ke sekolah Tangerang harus pindah rayon. Pindah rayon itu butuh biaya tambahan tapi ga pa pa daripada selama 3 tahun SMP dan 3 tahun SMA harus mengeluarkan uang banyak untuk ongkos dan pulang kemalaman terus, yahhh direlakan saja. Yang kasihan sih gurunya, harus ngurusin pindah rayon setiap tahunnya.

Di Pamulang semuanya ada kecuali Bioskop. Sudah 2 tahun ini tutup dan bangunan sudah rusak disana sini. Mungkin ga ada yang nonton. Menurut omongan orang-orang lama di tempat tinggal saya, jika mereka ingin nonton, pergi ke Bintaro, BSD, atau ke Pondok Indah, yang paling jauh ke Blok M. Kalau ke Depok bagaimana ? Katanya jauuhhhh, berat diongkos, lama lagi jarak tempuhnya plus super macet.

Pasar yang murah alias grosir larinya ke Ciputat, Cimanggis yang termasuk wilayah Tangerang, atau ke Parung. Mau ke Jakarta, naik bis ke Ciputat atau ke Lebak Bulus.

Jadi kami lebih dekat dengan Tangerang dari pada ke Depok dan Bogor untuk urusan kehidupan.

Kalau ada rakyat Indonesia yang lebih dekat dengan daerah perbatasannya dengan alasan lebih dekat untuk kemana-mana, lebih murah, lebih praktis, lebih hemat, dan sebagainya, apalagi negara diperbatasan tersebut dalam hal ekonomi lebih menjanjikan untuk penjualan hasil bumi, sekolah atau aktivitas, saya pun mengerti.

Jika Tangerang, Depok dan Bogor adalah suatu negara, saya punya passport donk. Hmmm … bayar visa ga yach …. *mode mikir*

Dan bisa lebih dari 20 kali dalam sebulan saya akan mondar-mandir dari Tangerang, Depok dan Bogor … hehehehe. Kalau ada yang tanya “Auliah mau pergi ke mana dan berapa lama ?”. Saya bilang “Mau ke luar negeri, cuma 10 menit doang kok, ke negara Tangerang, ada yang mau dibeli ….. hehehe … Beli jarum jahit doang …” gedubrak ….

Shakhrukh Khan & Islamofobia

Semenjak tragedi WTC 11 September 2001, sebagian masyarakat dunia menjadi fobia terhadap Islam. Serba curiga, ketakutan terhadap orang-orang yang bernama, bertampang dan berkewarganegaraan yang mayoritasnya Islam.

Shah Rukh Khan bintang film India yang beragama Islam mengakui kesulitan masuk London setelah kejadian tersebut.

Awal tahun depan Bollywood akan mengeluarkan film dengan judul “My Name is Khan”.

Kalau Australia fobia terhadap Indonesia semenjak bom Bali yang menewaskan banyak warganya.

Padahal otak bom Bali tersebut orang “tetangga sebelah”, kita yang kena getahnya :P

Tetangga saya yang berasal dari NTT kena fobia tersebut. Dia  menyusul suaminya yang tinggal di Australia. Dengan wajah seperti orang Papua/Ambon/Timor Leste pastilah aman kesana. Tapi setelah dia bercakap menggunakan bahasa Indonesia sewaktu keluar dari pesawat dengan sesama orang Indonesia yang bertemu di pesawat. Langsung dia diamankan oleh petugas disana.

Semua isi tas diperiksa. Dipegangnya isi tas tersebut dengan pegangan jijik. Badannya pun diperiksa. Dia juga ditanya apa tujuan ke Australia tapi petugas tidak percaya.

Cukup lama diperiksanya dan akhirnya setelah puas mengubek-ubek tas dan bawaan tetangga saya yang tidak terbukti apapun. Kakaknya yang menunggu dari tadi diluar sangat gusar.

Semenjak kejadian tersebut, tetangga saya tidak pernah berbicara dalam bahasa Indonesia di tempat umum.

Bagaimana saya yach … ? Menurut teman-teman, wajah saya seperti orang Arab. Setelah kejadian tsunami seperti orang Aceh. Cuma satu-dua orang bilang wajah saya orang Minang. Kemudian saya pake jilbab plus ditambah lagi nama saya, nama Arab. Walah, bakalan ribet :P

Keponakan Bapak saya yang sudah lama tinggal di USA sering mengajak ikutan GreenCard. Sebenarnya mau saja tapi ga punya uang (katanya uang ga usah pake alasan) … suer deh ga punya dan yang lebih penting saya TAKUT. Saya lebih aman tinggal di rumah sendiri, Indonesia.

Menurut Organisasi HAM, perlakuan rasis yang menimpa umat Islam pasca tragedi WTC menyebabkan sekitar 500 orang wisatawan dilarang masuk wilayah AS setiap hari. Dan pelarangan itu bisa saja hanya karena dugaan dan tuduhan yang belum berbukti.