Entries Tagged 'Politik' ↓
May 19th, 2008 — Politik
Sewaktu Malaysia ada demo dari salah satu warga keturunan India, di Forum Detik saya kasih tips demonstrasi yang paling seru … hehehe - menurut saya - … sebagai berikut :
- Bawa helm yang full kepala. Jadi kalau dipukul masih bisa bales dan ga retak kepalanya.
- Pake kacamata khusus masak. Ituloh yang full nutupin mata. Kalau ga ada, pake kacamata berenang. Jadi kalau kena gas airmata masih bisa HAJAR BLEHH, ga pedes mata.
- Bawa tongkat bisbol, creket buat mukul kalau perlu kayu jati.
- Pake baju zaman romawi … hmm kalau lari gimana yach ? atau pake baju olahraga anggar.
- Bawa pisau … hehehehe.
- Menghindari asap, bawa kipas tangan.
- Menutup mulut, pake masker.
- Sebelum demo, selidiki lokasi demo agar cepat untuk melarikan diri.
- Bawa juga gas airmata, batu segede bogem, kaleng untuk pembalasan.
- Sebelum demo, sekitar satu tahunan, belajar ilmu tenaga dalam, ilmu menjatuhkan lawan dari jarak jauh atau ilmu siluman, dijamin tentara pada kelabakan deh
- Polis kasar, pendemo juga harus lebih kasar.
Ada tambahan usul dari wongedandotcom :
Untuk melawan gas pemedih mata / gas air mata coba pakai resep berikut:
Leletkan odol/pastagigi/toothpaste di bawah kelopak mata, dijamin mengurangi rasa pedih
Dari delila : jualan kacamata renang ma tongkat pramuka
Ada yang bilang pake event organisator, isinya bisa artis-artis, para provakotar, hitman, polisi palsu, pura-pura jadi wartawan internasional dan lokal, agamawan, pelajar, PSK sampai yang bersedia bugil di jalan.
Ada-ada aja … tapi boleh juga
Selamat berjuang !!
Ada yang mau tambahin
?
April 21st, 2008 — Politik
Dapat tabloid buatan anak nagari Silungkang, Kotamadya Sawahlunto, ada berita bahwa putra asal Silungkang jadi menteri disana. Jabatannya Menteri Perancangan Ekonomi.
Pak Menteri bernama Datuk Amirsham A. Aziz, FIBM, seorang Bankir. Orang tuanya asli Silungkang, Bapaknya dari kampung Patopang, ibunya dari kampung Melawas (Malowe), suku Payabadar.
Secara pribadi .. hehehehe keren aja dan yaaaaaaaaa
tahu kan maksud dari ya
Walaupun begitu kita doain aja semoga lancar selalu pekerjaannya dan dapat menunaikan tugasnya dengan baik.
Sebagai generasi muda Silungkang diharapkan bisa menjadi motivasi yang bagus.
Untuk Pak Amirsham, jangan lupa sama kampuang halaman, jangan malu-maluin dan sering-sering lihat situs kita.
Untuk tahu siapa Pak Datuk Amirsham, bisa klik disini
Sumber : Tabloid Suara Silungkang, April Edisi Kesepuluh 2008
April 12th, 2008 — Politik
Akhirnya selesai juga tugas saya sebagai warga negara yang baik yaitu ikutan PILKADA Jawa Barat. Saya berubah pikiran untuk tidak menjadi golput. Tapi tetap saja ngasal siapa yang dipilih. Yang penting nyoblos kan
Datang ke TPS pagi hari, sekitar jam 7.45. Kalau pagi-pagi masih sepi, jadi cepat ngantrinya. Buka TPSnya mulai jam 7.00. TPSnya di sekolah SD dan SMP Kristen Mater Dei. Saya belum pernah masuk ke dalam sekolah tersebut, paling sering lewat doang.
Kalau pagi hari, terlihat banyakan panitianya daripada yang nyoblos. Untuk acara ini dua kelas dibuka sekatnya. Ada kipas angin, kue-kue, minuman galon, kotak coblos dan teman-temannya. Seperti biasanya setelah selesai nyoblos, kelingking kita dicelupin tinta. Setelah itu langsung pulang deh.
Adik saya ga ikutan milih, karena RTnya berbeda tapi masih satu Kelurahan. Adik kalau siang ga pernah di rumahnya jadi ga dapat kartu pemilih. Sebenarnya sih, panitia Pilkada bisa datang ke rumah orang tua karena siangnya dia memang ada di rumah ortu. Waktu pilkada Depok, panitianya datang ke rumah ortu. Panitia ‘kan para tetangganya disana dan mereka tahu siapa dan dimana ortu adik saya. Jadi ga alasan kan untuk didata.
Menurut keterangan adik, banyak kok tidak menggunakan hak pilihnya dan juga banyak tidak kenal serta tidak tahu sama sekali sama kandidatnya. User saya juga gitu kok.
Walaupun begitu, saya harap nanti hasil akhir dari Pilkada Jawa Barat tidak ribut seperti daerah lain. Berisik dan seperti anak kecil. Kalau kalah ya kalah aja, terima dengan lapang dada. Kalau menang … ya syukur … amanah yang berat ‘kan. Kalau merasa ada yang ga beres, jalan keluarnya bukan ngerusakin fasilitas dan ngamuk, malu …. sama badan yang udah gede tuh …!!!
Kalau untuk Siskamling masih jalan, minggu depan Bapak saya giliran jaga lagi.
March 24th, 2008 — Politik
Mulai pertengahan Maret ini, seluruh orang di komplek perumahan saya mengadakan siskamling.
Akhirnya …. Siskamling lagi 
Alasannya mengadakan siskamling bukan karena banyak maling tapi karena mau Pilkada Gubernur Jawa Barat.
Seluruh Ketua RT sibuk bikin Jadwal Warga yang mau Siskamling. Siskamlingnya setiap hari Sabtu dan Minggu serta liburan tanggal merah.
Lumayan dari pada ga ada …
Di RT saya, ada petugas keamanan, sayangnya cuma berdua. Kedua orang Bapak ini menjaga 1 RW. 1 RW itu terdiri dari RT 1 s/d RT 6. Satu RT itu ga tahu berapa kepala keluarga jiwa .. hehehe … yang penting warganya banyak. Karena penjaganya cuma 2 orang … ya sering kemalingan juga.
Sayang ya … Siskamlingnya cuma mau Pilkada saja 
February 10th, 2008 — Bisnis, Politik, Sosial
Kalau kita dapat uang Rp. 100 juta dari pemerintah, suka kan ;)
Jika uang tersebut yang kita terima hanya Rp. 60 juta dan harus memberi laporan keuangan Rp. 100 juta, bagaimana, masih mau terima ?
Kalau saya, ogah …. Gede amat pemerintah korupsinya :P
Padahal uang Rp. 100 juta itu untuk kepentingan rakyat miskin agar menjadi melek teknologi dan ga ketinggalan zaman.
Pantes yach Indonesia ga pernah beres, wong pimpinannya sudah disumpahin sama orang miskin dan orang-orang teraniaya.
February 10th, 2008 — Politik
Kampanye Pilkada Jawa Barat apakah sudah dimulai ? Beberapa waktu lalu dapat SMS yang isinya “Pilihlah A*** …”.
Sebenarnya saya sudah males untuk pilih si anu atau si anu. Yang ikut pemilihan untuk jadi si nomor wahid jika sudah duduk di singgasananya suka lupa sama janjinya.
Janjinya waktu kampanye setinggi langit kenyataannya sedikit terlaksana. Alasan macam-macamlah kalau ga bisa ditepati janji. Ngelesnya pintar banget. Jadi yach …. kalau mau bikin janji, pelajarin dulu tuh janji, kalau sudah ketemu solusinya dan permasalahannya, baru koar-koar !!
Waktu pemilihan Walikota Depok yang dipilih secara langsung udah rencana ingin golongan putih. Karena dibujuk-bujuk sama Bapak dengan alasan “Ini pemilihan pertama langsung lho, belum tentu nanti-nantinya akan terjadi lagi”
Ok lah demi …. demi siapa yach … demi pertama kali
Untuk Pilkada Jawa Barat …. suerrr gw males habis untuk milih. Jadi GOLPUT aja yukkkkk ….
December 27th, 2007 — Politik
Menjelang akhir tahun 2007, dunia dikejutkan dengan terbunuhnya Mantan Perdana Menteri Benazir Bhutto. Menurut berita di televisi, Beliau tertembak di bagian dada dan leher setelah berkampanye untuk Pemilu Pakistan di Rawalpindi. Menurut berita televisi Ary-One, Bhuto tertembak di bagian kepala.Si penembak ini setelah meletuskan timah panas meledak diri sehingga menewaskan 20 orang lainnya. Benazir Bhutto meninggal dunia di Rawalpindi General Hospital pada pukul 16.16 waktu setempat dan menurut rencana akan dimakamkan hari Jum’at tanggal 28 Desember 2007 di kota Sukur berdampingan dengan ayahnya Zulfikar Ali Butho. saat meninggalkan area kampanye di Rawalpindi, Pakistan.
Menurut berita di MetroTV tadi pagi bahwa Al Qaeda bertanggung jawab atas kematian Benazir Bhutto. Sedangkan pendukung Bhutto menuduh Perdana Menteri Pakistan dibalik tertembaknya Perdana Menteri Wanita pertama di dunia Islam.
Pemerintah Indonesia tadi malam sudah menyampaikan turut berduka cita tapi kenapa tidak ada kata “rakyat Indonesia”. Biasanya sih begitu yang dulu-dulu, seingat saya lho. Wong diwakilkan kek Pak SBY …. masak sendirian saja.
Pertama kali mendengar Benazir Bhutto meninggal dunia tadi malam di televisi. Adik laki-laki, saya dan Bapak kaget mendengarnya kabar tersebut. Tidak menyangka akan meninggal setragis itu.
Kita menunggu tayangan saat tertembaknya beliau sampai bom meledak tapi tak kunjung tampak. Saya bilang mungkin besok pagi kita dapat lihat di situs CNN. Pagi hari, lihat CNN sama saja tampilannya.
Jam 12.32 saya lihat ada foto di CNN dari John Moore. Lumayan walaupun masih berharap ada gambar bergerak saat penembakan tersebut di situs tersebut atau di televisi.
Update :
Kontroversi penyebab kematian Benazir Bhutto belum selesai. Terakhir diberitakan penyebab kematian mantan PM Pakistan ini karena kepalanya terbentur mobil sehingga terluka.
Komentar saya : hebat banget yach benturannya bisa menyebabkan orang meninggal dunia. Memangnya diatas mobilnya ada besi tajam atau apa yach, atau saat ada tembakan mobilnya remnya mendadak. Kalau lihat ditelevisi sekitar mobil banyak orang tuh, ga mungkin kalau ngebut. Menurut saya aneh banget.
Sementara ajudan Bhutto memberi kesaksian kematian Benazir karena tertembak.
Video CNN
December 27th, 2007 — Politik
Tahun depan yaitu 2008, giliran propinsi Jawa Barat mengadakan pemilihan Gubernur. Sudah dua bulan yang lalu pemerintah dan rakyat Depok sudah siap-siap menyambut Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Mulai rapat ini dan itu, pendaftaran Panitia Pilkada di Kelurahan dan sebagainya.
Semua warga Depok boleh jadi Panitia Pilkada dengan syarat-syarat pada umumnya misalnya Warga Negara Indonesia, bukan anggota Gerakan Terlarang, dan sebagainya. Saya sendiri pernah ditawarin untuk tingkat Kelurahan tapi saya tidak mau walaupun ada uangnya, pasti repot.
Perlu diketahui jadi Panitia Pilkada digaji lho. Menurut pengalaman orang-orang yang jadi Panitia Pemilihan Walikota Depok pernah dapat honor tapi mereka kurang jelas ngasih tahu persisnya berapa. Rahasia ni yee.. tapi kata lumayanlah.
Jadi Panitia Pilkada memang report, mulai data orang-orang, susun sana susun sini, ngatur bilik-bilik sampai mengatur keuangan.
Mudah-mudahan Pilkada Jawa Barat aman, tentram, lancar seperti di DKI Jakarta. Jangan sampai seperti di Sulawesi Selatan apalagi seperti Kampanye Pemilu di Pakistan yang mengakibatkan terbunuhnya Benazir Bhutto setelah berkampanye.
December 22nd, 2007 — Politik, Sosial
Saya bertempat tinggal bagian kota Depok pinggiran. Lebih dekat dengan perbatasan wilayah Bogor dan Tangerang. Lebih tepatnya perbatasan Parung dan Pamulang. Parung masuk wilayah Bogor dan Pamulang bagian dari Tangerang.
Kota Depok memang sudah banyak berdiri mal-mal, bioskop, terminal, jajanan yang enak, toko buku gede, pusat pemerintahan kota Depok dan Universitas Negeri dan swasta yang menurut Indonesia “the best” lah. Tapi semua jauh sekali jaraknya dari kediaman saya. Kalau ke kota Depok butuh banyak waktu dan uang. Bayangkan saja, jika saya ke kota Depok lama tempuh sekitar 1 s/d 1.5 jam, itupun kalau ga macet. Soal kendaraan, naik ojek dulu, kemudian angkot 2 kali, sampai di terminal naik lagi angkot untuk ketujuan yang diinginkan.
Kalau ditanya teman soal kota Depok, saya kurang tahu. Dalam 1 tahun bisa dikatakan cuma 1 kali atau bisa dikatakan tidak sama sekali.
Bagaimana dengan Bogor. Suasana, udara dan cuaca lebih dekat ke arah Bogor. Pagi yang berkabut tebal, udara agak dingin dari kota Jakarta tapi tidak sedingin Puncak Pass, tapi lumayan untuk mandi dipagi hari pakai mikir sambil mondar-mandir di depan kamar mandi. Curah hujan disini juga cukup banyak. Pernah musim hujan dalam 8 - 9 bulan, sisanya musim kemarau. Kalau ditempat saya dalam 1 minggu berturut-turut sering turun hujan, bisa diprediksi ada bagian Jakarta yang banjir.
Walaupun cuaca mendekat mirip dengan Kota Bogor, tapi dia jauh sekali dengan tempat tinggal saya. Untuk ngurusin administrasi negara jadi berat diongkos dan waktu, samalah jauhnya dengan kota Depok.
Bagaimana dengan Tangerang. Saya dan warga disini lebih dekat dengan Tangerang. Kalau sekolah SMA, SMP yang negeri maupun swasta pergi ke Tangerang. Padahal untuk ke sekolah Tangerang harus pindah rayon. Pindah rayon itu butuh biaya tambahan tapi ga pa pa daripada selama 3 tahun SMP dan 3 tahun SMA harus mengeluarkan uang banyak untuk ongkos dan pulang kemalaman terus, yahhh direlakan saja. Yang kasihan sih gurunya, harus ngurusin pindah rayon setiap tahunnya.
Di Pamulang semuanya ada kecuali Bioskop. Sudah 2 tahun ini tutup dan bangunan sudah rusak disana sini. Mungkin ga ada yang nonton. Menurut omongan orang-orang lama di tempat tinggal saya, jika mereka ingin nonton, pergi ke Bintaro, BSD, atau ke Pondok Indah, yang paling jauh ke Blok M. Kalau ke Depok bagaimana ? Katanya jauuhhhh, berat diongkos, lama lagi jarak tempuhnya plus super macet.
Pasar yang murah alias grosir larinya ke Ciputat, Cimanggis yang termasuk wilayah Tangerang, atau ke Parung. Mau ke Jakarta, naik bis ke Ciputat atau ke Lebak Bulus.
Jadi kami lebih dekat dengan Tangerang dari pada ke Depok dan Bogor untuk urusan kehidupan.
Kalau ada rakyat Indonesia yang lebih dekat dengan daerah perbatasannya dengan alasan lebih dekat untuk kemana-mana, lebih murah, lebih praktis, lebih hemat, dan sebagainya, apalagi negara diperbatasan tersebut dalam hal ekonomi lebih menjanjikan untuk penjualan hasil bumi, sekolah atau aktivitas, saya pun mengerti.
Jika Tangerang, Depok dan Bogor adalah suatu negara, saya punya passport donk. Hmmm … bayar visa ga yach …. *mode mikir*
Dan bisa lebih dari 20 kali dalam sebulan saya akan mondar-mandir dari Tangerang, Depok dan Bogor … hehehehe. Kalau ada yang tanya “Auliah mau pergi ke mana dan berapa lama ?”. Saya bilang “Mau ke luar negeri, cuma 10 menit doang kok, ke negara Tangerang, ada yang mau dibeli ….. hehehe … Beli jarum jahit doang …” gedubrak ….
October 26th, 2007 — Movie, Politik, Sosial
Semenjak tragedi WTC 11 September 2001, sebagian masyarakat dunia menjadi fobia terhadap Islam. Serba curiga, ketakutan terhadap orang-orang yang bernama, bertampang dan berkewarganegaraan yang mayoritasnya Islam.
Shah Rukh Khan bintang film India yang beragama Islam mengakui kesulitan masuk London setelah kejadian tersebut.
Awal tahun depan Bollywood akan mengeluarkan film dengan judul “My Name is Khan”.
Kalau Australia fobia terhadap Indonesia semenjak bom Bali yang menewaskan banyak warganya.
Padahal otak bom Bali tersebut orang “tetangga sebelah”, kita yang kena getahnya
Tetangga saya yang berasal dari NTT kena fobia tersebut. Dia menyusul suaminya yang tinggal di Australia. Dengan wajah seperti orang Papua/Ambon/Timor Leste pastilah aman kesana. Tapi setelah dia bercakap menggunakan bahasa Indonesia sewaktu keluar dari pesawat dengan sesama orang Indonesia yang bertemu di pesawat. Langsung dia diamankan oleh petugas disana.
Semua isi tas diperiksa. Dipegangnya isi tas tersebut dengan pegangan jijik. Badannya pun diperiksa. Dia juga ditanya apa tujuan ke Australia tapi petugas tidak percaya.
Cukup lama diperiksanya dan akhirnya setelah puas mengubek-ubek tas dan bawaan tetangga saya yang tidak terbukti apapun. Kakaknya yang menunggu dari tadi diluar sangat gusar.
Semenjak kejadian tersebut, tetangga saya tidak pernah berbicara dalam bahasa Indonesia di tempat umum.
Bagaimana saya yach … ? Menurut teman-teman, wajah saya seperti orang Arab. Setelah kejadian tsunami seperti orang Aceh. Cuma satu-dua orang bilang wajah saya orang Minang. Kemudian saya pake jilbab plus ditambah lagi nama saya, nama Arab. Walah, bakalan ribet
Keponakan Bapak saya yang sudah lama tinggal di USA sering mengajak ikutan GreenCard. Sebenarnya mau saja tapi ga punya uang (katanya uang ga usah pake alasan) … suer deh ga punya dan yang lebih penting saya TAKUT. Saya lebih aman tinggal di rumah sendiri, Indonesia.
Menurut Organisasi HAM, perlakuan rasis yang menimpa umat Islam pasca tragedi WTC menyebabkan sekitar 500 orang wisatawan dilarang masuk wilayah AS setiap hari. Dan pelarangan itu bisa saja hanya karena dugaan dan tuduhan yang belum berbukti.
October 23rd, 2007 — Photo, Politik, Sosial, Story
Sudah cukup lama saya merasa ada yang aneh dengan wajah Gajah Mada. Tapi entahlah dibagian mana.
Tahun berganti tahun, Gajah Mada terlupakan dan teringatkan.
Dan akhirnya … saat ini saya perhatikan lebih mendalam wajah Gajah Mada dari internet.
Hmm … rupanya bibirnya … bibirnya terlalu tebal. Alisnya kayak perempuan.
Maaf ya … terpaksa nih, ga tahan untuk diungkapkan.
Baca-baca di Paman Google, wajah Gajah Mada yang ada dimana-mana merupakan wajah imajiner pembuatnya.
Walaupun begitu Gajah Mada masih tetap menjadi misteri dalam kehidupan pribadinya. Dan beliau diperebutkan oleh Jawa Tengah dan Sumatera Barat.
October 21st, 2007 — Bisnis, Movie, Politik, Sosial
October 14th, 2007 — Politik
Melihat begitu banyak berkumpul di Masjid Istiqlal untuk sholat hari raya Idul Fitri tanggal 13 Oktober 2007 yang disiarkan oleh beberapa stasiun televisi, saya terkagum-terkagum.
Wow, muslim Indonesia memang banyak ya … (maklum baru nyadar .. hehehe)
Kalau digabungkan dengan seluruh manusia Indonesia dengan semua agama yang dimiliki bangsa yang terletak di Khatulistiwa ini kemudian digabung dengan Malaysia, Brunei plus semua negara di Timur Tengah, apa yang akan terjadi jika menyerang Israel ?
Dengan penyerangan yang brilian, strategis yang bagus, semua persenjataan dikerahkan …. dengan pastilah kita menang.
Duh, kalau sampai kalah … hmmm … rakyat Indonesia bisa menang dengan bambu runcing mengusir penjajah … hanya bambu runcing. Kalau pun punya senjata, itupun yang kurang level sama penjajah.
Saya heran kenapa sih, negara TimTeng itu tidak bersatu !! Punya tetangga susah, kok sulit ya untuk ditolong. Habisannya mereka sibuk masing-masing sih …
Jika negara jauh sekali dari Palestina akhirnya memenangkan pertempuran dengan Israel, bagaimana tanggapan negara TimTeng ya … 
Soal PBB, jangan dianggaplah 
September 25th, 2007 — Jokes, Politik, Sosial

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sekarang orang Korea Selatan. Tadi pagi sampai sore berita televisi sering menyebutkan nama Sekretaris PBB sekarang.
Coba dengarkan baik-baik, penyiar televisi mengucapkan namanya “Bang Kimun” 
Hebat lho Bang Kimun jadi Sekjen PBB … 
August 29th, 2007 — Politik, Sosial
Rakyat Indonesia rupanya sedang murka tak terhingga atas kejadian pemukulan wasit karate di Malaysia. Indonesia datang atas UNDANGAN Pemerintah Malaysia. Kalau ada tamu ya … dilayani dengan baik.
Saya tidak bisa berkata-kata banyak, karena kena imbas kemarahan. Jadi saya cantumkan berita-berita online koran terpercaya di Indonesia.
http://www.antara.co.id/arc/2007/8/25/kepala-polisi-malaysia-janji-pemukulan-wasit-indonesia-jadi-prioritas/
http://www.okezone.com/index.php?option=com_content&task=view&id=42412&Itemid=67
http://www.gatra.com/artikel.php?id=107198
http://liputan6.com/news/?id=146601&c_id=2
http://liputan6.com/politik/?id=146767
Kalau pemerintah kita sekeras Bung Karno, pasti akan mengeluarkan kata “GANYANG MALAYSIA”
Comment di Gatra oleh makin kurang ajar (bambylibra@ya…, 26/08/2007 13:44) said :
Malaysia ini makin lama memang makin kurang ajar, mulai dari mencuri lagu kroncong Terang Bulan Terang di kali dijadikan lagi kebangsaannya, mencuri lagu-lagu Indonesia diakui sbg lagu Malaysia spt lagu Gelang sipatu gelang dll, mencuri desains batik Indonesia diakui batik Malaysia, mencuri Sipadan dan Ligitanb, pencurian kayu-kayu di perbatasan dan pencurian-pencurian lain, menganiaya tki-tki dan sekarang menaniaya wasit karate kita. Malaysia yang SOMBONG DAN KURANGAJAR.
————–
Sampai lagu gelang-gelangan ya ….
Saya jadi mikir, kita pembajak software saja mengakui kalau XP, Vista dll dibuat oleh MICROSOFT.
Ini malah lebih kejam lagi dan memalukan bahwa sudah jelas-jelas ciptaan orang Indonesia diakui-akui sebagai maha karya orang Malaysia.
Email dibawah ini telah disiarkan oleh liputan6.com di SCTV dan sudah menyebar ke milist.
Oh, ya di liputan6 tadi pagi, rupanya bukan saja orang Indonesia yang diperlakukan tidak hormat. Liputan6 menampilkan polisi wanita Malaysia sedang melakukan pelecehan seksual terhadap wanita Hongkong dengan membuka semua baju tuh perempuan dan disuruh loncat-loncat.
Kalau mau lihat coba ke liputan6.com kemudian klik liputan6 pagi. Kalau besok lihatnya sepertinya tidak ada lagi.
———- Forwarded message ———-
From: Satrio Arismunandar <satrioarismunandar@ yahoo.com>
Date: Aug 29, 2007 5:35 PM
Subject: Kekerasan pada WNI di Malaysia (hati-hati Promosi Wisata Malaysia!)
(dari milis Pantau):
============ ========= =====
Nama saya Budiman Bachtiar Harsa, 37 tahun,
WNI asal Banten, karyawan di BUMN berkantor di
Jakarta.
Kasus pemukulan wasit Donald Peter di Malaysia, BUKAN
kejadian pertama. Behubung sdr Donald adalah seorang
“Tamu Negara” hingga kasusnya terexpose besar-besaran.
Padahal kasus serupa sering menimpa WNI di Malaysia.
BUKAN HANYA TKI Atau Pendatang Haram, tapi juga
WISATAWAN.
Tahun 2006, bulan Juni, saya dan keluarga (istri, 2
anak, adik ipar), pertama kalinya kami “melancong” ke
Kuala Lumpur Malaysia. (Kami sudah pernah berwisata ke
negara2 lain, sudah biasa dengan berbagai aturan
imigrasi).
Hari pertama dan kedua tour bersama Travel agent ke
Genting Highland, berjalan lancar, kaluarga bahagia
anak-anak gembira.
Hari ketiga city tour di KL, juga berjalan normal.
Malam harinya, kami mengunjungi KLCC yang ternyata
sangat dekat dari Hotel Nikko, tempat kami menginap.
Usai makan malam, berbelanja sedikit, adik ipar dan
anak-anak saya pulang ke hotel karena kelelahan,
menumpang shuttle service yang disediakan Nikko Hotel.
Saya dan istri berniat berjalan-jalan, menikmati udara
malam seperti yg biasa kami lakukan di Orchrad
Singapore, toh kabarnya KL cukup aman.
Mengambil jalan memutar, pukul 22.30, di dekat HSC
medical, lapangan dengan view cukup bagus ke arah Twin
Tower.
Saat berjalan santai, tiba2 sebuah mobil Proton
berhenti, 2 pria turun mendekati saya dan istri.
Mereka tiba-tiba meminta identitas saya dan istri,
saya balas bertanya apa mau mereka. Mereka bilang
“Polis”, memperlihatkan kartu sekilas, lalu saya
jelaskan saya Turis, menginap di Nikko hotel. Mereka
memaksa minta passport, yang TIDAK saya bawa. (Masak
sih di negeri tetangga, sesama melayu, speak the same
language, saya dan istri bisa berbahasa inggris,
negara yg tak butuh visa, kita masih harus bawa
passport?). Salah satu “polis” ini bicara dengan HT,
entah apa yg mereka katakan dengan logat melayunya,
sementara seorang rekannya tetap memaksa saya
mengeluarkan identitas. Perliaku mereka mulai tak
sopan dan Istri saya mulai ketakutan. Saya buka
dompet, keluarkan KTP. Sambil melotot, dia tanya
:”kerja ape kau disini?” saya melongo… kan turis,
wisata. Ya jalan-jalan aja lah, gitu saya jawab. Pak
polis membentak dan mendekatkan mukanya ke wajah saya:
KAU KERJA APE? Punya Licence buat kerja?
Wah kali dia pikir saya TKI ilegal. Saya coba tetap
tenang, saya bilang saya bekerja di Jakarta, ke KL
untuk wisata. Tiba-tiba salah satu dari mereka mencoba
memegang tas istri, dan bilang: “mana kunci Hotel?
“… wah celakanya kunci 2 kamar kami dibawa anak dan
ipar saya yg pulang duluan ke hotel.
Saya ajak mereka ke hotel yang tak jauh dari lokasi
kami. Namun pak Polis malah makin marah, memegangi
tangan saya, sambil bilang: Indon… dont lie to us.
Saya kurung kalian…
Jelas saya menolak dan mulai marah. Saya ajak mereka
ke hotel Nikko, dan saya bilang akan tuntut mereka
habis2an. sambil memegangi tangan saya, tuan polis
meludah kesamping, dan bilang: kalian semua sama
saja…
Saat itu sebuah mobil polisi lainnya datang, pake logo
polisi, seorang polisi berseragam mendekat. Di dadanya
tertulis nama: Rasheed.
Saya merapat ke pagar taman sambil memegang istri yang
mulai menangis. Melawan 3 polis, tak mungkin. Mereka
berbicara beritga, mirip berunding. Wah, apa polis
malaysia juga sama aja, perlu mau nyari kesalahan
orang ujung2nya merampok?
Petugas berseragam lalu mendekati saya, meminta kami
untuk tetap tenang. Saya bertanya, apa 2 orang preman
melayu itu polisi, lalu polisi berseragam itu
mengiyakan. Rupanya karena saya mempertanyakan
dirinya, sang preman marah dan mendekati saya,
mencengkram leher jaket saya, dan siap memukul, namun
dicegah polisi berseragam.
Polisi berseragam mengajak saya kembali ke Hotel untuk
membuktikan identitas diri. saya langsung setuju,
namun keberatan bila harus menumpang mobil polisi.
Saya minta untuk tetap berjalan kaki menuju Nikko
Hotel, dan mereka boleh mengiringi tapi tak boleh
menyentuh kami. Akhirnya kami bersepakat, namun polisi
preman yang sempat hampir memukul saya sempat berkata:
if those indon run, just shoot them… katanya sambil
menunjuk istri saya. Saya cuma bisa istigfar saat itu,
ini rupanya nasib orang Indonesia di negeri tetangga
yang sering kita banggakan sebagai “sesama melayu”.
Diantar polisi berseragam saya tiba di Nikko Hotel.
Saya minta resepsionis mencocokan identitas kami, dan
saya menelpon adik ipar untuk membawakan kunci. Pihak
Nikko melarang adik saya, dan mengatakan kepada sang
Polis, bahwa saya adalah tamu hotel mereka, WNI yang
menyewa suites family, datang ke Malaysia dengan
Business class pada Flight Malayasia Airlines.
Pak Polis preman mendadak ramah, mencoba menjelaskan
bahwa di Malaysia mereka harus selalu waspada.
Saya tak mau bicara apapun dan mengatakan bahwa saya
sangat tersinggung, dan akan mengadukan kasus ini, dan
“membatalkan rencana bisnis dengan sejumlah rekan di
malaysia” (padahal saya tak punya rekan bisnis di
negeri sial ini).
Polisi berseragam berusaha tersenyum semanis mungkin,
berusaha keras untuk akrab dan ramah, petugas Nikko
Hotel kelimpungan dan berusaha membuat kami tersenyum.
Setelah istri saya mulai tenang, saya mengambil HP
P9901 saya dan merekam wajah kedua polisi ini.
Keduanya berusaha menutupi wajah, meminta saya untuk
tidak merekam wajah mereka.
Istri saya minta kita mengakhiri konflik ini, dan
sayapun lelah. Kami tinggalkan melayu-melayu keparat
ini, tanpa berjabat tangan.
Sepanjang malam saya sangat gusar, dan esoknya kami
membatalkan tur ke Johor baru, mengontak travel agent
agar mencari seat ke Singapore. Siang usai makan
siang, saya tinggalkan Malaysia dengan perasaan
dongkol, dan melanjutkan liburan di Singapore.
Mungkin saya sial? ya. Mungkin saya hanya 1 dari 1000
WNI yang apes di Malaysia? bisa. Tapi saya catat bahwa
bila saya pernah dihina, diancam, bahkan hampir
dipukuli, bukan tak mungkin masih ada orang lain
mengalami hal yg sama.
Jadi, kalau hendak berlibur di Malaysia, sebaiknya
pikir masak2. Jangankan turis, Rombongan atlet saja
bisa dihajar polisi Malaysia.
Bayangkan bila perlakuan seperti ini dilakukan
dihadapan anak kita. Tentu anak akan trauma, sekaligus
sedih.
Hati-hati pada PROMOSI WISATA MALAYSIA. Di Malaysia,
WNI diperlakukan seperti Kriminal.