Entries Tagged 'Sosial' ↓

Wah, Perempuan Berantem …

Ga nyangka ya masih ada perempuan main jontos-jontosan agar bisa masuk dalam suatu gang. Ccckkk ….. ga nyangka … hmm … ini termasuk emansipasi kebablasan ga ya ?

Cara berantemnya, cewe panget, ga lepas dari tarik-tarikan rambut, guling-gulingan, main tempeleng … walah …. cewe banget

Gangnya namanya Nero. Ingat Nero ingat Burn CD. Hmm … keren juga namanya :D

Ngomong soal jambak-jambakan rambut, berantem dan sejenisnya. Saya juga pernah berantem. Waktu masih kecil, kelas 3 SD. Ga jelas alasannya berantemnya. Tiba-tiba teman perempuan saya marah-marah, menghampiri saya, terus narik rambut yang dulu kebetulan panjang banget.

Karena marahnya ga jelas, saya berusaha untuk menghindari (bukan berarti saya penakut), saya berusaha untuk tidak menyakiti teman saya, saya minta penjelasan kenapa marah gitu. Ga ada hujan, ga ada angin, marah-marah sama saya :(. Rambut saya masih ditarik sama dia.

Sayangnya dia nambah nafsu dan kesabaran saya habis, akhirnya tarik menarik rambut terjadi. Sebenarnya saya mau selengkatin kakinya yang dalam posisi kosong. Saya pikir, nanti dia jatuh lagi. Cara aman, saya tarik rambutnya sampai dia teriak.

Yang lain pada nonton, bukannya lerein. Setelah dia nangis pulang dan saya dinyatakan pemenangnya… Hore …. :(

Besok harinya, saya datangi dia dan bertanya kenapa marah-marah sama saya. Dan rupanya menurut informasi, saya ngatain dia.

*gedubrak

Setelah saya jelaskan, saya ga pernah ngatain dia. Dan dia kasih tahu dari mana informasinya. Dan saya bilang “ooooo ….., saya paham”

Dan dia pun minta maaf, selesailah masalahnya, kami pun berteman kembali.

Duh, coba ditanya baik-baik, kan ga jadi berantem, main jambak-jambakan. Yah …. namanya masih kecil … :(, belum dewasa :D

Achhh …. Perempuan

Perempuan itu banyak maunya.

Semua manusia memang harus banyak maunya ;)

Setiap bercermin, saya selalu bilang ke diri sendiri, “Ach … perempuan”

Ada saja yang ingin diperbaiki, diperbagus dan dikurangi mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Saya sendiri kenal kosmetik dari kecil. Tidak untuk dicoba tapi untuk dicium, diselidiki, ditanya dan dibaca.

Setiap pulang sekolah, setelah makan siang, sholat dan ganti baju, saya punya tugas untuk menggantikan Bapak untuk makan siang.

Paling senang dibagian sabun. Kalau tidak ada orang yang beli, saya suka cium-ciumin. Walaupun dipisahkan dengan bungkusnya, aromanya masih bisa tercium. Kalau bawa adik-adik, saya suruh juga cium semua sabun. Adik-adik senang sih. Karena setiap ke toko begitu kelakuannya, akhirnya saya ditegur sama pegawai Bapak untuk tidak melakukannya lagi :D

Saya juga tanya soal nama-nama kosmetik untuk make up, sayangnya ga hapal-hapal. Maklumlah saya kan ga makai ;)

Saya juga tanya soal parfum. Dikasih tahunya lengkap, mulai cara memakainya sampai nama-nama parfum murahan dan mahalan.

Pokoknya semua urusan kecantikan perempuan ada di toko Bapak.

Saya pun merasakan sebagai perempuan yang sibuk mempercantik diri saat meningkat remaja yang ingin diperhatikan kaum Adam. Pernah coba luluran yang harus ngedon berjam-jam di kamar mandi. Keseringan menggunakan luluran tersebut, kulit dan kuku kita menjadi kuning serta sering digedor-gedor sama orang rumah “Ngapain aja sih di kamar mandi, lama banget!!”. Memang sih, kelebihannya ada, kulit kita jadi halus sekali. Kalau pake baju longgar jadi melorot terus. Zaman dahulu, belum ada luluran seperti saat ini yang ga usah berlama-lama ria di kamar mandi.

Karena wajah saya jerawatan, mulailah wajah disentuh oleh masker. Yang paling sering masker jambu kelutung. Selanjutnya masker bengkuang atau menggunakan tradisional yaitu air jeruk nipis. Ya … itu hasil penyelidikan dan baca-baca di toko Bapak :D

Kalau urusan rambut, wooo .. dari kecil malah, mulai minyak cem-ceman, merang, air jeruk nipis sampai minyak urang-aring.

Soal pelembab, sedang SMP kelas 1 kenal lotion untuk melembabkan kulit dan bikin wangi, every day pake lah …

Bau badan … yang ini lupa pake merk apa ya …. ? Ingatnya suka pake punya Bapak, makainya diam-diam … hehehehe.

Yang paling seru jika ada tester lipstik, kutek dll yang sudah rusak tapi masih bisa dipakai dan aman, kita bawa pulang dan cobain deh rame-rame sama adik perempuan. Kalau ibu masuk kamar buru-buru hapus :)

Waktu sudah kerja, sibuk cari lipstik, lotion masih tetap, luluran sudah ga pernah dijalankan, bedak tidak berubah dari dulu masih pake bedak bayi, beli alat untuk meletikkan bulu mata.

Sekarang, Bapak sudah tidak punya toko kosmetik dan saya sudah agak tidak perduli. Dipikir-pikir kok jadi repot ya ….

Setiap pagi, keponakan perempuan saya (8 tahun) menyemprotkan parfum ayahnya. Hasilnya bau ruangan sangat menyengat dan bikin hidung sakit. Ga tahu berapa liter dikasih ke bajunya.

Dia juga mulai diam-diam menggunakan lipstik karena lipstik saya cepat habis dan belepotan. Bedak padat saya semakin lama semakin tipis. Saya suka mode “curigation” jika dia lama-lama di kamar.

Ups … saya belum lihat lisptik pensil saya, apakah sudah tumpul ? hehehe …

Semakin lama melihat keponakan berkaca ria dan mempercantik menurut versi dia, ingat masa lalu ;)

Dasar perempuan …. ;)

Azza

Lihat Sigi di liputan6.com yang sedang meliput situs-situs begituan. Ditampilan layarnya ada situs exoticazza.com. Saya tidak tertarik sama kata exoticanya tapi dengan “azza” karena kata tersebut adalah nama belakang saya.

Continue reading →

Privacy

Jika nomor telepon rumah dan HP adalah privacy, jangan diberitahu di dunia maya !.

Jika alamat rumah, kantor, vila adalah privacy, jangan diberitahu di dunia maya !

Jika tempat kerja adalah privacy, jangan diberitahu di dunia maya !

JIka dimana bersekolah/kuliah, gelar adalah privacy, jangan diberitahu di dunia maya !

JIka segala aktivitas di dunia nyata adalah privacy, jangan diberitahu di dunia maya !

JIka ikutan milist dan forum ini dan itu adalah privacy, jangan diberitahu di dunia maya !

Kalau itu segala sesuatu yang dianggap adalah privacy sudah diletakkan/diumumkan di dunia maya kemudian keseringan bertanya “Tahu dari mana ?” dan akhirnya marah-marah.
Menjengkelkan…. tauuuu !!

Roy Suryo Menerima Tantangan Para Blogger

Datang yaaaaa……..

Dari blog Riyo :

“Dengan sangat senang, yang disebut ‘Dialog Terbuka’ adalah diskusi secara nyata dan bertanggung jawab,” kata Roy Suryo dalam pesan singkatnya kepada okezone, Selasa (1/4/2008).

Roy memastikan siap hadir dalam acara itu secara profesional seperti layaknya acara seminar. “Tolong mereka menyiapkan tempat umum yang ilmiah seperti kampus, diliput media, dan hadir secara nyata. Saya tidak melayani diskusi maya,” tegas dosen UGM Yogyakarta itu.

sumber: Okezone

Untuk menanggapi kutipan berita diatas, saya dengan ini mengundang secara resmi Sdr. Roy Suryo untuk hadir dalam acara Dialog Terbuka yang akan membahas tema isu seputar blogger terkait dengan statemen-statemennya yang telah dikeluarkannya di media massa.

Acara akan diselenggarakan pada:

logoUBL

Hari / Tanggal : Jumat, 15 18 11 April 2008
Tempat : Universitas Budi Luhur Pusat Jakarta
Waktu : 10.00 13.00 09.00 - 11.00 WIB
Acara : Dialog terbuka antara Riyogarta & Roy Suryo dengan tema seperti yang telah diutarakan diatas.

Fasilitas:

Pendaftaran dilakukan di Universitas Budi Luhur Pusat Jakarta 2 jam sebelum acara dimulai (08.00 - 10.00 09.00 - 13.00 07.00 - 09.00 WIB). Pendaftaran tidak dipungut biaya.

Bagi pembicara dan moderator disediakan transportasi didalam kota dari dan ke Universitas Budi Luhur Pusat Jakarta.

DICARI:

Seorang sukarelawan yang bersedia menjadi moderator dalam acara dialog terbuka ini. Adapun syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi moderator adalah:

  • Mengerti dunia teknologi informasi beserta perkembangannya.
  • Mampu menempatkan dirinya sebagai seorang yang netral
  • Diutamakan mereka yang berprofesi sebagai pengajar di perguruan tinggi (optional).

Karena keterbatasan dana yang dimiliki panitia, mohon maaf kami tidak menyediakan honor bagi pembicara dan moderator.

Terimakasih kepada:

Salam,

Riyogarta
Website: www.riyogarta.com
Email: me at riyogarta.com
Telp: 0855-100-7204

Kepada teman-teman blogger, wartawan maupun masyarakat luas yang kebetulan mengunjungi blog ini, mohon kiranya bisa turut membantu saya menyebarluaskan undangan ini dengan cara:

  • Copy-paste posting ini pada blog masing-masing dengan menyertakan sumbernya.
  • Menyalin link dari posting ini untuk disebarkan melalui blog masing-masing atau email.
  • Mendownload versi PDF dari posting ini untuk disebarluaskan.

Insya Allah apa yang saya lakukan ini bermanfaat bagi kemajuan blogger di tanah air.

Dowload Undangan Dialog Terbuka Untuk Sdr. Roy Suryo

Berita terkait:
Surat Terbuka: Ajakan Dialog Terbuka Dengan Sdr. Roy Suryo
Setelah 2 Hari Lebih Surat Terbuka Kepada Roy Suryo Berkelana
Blogger Tunggu Roy Suryo Sampai Siap Dialog
Roy Suryo Konfirm Datang
Roy Suryo Konfirm Datang (Service Pack 1)

Begituan

Berhubung nanti ada blokir-blokiran yang berbau p**o. Dan berhubung di postingan blog saya ada kata p***o-nya, jadi sibuk merapikan dan sekaligus memikirkan pengganti kata berbau begituan minimal kata slanknya.

Hmmm … atau kata gantinya “BEGITUAN” aja yach …

Saya sering menggantikan kata yang menjurus-jurus dengan kata “BEGITUAN”

“Tadi ada orang yang pake baju BEGITUAN di televisi, n***s tralala deh”

HIDUP BEGITUAN … !!!!


Kira-kira selain diganti simbol * (bintang), kata slanknya P***N, S*** beserta teman-temannya apa ya ….

*mode mikir **

Kasih ide yaaa ……….

Cakeeep

Pernah dibilangin sama orang gila bahwa Anda CAKEP ? Saya pernah, kemarin, di pagi hari tanpa sinar matahari.

Saat itu, saya dan adik sedang mengobrol soal Amazonnya. Adik duduk di depan komputer, saya berdiri tak jauh dari pintu dan darinya. Pintu sedang dibuka sangat lebar agar udara pagi masuk untuk kesegaran ruangan. Pintu dan dinding terbuat dari kaca, jadi kami bisa leluasa melihat keluar.
Continue reading →

Invisible

Ada yang protes ke saya, kalau masuk ke YM langsung invisible. Malah ada yang kirim pesan pake bahasa Jawa yang isinya makian. Karena saat menerima pesan message tersebut hati lagi kesel, langsung saya blocklah orang itu.

Continue reading →

100 Juta dari Pemerintah

Kalau kita dapat uang Rp. 100 juta dari pemerintah, suka kan ;)

Jika uang tersebut yang kita terima hanya Rp. 60 juta dan harus memberi laporan keuangan Rp. 100 juta, bagaimana, masih mau terima ?

Kalau saya, ogah …. Gede amat pemerintah korupsinya :P

Padahal uang Rp. 100 juta itu untuk kepentingan rakyat miskin agar menjadi melek teknologi dan ga ketinggalan zaman.

Pantes yach Indonesia ga pernah beres, wong pimpinannya sudah disumpahin sama orang miskin dan orang-orang teraniaya.

Single

Status pernikahan dalam situs jaringan pertemanan begitu penting. Di FS, Myspace atau situs yang berjenis sama pasti menyediakan layanan status tersebut.

Bagaimana jika status tersebut diset oleh si punya menyatakan Single padahal dia sudah Menikah.

Sialnya, salah satu pihak dalam perkawinan tersebut menemukan profile pasangannya yang berstatus Single. Di rumah berlaku sangat baik dan sangat mencintai pasangan dan anak-anaknya. Pasangannya tidak melakukan sesuatu kejahatan dalam rumah tangga.

Salah satu pasangan tersebut keberatan atas status yang dipasang disalah satu jaringan pertemanan yang berbasis di USA.

Sayangnya, pasangan tersebut tetap menset statusnya dengan SINGLE.

Pasangan yang merasa dirugikan mengirim surat kepada temannya untuk minta pendapat.

Mudah-mudahan temannya bisa memberikan jalan yang terbaik.

Perasaan Tak Enak

Hari Minggu ini, sepanjang hari perasaan saya tak enak. Why ? Ga tahu …

Selamat Jalan Bapak Pembangunan

Saya turut berduka cita atas meninggalnya Pak Soeharto, mantan Presiden RI yang ke 2 pada pukul 13.10 WIB di Rumah Sakit Pertamina Jakarta Selatan dalam keadaan tidur. Semoga amal kebaikan beliau diterima oleh Allah SWT.

Nasib Tempe dan Tahu

Mulai hari Senin kemarin (14/1/08) pedagang tahu dan tempe di pasar dekat rumah ga jualan. Alasannya libur dulu.

Dua hari kemudian (saya yang baru tahu berita) harga kedelai melonjak terlalu tinggi. Dan saya juga baru tahu juga kalau kedelai itu impor dari Amerika dan … yang ini negara keduanya lupa.

Saya cuma bisa bengong bego, “kok bisa sih impor, kan makanan sehari-hari, makanan khalayak ramai. Bukankah dulu kita menanam kedelai juga ? Emangnya pada kemana aja sih “orang-orang”?

Duh, kalau begini terus, alhasil ga makan tahu Sumedang yang enak. Dalam 4 hari dalam seminggu kita makan tahu Sumedang dengan olahan macam-macam. Ga bisa makan tempe yang dibungkus daun pisang yang diolah balado. Ga ada gorengan tempe. Ga ada Tempe MENDOAN.

Kalau ga diatasi cepat, akan merembet ke kecap yang bahan dasarnya kedelai. Pasti tukang bubur ga ngasih kecap. Saya suka bubur pake kecap yang banyak. Emping dikasih kecap secukupnya. Kalau pedes nasi yang diberi balado, kita kasih kecap. Telur mata sapi pake kecap, ayam bakar kecap, sate kambing dan sate ayam pake kecap. Nasi goreng pake kecap. Hayoo apa lagi yang pake kecap, tempe dan tahu atau yang berurusan sama kedelai.

Hari ini, di televisi, terigu juga naik. Naik aja terus … kapan sih turunnya ? Selama harga naik ga pernah turun tuh …

*Gw yang lagi sebel*

Kursus Gratis

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan atau saya sering menyebut pada saat ini adalah Diknas. Diknas cabang Provinsi Jawa Barat baru-baru ini memberikan dana segar untuk membiayai siswa-siswi atau orang-orang yang tidak mampu untuk kursus gratis. Kursunya bisa komputer, salon dan sebagainya.
Setelah tujuh bulan sibuk dengan prosedur yang harus dilakukan, bulan kemarin kursus gratis dimulai.

Prosedur yang dilaksanakan seperti model dadakan dan terburu-buru. Penilik Diknas Kecamatan datang, memberitahukan sesuatu harus selesai besok, katanya data-datanya mau diantar ke Bandung. Begitu terus. Ada juga yang kita tidak tahu apa bentuk dan isi proposal, disuruh bikin. Akhirnya kita minta Penilik yang cari contoh nanti kita ketik dan dirubah disana sini. Maklum kita kan baru pertama kali.

Herannya dengan model dadakan dan seperti orang terburu-buru, dana yang sampai ke lembaga kursus yang ditunjuk tidak terburu-buru dan tidak segera sampai. Bahkan setelah tandatangan MOU, itupun uang tidak segera sampai ke rekening lembaga kursus. Kira-kira 1-2 bulan setelah MOU ditandatangani baru masuk ke rekening, itupun harus ditelepon ke Diknas Depok untuk menanyakan kenapa uangnya belum sampai. Kalau belum sampai, tidak akan dimulai kursusnya. Kalau kita sih, tidak jadi gpp, jadi … yach syukur.

Lembaga kursus yang ditunjuk oleh Diknas Jawa Barat sebanyak kurang lebih 75 lembaga. Uang yang diberikan dari Diknas Jawa Barat untuk biaya operasional dan ongkos anak-anak yang kursus.

Enakkan, sudah dibiayai oleh pemerintah Jawa Barat, udah dapat ilmu gratis, plus dapat ongkos setiap kedatangan … lumayan.

Kalau ditempat kami, software yang diajarkan adalah OpenOffice yaitu Writer dan Calc. Hal ini sudah disetujui oleh Diknas Jawa Barat dengan bukti tidak ada komplain dari departemen tersebut dan proposal disetujui. Padahal dalam buku panduannya, bahwa software yang diajarkan dan ujian negara menggunakan Microsoft Word dan Microsoft Excel.

Menurut Penilik dan Ketua Organisasi Lembaga Kursus Cabang Depok mengatakan tidak apa-apa, tidak ada bedanya.

Padahal ada beberapa perbedaan jika dilakukan ujian negara. Contohnya untuk format kertas, kalau di Word adalah File kemudian Page Setup. Kalau di OpenOffice adalah Format kemudian Page. Yang lebih parah, mungkin akan menyebabkan frustasi pada murid-murid jika membuat tabel. Kalau di OpenOffice menghitung tinggal ketik = (sama dengan) kemudian klik kolom yang ingin dihitung kemudian enter. Lebih gampang prosedurnya daripada di Microsft Word. Untuk mailmerge bedanya jauh banget. Sisip gambar, wuiiih beda juga. Kalau di Calc, saat di rumus Vlookup harus pake tombol shift + F4 untuk memunculkan tanda $ diantara range tabel Vlookup sedangkan di Excel cukup F4 saja.

Untuk mengatasi hal tersebut, disaat mengajar saya sering mengatakan bahwa kalau di Word caranya begini, kalau di Writer caranya begini. Entahlah mereka ingat atau tidak.

Menurut pengalaman saya, murid yang baru bisa Office akan mengalami kebingungan dan rasa frustasi jika yang dilihat berbeda dengan yang diajarkan sehari-hari. Itu baru lihat layar kerjanya, bagaimana waktu mengerjakannya. Sudah stress sama kata “ujian” ditambahkan perbedaan tampilan. Jangan yang baru belajar, orang yang sudah sering mengetik di Office dengan versi tertentu kemudian pindah ke versi yang lain dengan bentuk agak lain sedikit saja masih bingung.

Yang penting bagi saya, Penilik, Ketua Organisasi, Diknas Jawa Barat dan Diknas Depok sudah dibilangin bahwa kami mengajarkan OpenOffice. Kata mereka tidak apa-apa yach .. wish lah …

Sekarang mereka sedang menunggu sms untuk mengambil sertifikat ujian lokal. Banyak yang bagus nilainya. Mudahan-mudahan ilmu berguna.

Rencananya tahun depan ada lagi. Hmmm … tapi kita mau cari sendiri murid-muridnya. Sudah mengerti caranya. Yang penting tidak ada KKN dan hasilnya memang bersih.

Perbatasan

Saya bertempat tinggal bagian kota Depok pinggiran. Lebih dekat dengan perbatasan wilayah Bogor dan Tangerang. Lebih tepatnya perbatasan Parung dan Pamulang. Parung masuk wilayah Bogor dan Pamulang bagian dari Tangerang.

Kota Depok memang sudah banyak berdiri mal-mal, bioskop, terminal, jajanan yang enak, toko buku gede, pusat pemerintahan kota Depok dan Universitas Negeri dan swasta yang menurut Indonesia “the best” lah. Tapi semua jauh sekali jaraknya dari kediaman saya. Kalau ke kota Depok butuh banyak waktu dan uang. Bayangkan saja, jika saya ke kota Depok lama tempuh sekitar 1 s/d 1.5 jam, itupun kalau ga macet. Soal kendaraan, naik ojek dulu, kemudian angkot 2 kali, sampai di terminal naik lagi angkot untuk ketujuan yang diinginkan.

Kalau ditanya teman soal kota Depok, saya kurang tahu. Dalam 1 tahun bisa dikatakan cuma 1 kali atau bisa dikatakan tidak sama sekali.

Bagaimana dengan Bogor. Suasana, udara dan cuaca lebih dekat ke arah Bogor. Pagi yang berkabut tebal, udara agak dingin dari kota Jakarta tapi tidak sedingin Puncak Pass, tapi lumayan untuk mandi dipagi hari pakai mikir sambil mondar-mandir di depan kamar mandi. Curah hujan disini juga cukup banyak. Pernah musim hujan dalam 8 - 9 bulan, sisanya musim kemarau. Kalau ditempat saya dalam 1 minggu berturut-turut sering turun hujan, bisa diprediksi ada bagian Jakarta yang banjir.

Walaupun cuaca mendekat mirip dengan Kota Bogor, tapi dia jauh sekali dengan tempat tinggal saya. Untuk ngurusin administrasi negara jadi berat diongkos dan waktu, samalah jauhnya dengan kota Depok.

Bagaimana dengan Tangerang. Saya dan warga disini lebih dekat dengan Tangerang. Kalau sekolah SMA, SMP yang negeri maupun swasta pergi ke Tangerang. Padahal untuk ke sekolah Tangerang harus pindah rayon. Pindah rayon itu butuh biaya tambahan tapi ga pa pa daripada selama 3 tahun SMP dan 3 tahun SMA harus mengeluarkan uang banyak untuk ongkos dan pulang kemalaman terus, yahhh direlakan saja. Yang kasihan sih gurunya, harus ngurusin pindah rayon setiap tahunnya.

Di Pamulang semuanya ada kecuali Bioskop. Sudah 2 tahun ini tutup dan bangunan sudah rusak disana sini. Mungkin ga ada yang nonton. Menurut omongan orang-orang lama di tempat tinggal saya, jika mereka ingin nonton, pergi ke Bintaro, BSD, atau ke Pondok Indah, yang paling jauh ke Blok M. Kalau ke Depok bagaimana ? Katanya jauuhhhh, berat diongkos, lama lagi jarak tempuhnya plus super macet.

Pasar yang murah alias grosir larinya ke Ciputat, Cimanggis yang termasuk wilayah Tangerang, atau ke Parung. Mau ke Jakarta, naik bis ke Ciputat atau ke Lebak Bulus.

Jadi kami lebih dekat dengan Tangerang dari pada ke Depok dan Bogor untuk urusan kehidupan.

Kalau ada rakyat Indonesia yang lebih dekat dengan daerah perbatasannya dengan alasan lebih dekat untuk kemana-mana, lebih murah, lebih praktis, lebih hemat, dan sebagainya, apalagi negara diperbatasan tersebut dalam hal ekonomi lebih menjanjikan untuk penjualan hasil bumi, sekolah atau aktivitas, saya pun mengerti.

Jika Tangerang, Depok dan Bogor adalah suatu negara, saya punya passport donk. Hmmm … bayar visa ga yach …. *mode mikir*

Dan bisa lebih dari 20 kali dalam sebulan saya akan mondar-mandir dari Tangerang, Depok dan Bogor … hehehehe. Kalau ada yang tanya “Auliah mau pergi ke mana dan berapa lama ?”. Saya bilang “Mau ke luar negeri, cuma 10 menit doang kok, ke negara Tangerang, ada yang mau dibeli ….. hehehe … Beli jarum jahit doang …” gedubrak ….