Entries Tagged 'Sosial' ↓
February 3rd, 2008 — Sosial
Status pernikahan dalam situs jaringan pertemanan begitu penting. Di FS, Myspace atau situs yang berjenis sama pasti menyediakan layanan status tersebut.
Bagaimana jika status tersebut diset oleh si punya menyatakan Single padahal dia sudah Menikah.
Sialnya, salah satu pihak dalam perkawinan tersebut menemukan profile pasangannya yang berstatus Single. Di rumah berlaku sangat baik dan sangat mencintai pasangan dan anak-anaknya. Pasangannya tidak melakukan sesuatu kejahatan dalam rumah tangga.
Salah satu pasangan tersebut keberatan atas status yang dipasang disalah satu jaringan pertemanan yang berbasis di USA.
Sayangnya, pasangan tersebut tetap menset statusnya dengan SINGLE.
Pasangan yang merasa dirugikan mengirim surat kepada temannya untuk minta pendapat.
Mudah-mudahan temannya bisa memberikan jalan yang terbaik.
January 27th, 2008 — Sosial
Hari Minggu ini, sepanjang hari perasaan saya tak enak. Why ? Ga tahu …
January 27th, 2008 — Sosial
Saya turut berduka cita atas meninggalnya Pak Soeharto, mantan Presiden RI yang ke 2 pada pukul 13.10 WIB di Rumah Sakit Pertamina Jakarta Selatan dalam keadaan tidur. Semoga amal kebaikan beliau diterima oleh Allah SWT.
January 16th, 2008 — Sosial
Mulai hari Senin kemarin (14/1/08) pedagang tahu dan tempe di pasar dekat rumah ga jualan. Alasannya libur dulu.
Dua hari kemudian (saya yang baru tahu berita) harga kedelai melonjak terlalu tinggi. Dan saya juga baru tahu juga kalau kedelai itu impor dari Amerika dan … yang ini negara keduanya lupa.
Saya cuma bisa bengong bego, “kok bisa sih impor, kan makanan sehari-hari, makanan khalayak ramai. Bukankah dulu kita menanam kedelai juga ? Emangnya pada kemana aja sih “orang-orang”?
Duh, kalau begini terus, alhasil ga makan tahu Sumedang yang enak. Dalam 4 hari dalam seminggu kita makan tahu Sumedang dengan olahan macam-macam. Ga bisa makan tempe yang dibungkus daun pisang yang diolah balado. Ga ada gorengan tempe. Ga ada Tempe MENDOAN.
Kalau ga diatasi cepat, akan merembet ke kecap yang bahan dasarnya kedelai. Pasti tukang bubur ga ngasih kecap. Saya suka bubur pake kecap yang banyak. Emping dikasih kecap secukupnya. Kalau pedes nasi yang diberi balado, kita kasih kecap. Telur mata sapi pake kecap, ayam bakar kecap, sate kambing dan sate ayam pake kecap. Nasi goreng pake kecap. Hayoo apa lagi yang pake kecap, tempe dan tahu atau yang berurusan sama kedelai.
Hari ini, di televisi, terigu juga naik. Naik aja terus … kapan sih turunnya ? Selama harga naik ga pernah turun tuh …
*Gw yang lagi sebel*
December 23rd, 2007 — Komputer, Sosial
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan atau saya sering menyebut pada saat ini adalah Diknas. Diknas cabang Provinsi Jawa Barat baru-baru ini memberikan dana segar untuk membiayai siswa-siswi atau orang-orang yang tidak mampu untuk kursus gratis. Kursunya bisa komputer, salon dan sebagainya.
Setelah tujuh bulan sibuk dengan prosedur yang harus dilakukan, bulan kemarin kursus gratis dimulai.
Prosedur yang dilaksanakan seperti model dadakan dan terburu-buru. Penilik Diknas Kecamatan datang, memberitahukan sesuatu harus selesai besok, katanya data-datanya mau diantar ke Bandung. Begitu terus. Ada juga yang kita tidak tahu apa bentuk dan isi proposal, disuruh bikin. Akhirnya kita minta Penilik yang cari contoh nanti kita ketik dan dirubah disana sini. Maklum kita kan baru pertama kali.
Herannya dengan model dadakan dan seperti orang terburu-buru, dana yang sampai ke lembaga kursus yang ditunjuk tidak terburu-buru dan tidak segera sampai. Bahkan setelah tandatangan MOU, itupun uang tidak segera sampai ke rekening lembaga kursus. Kira-kira 1-2 bulan setelah MOU ditandatangani baru masuk ke rekening, itupun harus ditelepon ke Diknas Depok untuk menanyakan kenapa uangnya belum sampai. Kalau belum sampai, tidak akan dimulai kursusnya. Kalau kita sih, tidak jadi gpp, jadi … yach syukur.
Lembaga kursus yang ditunjuk oleh Diknas Jawa Barat sebanyak kurang lebih 75 lembaga. Uang yang diberikan dari Diknas Jawa Barat untuk biaya operasional dan ongkos anak-anak yang kursus.
Enakkan, sudah dibiayai oleh pemerintah Jawa Barat, udah dapat ilmu gratis, plus dapat ongkos setiap kedatangan … lumayan.
Kalau ditempat kami, software yang diajarkan adalah OpenOffice yaitu Writer dan Calc. Hal ini sudah disetujui oleh Diknas Jawa Barat dengan bukti tidak ada komplain dari departemen tersebut dan proposal disetujui. Padahal dalam buku panduannya, bahwa software yang diajarkan dan ujian negara menggunakan Microsoft Word dan Microsoft Excel.
Menurut Penilik dan Ketua Organisasi Lembaga Kursus Cabang Depok mengatakan tidak apa-apa, tidak ada bedanya.
Padahal ada beberapa perbedaan jika dilakukan ujian negara. Contohnya untuk format kertas, kalau di Word adalah File kemudian Page Setup. Kalau di OpenOffice adalah Format kemudian Page. Yang lebih parah, mungkin akan menyebabkan frustasi pada murid-murid jika membuat tabel. Kalau di OpenOffice menghitung tinggal ketik = (sama dengan) kemudian klik kolom yang ingin dihitung kemudian enter. Lebih gampang prosedurnya daripada di Microsft Word. Untuk mailmerge bedanya jauh banget. Sisip gambar, wuiiih beda juga. Kalau di Calc, saat di rumus Vlookup harus pake tombol shift + F4 untuk memunculkan tanda $ diantara range tabel Vlookup sedangkan di Excel cukup F4 saja.
Untuk mengatasi hal tersebut, disaat mengajar saya sering mengatakan bahwa kalau di Word caranya begini, kalau di Writer caranya begini. Entahlah mereka ingat atau tidak.
Menurut pengalaman saya, murid yang baru bisa Office akan mengalami kebingungan dan rasa frustasi jika yang dilihat berbeda dengan yang diajarkan sehari-hari. Itu baru lihat layar kerjanya, bagaimana waktu mengerjakannya. Sudah stress sama kata “ujian” ditambahkan perbedaan tampilan. Jangan yang baru belajar, orang yang sudah sering mengetik di Office dengan versi tertentu kemudian pindah ke versi yang lain dengan bentuk agak lain sedikit saja masih bingung.
Yang penting bagi saya, Penilik, Ketua Organisasi, Diknas Jawa Barat dan Diknas Depok sudah dibilangin bahwa kami mengajarkan OpenOffice. Kata mereka tidak apa-apa yach .. wish lah …
Sekarang mereka sedang menunggu sms untuk mengambil sertifikat ujian lokal. Banyak yang bagus nilainya. Mudahan-mudahan ilmu berguna.
Rencananya tahun depan ada lagi. Hmmm … tapi kita mau cari sendiri murid-muridnya. Sudah mengerti caranya. Yang penting tidak ada KKN dan hasilnya memang bersih.
December 22nd, 2007 — Politik, Sosial
Saya bertempat tinggal bagian kota Depok pinggiran. Lebih dekat dengan perbatasan wilayah Bogor dan Tangerang. Lebih tepatnya perbatasan Parung dan Pamulang. Parung masuk wilayah Bogor dan Pamulang bagian dari Tangerang.
Kota Depok memang sudah banyak berdiri mal-mal, bioskop, terminal, jajanan yang enak, toko buku gede, pusat pemerintahan kota Depok dan Universitas Negeri dan swasta yang menurut Indonesia “the best” lah. Tapi semua jauh sekali jaraknya dari kediaman saya. Kalau ke kota Depok butuh banyak waktu dan uang. Bayangkan saja, jika saya ke kota Depok lama tempuh sekitar 1 s/d 1.5 jam, itupun kalau ga macet. Soal kendaraan, naik ojek dulu, kemudian angkot 2 kali, sampai di terminal naik lagi angkot untuk ketujuan yang diinginkan.
Kalau ditanya teman soal kota Depok, saya kurang tahu. Dalam 1 tahun bisa dikatakan cuma 1 kali atau bisa dikatakan tidak sama sekali.
Bagaimana dengan Bogor. Suasana, udara dan cuaca lebih dekat ke arah Bogor. Pagi yang berkabut tebal, udara agak dingin dari kota Jakarta tapi tidak sedingin Puncak Pass, tapi lumayan untuk mandi dipagi hari pakai mikir sambil mondar-mandir di depan kamar mandi. Curah hujan disini juga cukup banyak. Pernah musim hujan dalam 8 - 9 bulan, sisanya musim kemarau. Kalau ditempat saya dalam 1 minggu berturut-turut sering turun hujan, bisa diprediksi ada bagian Jakarta yang banjir.
Walaupun cuaca mendekat mirip dengan Kota Bogor, tapi dia jauh sekali dengan tempat tinggal saya. Untuk ngurusin administrasi negara jadi berat diongkos dan waktu, samalah jauhnya dengan kota Depok.
Bagaimana dengan Tangerang. Saya dan warga disini lebih dekat dengan Tangerang. Kalau sekolah SMA, SMP yang negeri maupun swasta pergi ke Tangerang. Padahal untuk ke sekolah Tangerang harus pindah rayon. Pindah rayon itu butuh biaya tambahan tapi ga pa pa daripada selama 3 tahun SMP dan 3 tahun SMA harus mengeluarkan uang banyak untuk ongkos dan pulang kemalaman terus, yahhh direlakan saja. Yang kasihan sih gurunya, harus ngurusin pindah rayon setiap tahunnya.
Di Pamulang semuanya ada kecuali Bioskop. Sudah 2 tahun ini tutup dan bangunan sudah rusak disana sini. Mungkin ga ada yang nonton. Menurut omongan orang-orang lama di tempat tinggal saya, jika mereka ingin nonton, pergi ke Bintaro, BSD, atau ke Pondok Indah, yang paling jauh ke Blok M. Kalau ke Depok bagaimana ? Katanya jauuhhhh, berat diongkos, lama lagi jarak tempuhnya plus super macet.
Pasar yang murah alias grosir larinya ke Ciputat, Cimanggis yang termasuk wilayah Tangerang, atau ke Parung. Mau ke Jakarta, naik bis ke Ciputat atau ke Lebak Bulus.
Jadi kami lebih dekat dengan Tangerang dari pada ke Depok dan Bogor untuk urusan kehidupan.
Kalau ada rakyat Indonesia yang lebih dekat dengan daerah perbatasannya dengan alasan lebih dekat untuk kemana-mana, lebih murah, lebih praktis, lebih hemat, dan sebagainya, apalagi negara diperbatasan tersebut dalam hal ekonomi lebih menjanjikan untuk penjualan hasil bumi, sekolah atau aktivitas, saya pun mengerti.
Jika Tangerang, Depok dan Bogor adalah suatu negara, saya punya passport donk. Hmmm … bayar visa ga yach …. *mode mikir*
Dan bisa lebih dari 20 kali dalam sebulan saya akan mondar-mandir dari Tangerang, Depok dan Bogor … hehehehe. Kalau ada yang tanya “Auliah mau pergi ke mana dan berapa lama ?”. Saya bilang “Mau ke luar negeri, cuma 10 menit doang kok, ke negara Tangerang, ada yang mau dibeli ….. hehehe … Beli jarum jahit doang …” gedubrak ….
December 17th, 2007 — Sosial
RW tetangga …, maksudnya warga RW di luar komplek perumahan saya. Sekitar 15 tahun ini telah mengadakan tabungan Qurban. Idenya dari salah satu pemuka agama di sana. Tujuannya, agar kita (masyarakat yang beragama Islam) membiasakan diri untuk berqurban. Qurban itu penting, tidak usah nunggu uang berlimpah, kata beliau.
Tiga tahun lalu, Bapak yang punya ide ini sering ke tempat saya untuk mengetik tabungan qurban. Beliau tidak nawarin, tapi karena sering bolak-balik ngurusin qurban dari orang-orang, saya akhirnya tertarik untuk bertanya dan pernah ikutan sekali. Malu juga si, masak ga bisa berqurban.
Kalau saya, kalau berqurban pasti pikirannya sama sapi, padahal bisa dengan kambing. Kalau kambing dijamin ga ada yang makan, dan saya kasihan sama orang-orang yang saya kasih, takut sakit. Kita tidak tahu apakah sipenerima qurban ini, cocok atau tidak dengan kambing. Pernah sih niatan pake model ditanya dulu, misalnya “Pak, Bu, apakah punya penyakit darah tinggi ?” hehehe …
Kalau berqurban sapi, wah … 7 juta rupiah, duh … kalau sendiri, belum mampu. Dengar angkanya saja udah “Woouuwww”. Bapak ini modelnya sebagai berikut 1 sapi buat 7 orang (misalnya). Setiap bulan nabung Rp. 85.000,-. Waktu tiga tahun lalu Rp. 50.000,- per bulan, dengan harga sapi kurang dari 7 juta. Jadi angka nabungnya sesuai dengan harga sapi.
Kalau kambing, juga memakai sistem nabung. Nabungnya sesuai dengan harga kambing, biasanya 1 kambing untuk 1 orang.
Beliau juga menyediakan kartu tabungan, pokoknya Bapak ini rapi banget. Ada kalung yang isinya nama-nama orang yang berqurban, ada surat undangan, surat ucapan terima kasih dsbnya. Bapak ini ga digaji lho
kerjanya sukarela.
Dengan sistem menabung, lumayan banyak yang ikutan dan kita yang nabung tidak berat.
Kalau ada kelebihan uang tabungan, dihibahkan ke masjid sebagai bekal di dunia sana.
December 2nd, 2007 — Kesehatan, Sosial
Kalau lihat berita di televisi dan koran, narkoba semakin hebat saja. Jadi ingat tahun 1991, ditanya sama teman-teman.
Waktu keluar main saat SMA kelas 3, para cewe-cewe ngobrol soal cita-cita. Biasanya saya paling terakhir menjawab pertanyaan.
“Auliah, apa cita-cita kamu kalau lulus SMA ?”
Dengan mantap saya berkata,
“Mau jadi Psikolog, kerja di Komdak bagian obat-obatan terlarang”
“Ahhh .. jadi polisi ?”, kata teman
“Bukan jadi polisi, seru kali yach … Selain kerja di Komdak, buka praktek untuk konsultasi orang-orang yang terkena obat-obat terlarang. Saat saya lulus, pasti yang terkena obat-obat terlarang makin banyak”
“Kok ngedoain sih !!”, kata-teman-teman
Saya cuma bengong and than “Hmm … iya ya …. kok gitu ngomongnya. Duh, padahal ga bermaksud untuk mendoakan sih, kalau saya lulus nanti diperkirakan … menurut saya sudah banyak yang terkena narkoba.”
Pada tahun 1991, penderita narkoba belum seramai sekarang. Dalam 1 sekolah yang kena cuma 1 orang itupun ditutup-tutupin. Pemberitaan soal bahaya narkoba pun belum banyak menghiasi berita-berita dikoran dan televisi negeri kita yaitu TVRI. Efek negatif narkoba saya juga kurang banyak tahu. Dulu, yang terkenal itu ganja.
Dan dulu Psikologi bisa menjadi Psikiater jika ambil S2. Itu seingat saya.
November 24th, 2007 — Sosial
Ada wanita yang datang ke tempat saya untuk mengetikan data anak-anak asuhannya kurang lebih 200 orang.
Keesokan harinya diambillah ketikannya. Setelah ditanya kenapa banyak sekali yatim piatu. Dia pun menjelaskan, yatim piatunya seperti ada yang yatim saja, piatu saja atau yatim piatu. Katanya ada lagi kurang lebih 200 orang. Saya terkejut dan sekaligus sedih … banyak banget.
Kok seperti habis perang saja yach.
Kata wanita tersebut, pada umum anak-anak dari balita sampai usia SMA.
Yap, saya sudah baca jenjang pendidikan mereka dan usianya.
Pada umumnya di Indonesia jika salah satu atau kedua orang tua meninggal dunia dan meninggalkan anak akan dititipkan ke kerabat tersebut. Tapi ditempat wanita tersebut, kebanyakan kerabat paling dekat tidak mampu. Untuk membiayakan diri sendiri dan keluarganya tidak sanggup bagaimana merawat anak orang.
Ada model yang lain, salah satu orang tua si anak ada yang kabur alias menghilang tanpa kabar. Pada umumnya orang tua laki-laki.
Panti Asuhan tempat dia bekerja merupakan milik keluarga. Saya dengar-dengar tanah dan bangunannya akan diperluas. Anak-anak di Panti Asuhan tersebut ada yang tinggal disana, ada anak yang tinggal dengan kerabatnya tapi uang sekolah dan makan diberikan, yach ongkos hiduplah. Dan semua anak tersebut sekolah agama seperti madrasah.
Sebenarnya saya tidak jauh dari lingkungan yatim piatu. Bapak saya, waktu umur 8 tahun telah ditinggal Bapaknya. Umur 10 tahun ditinggal Ibunya. Saudara-saudara sekandung yang berjumlah 6 orang (kalau ga salah ingat) meninggal dunia dalam jarak tahun yang tidak lama. Bapak saya bukan bungsu asli, adiknya sudah meninggal terlebih dahulu waktu kecil banget.
Jadi Bapak saya kalau cerita wajah Ibunya pasti diawali “Kata orang, Nenek Auliah kayak bule, putih bersih, dan paling cantik”. Yang paling yakin cuma perawakan Kakek.
Yang meninggal terakhir kakak perempuan Bapak. Saat itu, saya masih kelas 6 SD. Beliau meninggalkan anak-anak seusia saya. Sebelumnya kakak perempuannya yang lain, seingat saya 2 atau 3 tahun sebelumnya, juga meninggal dunia. Jadi Bapak saya sebatang kara. Ibu saya pun waktu usia 10 tahun telah ditinggal Bapaknya.
Meninggalnya kakak Bapak, saya sampai sekarang masih membekas, melihat keponakan-keponakan Bapak yang masih kecil-kecil dan tidak mengerti. Kalau ingat itu saya bersyukur karena masih utuh orang tua sampai sekarang.
2 lebaran kemarin, waktu lihat acara Dorce Show. Dorce sedang cerita orang tuanya, saya lihat Bapak menyeka matanya. Saya baru lihat. Akhirnya saya tahu bagaimana perasaan Bapak kalau di hari raya Idul Fitri. Selama ini saya selalu melihat beliau happy-happy saja.
November 23rd, 2007 — Sosial, Story
Seorang ayah bercerita dengan bangga kepada anaknya yang beranjak remaja.
Dimulailah cerita tersebut ….
Waktu SMA dulu, ayah jadi Ketua Osis, kemana-mana hayoo. Panjat tebing, naik gunung, main musik, main drama, sibuk sana sibuk sini. Pokoknya ayah populer saat itu dan disayang guru. Dan pasti dari kelas 1 sampai dengan kelas 3 semua kenal ayah. Beberapa teman-teman ayah saat ini ada yang sudah terkenal jadi artis, pejabat, pengusaha dan macam-macam deh. Satu persatu ayah sebutkan nama-nama temannya yang terkenal sekarang dan beberapa ada yang dikenal si anak karena pernah lihat ditelevisi.
Dulu ayah menggunakan pakaian model yang lagi trend zaman itu. Mulai dari atas rambut sampai kaki, trend habis. Kalau anak sekarang bilangnya “Anak Gaul”.
Anaknya mendengarkan dengan seksama dan penuh kekaguman. “Ayahku hebat”.
“Bagaimana pelajaran ayah?”, tanya anaknya.
Karena kebanyakan ngadain kegiatan dan jadi panitia itu dan ini, pelajaran akhirnya jatuh walaupun waktu ujian terakhir lulus dengan nilai pas-pasan.
Suatu hari anaknya menghadap dan mengajukan izin.
“Ayah, saya boleh ikutan OSIS ?”
“Ngapain kamu ikutan OSIS ? Menghabiskan waktu saja, nanti pelajaran kamu tertinggal !”, katanya ayahnya dengan nada kurang senang.
Dengan pandangan heran dan sedih.
“Tapi ayah …”
“Tidak ada tapi-tapian, kamu boleh ikut organisasi apapun di sekolah tapi tidak jadi pengurus !”
Dengan hati sedih, dia pergi menjauh dari ayahnya.
Sebenarnya anak ayah murid pintar di sekolahnya. Waktu di SD dulu pernah memangku 2 jabatan strategis dan begitu banyak perlombaan yang diikutinya tapi pelajaran tidak tertinggal, selalu rangking.
Sambil duduk termenung di teras rumah, “Mungkin ayah benar, nanti pelajaran tertinggal”.
Masuk kuliah, si anak ikut organisasi yang diminatinya.
Suatu hari menghadaplah si anak ke ayahnya dan pertanyaan kurang lebih serupa waktu SMA.
“Ayah, saya boleh jadi panitia “A” ?”
Ayah pun menjawab dengan santai.
“Kuliah aja dulu sampai beres, baru ikutan jadi panitia ini dan itu”
“Tapi ayah …”, jawab si Anak.
“Tidak bisa, kuliah yang benar, boleh ikutan organisasi kampus tapi ga boleh ikutan jadi ketua, wakil ketua, bendahara dll apalagi jadi panitia ini dan itu! Ngabisin waktu, uang dan tenaga !”
Tapi si anak cerdik, diam-diam dia telah menjadi panitia tapi bukan yang strategi, dia menjadi anggota panitia atau wakil panitia. Dan si anak bisa membagi waktu agar tidak ketahuan ayahnya.
Disuatu sore hari, Ayahnya bercerita kembali organisasi yang pernah diikutinya setelah lulus SMA bahkan sampai ikutan partai dan anak partai. Dan seperti biasanya, ayahnya bercerita dan menyebutkan nama-nama teman organisasinya. Ada yang jadi menteri, pejabat, anggota DPR MPR, dubes, diplomat, penguasa, gubernur dan sebagainya.
Dan seperti biasanya sianak mendengarnya dengan kagum.
Suatu hari, pulang dari kerja.
“Ayah, saya diangkat jadi Ketua Panitia di kantor!”
“Bukannya kerja malah jadi ketua! Ngabisin waktu dan uang saja !”
Mendengar hal tersebut si anak cuma tersenyum sinis.
October 30th, 2007 — Sosial
Tetangga saya sewaktu bulan Ramadhan meninggal dunia. Menurut informasi, ahli waris akan mendapatkan santunan sebesar Rp. 2 juta jika berKTP Depok.
Santunan ini terjadi karena janji Walikota Depok sewaktu kampanye Pilkada. Uang ini baru diberikan satu tahun ini, tapi tahun depan tidak tahu.
2 juta ? Berapa orang yang meninggal dunia di Depok setiap harinya ? Dua puluh orang saja meninggal dunia di Depok dalam satu hari, berapa uang yang harus dikeluarkan ?
Uang darimana ?
Nanti kalau Walikota ganti, masih dapat 2 juta juga ?
October 26th, 2007 — Movie, Politik, Sosial
Semenjak tragedi WTC 11 September 2001, sebagian masyarakat dunia menjadi fobia terhadap Islam. Serba curiga, ketakutan terhadap orang-orang yang bernama, bertampang dan berkewarganegaraan yang mayoritasnya Islam.
Shah Rukh Khan bintang film India yang beragama Islam mengakui kesulitan masuk London setelah kejadian tersebut.
Awal tahun depan Bollywood akan mengeluarkan film dengan judul “My Name is Khan”.
Kalau Australia fobia terhadap Indonesia semenjak bom Bali yang menewaskan banyak warganya.
Padahal otak bom Bali tersebut orang “tetangga sebelah”, kita yang kena getahnya
Tetangga saya yang berasal dari NTT kena fobia tersebut. Dia menyusul suaminya yang tinggal di Australia. Dengan wajah seperti orang Papua/Ambon/Timor Leste pastilah aman kesana. Tapi setelah dia bercakap menggunakan bahasa Indonesia sewaktu keluar dari pesawat dengan sesama orang Indonesia yang bertemu di pesawat. Langsung dia diamankan oleh petugas disana.
Semua isi tas diperiksa. Dipegangnya isi tas tersebut dengan pegangan jijik. Badannya pun diperiksa. Dia juga ditanya apa tujuan ke Australia tapi petugas tidak percaya.
Cukup lama diperiksanya dan akhirnya setelah puas mengubek-ubek tas dan bawaan tetangga saya yang tidak terbukti apapun. Kakaknya yang menunggu dari tadi diluar sangat gusar.
Semenjak kejadian tersebut, tetangga saya tidak pernah berbicara dalam bahasa Indonesia di tempat umum.
Bagaimana saya yach … ? Menurut teman-teman, wajah saya seperti orang Arab. Setelah kejadian tsunami seperti orang Aceh. Cuma satu-dua orang bilang wajah saya orang Minang. Kemudian saya pake jilbab plus ditambah lagi nama saya, nama Arab. Walah, bakalan ribet
Keponakan Bapak saya yang sudah lama tinggal di USA sering mengajak ikutan GreenCard. Sebenarnya mau saja tapi ga punya uang (katanya uang ga usah pake alasan) … suer deh ga punya dan yang lebih penting saya TAKUT. Saya lebih aman tinggal di rumah sendiri, Indonesia.
Menurut Organisasi HAM, perlakuan rasis yang menimpa umat Islam pasca tragedi WTC menyebabkan sekitar 500 orang wisatawan dilarang masuk wilayah AS setiap hari. Dan pelarangan itu bisa saja hanya karena dugaan dan tuduhan yang belum berbukti.
October 23rd, 2007 — Photo, Politik, Sosial, Story
Sudah cukup lama saya merasa ada yang aneh dengan wajah Gajah Mada. Tapi entahlah dibagian mana.
Tahun berganti tahun, Gajah Mada terlupakan dan teringatkan.
Dan akhirnya … saat ini saya perhatikan lebih mendalam wajah Gajah Mada dari internet.
Hmm … rupanya bibirnya … bibirnya terlalu tebal. Alisnya kayak perempuan.
Maaf ya … terpaksa nih, ga tahan untuk diungkapkan.
Baca-baca di Paman Google, wajah Gajah Mada yang ada dimana-mana merupakan wajah imajiner pembuatnya.
Walaupun begitu Gajah Mada masih tetap menjadi misteri dalam kehidupan pribadinya. Dan beliau diperebutkan oleh Jawa Tengah dan Sumatera Barat.
October 21st, 2007 — Bisnis, Movie, Politik, Sosial
October 16th, 2007 — Bisnis, Sosial, Traveling
Kemarin, kami sekeluarga kedatangan tamu. Sepupu dan anak-anaknya dari pihak Bapak saya alias tante dan anak-anaknya.
Iseng tanya, kapan nih Silungkang pulang kampuang basamo ? Katanya tahun 2008.
Tahun 2002 pernah pulang kampuang basamo dengan menyewa mobil Bigbird AC 54 duduk sebanyak 5 buah (?) plus kendaraan pribadi kurang lebih 200 yang sudah pulang duluan dengan ukuran dan merk beraneka ragam. Rata-rata dengan mobil keren-keren.
Berhubung kalau lewat darat itu capek, ngabisin piti (uang), melewati medan berat, dan lama. Bagaimana kita semua pada acara Pulang Basamo 2008 nyewa PESAWAT TERBANG. Isinya kita-kita aja, satu kampung. Kalau ga muat 1 pesawat terbang yahh sewa 1 lagi. Jangan lupa yang besar pesawat terbangnya …
Tapi jangan pesawat yang digunakan oleh ABRI untuk ngangkutin barang
Pesawatnya jangan yang ancur, tidak punya history jatuh …. hmm .. ada ga ya …
Pesan tiketnya saat ada promosi murah
kira-kira 5 bulan sebelum lebaran. Nanti di sisi kanan dan kiri badan pesawat, ada spanduk atau stiker gede tertulis “Pulang Basamo Silungkang 2008″ plus sepanjangan perjalanan muncul asap di ekor pesawat dengan tulisan yang sama.
Keren ga ….
Pas turun di Bandara Minangkabau, Bis Bigbird AC sudah tersedia untuk mengantarkan kami ke kampung halaman dan raun-raun (jalan-jalan) Sumatera Barat.
Keren …. 